Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Dimensi Ajaran Islam

Expand Messages
  • agussyafii
    Dimensi Ajaran Islam Pendahuluan Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi; sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Apa yang
    Message 1 of 1 , Oct 2, 2006
    • 0 Attachment
      Dimensi Ajaran Islam

      Pendahuluan
      Islam sebagai agama bisa dilihat dari berbagai dimensi; sebagai
      keyakinan, sebagai ajaran dan sebagai aturan. Apa yang diyakini oleh
      seorang muslim, boleh jadi sesuai dengan ajaran dan aturan Islam,
      boleh jadi tidak, karena proses seseorang mencapai suatu keyakinan
      berbeda-beda, dan kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga
      berbeda-beda. Diantara penganut satu agama bisa terjadi pertentangan
      hebat yang disebabkan oleh adanya perbedaan keyakinan. Sebagai
      ajaran, agama Islam merupakan ajaran kebenaran yang sempurna, yang
      datang dari Tuhan Yang Maha Benar. Akan tetapi manusia yang pada
      dasarnya tidak sempurna tidak akan sanggup menangkap kebenaran yang
      sempurna secara sempurna. Kebenaran bisa didekati dengan akal (masuk
      akal), bisa juga dengan perasaan (rasa kebenaran). Kerinduan manusia
      terhadap kebenaran ilahiyah bagaikan api yang selalu menuju keatas.
      Seberapa tinggi api menggapai ketingian dan seberapa lama api itu
      bertahan menyala bergantung pada bahan bakar yang tersedia pada
      setiap orang. Ada orang yang tak pernah berhenti mencari kebenaran,
      ada juga yang tak tahan lama, ada orang yang kemampuannya menggapai
      kebenaran sangat dalam (atau tinggi), tetapi ada yang hanya bisa
      mencapai permukaan saja.

      Agama Islam sebagai aturan atau sebagai hukum dimaksud untuk
      mengatur tata kehidupan manusia. Sebagai aturan, agama berisi berisi
      perintah dan larangan, ada perintah keras (wajib) dan larangan keras
      (haram) , ada juga perintah anjuran (sunnat) dan larangan anjuran
      (makruh). Sumber hukum dalam Islam adalah al Qur'an, tetapi al
      Qur'an hanya mengatur secara umum, karena al Qur'an diperuntukkan
      bagi semua manusia sepanjang zaman dan dis eluruh pelosok dunia.
      Detail hukum kemudian dirumuskan dengan ijtihad. Karena sifatnya
      yang regional dan "menzaman" maka fatwa hukum bisa bisa berbeda-
      beda , ada yang menganggap bahwa hasil ijtihadnya itu sebagai hukum
      Tuhan, dan ada yang menganggap bahwa dalam hal detail tidak ada
      hukum Tuhan.

      Memahami Ajaran Islam Dengan Pembidangan
      Pembidangan yang sangat populer dari ajaran Islam adalah Aqidah,
      Syari`ah dan Akhlak, masing-masing sebagai subsistem dari sistem
      ajaran Islam. Artinya aqidah tanpa syari'ah dan akhlak adalah omong
      kosong, demikian juga syari`ah harus berdiri diatas pondasi aqidah,
      dan keduanya haruslah dijalin dengan akhlak. Syari'ah tanpa akhlak
      adalah kemunafikan, akidah tanpa akhlak adalah kesesatan.

      Aqidah
      Secara harfiah, `aqidah artinya adalah sesuatu yang mengikat, atau
      terikat, tersimpul (bandingkan istilah `aqad nikah). Sedangkan
      sebagai istilah, `aqidah Islam adalah sistem kepercayaan dalam
      Islam. Mengapa disebut `aqidah, karena kepercayaan itu mengikat
      penganutnya dalam bersikap dan bertingkah laku. Orang yang kuat
      akidahnya (keyakinannya) terhadap keadilan Tuhan, maka keyakinan itu
      mengikatnya dalam bersikap terhadap suatu nilai (misalnya berkorban
      dalam perjuangan) dan selanjutnya mengikat perilakunya (misalnya
      tidak mau kompromi terhadap kezaliman). Sebaliknya orang yang tidak
      kuat keyakinannya kepada keadilan Tuhan (ikatannya longgar) ia mudah
      menyerah dalam berjuang dan bisa dinegosiasi untuk toleran terhadap
      penyimpangan, mudah terpancing untuk membalas dendam dengan cara
      yang menyimpang dari aturan..

      Sistem kepercayaan ini akhirnya berkembang menjadi ilmu, disebut
      ilmu Tauhid atau ilmu ushuluddin. Ilmu Tauhid berbicara tentang
      Rukun Iman yang enam (iman kepada Tuhan, malaikat, Rasul, Kitab
      Suci, Hari akhir dan takdir). Kajian filosofis dari ilmu Tauhid
      disebut Ilmu Kalam, disebut juga Theologi (ilmu yang berbicara
      tentang ketuhanan).

      Secara garis besar, theologi Islam dapat dibagi menjadi dua type,
      yaitu Jabbariah dan Qadariah. Jabbariah lebih menekankan pada
      kekuasaan Tuhan Yang Maha Mutlak sehingga menempatkan manusia pada
      posisi seperti wayang yang segalanya tergantung kepada dalang.
      Manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk menentukan perbuatannya,
      oleh karena itu seseorang masuk sorga atau neraka itu bukan karena
      prestasinya, tetapi sepenuhnya kehendak Tuhan. Faham Qadariyah lebih
      menekankan sifat keadilan Tuhan , oleh karena itu manusia
      ditempatkan dalam posisi yang memiliki kekuasaan untuk menentukan
      perbuatannya, dan dengan keadilan Nya, Tuhan akan memberi pahala
      kepada yang berbuat baik dan menghukum yang berdosa.

      Secara sosial, penganut theologi Islam dapat dibagi menjadi dua,
      yaitu Sunny dan Syi`ah. Golongan Sunny memandang semua manusia sama
      di depan Tuhan, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Nya,
      oleh karena itu setiap muslim dari manapun memiliki hak yang sama
      untuk menjadi pemimpin sepanjang memenuhi syarat. Golongan Sunnyi
      memandang empat sahabat besar (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) dalam
      posisi yang setara dan sah kekhalifahannya.

      Sedangkan golongan Sunny mengklaim adanya hak-hak istimewa keturunan
      Nabi-dalam hal ini anak-anak Ali bin Abi Thalib melalui ibu Fatimah
      (puteri Nabi) sebagai pewaris syah kepemimpinan ummat Islam. Abu
      Bakar, Umar dan Usman dinilai merampas hak-hak politik Ali bin Abi
      Thalib. Anak cucu Ali bin Abu Thalib kemudian disebut sebagai
      golongan Alawiyyin atau secara sosiologis di Indonesia disebut
      habaib. Syi`ah itu sendiri artinya golongan, dan sepanjang sejarah
      Islam, kelompok ini selalu menjadi korban politik karena mereka
      sangat potensil mengobarkan semangat oposisi terhadap penguasa
      Sunny. Baru di Iran theologi Syi`ah mewujud dalam bentuk
      Pemerintahan Republik Islam Iran, yang dibangun dengan konsep
      wilayat al faqih (otoritas ulama) dimana para mullah (kelompok
      Alawiyyin yang terdidik) memiliki hak-hak istimewa politik (disebut
      imamat) dengan puncaknya Ayatullah al `Uzma (pertama Imam Khumaini
      kemudian digantikan Khameini).

      Syari`ah
      Secara harfiah, syari`ah artinya jalan, sedangkan sebagai istilah
      keislaman, syari`ah adalah dimensi hukum atau peraturan dari ajaran
      Islam. Mengapa disebut syari`ah adalah karena aturan itu dimaksud
      memberikan jalan atau mengatur lalu lintas perjalanan hidup manusia.
      Lalu lintas perjalanan hidup manusia itu ada yang bersifat vertikal
      dan ada yang bersifat horizontal, maka syari'ah juga mengatur
      hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan menusia dengan sesama
      manusia. Aturan hubungan manusia dengan Tuhan berujud kewajiban
      manusia menjalankan ritual ibadah (Rukun Islam yang lima). Aturan
      dalam ritual ibadah berisi ketentuan tentang syarat, rukun, sah,
      batal, sunnat (dalam haji ada wajib), makruh. Prinsip ibadah itu
      tunduk merendah kepada Tuhan, tidak banyak mempertanyakan kenapa
      begini dan begitu, pokoknya siap mengerjakan perintah dan tidak
      berani melanggar sedikitpun.

      Sedangkan lalu lintas pergaulan manusia secara horizontal disebut
      mu`amalah. Prinsip bermu`amalah adalah saling memberi manfaat,
      mengajak kepada kebaikan universal (alkhair) , memperhatikan norma-
      norma kepatutan (al ma`ruf) dan mencegah kejahatan tersembunyi (al
      munkar). Karena manusia sangat heterogin, maka aturan bermu`amalah
      sifatnya dinamis, dan merespond perubahan, dengan prinsip-prinsip
      (1) pada dasarnya agama itu tidak picik, mudah dan tidak mempersulit
      (`adam al haraj). (2) memperkecil beban, tidak untuk memberatkan (at
      taqlil fi at taklif), dan (3) pengetrapan aturan hukum secara
      bertahap (at tadrij fi at tasyri`). Karena adanya prinsip-prinsip
      inilah maka peranan manusia –dalam hal ini ulama- dalam merumuskan
      aturan-aturan syari`at sangat besar dalam bentuk ijtihad, yakni
      dengan akal dan hatinya merumuskan ketentuan-ketentuan hukum
      berdasarkan al Qur'an dan hadis . Al Qur'an menjelaskan sangat
      detail tentang waris, tetapi selebihnya hanya dasar-dasarnya saja
      yang disebut. Tentang politik misalnya, al Qur'an tidak menentukan
      bentuk negara, apakah republik atau kerajaan. Contoh pemerintahan
      Nabi dan khulafa Rasyidin juga sangat terbuka untuk disebut kerajaan
      atau republik.

      Dari sudut keilmuan, syari`ah kemudian melahirkan ilmu yang disebut
      fiqh, ahlinya disebut faqih-fuqaha. Karena fiqh itu produk ijtihad
      maka tidak bisa dihindar adanya perbedaan pendapat, maka lahirnya
      pemikian mazhab; yang terkenal Syafi`i, Maliki, Hanafi dan Hambali.
      Ulama yang tinggal di kota metropolitan pada umumnya memiliki
      pandangan yang dinamis dan rationil, sedangkan ulama yang tinggal di
      kota agraris (Madinah misalnya) pada umumnya puritan dan
      tradisional. Kajian fiqh berkembang sesuai dengan tuntutan zaman,
      maka disamping ada fiqh ibadah, fiqh munakahat, fiqh al mawarits
      juga ada fiqh politik (fiqh as siyasah), sekarang sedang
      dikembangkan fiqh sosial, fiqh jender, fiqh Indonesia, fiqh gaul dan
      sebagainya.

      Akhlak
      Akhlak merupakan dimensi nilai dari syariat Islam. Kualitas
      keberagamaan justeru ditentukan oleh nilai akhlak. Jika syariat
      berbicara tentang syarat rukun, sah atau tidak sah, maka akhlak
      menekankan pada kualitas dari perbuatan, misalnya beramal dilihat
      dari keikhlasannya, shalat dilihat dari kekhusyu`annya, berjuang
      dilihat dari kesabaran nya, haji dari kemabrurannya, ilmu dilihat
      dari konsistensinya dengan perbuatan, harta dilihat dari aspek dari
      mana dan untuk apa, jabatan, dilihat dari ukuran apa yang telah
      diberikan bukan apa yang diterima.

      Karena akhlak juga merupakan subsistem dari sistem ajaran Islam,
      maka pembidangan akhlak juga vertikal dan horizontal. Ada akhlak
      manusia kepada Tuhan, kepada sesama manusia, kepada diri sendiri dan
      kepada alam hewan dan tumbuhan. Definisi akhlak adalah ; keadaan
      batin yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu
      lahir secara spontan tanpa berfikir untung rugi. Kajian mendalam
      tentang akhlak dilakukan oleh ilmu yang disebut ilmu tasauf.


      Memahami Ajaran Islam Dalam Struktur ISLAM-IMAN-IHSAN
      Dalam hadis yang terkenal dikisahkan adanya dialog malaikat Jibril
      (yang menyamar menjadi tamu) dengan Nabi Muhammad tentang Islam,
      Iman dan Ihsan. Nabi menerangkan bahwa Islam adalah syahadat , salat
      dst (rukun Islam), Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat dst
      (rukun iman) sedangkan ihsan adalah kualitas hubungan manusia dengan
      Tuhan (merasa melihat atau sekurang-kurangnya merasa dilihat oleh
      Tuhan ketika sedang beribadah, an ta`budallaha ka annaka tarahu wa
      in lam takun tarahu fa innahu yaraka). Konsep ihsanlah nanti yang
      menjadi pijakan ilmu tasauf, yaitu rasa dekat dan komunikatip dengan
      Tuhan.

      Sebagai sistem, teori struktur Islam-Iman –Ihsan dapat dimisalkan
      sebagai buah kelapa dimana Islam adalah kulit, Iman adalah daging
      kelapa, sedangkan ihsan adalah minyaknya, ketiganya saling
      berhubungan. Kulit kelapa yang besar biasanya dagingnya besar dan
      minyaknya banyak. Daging kelapa bertahan lama jika ia tetap
      terbungkus kulitnya, jika dipisahkan maka ia cepat membusuk. Iman
      akan mudah luntur jika tidak dilindungi oleh amaliah ibadah. Tetapi
      ada juga kelapa yang kulitnya besar ternyata tidak ada dagingnya,
      dan apalagi minyaknya (gabug). Demikian juga ada orang yang
      demontrasi Islamnya sangat menonjol, tetapi kualitas imannya lemah,
      apalagi moralitasnya. Wallohu a`lamu bissawab.

      Wassalam,
      agussyafii
      http://mubarok-institute.blogspot.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.