Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Leaderism#8: Memahami Kebutuhan Anak Buah

Expand Messages
  • Dadang Kadarusman
    Leaderism#8: Memahami Kebutuhan Anak Buah   Hore! Hari Baru, Teman-teman.   Pemimpin yang sempurna itu kayaknya tidak ada ya. Setidaknya, begitulah hasil
    Message 1 of 1 , Jul 29, 2012
    • 0 Attachment
      Leaderism#8: Memahami Kebutuhan Anak Buah
       
      Hore!
      Hari
      Baru, Teman-teman.
       
      Pemimpin yang sempurna itu
      kayaknya tidak ada ya. Setidaknya, begitulah hasil pengamatan saya. Sebaik
      apapun cara kita memimpin, tidak akan bisa memenuhi harapan semua orang. Kita
      juga tidak bisa memenuhi semua harapan. Hal itu tidak selalu disebabkan karena terbatasnya
      otoritas kita, atau kesalahan kita. Melainkan juga karena ada hal-hal yang kita
      lakukan dengan niat yang baik namun tidak pada tempatnya.  Lho, kok bisa? Buktinya, cukup banyak kan
      atasan yang sudah merasa melakukan yang terbaik buat anak buahnya namun masih
      dinilai jelek oleh mereka. Mengapa bisa begitu ya? Bisa, jika semua yang kita
      lakukan untuk anak buah itu tidak dilandasi oleh pemahaman yang baik terhadap
      kebutuhan mereka.
       
      Tidak mudah untuk memahami
      kebutuhan anak buah. Khususnya bagi orang yang selalu yakin bahwa apa yang
      dilakukannya itu adalah yang terbaik buat mereka. Padahal memahami kebutuhan
      itu penting sekali. Karena apapun yang kita lakukan untuk anak buah, jika tidak
      sesuai dengan kebutuhan mereka; maka hasilnya tidak akan optimal. Mungkin juga
      sia-sia. Bahkan boleh jadi malah bisa berbahaya bagi mereka. Pagi ini saya
      kembali diingatkan tentang betapa pentingnya memahami kebutuhan anak buah itu. Ijinkan
      saya menceritakannya kepada Anda.
       
      Hari minggu kemarin, kami
      berencana menyajikan hidangan buka puasa istimewa di rumah. Saya pergi ke
      pasar, lalu membeli 3 ekor kepiting berukuran jumbo. Salah satunya berbobot 700
      gram dengan capit yang sangat besar. Sebagai penggemar kepiting, kami bisa
      membayangkan kelezatan dagingnya yang tebal. Namun karena jalan pulang macet
      berat, saya tiba di rumah tepat ketika masuk waktu buka sehingga tidak ada
      waktu lagi untuk memasaknya. Maka kami pun memutuskan untuk menyajikanya saat
      buka puasa besok saja. Menunggu semalam lagi tidak menjadi soal. Anggap saja
      sebagai pengobar selera, agar besok kami benar-benar ‘all out’ menikmatinya.
       
      Sepulang sembahyang tarawih,
      saya menengok kepiting-kepiting itu. Membayangkan mereka sudah berjam-jam dipajang
      pedagang tanpa air membuat saya merasa kasihan pada mereka. Tentunya mereka
      sangat merindukan air. Maka saya pun berinisiatif untuk memasukkan kepiting itu
      kedalam wadah berisi air. Maksud saya; supaya mereka bisa menikmati malam terakhirnya
      dengan nyaman seperti di alam bebas. “Anggap saja di rumah sendiri ya…” Lalu saya
      pun meninggalkan kepiting itu di dalam air bening dan menyegarkan.
       
      Keesokan paginya saya menengok
      mereka. Dengan harapan bisa melihat capit-capit besarnya bergerak
      kesana-kemari. Tapi mereka malah pada diam saja. Saya menggodanya. Dengan
      harapan mereka menggunakan capitnya yang kuat untuk menyerang. Namun, mereka
      sama sekali tidak bereaksi. “Mengapa kepiting-kepiting itu tidak merespon?”
      saya tercekat. Lalu memberanikan diri menangkapnya. Mereka tidak melakukan
      perlawanan sama sekali. Duh, ternyata mereka semua sudah pada mati.
       
      Saya diberitahu seseorang bahwa
      itu adalah kepiting air payau sehingga justru akan mati kalau disimpan dalam
      air tawar. Oh. Rasanya seperti disentil karena telah melakukan kesalahan besar.
      Ternyata, niat baik saya untuk kepiting-kepiting itu justru membuat mereka mati
      tenggelam. Sekarang perasaan saya bercampur aduk antara kasihan dan menyesali
      kebodohan diri sendiri. Gara-gara tidak mengerti kebutuhan kepiting-kepiting
      itu, maksud baik saya malah membahayakan mereka.
       
      Di kantor, kita mungkin tidak
      melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa seperti itu. Namun, jika kita
      melakukan kebaikan untuk orang-orang yang kita pimpin tanpa mengerti kebutuhan
      mereka; maka hasilnya belum tentu menjadi baik. Mungkin juga kita hanya
      mengatakan sesuatu yang menurut kita benar. Namun, boleh jadi justru hal itu
      sangat menyakitkan perasaan anak buah kita. Soal ini, saya pernah mengalaminya
      sendiri. Ketika saya merasa telah mengatakan yang seharusnya, namun ternyata
      itu tidak cocok untuk orang-orang tertentu, meskipun orang lainnya baik-baik
      saja. Sekarang, saya lebih paham mengapa mereka begitu.
       
      Kepiting-kepiting itu tampak
      utuh. Maka saya pun segera menyiapkan alat dapur untuk membersihkannya. Namun,
      ketika saya memotong bagian-bagiannya, saya menemukan bahwa daging kepiting itu
      sudah membusuk didalam. Tidak ada lagi yang masih tersisa untuk diselamatkan.
      Semuanya sudah mencair sambil mengeluarkan bau tidak sedap. Ketika kita
      melakukan sesuatu yang keliru untuk anak buah kita. Mungkin saja penampakan
      fisik mereka baik-baik saja. Senyum mereka masih bisa kita lihat. Kata-kata
      mereka masih terdengar ‘normal’. Namun, siapa yang tahu bisikan didalam hati
      mereka? Namanya juga anak buah. Tentu berusaha untuk bersikap baik pada
      atasannya. Namun, didalam hatinya? Tidak seorang pun tahu.
       
      Maka penampilan anak buah yang
      terlihat baik-baik saja belum tentu menunjukkan bahwa perlakuan kita kepada
      mereka sudah tepat. Meskipun mereka bisa menyesuaikan diri, namun cepat atau
      lambat mereka akan mengalami kelelahan. Lalu, tanpa kita sadari mulai membusuk
      dari dalam. Kenyataannya tidak ada orang yang bisa bertahan terlalu lama di
      suatu tempat atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhan emosinya. Persis
      seperti daging kepiting yang tampak utuh dari luar, namun hancur di dalam itu.
       
      Sekarang saya paham, apa yang
      dibutuhkan oleh kepiting air payau. Jika kelak membelinya kembali, saya tahu
      apa yang mesti saya lakukan untuk mereka agar tidak menyebabkan mereka menderita
      karena niat baik saya. Andai saja kita juga bisa lebih memahami kebutuhan
      orang-orang yang kita pimpin. Mungkin kita menjadi tahu persis tentang apa yang
      mesti kita lakukan untuk mereka sehingga tugas kepemimpinan ini bisa kita tunaikan
      dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, kita akan bisa melakukannya jika kita belajar
      untuk lebih memahami apa sesungguhnya yang mereka butuhkan dari kita.
       
      Salam hormat,
      Mari Berbagi
      Semangat!
      DEKA – Dadang
      Kadarusman – 30 Juli 2012
      Author, Trainer, &
      Public Speaker of Natural Intelligence
      0812 19899 737 or Ms. Vivi
      at 0812 1040 3327
       
      Catatan Kaki:
      Memahami
      kebutuhan fisik dan emosi anak buah itu sangat penting untuk memastikan kita
      bisa melakukan yang terbaik bagi mereka.
       
      Ingin
      mendapatkan kiriman “Leaderism” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/naturalintelligence/
       
      Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai
      bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi
      tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak
      berkurang karenanya.


      Salam hormat,
      Mari Berbagi Semangat!
      DEKA - Dadang Kadarusman
      www.dadangkadarusman.com
      Dare to invite Dadang to speak for your company?
      Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.