Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [StartUpLokal] Hak Cipta pada Source Code

Expand Messages
  • Irvan Putra
    Haha, ditunggu balasannya :D 2012/4/29 Gunawan Bagaskoro
    Message 1 of 37 , Apr 29 2:53 AM
    View Source
    • 0 Attachment
      Haha, ditunggu balasannya :D

      2012/4/29 Gunawan Bagaskoro <gbagaskoro@...>
       

      Saya tidak bisa segera membalas karena untuk email yang panjang yang lebih senang mengerjakannya di depan komputer.

      Nanti saya balas lagi ya, kalau sudah di depan komputer lagi.


      Salam,

      Gunawan Bagaskoro
      Konsultan HKI

      From: Irvan Putra <irvan.putra@...>
      Date: Sun, 29 Apr 2012 14:30:49 +0700
      Subject: Re: [StartUpLokal] Hak Cipta pada Source Code

       

      Terima kasih sudah menanggapi balasan saya Mas Gunawan, saya tadi sudah takut tidak akan ada yang menanggapi, sementara selama ini saya hanya belajar dari membaca buku-buku gratis yang bertebaran di Internet (akhir-akhir ini saya banyak membaca Lessig) sehingga belum tahu seberapa beda pengakuan HKI di Indonesia.


      Mengenai pilihan, saya senang sekali ada yang memahaminya seperti itu juga. Untuk copyright, jika tidak dicantumkan, otomatis akan masuk ke ke ranah publik (public domain), sehingga orang lain berhak menyalin dan juga membuat turunannya. Untuk paten, jika tidak didaftarkan, orang lain berhak menyalinnya. Untuk merek dagang, jika tidak agresif dipertahankan, orang lain berhak memakainya (tapi saya kurang yakin istilahnya apa untuk merek dagang, apakah merek generik?)

      Lalu saya juga penasaran dengan konsep pemakaian yang wajar (fair use) dan karya-karya pendahulu (prior art) di Indonesia.

      Saya yakin kalau kita mulai mengoleksi kumpulan karya/penemuan yang sudah ada di Indonesia, walaupun kebanyakan cuma di ranah publik (tidak dicantumkan copyright atau tidak didaftarkan patennya), akan cukup untuk basis kita menciptakan karya tanpa melanggar copyright negara-negara lain (termasuk negara-negara maju). Saya cuma bisa berharap kantor HKI di Indonesia menyadari hal ini. 

      Jangan sampai kita meratifikasi hukum yang disodorkan tanpa keuntungan untuk kita.

      Saya pahami kasus paten cukup rumit apalagi yang melibatkan bidang yang sedikit referensi kasusnya. Untuk Google vs. Oracle, konon ini akan menentukan apakah desain API akan bisa diberikan hak cipta ataupun tidak.

      Farmasi adalah contoh klasik paten didengung-dengungkan sebagai solusi dari pembiayaan riset, karena resiko dan biaya yang besar yang perlu ditanggung penemu. Sayangnya, hal ini juga terkadang disengaja oleh yang sedang berada di industri sendiri.

      Yang membuat saya lebih penasaran apakah ada konsep lisensi yang wajar dan adil (FRAND) di Indonesia. Jika pemerintah berniat menggebrak industri yang ketat akan status-quo seperti farmasi, apakah sampai perlu membuat asosiasi untuk "membeli" paten ini, seperti halnya kasus Wright bersaudara?

      Kembali kepada "kode mentah", selain karena keyakinan saya kode seharusnya tidak bisa dimonopoli, saya tidak yakin kita berada dalam posisi yang diuntungkan jika hak cipta bisa diterapkan untuk "kode mentah".

      Selain itu, tidak ada namanya kode yang sempurna untuk setiap situasi dan kondisi. Seiring waktu, daya saing yang utama adalah kemampuan untuk beradaptasi*.

      Regards,
      Irvan Putra.

      * Terinspirasi dari artikel Paul Graham dkk. tentang pembuatan startupnya bernama Viaweb dimana ketika pesaing telah berhasil menciptakan fitur baru, mereka bisa menyalinnya dalam beberapa hari. Walau memakai Lisp turut andil....

      2012/4/29 Gunawan Bagaskoro <gbagaskoro@...>
       

      Sedikit tambahan.

      HKI sesungguhnya merupakan sebuah pilihan. Artinya, tidak ada kewajiban bagi seseorang atau satu pihak untuk mendaftarkan HKI yang dimilikinya. Jika sudah terdaftar pun, pemegang memiliki pilihan untuk menegakkan haknya secara agresif, selektif atau membebaskan orang lain untuk menggunakan dengan syarat tertentu atau tanpa syarat (hal ini diawali oleh IBM).

      Apa yang disampaikan Mas Irvan soal sejarah hak cipta memang benar. Dan ada kepentingan negara maju juga dalam hal masa perlindungan hak cipta, ada usulan untuk memperpanjang perlindungan hingga seumur hidup pencipta + 70 tahun atau 70 tahun untuk program komputer.

      Untuk paten, hak monopoli diberikan kepada inventor atau pemegang paten karena kesediannya membuka invensinya ke publik. Inventor bisa saja tidak membuka invensinya dan itu merupakan sebuah pilihan. Dan memang banyak sekali paten-paten yang aplikasinya meluas setelah masa perlindungannya habis. Contoh mudah adalah PTFE (dijual oleh DuPont dengan merek Teflon) yang awalnya untuk melapisi ball bearing sehingga tidak perlu grease tambahan untuk mengurangi gesekan. Setelah patennya habis, PTFE diaplikasikan ke alat masak sehingga menjadi anti lengket.

      Dalam kasus Google v. Oracle, saya tidak akan berkomentar lebih jauh karena

      1. Saya belum membaca dokumen paten Oracle yang dianggap dilanggar
      2. Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Google sehingga dianggap melanggar oleh Oracle (secara detail)
      3. Kasus paten adalah kasus yang pelik. Saking peliknya, pengadilan HKI di Jepang mempunyai kelompok staf ahli yang membantu hakim dalam memahami kasus paten yang masuk ke pengadilan.
      Anyway, HKI akan selalu ada perbedaan pendapat, antara regulator dengan pemohon, antara negara maju dengan negara berkembang, masyarakat dengan pemegang HKI, masyarakat dengan regulator. Ini baru satu sudut. Saya belakangan ini menangani persoalan farmasi dan paten farmasi di Indonesia. Kesimpulan awalnya adalah, pejabat tinggi di negara kita pun masih belum memiliki pemahaman yang sama soal HKI.
      Diskusi tentang HKI tidak akan pernah ada habisnya dan biasanya selalu menarik.
       
      Respectfully yours,


      Gunawan Bagaskoro

      IPLOID
      Jl. Kumdang II No. 11
      Tangerang 15119
      INDONESIA

      ph. 62 818 926 275
      e-mail: gbagaskoro@...


      From: Irvan Putra <irvan.putra@...>
      To: StartUpLokal@yahoogroups.com
      Sent: Friday, April 27, 2012 11:49 PM

      Subject: Re: [StartUpLokal] Hak Cipta pada Source Code

       
      Walau saya orang awam, ada beberapa poin yang saya yakini:

      1) Hak cipta (copyright) pada awalnya otomatis langsung ke ranah publik (public domain), bukan sebaliknya yaitu otomatis dipegang oleh ke penciptanya.

      Hak cipta menurut sejarah yang saya pahami adalah hak yang dibuat oleh pemerintah agar para pencetak (publisher) mempunyai hak monopoli atas pencetakan karya yang dibuat oleh para pencipta (creator). Jadi sebenarnya istilah yang tepat adalah hak "menyalin" (copyright).

      Dengan monopoli, kemungkinan untung pencetak akan lebih besar. Untung ini diharapkan akan kembali ke para pencipta karya tersebut. Hal ini dikarenakan hak cipta tersebut seharusnya dilisensikan dari pencipta ke pencetak, sehingga keuntungan dari setiap percetakan sebagian kembali ke pencipta.

      Tapi pada banyak kasus dimana daya tawar pencetak lebih besar, pencipta terpaksa "menjual" hak cipta dan tidak mendapatkan keuntungan dari setiap percetakan.

      Alasan lain pemerintah membuat hak cipta adalah agar percetakan terjamin. Dalam hal ini pencetak mempunyai daya tawar lebih besar terhadap pemerintah. Pemerintah menginginkan karya semakin banyak dicetak, tapi mesin cetak terbatas, maka diberikanlah monopoli kepada pencetak.

      Sayangnya, setelah mesin cetak terjangkau, monopoli ini terus ada. Walaupun pencipta karya yang bersangkutan sudah wafat, monopoli karyanya tetap ada. Padahal publik sudah bisa mencetak/menyalin karya tersebut sendiri.

      Pemerintah seharusnya memihak publik. Hak cipta adalah solusi jangka pendek atas keperluan publik atas banyaknya karya. Ketika hak cipta sudah menyusahkan publik, sudah sepantasnya hak cipta tersebut dicabut.

      2) Dalam hal ini, ada jebakan bahwa nilai suatu karya adalah seberapa susahnya karya tersebut dicetak/disalin. Karena susahnya menyalin nilai lukisan, orang tidak terlalu mempermasalahkan salinan lukisan. Ada sebuah nilai dari memiliki lukisan yang asli.

      Lebih mudah menjual banyak salinan produk dengan harga yang terjangkau daripada menjual satu karya unik dengan harga yang mahal.

      Lebih mudah menjual banyak album daripada menyelenggarakan konser. Menjual film daripada teater. Menjual foto daripada jasa pemotretan.

      Kenyataannya, memang susah mengandalkan hidup dari menciptakan karya jika biaya penciptaannya tidak tertutupi dari harga pasarnya. Dengan teknologi, biaya ini semakin mengecil, tapi harga pasarnya pun semakin mengecil. Ketika setiap orang bisa menciptakan karya sendiri, jebakan ini baru bisa dihindari.

      3) Paten adalah jenis lain dari kekayaan intelektual, serupa tapi tidak sama dengan hak cipta. Hal ini lebih mengarah ke keperluan publik untuk mengetahui bagaimana penemuan bekerja. Paten yang juga merupakan hak monopoli, diberikan agar penemu menjelaskan secara rinci. Sehingga ketika masa paten habis, publik bisa membuat salinan dari penemuan tersebut.

      Pemberian paten masuk akal jika kerugian yang dialami publik dari hak monopoli ini lebih kecil daripada keuntungan yang didapatkan publik dari kemampuan menyalin penemuan tersebut. Jika diyakini publik bisa mengetahuinya tanpa penemu mendapatkan paten, sudah selayaknya paten tidak diberikan.

      Kebanyakan paten yang wajar adalah berupa penciptaan sebuah produk fisik, karena cukup susah publik mengetahui sebuah penemuan bekerja.

      Alasan lain untuk memberikan insentif untuk penemu membuat lebih banyak penemuan kurang tepat. Lebih tepatnya, paten adalah insentif untuk penemu menjelaskan penemuannya. Jika permohonan paten tidak menjelaskan penemuan secara rinci, publik rugi tidak hanya karena adanya monopoli dan juga tidak bisa menyalin penemuan tersebut setelah masa paten selesai.

      Masa paten juga harus mengacu pada seberapa lama hingga publik bisa mengetahui cara penemuan tersebut bekerja tanpa penjelasan dari penemunya.

      3) Kode sendiri adalah hal yang unik. Kita semua bisa setuju angka/huruf tidaklah bisa dimonopoli seseorang. Tapi kumpulan angka/huruf tersebut dalam sebuah karya bisa dimonopoli.

      Bill Gates terkenal memberikan surat kepada para programmer yang kira-kira intinya seandainya hasil karya programmer diberikan hak cipta akan lebih menguntungkan (ingat, pada dasarnya segala karya masuk ke ranah publik). Benar, dengan adanya hak cipta, programmer bisa menjual salinan produk daripada menjual jasanya.

      Kalau menurut sejarah, hal ini cukup aneh. Copyright (hak "menyalin") diciptakan karena penyalinan sangat susah dilakukan. Kode sangat mudah disalin.

      Akibatnya, publik dirugikan dengan dibuat susahnya kode untuk disalin (secara fisik/maya dari perangkat keras/lunak yang diperlukan untuk menggunakan kode tersebut) dan monopoli yang tersirat dari hak cipta. Hal ini bertentangan dengan keperluan publik dan seharusnya tidak didukung, apalagi oleh pemerintah (yang seharusnya berpihak kepada publik).

      Menariknya, dengan adanya kode yang berupa simulasi buku, musik, foto, film, dan karya-karya lainnya yang semula berbentuk fisik, dengan hak cipta yang seharusnya tidak ada di kode, lebih banyak orang berteriak karena sudah terjebak pada kehidupan yang didukung monopoli akibat hak cipta.

      Paten akan masuk akal jika permohonan paten untuk kode menyertakan kode mentah (source code), karena publik lebih diuntungkan daripada kode yang sudah dikompilasi (compiled code) yang publik hanya punyai jika programmer tidak memohon untuk paten. Masa paten dalam hal ini adalah seberapa lama hingga kode mentah bisa didapatkan balik (via reverse-engineering) dari kode yang sudah dikompilasi.

      Ambil contoh "Google vs. Oracle" yang sedang marak. Jika saya menjadi jurinya, saya akan memutuskan Java tidak bisa mendapatkan hak cipta (karena mudah disalin) maupun paten (karena mudah dimengerti), tapi nama Java adalah tanda dagang (trademark) milik Oracle, jadi Oracle berhak untuk tidak berkenan Google menggunakannya (sehingga Google harus membayar penalti).

      Jika ada sebuah server ditembus secara mayadan ada yang dihapus, maka ada pelanggaran hak milik (property right), yang saya yakini memang ada benarnya. Lain halnya jika hanya ada yang disalin, tidak bisa dikatakan pelanggaran copyright (hak "menyalin"), mengingat saya menyakini kode tidak seharusnya dikenakan hak cipta.

      Tentu saja, saya bukanlah pengacara, jadi apa saja yang saya yakini di atas bukanlah nasihat hukum yang memadai.

      Regards,
      Irvan Putra.

      2012/4/27 Gunawan Bagaskoro <gbagaskoro@...>
       
      Itu sebabnya kita perlu diskusi, om. Sering kali Kantor HKI kurang paham soal teknis seperti ini.

      Maka dari itu saya senang diskusi karena kita semua bisa saling mengisi. UU hak cipta tidak menyebutkan secara detail, tinggal bagaimana kita menginterpretasi apa yang ada di UU dengan pengetahuan teknis.

      Tidak semua hal bisa dilindungi oleh HKI karena ada batasan-batasan yang jelas.

      Jadwal bulan Mei buat startup lokal Tangerang mau bahas soal ini atau bahas topik lain?
      Salam,

      Gunawan Bagaskoro
      Konsultan HKI

      From: peb aryan <pebbie@...>
      Date: Fri, 27 Apr 2012 20:59:23 +0700
      Subject: Re: [StartUpLokal] Hak Cipta pada Source Code

       
      kode javascript karakteristiknya berbeda dengan kode bahasa yang dikompilasi. kode javascript untuk digunakan akan disalin melalui transfer HTTP. apakah UU Hak Cipta juga mengatur kode yang 'diciptakan' berulang kali seperti ini?

      2012/4/27 Gunawan Bagaskoro <gbagaskoro@...>
       
      Maksudnya kasih copy, Pak?

      Secara standar UU, ciptaan langsung dilindungi saat dipublikasikan. UU juga melindungi ciptaan yang tidak dipublikasikan.

      Masing-masing source code (awal dan perubahan-perubahannya) memiliki hak cipta masing-masing dan saling terkait.

      Jika source code dinyatakan bebas untuk digunakan siapa saja, pencipta perlu menyatakannya. Jika tidak ada pernyataan, semua mengacu ke standar yang ada di UU Hak Cipta.

      Kayanya bisa jadi topik diskusi nih ya
      Salam,

      Gunawan Bagaskoro
      Konsultan HKI

      From: Feris Thia <feris.milis@...>
      Date: Fri, 27 Apr 2012 15:17:06 +0700
      Subject: Re: [StartUpLokal] Hak Cipta pada Source Code

       
      Pak Gunawan,

      Ini di-state di source code saja cukup atau kita perlu kasih copy untuk melindungi ya Pak ? Apalagi source code sangat sering berubah ya.. 

      Regards,

      Feris

      2012/4/27 Gunawan Bagaskoro <gbagaskoro@...>
      Setahu saya, source code termasuk yang dilindungi oleh hak cipta. Yang artinya kita tidak bisa sembarangan menggunakan source code orang lain dan sebaliknya, kecuali dinyatakan dari awal bahwa source code tersebut bebas digunakan oleh orang lain.

      Klausul standar pemegang hak cipta atas source mengacu ke UU Hak Cipta, dalam hubungan pekerjaan/pemesanan hak cipta dipegang oleh pencipta kecuali diperjanjikan lain.







    • iyank
      Dengan hormat,   Pertama, kami ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk dapat memperkenalkan perusahaan kami. Kami, InfokomElektrindo adalah
      Message 37 of 37 , May 9, 2012
      View Source
      • 0 Attachment
        Dengan hormat,
         
        Pertama, kami ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk dapat memperkenalkan perusahaan kami.
        Kami, InfokomElektrindo adalah perusahaan Penyedia ISP & VSAT dengan pengalaman kerja lebih dari empat belas tahun (14 Tahun), baik dalam perusahaan Telekomunikasi, Perusahaan retail, Pemerintah maupun Perbankan.
        Hingga saat ini, kami telah memiliki prototipe sistem ISP & VSAT  yang khusus untuk bisnis anda, di seluruh kompetensi bisnis yang kami miliki saat ini, berdasarkan pengalaman di beberapa customer kami.
        Pada kesempatan ini apabila Bapak/Ibu berkenan, kami ingin mengadakan presentasi untuk sistem aplikasi, yang sekiranya ada rencana implementasi di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin.
        Untuk itu mohon kesediaan waktu dari Bapak/Ibu, untuk kami dapat bertemu guna membicarakan hal ini lebih lanjut.
        Demikian yang perlu kami sampaikan.
        Sambil menunggu kabar lanjut dari Bapak/Ibu, untuk presentasi produk yang kami punya,  atas perhatian dan kesempatannya kami ucapkan terima kasih.
         
        Hormat kami,
        SOFYAN
        sofyan@...
        M: 0813 - 8395 2248
        P: 021 – 392 3555
        F: 021 – 392 7001
        PT. Infokom Elektrindo
        MNC Tower Lt 10
        Jl. Kebon Sirih 17-19, Jakarta 10340, Indonesia
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.