Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [artikel-hukum] Bgmana mentality De

Expand Messages
  • pilipus_lawyer@yahoo.co.id
    Powered by Telkomsel BlackBerry® ... From: Dedi Afriadi Sender: artikel-hukum@yahoogroups.com Date: Sun, 27 Jun 2010 21:10:52 To:
    Message 1 of 8 , Jun 29, 2010
    • 0 Attachment

      Powered by Telkomsel BlackBerry®


      From: Dedi Afriadi <afriadi2002@...>
      Sender: artikel-hukum@yahoogroups.com
      Date: Sun, 27 Jun 2010 21:10:52 -0700 (PDT)
      To: <artikel-hukum@yahoogroups.com>
      ReplyTo: artikel-hukum@yahoogroups.com
      Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

       

      Assalamu`alaikum
      Insya Allah sdr Arsyad saya akan komitmen dan konsisten dengan apa yang saya perjuangkan. Perbedaan rakyat negara maju dengan rakyat negara mundur adalah sikap kritik karena mereka tahu akan hak-hak mereka kepada pemerintah. Ini tentunya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan masyarakatnya yang tinggi...
      Selama ini pemerintah RI hanya menuntut haknya tapi tidak tahu menunaikan kewajiban. Diwaktu macet susah sekali kita menemui polisi lalu lintas yang mengatur jalan. tetapi disaat rakyat salah langsung dihukum tilang. Disaat lambat membayar PLN akan diputus, tetapi disaat PLN mati2 hidup yang membuat rakyat rugi banyak dengan rusaknya alat2 elektronik dll. PLN tidak mau tahu atas semua itu..
      Kalau ada waktu main2lah ke Blog saya:   http://adi-rawi. blogspot. com/

      Terima Kasih


      From: Arsyad Gaffar <magafar_lawyer@ yahoo.co. id>
      To: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Sent: Sun, June 27, 2010 1:34:13 PM
      Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

       

      Kita mau lihat,  pak Dedy ini "kalau masih  orang Indonesia", kalau kiranya menjadi Pejabat di Indonesia, apakah masih "seindah cita-citanya" ? Atau bahkan sama dengan orang-orang yang selama ini dikritiknya?

      --- Pada Rab, 23/6/10, meyin <pinqpiggy@yahoo. com> menulis:

      Dari: meyin <pinqpiggy@yahoo. com>
      Judul: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya
      Kepada: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Tanggal: Rabu, 23 Juni, 2010, 2:14 AM

       

      Mungkin sebaiknya menggunakan kata "kebanyakan" atau "beberapa" barangkali yah pak?

      Saya jg pernah mengalami bentrok dgn aparat polantas..memang posisi saya salah dan saya mengakui kesalahan tersebut, namun bukan slip biru yang beliau berikan akhirnya saya minta beliau jelaskan apa dasar hukumnya? Beliau malah marah dan mengata2i saya tdk lulus SD, saya blg kpd beliau bahwa beliau adl penegak hukum seharusnya dpt berkata bijak.

      Jengkel setengah mati saat itu apalagi saya perempuan, lucu sekali beliau kesal dg pertanyaan saya sampai menggebrak meja dan berdiri smbil menunjuk2 muka saya, ckckckckckck

      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !


      From: jamal_effendy@ yahoo.com
      Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Date: Tue, 22 Jun 2010 06:09:17 +0000
      To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
      ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

       

      Dear Pak Afriadi,

      Singkat aja Pak, masyarakat juga harus ngerti hukum.

      Syukur alhamdulillah seumur2 saya tdk pernah dibodohi polisi malah sering sharing pendapat dg polisi baik dijalanan maupun dalam forum.

      Saya bukan bela polisi tetapi polisi dibbrp daerah sudah mulai bagus koq dan tidak semuanya seperti yang ada dalam tulisan Bapak.

      Saya sangat tertarik dengan apa yang Bapak tulis dan itu memang kenyataan yg ada dilapangan tapi jangan menggeneralisasi.

      Regards,

      Jamal Effendy

      Powered by Telkomsel BlackBerry®


      From: Dedi Afriadi <afriadi2002@ yahoo.com>
      Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Date: Mon, 14 Jun 2010 22:39:08 -0700 (PDT)
      To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
      ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
      Subject: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

       

      Polisi Lalu Lintas

      Suka mangkir dipersimpangan dan tempat-tempat yang rawan pelanggaran lalu lintas…

      Suka menangkap dan membodohi rakyat dengan menahan SIM mereka, terutama yang tinggal jauh dari kota itu…

      Suka menakut-nakuti rakyat dengan mengatakan bahwa pengadilan lalu lintas seperti pengadilan pidana… ah yang benar aja…

      Suka meminta uang sogokan agar SIM dikembalikan dan tidak ditilang…

      Nampak sibuk dan mencari muka disaat ada kunjungan petinggi dan pejabat negara…

      Polisi Lalu Lintas Lupa…

      Bahwa yang mereka bodohi adalah rakyat yang membayar gaji mereka setiap bulannya…

      Yang mereka takut-takuti itu adalah rakyat yang tidak sekolah seperti sebagian keluarga mereka…

      Yang mereka minta uang sogokan itu adalah para buruh kasar, gaji rendah dan orang miskin serta berpendapatan rendah lainnya…

      Uang sogokan yang mereka minta melebihi gaji sopir rakyat miskin per hari dan uang itu seharusnya untuk makan anak bini sopir yang pastinya rakyat yang miskin…

      Uang yang mereka makan hasil sogokan adalah haram hukumnya dan tidak akan mendapat keberkatan dunia akhirat…

      Uang sogokan yang mereka makan lalu menjadi darah daging untuk diri, istri, anak-anak dan keluarganya akan menjadi bahan bakar api neraka di akhirat nanti...

      Uang sogokan yang mereka terima telah disumpah serapah oleh mereka yang terpaksa memberi sogokan dengan kata-kata haram kamu makan!.., seperti memakan anjing dan babi!.. dan berbagai kata kasar lainnya…

      Dimanakah Polisi Lalu Lintas…

      Jarang sekali kita temui Polisi lalu lintas disaat berlakunya kemacetan dimana polisi bekerja keras untuk mengatasi kemacetan tersebut…

      Lambat sekali datangnya polisi disaat berlaku perampokan, pencurian dan berbagai kriminal lainnya…

      Jarang sekali kita temui polisi ditempat-tempat rawan kejahatan seperti ditempat hiburan, pelacuran, keramaian dan sebagainya…

      Pertanyaannya…

      Perlukah Polisi lalu lintas jumlahnya di banyakkan sementara berbagai macam tindak pidana dan kejahatan lainnya terus meningkat di negara ini…

      Pernahkan polisi menangkap pencopet yang setiap hari ada di dalam bus kota, angkot, pasar raya dan tempat keramaian lainnya…

      Pernahkah polisi menangkap pencuri yang setiap hari meresahkan rakyat yang membayar pajak untuk membayar gaji polisi…

      Bukankah selama ini media memberitakan hanya masyarakatlah yang menangkap pencopet dan pencuri lalu diserahkan kepada polisi setelah pencopetnya tidak berdaya…

      lalu dimana peranan polisi yang setiap bulan menerima gaji dari uang rakyat…

      lalu dimana semboyan polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat…

      Bukankah ada baiknya kalau jumlah polisi dibanyakkan yang bekerja dibidang pidana saja…

      Agar rakyat tidak sia-sia membayar gaji mereka…

      Agar rakyat merasa dilayani dan dilindungi bukan dizalimi dan di aniaya…

      Agar rakyat dapat membedakan mana preman pasar yang suka memeras dan mana polisi yang seharusnya melindungi masyarakat…

      Agar rakyat dapat membedakan antara gengstar yang suka minta uang keamanan dengan polisi yang seharusnya menjaga keamanan…

      Agar masyarakat mau menjenguknya disaat mereka sakit nanti…

      agar masyarakat mau menyolatkannya disaat mereka mati…

      Semoga…

      Alangkah lebih baik kalau kebanyakan polisi bekerja untuk mengintip para pencopet di bus kota dan angkutan kota lainnya…

      Alangkah baiknya kalau kebanyakan polisi bekerja mengintip dan menangkap penjahat di tempat keramaian dan berbagai tindak pidana lainnya…

      Alangkah baiknya kalau polisi menangkap para pengedar dan pemakai narkoba yang kian hari bertambah jumlahnya…

      Alangkah lebih baik kalau polisi merazia tempat-tempat pelacuran, perjudian, tempat minuman keras karena semua itu adalah akar segala kemaksiatan dan tindak pidana…

      Semoga masih ada Polisi Lalu Lintas yang bekerja dengan niat ikhlas untuk melancarkan lalu lintas…

      Semoga masih ada polisi lalu lintas yang tidak mau menerima uang haram sogokan untuk kepentingannya…

      Semoga masih ada polisi lalu lintas yang suka mengayomi dan menolong bukan malah menelan rakyat…

      Semoga masih ada polisi yang mengembalikan uang tilang hanya kepada negara, bukan untuk kepentingan pribadinya yang sudah memiliki gaji setiap bulan untuk melakukan pekerjaan itu…

      Solusinya…

      Tambahlah pendidikan, kursus dan pelatihan untuk polisi lalu lintas sehingga tidak dimonopoli oleh ABG yang baru tamat sekolah menengah saja…

      Kurangi jumlah polisi lalu lintas, alihkan mereka kepada polisi yang bertugas untuk menangkap pencopet, pencuri dan pelaku pidana lainnya…

      Rakyat sebaiknya di ajar dan dididik agar mengetahui dan menyadari akan hak-hak mereka ketika diminta uang sogokan oleh polisi lalu lintas seperti bagaimana, kemana dan dengan siapa mereka harus mengadu penyimpangan dan penyelewengan itu…

      Di baju polisi harus ada tertulis nama dan logo AKU ANTI KORUPSI agar kejahatan itu bisa dikurangi…

      Agar polisi menjadi rakan, sahabat yang disukai rakyat…

      Agar polisi tidak dibenci dan dimaki serta dimusuhi rakyat yang membayar gaji mereka…

      Agar polisi juga bisa menikmati kehidupan di dunia dan di akhirat yang abadi nanti…

      Agar rakyat merasa bahwa keberadaan polisi lebih baik dari ketiadaannya dan bukan sebaliknya..

      KL, 28/05/2010

      Afriadi Sanusi




    • cc_mulyana@yahoo.com
      Ass wr wb Ysh mas dedi - saya turut prihatin jika anda pernah tidak enak berurusan dengan polantas. Tetapi untuk hal lain saya mohon maaf lebih dulu jika
      Message 2 of 8 , Jun 30, 2010
      • 0 Attachment
        Ass wr wb
        Ysh mas dedi - saya turut prihatin jika anda pernah tidak enak berurusan dengan polantas. Tetapi untuk hal lain saya mohon maaf lebih dulu jika pendapat saya kurang berkenan.
        Saya kira budaya kita belum mengarah pada budaya kepatuhan (culture of compliance)buktinya jangankan jalanan macet sedang normal pun banyak pengendara kita yang berani nerobos lampu merah atau tidak mau kalah. Lalu kalo macet total maka kita menjadi kesal dan kita maki ini semua gara-gara polisi. Lho yang bikin macet kita kok yang disalahin polisi.
        Demikian juga untuk masalah lain seperti banjir sering kali kita menyalahkan pemerintah ketimbang introspeksi kepada perilaku rakyat kita mulai dari yang miskin sampe yang kaya dan dari yang termiskin sampe terkaya kan senangnya buang sampah ke got bukan ke tempat sampah yg tersedia.
        Jadi sependek pengetahuan saya mari kita bangun budaya kepatuhan - patuh terhadap hukum bukan karena takut sama penegak hukum tapi patuh kepada hukum karena kita butuh kepatuhan itulah yang akan membawa kita kepada martabat sebagai manusia. Insyaalloh sebagai bangsa kalau kita mau pasti bisa ya bisa dong. Wallahualam.
        Wassalam
        Mulyana

        Sent from my BlackBerry®
        powered by Sinyal Kuat INDOSAT


        From: Dedi Afriadi <afriadi2002@...>
        Sender: artikel-hukum@yahoogroups.com
        Date: Sun, 27 Jun 2010 21:10:52 -0700 (PDT)
        To: <artikel-hukum@yahoogroups.com>
        ReplyTo: artikel-hukum@yahoogroups.com
        Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

         

        Assalamu`alaikum
        Insya Allah sdr Arsyad saya akan komitmen dan konsisten dengan apa yang saya perjuangkan. Perbedaan rakyat negara maju dengan rakyat negara mundur adalah sikap kritik karena mereka tahu akan hak-hak mereka kepada pemerintah. Ini tentunya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan masyarakatnya yang tinggi...
        Selama ini pemerintah RI hanya menuntut haknya tapi tidak tahu menunaikan kewajiban. Diwaktu macet susah sekali kita menemui polisi lalu lintas yang mengatur jalan. tetapi disaat rakyat salah langsung dihukum tilang. Disaat lambat membayar PLN akan diputus, tetapi disaat PLN mati2 hidup yang membuat rakyat rugi banyak dengan rusaknya alat2 elektronik dll. PLN tidak mau tahu atas semua itu..
        Kalau ada waktu main2lah ke Blog saya:   http://adi-rawi. blogspot. com/

        Terima Kasih


        From: Arsyad Gaffar <magafar_lawyer@ yahoo.co. id>
        To: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Sent: Sun, June 27, 2010 1:34:13 PM
        Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

         

        Kita mau lihat,  pak Dedy ini "kalau masih  orang Indonesia", kalau kiranya menjadi Pejabat di Indonesia, apakah masih "seindah cita-citanya" ? Atau bahkan sama dengan orang-orang yang selama ini dikritiknya?

        --- Pada Rab, 23/6/10, meyin <pinqpiggy@yahoo. com> menulis:

        Dari: meyin <pinqpiggy@yahoo. com>
        Judul: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya
        Kepada: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Tanggal: Rabu, 23 Juni, 2010, 2:14 AM

         

        Mungkin sebaiknya menggunakan kata "kebanyakan" atau "beberapa" barangkali yah pak?

        Saya jg pernah mengalami bentrok dgn aparat polantas..memang posisi saya salah dan saya mengakui kesalahan tersebut, namun bukan slip biru yang beliau berikan akhirnya saya minta beliau jelaskan apa dasar hukumnya? Beliau malah marah dan mengata2i saya tdk lulus SD, saya blg kpd beliau bahwa beliau adl penegak hukum seharusnya dpt berkata bijak.

        Jengkel setengah mati saat itu apalagi saya perempuan, lucu sekali beliau kesal dg pertanyaan saya sampai menggebrak meja dan berdiri smbil menunjuk2 muka saya, ckckckckckck

        Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !


        From: jamal_effendy@ yahoo.com
        Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Date: Tue, 22 Jun 2010 06:09:17 +0000
        To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
        ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

         

        Dear Pak Afriadi,

        Singkat aja Pak, masyarakat juga harus ngerti hukum.

        Syukur alhamdulillah seumur2 saya tdk pernah dibodohi polisi malah sering sharing pendapat dg polisi baik dijalanan maupun dalam forum.

        Saya bukan bela polisi tetapi polisi dibbrp daerah sudah mulai bagus koq dan tidak semuanya seperti yang ada dalam tulisan Bapak.

        Saya sangat tertarik dengan apa yang Bapak tulis dan itu memang kenyataan yg ada dilapangan tapi jangan menggeneralisasi.

        Regards,

        Jamal Effendy

        Powered by Telkomsel BlackBerry®


        From: Dedi Afriadi <afriadi2002@ yahoo.com>
        Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Date: Mon, 14 Jun 2010 22:39:08 -0700 (PDT)
        To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
        ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
        Subject: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

         

        Polisi Lalu Lintas

        Suka mangkir dipersimpangan dan tempat-tempat yang rawan pelanggaran lalu lintas…

        Suka menangkap dan membodohi rakyat dengan menahan SIM mereka, terutama yang tinggal jauh dari kota itu…

        Suka menakut-nakuti rakyat dengan mengatakan bahwa pengadilan lalu lintas seperti pengadilan pidana… ah yang benar aja…

        Suka meminta uang sogokan agar SIM dikembalikan dan tidak ditilang…

        Nampak sibuk dan mencari muka disaat ada kunjungan petinggi dan pejabat negara…

        Polisi Lalu Lintas Lupa…

        Bahwa yang mereka bodohi adalah rakyat yang membayar gaji mereka setiap bulannya…

        Yang mereka takut-takuti itu adalah rakyat yang tidak sekolah seperti sebagian keluarga mereka…

        Yang mereka minta uang sogokan itu adalah para buruh kasar, gaji rendah dan orang miskin serta berpendapatan rendah lainnya…

        Uang sogokan yang mereka minta melebihi gaji sopir rakyat miskin per hari dan uang itu seharusnya untuk makan anak bini sopir yang pastinya rakyat yang miskin…

        Uang yang mereka makan hasil sogokan adalah haram hukumnya dan tidak akan mendapat keberkatan dunia akhirat…

        Uang sogokan yang mereka makan lalu menjadi darah daging untuk diri, istri, anak-anak dan keluarganya akan menjadi bahan bakar api neraka di akhirat nanti...

        Uang sogokan yang mereka terima telah disumpah serapah oleh mereka yang terpaksa memberi sogokan dengan kata-kata haram kamu makan!.., seperti memakan anjing dan babi!.. dan berbagai kata kasar lainnya…

        Dimanakah Polisi Lalu Lintas…

        Jarang sekali kita temui Polisi lalu lintas disaat berlakunya kemacetan dimana polisi bekerja keras untuk mengatasi kemacetan tersebut…

        Lambat sekali datangnya polisi disaat berlaku perampokan, pencurian dan berbagai kriminal lainnya…

        Jarang sekali kita temui polisi ditempat-tempat rawan kejahatan seperti ditempat hiburan, pelacuran, keramaian dan sebagainya…

        Pertanyaannya…

        Perlukah Polisi lalu lintas jumlahnya di banyakkan sementara berbagai macam tindak pidana dan kejahatan lainnya terus meningkat di negara ini…

        Pernahkan polisi menangkap pencopet yang setiap hari ada di dalam bus kota, angkot, pasar raya dan tempat keramaian lainnya…

        Pernahkah polisi menangkap pencuri yang setiap hari meresahkan rakyat yang membayar pajak untuk membayar gaji polisi…

        Bukankah selama ini media memberitakan hanya masyarakatlah yang menangkap pencopet dan pencuri lalu diserahkan kepada polisi setelah pencopetnya tidak berdaya…

        lalu dimana peranan polisi yang setiap bulan menerima gaji dari uang rakyat…

        lalu dimana semboyan polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat…

        Bukankah ada baiknya kalau jumlah polisi dibanyakkan yang bekerja dibidang pidana saja…

        Agar rakyat tidak sia-sia membayar gaji mereka…

        Agar rakyat merasa dilayani dan dilindungi bukan dizalimi dan di aniaya…

        Agar rakyat dapat membedakan mana preman pasar yang suka memeras dan mana polisi yang seharusnya melindungi masyarakat…

        Agar rakyat dapat membedakan antara gengstar yang suka minta uang keamanan dengan polisi yang seharusnya menjaga keamanan…

        Agar masyarakat mau menjenguknya disaat mereka sakit nanti…

        agar masyarakat mau menyolatkannya disaat mereka mati…

        Semoga…

        Alangkah lebih baik kalau kebanyakan polisi bekerja untuk mengintip para pencopet di bus kota dan angkutan kota lainnya…

        Alangkah baiknya kalau kebanyakan polisi bekerja mengintip dan menangkap penjahat di tempat keramaian dan berbagai tindak pidana lainnya…

        Alangkah baiknya kalau polisi menangkap para pengedar dan pemakai narkoba yang kian hari bertambah jumlahnya…

        Alangkah lebih baik kalau polisi merazia tempat-tempat pelacuran, perjudian, tempat minuman keras karena semua itu adalah akar segala kemaksiatan dan tindak pidana…

        Semoga masih ada Polisi Lalu Lintas yang bekerja dengan niat ikhlas untuk melancarkan lalu lintas…

        Semoga masih ada polisi lalu lintas yang tidak mau menerima uang haram sogokan untuk kepentingannya…

        Semoga masih ada polisi lalu lintas yang suka mengayomi dan menolong bukan malah menelan rakyat…

        Semoga masih ada polisi yang mengembalikan uang tilang hanya kepada negara, bukan untuk kepentingan pribadinya yang sudah memiliki gaji setiap bulan untuk melakukan pekerjaan itu…

        Solusinya…

        Tambahlah pendidikan, kursus dan pelatihan untuk polisi lalu lintas sehingga tidak dimonopoli oleh ABG yang baru tamat sekolah menengah saja…

        Kurangi jumlah polisi lalu lintas, alihkan mereka kepada polisi yang bertugas untuk menangkap pencopet, pencuri dan pelaku pidana lainnya…

        Rakyat sebaiknya di ajar dan dididik agar mengetahui dan menyadari akan hak-hak mereka ketika diminta uang sogokan oleh polisi lalu lintas seperti bagaimana, kemana dan dengan siapa mereka harus mengadu penyimpangan dan penyelewengan itu…

        Di baju polisi harus ada tertulis nama dan logo AKU ANTI KORUPSI agar kejahatan itu bisa dikurangi…

        Agar polisi menjadi rakan, sahabat yang disukai rakyat…

        Agar polisi tidak dibenci dan dimaki serta dimusuhi rakyat yang membayar gaji mereka…

        Agar polisi juga bisa menikmati kehidupan di dunia dan di akhirat yang abadi nanti…

        Agar rakyat merasa bahwa keberadaan polisi lebih baik dari ketiadaannya dan bukan sebaliknya..

        KL, 28/05/2010

        Afriadi Sanusi




      • Dedi Afriadi
        assalamualaikum Terima kasih tanggapannya.. Saya kuliah S3 DI Malaysia, saya lihat masyarakat kita sangat berbeda dengan Malaysia. Coba bedakan pelayanan masuk
        Message 3 of 8 , Jul 1, 2010
        • 0 Attachment
          assalamualaikum
          Terima kasih tanggapannya.. Saya kuliah S3 DI Malaysia, saya lihat masyarakat kita sangat berbeda dengan Malaysia. Coba bedakan pelayanan masuk perpustakaan UI dgn masuk perpustakaan UM, coba bedakan publik service Malaysia dgn RI.. sangat berbeda sekali.. (Kalau USA, Jepang & negara maju lainnya pasti lebih baik lagi tentunya)
          PNS Malaysia menganggap, mereka digaji karena mereka bekerja dengan baik dan benar
          PNS RI menganggap mereka digaji krn mereka PNS.. (mereka digaji krn PNS nya bukan krn kerjanya) sangat berbeda sekali hasilnya. Lihat;

          http://adi-rawi.blogspot.com/2008/08/kesadaran-politik-rakyat-indonesia-dan.html

          Kelebihan Mereka adalah;
          1. Rakyat yang kritis dan tahu hak-hak mereka terhadap pemerintah yg tentu saja dipengaruhi oleh tingkat pendidikan mereka yg rata2 S1
          2. Adanya partai oposisi kuat yg setiap waktu bisa dan mampu mengambil alih pemerintahan. (Disaat sy bawa org Malaysia jalan2 ke RI dan melihat anak jalanan, pengemis dll. mereka mengatakan "dimana pemerintah kalian?? untuk apa kalian memilih dalam pemilu kalau saja ada dgn tdk adanya pemerintah sama saja.."
          3. Sistem Pemerintah Federal. tanda tangan presiden tidak laku utk menebang hutan & menguras kekayaan alam daerah di negara bagian krn itu wewenang negara bagian.

          Terima Kasih




          From: "cc_mulyana@..." <cc_mulyana@...>
          To: artikel-hukum@yahoogroups.com
          Sent: Wed, June 30, 2010 10:03:36 PM
          Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

           

          Ass wr wb
          Ysh mas dedi - saya turut prihatin jika anda pernah tidak enak berurusan dengan polantas. Tetapi untuk hal lain saya mohon maaf lebih dulu jika pendapat saya kurang berkenan.
          Saya kira budaya kita belum mengarah pada budaya kepatuhan (culture of compliance)buktinya jangankan jalanan macet sedang normal pun banyak pengendara kita yang berani nerobos lampu merah atau tidak mau kalah. Lalu kalo macet total maka kita menjadi kesal dan kita maki ini semua gara-gara polisi. Lho yang bikin macet kita kok yang disalahin polisi.
          Demikian juga untuk masalah lain seperti banjir sering kali kita menyalahkan pemerintah ketimbang introspeksi kepada perilaku rakyat kita mulai dari yang miskin sampe yang kaya dan dari yang termiskin sampe terkaya kan senangnya buang sampah ke got bukan ke tempat sampah yg tersedia.
          Jadi sependek pengetahuan saya mari kita bangun budaya kepatuhan - patuh terhadap hukum bukan karena takut sama penegak hukum tapi patuh kepada hukum karena kita butuh kepatuhan itulah yang akan membawa kita kepada martabat sebagai manusia. Insyaalloh sebagai bangsa kalau kita mau pasti bisa ya bisa dong. Wallahualam.
          Wassalam
          Mulyana

          Sent from my BlackBerry®
          powered by Sinyal Kuat INDOSAT


          From: Dedi Afriadi <afriadi2002@ yahoo.com>
          Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Date: Sun, 27 Jun 2010 21:10:52 -0700 (PDT)
          To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
          ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

           

          Assalamu`alaikum
          Insya Allah sdr Arsyad saya akan komitmen dan konsisten dengan apa yang saya perjuangkan. Perbedaan rakyat negara maju dengan rakyat negara mundur adalah sikap kritik karena mereka tahu akan hak-hak mereka kepada pemerintah. Ini tentunya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan masyarakatnya yang tinggi...
          Selama ini pemerintah RI hanya menuntut haknya tapi tidak tahu menunaikan kewajiban. Diwaktu macet susah sekali kita menemui polisi lalu lintas yang mengatur jalan. tetapi disaat rakyat salah langsung dihukum tilang. Disaat lambat membayar PLN akan diputus, tetapi disaat PLN mati2 hidup yang membuat rakyat rugi banyak dengan rusaknya alat2 elektronik dll. PLN tidak mau tahu atas semua itu..
          Kalau ada waktu main2lah ke Blog saya:  http://adi-rawi. blogspot. com/

          Terima Kasih


          From: Arsyad Gaffar <magafar_lawyer@ yahoo.co. id>
          To: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Sent: Sun, June 27, 2010 1:34:13 PM
          Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

           

          Kita mau lihat,  pak Dedy ini "kalau masih  orang Indonesia", kalau kiranya menjadi Pejabat di Indonesia, apakah masih "seindah cita-citanya" ? Atau bahkan sama dengan orang-orang yang selama ini dikritiknya?

          --- Pada Rab, 23/6/10, meyin <pinqpiggy@yahoo. com> menulis:

          Dari: meyin <pinqpiggy@yahoo. com>
          Judul: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya
          Kepada: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Tanggal: Rabu, 23 Juni, 2010, 2:14 AM

           

          Mungkin sebaiknya menggunakan kata "kebanyakan" atau "beberapa" barangkali yah pak?

          Saya jg pernah mengalami bentrok dgn aparat polantas..memang posisi saya salah dan saya mengakui kesalahan tersebut, namun bukan slip biru yang beliau berikan akhirnya saya minta beliau jelaskan apa dasar hukumnya? Beliau malah marah dan mengata2i saya tdk lulus SD, saya blg kpd beliau bahwa beliau adl penegak hukum seharusnya dpt berkata bijak.

          Jengkel setengah mati saat itu apalagi saya perempuan, lucu sekali beliau kesal dg pertanyaan saya sampai menggebrak meja dan berdiri smbil menunjuk2 muka saya, ckckckckckck

          Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !


          From: jamal_effendy@ yahoo.com
          Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Date: Tue, 22 Jun 2010 06:09:17 +0000
          To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
          ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Subject: Re: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

           

          Dear Pak Afriadi,

          Singkat aja Pak, masyarakat juga harus ngerti hukum.

          Syukur alhamdulillah seumur2 saya tdk pernah dibodohi polisi malah sering sharing pendapat dg polisi baik dijalanan maupun dalam forum.

          Saya bukan bela polisi tetapi polisi dibbrp daerah sudah mulai bagus koq dan tidak semuanya seperti yang ada dalam tulisan Bapak.

          Saya sangat tertarik dengan apa yang Bapak tulis dan itu memang kenyataan yg ada dilapangan tapi jangan menggeneralisasi.

          Regards,

          Jamal Effendy

          Powered by Telkomsel BlackBerry®


          From: Dedi Afriadi <afriadi2002@ yahoo.com>
          Sender: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Date: Mon, 14 Jun 2010 22:39:08 -0700 (PDT)
          To: <artikel-hukum@ yahoogroups. com>
          ReplyTo: artikel-hukum@ yahoogroups. com
          Subject: [artikel-hukum] Bgmana menghadapinya

           

          Polisi Lalu Lintas

          Suka mangkir dipersimpangan dan tempat-tempat yang rawan pelanggaranlalu lintas…

          Suka menangkap dan membodohi rakyat dengan menahan SIM mereka, terutama yang tinggal jauh dari kota itu…

          Suka menakut-nakuti rakyat dengan mengatakan bahwa pengadilan lalu lintas seperti pengadilan pidana… ah yang benar aja…

          Suka meminta uang sogokan agar SIM dikembalikan dan tidak ditilang…

          Nampak sibuk dan mencari muka disaat ada kunjungan petinggi dan pejabat negara…

          Polisi Lalu Lintas Lupa…

          Bahwa yang mereka bodohi adalah rakyat yang membayar gaji mereka setiap bulannya…

          Yang mereka takut-takuti itu adalah rakyat yang tidak sekolah seperti sebagian keluarga mereka…

          Yang mereka minta uang sogokan itu adalah para buruh kasar, gaji rendah dan orang miskin serta berpendapatan rendah lainnya…

          Uang sogokan yang mereka minta melebihi gaji sopir rakyat miskin per hari dan uang itu seharusnya untuk makan anak bini sopir yang pastinya rakyat yang miskin…

          Uang yangmereka makan hasil sogokan adalah haram hukumnya dan tidak akan mendapat keberkatan dunia akhirat…

          Uang sogokan yang mereka makan lalu menjadi darah daging untuk diri, istri, anak-anak dan keluarganya akan menjadi bahan bakar api neraka di akhirat nanti...

          Uang sogokan yang mereka terima telah disumpah serapah oleh mereka yang terpaksa memberi sogokan dengan kata-kata haram kamu makan!.., seperti memakan anjing dan babi!..dan berbagai kata kasar lainnya…

          Dimanakah Polisi Lalu Lintas…

          Jarang sekali kita temui Polisi lalu lintas disaat berlakunya kemacetan dimana polisi bekerjakeras untuk mengatasi kemacetan tersebut…

          Lambat sekali datangnya polisi disaat berlaku perampokan, pencurian dan berbagai kriminal lainnya…

          Jarang sekali kita temui polisi ditempat-tempat rawan kejahatan seperti ditempat hiburan, pelacuran, keramaian dan sebagainya…

          Pertanyaannya…

          PerlukahPolisi lalu lintas jumlahnya di banyakkan sementara berbagai macam tindak pidana dan kejahatan lainnya terus meningkat di negara ini…

          Pernahkan polisi menangkap pencopet yang setiap hari ada di dalam bus kota, angkot, pasar raya dan tempat keramaian lainnya…

          Pernahkah polisi menangkap pencuri yang setiap hari meresahkan rakyat yang membayar pajak untuk membayar gaji polisi…

          Bukankah selama ini media memberitakan hanya masyarakatlah yang menangkap pencopet danpencuri lalu diserahkan kepada polisi setelah pencopetnya tidak berdaya…

          lalu dimana peranan polisi yang setiap bulan menerima gaji dari uang rakyat…

          lalu dimana semboyan polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat…

          Bukankah ada baiknya kalau jumlah polisi dibanyakkan yang bekerja dibidang pidana saja…

          Agar rakyat tidak sia-sia membayar gaji mereka…

          Agar rakyat merasa dilayani dan dilindungi bukandizalimi dan di aniaya…

          Agar rakyat dapat membedakan mana preman pasar yang suka memeras dan mana polisi yang seharusnya melindungimasyarakat…

          Agar rakyat dapat membedakan antara gengstar yang suka minta uang keamanan dengan polisi yang seharusnya menjaga keamanan…

          Agar masyarakat mau menjenguknya disaat mereka sakit nanti…

          agar masyarakat mau menyolatkannya disaat mereka mati…

          Semoga…

          Alangkah lebih baikkalau kebanyakan polisi bekerja untuk mengintip para pencopet di bus kota dan angkutan kota lainnya…

          Alangkah baiknya kalau kebanyakan polisi bekerja mengintip dan menangkap penjahat di tempat keramaian dan berbagai tindak pidana lainnya…

          Alangkah baiknya kalau polisi menangkap para pengedar dan pemakai narkoba yang kian hari bertambah jumlahnya…

          Alangkah lebih baik kalau polisi merazia tempat-tempat pelacuran, perjudian, tempat minuman keras karenasemua itu adalah akar segala kemaksiatan dan tindak pidana…

          Semoga masih ada Polisi Lalu Lintas yang bekerja dengan niat ikhlas untuk melancarkan lalu lintas…

          Semoga masih ada polisi lalu lintas yang tidak mau menerima uang haram sogokan untuk kepentingannya…

          Semoga masih ada polisi lalu lintas yang suka mengayomi dan menolong bukan malah menelan rakyat…

          Semoga masih ada polisi yang mengembalikan uang tilanghanya kepada negara, bukan untuk kepentingan pribadinya yang sudah memiliki gaji setiap bulan untuk melakukan pekerjaan itu…

          Solusinya…

          Tambahlah pendidikan, kursus dan pelatihan untuk polisi lalu lintas sehingga tidak dimonopoli oleh ABG yang baru tamat sekolah menengah saja…

          Kurangi jumlah polisi lalu lintas, alihkanmereka kepada polisi yang bertugas untuk menangkap pencopet, pencuri dan pelaku pidana lainnya…

          Rakyat sebaiknya di ajar dan dididik agar mengetahui dan menyadari akan hak-hak mereka ketika diminta uang sogokan oleh polisi lalu lintas seperti bagaimana, kemana dan dengan siapa mereka harus mengadu penyimpangan dan penyelewengan itu…

          Di baju polisi harus ada tertulis nama dan logo AKU ANTI KORUPSI agar kejahatan itu bisadikurangi…

          Agar polisi menjadi rakan, sahabat yang disukai rakyat…

          Agar polisi tidak dibenci dan dimaki serta dimusuhi rakyat yang membayar gaji mereka…

          Agarpolisi juga bisa menikmati kehidupan di dunia dan di akhirat yang abadi nanti…

          Agar rakyat merasa bahwa keberadaan polisi lebih baik dari ketiadaannya dan bukan sebaliknya..

          KL, 28/05/2010

          Afriadi Sanusi





        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.