Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bls: [SSR-Klub] Ilusi Finansial

Expand Messages
  • Ronny Tanoko
    Betul Ibu belajar butuh waktu yang lama...tapi saya analogikan klo kita berdebat tentang Gajah Ada yang bilang Gajah kayak tiang ketika dia memegang kakinya,
    Message 1 of 73 , Dec 1, 2011
    View Source
    • 0 Attachment
      Betul Ibu belajar butuh waktu yang lama...tapi saya analogikan klo kita berdebat tentang Gajah
      Ada yang bilang Gajah kayak tiang ketika dia memegang kakinya, yang lain bilang Gajah kayak wajan karena pegang telinganya
      Keduanya tidak salah dan juga tidak benar....tergantung persepsi masing2
      Saya mengajak cb melihat secara utuh dan melihat keindahan kedua produk ini baik TL ataupun UL
      Karena saya lihat kedua produk ini memiliki positif dan negatifnya...

       
      Salam
      Ronny Tanoko, SE,CFP

      Dari: "milyansay@..." <milyansay@...>
      Kepada: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Dikirim: Kamis, 1 Desember 2011 16:55
      Judul: Re: [SSR-Klub] Ilusi Finansial

       
      Long Live Education.
      Lifetime Education.

      Masih hidup,
      mau berhenti belajar,
      mau jadi apa?
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      From: "Freddy Pieloor" <fpieloor@...>
      Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Date: Thu, 1 Dec 2011 09:48:06 +0000
      To: SSR-Klub@yahoogroups.com<SSR-Klub@yahoogroups.com>
      ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Subject: Re: [SSR-Klub] Ilusi Finansial

       

      Dear Rekan,


      Meng-edukasi masyarakat memang merupakan perjalanan yang tidak berkesudahan.

      Dari membahas sebuah ilusi lalu masuk ke sebuah produk, dan akhirnya bisa "dilarikan" dan "diarahkan" kepada penilaian pribadi atas sebuah perusahaan.

      Saya harap tidak perlu menuding, karena saya percaya Rekan Anwar bicara atas nama pribadi dan bukan perusahaan.

      Saya juga percaya Member SSR memiliki kedewasaan yang tinggi.


      Salam Mapara,
      Freddy Pieloor



      Inspired by www.MONEYnLOVE.com®

      From: Administrator REXorder <rexorder.adm@...>
      Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Date: Thu, 1 Dec 2011 00:54:25 +0700
      To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
      ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Subject: Re: [SSR-Klub] Ilusi Finansial

       
      Pak Anwar, saya share di milist lain aah...
      Gapapa ya. Kan gak ada copyright nya
       
      Makasih,djati

      Pada 30 November 2011 21:37, devin yohannes <devin.yohannes@...> menulis:
       
      Thanks pak anwar.... Langsung kebayang produknya... :p


      devin christianto
      team leader
      trimegah asset management kelapa gading
      021 4503345 ext 173
      "invest for u future with reksadana trimegah"

      produk baru 15% net min 5 milyar.. minat?

      -----Original Message-----
      From: "Aonillah, Anwar \(Jkt\)" <anwaraonillah@...>
      Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Date: Wed, 30 Nov 2011 03:51:09
      To: SSR-Klub@yahoogroups.com<SSR-Klub@yahoogroups.com>
      Reply-To: SSR-Klub@yahoogroups.com
      Subject: [SSR-Klub] Ilusi Finansial



      Dear rekan-rekan milis SSR,
      sore hari baca-baca blognya Pak Priyadi ( Priyadi's Place; www.priyadi.net ), ada arsip artikel tentang Ilusi Finansial, berikut adalah copy paste-nya.


      segala asumsi dan kesimpulan dikembalikan kepada masing-masing pembaca.



      --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---


      ILUSI FINANSIAL

      Alkisah pada suatu hari ada dua orang penerbit koran yang saling berkompetisi, sebutlah namanya A dan B. Kedua koran ini memiliki kualitas yang sama persis. 

      Penerbit A menjual langganan korannya seharga Rp 50 ribu per bulan. Sedangkan penerbit B tidak puas dengan harga Rp 50 ribu per bulan karena merasa keuntungannya tidak cukup banyak, dia menjual korannya dengan biaya Rp 100 ribu/bulan.
      Walaupun demikian, jika B menjual korannya dengan harga tersebut, maka korannya tidak akan laku. Dengan kualitas yang sama, bisa dibilang hampir semua konsumen akan memilih koran A yang harganya cuma setengah koran B. 
      Dalam pasar bebas, B dihadapkan pada dua pilihan: tetap menjual dengan harga mahal tetapi mendapatkan pangsa pasar yang sedikit; atau menjual dengan harga lebih murah dan mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. B tidak menginginkan kedua pilihan tersebut, yang diinginkan B adalah menjual dengan harga mahal dan mendapatkan pangsa pasar yang besar pula. Mungkinkah B melakukan hal tersebut tanpa misalnya meningkatkan kualitas korannya?

      Selain pengusaha koran, B juga seorang ahli finansial yang licik sekaligus jeli dalam melihat kesempatan. Dia bukannya menjual korannya lebih murah untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar, dia justru meningkatkan harga berlangganan koran B dua kali lipat. Koran B yang tadinya dijual seharga Rp 100 ribu, kini dia jual seharga Rp 200 ribu.

      Logika mengatakan bahwa posisi B di pasar koran seharusnya akan semakin terjepit. Tapi tunggu dulu. B tidak begitu saja menaikkan harga korannya. Harga berlangganan koran B yang Rp 200 ribu/bulan ini dia bagi menjadi dua porsi: porsi pertama sebesar Rp 100 ribu dialokasikan untuk biaya berlangganan korannya itu sendiri, dan sisanya sebesar Rp 100 ribu adalah porsi investasi. Dengan kata lain, B tetap menikmati harga berlangganan korannya seperti sebelumnya yaitu sebesar Rp 100 ribu/bulan. Sedangkan tambahan Rp 100 ribu yang dia pungut dari pelanggan akan disetorkannya ke sebuah instrumen investasi yang hasilnya nanti akan dikembalikan kepada pelanggan.

      Jika seorang konsumen berlangganan koran B selama 10 tahun, dengan asumsi perkembangan investasi 13%, maka nilai tunai hasil investasinya akan berjumlah lebih dari Rp 24 juta. Atau dengan kata lain sudah ‘balik modal’. Selama 10 tahun, pelanggan B telah menyetorkan biaya berlangganan sebesar Rp 24 juta, dan pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang dia dapatkan sudah melebihi Rp 24 juta. Secara nominal, pelanggan mengeluarkan Rp 24 juta untuk berlangganan selama 10 tahun dan pada akhir tahun ke-10 uang tersebut akan dikembalikan seluruhnya. Sebagian pelanggan akan merasa telah menikmati koran B dengan gratis!
      Lebih daripada itu, pelanggan dapat pula meneruskan berlangganan setelah tahun ke-10 dengan sebuah catatan: konsumen dibebaskan atas biaya berlangganan sama sekali! Pelanggan bisa terus berlangganan koran B seumur hidupnya hanya dengan membayar biaya berlangganan selama 10 tahun! Bukan hanya itu, pada akhir tahun ke-20, selain bisa menikmati koran B dengan gratis, pelanggan juga dapat menikmati hasil investasi sebesar hampir Rp 60 juta.


      Jika ada yang menanyakan kepada seorang konsumen mana yang lebih dia sukai:
      * Membayar Rp 50 ribu seumur hidup untuk berlangganan koran A; atau
      * Membayar Rp 200 ribu selama 10 tahun untuk berlangganan koran B, lalu seluruh uang tersebut akan dikembalikan di akhir tahun ke-10, atau pelanggan bisa meneruskan untuk berlangganan seumur hidup dengan gratis ditambah dengan menikmati hasil investasi yang berlipat-lipat jumlah yang telah disetorkan sebelumnya.
      Secara intuitif, konsumen yang awam urusan finansial akan memilih koran B. Konsumen akan merasa koran B lebih menguntungkan karena jumlah yang dia dapatkan secara nominal jauh lebih banyak daripada jumlah yang dia setorkan. 
      Tetapi tentunya ini salah kaprah, di balik itu semua, biaya berlangganan koran B tetap saja dua kali lipat lebih mahal daripada koran A. Pelanggan tetap membayar biaya berlangganan dua kali lipat lebih mahal daripada koran A, tetapi mereka tidak menyadari telah melakukannya. 

      Teknik berjualan seperti ini saya sebut sebagai ‘ilusi finansial’. Hanya dengan ilusi finansial, seseorang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah besar tetapi tidak merasa mengeluarkan uang sama sekali.

      Dengan memasarkan koran B dengan menggunakan ilusi finansial, B bisa menjual korannya dengan harga dua kali lipat koran A, sekaligus mendapatkan pangsa pasar yang lebih banyak dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Selain itu, B juga dalam posisi yang lebih bagus karena memiliki margin keuntungan yang jauh lebih besar. Posisi ini bisa dimanfaatkan misalnya dengan melakukan pemasaran yang jauh lebih agresif untuk meraup pangsa pasar lebih banyak lagi.

      ***

      Orang yang mengerti urusan finansial dan jeli melihat situasi tersebut di atas akan berpikir lain lagi: “Bagaimana jika saya tetap berlangganan koran A, dan selisih harga berlangganan koran A dan B saya investasikan sendiri secara terpisah?” Hasilnya sebagai berikut:
      * Pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 37 juta, dan bukan hanya Rp 24 juta seperti di koran B.
      * Pada akhir tahun ke-20, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 114 juta, dan bukan hanya Rp 60 juta seperti di koran B.
      Kesimpulannya, dengan biaya yang dikeluarkan sama persis (Rp 200 ribu/bulan), berlangganan koran A tentunya jauh lebih menguntungkan daripada koran B. Sayangnya, tidak banyak konsumen yang mengerti masalah finansial sehingga bisa dipastikan mayoritas akan terjebak pada ilusi finansial dan berlangganan koran B.
      Tulisan saya di atas memang cuma wacana. Saat ini tidak ada koran yang dijual seperti koran B (dan mudah-mudahan tidak akan pernah ada). Tetapi apakah anda tahu produk lain yang saat ini kebanyakan dijual seperti B menjual korannya? Dan apakah anda cukup waspada dalam menyikapi produk-produk tersebut?

      --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- ---



      Pesan dari artikel diatas :
      Pahami dan ketahui dengan baik produk (apapun) yang akan anda beli.


      Regards,
      Anwar Aonillah |

      PT. A.J. Manulife Indonesia
      www.manulife-indonesia.com& www.reksadana-manulife.com
      Sampoerna Strategic Square, South Tower, Jakarta 12930 

      Mobile: 62-811 8 206 306 | Pin BB: 216F0A61 
        


      NOTICE:
      "This email is confidential. If you are not the intended recipient, you must not disclose or use the information contained in it. If you have received this email in error, please notify me immediately by return email and delete the email and any attachments.
      My personal views or opinions expressed here may not necessarily reflect the views or opinions of any company in the PT. A.J. Manulife Indonesia Group of Companies." 



    • Ronny Tanoko
      Memang banyak sekali Agen2 yang money oriented...bukan lagi nasabah oriented. Akibatnya ya seperti itu Pak...Dan ini jumlahnya banyak sekali Pak... Memang
      Message 73 of 73 , Dec 15, 2011
      View Source
      • 0 Attachment
        Memang banyak sekali Agen2 yang money oriented...bukan lagi nasabah oriented.
        Akibatnya ya seperti itu Pak...Dan ini jumlahnya banyak sekali Pak...
        Memang agen2 yang tidak mengutamakan nasabah harus dibina lagi keliatannya klo ga bisa ya memang harus diberantas karena kasihan para nasabahnya ...^_^
         
        Salam
        Ronny Tanoko, SE,CFP

        Dari: Suyanto Wijaya <suyanto_wij@...>
        Kepada: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Dikirim: Selasa, 13 Desember 2011 12:13
        Judul: Re: Bls: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Sedikit sharing,
        2 minggu lalu ketika saya sedang di pesawat, saya duduk bersebelahan dengan seorang leader Pru. Awalnya beliau menanyakan pekerjaan, serta produk yg saya jual. Lalu beliau memperkenalkan diri sebagai seorang agen pru level SUM. Si leader tsb menjelaskan panjang lebar enaknya jadi agen, bisa dapat komisi besar, serta jalan2 keluar negeri. tapi eh tapi... Semua yang dijelaskan seakan2 hanya untuk keuntungan agen. tidak pernah disindir sedikitpun tentang keunggulan produk, ataupun pelayanan kepada nasabah. Amat disayangkan ketika seorang leader menjelaskan ke "calon agen" keuntungan/profit menjadi agen, tanpa dijelaskan bagaimana tanggungjawabnya. Mungkin inilah alasan mengapa banyak agen yang menjadi profit oriented dengan mengesampingkan service orientednya.
        Just my opinion. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.

        Suyanto
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        From: Christianto Gouw <christgouw@...>
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Sat, 10 Dec 2011 20:52:41 +0800 (SGT)
        To: SSR-Klub@yahoogroups.com<SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: Bls: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Rekan2
        Saya barusan ada kejadian enggak enak juga nih karena UL.... 

        Ada ibu2 yang sudah tua, clien Pru yang dulu saya referensikan utk beli UL Pru di th 2008... dan dia & keluarganya sudah bayar akuisisi full utk 5 tahun, eh didatangi "leader" asuransi Pru yang waktu datang sifatnya membuat nasabah kuatir, ini karena  nasabah ini nilai tunai investasinya dipindah ke Schroder dan Panin Dana maksima - ya kan lebih tinggi kenaikannya daripada di Pru ekuity. Emang napa ? Toh itu duit klien mau diinves di tempat lain kan terserah. Dia bilang nilai tunai katanya sudah negatif, padahal dari Pru nggak ada sama sekali pemberitahuan apapun tentang nilai tunai yang kurang - terus nasabah ini disodori formulir Top Up disarankan agar melakukan Top Up senilai 900juta. Disuruh isi formulir Top Up pula - bukan formulir pembayaran Premi.

        Ngapain lagi disuruh top up segitu,  kan bakal kepotong 5% kalo 900juta, bisa ilang duit 45 juta dong - enak kan tuh leader bisa dapat komisi lagi 3-4%, mestinya orang ini bisa tinggal pembayaran premi tahun ke-6 saja, yang 100% jadi nilai tunai karena memang dia sudah bayar lunas akuisisi selama 5 tahun. Gini nasabah datang ke kantor Pru di Surabaya hari Senin lalu tgl 5 Desember, minta info nilai tunainya saat ini - eh sampai sekarang nggak ada info lagi. Sudah gitu sang "leader" agen Pru itu, eh datang lagi pula ke rumah si nasabah ini, minta agar BGnya dititipkan aja padanya - tanpa isi formulir.

        Untung nya kenalan saya ini nelpon duluan ke saya , jadi bakalan mau ngurus nih kasus ke kantor Pru Surabaya minggu depan, kalau info nilai tunai dan status polis dari PRU pusat tetap belum jelas sd hari Rabu nanti.... soalnya aneh juga tuh, masak nasabah mau cek nilai tunai nya aja, sudah bela2in datang ke kantor Pru langsung yang di BRI, tetap aja nggak bisa langsung dapat jawaban... belum lagi etika agen yang "leader" ini kacau banget.... Dia sih maunya datang nawar2in upgrade, karena kenalan saya ini klien "big case" di Pru - coba kalau klien yg kecil2an - mana pernah dia mau datangin. Info aja, nilai premi tahunan (bukan UP) ibu ini dan keluarga, di atas 250 jt setahun. Kalau UP sih milyaran... jadi memang klien asuransi yg "big case" dan ada "leader2" asuransi tertentu yang saat agen penjual yg awalnya memperkenalkan nasabah ke perusahaan, setelah agen keluar - mereka mendatangi clien2 seperti ini utk menawarkan upgrade, top up dll - tapi masalahnya caranya nggak etis karena mempermainkan emosi / membuat kekuatiran orang serta sang leader ini berani menjelek2kan saya sebagai ex agen Pru yang justru menceritakan kalau investasi di Schoder dan Panin akan membuat nilai tunainya naik lebih baik dan resiko kehabisan nilai tunai sblm masa pertanggungan selesai makin kecil - ya seperti yg saya lakukan sendiri.

        Untungnya klien ini nggak mudah tertipu - karena saya sudah pesani sejak dulu utk bila ada masalah bisa telpon utk saya bisa bantu sewaktu2 walau saya nggak sebagai agen Pru lagi, dan dia telpon saya dulu utk ceritakan semua "aksi tawaran" sang leader Pru ini sebelum dia membayar apapun. Sepertinya sang "leader" ini nggak mengira kalau klien ini akan tetap saya urusi ....

        Lebih menjengkelkan lagi, ini ex leader saya yg melakukan hal ini, sebenarnya juga masih berstatus agen asuransi polis Pru saya, karena memang saya masih punya polis PRU dengan UP jiwa senilai Rp 500 juta. Nah, kalau saya masih sehat hidup segar bugar gini aja dan nggak pernah merepotkan dia utk urus klaim apapun sejak 2002, bisa2nya dikasih masalah gini. Emangnya model agen UUD (ujung2nya duit) aja seperti ini, dan sudah jelas ada tendensi beritikad buruk, kuatirnya nggak ada kerelaan nanti bantu keluarga saya utk uruskan cairnya UP jiwa saya kalo ada masalah... nilai 500 juta juga tidak kecil dan itu pertanggungan jiwa yg sd max usia 99th, jadi saya berpikir untuk minta ganti servicing agent dari Pru, kalau nggak diijinkan ganti agen oleh Pru - saya lebih baik beli UP jiwa di perusahaan lain aja, dan akan tutup/surrender polis Pru itu walau sudah sejak 2002. lebih baik rugi sekarang daripada masalah di kemudian hari, asuransi kan bisnis kepercayaan - kalau sudah nggak ada trust ke agen, ya sudah nggak nyaman lagi.

        Dari kejadian ini, saya juga berpikir2 ....mungkin perlu juga nih mempertimbangkan tawaran kolaborasi Pak Freddy utk tulis buku - misalkan berjudul "UNLOCK the Unitlink Code" :))) sehingga masyarakat tahu "celah-celah" yang bisa digunakan agen2 UL untuk dapat komisi "tambahan" dari nasabah dengan cara2 pendekatan yang sifatnya bukan edukatif tapi malah membuat kuatir /  mempermainkan emosi orang lain. Tapi di lain pihak juga ada info "celah-celah" buat nasabah yang pintar untuk mendapatkan keuntungan lebih dari format UnitLink ini yg biasanya nggak pernah diajarkan perusahaan, para agen atau leader ke nasabah.
        Intinya, investasi apapun harus dipahami dulu sistematika dan detilnya sehingga nggak mudah ditipu atau dipermainkan pihak2 lain - tapi memang UL ini agak sulit dipahami orang awam serta banyak celah yg bisa dimanfaatkan penjual utk memberikan "ilusi financial" baik dari sisi "greed" (dengan munculnya kolom "asumsi kinerja investasi") atau dari sisi "fear" ( membuat orang kuatir bila ada masalah kesehatan atau membuat kuatir polis akan lapsed bila nggak disetori dana lagi )

        Regards
        Lily


        Dari: "ados77@..." <ados77@...>
        Kepada: "SSR-Klub@yahoogroups.com" <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        Dikirim: Jumat, 9 Desember 2011 18:33
        Judul: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Wkwkwkkk..
        Kata2 harus investasi utk masa tua sih benar, trus apa hubungannya "saya aja punya 3 polis" ? :D

        Ini namanya agen kejar setoran tuh bu.. Gak bisa bedain mana kebutuhan (calon) nasabah atau kebutuhan pribadi.

        Kalo dari awal saja tidak memahami apa yg diperlukan bu erlin, koq berani2nya ya memberi saran "investasi" :)

        Sent from my BlackBerry®
        powered by Sinyal Kuat INDOSAT

        From: erliana_h4lim@...
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Fri, 9 Dec 2011 03:12:26 +0000
        To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Yg lebih lucunya, sy di edukasi terus baik by phone maupun bbm.

        Terakhir ktnya begini, ci, harus investasi lo, biar masa tua bisa hidup enak. Saya aja py 3 polis.

        Saya jawab, saya py cara investasi yg lain. Sy ga tertarik.

        Tp tetap aja agen itu dgn semangat follow up, ajak ketemu.

        Akhirnya hrs pake cara ga sopan deh.

        Saya ga mau beli asuransi boleh dong. Jgn terus terusan nagih kayak sy punya utang. Pusing tau balas bbm beginian. Di ping ping lagi.

        Sampai mikir kok hidup enak harus nunggu tua sih, ga sekarang aja hidup enak.

        Salam,
        Erlin
        Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

        From: imansa_2000@...
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Thu, 8 Dec 2011 19:43:07 +0000
        To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Mengedukasi masyarakat (sambil cari2 kesempatan) pengertiannya beda2 tipis dg "menyesatkan". Maaf bila ada yg tdk berkenan.
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        From: "Widyastuti" <wiwid@...>
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Thu, 8 Dec 2011 09:28:31 +0700
        To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
         
        SETUJU DG PAK DJATI !!!.....
         
        Jangan mentang2 masyarakat awam buta investasi, kemudian dijerumuskan utk ikut UL demi kejar target dsb... bukan mengedukasi namanya, tapi menyesatkan orang !!!
        Kalau mau mengedukasi, berikan penjelasan yang gamblang, transparan & dpt dimengerti  mengenai TL & UL, pilihan terakhir ada di tangan customer, tanpa paksaan, tanpa penyesalan.....
        Demikian
         
        *Orang yg awam investasi*
         
         
        ----- Original Message -----
        From: djati
        Sent: Wednesday, December 07, 2011 10:39 PM
        Subject: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Pak imansa, bu shelly,

        Justru saya bingung arah yg akan dituju dgn pertanyaan "berapa persen dari total penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa yang benar2 mengerti tentang investasi?"

        Kalo maksudnya bahwa sekian banyak yg belum mengerti investasi tsb sebaiknya memilih UL... Ow ow ow... That's a shortcut way of selling then...
        Sama seperti yg dulu2 kita bahas, yaitu mengapa penjual UL mengajak "menabung" di UL. Dan menyebut PAA sebagai reksadana.

        Rekan2 penjual UL. Cukuplah shortcutting pengertian2 di masyarakat awam untuk membuat mereka membeli UL.

        Enough!...

        Salam,djati

        From: imansa_2000@...
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Wed, 7 Dec 2011 13:42:12 +0000
        To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: Re: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         
        Apakah tdk ada topik yg lain (yg lbh menarik)? :-X
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        From: "Shelly" <shelly.lans@...>
        Sender: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Date: Tue, 06 Dec 2011 12:33:03 -0000
        To: <SSR-Klub@yahoogroups.com>
        ReplyTo: SSR-Klub@yahoogroups.com
        Subject: [SSR-Klub] Re: Ilusi Finansial

         

        Dear Rekan-rekan,
        Menurut saya sebenarnya tidak ada yang salah jika masyarakat memilih TL atau UL. Tapi bijaklah kita dalam mengedukasi masyarakat tanpa menyudutkan sisi TL maupun UL. Jika memang benar2 mengerti seluk beluk dunia investasi, silahkan saja memilih TL. Tapi jika kita orang awam, apa salahnya memilih UL?

        Jika di antara Anda ada yang benar2 ingin mengedukasi masyarakat tentang produk TL dan investasi terpisah, dapatkah memberitahu kepada kami berapa persen dari total penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa yang benar2 mengerti tentang investasi?

        Salam Damai Berdiskusi
        Shelly Lansritan





      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.