Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: [indonesia_timur] Fw: Undang-undang perkawinan berpotensi mendustai Tuhan

Expand Messages
  • Roy Sekewael
    ... From: Ferdinand Pandey To: indonesia_timur@yahoogroups.com Sent: Wednesday, May 9, 2012
    Message 1 of 1 , May 10 2:33 PM
    • 0 Attachment

      ----- Forwarded Message -----
      From: Ferdinand Pandey <ferdinandpandey@...>
      To: "indonesia_timur@yahoogroups.com" <indonesia_timur@yahoogroups.com>
      Sent: Wednesday, May 9, 2012 8:29 PM
      Subject: [indonesia_timur] Fw: Undang-undang perkawinan berpotensi mendustai Tuhan

       

       

      Undang Undang Perkawinan Berpotensi Mendustai Tuhan.

      Menanggapi penjelasan yang berupa Fatwa dari ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia(MUI)Prof.Dr.Hasanudin AF mengenai Undang undang Perkawinan yang mengharamkan perkawinan berbeda agama.Dan selama ini diterapkan sebagai ketentuan Hukum di negara Indonesia yang Bhineka Tungal Ika.UUD perkawinan ini,jelas sangat berpotensi mendustai Tuhan.Saya berpendapat demikian,karena bila direnungkan secara akal budi dan dari hati nurani manusia paling dalam,undang undang tersebut hanya memojokkan sepasang manusia yang sudah saling mencintai (laki laki dan perempuan)yang ingin menikah dan mengikat diri secara hukum menjadi satu keluaga.Akibat terdesak/terpojok oleh aturan hukum harus memilih satu agama,terpaksa menyangkal imannya atau mendustai Tuhan yang dia tidak yakini sama sekali.
      Undang Undang Perkawinan yang diterapkan sekarang ini,pada hakekatnya sudah mencampuri urusan manusia yang sangat pribadi.Dalam hal ini manusia harus dilihat sebagai pribadi yang utuh yang berdiri diatas dirinya sendiri.Sangat terasa negara mengintervensi urusan yang sangat pribadi demi untuk memuaskan kepentingan nafsu selera kelompok masyarakat tertentu,untuk orang lain harus juga mengikuti selera hidup mereka.Salah satunya dengan menerapkan undang undang perkawinan.Sehingga makna sebenarnya undang-undang perkawinan tidak ada bedanya dengan mengancam seseorang untuk menyangkal imannya atau mendustai Tuhan yang sebenarnya tidak diyakininya,hanya supaya bisa menikah secara hukum yang berlaku.Keberadaan undang undang perkawinan ini berarti,negara sudah menjajah warga negaranya sendiri yang meliputi"tubuh,jiwa,roh" terhadap sesama manusia.Sehingga benar apa yang dikatakan oleh nasehat lama."Manusia mungkin bisa saja menguasai/menjajah raga sesamanya,tapi apabila sudah bernafsu menjajah roh dan jiwa sesamanya itu berarti manusia tersebut sudah mentuhankan dirinya.atau istilah kasarnya sampai cara bernafas orang perorang mau diatur oleh negara.
      Seharusnya Prof,Dr.Hasanudin AF sebagai akhli agama apalagi sebagai ketua komisi Fatwa MUI,tentu  mengerti betul,apa makna jatuh cinta yang terjadi antar perempuan dan laki laki yang kemudian memutuskan untuk berkeluarga.Begitu juga tentu beliau seharusnya faham benar apa arti makna seseorang beragama dalam hubungannya sampai sejauh mana iman seseorang dalam berelasi secara vertical dengan Tuhannya.Saya pikir bicara jatuh cinta terhadap lawan jenis,adalah sebegitu dalam dan sebegitu luas tidak bisa dirumuskan dan dilukiskan oleh siapapun,termasuk bagi mereka yang mengalami jatuh cinta.Pendapat saya,hakekat jatuh cinta dan kemudian memutuskan menikah adalah apa yang dikatakan sudah jodoh yang merupakan anugrah dari Tuhan.Dan dalam hubungannya beragama dalam konteks sampai sejauh mana iman seseorang secara vertical berelasi dengan Tuhannya,itu juga merupakan anugerah dari Tuhan.Karena sebenarya siapapun dia,sebagai manusia itu sendiri sangat relatif karena terbatas oleh ruang dan waktu.Itulah sebabnya ada pepatah,"dalamnya laut bisa diduga tetapi hati orang siapa yang tahu",pepatah ini banyak benarnya,hanya Tuhan yang tahu kedalaman hati orang.
      Jika selama ini negara menerapkan Undang Undang Perkawinan,jelas negara sudah mengambil alih peran Tuhan dalam urusan cinta dan jodoh sepasang manusia untuk masuk dalam kehidupan berkeluarga.Dengan Undang Undang ini,Negara juga sudah mengganti peran Tuhan dengan cara memojokan dan mengancam seseorang untuk menyangkal imannya(kata hatinya yang paling dalam) yang merupakan anugerah Tuhan yang sangat pribadi bagi setiap manusia ciptaan Tuhan.Dengan demikian Negara ini sangat berperan untuk seseorang mendustai Tuhan dan dalam hal menyangkal imannya,karena diperhadapkan pada pilihan harus kehilangan kekasih hatinya yang sudah dijodohkan Tuhan.
      Alasan lain yang dipakai untuk mensahkan UUD Perkawinan,seperti apa yang dikatakan oleh Prof.Hasanudin AF,untuk mencegah supaya dikemudian hari anak anak dari suami istri yang berbeda agama tidak menyaksikan orang tua mereka masing masing pergi beribadah ditempat yang berbeda menurut agamanya masing masing.Menurut beliau akan memberi dampak yang negatif bagi pertumbuan jiwa anak anak berupa dekadensi moral terhadap pertumbuhan sikap hidup anak anak dan tentunya kedepan seperti apa yang dikatakan beliau masyarakatnya akan bobrok.Sudut pandang beliau atau sudut pandang suatu kelompok masyarakat sah sah saja.Tetapi sudut pandang tersebut berupa selera pribadi atau selera suatu kelompok masyarakat,dalam hal inisudut pandang yang bersifat SARA, oleh negara tidak bisa dijadikan sebagai ketentuan Hukum.Apabila dijadikan sebagai ketentuan Hukum sudah jelas melanggar HAM.
      Sudut pandang tersebut sangat subjektif,eksklusif,dan juga relatif Sebab   penjelasan Prof.Dr.Hasanudian AF sebagai ketua Fatwa MUI mengenai kekuatirannya terhadap perkawinan berbeda agama,ternyata tidak seperti apa yang beliau kuatirkan.Buktinya sejak lama sebelum UUD Perkawinan diterapkan,anak anak dari perkawinan berbeda agama,generasi anak anak mereka pada kenyataannya moral dan tingkat kualitas hidup anak anak tersebut setelah dewasa masih lebih baik moralnya dan tingkat kualitas manusianya masih di atas dibandingkan dengan generasi dari anak anak setelah UUD Perkawinan ini diterapkan di negara ini.Mengenai pendapat saya ini,coba saja disimak secara teliti dan kemudian anda bedakan moral dan tingkat kualitas hidup generasi sebelum UUD perkawinan itu ada dibandingkan dengan generasi setelah UUD Perkawinan itu diterapkan.Sangat jelas pada waktu itu sebelum ada UUD Perkawinan masyarakat,bangsa dan negara  tidak terpuruk,tertib,damai sejahtera,saling menghargai tanpa konflik SARA,dll.Dibanding dengan sekarang ini masyarakat luas sangat terasa seperti hidup diatas bara api dalam sekam yang sewaktu waktu bisa meledak.
      Pembuktian lain di negara negara maju yang demokrasi dan menganut prinsip kesetaraan,dimana penerapan Hukumnya belaku bagi siapa saja tanpa melihat perbedaan SARA, gender,atau orang asing.Di negara negara ini,masyarakatnya sudah sedemikian plural sehingga perkawinan antar bangsa,suku,agama.ras semakin bercampur aduk/semakin sering terjadi perkawinan berbeda  SARA/bangsa.Dan karena itu kawin mawin di negara ini, pengesahan perkawinan secara hukum negara hanya berdasarkan suka sama suka alias tanpa segala macam aturan(harus pilih salah satu agama atau harus kawin menurut agama tertentu).Terbukti di negara negara maju dan demokrasi ini dari generasi ke generasi,telah memberi dampak  positif terhadap moral dan tingkat kualitas hidup bagi masyarakatnya.Dan nilai nilai demokrasi ini,sudah teruji oleh ruang dan waktu selama ratusan tahun,sehingga dalam segala hal
      (kemakmuran,damaisejahtera,rasa aman,produktivitas,kreativitas,dll) masih jauh diatas dan masih lebih maju dibandingkan dengan bangsa dan negara yang masih memaksakan ideologie agama tertentu menjadi ketentuan Hukum,misalnya Hukum Syariah Islam.Jadi pada kenyataannya negara dan bangsa demokrasi  yang salah satu ketentuan hukumnya hanya mengesahkan perkawinan atas dasar suka sama suka,apabila dihubungkan dengan kekuatiran Prof.Dr.Hasanudin AF apa yang beliau kuatirkan tidak ada,dan tidak ada yang perlu beliau kuatirkan.
      Penjelasan lain Prof.Hasanudin mengenai UUD Perkawinan,terlihat sangat memaksakan sudut pandang iman agamanya untuk dijadikan ketentuan hukum di ruang publik. Tidak setujunya saya mengenai hal ini sudah dijelaskan diatas.Selain itu,beliau ini tidak mau peduli bahwa memaksakan agama adalah tidak manusiawi atau bertentangan dengan HAM.Bisa dibayangkan kalau di negara bangsa yang mayoritas Kristen(America,Eropa,Australia,Canada,Amerika latin,dll)menerapkan UUD Perkawinan dalam ruang public,sesuai seperti apa yang ditulis dalam Alkitab.Atau dengan kata lain mengikuti sama dengan Indonesia memperlakukan UUD  Perkawinan sesuai dengan Alqu'ran.Sebab aturan perkawinan kalau mengikuti aturan dalam Alkitab;"Perkawinan adalah sesuatu yang sakral,antara seorang laki laki dan seorang perempuan,oleh karena itu apa yang telah dijodohkan Tuhan tidak boleh di pisahkan oleh manusia,dan hanya maut yang bisa memisahkan".Di ayat lain mengatakan:"Perkawinan adalah janji/konvenan masing2 pribadi kedua mempelai lansung dengan Tuhan.Malahan mengenai pornografi dalam Alkitab,mengatakan apabila engkau melihat seorang wanita syahwatmu tergerak maka itu sama dengan engkau telah berzinah didalam hatimu,sama dengan engkau telah berbuat dosa.Dan jika aturan aturan perkawinan dalam Alkitab ini diterapkan dalam Hukum Public jelas dunia akan kacau balau dan bukan itu saja tetapi melanggar HAM dan bisa dikatagorikan negara sebagai penyebab seseorang mendustai Tuhan karena terpojok takut kehilangan kekasih hatinya.Seandainya aturan aturan dari Alkitab ini diterapkan menjadi UUD Perkawinan di negara negara tersebut,jelas sudah memojokan agama Islam,Sebab dalam Islam laki laki boleh saja menceraikan istrinya.dan juga sah sah saja laki laki mempunyai istri banyak.
      Fatwa mengharam perlawinan berbeda agama yang sudah disahkan menjadi undang undang,sebenarnya merupakan satu paket dengan beberapa undang undang  undang-undang yang sudah di perlakukan.Antara lain undang-undang mengenai pendidikan,pornografi.dan masih ada lagi yang lain lainnya yang akan menyusul.Dan semua undang-undang tersebut yang akan menyusul nanti,dalam rangka menerapkan Hukum syariah Islam.Hukum Syariah nantinya akan menggeser KUHP,HAM,Hukum Tata Negara yang didasarkan pada Trias Politica.Ketiga sistem hukum tersebut jelas,mengandung nilai nilai demokrasi.Yang menurut penjelasan beliau tersebut diatas,demokrasi bertentangan dengan Islam.Karena dengan diterapkannya Hukum Syariah,NKRI sudah menjadi Negara berazaskan Islam. 
      Negara yang memaksakan ideologi agama keruang publik untuk dijadikan undang undang,sebenarnya pada dasarnya negara tersebut sudah dikuasai oleh suatu regim yang kekuasaannya sangat luar biasa,sebegitu luas,hampir tidak ada batasnya.Dan biasanya regim yang berkuasa akan berkuasa dari generasi ke generasi berikutnya secara turun temurun hanya dari kalangan regim mereka saja.Untuk mempertahankan supaya kekuasaan terus menerus berada ditangan mereka,maka kekuasaan harus berada dalam satu tangan.Dengan cara,agama dimanipulasi sedemikian rupa menjadi suatu Idelogie dan ketentuan Hukum sehingga untuk sekarang ini,Eksekutif,Yudikatif,Legislatif(Hukum Tata Negara trias Politica) hanya dijadikan sebagai topeng.Dan HAM serta Demokrasi hanya sebagai pembungkus.KUHP di tumbangkan,digeser diganti dengan Hukum agama.Dengan demikian Hukum menjadi kabur maka para penguasanya berada diatas Hukum atau hukum yang berlaku tidak mungkin bisa menyentuh penguasa,meskipun mereka sudah melakukan kejahatan berat dan besar.
      Memaksakan agama ke ruang publik tidak ada bedanya atau sama saja dengan pemaksaan agama secara kekerasan/teror dan ancaman.Sebenarnya mereka mendustai Tuhan dan sesama manusia, tujuannya hanya untuk memuaskan nafsu hedonisme,dengan mendominasi orang lain.Mereka merasa dirinya sudah  sama dengan Tuhan,sehingga sudah menghakimi sesama manusia dengan mengatas namakan Tuhan.Sangat bernafsu mau mengatur arah jalan hidup orang lain atau istilah kasarnya,"cara bernafas orang lain mau diatur".Dan mereka juga bernafsu mengatur arah jalan sejarah dunia.Negara dimanfaatkan dengan menempatkan salah satu agama sebagai superior/ditempatkan diatas berbagai keyakinan,kebudayaan dan peradaban.Ketentuan aturan hukum dalam masyarakat plural diharuskan mengikuti sesuai dengan selera agama yang dijadikan superior.Maka terjadilah apa yang dikatakan penjajahan yang meliputi tubuh,jiwa,roh,yang dilakukan suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang lain.Sehingga beberapa diantara mereka terpaksa harus mengikuti selera agama superior karena  ketakutan diancam dan dipojokan,harus menyangkal imannya dan mendustai tuhan demi cari slamat.
      Gejalah Hukum semakin tumbang antara lain,semakin tidak adanya kepastian hukum,semakin terasa tidak adanya keadilan,dan masyarakat semakin merasa tidak ada jaminan keamanan.Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan.Hukum yang dulunya berjalan dengan baik,terasa semakin ambur adul.Semua berita berita mengenai semakin tumbangnya Hukum ini,sangat jelas diberitakan disemua media pers,baik berita nasional maupun berita di luar negeri.Penyebabnya,seperti yang sudah dijelaskan diatas yaitu,sistem hukum demokrasi yang dulunya sudah berjalan dengan baik,sekarang ini sedang digeser untuk diganti dengan hukum yang berdasarkan ideologie agama.Seperti diketahui,Hukum Syariah Islam kesetaraan tidak berlaku bagi perbedaan gender,perbedaan SARA,terhadap orang asing,perbedaan status,atau jelasnya di ruang public Hukum yang diperlakukan terhadap semua tersebut tidak sama perlakuannya.Dengan demikian ideologie agama sering dimanipulasi oleh seseorang atau kelompok tertentu untuk mendapatkan kekuasaan mutlak tanpa ada batasnya,dan kekuasaan hanya dipegang oleh satu regim tertentu.
      Sangat berbeda dengan hukum berdasarkan Demokrasi dimana sistem Hukum yang diterapkan harus dibagi.Misalnya,Eksekutif,Yudikatif,Legislatif dan negara federal (supaya kekuasaan di daerah dan pusat berimbang).Pertimbangannya kekuasaan harus dibagi,karena sifat manusia pada kenyataannya,disatu sisi ada sifat baik atau sangat manusiawi tapi juga disisi lainnya ada sifat buruknya,bisa menjadi serigala terhadap sesamanya.Dan sifat buruk seperti serigala ini bisa terjadi kepada siapa saja yaitu antara lain,Pendeta,Kiay,Guru,Cendekiawan,Presiden,Pemimpin agama,dll.Oleh karena itu,adalah sangat berbahaya bagi umat manusia apabila ideolgie agama dibawah ke dalam ruang public untuk dijadikan suatu ketentuan hukum.
      Seharusnya,negara kita ini belajar dari pengalaman yang dialami oleh negara negara Islam (penganut garis keras) yang selama ini mengeksport Ideologie Islam ke seluruh dunia dengan paksa dan kekerasan.Dan selain itu,mereka yang beragama lain di banyak negara Muslim diserang dengan kekerasan dan tempat ibadahnya di bom alias dihancurkan.Eksport ideologie agama tersebut tujuannya,supaya dunia takluk,tunduk,sujud,kiblat kearah tanah Arab.Yang saya maksudkan belajar dari pengalaman mereka selama ini,ternyata ideologie yang mereka eksport dengan paksa dan kekerasan justru belakangan ini berbalik 180 derajat kearah rakyat dan negaranya sendiri.Negara2 pengeksport tersebut antara lian,negara negara di Arab,beberapa negara muslim di benua Africa,Pakistan,Afganistan, belakangan ini terus menerus ditimpa oleh malapetaka yang mengerikan.Malapetaka berupa penghancuran akibat kerusuhan dengan kekerasan antara rakyatnya dan penguasanya.Padahal semua mereka baik rakyatnya maupun penguasanya menganut ideologie agama yang sama.
      Kekerasan yang membawa malapetaka tersebut yang sedang terjadi dinegara negara tersebut disebabkan karena penindasan,ketidak adanya keadilan,ancaman,terpojok,dll.Tekanan yang dirasakan masyarakat luas yang disebabkan oleh hal hal tersebut sudah terakumulasi sedemikian rupa.Kebencian,dendam,dengki,terus menerus ditekan sedalam dalamnya,sehingga secara alamiah pada suatu saat tertentu pasti akan meledak.Seperti apa yang kita saksikan dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini di negara negara Muslim tersebut.Yang jelas seperti apa yang sudah dijelaskan diatas tadi,yaitu diakibatkan oleh nafsu hedonisme kekuasaan mutlak dan tidak terbatas, kekuasaan hanya berada dalam satu tangan.
      Ferdinand Pandey.    

      Nikah Beda Agama Bukan Hak Asasi
       by MUI - 27 April 2012
      Meski telah difatwakan sebagai perkara yang haram, pernikahan beda agama memiliki sejumlah pendukung yang terus mendengungkan suaranya. Tak jarang, hal itu ditempatkan dalam koridor demokrasi dan HAM.
       Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Dr H Hasanuddin AF, mengaku tak ingin memberikan reaksi berlebihan. Fatwa MUI, katanya, dibuat untuk menyejahterakan kehidupan bernegara. “Terlebih, kita adalah negara yang berketuhanan. Tanpa menaati tuntunan agama, Indonesia akan amburadul,” katanya.
       
      Guru besar Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu menegaskan, pendidikan agama adalah hal signifikan yang dapat menjawab persoalan tersebut pada masa yang akan datang. Terkait pernikahan beda agama ini, ketua Komisi Fatwa MUI periode 2010-2015 menjelaskannya secara lebih detail dalam perbincangan dengan wartawan Republika, Devi Anggraini Oktavika. Berikut petikannya.
       
      Menurut Anda, bagaimana menyikapi seruan segelintir orang untuk menyosialisasikan pernikahan beda agama?
       MUI sudah secara jelas mengeluarkan fatwa haram bagi pernikahan beda agama. Fatwa itu berlaku, baik bagi perempuan maupun laki-laki Muslim, tanpa membedakan apakah yang ahli kitab (non-Muslim) itu pihak perempuan ataupun pihak laki-laki, pernikahan beda agama haram hukumnya.
       Penetapan itu telah mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya berdasarkan Alquran dan juga sunah Rasul. MUI sepakat, mudharat pernikahan beda agama lebih banyak daripada manfaatnya. Jika kemudian muncul pihak-pihak yang berpendapat lain dan menyerukan dukungan bagi pernikahan beda agama, itu hak mereka.
      Tidak ada sikap khusus selain menanggapinya sebagai hak berpendapat?
       Berbicara tentang sikap atas isu ini maka kita berbicara tentang moral karena ini berkaitan dengan ketentuan agama. Bagi saya, tidak terlalu mengherankan ketika manusia melanggar fatwa ulama. Undang-undang pun dan bahkan tuntunan agama pun banyak yang tidak ditaati.
       Imbauan bisa saja diberikan, tapi efeknya tentu kembali pada masing-masing individu. Yang terpenting adalah memahami dengan baik esensi pernikahan. Harus dipahami bahwa nikah itu pada dasarnya ibadah. Di dalamnya tercakup tugas menyiapkan generasi masa depan Islam yang dihasilkan dari pernikahan tadi.
       Jika kemudian muncul konsep bahwa menikah adalah wujud cinta, itu adalah pemahaman yang dangkal. Islam itu luas. Semua ketentuan dan tuntunan dalam Alquran dan sunah Rasul adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri. Coba, apa kepentingan Allah membuat banyak aturan dalam Alquran? Tidak ada.
       Apa imbauan bagi masyarakat, terutama menyikapi ‘penghalalan’ pernikahan beda agama ini?
       Menurut saya, fatwa sudah cukup, yang lebih menyentuh pada filosofi dari Islam itu sendiri. Ayat 221 dari surah al-Baqarah sudah menyebutkan secara tegas, “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum me reka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
       Nah, kembali pada persoalan pernikahan tersebut, fatwa MUI dikeluarkan dengan tujuan menyejahterakan kehidupan bernegara. Dari pernikah an, akan lahir anak-anak sebagai keturunan dari pasangan yang menikah, yakni suami dan istri. Jika ayah dan ibu berbeda agama maka sesungguhnya keduanya mengorbankan pendidikan agama bagi si anak.
       Bayangkan ketika kemudian sang anak melihat ibunya ke gereja dan melihat ayahnya ke masjid atau sebaliknya. Anak-anak yang tumbuh d ngan keadaan seperti itu akan memiliki landasan agama yang lemah. Dan itu akan memberikan dampak yang jauh lebih besar pada masa yang akan datang ketika si anak tumbuh dewasa tanpa bekal agama yang mantap.
       Dalam sebuah sunah Rasul yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” Dari sini, kita bisa melihat betapa esensialnya pernikahan dalam menentukan masa depan generasi Islam.
       Ketika pernikahan beda agama diposisikan sebagai hak yang harus dihargai, apa yang Anda lihat di balik fakta tersebut?
       Ini gejala perang budaya. Masyarakat semakin permisif terhadap hal-hal yang jauh dari budaya timur. Pergaulan bebas adalah contoh dari sikap permisif tersebut, juga pornografi dan pornoaksi. Akibatnya, negara bisa semakin amburadul.
       Selain itu, ketika berbicara tentang demokrasi atau hak asasi, kita perlu mempertanyakan, “Demokrasi seperti apa yang kita bangun? Dan hak asasi siapakah yang kita junjung dan perjuangkan?”
       Dalam memperoleh haknya, manusia diharuskan menghargai hak asasi manusia lainnya, bukan? Maka, pemenuhan hak asasi tentu tidak diperkenankan jika ia merugikan orang lain. Itu baru dari hubungan kemanusiaan. Bagaimana dengan hubungan ketuhanan?
       Kita berhak atas oksigen yang kita hirup setiap waktu. Dari siapa itu? Ini persoalan krusial, manusia sering mengutamakan hak asasinya atau berusaha memperjuangkan hak asasi sesamanya, namun melupakan hak asasi Tuhan. Dari semua hal yang diserahkan Tuhan kepada ma nusia untuk menjadi hak mereka, Tuhan punya hak berupa ketentuan yang harus ditaati.
       Jadi, konsep demokrasi dan hak asasi tidak berlawanan dengan Islam jika tidak mengesampingkan konsep ketuhanan?
       Saya rasa demikian. Jika sekarang demokrasi dan hak asasi yang banyak diserukan jauh dari nilai-nilai Islam, itu karena manusianya. Manusialah yang menjadikan demo krasi tidak Islami. Maka, pesan bagi umat Islam hanya satu, taati ajaran Allah dan Rasul-Nya.
       Apakah longgarnya pernikahan beda agama ini karena kurang maksimalnya peran kaum alim ulama?
       Saya tidak bisa mengatakan demikian. Namun, menurut saya, itu adalah salah satu faktor di antara sejumlah faktor penyebab lainnya. Pe rang budaya adalah kondisi yang tidak dapat dihindari sehingga ia adalah tantangan. Tantangan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi dengan cara memperkuat diri. Dan itu hanya mungkin dengan fondasi agama.
       Dengan fondasi yang kuat, bangunan budaya dan keyakinan umat Islam akan mampu bertahan meski di tengah terjangan perang budaya yang parah sekalipun. Dan sebaliknya, tanpa itu, kita ibarat orang yang tidak dapat berbuat apa-apa ketika rumah atau kamar kita dimasuki oleh orang asing.
       Kaum alim ulama dituntut untuk tidak hanya berkutat pada hal-hal terkait keulamaannya. Forum-forum komunikasi ulama sudah ada, tinggal dimaksimalkan. Dakwah dan syiar Islam di Indonesia memerlukan ma najemen dan konsep yang matang, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
      Saya menyayangkan bahwa saat ini masih banyak dai yang belum mampu menyentuh hati jamaah atau umatnya. Padahal, dakwah bertujuan menghasilkan perubahan pada umat yang menjadi sasarannya. Dan niat serta langkah menuju perubahan tersebut dimulai dari hati.
       Apa harapan Anda?
      Pertama, saya ingin menegaskan bahwa hal penting dalam kehidupan adalah agama. Karena itu, pendidikan yang paling penting sebagai bekal kehidupan adalah pendidikan agama. Kini, semakin banyak orang tua yang menyekolahkan anakanaknya di sekolah-sekolah mahal bertaraf internasional, namun melupakan pendidikan agama bagi mereka.
       Yang lebih penting lagi adalah lingkungan keluarga di mana orang tua mula-mula men-setting pendidikan agama. Orang tua diharapkan memberikan teladan keagamaan yang baik bagi anak-anaknya. Di sini, pernikahan beda agama tentu menyumbang mudharat bagi pendidikan agama yang dibutuhkan oleh anak.
      Kedua, saya ingin mengingatkan umat Islam untuk tidak mengesam pingkan aspek ketuhanan saat ber bicara demokrasi ataupun hak asasi. Sebagai bangsa berketuhanan, kita akan menghancurkan negara kita sendiri jika terus-menerus berteriak tentang hak asasi manusia dan melupakan hak asasi Tuhan. Dan sebagai umat Islam, kita akan hancur jika terus menjauhi Alquran dan sunah Rasul.
       Terakhir, tentu saya berharap, para dai terus memaksimalkan fungsi dakwah mereka serta meningkatkan kualitas dari dakwah itu sendiri melalui berbagai media, termasuk media kreatif. Dengan manajemen yang terarah, dakwah diharapkan dapat terus memenuhi tuntutan masya rakat dan serta tuntutan zaman.
       






    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.