Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Who Moved My Cheese ?

Expand Messages
  • Eko Jalu Santoso
    Rekan-rekan, Anda sudah membaca buku Who Moved My Cheese ? Karya Dr. Spencer Johnson ?. Saya mengulangnya beberapa kali, karena isinya sangat relevan dalam
    Message 1 of 3 , Apr 1 11:18 PM
    View Source
    • 0 Attachment
      Rekan-rekan,

      Anda sudah membaca buku Who Moved My Cheese ? Karya Dr. Spencer Johnson ?.
      Saya mengulangnya beberapa kali, karena isinya sangat relevan dalam
      menyiasati perubahan dalam hidup maupun pekerjaan. Dikemas dengan gaya
      bahasa yang sederhana, namun isi dibalik itu sungguh memberikan gambaran
      karakter yang mewakili bagian dari diri kita. Kalau ada yang belum membaca,
      saya sarankan untuk membacanya, ini juga menambah wawasan untuk menyiapkan
      diri melakukan perubahan nilai realitas diri kita. Simak juga ulasan dari
      Renald Kasali dibawah ini.

      Salam,
      Eko Jalu Santoso
      ********

      Who Moved My Cheese ?

      Ada yang menyarankan agar saya membaca buku Who Moved My Cheese?, karya
      Dr. Spencer Johnson. Karena isinya sangat menarik dan relevan dalam
      menyikapi perubahan dewasa ini, dalam tempo singkat buku itu langsung saya
      lahap. Buku ini bercerita tentang empat "karakter" dalam menyikapi
      perubahan.

      Dalam kehidupan, kata Ken Blanchard--kolega Johnson yang memberi kata
      pengantar dalam buku ini--kita memang memburu sesuatu. Sesuatu yang kita
      cari dalam hidup ini amat bervariasi: pekerjaan, kasih sayang, kesehatan,
      cinta, kebebasan, kemerdekaan, kedamaian, pengakuan, atau uang, rumah besar,
      mobil, untung dalam berusaha. Semua yang dicari manusia dalam kehidupan itu
      dimetaforakan dengan begitu indah oleh Johnson sebagai keju (cheese).

      Tapi, tentu saja apa yang kita cari itu tidak selalu ada begitu saja. Kita
      harus bekerja untuk mendapatkannya. Setelah didapat, ternyata keju pun tak
      selalu ada di sana. Si keju bisa berkurang, berpindah. Persoalannya,
      bagaimana kita tahu apa yang kita cari itu bisa berubah dari waktu ke waktu,
      atau bagaimana menghadapi perubahan-perubahan itu agar kita bisa
      mendapatkannya kembali?

      Empat karakter yang dilukiskan Johnson terdiri dari dua ekor tikus bernama
      "Sniff" dan "Scurry" dan dua manusia kecil bernama "Hem" dan "Haw".
      Keempatnya bergerak menjelajahi sebuah maze, jalan berliku yang banyak
      pilihan, namun beberapa di antaranya buntu sehingga mereka harus kembali
      lagi mencari jalan yang benar. Kalau ketemu, mereka akan bermuara pada
      beberapa stasiun. Keju kehidupan atau kebahagiaan yang diceritakan dalam
      buku ini ada pada beberapa stasiun tersebut. Tentu saja keempat karakter itu
      harus bergerak, mencari keju yang dimaksud.

      Sniff dan Scurry, sesuai dengan namanya, adalah karakter yang selalu
      bergegas, bergerak menggunakan naluri dan penciumannya. Adapun Hem dan Haw
      adalah kiasan tentang karakter yang ragu-ragu dalam bertindak.

      Meski karakternya antagonis, akhirnya keempat karakter tersebut berhasil
      menemui keju mereka masing-masing di stasiun yang berbeda. Tapi, seperti
      biasa, esoknya mereka kembali ke tempat yang sama untuk menikmati keju
      tersebut. Demikian seterusnya dari hari ke hari, seperti manusia berangkat
      dan pulang bekerja menuju tempat yang sama.

      Kisah ini menjadi menarik ketika Hem dan Haw tiba-tiba protes karena keju
      yang mereka cari tidak lagi berada di tempatnya. Mulanya mereka marah dan
      berteriak. Mereka tidak mencarinya di tempat lain, tapi lebih banyak
      berdiskusi. Mereka percaya, keju itu cuma pergi sebentar dan nanti akan ada
      lagi seperti semula. Yang tidak mereka sadari, perubahan sudah terjadi
      perlahan-lahan. Keju itu sudah mulai berkurang dari waktu ke waktu sampai
      akhirnya hilang. Setelah lama tidak kembali, akhirnya mereka mengalami
      keletihan. Pada saat itulah mereka mulai menduga jangan-jangan keju itu
      telah pindah ke stasiun lain. Mereka lalu mengambil palu, menjebol dinding
      sebelah, tapi sayang keju itu tak ada di sana.

      Itulah manusia yang berpikir kompleks, yang terikat dengan pikiran-pikiran
      dan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Mereka bekerja dengan menggunakan
      metode yang kompleks, jelimet, terlalu menggantungkan pada kemampuan
      otaknya, yang kadang diwarnai sudut pandang yang dianutnya.

      Adapun Sniff dan Scurry adalah karakter manusia "tikus" yang berpikir
      sederhana. Begitu sederhananya, sehingga intuisi lebih banyak berperan.
      Tanpa pengetahuan, manusia akan bergerak tidak efisien, metodenya trial and
      error. Ia lebih banyak menggunakan penciumannya ketimbang otak atau
      pengetahuannya. Maka, ketika keju itu berkurang, nalurinya segera
      memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Demikian pula ketika keju itu hilang,
      mereka tidak berpikir atau berdiskusi lebih dulu, tapi langsung mencari ke
      sana-ke sini.

      Menariknya, mereka yang berpikir sederhana inilah yang akhirnya selamat
      dalam perubahan. Mereka capek, tidak efisien, tapi tidak pernah putus asa
      sampai akhirnya menemukan stasiun lain yang masih ada kejunya.

      Pembaca, ketika rupiah kembali melemah dan menembus batas psikologis Rp
      10.000 per dolar AS, tentu saja banyak pihak yang panik. Saya percaya
      sedikit sekali di antara kita yang bisa lolos dari persoalan ini. Keju
      kehidupan yang lama kita nikmati bisa menghilang tiba-tiba. Tapi, tentu
      saja di antara Saudara ada yang mempunyai "karakter tikus". Manusia "Hem dan
      Haw" sebaliknya akan menghadapi perubahan ini dengan keragu-raguan, tapi
      mereka tetaplah manusia.

      Berpikir kompleks dan berpikir sederhana tentu saja ada di mana-mana.
      Tinggal Saudara mengatur berapa besar kadarnya untuk menciptakan
      keseimbangan dalam hidup. Kata Albert Einstein, "Everything should be made
      as simple as possible, but not simpler." Saya sudah lama menganut falsafah
      itu, sehingga dalam berceramah atau menulis, memberi pelatihan atau
      mengajar, saya selalu percaya bahwa topik berat harus bisa disajikan dengan
      sesederhana mungkin agar bisa digunakan untuk kehidupan.(Renald Kasali)
    • Ajie
      hallo semua nya slam kenal aja saya baru gabung nih kemarin ajie
      Message 2 of 3 , Apr 1 11:37 PM
      View Source
      • 0 Attachment
        hallo semua nya slam kenal aja
        saya baru gabung nih kemarin

        ajie
      • Agus
        Salam Kenal, it s nice... saya jadi dapat banyak informasi dari mailing list ini. Saya hanya karyawan, dan tertarik dgn ulasan P. safir di websitenya/tabloid.
        Message 3 of 3 , Apr 2 7:00 PM
        View Source
        • 0 Attachment
          Salam Kenal,

          it's nice... saya jadi dapat banyak informasi dari mailing
          list ini. Saya hanya karyawan, dan tertarik dgn ulasan P.
          safir di websitenya/tabloid. Menjual keahlian..? pernah
          saya lakukan dgn membuka pengetikan/ pembuatan skripsi,
          buka warnet, sekaligus reparasi komputer/elektronik. Saat
          itu saya masih pengangguran, waktu banyak...Hasilnya
          lumayan, banyak pelanggan mulai percaya namun disaat ada
          panggilan kerja di BUMN (now PMA) usaha tsb saya
          tinggalkan utk mencari yg lbh "safe". But now, saya sadar
          kerja sbg karyawan tdk akan maksimal, namun waktu sudah
          ter"beli" oleh perusahaan hingga sulit utk mulai usaha
          lagi.
          Ada saran yg positif?

          Rgds,
          @gus





          On Fri, 2 Apr 2004 14:18:47 +0700
          "Eko Jalu Santoso" <ekojalus@...> wrote:
          >Rekan-rekan,
          >
          >Anda sudah membaca buku Who Moved My Cheese ? Karya Dr.
          >Spencer Johnson ?.
          >Saya mengulangnya beberapa kali, karena isinya sangat
          >relevan dalam
          >menyiasati perubahan dalam hidup maupun pekerjaan.
          >Dikemas dengan gaya
          >bahasa yang sederhana, namun isi dibalik itu sungguh
          >memberikan gambaran
          >karakter yang mewakili bagian dari diri kita. Kalau ada
          >yang belum membaca,
          >saya sarankan untuk membacanya, ini juga menambah wawasan
          >untuk menyiapkan
          >diri melakukan perubahan nilai realitas diri kita. Simak
          >juga ulasan dari
          >Renald Kasali dibawah ini.
          >
          >Salam,
          >Eko Jalu Santoso
          >********
          >
          >Who Moved My Cheese ?
          >
          > Ada yang menyarankan agar saya membaca buku Who Moved
          >My Cheese?, karya
          >Dr. Spencer Johnson. Karena isinya sangat menarik dan
          >relevan dalam
          >menyikapi perubahan dewasa ini, dalam tempo singkat buku
          >itu langsung saya
          >lahap. Buku ini bercerita tentang empat "karakter" dalam
          >menyikapi
          >perubahan.
          >
          > Dalam kehidupan, kata Ken Blanchard--kolega Johnson yang
          >memberi kata
          >pengantar dalam buku ini--kita memang memburu sesuatu.
          >Sesuatu yang kita
          >cari dalam hidup ini amat bervariasi: pekerjaan, kasih
          >sayang, kesehatan,
          >cinta, kebebasan, kemerdekaan, kedamaian, pengakuan, atau
          >uang, rumah besar,
          >mobil, untung dalam berusaha. Semua yang dicari manusia
          >dalam kehidupan itu
          >dimetaforakan dengan begitu indah oleh Johnson sebagai
          >keju (cheese).
          >
          > Tapi, tentu saja apa yang kita cari itu tidak selalu ada
          >begitu saja. Kita
          >harus bekerja untuk mendapatkannya. Setelah didapat,
          >ternyata keju pun tak
          >selalu ada di sana. Si keju bisa berkurang, berpindah.
          >Persoalannya,
          >bagaimana kita tahu apa yang kita cari itu bisa berubah
          >dari waktu ke waktu,
          >atau bagaimana menghadapi perubahan-perubahan itu agar
          >kita bisa
          >mendapatkannya kembali?
          >
          > Empat karakter yang dilukiskan Johnson terdiri dari dua
          >ekor tikus bernama
          >"Sniff" dan "Scurry" dan dua manusia kecil bernama "Hem"
          >dan "Haw".
          >Keempatnya bergerak menjelajahi sebuah maze, jalan
          >berliku yang banyak
          >pilihan, namun beberapa di antaranya buntu sehingga
          >mereka harus kembali
          >lagi mencari jalan yang benar. Kalau ketemu, mereka akan
          >bermuara pada
          >beberapa stasiun. Keju kehidupan atau kebahagiaan yang
          >diceritakan dalam
          >buku ini ada pada beberapa stasiun tersebut. Tentu saja
          >keempat karakter itu
          >harus bergerak, mencari keju yang dimaksud.
          >
          > Sniff dan Scurry, sesuai dengan namanya, adalah karakter
          >yang selalu
          >bergegas, bergerak menggunakan naluri dan penciumannya.
          >Adapun Hem dan Haw
          >adalah kiasan tentang karakter yang ragu-ragu dalam
          >bertindak.
          >
          > Meski karakternya antagonis, akhirnya keempat karakter
          >tersebut berhasil
          >menemui keju mereka masing-masing di stasiun yang
          >berbeda. Tapi, seperti
          >biasa, esoknya mereka kembali ke tempat yang sama untuk
          >menikmati keju
          >tersebut. Demikian seterusnya dari hari ke hari, seperti
          >manusia berangkat
          >dan pulang bekerja menuju tempat yang sama.
          >
          > Kisah ini menjadi menarik ketika Hem dan Haw tiba-tiba
          >protes karena keju
          >yang mereka cari tidak lagi berada di tempatnya. Mulanya
          >mereka marah dan
          >berteriak. Mereka tidak mencarinya di tempat lain, tapi
          >lebih banyak
          >berdiskusi. Mereka percaya, keju itu cuma pergi sebentar
          >dan nanti akan ada
          >lagi seperti semula. Yang tidak mereka sadari, perubahan
          >sudah terjadi
          >perlahan-lahan. Keju itu sudah mulai berkurang dari
          >waktu ke waktu sampai
          >akhirnya hilang. Setelah lama tidak kembali, akhirnya
          >mereka mengalami
          >keletihan. Pada saat itulah mereka mulai menduga
          >jangan-jangan keju itu
          >telah pindah ke stasiun lain. Mereka lalu mengambil palu,
          >menjebol dinding
          >sebelah, tapi sayang keju itu tak ada di sana.
          >
          > Itulah manusia yang berpikir kompleks, yang terikat
          >dengan pikiran-pikiran
          >dan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Mereka bekerja
          >dengan menggunakan
          >metode yang kompleks, jelimet, terlalu menggantungkan
          >pada kemampuan
          >otaknya, yang kadang diwarnai sudut pandang yang
          >dianutnya.
          >
          > Adapun Sniff dan Scurry adalah karakter manusia "tikus"
          >yang berpikir
          >sederhana. Begitu sederhananya, sehingga intuisi lebih
          >banyak berperan.
          >Tanpa pengetahuan, manusia akan bergerak tidak efisien,
          >metodenya trial and
          >error. Ia lebih banyak menggunakan penciumannya ketimbang
          >otak atau
          >pengetahuannya. Maka, ketika keju itu berkurang,
          >nalurinya segera
          >memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Demikian pula
          >ketika keju itu hilang,
          >mereka tidak berpikir atau berdiskusi lebih dulu, tapi
          >langsung mencari ke
          >sana-ke sini.
          >
          > Menariknya, mereka yang berpikir sederhana inilah yang
          >akhirnya selamat
          >dalam perubahan. Mereka capek, tidak efisien, tapi tidak
          >pernah putus asa
          >sampai akhirnya menemukan stasiun lain yang masih ada
          >kejunya.
          >
          > Pembaca, ketika rupiah kembali melemah dan menembus
          >batas psikologis Rp
          >10.000 per dolar AS, tentu saja banyak pihak yang panik.
          >Saya percaya
          >sedikit sekali di antara kita yang bisa lolos dari
          >persoalan ini. Keju
          >kehidupan yang lama kita nikmati bisa menghilang
          >tiba-tiba. Tapi, tentu
          >saja di antara Saudara ada yang mempunyai "karakter
          >tikus". Manusia "Hem dan
          >Haw" sebaliknya akan menghadapi perubahan ini dengan
          >keragu-raguan, tapi
          >mereka tetaplah manusia.
          >
          > Berpikir kompleks dan berpikir sederhana tentu saja ada
          >di mana-mana.
          >Tinggal Saudara mengatur berapa besar kadarnya untuk
          >menciptakan
          >keseimbangan dalam hidup. Kata Albert Einstein,
          >"Everything should be made
          >as simple as possible, but not simpler." Saya sudah lama
          >menganut falsafah
          >itu, sehingga dalam berceramah atau menulis, memberi
          >pelatihan atau
          >mengajar, saya selalu percaya bahwa topik berat harus
          >bisa disajikan dengan
          >sesederhana mungkin agar bisa digunakan untuk
          >kehidupan.(Renald Kasali)
          >
          >
          >
          >www.perencanakeuangan.com
          >
          >Yahoo! Groups Links
          >
          >
          >
          >
          >

          ===========================================================================================
          Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004
          ===========================================================================================
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.