Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [assunnah-qatar] Re: KPR Syariah pun Bisa Menjadi Bermasalah Secara Syariah

Expand Messages
  • Sunnah Qatar
    Bisa dicek di sini Akh...
    Message 1 of 4 , Feb 20, 2012
    • 0 Attachment
      Bisa dicek di sini Akh... www.alquran-sunnah.com

      @ Pak Mudji Jazaakallohukhoir

      Barokallohufiikum...

      On Tue, Feb 21, 2012 at 7:25 AM, Waryanto Abu Zulfa <aboezoelfa@...> wrote:
       

      Jazakallahu khair, Pak Muji...pengen sekali bisa ngundang ustadz ke qatar, salam untuk pak deddy. Barakallahufikum

      Saran bisakah diupload dihosting lain(selain 4share) yang ga perlu register..?

      --- In assunnah-qatar@yahoogroups.com, Mudji Basuki <mudji.basuki@...> wrote:
      >
      > ÇáÓáÇã Úáíßã æÑÍãÉ Çááå æÈÑßÇÊå


      >
      > Kajian Dr. Muhammad Arifin Badri mengenai ekonomi syariah dan cara2
      > mendeteksi RiBA di Muscat,Oman bisa di download pada link berikut:
      >
      > http://catatanmelura.wordpress.com/download/
      >
      > Salam
      > Mudji
      >
      > On 2/14/12, waryanto <aboezoelfa@...> wrote:
      > > KPR Syariah pun Bisa Menjadi Bermasalah Secara Syariah
      > >
      > >
      > > Oleh. Dr. Muhammad Arifin Badri
      > > KPR Syariah bisa bermasalah
      > > KPR syariah yang dipercaya sebagai solusi teraman mewujudkan
      > > rumah idaman ternyata juga menyimpan masalah besar. Label syariah pada
      > > hakekatnya tidak lebih pemaksaan istilah. Siapa pun yang bersedia
      > > memahami akan menyimpulkan: tak ada beda KPR bank syariah dengan KPR
      > > bank konvensional.
      > > Memiliki rumah megah, atau mobil mewah, adalah impian setiap orang.
      > > Termasuk Anda. Bukankah demikian? Pertanyan besar yang mungkin selama
      > > ini menyelimuti benak Anda ialah dengan apa Anda bisa mewujudkan impian
      > > indah itu? Semakin Anda memikirkannya, impian itu semakin pudar. Tak
      > > ayal lagi, Anda jadi putus asa. Bagi banyak orang, untuk mewujudkan
      > > hunian keluarga ekstra instan, saat ini hanya tersisa satu pintu sempit.
      > > Yakni menggunakan fasilitas kredit yang ditawarkan oleh berbagai
      > > lembaga keuangan, termasuk perbankan. Hampir telah menjadi paten bagi
      > > banyak kalangan, bila ingin menikmati indahnya rumah idaman atau mobil
      > > mewah, harus rela menjadi nasabah bank. Benarkah membeli rumah atau
      > > mobil idaman
      > > hanya bisa dilakukan dengan utang jangka panjang dari bank?
      > > BEDANYA JELAS, JELAS BERBEDA
      > > Pembaca yang budiman, sebelum terlalu jauh berbicara hukum
      > > menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan atau
      > > lembaga keuangan lain, saya perkenankan Anda untuk ada baiknya
      > > merenungkan perbandingan yang disajikan dalam tabel berikut.
      > > Bedanya jelas, dan jelas-jelas berbeda, kan? Kini tibalah Anda untuk
      > > memikirkannya dari sudut syariat.
      > > KPR DITINJAU DARI SYARIAT
      > > Penyaluran KPR biasanya melibatkan tiga pihak. Yakni Anda sebagai nasabah,
      > > pengembang perumahan (developer) dan bank atau lembaga keuangan/pembiayaan.
      > > Setelah melalui proses administrasi, biasanya Anda diwajibkan membayar uang
      > > muka (down payment/DP) sebesar 20 persen dari harga jual. Setelah
      > > mendapatkan bukti pembayaran DP, bank akan melunasi sisa pembayaran rumah
      > > sebesar 80 persen. Tahapan selanjutnya, sudah dapat ditebak: Anda menjadi
      > > nasabah (debitur) bank
      > > penyalur KPR.
      > > Sekilas, pada akad kredit tersebut Anda tidak menemukan hal yang
      > > perlu dipersoalkan. Terlebih berbagai lembaga keuangan syariah mengklaim
      > > bahwa mereka berserikat dengan Anda dalam pembelian rumah. Anda membeli 20
      > > persen dari rumah itu. Sedangkan lembaga keuangan syariah membeli
      > > sisanya, yaitu 80 persen. Dan pada saatnya nanti, lembaga keuangan
      > > menjual kembali bagiannya yang 80 persen itu kepada Anda. Namun bila
      > > Anda cermati lebih jauh, niscaya Anda akan menemukan berbagai
      > > kejanggalan secara hukum syariat. Tiga hal berikut layak dipersoalkan
      > > secara hukum syariat.
      > > 1. Adanya DP (Down Payment, Uang Muka)
      > > Pembaca yang budiman, sejujurnya ketika Anda membayar DP—biasanya 20
      > > persen dari harga jual rumah—kepada pengembang, apa niat Anda? Apakah
      > > uang sebesar itu merupakan uang muka ataukah penyertaan modal Anda untuk
      > > membeli rumah? Saya yakin, semua orang, termasuk lembaga keuangan
      > > terkait, menyadari bahwa uang Anda yang 20 persen itu adalah uang muka,
      > > dan bukan penyertaan modal. Jika realitanya demikian, sejatinya Anda
      > > selaku nasabah telah membeli rumah secara utuh. Artinya, secara syariat,
      > > dengan membayar DP, berarti pembeli (nasabah) telah dianggap memiliki
      > > rumah yang dia beli. Kesimpulan ini didasari pada ketentuan hukum
      > > jual-beli dalam syariat. Bahwa barang yang telah dijual secara sah
      > > menjadi milik pembeli, terlepas dari lunas atau tidaknya pembayaran.
      > > Karena dalam aturan jual-beli secara kredit, barang resmi menjadi milik
      > > pembeli, meskipun belum lunas. Dengan demikian, kehadiran dan
      > > keterlibatan lembaga pembiayaan Kendaraan bermotor maupun rumah layak
      > > dipersoalkan
      > > Dari fenomena KPR, Anda dapat pastikan bahwa peran lembaga keuangan
      > > tersebut hanya sebatas membiayai alias mengutangi. Karena bank secara
      > > aturan perundangan tidak diperkenankan melakukan kegiatan bisnis riil,
      > > termasuk membeli rumah.
      > > Di saat yang sama, Anda juga dapat menyoal keberadaan DP dari sisi
      > > lain. Mengapa lembaga keuangan senantiasa mempersyaratkan adanya DP?
      > > Bukankah akan lebih baik dan benar-benar membantu masyarakat bila
      > > lembaga keuangan menangung seluruh dana pembelian rumah, dan selanjutnya
      > > dikreditkan di masyarakat?
      > > 2. Nasabah Membayar Lebih
      > > Selain peran lembaga keuangan yang hanya sebatas membiayai atau
      > > mengutangi, ternyata pada prakteknya, lembaga keuangan tersebut memungut
      > > keuntungan dari nasabah KPR. Tidak diragukan, keutungan ini haram
      > > karena riba. Haramnya keuntungan yang dipersyaratkan dalam akad
      > > utangpiutang adalah konsensus ulama, dan telah dituangkan dalam kaidah
      > > ilmu fiqih berikut:
      > > "Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba"
      > > (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)
      > >
      > > 3. Akad Penjualannya Hanya Sekali
      > > Klaim bahwa lembaga keuangan dalam KPR melakukan penyertaan modal
      > > dalam pembelian rumah, nampaknya tidak sesuai fakta. Buktinya, Anda
      > > tidak pernah membeli bagian mereka yang 80 persen. Kalaupun lembaga
      > > keuangan bersikukuh telah melakukan penyertaan modal dan kemudian
      > > menjualnya kembali kepada Anda, itu pun tetap menyisakan masalah besar.
      > > Bila pun klaim lembaga keuangan benar, berarti mereka telah menjual
      > > barang sebelum sepenuhnya mereka terima, dan itu terlarang secara
      > > syariat.
      > > Dari sahabat Ibnu Abbas Radliallahu `anhu, beliau menuturkan,
      > > Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang
      > > membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali
      > > hingga ia selesai melakukan serah terima barang tersebut."Ibnu Abbas
      > > berkata: "Saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan
      > > makanan." (Muttafaqun alaih)
      > > Thawus mempertanyakan sebab larangan ini kepada sahabat Ibnu Abbas
      > > Radliallahu `anhu: "Saya bertanya kepada Ibnu Abbas: Bagaimana kok demikian?
      > > Ibnu Abbas menjawab: "Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual
      > > dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda."
      > > (Muttafaqun`Alaih)
      > > MENABUNGLAH DAN BERDOA
      > > KPR yang menurut banyak orang solusi untuk mewujudkan rumah impian,
      > > ternyata menyimpan masalah status kehalalannya. Telah demikian jelas,
      > > menabung itu solusi untuk mewujudkan rumah idaman. Lebih bagus lagi bila
      > > Anda mencari pemodal yang sudi mengkreditkan rumah secara langsung
      > > kepada Anda, tanpa campur tangan pihak ketiga. Dan tidak kalah penting,
      > > memohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati. Percayalah, dengan usaha
      > > halal, diiringi doa yang tulus, rumah idaman Anda akan terwujud.
      > > Wallahu a'alam bisshawab
      > > sumber: Majalah Pengusaha Muslim, Edisi 24 (Februari 2012)
      >


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.