Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

'Heri-Donology' | pameran tunggal Heri Dono | Jogja Gallery, 15 Juli - 2 Agustus 2009

Expand Messages
  • qnansha@yahoo.com
    HERI-DONOLOGY Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto [English version on attachment] Sepanjang hampir 30 tahun Heri Dono telah berkiprah di dunia seni rupa.
    Message 1 of 1 , Jul 14, 2009
    • 1 Attachment
    • 58 KB

    HERI-DONOLOGY

    Pengantar Kuratorial oleh Mikke Susanto

    [English version on attachment]

     

    Sepanjang hampir 30 tahun Heri Dono telah berkiprah di dunia seni rupa. Ia mengaku memulai aktivitas seninya ketika ia masih berusia 17 tahun (ia dilahirkan 1960). Di usia 20 tahun ia belajar secara formal di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta. Di tahun 1982 sembari berkarya melukis--baik untuk tugas kuliah maupun bukan--ia menggelar seni eksperimental di Pantai Parangtritis. Inilah agenda pertamanya yang menjadi pintu bagi dirinya. Meski bukan program berskala besar, ia sendiri menyatakan dan selalu mencantumkan agenda di pantai pesisir selatan Jawa itu dalam setiap pernyataan biodatanya.

    Setelahnya itu, hampir setiap tahun ia melakukan aktivitas seni yang melahirkan lompatan nilai, baik pada aspek artistik maupun ide. Hingga kini setidaknya ia telah melakukan hampir 25 kali lebih pameran tunggal, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain pameran tunggal ia juga ikut serta dalam pelbagai program penting dunia seperti biennal dan agenda-agenda pameran di museum serta galeri terkemuka dunia. Prestasi internasionalnya tak perlu diragukan lagi. Kerja internasional pertamanya dilakukan di tahun 1990-91 dengan melakukan International Artist Exchange Program di Basel, Swiss.

    Berlanjut di tahun berikutnya program pameran berskala internasional diikutinya. Dalam curriculum vitae-nya tercatat telah mengikuti 50-an program penting internasional, diantaranya biennale tertua di dunia, Venice Biennale di Italia tahun 2003. Oleh sebab itu majalah Artlink ( Australia ) mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennal internasional antara tahun 1993-2006. Tak salah seandainya kemudian Heri Dono ditasbihkan menjadi satu dari seratus perupa avant-garde dunia saat ini.

     

    Terobosan Estetik

    Sepanjang perjalanan berkarya, ia melakukan terobosan-terobosan nilai dan pemikiran yang menarik perhatian penonton dan pemerhati seni rupa. Karya-karyanya sendiri berbasis pada pemikiran tentang masalah-masalah lokal dunia ketiga dengan mengajukan wayang sebagai dasar pemikiran dan metafora utama. Untuk itu, selain ia belajar secara formal di kampus, ia juga belajar pada seorang empu pewayangan, Ki Sukasman dari Yogyakarta . Di dalam karyanya ia merespon fenomena-fenomena aktual dan banyak terdapat masalah politik, kultur maupun isu sosial masyarakat yang terjadi dewasa ini. Masalah-masalah ini diajukan dengan konsep parodi. Pada aspek teknik, selain melukis, ia juga mengerjakan sejumlah karya seni instalasi, performance art dan seni media baru.

    Selama ini ia kerap menjadi perupa yang dianggap menelikung kebiasaan perupa Barat yang mengagungkan teknologi canggih dalam karya-karyanya. Ia menjadi penakluk isu-isu besar dalam wacana seni di Barat, dengan mengetengahkan pola visual ataupun opini yang bersifat karikatural, katarsis dan kadang terkesan naif. Dalam konteks wacana ia sering meniadakan peran Barat dalam setiap pemikiran-pemikirannya, sehingga ia dengan baik mampu menampilkan aroma yang berbeda dalam setiap pameran yang diikutinya. Melihat karya Heri Dono kita akan menyaksikan penolakan bentuk-bentuk dan pesona yang indah (baca: mendayu-dayu layaknya lukisan realis). Heri lebih senang mencari bentuk-bentuk penyajian baru untuk membangkitkan perasaan tentang ketidakmungkinan atas sebuah penyajian. Karena “ketidakmungkinan” adalah keindahan tersendiri baginya.

    Dalam wawancaranya dengan Hendro Wiyanto (2004) ia mengatakan, “…Diperlukan kengawuran yang artistik, diperlukan kekonyolan-kekonyolan. Kita tahu seni itu dapat dipelajari, tapi tak dapat diajarkan. Dia alternatif, dia lahir dari kengawuran. Dia lahir dari kekonyolan. Penciptaan seni harus lahir dari hal-hal di luar jalur disiplin estetika. Kengawuran adalah hal penting dalam seni, karena hanya dari itulah akan didapatkan anggapan-anggapan segar dan baru dari seni…”. Pantaslah, jika kemudian konsepsi semacam ini memberi jalan pada penciptaan karya-karya Heri. 

    Prinsip semacam ini juga paralel dengan konsep umum kreativitas. Pribadi-pribadi kreatif, seperti yang diungkapkan Csikzentmihalyi (1996), memerlukan kerja keras, keuletan, dan ketekunan untuk menyelesaikan suatu gagasan atau karya baru dengan mengatasi rintangan yang muncul. Disiplin dan bermain menjadi sikap kunci. Pribadi kreatif melahirkan selang-seling sikap: antara imajinasi dan fantasi, cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama juga naïf. Orang semacam ini biasanya juga suka menentang, dilain pihak bisa juga tetap memegang konservativisme.

    Dengan melihat konsep berkarya Heri Dono, pameran ini ingin mencoba menguak sejumlah idiom, kebiasaan ataupun ‘kelakuan kreatif’--seperti tuturan di atas--yang sering dipakainya dalam setiap kali Heri berkarya maupun berpameran. Sedang pekerjaan saya sebagai kurator adalah meriset sejumlah ide yang kerap menjadi “alat” atau metode pendekatan proses kreatif yang dilakukan oleh Heri Dono. Di samping tentu saja melakukan penyeleksian dan mengupayakan presentasi gagasan dan karya yang akan ditampilkan dalam pameran ini. Ragam visual, cara ungkap, pendekatan berpikir, elaborasi gagasan dan kontekstualisasi ide akan menjadi bagian utama dalam kurasi ini untuk melihat karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini.

     

    Dari “Album of Thing” menjadi “Album of Think

    Lebih dari persoalan eksistensi, mari kita melihat lebih dekat tentang materi ekspresi Heri Dono. Bahwa ‘thing’ atau ‘benda’ atau ‘benda-benda’--saya sebut ‘benda’ karena telah teronggok sebagai objek dan kadangkala kita menganggapnya remeh--semacam tengkorak primata dan manusia, karton, istana/kraton, tanah, motor, traktor bagi Heri Dono sebagai sesuatu yang amat berharga. Dalam pikiran Heri Dono, semua itu bukan sekadar sebentuk benda atau objek yang pasif, yang hanya ditonton dan dimaknai sebagai sesuatu ‘yang lain’, periferal. Ia juga secara khusus menawarkan objek dan benda-benda dengan beragam karakteristiknya tersebut sebagai bentuk materi dan ide serta medium ekspresi seni alternatif dunia. Ia memaknai setiap benda atau sesuatu sebagai materi yang labil makna. “Thing” ternyata mudah dipengaruhi sekaligus mempengaruhi pikiran Heri Dono.

    Tentu saja harus dibarengi dengan tindakan “think”. Jika diucapkan hampir tak berbeda dengan “thing”. “Think”, seperti halnya di kamus bahasa Inggris adalah “pikiran”. Sebuah tesis yang mencoba mengumandangkan gerakan untuk memaknai, berpikir untuk memperluas konteks tentang sesuatu. Dengan ‘think’, maka seseorang bisa memperjelas posisi dan kegunaan sebuah benda atau objek. “Thing” akhirnya menjadi “think” karena peran seseorang yang kreatif.

    Dengan mengesankan Heri Dono pernah melakukan dialog dalam karyanya yang berjudul Lobi-lobi (2000). Dengan hanya berkata-kata ibarat seorang dalang ia memaknai “thing” menjadi “think”. Berikut petikannya:

     

    A: Saya karton

    B: Saya juga karton

    A: Ah, kamu kan kardus

    B: Saya juga kardus

    A: Kamu tahu kan hukum rimba. Siapa kuat dia berkuasa

    B: Oya, artinya yang kuat seharusnya tinggal di tengah rimba?

    A: Wele wele wele, maksudnya itu hukum manusia, tidak berlaku dalam sistem mafia, benar atau salah terserah jaksa dan penguasanya

    B: O, gitu toh, jadi kita cuma karton toh

    A: Lha iya kita kan biasanya dipakai hanya sebagai pembungkus kotak-kotak barang dagangan saja

     

    Dialog ini membuktikan betapa Heri Dono adalah seorang yang sangat piawai membawa sesuatu yang semula tak berharga dan tanpa bentuk (hanya seonggok karton atau kardus) menjadi pemikiran tentang situasi yang pelik, bahkan radikal (cermati ide perihal hukum dan masalah kekuasaan dalam dialog di atas). Ditambah jika Anda menyaksikan kemahiran Heri Dono dalam merangkai benda-benda dalam karya seni instalasinya, semakin menunjukkan bahwa ingatan tentang “thing” menjadi “think”, sangatlah kental mengiringi kreativitas berkaryanya selama ini.

    Sebuah karya dan pameran, termasuk pameran kali ini, adalah “album of think” bagi Heri Dono.

     

    Empat Arena

    Kali ini ia tampil berkekuatan penuh. Dalam pameran ini ditampilkan sejumlah lukisan, karya seni instalasi, dan seni rupa pertunjukan. Secara khusus, digelarnya seni rupa pertunjukan (dengan memakai alat berat di Alun-alun Utara Kraton Jogja) dalam upacara pembukaan pameran tunggalnya di Jogja Gallery, Yogyakarta ini karena ia ingin kembali mengulang gegap gempita masa silam ketika Heri Dono menggelar karyanya bertajuk Kuda Binal. Pada saat itu, ia memakai alat musik dan pertunjukan tradisional sebagai medium untuk meluncurkan kembali isu kontra-tradisi/budaya dengan memakai kuda lumping yang diolah dengan pendekatan modern dan individual. Kuda Binal ditampilkan bersamaan maupun sebagai bagian dari “BINAL Experimental”, sebuah parodi peristiwa atas agenda Biennale Jogja 1992. Karya ini kemudian merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan seni rupa Heri Dono.

    Maka dalam pameran ini sejumlah karya yang tampil antara lain mengarah pada arena tema mengenai: 1) kehidupan sekitar dirinya sebagai seniman, alias bertema seni dan seniman; 2) tentang situs arkeologis “baru”; 3) sekitar isu politik; 4) catatan perihal alam. Catatan tema dan ide yang ditampilkan ini kemudian akan menjadi point yang menyatukan presentasi keseluruhan karya dalam ruang pamer.

    Arena keempat (perihal alam, terutama bencana alam, bukan pemadangan alam), dan ketiga (isu politik) adalah tema-tema yang sejak lama sudah sering digarap oleh Heri Dono. Sejak awal Heri mengusung isu-isu semacam ini sebagai sebuah tema yang menurutnya sangat tepat dan kontekstual. Isu alam dan politik menjadi tema-tema sentral dalam setiap pembicaraan di wilayah yang luas. Tidak saja di Indonesia namun juga di luar negeri. Dalam pameran ini karya-karya yang mengusung tema politik dan alam dapat dilihat pada karya SOS Supersemar (2009); Tiga Calon Presiden (2009); Tsunami (2005); Peace or War (2009); The Head Gamelan (instalasi 2008); dan The Wrong Pieneman’s Perspective (2009). 

    Pameran ini menjadi sangat bernilai ketika disertai dengan dua tema lain, yaitu isu yang kedua (situs arkeologis “baru”) dan pertama (seni dan seniman). Di arena pertama yang terkait dengan isu tentang seni dan seniman diwakili oleh karya bertajuk Agent of Change I (2009). Karya ini dibuat dalam dua dimensi yaitu berupa 4 panel lukisan yang menggambarkan tengkorak para perupa ternama seperti Joseph Beuys, Salvador Dali, Vincent van Gogh dan Andy Warhol. Dipilihnya 4 perupa ini seakan-akan menjelaskan bahwa di tangan merekalah teori dan ilmu pengetahuan tentang sesuatu seakan-akan menjadi jelas dan menampakkan hasilnya.

    Karya-karya mereka memberi keyakinan penuh atas perubahan yang terjadi di masyarakat akan eksistensi keyakinan dan ilmu pengetahuan. Beuys ditengarai telah mengatasi isu-isu perdukunan. Dali mencoba meyakinkan publik bahwa mimpi dan fantasi bukanlah tipuan dan hal yang abstrak. Gogh seakan mewakili spiritualitas yang kolaps. Sedang Warhol mengatasi “hal-hal yang semula dianggap remeh menjadi begitu penting”.

    Sedang karya Agent of Change II (2009) dibuat dengan medium patung berbahan fiberglass memiliki tinggi 30 sentimeter yang mengetengahkan 20 seniman sedang jongkok berwarna putih dan mengeluarkan kotoran. Perupa yang ditampilkan antara lain dari Indonesia (seperti Affandi, Soedjojono, Chairil Anwar dan lain-lain) sampai seniman dunia (seperti Michelangelo, Beuys, Frida Kahlo sampai Michael Jackson).

    Karya ini dilatari oleh pemikiran tentang keberadaan perupa dalam ranah sosial. Diangkatnya tema ini oleh Heri Dono terkait dengan eksistensi seniman yang selama ini dipertanyakan. Profesi seniman berada diwilayah yang tidak stabil. Terutama, menurut Heri, perupa sering ditafsir berada pada posisi kebudayaan (sebagai anggota komunitas masyarakat) dan estetika (sebagai pribadi yang terus menggali kemampuan diri). Di satu sisi seniman memiliki keinginan untuk tetap menjaga kebudayaan yang telah ada, namun keinginan pribadi ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dan baru. Dualitas posisi inilah yang menyebabkan posisi seniman menjadi persoalan, mengalami benturan dan korelatif terhadap ketidakseimbangan budaya di masyarakatnya.

    Pada arena kedua: “situs arkeologis baru”, kita akan menjumpai karya yang tetap berbasis visual tengkorak. Wacana di arena kedua secara khusus pernah disajikan dalam pameran tunggal Heri Dono di Gaya Fusion, Ubud Bali yang bertajuk “ Post-Etnology Museum ” (2008). Diangkatnya tema ini jelas mengandung esensi bahwa Heri Dono kali ini ingin “menyela”. Ia ingin memberi peluang baru, dengan membuka kran agar seseorang (baik Heri Dono sendiri maupun perupa lain) diharapkan menonton diri mereka sendiri. Bukan orang lain yang menonton kita.

    Di arena ini, karya bertajuk Homo Donoensis Javanicus (2009) menjadi sajian utama. Karya ini ingin menandaskan temuan baru yang menjadi sarana introspeksi bagi dirinya sendiri. Lebih jauh dari itu, meskipun ia mengaku karya ini merupakan representasi dirinya, tetapi jelas ini merupakan wacana baru tentang keberadaan seniman secara umum. Heri mengajak para perupa lain untuk menatap dirinya sendiri yang selama ini kencang meneriakkan berbagai hal. Karya yang merupakan parodi atas eksistensi artefak tulang Homo Erectus Soloensis ini seakan-akan mengeliminir keberadaan dirinya sendiri. Heri sedang menatap “Heri”. Heri sedang memprovokasi “Heri”. Heri sedang menentukan mental dan psikologi baru.

    Ketika berdiskusi dan proses kurasi berlangsung, kami menemukan kesimpulan bahwa Heri Dono telah menjadi “situs arkeologis” yang harus dimaknai ulang. Pada karya inilah muncul sesuatu, yaitu sebuah konsesi tentang upaya untuk terus-menerus menggoyang kemapanan pemikiran sendiri. Sebuah upaya kreatif untuk meleburkan kembali kecerdasan dan kenaifan baru. Semestinya ia tidak cuma menelikung seni Barat, tetapi juga menelikung seni dirinya sendiri. Ia harus menata “album of think” yang ia buat sebelumnya dan melahirkan “album of think” yang baru. Di usia dan karir yang sangat matang, saya lihat ia tengah menepati janji: “kengawuran terus dibalas dengan kengawuran”. Inilah “Heri-Donology” yang saya maksud. +++

     

    Jetak, Godean, Juni 2009.


    Katalog akan diterbitkan post-opening.
    Informasi selanjutnya, silakan hubungi:
    Jogja Gallery [JG]
    Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta
    Phone +62 274 419999, 412021
    Phone/Fax +62 274 412023
    Email jogjagallery@... | info@...
    http://jogja-gallery.com


Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.