Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

S#9: Orang Yang Dirindukan Langit

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    S#9: Orang Yang Dirindukan Langit   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Dimanakah letaknya ’nilai seorang manusia’? Hartanya? Mungkin. Jabatannya? Juga
    Message 1 of 1 , Oct 18, 2012
    • 0 Attachment
      S#9: Orang Yang Dirindukan Langit
       
      Hore!
      Hari
      Baru, Teman-teman.
       
      Dimanakah
      letaknya ’nilai seorang manusia’? Hartanya? Mungkin. Jabatannya? Juga mungkin.
      Untung saja harta dan jabatannya itu bukanlah jawaban mutlak. Karena tidak
      semua orang punya harta banyak, atau jabatan tinggi. Jadi, dimanakah gerangan
      letaknya nilai seseorang? Ada ungkapan ”pergi tak ganjil, datang tak genap”.
      Begitu kita menyebut orang-orang yang tidak memiliki arti apa-apa bagi orang
      lain. Ada atau tidaknya dia, sama sekali tidak punya pengaruh apapun. Coba jika
      orang itu sanggup memberi makna atas kehadirannya. Maka orang lain, akan
      senantiasa merindukannya. Menantikan kedatangannya. Dan mencarinya, jika dia
      tidak kunjung datang. Jelas sekali jika nilai seseorang itu terletak pada apa
      yang dilakukannya untuk orang lain. Lho, bukankah jika punya harta yang banyak
      kita bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain?
       
      Benar. Kalau
      kita kaya; maka kita bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain. Teorinya sih
      begitu. Tapi banyak juga kan orang kaya yang semakin pelit. Dan banyak juga
      orang kaya yang dermawan tapi sangat pamrih. Tidak. Nilai seseorang tidak ada
      kaitan langsung dengan kekayaan. Dalam banyak situasi, orang yang tidak kaya
      malah jauh lebih dermawan daripada orang berada. Banyak orang yang hidupnya
      pas-pasan, tapi lebih peka dan lebih peduli kepada orang lain. Saya yakin. Anda
      pun mengenal orang-orang seperti itu. Karena orang-orang berhati mulia seperti
      itu berada di sekitar kita. Misalnya, seorang lelaki yang saya kenal di lingkungan
      tempat tinggal saya. Izinkan saya menceritakan kisahnya.
       
      Orang itu
      sangat dikenal warga. Khususnya jamaah masjid. Setiap kali sembahayang di
      masjid, orang itu selalu ada. Sebagai orang baru di lingkungan itu, tentu saya
      sangat mengaguminya. Kepada saya, dia baik sekali. Kepada orang-orang yang lain
      pun selalu ramah. Menyapa dengan caranya yang istimewa. Menyalami dengan
      genggaman yang bersahabat dan penuh semangat. Saya sering melihat dia menjadi
      orang terakhir yang meninggalkan masjid, dan dialah yang menutup pintu
      gerbangnya. Semula saya mengira dia itu petugas masjid. Ternyata bukan. Jika
      ada acara di masjid, maka dia seperti pemeran utama dalam setiap pekerjaan yang
      dihindari oleh kebanyakan orang lainnya. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkannya.
      Karpet miring dirapikannya. Boleh dibilang; orang ini adalah ’benteng
      pertahanan terakhir’ dalam setiap kegiatan.
       
      Entah perasaan
      saya saja. Atau memang demikian adanya; kebaikan orang ini kepada saya,
      melebihi kebaikannya kepada orang lain. Ini membuat saya seperti punya
      pertalian batin. Akhir-akhir ini, saya tidak lagi melihat orang itu. ”Mungkin
      sudah pulang kampung,” begitu saya berpikir. Ada rasa kangen kepadanya. Meskipun
      dia punya kekurangan, namun kekurangan itu menjadi salah satu keistimewaan tersendiri
      baginya.
       
      Tahukah Anda
      siapa nama orang itu? Saya yakin Anda tidak tahu. Karena, tidak seorang pun
      diantara kami yang mengetahui namanya. Bukannya kami tidak peduli, tetapi
      karena sejarah yang melekat terhadap proses kedatangan dan perkenalan awalnya.
      Orang itu berasal dari daerah. Tinggal di lingkungan kami untuk menunaikan
      tugas dari majikannya menjaga rumah kosong yang tidak ditinggali pemiliknya
      dalam waktu yang lama. Pada waktu itu, warga sedang membangun masjid. Dan orang
      ini tanpa bicara. Tanpa berkata ini dan itu. Tanpa bertanya berapa upahnya. Dia
      langsung mengangkat batu. Mengangkut pasir. Menggali tanah. Menggotong kayu. Dan
      mengerjakan pekerjaan-pekarjaan kasar lainnya. ”Siapakah orang itu?” Tak ada
      yang tahu. Yang jelas, dia bukan tukang yang dipekerjakan oleh pemborong
      proyek. Namanya proyek, tentu tidak sembarang orang boleh masuk. Maka dia pun
      ditanya; ”Kamu siapa?”
       
      Orang itu
      menjawab; ”Hahu.”
      ”Nama kamu
      siapa?” orang-orang bertanya lagi.
      ”Hahu!”
      katanya.
      Tidak peduli
      berapa kali ditanya, orang itu memberikan jawaban yang sama. ”Hahu!”
      Maka sejak saat
      itu, orang memanggilnya Pak Gagu. Sebutan umum untuk orang yang tuna wicara. Orang-orang
      pun paham, mengapa selama ini dia tidak banyak bicara.
       
      ”Kamu mau apa
      kesini?” pertanyaan berikutnya meluncur.
      ”Hahu! Hahu,
      hahu!” katanya. Saya bisa membayangkan wajahnya yang sumeringah dengan sorot
      matanya yang berbinar-binar. Orang itu benar-benar mempunyai semangat seperti
      seorang anak kecil yang diberi mainan baru oleh ayahnya.
       
      ”Kamu?” kata orang-orang.
      ”Mau apa datang kesini?” Pertanyaan itu kembali ditegaskan.
      ”Hahu! Hahu,
      hahu!” Jawab Pak Gagu. ”Hahu Hahu! Haaaahu!” tambahnya lagi. Dia berusaha untuk
      menjelaskan panjang lebar dengan bunyi ’hahu’-nya. Namun kali ini sambil
      memperagakan cara mengangkat, menggali, dan menggotong. Lalu tangannya seperti
      sedang melukis sesuatu di udara.
       
      ”Masjid?” tanya
      orang-orang.
      ”Hahu. Hahu!”
      jawabnya sambil tertawa lebar.
      Sekarang
      orang-orang mengerti bahwa Pak Gagu itu datang untuk ikut bekerja sebagai buruh
      pembangunan masjid. Sebenarnya, tidak diperlukan tenaga kerja tambahan. Tapi
      mengingat kondisinya yang seperti itu. Dan kesungguhannya dalam bekerja. Maka
      diputuskanlah jika Pak Gagu diterima untuk bekerja sebagai buruh bangunan
      proyek itu. Dia pun menampakkan wajah riang gembira. Sejak saat itu, Pak Gagu
      resmi menjadi pekerja di proyek itu.
       
      Hari gajian pun
      tiba. Pak Mandor tentu sudah menyiapkan segepok uang untuk membayar upah kerja.
      Satu persatu wajah-wajah lelah itu berubah sumeringah. Hari ini, tetesan
      keringat mereka membawa hasil berupa rupiah. Hari ini, mereka gajian. Mereka
      pun mengantri dengan tertib. Setelah semua pekerja lama menerima gajinya, tibalah
      giliran Pak Gagu.
       
      ”Gagu, sini.”
      Pak Mandor memanggilnya.
      Orang yang
      dipanggil tidak juga menyahut. Dia terus saja sibuk dengan urusannya. Tidak
      ikut berkerumun seperti orang lainnya. Sekarang orang tahu. Bahwa selain Gagu,
      orang ini juga tidak bisa mendengar secara sempurna. Butuh seseorang untuk
      memanggilnya dengan suara keras sekali. Dan dia pun datang menghampiri Pak
      Mandor yang siap membayar gaji.
       
      ”Ini...” kata
      Pak Mandor setengah berteriak. ”Upah kamu.”
      ”Hu?” Wajah Pak
      Gagu seperti membeku. ”Hahu hahu hahu!!!!!” Katanya. Dia mengibas-ngibaskan
      tangannya. Seperti orang yang mengatakan ’tidak’.
       
      ”Maksud kamu
      apa?” tanya orang-orang.
      ”Hahu! Hahu,
      hahu!” Jawabnya sambil kembali mengibas-ngibaskan tangan. Ditambah beberapa
      gerakan lain yang membuat semua orang semakin bingung.
      ”Kurang?” Kata
      Pak Mandor. ”Kan semua orang juga bayarannya sesuai pekerjaan....”
      ”Hahu! Hahu
      hahu...” jawab Pak Gagu. Tangannya kembali sibuk mengibas-ngibas.
       
      Untuk kalimat
      terkahir ini, semua orang bisa mengerti maksudnya. Kira-kira begini; ”Bukan,
      bukan begitu....”
       
      ”Jadi maksud
      kamu apa?” Semua orang semakin penasaran.
      Pak Gagu pun
      segera mengucapkan ”Hahu! Hahu, hahu!”nya berulang kali. Sambil menggambar di
      udara lagi. Gambar masjid, tentu saja. Lalu memasuk-masukkan comotan tangannya
      ke mulutnya seperti orang makan. Kemudian tangannya di kibas-kibaskan. Terus,
      telapak tangannya mengusap-usap perutnya. Setelah itu telunjuknya
      menunjuk-nunjuk ke langit.
       
      Setelah
      memikirkannya dengan cermat. Orang-orang paham bahwa yang dimaksud Pak Gagu
      adalah begini;”Saya bekerja disini untuk membangun masjid. Bukan untuk mencari
      makan. Karena kebutuhan perut saya sudah dijamin oleh Allah Yang Maha Menafkahi....”
       
      Subhanallah.
      Semua orang
      terpana.
      Pak Gagu itu
      profesinya hanya penunggu rumah orang lain. Tapi punya jiwa yang sedemikian
      beningnya.....
       
      ”Hahu! Hahu
      hahu...” kata Pak Gagu lagi. Sekali lagi menggambar di udara. Gambar masjid
      lagi. Kemudian jempol dan jari tengahnya digesek-gesek. Lalu tangannya
      dikibas-kibaskan. ”Saya mau ikut membangun masjid ini. Bukan mau mencari
      uang......” Begitu maksudnya.
       
      Merinding
      orang-orang mendengar penyataan Pak Gagu. Dengan segala kekurangan fisiknya,
      dia mempunyai jiwa yang sedemikian sempurnanya.
       
      Hingga masjid
      itu selesai dibangun. Pak Gagu menjadi bagian yang memberikan andil tak
      ternilai. Jika warga kompleks pada umumnya menyumbang sejumlah uang atau material
      lain dalam berbagai bentuknya. Maka Pak Gagu, menyumbangkan tenaganya untuk
      mewujudkan rencana itu. Mengaduk, menyusun, dan menembok material itu. Hingga
      mewujud menjadi sebuah masjid. Masjid Al-Falah namanya. Masjid di komplek kami.
       
      Kejadian itu,
      berlangsung lama sebelum saya tinggal di situ. Tapi, tahukah Anda; darimana
      saya mengetahui cerita itu? Dari salah seorang tokoh masyarakat. Mungkin saya
      tidak bisa menceritakan detail dan akurasi kisahnya 100%. Tetapi, cerita itu
      dibenarkan oleh tokoh masyarakat lainnya. Selama saya mengenal Pak Gagu, saya
      dapat merasakan betapa beliau adalah orang yang tidak lagi terikat oleh
      keterbatasan dirinya. Dalam acara kerja bakti, saya sering melihatnya menenteng
      alat-alat kerja. Disaat warga yang punya rumah tinggal dan mobil bagus pada
      sibuk dengan alasannya untuk mangkir kerja bakti, Pak Gagu yang ’hanya’
      penunggu rumah itu justru tampil diposisi paling depan.
       
      Orang-orang berada
      seperti kita, terbiasa bertanya;”Saya kan sudah bayar iuran bulanan, kenapa
      urusan kebersihan lingkungan masih harus kita kerjakan?”
       
      Pak Gagu yang
      memiliki kekurangan itu terbiasa tidak bicara. Karena selain Gagu, baginya
      mulut itu lebih baik ditutup daripada mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna.
      Pada diri Pak Gagu, saya melihat contoh hidup orang yang menjalankan nasihat
      Rasulullah;”Bicaralah yang baik. Kalau tidak bisa, diam sajalah....”
       
      Daripada
      menggunakan mulutnya untuk mengungkit-ungkit iuran yang sudah dibayarkan
      seperti kebanyakan warga komplek, Pak Gagu memilih untuk tidak bicara. Dia diam
      saja, karena tahu bahwa Rasul memerintahkannya demikian. Setelah itu, dia
      melakukan Firman Tuhan dalam kitab suci; ”Berlomba-lombalah untuk melakukan kebaikan!”
       
      Sungguh.
      Pak Gagu itu
      seorang tuna wicara. Tidak bisa bicara dengan baik. Tapi segala hal yang dia
      lakukan untuk orang lain telah menjadikan kata-kata kehilangan makna. Disaat
      orang lain sibuk menanyakan mengapa mesti begini, mengapa tidak begitu sebelum
      berbuat kebaikan bagi orang lain; Pak Gagu menikmati kebisuannya dengan segala
      kebaikan.
       
      Sungguh.
      Pak Gagu itu
      seorang tuna rungu. Tidak bisa mendengar dengan sempurna. Tapi setiap subuh,
      dia sholat berjamaah di masjid yang dia ikut serta membangunnya. Bagaimana dia
      mendengar suara adzan? Disaat orang lain sibuk memanjakkan rasa ngantuk karena
      lelah kemarin mencari uang seharian. Dan merasa telah sempurna amalnya karena
      sudah menyumbang untuk pembangunan masjid; Pak Gagu menikmati kesunyiannya
      dengan dzikir dan panggilan menuju kemenangan hakiki. ”Hayya ’alal falaaah... Mari
      menuju kepada kemenangan...”.
       
      Akhir pekan
      lalu, saya diajak oleh pengurus masjid untuk bertandang ke kandang di pasar
      hewan. Jauh. Di Bogor. Tapi karena rame-rame ya jadinya asyik juga. Disana, ada
      pasar khusus sapi. Pilihannya banyak. Dan sudah menjadi langganan pemasok sapi
      kurban kami selama bertahun-tahun.

      Setelah cocok segalanya. Pedagang sapi bertanya; ”Kapan sapinya mau dikirim....?”
      ”Seminggu
      sebelum kurban saja...” kata salah seorang diantara kami.
      ”Weeeh...
      jangan kelamaaaaan..” jawab yang lain. ”Sehari sebelum kurban saja.”
      ”Kenapa? Kan
      lebih baik jika beberapa hari sebelumnya...”
      ”Jangaaan..
      bisa repot urusannya.” jawab beliau. ”Siapa yang ngurus?” katanya.  ’Kalau ada si Gagu sih enak....”

      Deg. Jantung saya seperti ditumbuk ketika mendengar kalimat ”Kalau ada si Gagu
      sih enak....” Seolah menjawab kerinduan saya kepadanya selama ini.
       
      ”Memangnya Pak
      Gagu kemana, Pak?” saya tidak kuasa menahan rasa pensaran itu.
      Terlalu besar
      kerinduan saya kepada sosok Pak Gagu. Kepada keistimewaan yang dibangunnya dari
      kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Kepada keikhlasannya. Kepada kerendahhatiannya.
      Kepada kekhusyuannya dalam beribadah. Kepada semua yang ada pada dirinya.
       
      Ternyata. Bukan
      hanya saya yang merindukan kehadiran Pak Gagu.
      Rupanya langit
      pun merindukannya. Malaikat merindukannya. Surga merindukannya. Dan Tuhan. Pun
      merindukannya. ”Memangnya Pak Gagu kemana, Pak?”  Pada tanggal 1 Januari 2012. Setelah
      sembahyang subuh Pak Gagu mengayuh sepedanya. Lalu telinganya yang tak bisa
      berfungsi sempurna itu sayup-sayup mendengar panggilan mulia ini; ”Wahai
      jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan
      diridhoi-Nya. Masuklah engkau kedalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah engkau,
      kedalam surgaKu....”
       
      Selama ini, Pak
      Gagu sudah menjadi contoh hidup bagaimana ajaran Nabi dan kalam-kalam Ilahi
      tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di pagi yang sunyi itu, Pak Gagu kembali
      menunaikan panggilan Ilahi yang sayup terdengar ditelinga jiwanya itu. Sebuah
      sepeda motor yang melaju kencang mengantarkan dirinya memenuhi panggilan atas kerinduan
      Ilahi itu. ”BRAAAKKK.....!!!” Sepeda tuanya terlempar hingga ringsek. Sedangkan
      Pak Gagu, terbang ke langit. Memenuhi panggilan Ilahi. Untuk yang terakhir
      kalinya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 19 Oktober
      2012
      Leadership, Career and
      People Develompent Trainer
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan Kaki:
      Kita. Tidak kekurangan apapun untuk melakukan kebaikan.
      Tidak perlu menunggu kaya untuk melakukannya. Sebab uang, bukanlah satu-satunya
      alat pembayaran untuk berjual beli dengan Tuhan.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman “S(=Spiritualism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/
       Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai
      bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong,
      jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang
      karenanya.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Dare to invite Dadang to speak for your company?
      Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.