Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Tulisan Yang Tertunda

Expand Messages
  • Alan Sebastian
    Shalom, Ternyata milist ini bangkit kembali, jadi ingin menulis disini. Sebenarnya sudah ingin tulis ini dari 12 bulan yang lalu, sekitar bulan Maret 2012.
    Message 1 of 3 , Mar 15, 2013

      Shalom,

      Ternyata milist ini bangkit kembali, jadi ingin menulis disini. Sebenarnya sudah ingin tulis ini dari 12 bulan yang lalu, sekitar bulan Maret 2012. Kesaksian seorang ibu dengan 3 anak yang mengalami peristiwa-peristiwa yang menakjubkan yang Tuhan kerjakan pada suaminya.

      And the story begins………………

       Singapura; Maret 2012,

      Masih saya ingat dengan jelas kala itu hari Jumat dalam masa prapaskah, seperti biasa saya keluar kantor pk. 18.00 bergegas ke halte bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Blessed Sacrament Church demi mengikuti ibadah jalan salib pk. 18.30. Setelah turun dari bus, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gereja. Tidak lebih dari 20 langkah, ada pesan yang masuk di blackberry-ku berisi "Papa udah meninggal jam 4 tadi". Seketika langkah kaki ku bergetar sembari melambatkan laju dan segera membalas pesan tersebut sekedar menanyakan kondisinya dan keluarga yang lain seperti apa. Dia pun membalas "aku gpp oq, sekarang mau urus administrasi rumah sakit sama rumah duka". Didepan pintu Gereja saya masih hilang konsentrasi, saya sungguh bingung apa yang harus saya lakukan. Saya sedih, saya kalut, saya tahan tangis. Dengan nafas yang hanya mampu setengah tarikan, saya duduk didalam Gereja, berlutut dan berdoa meskipun otak dan Roh ku benar benar tidak sejalan.

      Kabar selanjutnya adalah jenazah akan disemayamkan pada hari Selasa. Ada keinginanku untuk kembali ke Indonesia demi mengikuti upacara pemakaman. Namun, saya bingung bagaimana meminta cuti karena saat itu akhir pekan. Memang dia mengatakan bahwa mereka semua baik-baik saja, tapi saya yang akan tidak baik jika saya tidak berada disana untuk memberi penghormatan terakhir. Oleh karena itu, tiket untuk penerbangan hari Senin siang saya beli segera. Dengan atau tanpa ijin dari kantor saya akan tetap berangkat pikirku. Senin pagi, saya kirim email kepada HRD dan admin department hanya untuk menginformasikan bahwa saya pulang ke Indonesia (urgent leave) dan akan kembali bekerja hari Rabu. Rute penerbangan Singapura-Jakarta-Semarang yang memakan waktu 5jam dan ditambah dengan perjalanan darat Semarang-Pati dan akhirnya pk 21.00 (WIB) saya sampai di rumah duka. Masih ada kesedihan dalam hatiku ketika berjalan menuju peti tempat jenazah dibaringkan, namun suasana di rumah duka tidak menampakkan suasana berduka! Keluarga almarhum terpaksa menyewa semua unit di rumah duka karena orang yang hadir sangat banyak sekali, penuh dengan hidangan khas daerah dan juga lagu-lagu pujian. Tapi ketika saya melihat jenazah yang terbaring, saya tidak mampu menahan kelenjar air mataku. Yang membuat saya malu, justru tidak ada satupun dari keluarga almarhum yang menangis! Mereka semua sibuk untuk menjamu orang yang hadir serta sedikit bercerita apa yang terjadi.

      Tiba hari pemakaman didahului dengan misa pelepasan jenazah di Gereja Santo Yusuf, selasa pagi hari. Kalimat yang masih saya ingat ketika istri dari almarhum memberikan pesan singkat di altar sebelum misa dibubarkan dengan lantang dia berkata "Pak Rudy sama sekali tidak sakit, dia tidak merasakan sakit. Memang dia kadang mengeluh karena bosan minum obat-obatan, tetapi beliau tidak sakit. Apa yang terjadi semua sudah diperkenankan Tuhan!".  Bedakan ketegaran yang diucapkan seseorang yang mendapatakan dengan seorang yang kehilangan. Aneh memang, sungguh aneh dan saat itu saya masih belum tahu apa yang membuat keluarga ini begitu tegar, bukan sesuatu yang dibuat melainkan memang ada sesuatu yang membuat mereka ikhlas dengan apa yang Tuhan sudah perkenankan.

      Prosesi pemakaman sudah selesai dan tiba waktuku untuk segera berangkat ke bandara Adi Sucipto karena saya harus kembali ke Singapura. Perasaanku saat itu biasa saja, ya timbul kekaguman atas ketegaran keluarga itu. Yang sungguh menumbuhkan imanku adalah sepenggal kalimat bahwa segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan. Sepuluh menit sebelum tiba di bandara, ada pesan yang masuk di blackberry ku berisi "Len, emak meninggal. Km dmna?". Saat itulah pertama kali saya merasa otak ini tidak ada isinya sama sekali, benar-benar kosong selama beberapa detik. Saya minta untuk berhentikan mobil di pom bensin terdekat untuk membeli air dan roti. Segera aku telpon papaku, dan dia katakan bahwa jenazah nenekku akan dimakamkan hari Senin. Saya berusaha untuk memperpanjang cutiku, namun Senin saya sudah harus masuk dan bekerja. Baiklah pikirku, aku ingin datang dan menutup peti nenekku sudah cukup. Tiket tidak bisa di refund, dan langsung saya beli untuk penerbangan Jakarta – Surabaya hari itu juga. Yang masih menguatkan aku adalah bahwa semua sudah diperkenankan Tuhan! Selalu ada rencana yang manusia tidak bisa mengerti. Kenapa tidak bisa? Ya karena memang tidak bisa! (Pengkotbah 3:11).

      Sesampainya di Surabaya, kulanjutkan perjalananku ke Pasuruan. Langsung bergegas aku menuju kamar mayat untuk melihat jenazah yang sudah dikafani. Hal yang aku tanyakan pada ayahku "mana rosario seng dulu tak kalungin?" "Oh tadi waktu mandiin jenazah dilepas" jawab ayahku seraya menyerahkan rosario tersebut ke kakakku. Nenekku meninggal sebagai seorang Budhis, dan upacara serta doa mengikuti tata cara Budhis. Beberapa kali ayahku menawari almarhum untuk menjadi seorang nasrani, namun memang belum ada panggilan dalam dirinya. Sebelum peti ditutup dan disegel, aku suruh kakakku untuk meletakkan Rosario didalam petinya karena masih ingat sekali bahwa teman dari Avila pernah memposting sebuah artikel kurang lebih seperti ini, jika seseorang meninggal dunia sedang bersama Rosario, maka kerahiman Tuhan akan diberikan kepada orang tersebut. Benar atau tidaknya saya tidak tahu, tapi saya mau percaya saja sembari tetap berdoa untuk arwah. Ya, saya sudah kalungkan Rosario tersebut beberapa bulan sebelum nenekku dipanggil Tuhan (beberapa minggu setelah saya baca artikel yang dipost di milist Avila ini).

      "Segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan"

      Semarang; Februari, 2013.

      Saya sudah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 2012. Sungguh senang rasanya bisa berkumpul dengan keluarga dan berbagi cerita serta merasakan kembali masakan-masakan nusantara yang menggoyang lidah. Sudah lama rasanya saya tidak berkunjung ke Semarang dan tidak terasa bahwa bulan maret mendatang adalah peringatan 1 tahun wafatnya om Rudy dan tentunya nenekku. Hal yang menyenangkan disana adalah saat mencicipi hidangan daerah yang enak bagiku (tasteful!). Tidak lama aku tinggal disana, hanya sebatas menggunakan libur weekend ku. Hari minggu malam pun aku harus kembali ke Jakarta dengan menggunakan bus malam. Keluarga tersebut mengantarkan ku menuju pool tempat bus yang akan saya tumpangi. Namun, sebelum itu kami sempat berkunjung kerumah seorang mantan sopir keluarga ini yang sedang dalam kondisi ginjalnya rusak dan mata nya sudah buta. Yang menjadikan dia "mantan sopir" adalah perbuatan yang mengecewakan keluarga ini sehingga memutuskan hubungan kerjanya. Namun saat itu kami hadir dengan penuh empati, tidak ada sama sekali yang disebut pihak yang menyakiti dan pihak yang tersakiti. Ada sesuatu yang bisa dibilang menggelikan, mustahil, ngeri, saat sopir ini bilang "Cik, kapan hari aku telpon rumah semeru trus diangkat bapak-bapak katae koh Rudy lagi berobat di Singapur sama cicik sama Evlyn". Seketika ibu tersebut menimpali "Wong rumah itu kosong udah ga ditinggali kok, lagian waktu kamu telpon koh Rudy udah meninggal" dan semua dari kami tertawa. Memang banyak peristiwa aneh yang dialami oleh orang-orang yang dekat dengan almarhum, tapi kita kesampingkan materi yang bersifat mistis. Sebelum kami pamit, ibu itu bercerita dan memberikan kesaksian tentang kemurahan Tuhan yang diberikan pada om Rudy untuk menguatkan mantan sopir tersebut.

      Tahun 1999, dokter menemukan bahwa ada kelainan jantung dari kecil yang tidak disadari oleh om Rudy. Jika tidak segera "dibenahi" dalam 3 bulan, nyawa tidak akan tertolong. Tindakan medik pun diambil untuk membuat kleb artifisial (yang menghubungkan serambi dengan bilik). Sebagian tulang rusuk om Rudy harus dipotong guna memasang kleb buatan tersebut. Tindakan medik tersebut berhasil mengeliminasi vonis 3 bulan itu. Apa yang dibuat oleh manusia memang tidak akan pernah sesempurna yang dibuat oleh Tuhan, ada kompensasi yang harus diterima yakni ada obat pengencer darah yang harus diminum secara berkelanjutan agar tidak memberikan efek negatif pada kleb artificial nya.

      Tahun 2004, terjadi pendarahan di otak om Rudy yang belakangan diketahui akibat aktifitas konsumsi obat pengencer darah sehingga membuat darah tersebut masuk ke otak, ya bak makan buah simalakama. Segera om Rudy dibawa ke Rumah Sakit karena daya ingat om Rudy juga mulai hilang. Namun ternyata dokter setempat sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan menyarankan untuk berpasrah akibat darah sudah semakin memenuhi otak om Rudy. Sebagai seorang istri, tindakan apapun harus dicoba sembari menguatkan, mendampingi dan terus berdoa. Karena kondisi om Rudy yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa, istrinya menyiapkan document yang diperlukan untuk pergi ke Singapura dengan harapan ada solusii medis lain yang bisa menolong om Rudy. Kenyataannya, tim dokter di Singapura pun angkat tangan. Pulanglah kembali mereka ke Semarang. Didalam doanya, om Rudy hanya meminta agar dia punya iman meskipun kecil seperti biji sesawi, ya, hanya itu yang dia pinta didalam doanya. Ketika manusia sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, iman yang akan mengerjakannya. Tengah malam yang membuat om Rudy tidak bisa tidur, beliau ke kamar mandi dan berdoa memohon ampun pada Tuhan. Manifestasi-pun terjadi seperti ada aliran dari ujung kaki ke kepala seakan-akan ada sesuatu yang hilang. Om Rudy bertanya apa yang baru saja terjadi, kok seakan ada sesuatu yang diambil daripadanya.

      Tak lama dari peristiwa itu, pengecekan CT scan kembali dilakukan untuk memonitor kondisi om Rudy. Lama berselang menunggu hasil CT scan, berulang kali suster rumah sakit tersebut memanggil om Rudy dan bertanya-tanya. Dokter tidak percaya akan hasil CT scan tersebut, sebab diwaktu yang lalu dokter tersebut menyerah tidak bisa menyembuhkan om Rudy, nyatanya pendarahan tersebut hilang dan normal kembali! Teringatlah mereka akan manifestasi yang om Rudy rasakan saat dia berdoa didalam kamar mandi pada waktu malam, Tuhan yang ambil sakit penyakitnya! Itulah iman yang memindahkan gunung. Pada masa sulitnya om Rudy bercerita bahwa pada suatu hari ada seseorang bernama Rudy yang datang padanya dan memberikan sesuatu namun om Rudy menolaknya dan orang tersebut menaruhnya di saku kemeja yang tergatung didinding. Saat malam, om Rudy berpikir bahwa apa yang tadi orang berikan  amplop berisi uang namun ternyata bunga. Om rudy heran untuk apa bunga ini, akhirnya bunga tersebut dimasukkan didalam closet dan dibuang. Tidak ada yang tahu pasti siapa "Rudy" tersebut dan apa tujuan dia datang dan memberi bunga. Istrinya selalu berdoa dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Pada suatu ketika dia membaca sebuah buku renungan yang diambil dari kitab Daniel 3:1-30. Dikisahkan tiga pemuda Shadrach, Meshach, Abednego yang diperintahkan dengan paksa oleh Nebuchadnezzar untuk menyembah patung emas buatannya namun mereka menolak dan dimasukkan dalam tungku perapian yang sangat panas. Mereka katakan pada Nebuchadnezzar "If our God whom we are serving exists, he is able to rescue us from the furnace of blazing fire, and he will rescue us, o King, from your power as well. But if not, let it be known to you, O King, that we will not pay homage to the golden statute that you have erected." Ternyata Nebuchadnezzar melihat 4 orang didalam tungku perapian dan dia menduga bahwa orang ke empat tersebut adalah Tuhan yang hadir dan menyelamatkan Shadrach, Meshach dan Abednego. Seketika sang istri teringat akan cerita tadi saat om Rudy diberi "bunga" yang bisa jadi jimat-jimatan dan lain sebagainya, namun om Rudy tetap memilih untuk percaya bahwa Tuhan lah yang mampu menyelamatkan dia! Ketaatan dan takut akan Tuhan yang mampu menyelamatkan, disaat yang sangat sulit ternyata Tuhan sungguh hadir dan memberikan muzizat.

      Delapan tahun setelahnya, didapati bahwa fungsi ginjal om Rudy semakin memburuk akibat tekanan darah yang tinggi. Monitoring dan check up dilakukan semakin intensif, namun tidak sekalipun om Rudy diminta untuk cuci darah karena dokter melihat semua baik saja dan itupun karena campur tangan Tuhan. Sampai pada waktunya Tuhan panggil om Rudy, tidak ada keluhan kesakitan hanya sebatas bosan mengkonsumsi obat-obatan. Itu semua sudah Tuhan perkenankan dan peristiwa-peristiwa ajaib itulah yang Tuhan perlihatkan pada keluarga om Rudy sehingga iman-pun semakin bertumbuh. Tidak ada yang mustahil tetapi Tuhan selalu punya rencana-Nya sendiri untuk manusia".

      Setelah menyampaikan kesaksian itu, kami bergegas untuk pulang mengantarkanku ke pool tempat bus malam yang akan aku tumpangi. Didalam mobil, aku seperti mendapat jawaban tentang keherananku kala itu. Mengapa saat kematian om Rudy tidak ada yang menangis atau bersedih. Ya, kini aku mengerti karena Tuhan sungguh begitu baik dan berkarya nyata pada om Rudy dan bagaimanapun Tuhan selalu punya rencana, rencana damai sejahtera, juga terhadap kematian nenekku. Itulah yang aku imani dan amini selalu, semua sudah Tuhan perkenankan untuk terjadi.

      Sedikit pesan dari ibu ini untuk sesering mungkin membaca Kitab Suci karena disanalah Tuhan ingin berbicara kepada kita. Karya Allah memang dapat dilihat dari perwahyuan dan mukzizat. Jika mukzizat yang adikodrati tersebut sudah ditunjukkan pada om Rudy, maka wahyu Allah bisa kita lihat di Alkitab.

      "Jikalau kamu berdoa, mintalah Tuhan untuk menambahkan imanmu"

      "Jika Tuhan yang kami layani ADA, maka Ia akan menyelamatkan kami!"

      Faith

      Sees the invisible

      Believe the unbelievable

      And receive the impossible

       

       

      This story is dedicated to Rudy Harsono's Family: Mrs. Rudy, Stefan, Evlyn, Marcellia.

      Commemorating a year after the eternal rest of Mr. Rudy (09 March 2013) and My beloved Grandma Nio (13 March 2013). May all of the soul be forgiven and allowed to enter the heavenly kingdom, O Lord.

       

      Demikian tulisan yang sempat tertunda selama satu tahun kemarin. Semoga berkenan dan menjadi berkat bagiku dan bagimu. May peace, love and forgiveness from God overwhelm you all.

      Best Regards,

      Alan

       

    • deviyu_lestari
      TThanks alan.. Menjadi berkat buat sy secara pribadi.. Pengalaman iman yang luar biasa.. Thanks for sharing.. ^_^ Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry®
      Message 2 of 3 , Mar 15, 2013
        TThanks alan..


        Menjadi berkat buat sy secara pribadi..
        Pengalaman iman yang luar biasa..


        Thanks for sharing..

        ^_^
        Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

        From: "Alan Sebastian" <schandra_alan@...>
        Sender: TheresiaAvilla@yahoogroups.com
        Date: Fri, 15 Mar 2013 12:07:44 -0000
        To: <TheresiaAvilla@yahoogroups.com>
        ReplyTo: TheresiaAvilla@yahoogroups.com
        Subject: [TheresiaAvilla] Tulisan Yang Tertunda

         

        Shalom,

        Ternyata milist ini bangkit kembali, jadi ingin menulis disini. Sebenarnya sudah ingin tulis ini dari 12 bulan yang lalu, sekitar bulan Maret 2012. Kesaksian seorang ibu dengan 3 anak yang mengalami peristiwa-peristiwa yang menakjubkan yang Tuhan kerjakan pada suaminya.

        And the story begins………………

         Singapura; Maret 2012,

        Masih saya ingat dengan jelas kala itu hari Jumat dalam masa prapaskah, seperti biasa saya keluar kantor pk. 18.00 bergegas ke halte bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Blessed Sacrament Church demi mengikuti ibadah jalan salib pk. 18.30. Setelah turun dari bus, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gereja. Tidak lebih dari 20 langkah, ada pesan yang masuk di blackberry-ku berisi "Papa udah meninggal jam 4 tadi". Seketika langkah kaki ku bergetar sembari melambatkan laju dan segera membalas pesan tersebut sekedar menanyakan kondisinya dan keluarga yang lain seperti apa. Dia pun membalas "aku gpp oq, sekarang mau urus administrasi rumah sakit sama rumah duka". Didepan pintu Gereja saya masih hilang konsentrasi, saya sungguh bingung apa yang harus saya lakukan. Saya sedih, saya kalut, saya tahan tangis. Dengan nafas yang hanya mampu setengah tarikan, saya duduk didalam Gereja, berlutut dan berdoa meskipun otak dan Roh ku benar benar tidak sejalan.

        Kabar selanjutnya adalah jenazah akan disemayamkan pada hari Selasa. Ada keinginanku untuk kembali ke Indonesia demi mengikuti upacara pemakaman. Namun, saya bingung bagaimana meminta cuti karena saat itu akhir pekan. Memang dia mengatakan bahwa mereka semua baik-baik saja, tapi saya yang akan tidak baik jika saya tidak berada disana untuk memberi penghormatan terakhir. Oleh karena itu, tiket untuk penerbangan hari Senin siang saya beli segera. Dengan atau tanpa ijin dari kantor saya akan tetap berangkat pikirku. Senin pagi, saya kirim email kepada HRD dan admin department hanya untuk menginformasikan bahwa saya pulang ke Indonesia (urgent leave) dan akan kembali bekerja hari Rabu. Rute penerbangan Singapura-Jakarta-Semarang yang memakan waktu 5jam dan ditambah dengan perjalanan darat Semarang-Pati dan akhirnya pk 21.00 (WIB) saya sampai di rumah duka. Masih ada kesedihan dalam hatiku ketika berjalan menuju peti tempat jenazah dibaringkan, namun suasana di rumah duka tidak menampakkan suasana berduka! Keluarga almarhum terpaksa menyewa semua unit di rumah duka karena orang yang hadir sangat banyak sekali, penuh dengan hidangan khas daerah dan juga lagu-lagu pujian. Tapi ketika saya melihat jenazah yang terbaring, saya tidak mampu menahan kelenjar air mataku. Yang membuat saya malu, justru tidak ada satupun dari keluarga almarhum yang menangis! Mereka semua sibuk untuk menjamu orang yang hadir serta sedikit bercerita apa yang terjadi.

        Tiba hari pemakaman didahului dengan misa pelepasan jenazah di Gereja Santo Yusuf, selasa pagi hari. Kalimat yang masih saya ingat ketika istri dari almarhum memberikan pesan singkat di altar sebelum misa dibubarkan dengan lantang dia berkata "Pak Rudy sama sekali tidak sakit, dia tidak merasakan sakit. Memang dia kadang mengeluh karena bosan minum obat-obatan, tetapi beliau tidak sakit. Apa yang terjadi semua sudah diperkenankan Tuhan!".  Bedakan ketegaran yang diucapkan seseorang yang mendapatakan dengan seorang yang kehilangan. Aneh memang, sungguh aneh dan saat itu saya masih belum tahu apa yang membuat keluarga ini begitu tegar, bukan sesuatu yang dibuat melainkan memang ada sesuatu yang membuat mereka ikhlas dengan apa yang Tuhan sudah perkenankan.

        Prosesi pemakaman sudah selesai dan tiba waktuku untuk segera berangkat ke bandara Adi Sucipto karena saya harus kembali ke Singapura. Perasaanku saat itu biasa saja, ya timbul kekaguman atas ketegaran keluarga itu. Yang sungguh menumbuhkan imanku adalah sepenggal kalimat bahwa segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan. Sepuluh menit sebelum tiba di bandara, ada pesan yang masuk di blackberry ku berisi "Len, emak meninggal. Km dmna?". Saat itulah pertama kali saya merasa otak ini tidak ada isinya sama sekali, benar-benar kosong selama beberapa detik. Saya minta untuk berhentikan mobil di pom bensin terdekat untuk membeli air dan roti. Segera aku telpon papaku, dan dia katakan bahwa jenazah nenekku akan dimakamkan hari Senin. Saya berusaha untuk memperpanjang cutiku, namun Senin saya sudah harus masuk dan bekerja. Baiklah pikirku, aku ingin datang dan menutup peti nenekku sudah cukup. Tiket tidak bisa di refund, dan langsung saya beli untuk penerbangan Jakarta – Surabaya hari itu juga. Yang masih menguatkan aku adalah bahwa semua sudah diperkenankan Tuhan! Selalu ada rencana yang manusia tidak bisa mengerti. Kenapa tidak bisa? Ya karena memang tidak bisa! (Pengkotbah 3:11).

        Sesampainya di Surabaya, kulanjutkan perjalananku ke Pasuruan. Langsung bergegas aku menuju kamar mayat untuk melihat jenazah yang sudah dikafani. Hal yang aku tanyakan pada ayahku "mana rosario seng dulu tak kalungin?" "Oh tadi waktu mandiin jenazah dilepas" jawab ayahku seraya menyerahkan rosario tersebut ke kakakku. Nenekku meninggal sebagai seorang Budhis, dan upacara serta doa mengikuti tata cara Budhis. Beberapa kali ayahku menawari almarhum untuk menjadi seorang nasrani, namun memang belum ada panggilan dalam dirinya. Sebelum peti ditutup dan disegel, aku suruh kakakku untuk meletakkan Rosario didalam petinya karena masih ingat sekali bahwa teman dari Avila pernah memposting sebuah artikel kurang lebih seperti ini, jika seseorang meninggal dunia sedang bersama Rosario, maka kerahiman Tuhan akan diberikan kepada orang tersebut. Benar atau tidaknya saya tidak tahu, tapi saya mau percaya saja sembari tetap berdoa untuk arwah. Ya, saya sudah kalungkan Rosario tersebut beberapa bulan sebelum nenekku dipanggil Tuhan (beberapa minggu setelah saya baca artikel yang dipost di milist Avila ini).

        "Segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan"

        Semarang; Februari, 2013.

        Saya sudah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 2012. Sungguh senang rasanya bisa berkumpul dengan keluarga dan berbagi cerita serta merasakan kembali masakan-masakan nusantara yang menggoyang lidah. Sudah lama rasanya saya tidak berkunjung ke Semarang dan tidak terasa bahwa bulan maret mendatang adalah peringatan 1 tahun wafatnya om Rudy dan tentunya nenekku. Hal yang menyenangkan disana adalah saat mencicipi hidangan daerah yang enak bagiku (tasteful!). Tidak lama aku tinggal disana, hanya sebatas menggunakan libur weekend ku. Hari minggu malam pun aku harus kembali ke Jakarta dengan menggunakan bus malam. Keluarga tersebut mengantarkan ku menuju pool tempat bus yang akan saya tumpangi. Namun, sebelum itu kami sempat berkunjung kerumah seorang mantan sopir keluarga ini yang sedang dalam kondisi ginjalnya rusak dan mata nya sudah buta. Yang menjadikan dia "mantan sopir" adalah perbuatan yang mengecewakan keluarga ini sehingga memutuskan hubungan kerjanya. Namun saat itu kami hadir dengan penuh empati, tidak ada sama sekali yang disebut pihak yang menyakiti dan pihak yang tersakiti. Ada sesuatu yang bisa dibilang menggelikan, mustahil, ngeri, saat sopir ini bilang "Cik, kapan hari aku telpon rumah semeru trus diangkat bapak-bapak katae koh Rudy lagi berobat di Singapur sama cicik sama Evlyn". Seketika ibu tersebut menimpali "Wong rumah itu kosong udah ga ditinggali kok, lagian waktu kamu telpon koh Rudy udah meninggal" dan semua dari kami tertawa. Memang banyak peristiwa aneh yang dialami oleh orang-orang yang dekat dengan almarhum, tapi kita kesampingkan materi yang bersifat mistis. Sebelum kami pamit, ibu itu bercerita dan memberikan kesaksian tentang kemurahan Tuhan yang diberikan pada om Rudy untuk menguatkan mantan sopir tersebut.

        Tahun 1999, dokter menemukan bahwa ada kelainan jantung dari kecil yang tidak disadari oleh om Rudy. Jika tidak segera "dibenahi" dalam 3 bulan, nyawa tidak akan tertolong. Tindakan medik pun diambil untuk membuat kleb artifisial (yang menghubungkan serambi dengan bilik). Sebagian tulang rusuk om Rudy harus dipotong guna memasang kleb buatan tersebut. Tindakan medik tersebut berhasil mengeliminasi vonis 3 bulan itu. Apa yang dibuat oleh manusia memang tidak akan pernah sesempurna yang dibuat oleh Tuhan, ada kompensasi yang harus diterima yakni ada obat pengencer darah yang harus diminum secara berkelanjutan agar tidak memberikan efek negatif pada kleb artificial nya.

        Tahun 2004, terjadi pendarahan di otak om Rudy yang belakangan diketahui akibat aktifitas konsumsi obat pengencer darah sehingga membuat darah tersebut masuk ke otak, ya bak makan buah simalakama. Segera om Rudy dibawa ke Rumah Sakit karena daya ingat om Rudy juga mulai hilang. Namun ternyata dokter setempat sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan menyarankan untuk berpasrah akibat darah sudah semakin memenuhi otak om Rudy. Sebagai seorang istri, tindakan apapun harus dicoba sembari menguatkan, mendampingi dan terus berdoa. Karena kondisi om Rudy yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa, istrinya menyiapkan document yang diperlukan untuk pergi ke Singapura dengan harapan ada solusii medis lain yang bisa menolong om Rudy. Kenyataannya, tim dokter di Singapura pun angkat tangan. Pulanglah kembali mereka ke Semarang. Didalam doanya, om Rudy hanya meminta agar dia punya iman meskipun kecil seperti biji sesawi, ya, hanya itu yang dia pinta didalam doanya. Ketika manusia sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, iman yang akan mengerjakannya. Tengah malam yang membuat om Rudy tidak bisa tidur, beliau ke kamar mandi dan berdoa memohon ampun pada Tuhan. Manifestasi-pun terjadi seperti ada aliran dari ujung kaki ke kepala seakan-akan ada sesuatu yang hilang. Om Rudy bertanya apa yang baru saja terjadi, kok seakan ada sesuatu yang diambil daripadanya.

        Tak lama dari peristiwa itu, pengecekan CT scan kembali dilakukan untuk memonitor kondisi om Rudy. Lama berselang menunggu hasil CT scan, berulang kali suster rumah sakit tersebut memanggil om Rudy dan bertanya-tanya. Dokter tidak percaya akan hasil CT scan tersebut, sebab diwaktu yang lalu dokter tersebut menyerah tidak bisa menyembuhkan om Rudy, nyatanya pendarahan tersebut hilang dan normal kembali! Teringatlah mereka akan manifestasi yang om Rudy rasakan saat dia berdoa didalam kamar mandi pada waktu malam, Tuhan yang ambil sakit penyakitnya! Itulah iman yang memindahkan gunung. Pada masa sulitnya om Rudy bercerita bahwa pada suatu hari ada seseorang bernama Rudy yang datang padanya dan memberikan sesuatu namun om Rudy menolaknya dan orang tersebut menaruhnya di saku kemeja yang tergatung didinding. Saat malam, om Rudy berpikir bahwa apa yang tadi orang berikan  amplop berisi uang namun ternyata bunga. Om rudy heran untuk apa bunga ini, akhirnya bunga tersebut dimasukkan didalam closet dan dibuang. Tidak ada yang tahu pasti siapa "Rudy" tersebut dan apa tujuan dia datang dan memberi bunga. Istrinya selalu berdoa dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Pada suatu ketika dia membaca sebuah buku renungan yang diambil dari kitab Daniel 3:1-30. Dikisahkan tiga pemuda Shadrach, Meshach, Abednego yang diperintahkan dengan paksa oleh Nebuchadnezzar untuk menyembah patung emas buatannya namun mereka menolak dan dimasukkan dalam tungku perapian yang sangat panas. Mereka katakan pada Nebuchadnezzar "If our God whom we are serving exists, he is able to rescue us from the furnace of blazing fire, and he will rescue us, o King, from your power as well. But if not, let it be known to you, O King, that we will not pay homage to the golden statute that you have erected." Ternyata Nebuchadnezzar melihat 4 orang didalam tungku perapian dan dia menduga bahwa orang ke empat tersebut adalah Tuhan yang hadir dan menyelamatkan Shadrach, Meshach dan Abednego. Seketika sang istri teringat akan cerita tadi saat om Rudy diberi "bunga" yang bisa jadi jimat-jimatan dan lain sebagainya, namun om Rudy tetap memilih untuk percaya bahwa Tuhan lah yang mampu menyelamatkan dia! Ketaatan dan takut akan Tuhan yang mampu menyelamatkan, disaat yang sangat sulit ternyata Tuhan sungguh hadir dan memberikan muzizat.

        Delapan tahun setelahnya, didapati bahwa fungsi ginjal om Rudy semakin memburuk akibat tekanan darah yang tinggi. Monitoring dan check up dilakukan semakin intensif, namun tidak sekalipun om Rudy diminta untuk cuci darah karena dokter melihat semua baik saja dan itupun karena campur tangan Tuhan. Sampai pada waktunya Tuhan panggil om Rudy, tidak ada keluhan kesakitan hanya sebatas bosan mengkonsumsi obat-obatan. Itu semua sudah Tuhan perkenankan dan peristiwa-peristiwa ajaib itulah yang Tuhan perlihatkan pada keluarga om Rudy sehingga iman-pun semakin bertumbuh. Tidak ada yang mustahil tetapi Tuhan selalu punya rencana-Nya sendiri untuk manusia".

        Setelah menyampaikan kesaksian itu, kami bergegas untuk pulang mengantarkanku ke pool tempat bus malam yang akan aku tumpangi. Didalam mobil, aku seperti mendapat jawaban tentang keherananku kala itu. Mengapa saat kematian om Rudy tidak ada yang menangis atau bersedih. Ya, kini aku mengerti karena Tuhan sungguh begitu baik dan berkarya nyata pada om Rudy dan bagaimanapun Tuhan selalu punya rencana, rencana damai sejahtera, juga terhadap kematian nenekku. Itulah yang aku imani dan amini selalu, semua sudah Tuhan perkenankan untuk terjadi.

        Sedikit pesan dari ibu ini untuk sesering mungkin membaca Kitab Suci karena disanalah Tuhan ingin berbicara kepada kita. Karya Allah memang dapat dilihat dari perwahyuan dan mukzizat. Jika mukzizat yang adikodrati tersebut sudah ditunjukkan pada om Rudy, maka wahyu Allah bisa kita lihat di Alkitab.

        "Jikalau kamu berdoa, mintalah Tuhan untuk menambahkan imanmu"

        "Jika Tuhan yang kami layani ADA, maka Ia akan menyelamatkan kami!"

        Faith

        Sees the invisible

        Believe the unbelievable

        And receive the impossible

         

         

        This story is dedicated to Rudy Harsono's Family: Mrs. Rudy, Stefan, Evlyn, Marcellia.

        Commemorating a year after the eternal rest of Mr. Rudy (09 March 2013) and My beloved Grandma Nio (13 March 2013). May all of the soul be forgiven and allowed to enter the heavenly kingdom, O Lord.

         

        Demikian tulisan yang sempat tertunda selama satu tahun kemarin. Semoga berkenan dan menjadi berkat bagiku dan bagimu. May peace, love and forgiveness from God overwhelm you all.

        Best Regards,

        Alan

         

      • David Wijaya
        Nice one, Alan.. muah 2013/3/15 ... -- David Wijaya +6285220827772 Nice one, Alan.. muah 2013/3/15
        Message 3 of 3 , Mar 15, 2013
          Nice one, Alan.. muah


          2013/3/15 <deviyu_lestari@...>
           

          TThanks alan..


          Menjadi berkat buat sy secara pribadi..
          Pengalaman iman yang luar biasa..


          Thanks for sharing..

          ^_^

          Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

          From: "Alan Sebastian" <schandra_alan@...>
          Date: Fri, 15 Mar 2013 12:07:44 -0000
          Subject: [TheresiaAvilla] Tulisan Yang Tertunda

           

          Shalom,

          Ternyata milist ini bangkit kembali, jadi ingin menulis disini. Sebenarnya sudah ingin tulis ini dari 12 bulan yang lalu, sekitar bulan Maret 2012. Kesaksian seorang ibu dengan 3 anak yang mengalami peristiwa-peristiwa yang menakjubkan yang Tuhan kerjakan pada suaminya.

          And the story begins………………

           Singapura; Maret 2012,

          Masih saya ingat dengan jelas kala itu hari Jumat dalam masa prapaskah, seperti biasa saya keluar kantor pk. 18.00 bergegas ke halte bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Blessed Sacrament Church demi mengikuti ibadah jalan salib pk. 18.30. Setelah turun dari bus, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Gereja. Tidak lebih dari 20 langkah, ada pesan yang masuk di blackberry-ku berisi "Papa udah meninggal jam 4 tadi". Seketika langkah kaki ku bergetar sembari melambatkan laju dan segera membalas pesan tersebut sekedar menanyakan kondisinya dan keluarga yang lain seperti apa. Dia pun membalas "aku gpp oq, sekarang mau urus administrasi rumah sakit sama rumah duka". Didepan pintu Gereja saya masih hilang konsentrasi, saya sungguh bingung apa yang harus saya lakukan. Saya sedih, saya kalut, saya tahan tangis. Dengan nafas yang hanya mampu setengah tarikan, saya duduk didalam Gereja, berlutut dan berdoa meskipun otak dan Roh ku benar benar tidak sejalan.

          Kabar selanjutnya adalah jenazah akan disemayamkan pada hari Selasa. Ada keinginanku untuk kembali ke Indonesia demi mengikuti upacara pemakaman. Namun, saya bingung bagaimana meminta cuti karena saat itu akhir pekan. Memang dia mengatakan bahwa mereka semua baik-baik saja, tapi saya yang akan tidak baik jika saya tidak berada disana untuk memberi penghormatan terakhir. Oleh karena itu, tiket untuk penerbangan hari Senin siang saya beli segera. Dengan atau tanpa ijin dari kantor saya akan tetap berangkat pikirku. Senin pagi, saya kirim email kepada HRD dan admin department hanya untuk menginformasikan bahwa saya pulang ke Indonesia (urgent leave) dan akan kembali bekerja hari Rabu. Rute penerbangan Singapura-Jakarta-Semarang yang memakan waktu 5jam dan ditambah dengan perjalanan darat Semarang-Pati dan akhirnya pk 21.00 (WIB) saya sampai di rumah duka. Masih ada kesedihan dalam hatiku ketika berjalan menuju peti tempat jenazah dibaringkan, namun suasana di rumah duka tidak menampakkan suasana berduka! Keluarga almarhum terpaksa menyewa semua unit di rumah duka karena orang yang hadir sangat banyak sekali, penuh dengan hidangan khas daerah dan juga lagu-lagu pujian. Tapi ketika saya melihat jenazah yang terbaring, saya tidak mampu menahan kelenjar air mataku. Yang membuat saya malu, justru tidak ada satupun dari keluarga almarhum yang menangis! Mereka semua sibuk untuk menjamu orang yang hadir serta sedikit bercerita apa yang terjadi.

          Tiba hari pemakaman didahului dengan misa pelepasan jenazah di Gereja Santo Yusuf, selasa pagi hari. Kalimat yang masih saya ingat ketika istri dari almarhum memberikan pesan singkat di altar sebelum misa dibubarkan dengan lantang dia berkata "Pak Rudy sama sekali tidak sakit, dia tidak merasakan sakit. Memang dia kadang mengeluh karena bosan minum obat-obatan, tetapi beliau tidak sakit. Apa yang terjadi semua sudah diperkenankan Tuhan!".  Bedakan ketegaran yang diucapkan seseorang yang mendapatakan dengan seorang yang kehilangan. Aneh memang, sungguh aneh dan saat itu saya masih belum tahu apa yang membuat keluarga ini begitu tegar, bukan sesuatu yang dibuat melainkan memang ada sesuatu yang membuat mereka ikhlas dengan apa yang Tuhan sudah perkenankan.

          Prosesi pemakaman sudah selesai dan tiba waktuku untuk segera berangkat ke bandara Adi Sucipto karena saya harus kembali ke Singapura. Perasaanku saat itu biasa saja, ya timbul kekaguman atas ketegaran keluarga itu. Yang sungguh menumbuhkan imanku adalah sepenggal kalimat bahwa segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan. Sepuluh menit sebelum tiba di bandara, ada pesan yang masuk di blackberry ku berisi "Len, emak meninggal. Km dmna?". Saat itulah pertama kali saya merasa otak ini tidak ada isinya sama sekali, benar-benar kosong selama beberapa detik. Saya minta untuk berhentikan mobil di pom bensin terdekat untuk membeli air dan roti. Segera aku telpon papaku, dan dia katakan bahwa jenazah nenekku akan dimakamkan hari Senin. Saya berusaha untuk memperpanjang cutiku, namun Senin saya sudah harus masuk dan bekerja. Baiklah pikirku, aku ingin datang dan menutup peti nenekku sudah cukup. Tiket tidak bisa di refund, dan langsung saya beli untuk penerbangan Jakarta – Surabaya hari itu juga. Yang masih menguatkan aku adalah bahwa semua sudah diperkenankan Tuhan! Selalu ada rencana yang manusia tidak bisa mengerti. Kenapa tidak bisa? Ya karena memang tidak bisa! (Pengkotbah 3:11).

          Sesampainya di Surabaya, kulanjutkan perjalananku ke Pasuruan. Langsung bergegas aku menuju kamar mayat untuk melihat jenazah yang sudah dikafani. Hal yang aku tanyakan pada ayahku "mana rosario seng dulu tak kalungin?" "Oh tadi waktu mandiin jenazah dilepas" jawab ayahku seraya menyerahkan rosario tersebut ke kakakku. Nenekku meninggal sebagai seorang Budhis, dan upacara serta doa mengikuti tata cara Budhis. Beberapa kali ayahku menawari almarhum untuk menjadi seorang nasrani, namun memang belum ada panggilan dalam dirinya. Sebelum peti ditutup dan disegel, aku suruh kakakku untuk meletakkan Rosario didalam petinya karena masih ingat sekali bahwa teman dari Avila pernah memposting sebuah artikel kurang lebih seperti ini, jika seseorang meninggal dunia sedang bersama Rosario, maka kerahiman Tuhan akan diberikan kepada orang tersebut. Benar atau tidaknya saya tidak tahu, tapi saya mau percaya saja sembari tetap berdoa untuk arwah. Ya, saya sudah kalungkan Rosario tersebut beberapa bulan sebelum nenekku dipanggil Tuhan (beberapa minggu setelah saya baca artikel yang dipost di milist Avila ini).

          "Segala sesuatunya sudah diperkenankan Tuhan"

          Semarang; Februari, 2013.

          Saya sudah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 2012. Sungguh senang rasanya bisa berkumpul dengan keluarga dan berbagi cerita serta merasakan kembali masakan-masakan nusantara yang menggoyang lidah. Sudah lama rasanya saya tidak berkunjung ke Semarang dan tidak terasa bahwa bulan maret mendatang adalah peringatan 1 tahun wafatnya om Rudy dan tentunya nenekku. Hal yang menyenangkan disana adalah saat mencicipi hidangan daerah yang enak bagiku (tasteful!). Tidak lama aku tinggal disana, hanya sebatas menggunakan libur weekend ku. Hari minggu malam pun aku harus kembali ke Jakarta dengan menggunakan bus malam. Keluarga tersebut mengantarkan ku menuju pool tempat bus yang akan saya tumpangi. Namun, sebelum itu kami sempat berkunjung kerumah seorang mantan sopir keluarga ini yang sedang dalam kondisi ginjalnya rusak dan mata nya sudah buta. Yang menjadikan dia "mantan sopir" adalah perbuatan yang mengecewakan keluarga ini sehingga memutuskan hubungan kerjanya. Namun saat itu kami hadir dengan penuh empati, tidak ada sama sekali yang disebut pihak yang menyakiti dan pihak yang tersakiti. Ada sesuatu yang bisa dibilang menggelikan, mustahil, ngeri, saat sopir ini bilang "Cik, kapan hari aku telpon rumah semeru trus diangkat bapak-bapak katae koh Rudy lagi berobat di Singapur sama cicik sama Evlyn". Seketika ibu tersebut menimpali "Wong rumah itu kosong udah ga ditinggali kok, lagian waktu kamu telpon koh Rudy udah meninggal" dan semua dari kami tertawa. Memang banyak peristiwa aneh yang dialami oleh orang-orang yang dekat dengan almarhum, tapi kita kesampingkan materi yang bersifat mistis. Sebelum kami pamit, ibu itu bercerita dan memberikan kesaksian tentang kemurahan Tuhan yang diberikan pada om Rudy untuk menguatkan mantan sopir tersebut.

          Tahun 1999, dokter menemukan bahwa ada kelainan jantung dari kecil yang tidak disadari oleh om Rudy. Jika tidak segera "dibenahi" dalam 3 bulan, nyawa tidak akan tertolong. Tindakan medik pun diambil untuk membuat kleb artifisial (yang menghubungkan serambi dengan bilik). Sebagian tulang rusuk om Rudy harus dipotong guna memasang kleb buatan tersebut. Tindakan medik tersebut berhasil mengeliminasi vonis 3 bulan itu. Apa yang dibuat oleh manusia memang tidak akan pernah sesempurna yang dibuat oleh Tuhan, ada kompensasi yang harus diterima yakni ada obat pengencer darah yang harus diminum secara berkelanjutan agar tidak memberikan efek negatif pada kleb artificial nya.

          Tahun 2004, terjadi pendarahan di otak om Rudy yang belakangan diketahui akibat aktifitas konsumsi obat pengencer darah sehingga membuat darah tersebut masuk ke otak, ya bak makan buah simalakama. Segera om Rudy dibawa ke Rumah Sakit karena daya ingat om Rudy juga mulai hilang. Namun ternyata dokter setempat sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan menyarankan untuk berpasrah akibat darah sudah semakin memenuhi otak om Rudy. Sebagai seorang istri, tindakan apapun harus dicoba sembari menguatkan, mendampingi dan terus berdoa. Karena kondisi om Rudy yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa, istrinya menyiapkan document yang diperlukan untuk pergi ke Singapura dengan harapan ada solusii medis lain yang bisa menolong om Rudy. Kenyataannya, tim dokter di Singapura pun angkat tangan. Pulanglah kembali mereka ke Semarang. Didalam doanya, om Rudy hanya meminta agar dia punya iman meskipun kecil seperti biji sesawi, ya, hanya itu yang dia pinta didalam doanya. Ketika manusia sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, iman yang akan mengerjakannya. Tengah malam yang membuat om Rudy tidak bisa tidur, beliau ke kamar mandi dan berdoa memohon ampun pada Tuhan. Manifestasi-pun terjadi seperti ada aliran dari ujung kaki ke kepala seakan-akan ada sesuatu yang hilang. Om Rudy bertanya apa yang baru saja terjadi, kok seakan ada sesuatu yang diambil daripadanya.

          Tak lama dari peristiwa itu, pengecekan CT scan kembali dilakukan untuk memonitor kondisi om Rudy. Lama berselang menunggu hasil CT scan, berulang kali suster rumah sakit tersebut memanggil om Rudy dan bertanya-tanya. Dokter tidak percaya akan hasil CT scan tersebut, sebab diwaktu yang lalu dokter tersebut menyerah tidak bisa menyembuhkan om Rudy, nyatanya pendarahan tersebut hilang dan normal kembali! Teringatlah mereka akan manifestasi yang om Rudy rasakan saat dia berdoa didalam kamar mandi pada waktu malam, Tuhan yang ambil sakit penyakitnya! Itulah iman yang memindahkan gunung. Pada masa sulitnya om Rudy bercerita bahwa pada suatu hari ada seseorang bernama Rudy yang datang padanya dan memberikan sesuatu namun om Rudy menolaknya dan orang tersebut menaruhnya di saku kemeja yang tergatung didinding. Saat malam, om Rudy berpikir bahwa apa yang tadi orang berikan  amplop berisi uang namun ternyata bunga. Om rudy heran untuk apa bunga ini, akhirnya bunga tersebut dimasukkan didalam closet dan dibuang. Tidak ada yang tahu pasti siapa "Rudy" tersebut dan apa tujuan dia datang dan memberi bunga. Istrinya selalu berdoa dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Pada suatu ketika dia membaca sebuah buku renungan yang diambil dari kitab Daniel 3:1-30. Dikisahkan tiga pemuda Shadrach, Meshach, Abednego yang diperintahkan dengan paksa oleh Nebuchadnezzar untuk menyembah patung emas buatannya namun mereka menolak dan dimasukkan dalam tungku perapian yang sangat panas. Mereka katakan pada Nebuchadnezzar "If our God whom we are serving exists, he is able to rescue us from the furnace of blazing fire, and he will rescue us, o King, from your power as well. But if not, let it be known to you, O King, that we will not pay homage to the golden statute that you have erected." Ternyata Nebuchadnezzar melihat 4 orang didalam tungku perapian dan dia menduga bahwa orang ke empat tersebut adalah Tuhan yang hadir dan menyelamatkan Shadrach, Meshach dan Abednego. Seketika sang istri teringat akan cerita tadi saat om Rudy diberi "bunga" yang bisa jadi jimat-jimatan dan lain sebagainya, namun om Rudy tetap memilih untuk percaya bahwa Tuhan lah yang mampu menyelamatkan dia! Ketaatan dan takut akan Tuhan yang mampu menyelamatkan, disaat yang sangat sulit ternyata Tuhan sungguh hadir dan memberikan muzizat.

          Delapan tahun setelahnya, didapati bahwa fungsi ginjal om Rudy semakin memburuk akibat tekanan darah yang tinggi. Monitoring dan check up dilakukan semakin intensif, namun tidak sekalipun om Rudy diminta untuk cuci darah karena dokter melihat semua baik saja dan itupun karena campur tangan Tuhan. Sampai pada waktunya Tuhan panggil om Rudy, tidak ada keluhan kesakitan hanya sebatas bosan mengkonsumsi obat-obatan. Itu semua sudah Tuhan perkenankan dan peristiwa-peristiwa ajaib itulah yang Tuhan perlihatkan pada keluarga om Rudy sehingga iman-pun semakin bertumbuh. Tidak ada yang mustahil tetapi Tuhan selalu punya rencana-Nya sendiri untuk manusia".

          Setelah menyampaikan kesaksian itu, kami bergegas untuk pulang mengantarkanku ke pool tempat bus malam yang akan aku tumpangi. Didalam mobil, aku seperti mendapat jawaban tentang keherananku kala itu. Mengapa saat kematian om Rudy tidak ada yang menangis atau bersedih. Ya, kini aku mengerti karena Tuhan sungguh begitu baik dan berkarya nyata pada om Rudy dan bagaimanapun Tuhan selalu punya rencana, rencana damai sejahtera, juga terhadap kematian nenekku. Itulah yang aku imani dan amini selalu, semua sudah Tuhan perkenankan untuk terjadi.

          Sedikit pesan dari ibu ini untuk sesering mungkin membaca Kitab Suci karena disanalah Tuhan ingin berbicara kepada kita. Karya Allah memang dapat dilihat dari perwahyuan dan mukzizat. Jika mukzizat yang adikodrati tersebut sudah ditunjukkan pada om Rudy, maka wahyu Allah bisa kita lihat di Alkitab.

          "Jikalau kamu berdoa, mintalah Tuhan untuk menambahkan imanmu"

          "Jika Tuhan yang kami layani ADA, maka Ia akan menyelamatkan kami!"

          Faith

          Sees the invisible

          Believe the unbelievable

          And receive the impossible

           

           

          This story is dedicated to Rudy Harsono's Family: Mrs. Rudy, Stefan, Evlyn, Marcellia.

          Commemorating a year after the eternal rest of Mr. Rudy (09 March 2013) and My beloved Grandma Nio (13 March 2013). May all of the soul be forgiven and allowed to enter the heavenly kingdom, O Lord.

           

          Demikian tulisan yang sempat tertunda selama satu tahun kemarin. Semoga berkenan dan menjadi berkat bagiku dan bagimu. May peace, love and forgiveness from God overwhelm you all.

          Best Regards,

          Alan

           




          --
          David Wijaya
          +6285220827772
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.