Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Menjadi Tong Sampah

Expand Messages
  • Albert Andries
    Menjadi Tong Sampah Bagian dari perkerjaan saya adalah mendengarkan masalah-masalah umat. Para biksu selalu punya nilai lebih secara ekonomis, karena mereka
    Message 1 of 2 , Dec 13, 2012

      Menjadi Tong Sampah

       

       

      Bagian dari perkerjaan saya adalah mendengarkan masalah-masalah umat. Para biksu selalu punya nilai lebih secara ekonomis, karena mereka tak pernah menagih biaya apapun. Sering kali, ketika saya mendengarkan keluh kesah, kepelikan yang diderita orang, tenggang rasa yang timbul membuat saya ikut-ikutan depresi juga. Untuk menolong seseorang keluar dari sangkarnya, saya kadang-kadang harus masuk ke dalam sangkar juga agar dapat menjangkau tangan mereka – tetapi saya selalu ingat untuk membawa tangga. Setelah suatu sesi konsultasi saya selalu merasa cerah kembali. Konsultasi yang saya berikan tak meninggalkan gema apapun, karena latihan yang saya jalani.

       

      Ajahn Chah, guru say adi Thailand, mengatakan bahwa para biksu harus menjadi tong sampah. Para biksu, khususnya biksu-biksu senior, harus duduk di wiharanya mendengarkan keluh-kesah orang-orang yang datang dan menampuh semua sampah mereka. Mulai dari masalah pernikahan, kesulitan mengasuh anak remaja, kericuhan dengan relasi, masalah-masalah keuangan- seperti banyak yang kami dengar. Saya tidak tahu kenapa begini. Tahu apa seorang biksu yang hidup selibat tentang masalah perkawinan? Kami meninggalkan keduniawian untuk menyingkir dari sampah-sampah semacam itu, tetapi karena belas kasih, kami duduk mendengarkan, membagi kedamaian kami, dan menerima segala macam sampah.

       

      Ada tambahan, yang merupakan bagian terpenting dari nasihat yang diberikan oleh Ajahn Chah.Beliau berkata kami harus menjadi tong sampah yang dasarnya bolong! Kami harus menerima semua sampah, tetapi tidak boleh menyimpannya.

       

      Oleh karena itu, seorang teman atau penasihat yang ampuh, adalah seperti tong sampah yang tak punya dasar, dan karenanya tak akan pernah menjadi terlalu penuh untuk mendengarkan masalah-masalah lainnya.

       

      By Ajahn Brahm – buku “Si Cacing dan kotoran kesayangannya.hal 124-125”.

    • Adeline HK
      Bagus.. Thanks for share this story.. :) JBU Sent from my Called To Be Holy iPhone ... Bagus.. Thanks for share this story.. :) JBU Sent from my Called To Be
      Message 2 of 2 , Dec 13, 2012
        Bagus.. Thanks for share this story.. :) 
        JBU

        Sent from my Called To Be Holy iPhone

        On 13 Des 2012, at 15:17, "Albert Andries" <albert_an84@...> wrote:

         

        Menjadi Tong Sampah

         

         

        Bagian dari perkerjaan saya adalah mendengarkan masalah-masalah umat. Para biksu selalu punya nilai lebih secara ekonomis, karena mereka tak pernah menagih biaya apapun. Sering kali, ketika saya mendengarkan keluh kesah, kepelikan yang diderita orang, tenggang rasa yang timbul membuat saya ikut-ikutan depresi juga. Untuk menolong seseorang keluar dari sangkarnya, saya kadang-kadang harus masuk ke dalam sangkar juga agar dapat menjangkau tangan mereka – tetapi saya selalu ingat untuk membawa tangga. Setelah suatu sesi konsultasi saya selalu merasa cerah kembali. Konsultasi yang saya berikan tak meninggalkan gema apapun, karena latihan yang saya jalani.

         

        Ajahn Chah, guru say adi Thailand, mengatakan bahwa para biksu harus menjadi tong sampah. Para biksu, khususnya biksu-biksu senior, harus duduk di wiharanya mendengarkan keluh-kesah orang-orang yang datang dan menampuh semua sampah mereka. Mulai dari masalah pernikahan, kesulitan mengasuh anak remaja, kericuhan dengan relasi, masalah-masalah keuangan- seperti banyak yang kami dengar. Saya tidak tahu kenapa begini. Tahu apa seorang biksu yang hidup selibat tentang masalah perkawinan? Kami meninggalkan keduniawian untuk menyingkir dari sampah-sampah semacam itu, tetapi karena belas kasih, kami duduk mendengarkan, membagi kedamaian kami, dan menerima segala macam sampah.

         

        Ada tambahan, yang merupakan bagian terpenting dari nasihat yang diberikan oleh Ajahn Chah.Beliau berkata kami harus menjadi tong sampah yang dasarnya bolong! Kami harus menerima semua sampah, tetapi tidak boleh menyimpannya.

         

        Oleh karena itu, seorang teman atau penasihat yang ampuh, adalah seperti tong sampah yang tak punya dasar, dan karenanya tak akan pernah menjadi terlalu penuh untuk mendengarkan masalah-masalah lainnya.

         

        By Ajahn Brahm – buku “Si Cacing dan kotoran kesayangannya.hal 124-125”.

      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.