Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

FW : dari astronomi islam sampai zona rukyat global

Expand Messages
  • - Riyan
    fyi, Dari Astronomi Islam sampai Zona dalam Rukyat Global Mencari Solusi Keseragaman Waktu-waktu Ibadah oleh Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar Astronom, Peneliti Badan
    Message 1 of 1 , Nov 4, 2003
      fyi,
      Dari Astronomi Islam sampai Zona dalam Rukyat Global

      Mencari Solusi Keseragaman Waktu-waktu Ibadah
      oleh Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar

      Astronom, Peneliti Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
      Dosen Pasca Sarjana Universitas Paramadina Mulya, Jakarta
      Aktivis Pusat Studi dan Khazanah Ilmu-ilmu Islam (PSKII)
      Doktor alumnus Vienna University of Technology, 1997





      1. Pendahuluan

              Pertanyaan yang sering muncul baik di kalangan ummat Islam maupun
      dari luar adalah, mengapa di dalam kalender hijri (kalender Islam) tidak
      ada kepastian dan konsistensi hari.  Bila dalam kalender Internasional
      (kalender Masehi) tanggal 1 Januari 2001 jatuh hari Senin, maka di manapun
      1 Januari 2001 itu adalah Senin.

              Namun pada kalender Hijri, tanggal 1 Syawal sering jatuh pada hari
      yang berbeda-beda, bahkan kadang dalam satu negeri, satu desa, bahkan satu
      rumah!

              Hal ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa itu bisa terjadi, dan
      apa solusinya.  Tulisan ini disarikan dari pengalaman penulis selama
      hampir 10 tahun serta dari ratusan kali ceramah dan diskusi dengan
      berbagai kalangan.

      Sistem Kalender

              Kalender Hijri didasarkan pada perhitungan bulan murni.
      Sebenarnya bisa saja dibuat kalender hijri yang pasti dan konsisten.
      Misalnya dengan memakai suatu rumus kalender.  Atau dengan hisab
      astronomi pada satu tempat tertentu (misal Makkah) dan dipakai untuk
      seluruh dunia (hisab global).

              Sistem kalender seperti ini pernah direkomendasikan dalam suatu
      pertemuan OKI dan juga telah banyak dipakai.  Namun kegunaannya sebatas
      keperluan administrasi (misal membuat jadwal penerbangan).  Sedang untuk
      keperluan ibadah (puasa, Ied, Haji), kalender ini tidak mengikat.  Hal
      ini karena dalam masalah ibadah, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa
      waktu-waktunya harus disesuaikan dengan fakta astronomi yang aktual
      (rukyatul hilal).

      Astronomi Islam

              Kaum muslimin mulai mengembangkan astronomi yang akurat sejak
      mereka harus melakukan navigasi di tengah laut baik ketika mereka
      berbisnis ke India atau ke Cina, maupun ketika mereka harus berjihad
      menghadapi armada Romawi yang perkasa.

              Dalam astronomi ini dikembangkan metode observasi (rukyat) yang
      sistematis dan memenuhi kaidah serta syarat?syarat ilmiah, yaitu obyektif
      dan replicable.  Dari ribuan observasi, maka berhasil dibuat rumus-rumus
      hitungan (hisab) untuk melakukan prediksi ke depan.  Dengan makin majunya
      ilmu dan teknologi, maka berhasil dibuat alat-alat rukyat yang lebih
      teliti dan dari observasinya berhasil lagi dibuat rumus-rumus hisab yang
      juga makin teliti, dan seterusnya.

      Hisab

              Hitungan hisab itu kini bisa diotomatisasi dengan pemrograman
      dalam komputer.  Dengan demikian berbagai kesalahan manusia bisa
      dieliminasi.  Salah satu contoh program komputer yang khusus dikembangkan
      untuk hisab kalender Hijri adalah software "Mawaaqit" yang semula
      dikembangkan oleh Club Astronomi Al-Farghani bersama ICMI Orsat Belanda
      dan kemudian dilanjutkan di Bakosurtanal.

              Mawaaqit ini menggunakan algoritma dengan ketelitian yang sangat
      tinggi, yaitu dari VSOP87, meskipun ada metode yang lebih sederhana.

              (Jean Meeus, 1991) menyatakan bahwa dengan teori dan algoritma
      VSOP87 akurasi yang didapatkan adalah lebih baik dari 0.01".  Untuk bumi,
      teori ini mengandung 2425 term periodis yang disediakan Buerau des
      Longitudes (Paris), yaitu 1080 term untuk bujur bumi, 348 untuk lintang
      dan 997 untuk vektor radius.

              Dengan algoritma yang lebih sederhana, misalnya dengan 49 term
      periodis, (Bretagnon & Simon, 1991) berani memberikan metode kalkulasi
      bujur dari matahari dengan akurasi 0.0006 derajat (2".2) untuk tahun 0
      sampai +2800 dan 0.0009 derajat (3".2) untuk ?4000 sampai dengan +8000.
      Metode ini sudah cukup untuk banyak aplikasi.

              Akurasi ini terbuktikan baik secara ilmiah misalnya dengan Lunar
      Laser Ranging, maupun secara praktis, yaitu di dunia pelayaran.  Dunia
      pelayaran setiap hari memakai astronomi modern.  Bila ada anomali atau
      kesalahan data astronomi, maka pasti akan langsung dirasakan para pelaut
      di seluruh dunia, dan mereka akan menggugat penerbit data astronomi
      tersebut.

              Dengan demikian hisab modern ini sudah mendekati pasti (qath'ie),
      apalagi bila ketelitian yang diperlukan cuma dalam hitungan menit.  Dengan
      hisab modern ini bisa dihitung besaran-besaran hisab yang sangat penting,
      dua di antaranya adalah Ijtima' dan Irtifa'.

      Ijtima'

              Ijtima' adalah saat "bertemunya" (conjunction) bulan dan matahari
      pada bujur ekliptik yang sama.  Bila lintangnya juga sama maka akan
      terjadi gerhana matahari.  Sejak ratusan tahun yang lalu para astronom
      bisa menghitung ijtima' ribuan tahun ke depan dengan kesalahan kurang dari
      satu menit.

              Ijtima' terjadi serentak, dan cuma sekali setiap bulan.
      Peristiwa ijtima tidak bisa dilihat karena matahari di belakang bulan
      sangat menyilaukan.

      Irtifa', Wujud ul Hilal

              Setelah ijtima', bulan yang makin tinggi lambat laun akan
      menyentuh horizon bagi tempat di muka bumi yang sedang mengalami matahari
      terbenam.  Bila bulan ini tepat di horizon, maka dikatakan irtifa'-nya nol
      dan sejak itu dia "wujud" (wujud ul hilal).  Makin lama irtifa' ini makin
      besar.  Dalam 24 jam (sehari) dia akan naik sekitar 12 derajat.

              Namun tidak setiap bulan di atas horizon akan membentuk "wujudul
      hilal". Pada konstelasi tertentu, di lintang tertentu, bisa saja bulan
      berada di atas horizon meski belum ijtima' (=wujud ul qomar). Karena itu
      irtifa' harus digabung dengan umur bulan.



      [IMAGE]

      Fig 1. Bumi-Bulan-Matahari

      Rukyat ul Hilal

              Rukyat ul Hilal adalah metode praktis membuktikan apakah bulan
      sabit baru (hilal) terlihat atau tidak.  Sebenarnya tidak mudah melakukan
      rukyatul hilal, sekalipun bagi astronom.  Dalam astronomi obyek langit yang
      biasa dirukyat dianjurkan di atas sudut 15 derajat.  Sedang rukyatul hilal
      justru dilakukan saat irtifa' bulan masih sangat rendah.

              Sebenarnya rukyatul hilal semestinya dilakukan setelah ijtima'.
      Namun secara syar'i rukyat selalu harus dilakukan setiap tanggal 29
      Sya'ban atau Ramadhan tanpa melihat sudah ijtima' atau belum.

              [IMAGE]Secara metodologi, pada saat ini rukyatul hilal jarang
      dilakukan secara ilmiah, yaitu obyektif, terrekam dan replicable.  Pada
      umumnya yang diandalkan adalah kesaksian orang yang dianggap jujur,
      walaupun kini ada juga laporan rukyat yang ditolak karena nyata-nyata
      dimustahilkan hisab (misal irtifa' negatif atau belum ijtima' / masih
      bulan tua).

          Fig 2. Hilal



      Imkanur Rukyat

              Setiap ada kesaksian rukyat yang diterima, para ahli hisab akan
      melihat pada irtifa' berapa laporan itu.  Dari sini kemudian timbul
      berbagai teori tentang "kapan secara astronomis hilal mungkin dilihat".
      Inilah konsep "imkanur rukyat".

              Masalahnya angka imkan yang ada berbeda-beda.  Kitab-kitab ilmu
      falak tua masih memakai 7 derajat.  Di Turki memakai 5 derajat.  Di
      Indonesia Jama'ah Persis konsisten memakai hisab mutlak dengan imkan 2
      derajat.  PBNU tetap akan merukyat namun akan menolak rukyat sementara
      irtifa' masih kurang dari 2 derajat.

              Karena masalah imkan belum ada konsensus, Muhammadiyah akhirnya
      memutuskan memakai wujudul hilal.  Dari sini kelihatan bahwa meski metode
      hisab sama, namun bila kriteria imkan berbeda, hasilnyapun bisa berbeda
      satu hari.

      Di manakah bulan pertama kali mungkin terrukyat (imkan awal) ternyata bisa
      di mana saja.  Tidak ada sebuah tempatpun yang memiliki privileg.  Semua
      tergantung kondisi aktual.  Secara astronomi, bisa dibuatkan garis tanggal
      hijri (Hijri Date Line / HDL), yaitu suatu garis tempat-tempat dengan
      irtifa' (wujud, imkan) sama saat matahari terbenam di masing-masing
      tempat.  HDL ini tiap bulan bergeser dan berubah bentuknya.

              Yang pasti, faktor cuaca tidak bisa diprediksi dengan hisab
      astronomi, karena tidak ada hubungannya.

      Zona Waktu

              Ketika para pelaut Inggris mengelilingi dunia ke arah timur,
      mereka menghitung hari.  Ternyata ketika kembali ke London dari arah
      barat, mereka dapatkan hari yang dihitung dalam perjalanan selalu lebih
      panjang sehari dari yang dihitung orang di London.

      Dan sebaliknya, bila keliling dunia ke arah barat, maka hari dalam
      perjalanan selalu lebih pendek sehari dibanding orang yang diam di London.

              Untuk menyelesaikan masalah ini, maka akhirnya para pelaut,
      geografer dan astronom sepakat untuk mendefinisikan suatu garis maya yang
      disebut garis tanggal internasional (International Date Line / IDL).
      Garis ini didefinisikan sebagai 180 derajat bujur barat/timur, dan
      melintas daerah jarang penduduk yaitu di Samudra Pasifik, meski ada sedikit
      modifikasi untuk tidak memotong satu negara pun di sana.

              Bila kita melintasi garis IDL ini, maka akan ada lompat hari.
      Bila dari Tuvalu kita berangkat Jum'at sore naik pesawat terbang ke West
      Samoa, maka setelah kurang lebih satu jam kita akan tiba di West Samoa
      pada Kamis sore!

              Meski kelihatan aneh, tapi garis maya ini harus ada agar ada
      konsistensi hari dan tanggal pada kalender internasional.  Dan menurut
      garis tanggal ini pula kaum muslimin mendefinisikan nama-nama hari seperti
      Senin, Kamis, Jum'at dan sebagainya.

      [IMAGE]

      Fig 3. Bumi dengan IDL-nya.

      2. Faktor-faktor Keragaman

              Dari uraian di muka, terlihat ada faktor teknis yang memungkinkan
      keragaman waktu ibadah.  Namun selain itu ada juga faktor fiqh dan faktor
      politis.  Dan ini bisa jadi justru lebih dominan.

      Faktor Fiqh

              Yang klasik dipertentangkan orang adalah disput antara "rukyat bil
      fi'li" (dengan mata telanjang) dan hisab yang juga di-klaim sebagai
      "rukyat bil 'ilmi".  Di Indonesia hisab mutlak diwakili oleh Muhammadiyah
      dan Persis.  Kedua ormas ini tidak merasa perlu lagi melakukan rukyat,
      karena hisab dianggap cukup dan tidak lagi menyulitkan.  Sementara rukyat
      diwakili NU, walaupun sebenarnya NU juga memakai hisab, walau tetap harus
      disahkan rukyat.  Setidaknya NU berani menolak rukyat yang dimustahilkan
      hisab.

              Disput yang kedua adalah masalah daerah berlaku rukyat (rukyat
      lokal vs global).  Penganut rukyat lokal berpegang pada mazhab Syafii yang
      mengenal konsep matla (sejauh radius 120km).  Dalam praktek batas matla ini
      tidak jelas, sehingga lalu muncul "wilayatul hukmi".  Masalahnya bila
      wilayah itu amat luas, seperti Rusia atau Daulah Islam di masa lalu.

      Faktor Teknis

              Andaikata orang sepakat dengan hisab saja atau rukyat saja atau
      rukyat global, maka hasilnya tetap bisa berbeda secara teknis, yakni bila
      metode hitungan dan kriteria imkan yang dipakai dalam hisab berbeda,
      sehingga 29 sya'ban pun berbeda, dan orang akan rukyat pada hari yang
      berbeda.

              Sedang pendapat tentang syarat-syarat rukyat pun bisa beraneka
      ragam.  Ada yang mengharuskan syarat-syarat kesehatan (misal tidak
      berkacamata), syarat intelektual, syarat kejujuran dsb.  Demikian juga
      perlengkapan yang dipakai, dan petunjuk operasional pada saat rukyat
      dilakukan.

              Selain dua masalah di atas, yang termasuk problem teknis adalah
      masalah yang ditimbulkan oleh perbedaan IDL dengan HDL.  Akibatnya suatu
      berita rukyat akan diterima serentak (real-time) di segala penjuru dunia
      pada 24 zona waktu yang berbeda.  Akibatnya bisa saja terjadi, suatu
      berita diterima di saat yang sama (bukan terlambat!) pada tempat lain yang
      "masih pagi/siang" atau "sudah pagi/siang".

              Andaikata hal-hal ini tidak diperhatikan, maka bisa terjadi, suatu
      daerah hanya berpuasa 28 hari, sebab harus serentak mengikuti rukyat
      daerah lain.

              Hal ini bisa diatasi dengan pasal tambahan misalnya, hasil rukyat
      global hanya diikuti daerah di sebelah kiri HDL.  Yang di sebelah kanan
      HDL dianggap "masih siang", sehingga baru masuk tanggal satu magrib setelah
      itu.  Akibatnya hari untuk tanggal 1 bulan Hijri akan berbeda, walau tetap
      serentak.

              Dalam hal ini, kalender hijri untuk keperluan sipil (administrasi)
      bisa saja tidak perlu dirubah, dan dualisme kalender ini (sipil ? ibadah)
      diijinkan pada saat-saat tertentu.

      Faktor Politis

              Dari sini kelihatan bahwa faktor fiqh dan teknis yang beraneka
      ragam itu harus disatukan, dan itu tidak bisa selain dengan suatu otoritas
      yang legitimate baik secara real politis maupun secara syar'ie, yang akan
      mengadopsi (tabbani) salah satu pendapat yang argumentasinya paling kuat,
      entah dari segi fiqh maupun teknis rukyat/hisab.

              Keputusan ini lebih bersifat politis, karena memang yang dihadapi
      tidak lagi hukum atau teknis, tetapi masalah yang berkaitan dengan politik
      juga, yakni semangat kebangsaan (nasionalisme) sempit atau fanatisme
      golongan (sektarian) yang membuat orang memilih suatu pendapat bukan
      secara syar'ie atau berdasarkan ilmu pengetahuan.



      3. Solusi

              Dalam menghadapi keragaman saat ibadah dewasa ini, di mana belum
      ada otoritas yang legitimate bagi seluruh kaum muslimin, maka mau tak mau
      ummat akan berpegang pada siapa yang mereka percaya, entah itu seorang
      ustadz, amir gerakan, pemerintah ataupun kabar dari luar negeri, misalnya
      Saudi.

              Untuk hal-hal ibadah mahdhoh, sebenarnya tidak diperlukan
      kepastian yang tinggi, melainkan cukup dugaan yang kuat (ghulabatud dhon).
      Seperti halnya tatkala orang tidak tahu arah kiblat yang pasti, maka dia
      boleh sholat ke arah mana saja yang dia perkirakan paling benar.  Andaipun
      bila kemudian ternyata keliru, dia tidak harus mengulang sholatnya.
      Barangkali ini adalah solusi jangka pendek.

              Sedang solusi jangka panjang berangkat dari kenyataan, bahwa
      ibadah seperti puasa atau haji tetap memiliki unsur sosial, karena
      berkaitan dengan keramaian akbar.  Maka di sini peran penguasa yang
      "keputusannya mampu menghentikan perbedaan" sangat dinanti-nanti.
      Nantinya, penguasa ini, yang dalam Fiqh Siyasah disebut Khalifah,
      berkewajiban mengadopsi (tabbani) sejumlah hal, misalnya:

      1.       Landasan syar'ie rukyat dan rukyat global.

      2.       Salah satu metode hisab yang terbukti akurat

      3.       Salah satu kriteria imkan

      4.       Syarat-syarat rukyat yang dapat diterima

      5.       Solusi untuk masalah zone dalam rukyat global

      6.       Metode penyebaran informasi rukyat

      7.       Pemberlakuan hari ibadah dan sanksinya.

              Namun yang jelas untuk menuju ke arah itu, institusi khilafah
      sendiri harus diperjuangkan dulu.  Nantinya institusi ini tidak hanya akan
      menyeragamkan saat-saat ibadah kaum muslimin, namun juga menjawab ribuan
      masalah kaum muslimin di dunia saat ini, dan sekaligus memberikan solusi
      problematika dunia yang adil dan penuh rahmat bagi seluruh alam.





      <Disclaimer> :
      This e-mail is confidential. If you are not the intended recipient you
      must not disclose, distribute or use the information in it as this could
      be a breach of confidentiality. If you have received this message in
      error, please advise us immediately by return e-mail and delete the
      document. The address from which this message has been sent is
      strictly for business mail only and the company reserves the right to
      monitor the contents of communications and take action where and
      when it is deemed necessary. Thank you for your co-operation.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.