Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [StartUpLokal] Oot ATC

Expand Messages
  • Tomi Satryatomo
    Like this! Salam, ... Tomi Satryatomo skype: tomi.satryatomo twitter: @wisat Jakarta, Indonesia (GMT+7) ... From: Ilham Rizqi Sasmita
    Message 1 of 34 , May 19, 2012
    View Source
    • 0 Attachment
      Like this!

      Salam,
      ---
      Tomi Satryatomo
      skype: tomi.satryatomo
      twitter: @wisat
      Jakarta, Indonesia (GMT+7)

      From: Ilham Rizqi Sasmita <irs@...>
      Sender: StartUpLokal@yahoogroups.com
      Date: Sun, 20 May 2012 10:16:43 +0700
      To: <StartUpLokal@yahoogroups.com>
      ReplyTo: StartUpLokal@yahoogroups.com
      Subject: Re: [StartUpLokal] Oot ATC

      2012/5/20 Andriansah <andriansahj@...>
       

      kok tidak heboh di detikcom?


      Jangan heran mas. 

      Media nasional tidak bisa meliput semua kejadian penting di negeri ini. Banyak UNTOLD STORY yang sebetulnya kita harus tahu, malah tidak diberitakan/dihilangkan. Sebaliknya, banyak berita ngga penting yang kita ngga perlu tahu, malah diberitakan. Distraction & Dellusion ini dilakukan terus-menerus.

      Sampai-sampai Green Day saja buat lagunya:

      Don't want to be an American idiot.
      One nation controlled by the media.
      Information age of hysteria.
      It's calling out to idiot America.

      Saking seringnya otak kita dibiasakan menerima berita-berita tidak penting, sampai otak kita tidak bisa membedakan MANA YANG BENAR dan MANA YANG SALAH. Well, sebenarnya otak kita pun tidak bisa membedakan MANA REALITA FISIK dan MANA REALITA PSIKIS.

      Dari segi kualitas informasi, obrolan warung kopi bersama satpam dan warga sekitar bisa jauh lebih berkualitas dari pada berita di media nasional. 

      Three sides to every story: yours, mine, and The Monday Mornings.

      Sangat disayangkan jika waktu kita banyak dihabiskan untuk menonton TV dan membaca berita ketimbang berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Banyak UNTOLD STORY mengenai negeri ini dalam bentuk yang lebih JUJUR.

      --
      "I seek not to know all the answers. But to understand the question."

      Ilham Rizqi Sasmita. 
      PT. Sandiloka

      Mobile: 0817852949 | BB: 22B67513

    • yodi aditya
      Whoooppss :D
      Message 34 of 34 , May 21, 2012
      View Source
      • 0 Attachment
        Whoooppss :D

        On 05/21/2012 01:14 PM, sofian hanafi wrote:
        >
        > Mobil Dahlan Iskan : http://rri.co.id/Upload/Berita/mobil-dahlan-iskan.jpg
        >
        > 2012/5/20 <mpiq.0511@... <mailto:mpiq.0511@...>>
        >
        > Hmmm ...
        >
        > Yg saya tau ya ... Pak Dahlan gak mau pake mobil dinas yg
        > disediakan kementrian, dia lebih senang pake mobil pribadinya
        > sendiri dengan ongkos bbm sendiri ... Dan mobil yg ber-plat L 1 JP
        > itu adalah Jaguar, bukan Mercy ... :-)
        >
        >
        >
        >
        > Salam,
        > MPIQ
        > Powered by Telkomsel BlackBerry®
        > ------------------------------------------------------------------------
        > *From: * "michael" <mxr@... <mailto:mxr@...>>
        > *Sender: * StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>
        > *Date: *Sat, 19 May 2012 16:07:28 +0000
        > *To: *<StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>>
        > *ReplyTo: * StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>
        > *Subject: *Re: [StartUpLokal] Oot ATC
        >
        > Dapet dr milis sebelah tuh, penulisnya dr majalah Kartini ada di
        > footer. Something I don't know? Hoax?
        >
        > ------------------------------------------------------------------------
        > *From: * bay_fresh <ochansan@... <mailto:ochansan@...>>
        > *Sender: * StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>
        > *Date: *Sat, 19 May 2012 22:14:54 +0700
        > *To: *<StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>>
        > *ReplyTo: * StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal@yahoogroups.com>
        > *Subject: *Re: [StartUpLokal] Oot ATC
        >
        > coba di klarifikasi, pak..
        >
        > disitu tercantum " Minggu 13/5/12, pukul 06.00 wib " ... kalo dari
        > cerita lain, sidak-nya itu bulan Februari..
        >
        > thx.
        >
        > Irsan
        >
        > 2012/5/19 Luki Ishwara <s@... <mailto:s@...>>
        >
        > Sumbernya dari mana ya om michael?
        > Majalah kartini mei kah?
        >
        > Sent from my Windows Phone
        > From: michael
        > Sent: 19/05/2012 21:11
        > To: StartUpLokal@yahoogroups.com
        > <mailto:StartUpLokal%40yahoogroups.com>
        > Subject: [StartUpLokal] Oot ATC
        >
        >
        > Utk yg sering terbang, banyak berdoa.
        >
        > From:
        > Sender:
        > Date: Fri, 18 May 2012 03:30:15 +0000
        > To:
        > Reply
        > Subject: [cc73] SIDAK ATC Dahlan Iskan
        >
        > Minggu 13/5/12, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih
        > lengang, mobil Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto
        > Hatta. Penumpangnya hanya berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak
        > Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri berdampingan dengan
        > Zahidin, sopir
        > pribadinya. Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami
        > berdua seperti juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa
        > botol air
        > mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen. ''Kita
        > berangkat pagi, karena aku pingin mampir ATC (Auto Traffic
        > Control) di
        > Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem
        > bergaris-garis
        > warna biru yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan
        > kumasukkan ke dalam bagasi mobil berwarna hitam metalik itu.
        >
        > Sepinya jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full.
        > Tidak sampai
        > 1 jam, perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence,
        > dilalui
        > tanpa hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum
        > Angkasa
        > Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas
        > menurunkan kaca
        > sambil menyapa sekurity dan satpam yang tengah berjaga.
        > ''Pagi, pak.
        > Permisi, ya'' sapa pak Dis dengan ramah. Belum sempat
        > menjawab, mobil
        > yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung.
        > Rupanya
        > gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung
        > inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang
        > ada di
        > bandara Soeta.
        >
        > Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang
        > kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos,
        > berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang
        > petugas berbadan agak tambun menyuruh mobil kami kembali.
        > Alasannya,
        > tempat terlarang dan tidakb oleh sembarangan orang masuk.
        > Untuk urusan
        > itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu
        > argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas security.
        > Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang
        > terjadi, aku
        > tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang
        > sangat cepat,
        > lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis
        > menuju sebuah
        > gedung yang salah satu mejanya bertuliskan receptionis. ''Pagi,
        > Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu
        > kosong.
        > Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan
        > berusaha
        > memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat
        > keadaan. Kotor
        > dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping
        > itu,
        > terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air menieral,
        > bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok.
        > Padahal,
        > ruangan itu full AC. Dingiiiiiin.
        >
        > Bagiku, ini aneh. Meskipun minggu dikenal hari libur bagi
        > masyarakat
        > umum, tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur,
        > justru
        > hari-hari sibuk bagi instansi yang ada dalam salahs atu BUMN
        > tersebut.
        > Makanya, ada 3 shift yang diberlakukan bagi karyawannya di
        > bagian ini.
        > Belum tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki
        > yang ada
        > di dalam ruangan yang ada di televisinya itu. Akupun kembali
        > mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban salam, yang
        > kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa sih lo, pagi-pagi gini.
        > Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah
        > ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan
        > suara tak
        > kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya
        > dengan suara
        > lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri
        > pingin
        > ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar suara
        > galakku,
        > laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya
        > ada lima
        > orang lelaki yang bersiap menghadapiku. Saat kutoleh ke
        > belakang, pak
        > Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan mencari-cari
        > sendiri
        > ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah gesitnya. ''Lho,
        > bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang
        > masih muda
        > dan ganteng. Tanpa menjawab, akupun pergi berlari menguntit
        > langkah
        > pak Dis dari belakang.
        >
        > Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya
        > ramah, agak
        > kecut. HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor
        > telepon. Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang.
        > ''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengganggu
        > libur anda
        > ya. Sory, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC.
        > Melihat komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho,
        > mas,''
        > ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah
        > menikmati libur minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya
        > sendiri
        > saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda kok
        > ini. Cuma
        > mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri sambil terus
        > membuka-buka pintu ruangan yang dilalui. Rupanya, sebelum itu,
        > pak Dis
        > sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski
        > demikian,
        > pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang
        > bertuliskan
        > ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan
        > wajah
        > berbinar.
        >
        > Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yang agak
        > tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam
        > ruangan itu
        > ada beberapa orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis
        > menyalami satu persatu karyawan yang tengah bertugas. Tentu saja
        > mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka dikunjungi
        > menteri.
        > Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke
        > komputernya.
        > Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di
        > asbak
        > yang ada di sampingnya. ''Wah, nglembur ya. Maaf, saya
        > menganganggu,''
        > ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja
        > kala
        > itu. Setelah meminta penjelasan bagian apa ruangan yang tengah
        > didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC.
        > ''Wah,
        > disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah menyindir.
        > Kudengar
        > ada yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung
        > rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa
        > yang
        > ditelepon.
        >
        > Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai
        > supervisor menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan
        > menuju ruangan yang ditunjukkan. ''Di sini pak. Mari,'' ucap
        > lelaki
        > bertubuh tegap yang mengenakan hem kuning muda. Di depan pintu
        > masuk
        > ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang masuk'' dan tulisan
        > ''steril''. Selain itu juga ada tulisan ''jagalah kebersihan''.
        >
        > Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu
        > ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini
        > tidak sembarang orang boleh masuk, pak,'' kata petugas tadi
        > menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut.
        > Setelah
        > itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada
        > 10 anak
        > tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah
        > ruangan
        > yang dipintunya bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di larang
        > masuk''. Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang
        > seluruh
        > ruangannya full komputer. Suasananya ramai. Sedikitnya ada 30
        > komputer
        > berbagai ukuran. Masing-masing komputer ada seorang
        > operatornya. Cuma
        > sayang, ruangan yang super dingin itu tidak sesteril, seperti
        > slogan
        > yang dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa
        > makanan. Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie.
        > Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat beberapa
        > asbak
        > ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi, memang.
        >
        > STRES
        >
        > Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada
        > rokok
        > dan bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis
        > serius. Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan.
        > ''Oh, iya pak. Rokok itu untuk menghilangkan stres saja. Kalau
        > tidak,
        > temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalu
        > penerbangan,'' jawab lelaki itu sekenanya. ''Oh, gitu ya.
        > Kalau stres
        > ya gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang
        > sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak Dis tak mau kalah.
        > Melihat
        > jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, pak. Siap,''
        > jawabnya
        > dengan wajah pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan
        > saja,'' tambah pak Dis. Setelah itu, pak Dis minta penjelasan
        > tentang
        > komputer raksasa yang baru saja didatangkan oleh kementeriannya.
        > Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat sekeliling. Begitu
        > melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan beberapa bekas
        > pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit disini,
        > dibuka
        > kantin atau resto ya,'' ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata
        > direspon
        > positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti
        > langkah
        > kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas makanan,
        > piring
        > atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun hanya
        > senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan.
        >
        > KONSER
        >
        > Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC
        > berada. Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi
        > yang ada
        > di bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap
        > bandara. Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan
        > pilot pesawat untuk minta ijin landing atau take off pesawat.
        > Sial.
        > Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak
        > seperti
        > yang digambarkan. Super sterilnya tidak tampak. Puntung rokok juga
        > masih ada di beberapa tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga
        > disiapkan. Pak menteri, kembali kecewa. Peralatan serba
        > canggih dan
        > super mahal, tidak diimbangi dengan attitude operatornya. Ketika
        > ditanya mengapa masih ada puntung dan asbak, petugas tadi berkata
        > lugu.
        >
        > ''Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul
        > berbagai alat yang ada untuk pelampiasan kegalauan sambil
        > menyanyi-nyanyi, pak. Apalagi jika cuacanya buruk seperti
        > akhir-akhir
        > ini,'' ujar petugas yang bertanggung jawab di bagian tower.
        > Pak Dis
        > pun mendengar dengan serius jawaban petugas tersebut. ''Oh begitu.
        > Bagus, bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil
        > mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan
        > secara
        > rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian
        > tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun.
        > Di sebuah
        > ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan
        > ditindak
        > lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di
        > bagian
        > tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.
        >
        > ''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana
        > kinerja
        > kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower
        > dibuatkan orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan
        > wartawan musik
        > toh, jadi gampang untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku.
        > Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya
        > menganggukkan kepala.
        >
        > Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah.
        >
        > DOSEN
        >
        > Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri
        > mengenakan sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang
        > guru,
        > akupun mengisahkan bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos.
        > Bapak-bapak, kataku memulai ''ceramah'' kecil''. Di Jawa Pos,
        > peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarah jauh dan
        > lain
        > sebagainya yangberkaitan dengan satelit. Untuk menjaga itu semua,
        > bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh.
        > Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh
        > dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun,
        > semuanya
        > itu harus dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di
        > luar
        > ruangan. Di dalam ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih
        > lanjut, tolong, di sediakan ruangan merokok bagi yang merokok.
        > Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih,
        > peralatan super
        > canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa diperlihara dengan
        > aman. Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa,
        > pak Dis
        > menahan senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.
        > Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki. Setelah itu, kamipun
        > pamitan
        > pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil, kulihat ada seorang
        > pejabat
        > yang buru-buru hendak menemui kami. ''Mana pak menteri Dahlan,''
        > tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan tanganku
        > ke arah
        > belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga orang
        > supervisor yang tadi kukuliahi. Sayup-sayup, ku dengar,
        > pejabat yang
        > berlari-lari itu meminta maaf pada pak Dis karena keterlambatannya
        > itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat lain,'' ucapnya memberi
        > alasan. Akupun berlari menuju toilet karena dinginnya ruangan
        > ''steril'' tersebut.
        >
        > (bandara Soekarno-Hatta medio Mei 2012)
        >
        > dituturkan oleh Siti Ita Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini
        >
        > ------------------------------------
        >
        > Visit http://startuplokal.org for event details
        > Employer/employee? Visit http://startuplokal.org/jobs
        > http://tekno.kompas.com/startuplokal - Press Release send to
        > press@...
        > <mailto:press%40startuplokal.orgYahoo>! Groups Links
        >
        >
        >
        >
        >
        > --
        > Thanks.
        >
        > Sofian.
        >
        >
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.