Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[FKM-SAPARUA] KESAKSIAN DAN SERUAN DARI BALIK TERALI BESI

Expand Messages
  • AreopagusVII@cs.com
    FKM News Network: FRONT KEDAULATAN MALUKU (FKM) PERWAKILAN PULAU SAPARUA ... KILAS BALIK: SAPARUA BERDARAH TANGGAL 25 April 2002 Panggung politik dihiasi
    Message 1 of 1 , Oct 11, 2002
    • 0 Attachment
      FKM News Network:

      FRONT KEDAULATAN MALUKU
      (FKM)
      PERWAKILAN PULAU SAPARUA
      ----------------------------------------------------------------------------------

      KILAS BALIK:


      SAPARUA BERDARAH TANGGAL 25 April 2002


      Panggung politik dihiasi perjuangan anak bangsa Maluku/Alifuru, ditengah masih deras mengalirnya arus rezim Orde Baru, yang terus berkuasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang rasanya sangat sulit untuk digeserkan dari posisi mereka sebelumnya.

      Penguasa (Pemerintah) yang tidak serius memikirkan nasib rakyat yang lemah, miskin, pengangguran dan terlantar dimana-mana, bahkan permasalahan sosial dan ekonomi semakin menekan rakyat kecil, sementara pengusaha dan konglomerat berperan selaku penguasa.

      Hak ulayat adat dari anak-anak bangsa Maluku/Alifuru terhadap tanah-tanah adat yang diwariskan oleh para leluhur bangsa Maluku/Alifuru dari kerajaan Nunusaku dan Sahulau, kepada anak cucunya, telah dirampas dan dikapling dengan seenaknya oleh pengusaha dan penguasa untuk kepentingan bisnis dan politik.

      Penguasa telah mendatangkan ke Maluku secara besar-besaran suku bangsa Jawa muslim, lewat program transmigrasi nasional yang sarat dengan tindakan diskriminasi, sementara anak bangsa Maluku/Alifuru, selaku penduduk asli disisihkan.

      Di bidang Politik dan Birokrasi, sangat jelas tampak ketidak adilan atau tindakan diskriminasi, dimana anak bangsa Maluku/Alifuru tidak diberikan kesempatan sama sekali untuk berkembang sebagaimana layaknya, kalaupun ada hanya bagaikan pemberian “gula-gula” (permen) kepada anak kecil yang sementara menangis, namun pada akhirnya terlantar juga.

      Oleh karena itu, sebagai anak bangsa Maluku/Alifuru, yang mencintai bangsa dan tanah air Maluku, kami bangkit dengan semangat Pattimura Muda, demi menyikapi “Tragedi Kemanusiaan” yang menimpa Maluku sudah lebih dari tiga tahun, dan mengakibatkan begitu banyaknya anak bangsa Maluku/Alifuru yang tewas mengenaskan dan cacat seumur hidup, banyak perempuan menjadi janda, anak-anak menjadi yatim/piatu, tidak sedikit negeri-negeri adat terpaksa harus ditinggalkan penduduknya karena digusur oleh para penyerang/perusuh, yang tidak lain adalah TNI dan Laskar Jihad yang berasal dari luar Maluku dan setelah menggusur mereka lalu menguasai lokasi-lokasi bekas negeri-negeri tersebut.

      Dari kenyataan inilah, kami anak bangsa Maluku/Alifuru, bangkit lewat perjuangan moral, demi menegakkan kebenaran dan keadilan dalam payung perjuangan FRONT KEDAULATAN MALUKU (FKM), yang juga berperan dalam menegakkan Hak-hak Azasi Manusia bangsa Maluku/Alifuru.

      Sebagai manusia yang beradab dan tahu menghormati pemimpin, maka kami pimpinan perwakilan Front Kedaulatan Maluku (FKM) Pulau Saparua, telah mengadakan pendekatan kepada Pimpinan Kecamatan Saparua yaitu Camat dan Komandan Koramil, telah terjadi dialog tentang rencana FKM Pulau Saparua yang akan mengadakan upacara peringatan Hari Proklamasi RMS pada tanggal 25 April 2002 di Saparua.

      Bahwa rencana tersebut berdasarkan kepada seruan pimpinan FKM Dr. A.H.Manuputty tentang peringatan Hari Proklamasi RMS tersebut, dan kami dari perwakilan Pulau Saparua telah sepakat akan melaksanakan upacara tersebut lewat proses yang beradab dan damai, namun yang kami terima dari para pemimpin NKRI di tingkat kecamatan Saparua adalah tindakan brutal dan tidak berperi kemanusiaan, yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Kecamatan bersama Komandan Koramil, Letnan TNI Yance Latupeirissa, bersama anggota TNI dari Koramil dan anggota Polri dari Polsek Saparua, serta anggota Brimob BKO dari Polda Nusa Tenggara Barat.

      Kami dianiaya oleh para aparat TNI dan POLRI/Brimob tersebut dengan cara dipukul dengan tangan dan popor senajata, ditusuk dengan laras senjata, ditendang dengan sepatu boot, disuruh jungkir balik diatas jalan raya, disuruh merayap, ditelanjangi hingga hanya memakai celana dalam/kolor, bahkan ada aparat Brimob yang menyuruh kami untuk memakan bendera RMS “Benang Raja”.

      Akibat dari tindakan penganiayaan tersebut terhadap anak bangsa Maluku / Alifuru / Ina, di Saparua, sampai kini ada beberapa anak bangsa yang menderita yaitu :

      Gerson Luhulima, Stevie Likumahua
      dan Rudolf Siahailatua menderita sakit pada bagian hidungnya (saraf penciumannya tidak berfungsi lagi).

      Stevie Likumahua, Johanes Sopacua, Rudolf Siahailatua, Demianus Lessyl
      dan Selis Metekohy , menderita sakit pada bagian telinga (tidak bisa mendengar dengan sempurna lagi),

      Demianus Lessyl
      , menderita sakit pada bagian ginjal dan bagian bawah perutnya (air seninya selalu bercampur sperma).

      William Lawalata
      dan Papilaya , menderita gangguan saraf, sering hilang ingatan.

      Beberapa tindakan brutal oknum TNI dan POLRI / Brimob yang tidak mungkin dilupakan seumur hidup, adalah ketika kami disuruh memakan Bendera RMS “Benang Raja” oleh oknum Brimob, disiram dengan air got/selokan kotor, dimaki-maki dan dituduh sebagai PKI dan lain-lain tindakan yang sangat tidak berprikemanusiaan.

      Pada hari itu, tanggal 25 April 2002, sekitar pukul 11.30 waktu Maluku, kami berjumlah 17 (tujuh belas) orang langsung dievakuasi ke Ambon dan ditahan di Mapolda Maluku,kami diperlakukan secara tidak wajar di dalam ruang tahanan oleh beberapa oknum Brimob BKO, antara lain melarang kami berdoa atau beribadah secara bersama-sama, dan dimalam hari kami sering disiram dengan air, dan ketika saat diperiksa oleh aparat kepolisian, tiga orang anak bangsa Maluku/Alifuru/Ina yaitu : Yunus Markus, William Lawalata dan Selis Metekohy, dianiaya / dipukul oleh Brigadir satu Raymond Manuhutu.

      Tanggal 30 April 2002, kami dipindahkan ke rumah tahanan Markas Polisi Militer Kodam XVI Pattimura, kami sangat tidak mengerti alasan apa sehingga kami harus ditahan di Mapomdam, kami toh bukan militer atau pemberontak bersenjata, kami hanya pejuang moral yang cinta damai dan kami memperjuangkan kedamaian dalam keadilan dan kebenaran di bumi seribu pulau, Maluku Tanah Air tercinta.

      Ketika kami ditahan di Mapomdam, kami menemukan pengalaman yang sama seperti di Mapolda, yaitu ketika kami sedang berdoa / beribadah secara bersama, beberapa anggota Polisi Militer, mengganggu kami dengan cara menendang pintu ruang tahanan bahkan salah seorang oknum Pomdam Letnan Dua Sumantoyo, memaki-maki kami dengan kata-kata kotor dan menghina ibadah kami sebagai orang Kristen.

      Menyikapi pengalaman pahit yang kami rasakan sebagai anak bangsa Maluku/Alifuru/Ina, yang sementara memperjuangkan ditegakkannya hak-hak bangsa yang tertindas, termasuk bangsa Maluku/Alifuru/Ina ras Melanesia untuk segera bebas dari cengkeraman penjajah yang kejam, biadab, dan rakus (NKRI), yang selalu bertindak secara arogan dan anarkhis dengan mengandalkan militernya ( TNI dan POLRI ),

      "Kami menyerukan kepada semua komponen NGO / LSM yang peduli terhadap Hak Asasi Manusia dan Pembebasan bangsa-bangsa tertindas, agar dapat memberikan perhatian khusus terhadap penderitaan Bangsa Maluku/Alifuru/Ina ras Melanesia yang masih berada dalam penindasan penjajah Jawa / Indonesia".

      Akhirnya kami 15 (lima belas) anak bangsa Maluku/Alifuru/Ina, lebih rela menderita demi memperjuangkan sebuah kebenaran di bumi Maluku, demi anak bangsa baik Kristen/Sarani, maupun Muslim/Salam, yang sudah sangat merindukan hadirnya kedamaian bagi kehidupan anak bangsa Maluku/Alifuru/Ina ras Melanesia, kami mohon doakanlah kami selalu. Tak lupa kami ucapkan terima kasih, teriring salam dan doa.

      Kilas balik ini kami buat dari dalam rumah tahanan Ambon, berdasarkan kebenaran dan Kejujuran, serta rasa Takut kepada Tuhan, karena kami ingin menegakkan Kebenaran, Kejujuran dan Keadilan, serta meluruskan sejarah Bangsa Maluku dan Negara Republik Maluku Selatan.

      Syaloom dan Wassalam.

      M E N A  MOER I A !


      Ambon, 7 Oktober 2002


      FRONT
      KEDAULATAN MALUKU
      PERWAKILAN PULAU SAPARUA

      Tertanda dibawah ini kami anak bangsa Maluku/Alifuru/Ina yang dianiaya:



      "Undure, undure apa datang dari muka jang undureeee !!!"
      [Thomas Matulessy]


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.