Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [assunnah] tentang memelihara jenggot???

Expand Messages
  • Sri Sumanto
    HUKUM MEMOTONG JENGGOT oleh Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman Pertanyaan Tolong jelaskan tentang hukum mencukur jenggot dan memotong kumis berserta
    Message 1 of 17 , Oct 30, 2006
      HUKUM MEMOTONG JENGGOT
      oleh
      Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman

      Pertanyaan
      Tolong jelaskan tentang hukum mencukur jenggot dan memotong kumis berserta
      dalil-dalilnya !

      Jawaban.
      Diharamkan mencukur, memotong, mencabut dan membakar jenggot. Allah
      Subhanahu wa Ta?la berfirman.

      Artinya : Dan benar-benar telah Aku muliakan anak cucu Adam? [Al-Isra : 70]

      Al-Baghawi rahimahullah berkata, Ada yang menafsirkan bahwa Allah memuliakan
      kaum laki-laki dengan jenggotnya dan memuliakan kaum wanita dengan (panjang)
      rambutnya?

      Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

      Artinya : Apa saja yang datang dari Rasul, maka ambillah, dan apa yang
      dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah? [Al-Hasyr : 7]

      Allah juga berfirman.

      Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut
      akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih? [An-Nur : 63]

      Dan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ?nhu, dia berkata, ?asulullah
      Shallallahu ?laihi wa sallam bersabda.

      Artinya : Potonglah kumis dan biarkan jenggot, selisilah orang-orang majusi.
      [Hadits Riwayat Ahmad II/365, 366 dan Muslim 260]

      Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi
      wa sallam, beliau bersabda.

      Artinya : Selisihilah orang-orang musyrik (dengan cara) melebatkan jenggot
      dan memendekkan kumis. [Hadits Riwayat Bukhari 5553 dan Muslim 259]

      Imam Ahmad [Lihat Al-Musnad II/366] meriwayatkan dari Abu Hurairah
      Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
      bersabda.

      Artinya : Panjangkanlah jenggot dan potonglah kumis. Janganlah kalian
      menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani.

      Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahun anhu secara marfu.
      (yaitu hadits yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi
      wa sallam).

      artinya : Janganlah kalian menyerupai orang-orang asing ; panjangkanlah
      jenggot.

      Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata, rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
      telah bersabda.

      artinya : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari
      mereka. [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 4031 dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu,
      sedangkan Al-Bazaar meriwayatkannya dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu
      VII/368]

      Dari riwayat yang lain dari Amru bin Syau'aib dari bapaknya dari kakeknya
      dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda.

      artinya : Bukan termasuk dari golongan kita orang yang tasyabbuh kepada
      selain kita (menyerupai orang kafir). Janganlah kalian semua menyerupai
      orang-orang Yahudi dan Nashrani? [Tirmidzi 2695, beliau berkata : ?adits ini
      sanadnya dhaif.

      Dan riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu (dengan lafal).

      artinya : Barangsiapa menyerupai mereka sampai dia mati, maka akan
      dikumpulkan bersama mereka.

      Dari Zaid bin Arqom, dia berkata, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi
      wa sallam telah bersabda.

      artinya : Barangsiapa yang tidak memotong (memendekkan supaya tidak menutupi
      bibirnya) maka bukan termasuk dari golongan kami. [Hadits Riwayat Ahmad,
      Tirmidzi dan Nasa'i]

      Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dia berkata.
      artinya : Adalah beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memotong
      atau mencukur sebagian kumisnya dan demikian pula yang dilakukan Nabi
      Ibrahim ahaliilurrahmaan shalawaatullah alaihi? [Hadits Riwayat Tirmidzi]

      Muhaddits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah- telah
      menjelaskan hukum mencukur jenggot dalam kitabnya, Adabu Az-Zifaf,
      hal.118-123. Beliau berkata : mencukur jenggot termasuk adat kebiasaan yang
      sangat buruk bagi orang yang fitrahnya masih sehat, dan itu adalah sebuah
      bencana yang telah menimpa sebagian besar kaum laki-laki, yaitu berhias diri
      dengan cara mencukur jenggot yang itu tidak lain hanya karena ikut-ikutan
      kepada orang kafir Eropa. Sampai-sampai menjadi aib bagi mereka apabila ada
      laki-laki yang menikah kemudian menjumpai istri barunya dalam kondisi tidak
      mencukur jenggotnya. Bahkan ada kesesatan lain dalam masalah ini yaitu
      mereka membiarkan jenggotnya ketika ada salah seorang kerabat karibnya yang
      wafat (sungguh bukan mata kepala mereka yang buta akan tetapi mata hati
      mereka yang buta). Dan orang yang mencukur jenggot berarti masuk dalam
      beberapa penyimpangan, diantaranya adalah :

      Merobah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala
      berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisaa ayat 118-119

      artinya : Yang dilaknati Allah dan syaithan itu mengatakan, saya benar-benar
      akan mengambil dari hamba-hamba Mu bagian yang sudah ditentukan (untuk
      saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan
      angan-angan kosong kepada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga
      binatang-binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya dan akan aku
      suruh mereka (merobah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merobahnya.
      Barangsiapa yang menjadikannya syaithan menjadi pelindung selain Allah, maka
      sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

      Ini adalah nash yang jelas menjelaskan tentang hukum merubah ciptaan Allah
      Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada izin dariNya, yang berarti telah mentaati
      perintah Syaithan, dan bermaksiyat kepada Al-Rahman. Maka sudah pasti bahwa
      laknat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu dimaksudkan kepada
      orang-orang yang merobah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tujuan
      (prasangka) supaya lebih baik (dari yang sebelumnya), maka tidak diragukan
      lagi perkara cukur jenggot dengan tujuan supaya lebih ganteng ini (!?)
      termasuk di dalamnya. Pelaknatan tersebut termasuk dalam mencukur jenggot
      sebagaimana yang telah saya katakana dan itu sangat jelas, tanpa adanya izin
      dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya tidak ada orang yang menyangka
      (sebaliknya) bhawa yang termasuk dalam perobahan tersebut adalah seperti
      mencukur bulu kemaluan atau yang sejenisnya yang telah dizinkan oleh
      syariat, bahkan di sunnahkan atau diwajibkan.

      Perbuatan tersebut menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa
      sallam, sabda beliau.

      artinya : Potonglah kumis dan peliharalah jenggot. [Hadits Riwayat Bukhari
      dan Muslim]

      Arti dan kata inhakuu adalah sempurnakan dalam memotong, dan maksud sempurna
      dalam memotong disini adalah memotong apa yang lebih (menutupi) bibir bukan
      mencukur bersih itu menyelisihi sunnah shahihah yang telah dilakukan oleh
      Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Untuk itu Imam Malik ketika ditanya
      tentang orang yang memanjangkan kumisnya berkata, saya berpendapat dicambuk
      supaya bertaubat. Beliau berfatwa bagi orang yang mencukur kumisnya, ini
      adalah satu kebid'ahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Riwayat
      Al-Baihaqi 1/151 lihat Fathul Al-Bari 10/285-286]

      Karena itulah Imam Malik tidak mencukur kumisnya. Ketika ditanya tentang hal
      itu beliau berkata, telah berkata kepadaku Zaid bin Aslam dari Amir bin
      Abdillah bin Az-Zubair bahwasanya Umar Al-Khaththab Radhiyallahu anhu
      apabila marah berdiri bulu kumisnya. Riwayat At-Thabari di Mu'am Al-Kabir
      1/4/1 dengan sanad yang shahih.

      Telah diketahui di sana ada kaidah, perintah itu mengandung faidah wajib,
      kecuali ada qarinah (tanda yang menunjukkan tidak wajibnya perintah
      tersebut). Padahal qorinah (tanda) yang ada disini memperkuat hukum wajibnya
      memelihara jenggot, yaitu.

      1. Menyerupai Orang-Orang Kafir
      Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

      artinya : Potonglah kumis, peliharalah jenggot dan selisihilah orang-orang
      majusi. [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

      Yang juga menambah kuatnya hukum wajib memelihara jenggot adalah :

      2. Menyerupai Wanita.
      Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam benar-benar telah melaknat
      laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai
      laki-laki [Hadits Riwayat Bukhari X/274]. Dan tidak tersembunyi lagi
      bahwasanya laki-laki yang mencukur jenggot yang telah Allah Subhanahu wa
      Ta'ala berikan kepadanya sebagai pembeda bagi kaum laki-laki dengan
      perempuan, maka mencukur jenggot merupakan penyerupaan laki-laki dengan
      wanita yang paling besar.

      Semoga apa yang telah kami sampaikan berupa sebagian dalil-dalil yang ada
      bisa memuaskan orang-orang yang terkena cobaan dengan penyelisihan ini.
      Semoga Allah mengampuni kita semua dan mengampuni mereka dari semua yang
      tidak disukai dan diridhaiNya. Amiin

      [Disalin dari kitab Al-As?lah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi
      Al-Adillah Asy-Syar?yyah jilid I, Disalin ulang dari Majalah Fatawa
      05/I/Dzulqa?dah 1424H -2003M]



      ----- Original Message -----
      From: "icank_vida" <icank_vida@...>
      To: <assunnah@yahoogroups.com>
      Sent: Monday, 30 October, 2006 4:14 PM
      Subject: [assunnah] tentang memelihara jenggot???

      > mohon informasinya tentang memelihara jenggot dan kumis??
      > apakah ada hadist yang mendukung dalam hal ini dan apakah ini sunnah
      > dari Nabi SAW????
    • sasminto
      Terlampir adalah artikel masalah jenggot yang pernah di posting di mailist kita ini. Semoga bermanfaat. ... From: icank_vida To:
      Message 2 of 17 , Oct 30, 2006
        Terlampir adalah artikel masalah jenggot yang pernah di posting di mailist
        kita ini.
        Semoga bermanfaat.


        ----- Original Message -----
        From: "icank_vida" <icank_vida@...>
        To: <assunnah@yahoogroups.com>
        Sent: Monday, October 30, 2006 4:14 PM
        Subject: [assunnah] tentang memelihara jenggot???

        > mohon informasinya tentang memelihara jenggot dan kumis??
        > apakah ada hadist yang mendukung dalam hal ini dan apakah ini sunnah
        > dari Nabi SAW????
      • bahrudin udin
        Assalamu alaikum Warohmatullohi wabarokatuh Akh icank, coba antum login kebeberapa situs di bawah ini insaya4jjl apa yang antum cari bisa didapat :
        Message 3 of 17 , Oct 30, 2006
          Assalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh

          Akh icank, coba antum login kebeberapa situs di bawah ini insaya4jjl apa yang antum cari bisa didapat :

          www.assunnah.or.id
          www.almanhaj.or.id

          Semoga bermanfaat.

          Wassalamu'alaikum Warohmatullohio Wabarokatuh


          icank_vida <icank_vida@...> wrote:
          mohon informasinya tentang memelihara jenggot dan kumis??
          apakah ada hadist yang mendukung dalam hal ini dan apakah ini sunnah
          dari Nabi SAW????



          ---------------------------------
          We have the perfect Group for you. Check out the handy changes to Yahoo! Groups.
        • Bintang Rehari
          Assalamu alaikum warahmatullahiwabarokatuh, Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di
          Message 4 of 17 , Oct 31, 2006
            Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,

            Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang. insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka untuknya. Amin.

            Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


            ----------------------
            Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
          • Irfan Safitra
            Ini ana bawakan Artikel tulisan dari Ustadz Hakim Bin Amir Abdat Semoga bermanfaat.. ... From: assunnah@yahoogroups.com [mailto:assunnah@yahoogroups.com] On
            Message 5 of 17 , Oct 31, 2006
              Ini ana bawakan Artikel tulisan dari Ustadz Hakim Bin Amir Abdat
              Semoga bermanfaat..


              -----Original Message-----
              From: assunnah@yahoogroups.com [mailto:assunnah@yahoogroups.com] On
              Behalf Of Bintang Rehari
              Sent: 31 Oktober 2006 21:54
              To: assunnah@yahoogroups.com
              Subject: [assunnah] Tentang merapatkan Shaf dalam shalat berjama'ah.

              Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,

              Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan
              shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada
              beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha
              "matian2" untuk tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana
              berusaha rapatkan shaf, orang tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru
              atau shalat sendirian di belakang. insya Allah, kalau ada diantara
              ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan menjelaskan baik2 kepada
              orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka untuknya. Amin.

              Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



              **********************************************************************
              This email and any files transmitted with it are confidential and
              intended solely for the use of the individual or entity to whom they
              are addressed. If you have received this email in error please notify
              the system manager.

              This footnote also confirms that this email message has been swept by
              MailSecurity for the presence of computer viruses.
              **********************************************************************
            • abah zahra
              terlampi file yg di maksud ... From: Bintang Rehari To: Sent: Tuesday, October 31, 2006 9:53 PM Subject:
              Message 6 of 17 , Oct 31, 2006
                terlampi file yg di maksud


                ----- Original Message -----
                From: "Bintang Rehari" <bintang2k@...>
                To: <assunnah@yahoogroups.com>
                Sent: Tuesday, October 31, 2006 9:53 PM
                Subject: [assunnah] Tentang merapatkan Shaf dalam shalat berjama'ah.

                > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                >
                > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                > ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                > atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk
                > tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf,
                > orang tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di
                > belakang. insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana
                > mau print dan menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah
                > Allah selalu terbuka untuknya. Amin.
                >
                > Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
              • Abdillah Majid
                Alahmdulillah.... ada risalah yang berkaitan dengan masalah antum semoga bermanfaat.... untuk jelasnyanya antum bisa kunjungi situs Solat Kita... MELURUSKAN
                Message 7 of 17 , Nov 1, 2006
                  Alahmdulillah.... ada risalah yang berkaitan dengan masalah antum semoga
                  bermanfaat.... untuk jelasnyanya antum bisa kunjungi situs Solat Kita...

                  MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF

                  ------------------------------

                  MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH

                  Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
                  kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah.
                  Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam
                  meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya
                  [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

                  Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf
                  diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

                  Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat
                  di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana
                  berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka
                  menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf]
                  yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"
                  [HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].

                  Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin
                  Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

                  Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan
                  anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau
                  perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu
                  hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika
                  beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya,
                  maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar
                  meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".
                  [HR. Muslim]

                  Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi
                  wasallam bersabda:

                  Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena
                  sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"
                  [HR. Al Bukhari dan Muslim],

                  dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata:

                  "Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya
                  pada kaki temannya"

                  sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas:

                  "Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau
                  akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu
                  dia akan lari darimu."

                  Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan
                  merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk
                  kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi
                  wasallam:

                  "Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan
                  shalat".

                  Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana
                  perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi
                  shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan
                  wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan
                  didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi
                  [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh
                  amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah
                  diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.

                  Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak
                  melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan
                  selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya
                  -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan
                  luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama
                  kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya,
                  maka:

                  Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan
                  dan merapatkan shaf.

                  Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan
                  mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi
                  bersabda:

                  "Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah
                  celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa
                  yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa
                  memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".
                  [HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]

                  Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak
                  pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat
                  faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya
                  dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa
                  sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan
                  saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya
                  dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu
                  barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.

                  Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam
                  hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi:

                  Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang
                  yang menyambung shaf".
                  [HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].

                  Dan sabda Nabi yang shahih:

                  "Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".
                  [HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]

                  Dan sabda Nabi yang lain:

                  Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk
                  ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang
                  lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah
                  pada shaf dan menutupinya".
                  [HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].

                  Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.

                  Diantara haditsnya adalah :

                  Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf
                  laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang
                  paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adlaah yang paling depan.
                  (H.R. Muslim).

                  Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari
                  besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan
                  diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka
                  mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah
                  mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di
                  shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka
                  mendatangi keduanya walaupun dengan merayab.
                  (Bukhari dan Muslim.)

                  Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam

                  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

                  Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama'ah,
                  ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka
                  dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan
                  dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani
                  di kitab shahih Al Jami' II/1089).



                  On 10/31/06, Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                  >
                  > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                  >
                  > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                  > ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                  > atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak
                  > merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang
                  > tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang.
                  > insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan
                  > menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                  > untuknya. Amin.
                  >
                  > Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
                • Abdillah Majid
                  Afwan mo saya tambahkan maroji dari risalah yang kemarin. 1. Sifat Sholat Nabi Edisi Revisi, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani Penerbit : Media Hidayah,
                  Message 8 of 17 , Nov 1, 2006
                    Afwan mo saya tambahkan maroji' dari risalah yang kemarin.

                    1. Sifat Sholat Nabi Edisi Revisi, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani
                    Penerbit : Media Hidayah, Yogyakarta, Cetakan Pertama
                    Terjemahan dari Kitab Shifatu Shalaati an Nabiyyi Shallallahi 'Alaihi wa Sallam min at-Takbiiri ilaa at Tasliimi Ka-annaka Taraahaa

                    2. Sifat Shalat Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
                    Penerbit : At Tibyan, Solo
                    Terjemahan dari Kitab Shifatus Shalah

                    3. Sifat Sholat Nabi SAW dan Dzikir-dzikir Pilihan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdulaziz bin Baz
                    Penerbit : Pustaka Al Kautsar, Jakarta, Cetakan ke-10
                    Terjemahan dari Kitab Fatawa Hammah wa Risalah fii Shifati Sholatin Nabii Saw

                    4. Fikih Sunnah Jilid 1 dan 2, karya Sayyid Sabiq
                    Penerbit : PT. Al Ma'arif, Bandung, Cetakan ke-14
                    Terjemahan dari Kitab Fiqhus Sunnah

                    5. Koreksi Total Ritual Sholat, karya Abu Ubaid Masyhur bin Hasan Mahmud bin Salman
                    Penerbit : Pustaka Azzam, Jakarta, Cetakan ke-3
                    Terjemahan dari Kitab al Qaulul mubin fii akhta-il Mushallin

                    6. Kumpulan Tulisan tentang Sholat, penyusun : Ustadz Abdul Hakim Abdat

                    7. Sifat Wudhu Nabi, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

                    8. Shalat karya Syeikh Abdullah bin Sholeh Al Ubailan

                    9. Tuntunan Shalat menurut Al-Quran dan As-Sunnah, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Jibrin
                    Penerbit At-Tibyan, Solo



                    On 10/31/06, Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                    >
                    > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                    >
                    > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                    > ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                    > atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak
                    > merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang
                    > tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang.
                    > insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan
                    > menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                    > untuknya. Amin.
                    >
                    > Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
                  • didik
                    Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah, berikut ana posting artikel yang pernah ana dapat di milis ini. MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF
                    Message 9 of 17 , Nov 1, 2006
                      Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

                      Alhamdulillah, berikut ana posting artikel yang pernah ana dapat di milis
                      ini.

                      MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT BERJAMAAH

                      Hukum meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib, seorang imam dilarang
                      memulai shalatnya sebelum meluruskan shaf baik meluruskannya sendiri maupun
                      dengan menyuruh orang lain untuk meluruskannya shaf tersebut."Luruskan
                      shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan
                      shalat (HR Bukhari-Muslim).

                      Dimana lurusnya shaf yaitu dengan cara menempelkan bahu dan tumit
                      sebagaimana hadit berikut ini:

                      1. Dari Anas ra, ia berkata bahwa setelah diserukan iqamah shalat,
                      Rasulullah saw menghadap kepada kami dan bersabda: "Luruskan shaf-shaf
                      kalian dan rapatkanlah. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik
                      punggungku" (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

                      Di dalam riwayat Bukhari ada tambahan: "Maka seseorang dari kami menempelkan
                      bahunya dengan bahu kawannya dan telapak kakinya dengan telapak kaki kawan
                      di sampingnya." [Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih
                      (STT, 1/271)]

                      2. Dari Nu'man bin Basyir ra, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah
                      bersabda: "Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) sungguh Allah
                      akan menimbulkan perselisihan di antara kalian" (Diriwayatkan oleh Malik,
                      Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).

                      Berkata An_Nu'man:"saya melihat salah seorang diantara kami menempelkan
                      tumitnya dengan tumit orang lain disampingnya" (HR Bukhari)

                      Di dalam riwayat lain bagi mereka, kecuali Bukhari, bahwa Rasulullah saw
                      biasa meluruskan shaf-shaf kami sehingga seperti cara beliau meluruskan
                      (membidikkan) anak panah sampai melihat bahwa kami telah memahaminya. Pada
                      suatu hari ketika beliau hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat
                      seseorang yang dadanya lebih maju dari shaf, lalu beliau bersabda; "Wahai
                      hamba-hamba Allah, luruskan shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah
                      akan menimbulkan kebengkokan di antara kalian"

                      Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya: Rasulullah
                      saw datang dengan menghadapkan wajahnya kepada orang-orang lalu bersabda:
                      "Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah akan
                      menimbulkan kebengkokan di antara hati-hati kalian." Perawi berkata:
                      "Kemudian aku melihat orang-orang menempelkan bahu dengan bahu, lutut dengan
                      lutut, dan mata kaki dengan mata kaki kawannya." [Menurut Muhammad
                      Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih (STT - 1/276)]

                      Sumber: assunnah@yahoogroups.com

                      Didik Abu Dzaky
                      E-mail: didik@...



                      From: Bintang Rehari [mailto:bintang2k@...]
                      Subject: [assunnah] Tentang merapatkan Shaf dalam shalat berjama'ah.

                      Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,

                      Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                      ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                      atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak
                      merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang
                      tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang.
                      insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan
                      menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                      untuknya. Amin.

                      Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
                    • giyan giant
                      LARANGAN KERAS MENYELISIHI SHAF DALAM SHOLAT DAN MEMBIARKAN CELAH SERTA TIDAK MENUTUPNYA Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas ud, ia berkata: Rasululloh
                      Message 10 of 17 , Nov 2, 2006
                        LARANGAN KERAS MENYELISIHI SHAF DALAM SHOLAT DAN MEMBIARKAN CELAH SERTA TIDAK MENUTUPNYA

                        Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasululloh biasanya mengatur bahu-bahu kami ketika hendak sholat hendak sholat sambil brkata :
                        astawuu wala takhtalifuu fatah talifa quluu bukum liya niiminkum ulul ahla mi wannaha tsammmalladzii na yaluu tahum tsummalladzii na yaluutahum.
                        artinya: Luruskanlah shaf dan janganlah berselisih hingga membuat hati kalian saling berselisih, Hendaklah shaf pertama dibelakangku diisi oleh orang-orang pintar dan berakal. Menyusul orang-orang yang dibawah mereka kedudukannya mengisi shaf-shaf berikutnya.

                        Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasululloh bersabda:
                        Rapatkanlah shaf kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah, berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian (yang meluruskan shaf), jangan biarkan ada celah, untuk syaithon-syaithon, barang siapa menyambung shaf, niscaya ALLOH akan menyambungnya ,barang siapa memutus shaf, niscaya ALLOH akan memutusnya.
                        Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata Rasululloh bersabda:
                        "Jangan sampai kedapatan olehku masih ada celah!yakni dalam sholat."

                        Kandungan Bab:
                        1. Haram hukumnya memutus shaf dan menyelisihinya di dalam sholat atau membiarkan ada celah untuk syaithon dan tidak memutupnya
                        2. Merapatkan shaf mendatangkan banyak sekali hikmah, diantaranya,
                        a.Menyerupai shaf-shaf Malaikat yang mulia sebagaimana mereka bershaf dihadapan ALLOH. Dalam hadits Jabir bin Samurah ia berkata: Rasululloh keluar menemui kami lalu berkata: "Maukah kalain bershaf seperti para Malaikat bershaf dihadapan RABBNYA?" Kami berkata: Wahai Rasululloh bagaimana para malaikat bershaf di hadapan Rabbnya? "Rasul bersabda: Mereka menyempurnakan terlebih dahulu shaf pertama dan merapatkannya."
                        HR.Muslim(430)
                        b.Mempersempit jalan-jalan masuk bagi syaithon. Ssesungguhnya syaithon masuk melalui celah dan tempat kosong (shaf).
                        c.Shaf yang baik, rapat dan lurus merupakan tanda kebaikan dan kesempurnaan sholat. banyak sekali hadits yang menjelaskannya, diantaranya hadits Anas, ia berkata: Rasululloh bersabda: "Rapatkanlah shaf kalian, karena merapatkan shaf termasuk penegakan sholat"
                        HR, Al-Bukhari(723) dan Muslim(433)
                        3. Merapatkan shaf disempurnakan dengan saling merapatkan bahu dan mata kaki. Dalilnya adalah penerapan yang dilakukan oleh para Sahabat dibelakang Rasululloh disebutkan dalam hadits Anas bin Malik "Setiap oang merapatkan bahunya ke bahu orang yang disampingnya dan merapatkan kakinya dengan kaki orang yang disampingnya."
                        HR.Al-Bukhari(725)
                        4. Seorang imam seharusnya merapatkan shaf dengan perkataan maupun perbuatannya sehingga para makmum dapat memahaminya. Dalam hadits an Nu'man bin Basyir disebutkan bahwa Rasululloh merapatkan shaf kami seolah beliau merapatkan batang anak panah. Sehingga aku saksikan sendiri kami telah memahami intruksi beliau. Pada suatu hari beliau keluar untuk sholat dan hampir saja bertakbir. Beliau melihat seorang makmum tubuhnya agak menjulur ke depan shaf. Beliau berkata: "Hai hamba-hamba ALLOH luruskanlah shaf kalian atau ALLOH akan membuat wajah-wajah kalian berselisih."
                        Yaitu dengan mengatur posisi makmum dan memerintahkan mereka untuk merapatkan shaf, memeriksa celah an shaf yang masih kosong serta segera memerintahkan agar menutupnya.
                        HR.Al-Bukhari(717)dan Muslim(436/128)
                        Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud(672)
                        semoga bermanfaat



                        Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                        Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,

                        Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang. insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka untuknya. Amin.

                        Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



                        ---------------------------------
                        Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.
                      • anang dwicahyo
                        mohon penjelasan : Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada
                        Message 11 of 17 , Nov 2, 2006
                          mohon penjelasan :

                          Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada perintah untuk memaksakan masuk shaf didepan atau menarik salah seorang di shaf depan untuk menemani kita di belakang.


                          giyan giant <giyantp@...> wrote:
                          LARANGAN KERAS MENYELISIHI SHAF DALAM SHOLAT DAN MEMBIARKAN CELAH SERTA TIDAK MENUTUPNYA

                          Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasululloh biasanya mengatur bahu-bahu kami ketika hendak sholat hendak sholat sambil brkata :
                          astawuu wala takhtalifuu fatah talifa quluu bukum liya niiminkum ulul ahla mi wannaha tsammmalladzii na yaluu tahum tsummalladzii na yaluutahum.
                          artinya: Luruskanlah shaf dan janganlah berselisih hingga membuat hati kalian saling berselisih, Hendaklah shaf pertama dibelakangku diisi oleh orang-orang pintar dan berakal. Menyusul orang-orang yang dibawah mereka kedudukannya mengisi shaf-shaf berikutnya.

                          Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasululloh bersabda:
                          Rapatkanlah shaf kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah, berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian (yang meluruskan shaf), jangan biarkan ada celah, untuk syaithon-syaithon, barang siapa menyambung shaf, niscaya ALLOH akan menyambungnya ,barang siapa memutus shaf, niscaya ALLOH akan memutusnya.
                          Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata Rasululloh bersabda:
                          "Jangan sampai kedapatan olehku masih ada celah!yakni dalam sholat."

                          Kandungan Bab:
                          1. Haram hukumnya memutus shaf dan menyelisihinya di dalam sholat atau membiarkan ada celah untuk syaithon dan tidak memutupnya
                          2. Merapatkan shaf mendatangkan banyak sekali hikmah, diantaranya,
                          a.Menyerupai shaf-shaf Malaikat yang mulia sebagaimana mereka bershaf dihadapan ALLOH. Dalam hadits Jabir bin Samurah ia berkata: Rasululloh keluar menemui kami lalu berkata: "Maukah kalain bershaf seperti para Malaikat bershaf dihadapan RABBNYA?" Kami berkata: Wahai Rasululloh bagaimana para malaikat bershaf di hadapan Rabbnya? "Rasul bersabda: Mereka menyempurnakan terlebih dahulu shaf pertama dan merapatkannya."
                          HR.Muslim(430)
                          b.Mempersempit jalan-jalan masuk bagi syaithon. Ssesungguhnya syaithon masuk melalui celah dan tempat kosong (shaf).
                          c.Shaf yang baik, rapat dan lurus merupakan tanda kebaikan dan kesempurnaan sholat. banyak sekali hadits yang menjelaskannya, diantaranya hadits Anas, ia berkata: Rasululloh bersabda: "Rapatkanlah shaf kalian, karena merapatkan shaf termasuk penegakan sholat"
                          HR, Al-Bukhari(723) dan Muslim(433)
                          3. Merapatkan shaf disempurnakan dengan saling merapatkan bahu dan mata kaki. Dalilnya adalah penerapan yang dilakukan oleh para Sahabat dibelakang Rasululloh disebutkan dalam hadits Anas bin Malik "Setiap oang merapatkan bahunya ke bahu orang yang disampingnya dan merapatkan kakinya dengan kaki orang yang disampingnya."
                          HR.Al-Bukhari(725)
                          4. Seorang imam seharusnya merapatkan shaf dengan perkataan maupun perbuatannya sehingga para makmum dapat memahaminya. Dalam hadits an Nu'man bin Basyir disebutkan bahwa Rasululloh merapatkan shaf kami seolah beliau merapatkan batang anak panah. Sehingga aku saksikan sendiri kami telah memahami intruksi beliau. Pada suatu hari beliau keluar untuk sholat dan hampir saja bertakbir. Beliau melihat seorang makmum tubuhnya agak menjulur ke depan shaf. Beliau berkata: "Hai hamba-hamba ALLOH luruskanlah shaf kalian atau ALLOH akan membuat wajah-wajah kalian berselisih."
                          Yaitu dengan mengatur posisi makmum dan memerintahkan mereka untuk merapatkan shaf, memeriksa celah an shaf yang masih kosong serta segera memerintahkan agar menutupnya.
                          HR.Al-Bukhari(717)dan Muslim(436/128)
                          Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud(672)
                          semoga bermanfaat


                          Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                          Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,

                          Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang. insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka untuknya. Amin.

                          Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



                          ---------------------------------
                          Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com
                        • Muhammad Aryo
                          ... merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha matian2
                          Message 12 of 17 , Nov 4, 2006
                            > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                            >
                            > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang
                            merapatkan shaf2 ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket
                            rumah ana, ada beberapa atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah
                            berusaha "matian2" untuk tidak merapatkan shaf. bahkan ada yang
                            ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang tersebut rela untuk pindah
                            shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang. insya Allah, kalau
                            ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan menjelaskan
                            baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                            untuknya. Amin.
                            >
                            -------------------


                            Wa'alaikumussalaam wa rohmatulloh wa barokaatuh wa maghfirotuh(*),

                            Al-Hamdulillah wash sholaatu was salaamu 'ala Rosulillaah, amma ba'du:

                            Dalam Shohih al-Bukhori di kitab al-Jama'ah wal Imaamah pada bab
                            Ilzaaqul-Mankib bil-Mankib wal-Qodam bil-Qodam fish-Shof (Menempelkan
                            bahu dengan bahu, telapak kaki dengan telapak kaki dalam shof) :

                            ÍÏËäÇ ÚãÑæ Èä ÎÇáÏ ÞÇá: ÍÏËäÇ ÒåíÑ¡ Úä ÍãíÏ¡ Úä ÃäÓ¡ Úä ÇáäÈí Õáì Çááå
                            Úáíå æÓáã ÞÇá: (ÃÞíãæÇ ÕÝæÝßã¡ ÝÅäí ÃÑÇßã ãä æÑÇÁ ÙåÑí). æßÇä ÃÍÏäÇ
                            íáÒÞ ãäßÈå ÈãäßÈ ÕÇÍÈå¡ æÞÏãå ÈÞÏãå.

                            Telah menceritakan kepada kami 'Amr bin Kholid, ia berkata : telah
                            menceritakan kepada kami Zuhair, dari Humaid, dari Anas, dari Nabi
                            shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

                            "Tegakkanlah shof-shof kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari
                            balik punggungku", (kemudian Anas berkata) 'dan ketika itu salah satu
                            dari kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan kakinya ke kaki
                            temannya'.

                            Hadits ini juga bisa dilihat di kitab Riyadhush Sholihin yang ditulis
                            oleh al-Imam an-Nawawi, hadits no. 1088.

                            Dalam riwayat al-Mukhlish dan Ibnu Abi Syaibah [dishohihkan asy-
                            Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shohihah no. 31]
                            dengan lafadz :

                            ÞÇá ÃäÓ ÝáÞÏ ÑÃíÊ ÃÍÏäÇ íáÕÞ ãäßÈå ÈãäßÈ ÕÇÍÈå æÞÏãå ÈÞÏãå Ýáæ ÐåÈÊ
                            ÊÝÚá åÐÇ Çáíæã áäÝÑ ÃÍÏßã ßÃäå ÈÛá ÔãæÓ

                            Anas berkata : "Maka aku melihat salah seorang diantara kami
                            menempelkan bahunya dengan behu temannya, kakinya dengan kaki
                            temannya. Kalau engkau melakukan ini pada hari ini, akan lari seorang
                            dari kalian seolah-olah ia keledai liar."

                            Dalam hadits an-Nu'man bin Basyir yang diriwayatkan Abu Dawud hadits
                            no. 662 [dishohihkan asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits
                            ash-Shohihah no. 32]:

                            ÍÏËäÇ ÚËãÇä Èä ÃÈí ÔíÈÉ ËäÇ æßíÚ Úä ÒßÑíÇ Èä ÃÈí ÒÇÆÏÉ Úä ÃÈí ÇáÞÇÓã
                            ÇáÌÏáí ÞÇá ÓãÚÊ ÇáäÚãÇä Èä ÈÔíÑ íÞæá : ÃÞÈá ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã Úáì
                            ÇáäÇÓ ÈæÌåå ÝÞÇá ÃÞíãæÇ ÕÝæÝßã ËáÇËÇ æÇááå áÊÞíãä ÕÝæÝßã Ãæ áíÎÇáÝä Çááå
                            Èíä ÞáæÈßã ÞÇá ÝÑÃíÊ ÇáÑÌá íáÒÞ ãäßÈå ÈãäßÈ ÕÇÍÈå æÑßÈÊå ÈÑßÈÉ ÕÇÍÈå
                            æßÚÈå ÈßÚÈå

                            Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah, telah
                            menceritakan kepada kami Wakii' dari Zakariya bin Abi Za`idah dari
                            Abil Qosim al-Jadali, ia berkata : aku mendengar an-Nu'man bin Basyir
                            berkata : Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapkan
                            wajahnya ke arah manusia, kemudian bersabda : "Tegakkanlah shohf-shof
                            kalian (3x), demi Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shof
                            atau Allah akan memperselisihkan antara hati-hati kalian." Berkata
                            (an-Nu'man bin Basyir) : 'maka aku melihat seseorang menempelkan
                            bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan
                            kakinya dengan kaki temannya'.

                            Asy-Syaikh al-Albani rohimahulloh telah menjelaskan fiqih 2 hadits di
                            atas (hadits Anas & an-Nu'man) dalam Silsilah al-Ahaadits ash-
                            Shohihah no. 31 & 32, beliau berkata :

                            Dalam 2 hadits ini ada faidah-faidah yang penting:

                            Yang pertama : Wajibnya menegakkan shof, meluruskannya dan
                            merapatkannya, karena adanya perintah tentang hal ini. Dan asal suatu
                            perintah adalah wajib kecuali jika ada qorinah (sebab lain),
                            sebagaimana disepakati dalam ilmu ushul. Dan qorinah di sini
                            menguatkan hukum wajibnya, yakni sabda beliau shallallahu 'alaihi wa
                            sallam: ".. atau Allah akan memperselisihkan antara hati-hati
                            kalian ..". Maka sesungguhnya ancaman yang seperti ini tidak
                            dikatakan dalam apa-apa yang tidak wajib, sebagaimana tidak samar
                            lagi.

                            Yang kedua : bahwa meluruskan (shof) yang disebutkan adalah dengan
                            menempelkan bahu dengan bahu, telapak kaki dengan kaki. Karena inilah
                            yang dilakukan para shahabat rodhiyallahu 'anhum ketika mereka
                            diperintahkan untuk menegakkan shof. Demikian pula yang dikatakan Al-
                            Hafidz dalam "al-Fath" setelah membawakan tambahan yang terdapat pada
                            hadits yang pertama dari perkataan Anas :

                            "Dan penegasan ini berfaidah bahwa perbuatan tersebut terjadi pada
                            zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan dengan ini sempurnalah
                            pengambilan hujjah dengannya (perkataan Anas) atas penjelasan tentang
                            maksud menegakkan shof dan meluruskannya."

                            Dan sangat disayangkan bahwa sunnah meluruskan (shof) ini telah
                            diremehkan oleh kaum muslimin, bahkan mereka meninggalkannya kecuali
                            sedikit dari mereka. Sesungguhnya aku tidak melihatnya (sunnah
                            meluruskan shof) pada mereka kecuali ahlul hadits, aku melihat mereka
                            di Makkah pada tahun 1368 bersemangat dalam berpegang teguh dengannya
                            (sunnah tersebut) sebagaimana yang (sunnah-sunnah) yang lainnya dari
                            sunnah-sunnah al-Mushthofa (Rasululloh) 'alaihish sholatu was salaam,
                            berbeda dengan yang selain mereka dari para pengikut mazhab yang 4 --
                            aku tidak mengecualikan dari mereka, bahkan Hanabilah (pengikut
                            mazhab Hambali)--, maka sungguh sunnah ini di sisi mereka telah
                            dilupakan.

                            Bahkan mereka mengajak untuk meninggalkannya dan berpaling darinya.
                            Yang demikian karena kebanyakan mazhab mereka mengatakan bahwa yang
                            sunnah dalam berdiri (waktu sholat) adalah memberi jarak antara 2
                            kaki dengan jarak 4 jari, jika ditambah maka dimakruhkan, sebagaimana
                            perinciannya terdapat pada "al-Fiqhu 'alal Mazhahib al-Arba'ah"
                            (1/207), dan ukuran tersebut tidak ada asalnya dalam sunnah, dan
                            hanya saja ia pendapat semata. Andaikan shohih maka wajib di-taqyid
                            dengan Imam atau orang yang sholat sendirian sehingga tidak saling
                            bertentangan dengan sunnah (merapatkan shof) yang shohihah ini,
                            sebagaimana kaidah-kaidah ushuliyyah menunjukkan demikian.

                            Dan kesimpulannya : sesungguhnya aku menyerukan kepada kamu muslimin -
                            -dan khususnya para imam masjid—yang bersemangat dalam mengikuti
                            beliau shllallahu 'alaihi wa sallam dan menginginkan keutamaan
                            menghidupkan sunnahnya shallallahu 'alaihi wa sallam agar mereka
                            mengetahui tentang sunnah ini dan bersemangat dengannya dan
                            menyerukan manusia kepadanya sampai mereka semua bersepakat atas
                            sunnah tersebut. Dan dengan demikian mereka akan selamat dari
                            ancaman "..atau Allah akan memperselisihkan antara hati-hati kalian.."

                            Yang ketiga : dalam hadits yang pertama (hadits Anas) terdapat
                            mukjizat yang jelas pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu
                            penglihatan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dari belakangnya,
                            akan tetapi sepatutnya untuk diketahui bahwa mukjizat ini khusus
                            dalam keadaannya shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sholat, yang
                            demikian karena tidak terdapat dalam sunnah bahwa beliau juga bisa
                            melihat seperti itu di luar sholat. Wallahu A'lam.

                            Yang keempat : dalam 2 hadits tersebut terdapat dalil yang jelas atas
                            perkara yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang, walaupun telah
                            diketahui dalam ilmu kejiwaan yaitu bahwa kerusakan dzohir (yang
                            nampak) berdampak pada kerusakan yang batin, demikian pula
                            sebaliknya, dan dengan makna ini (didukung) hadits yang banyak.
                            Semoga kami dapat mengumpulkannya dan men-takhrij-nya dalam
                            kesempatan lain insyaAllah Ta'ala.

                            Yang kelima : bahwa masuknya (mulai sholat) imam dalam takbirotul
                            ihrom ketika mu'adzdzin berkata "Qod qomatish sholah" adalah bid'ah,
                            karena penyelisihannya terhadap sunnah yang shohihah sebagaimana
                            ditunjukkan oleh 2 hadits ini, bahkan yang pertama dari keduanya.
                            Sesungguhnya 2 hadits tersebut memberikan faidah bahwa wajib bagi
                            imam setelah iqomah sholat, untuk menegakkannya, yakni memerintahkan
                            orang-orang untuk meluruskan (shof) sebagai peringatan bagi mereka
                            dengannya (sunnah), karena sesungguhnya ia (imam) akan ditanya
                            tentang mereka :

                            " ßáßã ÑÇÚ æ ßáßã ãÓÄæá Úä ÑÚíÊå ... " .

                            "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya
                            tentang apa-apa yang dipimpinnya…"

                            Wallahu A'lam.

                            Abu SHilah

                            (*) Lafadz tambahan "…wa maghfirotuh" diriwayatkan al-Imam al-Bukhori
                            dalam at-Tarikh al-Kabir dan dishohihkan asy-Syaikh al-Albani dalam
                            Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 1449. Wallahu A'lam.
                          • danang_cw
                            Assalaamu alaikum wr. wb. Ada yang bisa bantu dengan gambar? ana butuh agar mudah dilihat orang. jazakallohu khoir wassalaamu alaikum wr. wb. abu Shofiyyah
                            Message 13 of 17 , Nov 5, 2006
                              Assalaamu'alaikum wr. wb.
                              Ada yang bisa bantu dengan gambar?
                              ana butuh agar mudah dilihat orang.
                              jazakallohu khoir
                              wassalaamu'alaikum wr. wb.
                              abu Shofiyyah


                              --- In assunnah@yahoogroups.com, "Muhammad Aryo" <ajiyoid@...> wrote:
                              > Al-Hamdulillah wash sholaatu was salaamu 'ala Rosulillaah, amma ba'du:
                              >
                              > Dalam Shohih al-Bukhori di kitab al-Jama'ah wal Imaamah pada bab
                              > Ilzaaqul-Mankib bil-Mankib wal-Qodam bil-Qodam fish-Shof (Menempelkan
                              > bahu dengan bahu, telapak kaki dengan telapak kaki dalam shof) :
                              >
                              > deleted............
                            • Abdillah Majid
                              Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada perintah untuk
                              Message 14 of 17 , Nov 6, 2006
                                Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang
                                sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada
                                perintah untuk memaksakan masuk shaf didepan atau menarik salah seorang di
                                shaf depan untuk menemani kita di belakang.


                                Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
                                Mo ikut kasih info sedikit....
                                Untuk yang masalah antum sampaikan sudah ada dan dibahas dalam buku kecil 25
                                Fatwa Syaikh Albani yang diterbitkan oleh optima Semarang. Di dalam buku itu
                                dibahas oleh syaikh Albani dari pertanyaan yang mirip dengan yang antum
                                tanyakan.
                                Kurang lebih intinya.... Hadits yang digunakan untuk menarik orang lain yang
                                didepan kebelakang dan bisa sejajar dengan kita tidak shahih ataupun hasan.
                                Jadi tidak bisa dipakai... Adapun untuk merapatkan shaf dalam sholat harus
                                dimaksimalkan dan jangan diremehkan karena bagian dari kesempurnaan shalat
                                berjama'ah. Kalau misal kita telat dan berada di belakang sendirian
                                sedangkan kita mampu untuk masuk diantara celah jama'ah (yang dalam kondisi
                                sekarang ini jarak antar makmum bisa sampai 20 cm) maka kita terkena hadits
                                shahih tentang keutamaan merapatkan shaf, tapi apabila memang kita tidak
                                mampu untuk masuk ke dalam celah barisan, maka itulah kemampuan kita... dan
                                Allah tidak membebani umatnya diluar batas kemampuannya. Tapi bukan berarti
                                kita boleh menggunakan hadits yang tidak sah yang berkaitan dengan menarik
                                seseorang ke shaf belakang.
                                Demikian apa yang dapat saya fahami dari penjelasaan Syaikh Albani...
                                wallahu'alam....
                                Semoga bermanfaat...
                                Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan saya Amin

                                Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
                                Abdillah Majid Abu Dzaky


                                On 11/3/06, anang dwicahyo <dcanang@...> wrote:
                                >
                                > mohon penjelasan :
                                >
                                > Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang
                                > sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada
                                > perintah untuk memaksakan masuk shaf didepan atau menarik salah seorang di
                                > shaf depan untuk menemani kita di belakang.
                                >
                                >
                                > giyan giant <giyantp@...> wrote:
                                > LARANGAN KERAS MENYELISIHI SHAF DALAM SHOLAT DAN MEMBIARKAN CELAH SERTA
                                > TIDAK MENUTUPNYA
                                >
                                > Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasululloh biasanya
                                > mengatur bahu-bahu kami ketika hendak sholat hendak sholat sambil brkata :
                                > astawuu wala takhtalifuu fatah talifa quluu bukum liya niiminkum ulul ahla
                                > mi wannaha tsammmalladzii na yaluu tahum tsummalladzii na yaluutahum.
                                > artinya: Luruskanlah shaf dan janganlah berselisih hingga membuat hati
                                > kalian saling berselisih, Hendaklah shaf pertama dibelakangku diisi oleh
                                > orang-orang pintar dan berakal. Menyusul orang-orang yang dibawah mereka
                                > kedudukannya mengisi shaf-shaf berikutnya.
                                >
                                > Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasululloh bersabda:
                                > Rapatkanlah shaf kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah,
                                > berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian (yang meluruskan
                                > shaf), jangan biarkan ada celah, untuk syaithon-syaithon, barang siapa
                                > menyambung shaf, niscaya ALLOH akan menyambungnya ,barang siapa memutus
                                > shaf, niscaya ALLOH akan memutusnya.
                                > Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata Rasululloh bersabda:
                                > "Jangan sampai kedapatan olehku masih ada celah!yakni dalam sholat."
                                >
                                > Kandungan Bab:
                                > 1. Haram hukumnya memutus shaf dan menyelisihinya di dalam sholat atau
                                > membiarkan ada celah untuk syaithon dan tidak memutupnya
                                > 2. Merapatkan shaf mendatangkan banyak sekali hikmah, diantaranya,
                                > a.Menyerupai shaf-shaf Malaikat yang mulia sebagaimana mereka bershaf
                                > dihadapan ALLOH. Dalam hadits Jabir bin Samurah ia berkata: Rasululloh
                                > keluar menemui kami lalu berkata: "Maukah kalain bershaf seperti para
                                > Malaikat bershaf dihadapan RABBNYA?" Kami berkata: Wahai Rasululloh
                                > bagaimana para malaikat bershaf di hadapan Rabbnya? "Rasul bersabda: Mereka
                                > menyempurnakan terlebih dahulu shaf pertama dan merapatkannya."
                                > HR.Muslim(430)
                                > b.Mempersempit jalan-jalan masuk bagi syaithon. Ssesungguhnya syaithon
                                > masuk melalui celah dan tempat kosong (shaf).
                                > c.Shaf yang baik, rapat dan lurus merupakan tanda kebaikan dan
                                > kesempurnaan sholat. banyak sekali hadits yang menjelaskannya, diantaranya
                                > hadits Anas, ia berkata: Rasululloh bersabda: "Rapatkanlah shaf kalian,
                                > karena merapatkan shaf termasuk penegakan sholat"
                                > HR, Al-Bukhari(723) dan Muslim(433)
                                > 3. Merapatkan shaf disempurnakan dengan saling merapatkan bahu dan mata
                                > kaki. Dalilnya adalah penerapan yang dilakukan oleh para Sahabat dibelakang
                                > Rasululloh disebutkan dalam hadits Anas bin Malik "Setiap oang merapatkan
                                > bahunya ke bahu orang yang disampingnya dan merapatkan kakinya dengan kaki
                                > orang yang disampingnya."
                                > HR.Al-Bukhari(725)
                                > 4. Seorang imam seharusnya merapatkan shaf dengan perkataan maupun
                                > perbuatannya sehingga para makmum dapat memahaminya. Dalam hadits an Nu'man
                                > bin Basyir disebutkan bahwa Rasululloh merapatkan shaf kami seolah beliau
                                > merapatkan batang anak panah. Sehingga aku saksikan sendiri kami telah
                                > memahami intruksi beliau. Pada suatu hari beliau keluar untuk sholat dan
                                > hampir saja bertakbir. Beliau melihat seorang makmum tubuhnya agak menjulur
                                > ke depan shaf. Beliau berkata: "Hai hamba-hamba ALLOH luruskanlah shaf
                                > kalian atau ALLOH akan membuat wajah-wajah kalian berselisih."
                                > Yaitu dengan mengatur posisi makmum dan memerintahkan mereka untuk
                                > merapatkan shaf, memeriksa celah an shaf yang masih kosong serta segera
                                > memerintahkan agar menutupnya.
                                > HR.Al-Bukhari(717)dan Muslim(436/128)
                                > Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud(672)
                                > semoga bermanfaat
                                >
                                >
                                > Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                                > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                                >
                                > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                                > ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                                > atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak
                                > merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang
                                > tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang.
                                > insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan
                                > menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                                > untuknya. Amin.
                                >
                                > Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
                              • Bambang Widiatmoko
                                wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Udah pernah ada yg ngirim ke milis illustrasi shalat jamaah, search aja dengan keyword : Berikut ini ana attach
                                Message 15 of 17 , Nov 8, 2006
                                  wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
                                  Udah pernah ada yg ngirim ke milis illustrasi shalat jamaah, search aja
                                  dengan keyword : Berikut ini ana attach file PDF
                                  yg ngirim : dawahkit@...


                                  On 11/6/06, danang_cw <danang.cw@...> wrote:
                                  >
                                  > Assalaamu'alaikum wr. wb.
                                  > Ada yang bisa bantu dengan gambar?
                                  > ana butuh agar mudah dilihat orang.
                                  > jazakallohu khoir
                                  > wassalaamu'alaikum wr. wb.
                                  > abu Shofiyyah
                                • Ridwan Rusdiantoro
                                  Assalamu alaikum saya pernah membaca di kumpulan fatwa syaikh Utsaimin, kalau kita terlambat datang shalat dan mendapati shaf telah penuh dan tidak adanya lagi
                                  Message 16 of 17 , Nov 8, 2006
                                    Assalamu'alaikum

                                    saya pernah membaca di kumpulan fatwa syaikh Utsaimin, kalau kita terlambat datang shalat dan mendapati shaf telah penuh dan tidak adanya lagi "harapan" untuk bisa "nyelip" diantara shaf yang didepan, maka kita tunggu dulu adakah orang lain yang datang (misalnya teman masih wudhu). kalau memang yakin tidak akan ada yang datang, maka kita boleh shalat sendiri di belakang. tetapi, kalau ada teman yang akan datang (misalnya baru wudhu tadi), maka kita menunggu dan baru mengikuti jamaah setelah teman kita datang.

                                    Wallahu'alam


                                    Abdillah Majid <abdillah.abudzaky@...> wrote:
                                    Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang
                                    sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada
                                    perintah untuk memaksakan masuk shaf didepan atau menarik salah seorang di
                                    shaf depan untuk menemani kita di belakang.

                                    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
                                    Mo ikut kasih info sedikit....
                                    Untuk yang masalah antum sampaikan sudah ada dan dibahas dalam buku kecil 25
                                    Fatwa Syaikh Albani yang diterbitkan oleh optima Semarang. Di dalam buku itu
                                    dibahas oleh syaikh Albani dari pertanyaan yang mirip dengan yang antum
                                    tanyakan.
                                    Kurang lebih intinya.... Hadits yang digunakan untuk menarik orang lain yang
                                    didepan kebelakang dan bisa sejajar dengan kita tidak shahih ataupun hasan.
                                    Jadi tidak bisa dipakai... Adapun untuk merapatkan shaf dalam sholat harus
                                    dimaksimalkan dan jangan diremehkan karena bagian dari kesempurnaan shalat
                                    berjama'ah. Kalau misal kita telat dan berada di belakang sendirian
                                    sedangkan kita mampu untuk masuk diantara celah jama'ah (yang dalam kondisi
                                    sekarang ini jarak antar makmum bisa sampai 20 cm) maka kita terkena hadits
                                    shahih tentang keutamaan merapatkan shaf, tapi apabila memang kita tidak
                                    mampu untuk masuk ke dalam celah barisan, maka itulah kemampuan kita... dan
                                    Allah tidak membebani umatnya diluar batas kemampuannya. Tapi bukan berarti
                                    kita boleh menggunakan hadits yang tidak sah yang berkaitan dengan menarik
                                    seseorang ke shaf belakang.
                                    Demikian apa yang dapat saya fahami dari penjelasaan Syaikh Albani...
                                    wallahu'alam....
                                    Semoga bermanfaat...
                                    Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan saya Amin

                                    Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
                                    Abdillah Majid Abu Dzaky


                                    On 11/3/06, anang dwicahyo <dcanang@...> wrote:
                                    >
                                    > mohon penjelasan :
                                    >
                                    > Bilamana kalau kita yang terlambat, dan menempati shaf paling belakang
                                    > sendiri, apa yang harus dikerjakan ? karena saya pernah mendengar ada
                                    > perintah untuk memaksakan masuk shaf didepan atau menarik salah seorang di
                                    > shaf depan untuk menemani kita di belakang.
                                    >
                                    >
                                    > giyan giant <giyantp@...> wrote:
                                    > LARANGAN KERAS MENYELISIHI SHAF DALAM SHOLAT DAN MEMBIARKAN CELAH SERTA
                                    > TIDAK MENUTUPNYA
                                    >
                                    > Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud, ia berkata: Rasululloh biasanya
                                    > mengatur bahu-bahu kami ketika hendak sholat hendak sholat sambil brkata :
                                    > astawuu wala takhtalifuu fatah talifa quluu bukum liya niiminkum ulul ahla
                                    > mi wannaha tsammmalladzii na yaluu tahum tsummalladzii na yaluutahum.
                                    > artinya: Luruskanlah shaf dan janganlah berselisih hingga membuat hati
                                    > kalian saling berselisih, Hendaklah shaf pertama dibelakangku diisi oleh
                                    > orang-orang pintar dan berakal. Menyusul orang-orang yang dibawah mereka
                                    > kedudukannya mengisi shaf-shaf berikutnya.
                                    >
                                    > Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasululloh bersabda:
                                    > Rapatkanlah shaf kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah,
                                    > berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian (yang meluruskan
                                    > shaf), jangan biarkan ada celah, untuk syaithon-syaithon, barang siapa
                                    > menyambung shaf, niscaya ALLOH akan menyambungnya ,barang siapa memutus
                                    > shaf, niscaya ALLOH akan memutusnya.
                                    > Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata Rasululloh bersabda:
                                    > "Jangan sampai kedapatan olehku masih ada celah!yakni dalam sholat."
                                    >
                                    > Kandungan Bab:
                                    > 1. Haram hukumnya memutus shaf dan menyelisihinya di dalam sholat atau
                                    > membiarkan ada celah untuk syaithon dan tidak memutupnya
                                    > 2. Merapatkan shaf mendatangkan banyak sekali hikmah, diantaranya,
                                    > a.Menyerupai shaf-shaf Malaikat yang mulia sebagaimana mereka bershaf
                                    > dihadapan ALLOH. Dalam hadits Jabir bin Samurah ia berkata: Rasululloh
                                    > keluar menemui kami lalu berkata: "Maukah kalain bershaf seperti para
                                    > Malaikat bershaf dihadapan RABBNYA?" Kami berkata: Wahai Rasululloh
                                    > bagaimana para malaikat bershaf di hadapan Rabbnya? "Rasul bersabda: Mereka
                                    > menyempurnakan terlebih dahulu shaf pertama dan merapatkannya."
                                    > HR.Muslim(430)
                                    > b.Mempersempit jalan-jalan masuk bagi syaithon. Ssesungguhnya syaithon
                                    > masuk melalui celah dan tempat kosong (shaf).
                                    > c.Shaf yang baik, rapat dan lurus merupakan tanda kebaikan dan
                                    > kesempurnaan sholat. banyak sekali hadits yang menjelaskannya, diantaranya
                                    > hadits Anas, ia berkata: Rasululloh bersabda: "Rapatkanlah shaf kalian,
                                    > karena merapatkan shaf termasuk penegakan sholat"
                                    > HR, Al-Bukhari(723) dan Muslim(433)
                                    > 3. Merapatkan shaf disempurnakan dengan saling merapatkan bahu dan mata
                                    > kaki. Dalilnya adalah penerapan yang dilakukan oleh para Sahabat dibelakang
                                    > Rasululloh disebutkan dalam hadits Anas bin Malik "Setiap oang merapatkan
                                    > bahunya ke bahu orang yang disampingnya dan merapatkan kakinya dengan kaki
                                    > orang yang disampingnya."
                                    > HR.Al-Bukhari(725)
                                    > 4. Seorang imam seharusnya merapatkan shaf dengan perkataan maupun
                                    > perbuatannya sehingga para makmum dapat memahaminya. Dalam hadits an Nu'man
                                    > bin Basyir disebutkan bahwa Rasululloh merapatkan shaf kami seolah beliau
                                    > merapatkan batang anak panah. Sehingga aku saksikan sendiri kami telah
                                    > memahami intruksi beliau. Pada suatu hari beliau keluar untuk sholat dan
                                    > hampir saja bertakbir. Beliau melihat seorang makmum tubuhnya agak menjulur
                                    > ke depan shaf. Beliau berkata: "Hai hamba-hamba ALLOH luruskanlah shaf
                                    > kalian atau ALLOH akan membuat wajah-wajah kalian berselisih."
                                    > Yaitu dengan mengatur posisi makmum dan memerintahkan mereka untuk
                                    > merapatkan shaf, memeriksa celah an shaf yang masih kosong serta segera
                                    > memerintahkan agar menutupnya.
                                    > HR.Al-Bukhari(717)dan Muslim(436/128)
                                    > Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud(672)
                                    > semoga bermanfaat
                                    >
                                    >
                                    > Bintang Rehari <bintang2k@...> wrote:
                                    > Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarokatuh,
                                    >
                                    > Ana mohon bantuannya tentang hadist-hadist Shahih tentang merapatkan shaf2
                                    > ketika shalat berjamaah. soalnya di masjid deket rumah ana, ada beberapa
                                    > atau bahkan mayoritas jemaah shalat berjamaah berusaha "matian2" untuk tidak
                                    > merapatkan shaf. bahkan ada yang ketika ana berusaha rapatkan shaf, orang
                                    > tersebut rela untuk pindah shaf/shaf baru atau shalat sendirian di belakang.
                                    > insya Allah, kalau ada diantara ikhwan yang mau bantu ana, ana mau print dan
                                    > menjelaskan baik2 kepada orang tersebut. semoga hidayah Allah selalu terbuka
                                    > untuknya. Amin.
                                    >
                                    > Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



                                    ---------------------------------
                                    Sponsored Link

                                    Try Netflix today! With plans starting at only $5.99 a month what are you waiting for?
                                  Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.