Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Serial Fiqh 19-20 Sunnah Qauliyah dalam Shalat

Expand Messages
  • Budi Ari
    Serial Fiqh 19-20 Sunnah Qauliyah (Ucapan) di dalam Shalat   Diantara sunnah-sunnah qauliyah di dalam shalat adalah sebagai berikut :   1.      
    Message 1 of 1 , Mar 19 4:15 PM
    • 0 Attachment

      Serial Fiqh 19-20 Sunnah Qauliyah (Ucapan) di dalam Shalat

       

      Diantara sunnah-sunnah qauliyah di dalam shalat adalah sebagai berikut :

       

      1.       Membaca Doa Istiftah atau Iftitah

       

      Namun demikian sebagian ulama mewajibkan membaca doa ini berdasarkan sabda Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam dalam hadits Rifa’ah bin Rafi’ kepada orang yang salah dalam shalatnya,

       

      “Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang hingga berwudhu dengan sempurna sesuai ketentuan.  Kemudian bertakbir, memuji Allah dan menyanjung-Nya dan membaca al Qur’an yang mudah dihafalnya …” (HR. Abu Dawud no. 859, an Nasai II/2, at Tirmidzi no. 302 dan Ibnu Majah no. 460)

       

      Sabda Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Memuji Allah dan menyanjung-Nya”, secara zhahir adalah doa iftitah. 

       

      Ash Shan’ani berkata, “Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa memuji dan menyanjung Allah setelah takbiratul ihram hukumnya wajib” (Subulus Salam I/312)

       

      2.       Membaca Isti’adzah

       

      Allah Ta’ala berfirman,

       

      “Faidzaa qara’tal qur’aana fasta’idz billaHi minasy syaithaanir rajiim” yang artinya “Apabila kamu membaca al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan terkutuk” (QS. An Nahl : 98)

       

      Mayoritas ulama berpendapat bahwa isti’adzah adalah mustahab (sunnah).  Adapun Malik melarangnya (Ibnu ‘Abidin I/328, ad Dasuqi I/251, Mugni al Muhtaj I/156 dan Kasyaf al Qanna I/335)

       

      Tetapi sebagian ulama mewajibkan isti’adzah antara lain Atha’, ats Tsauri, al Auza’i, Abu Dawud, Ibnu Hazm dan satu riwayat dari Ahmad (al Muhalla III/247, al Majmu’ III/271, al Furu’ I/413 dan al Inshaf II/20)

       

      Bahkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa wajib dibaca pada setiap raka’at (al Muhalla III/254).

       

      3. Mengucapkan amin setelah membaca al Fatihah

       

      Hal ini berdasarkan Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

       

      “Jika imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin.  Sesungguhnya barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. al Bukhari no. 780 dan Muslim no. 410 dari jalur Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu)

       

      Mayoritas ulama menyimpulkan hukum perintah disini sebagai mustahab. Namun menurut Ibnu Hazm makmum wajib mengucapkan amin.  Adapun imam dan yang shalat sendirian maka hukumnya mustahab (Ibnu Abidin I/320, ad Dasuqi I/248, Mugnil Muhtaj I/160, Kasyaf al Qanna I/339, al Muhalla III/262 dan Nailul Authar II/258).

       

      4.       Membaca surat setelah al Fatihah.

       

      Disunnahkan membaca surah pada dua raka’at pertama setelah membaca al Fatihah, menurut ijma’ ulama.  Demikian juga disunnahkan membacanya pada raka’at ketiga dan keempat.

       

      Dari Abu Qatadah radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata, “Pada dua raka’at pertama zhuhur dan ‘ashar, Nabi membaca al Fatihah dan surat .  Beliau terkadang memperdengarkan (bacaan) ayatnya.  Pada dua raka’at terakhir beliau membaca al Fatihah” (HR. Muslim no. 421)

       

      5.       Takbir intiqal (takbir perpindahan) dan ucapan Sami’allaHu liman hamidah

       

      Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda kepada orang yang salah shalatnya dalam hadits Rifa’ah bin Rafi’,

       

      “Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang hingga berwudhu dengan sempurna sesuai ketentuan.  Kemudian bertakbir, memuji Allah dan menyanjung-Nya dan membaca al Qur’an yang mudah dihafalnya.  Kemudian mengucapkan, ‘AllaHu Akbar’, kemudian ruku’ hingga tenang seluruh persendiannya.  Kemudian mengucapkan, ‘Sami’allaHu liman hamidah’, hingga berdiri lurus.  Kemudian mengucapkan, ‘AllaHu akbar’,  kemudian sujud hingga tenang seluruh persendiannya ....” (HR. Abu Dawud no. 859, an Nasai II/2, at Tirmidzi no. 302 dan Ibnu Majah no. 460)

       

      Termasuk hal yang wajib adalah ucapan, “AllaHumma Rabbana wa lakal hamd”, berdasarkan sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,

       

      “…dan jika imam mengucapkan, ‘sami’allaHu liman hamidah’, maka ucapkanlah, ‘AllaHumma rabbanaa wa lakal hamd’” (HR. al Bukhari no. 722 dan Muslim no. 409)

       

      Ucapan tahmid yang lain setelah membaca, “Sami’allaHu liman hamidah” diantaranya,

      “Rabbanaa wa lakal hamd” (HR.. al Bukhari no. 689 dan Muslim no. 392).

       

      Ketiga perkara di atas wajib dikerjakan di dalam shalat, baik bagi orang yang shalat sendirian, sebagai imam maupun sebagai makmum menurut pendapat yang shahih.  Ini adalah pendapat madzhab Hanbali dan dinilai sunnah oleh jumhur ulama (Ibnu ‘Abidin I/334, ad Dasuqi (I/243), Mugni al Muhtaj (I/165) dan Kasyaf al Qanna I/348)

       

      6.       Membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud.

       

      Dari Hudzaifah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi, dalam ruku’nya beliau membaca, ‘Subhaana rabbiyal ‘azhiim’, dan di dalam sujudnya beliau membaca, ‘Subhaana rabbiyal a’laa’” (HR. an Nasai II/190, Abu Dawud no. 857 dan at Tirmidzi no. 261, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan an Nasai no. 1001)

       

      Jumhur ulama berpendapat bahwa membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud adalah sunnah (bukan wajib).  Alasannya adalah Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam tidak memerintahkannya dalam hadits mengenai orang yang salah dalam shalatnya.  Alasan ini cukup kuat bagi yang mendha’ifkan hadits Uqbah bin ‘Amir dan tidak melihat hadits Ibnu Abbas sebagai penguatnya.

       

      7.       Membaca doa ketika duduk diantara dua sujud.

       

      Dari Hudzaifah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata, “Pada saat berada diantara dua sujud Nabi mengucapkan, ‘Rabbighfirlii, rabbighfirlii’” (HR. Ibnu Majah no. 897, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan Ibni Majah no. 731)

       

      8.       Duduk dan membaca tasyahhud awal

       

      Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

       

      “Apabila kamu duduk pada pertengahan shalat, maka duduklah dengan thuma’ninah dalam keadaan iftirasy, kemudian bertasyahhudlah” (HR. Abu Dawud no. 860 dan al Baihaqi II/133, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam al Irwaa’ no. 337)

       

      Jumhur ulama berpendapat bahwa tasyahud awal hukumnya sunnah, karena seandainya wajib tentunya tidak dapat digantikan dengan sujud sahwi seperti halnya rukun shalat (al Muhalla III/268 dan al Majmu’ III/430)

       

      Hal ini berdasarkan suatu riwayat tatkala Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam lupa mengerjakannya (maksudnya tasyahud awal), beliau tidak kembali duduk untuk tasyahud awal dan menggantikannya dengan sujud sahwi (HR. al Bukhari no. 1230 dan Muslim no. 570)

       

      Namun demikian sebagian ulama mewajibjkannya seperti Ahmad, Ishaq, al Laits, Abu Tsaur dan Dawud (Shahih Fiqih Sunnah Jilid 1, hal 518)

       

      9.       Mengucapkan Shalawat kepada Nabi setelah membaca tasyahhud.

       

      Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

       

      “Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka hendaklah dia memulai dengan pujian dan sanjungan kepada Rabb-Nya Yang Maha Agung dan Maha Mulia, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu ia berdoa dengan apa yang ia kehendaki” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah I/83/2 dan al Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh adz Dzahabi)

       

      Salah satu bacaan shalawat kepada Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam adalah,

       

      “AllaHumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shalayta ‘alaa  ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiima innaka hamiidun majiidun,

       

      AllaHumma baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiima innaka hamiidun majiidun” (HR. al Bukhari no. 6357, Muslim no. 406, Abu Dawud no. 963, at Tirmidzi I/301, Ibnu Majah no. 904 dan an Nasai III/47)

       

      Namun Imam Syafi’i berpendapat wajib hukumnya, begitu pula dengan Imam Ahmad, bahkan Imam al Ajurri berkata dalam asy Syarii’ah hal. 45, “Barangsiapa yang tidak bershalawat kepada Nabi pada tasyahhud akhir, maka wajib baginya mengulangi shalatnya”.

       

      Oleh karena itu barangsiapa yang menggolongkan pendapat asy Syafi’i sebagai pendapat yang menyelisihi kebanyakan ulama, maka orang tersebut tidak adil sebagaimana yang diterangkan oleh ahli fiqh Imam al Haitsami dalam ad Durrul no. 13-16.

       

      10.   Membaca doa setelah tasyahhud awal dan tasyahhud akhir.

       

      Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,

       

      “Jika salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahhud akhir, maka hendaklah ia belindung dari empat perkara, dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan fitnah kematian, serta kejahatan al Masih ad Dajjal” (HR. Muslim no. 588, Abu Dawud no. 968 dan Ibnu Majah no. 909)

       

      Adapun lafazh doanya adalah,

       

      “AllaHumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jaHannama wa min ‘adzaabil qabri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal” (HR. Muslim no. 588)

       

      11.   Mengucapkan salam yang kedua.

       

      Salam pertama hukumnya wajib.  Adapun salam yang kedua hukumnya sunnah sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, ia berkata, “Nabi mengucapkan salam dalam shalat dengan sekali salam dari depan wajahnya dengan sedikit miring ke kanan” (HR. at Tirmidzi no. 295, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan at Tirmidzi no. 242)

       

      Dari Ibnu Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata, “Nabi mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri” (HR. Abu Dawud no. 983 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud no. 878)

      Adapun salah satu lafazh salam yang dikerjakan oleh Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam adalah, “Assalaamu’alaikum warahmatullah” (HR. Muslim no. 582 dan lainnya).

       

      WallaHu a’lam

       

      Maraji’ :

       

      Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor , Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

       

      Shahih Fiqh Sunnah Jilid 1, Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, Pustaka at Tazkia, Jakarta , Cetakan Pertama, Shafar 1427 H/ Maret 2006 M.

       

      Sifat Shalat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, Syaikh al Albani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Shafar 1427 H/Maret 2006 M.

       

      Semoga Bermanfaat.

       

      Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
       
      Dari Abu Dzar radhiyallaHu 'anHu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'" (HR. al Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.