Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

Expand Messages
  • singletrekker
    makanya tong... jaga dengkul....hehehehe santai aje....masih ada hari esok... bedoel *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!! Pada tanggal
    Message 1 of 28 , Jul 1, 2011
    • 0 Attachment
      makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
      santai aje....masih ada hari esok...

      bedoel
      *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!

      Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
      <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
      > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
      > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
      > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for the
      > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing
      > Powered by Telkomsel BlackBerry®
      >
      > -----Original Message-----
      > From: arie.cendana@...
      > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
      > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
      > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
      > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
      > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
      >
      > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku yang
      > sedang ku tinggal di semarang.
      > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah jalan
      > menuju sukses...
      > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
      >
      >
      >
      >>________________________________
      >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
      >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
      >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
      >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
      >>
      >>
      >>
      >>"Puncak bukan segalanya"
      >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
      >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
      >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
      >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
      >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
      >>yang seringkali di ucapkan itu.
      >>Berawal
      >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
      >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
      >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
      >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
      >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
      >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
      >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
      >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
      >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
      >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
      >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
      >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
      >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
      >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
      >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
      >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
      >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
      >>Sempat
      >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
      >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
      >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
      >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
      >>Jam
      >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
      >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
      >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
      >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
      >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
      >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
      >>malam itu.
      >>
      >>Saturday, June 25th 2011
      >>Jam
      >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
      >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
      >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
      >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
      >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
      >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
      >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
      >>Setengah
      >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
      >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
      >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
      >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
      >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
      >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
      >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
      >>bertegur sapa dengan kami.
      >>Jalur
      >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
      >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
      >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
      >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
      >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
      >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
      >>Hanya
      >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
      >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
      >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
      >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
      >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
      >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
      >>Tepat
      >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
      >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
      >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
      >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
      >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
      >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
      >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
      >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
      >>Porter-porter
      >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
      >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
      >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
      >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
      >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
      >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
      >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
      >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
      >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
      >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
      >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
      >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
      >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
      >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
      >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
      >>Plawangan
      >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
      >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
      >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
      >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
      >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
      >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
      >>Malam
      >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
      >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
      >>ditutup dan mata langsung terpejam.
      >>"Nyanyian
      >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
      >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
      >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
      >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
      >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
      >>anak saya berasal : Rinjani"
      >>
      >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
      >>Pagi
      >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
      >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
      >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
      >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
      >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
      >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
      >>Jalur
      >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
      >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
      >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
      >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
      >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
      >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
      >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
      >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
      >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
      >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
      >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
      >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
      >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
      >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
      >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
      >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
      >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
      >>permukaan.
      >>Di
      >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
      >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
      >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
      >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
      >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
      >>rinjani.
      >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
      >>Untuk
      >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
      >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
      >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
      >>Saya
      >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
      >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
      >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
      >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
      >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
      >>sensitifnya sekalipun :p
      >>7.30
      >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
      >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
      >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
      >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
      >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
      >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
      >>Puncak
      >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
      >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
      >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
      >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
      >>kesalahan.
      >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak Rinjani
      >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
      >>
      >>Selepas
      >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
      >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
      >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
      >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
      >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
      >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
      >>Rinjani
      >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
      >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
      >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
      >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
      >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
      >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
      >>
      >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
      >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
      >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
      >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
      >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
      >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
      >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
      >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
      >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
      >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu
      >> berasal.
      >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
      >>
      >>[Non-text portions of this message have been removed]
      >>
      >>
      >>
      >>
      >>
      >
      > [Non-text portions of this message have been removed]
      >
      >
      >
      >
      > [Non-text portions of this message have been removed]
      >
      >
    • garempa crew
      lain kali tong liat screen savernya saja heheheheh :) ... From: singletrekker Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun
      Message 2 of 28 , Jul 1, 2011
      • 0 Attachment
        lain kali tong liat screen savernya saja heheheheh :)


        --- On Fri, 7/1/11, singletrekker <singletrekker@...> wrote:

        From: singletrekker <singletrekker@...>
        Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
        To: Pendaki@yahoogroups.com
        Date: Friday, July 1, 2011, 12:54 AM







         









        makanya tong... jaga dengkul....hehehehe

        santai aje....masih ada hari esok...



        bedoel

        *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!



        Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...

        <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:

        > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus

        > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.

        > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for the

        > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing

        > Powered by Telkomsel BlackBerry®

        >

        > -----Original Message-----

        > From: arie.cendana@...

        > Sender: Pendaki@yahoogroups.com

        > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36

        > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>

        > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com

        > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

        >

        > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku yang

        > sedang ku tinggal di semarang.

        > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah jalan

        > menuju sukses...

        > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D

        >

        >

        >

        >>________________________________

        >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>

        >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com

        >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43

        >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

        >>

        >>

        >>

        >>"Puncak bukan segalanya"

        >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi

        >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin

        >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari

        >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya

        >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement

        >>yang seringkali di ucapkan itu.

        >>Berawal

        >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk

        >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut

        >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari

        >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,

        >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan

        >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan

        >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,

        >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena

        >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita

        >>harus mampir ke rinjani.Jum'at

        >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi

        >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan

        >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah

        >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan

        >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran

        >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,

        >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.

        >>Sempat

        >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa

        >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)

        >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat

        >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.

        >>Jam

        >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team

        >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu

        >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di

        >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,

        >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja

        >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul

        >>malam itu.

        >>

        >>Saturday, June 25th 2011

        >>Jam

        >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan

        >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk

        >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi

        >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan

        >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan

        >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami

        >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.

        >>Setengah

        >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos

        >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan

        >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam

        >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu

        >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan

        >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya

        >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat

        >>bertegur sapa dengan kami.

        >>Jalur

        >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,

        >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight

        >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok

        >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan

        >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I

        >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.

        >>Hanya

        >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,

        >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika

        >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos

        >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering

        >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya

        >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.

        >>Tepat

        >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di

        >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter

        >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan

        >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin

        >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp

        >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai

        >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.

        >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.

        >>Porter-porter

        >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -

        >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski

        >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang

        >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang

        >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan

        >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit

        >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus

        >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu

        >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk

        >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani

        >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami

        >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai

        >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai

        >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu

        >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.

        >>Plawangan

        >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak

        >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani

        >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami

        >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap

        >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama

        >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.

        >>Malam

        >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera

        >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung

        >>ditutup dan mata langsung terpejam.

        >>"Nyanyian

        >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika

        >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.

        >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.

        >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk

        >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama

        >>anak saya berasal : Rinjani"

        >>

        >>Sunday, early morning, 3.00 a.m

        >>Pagi

        >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin

        >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak

        >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan

        >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya

        >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha

        >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.

        >>Jalur

        >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan

        >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak

        >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke

        >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan

        >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika

        >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki

        >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera

        >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin

        >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain

        >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa

        >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot

        >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai

        >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh

        >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut

        >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin

        >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada

        >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke

        >>permukaan.

        >>Di

        >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat

        >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti

        >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi

        >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali

        >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak

        >>rinjani.

        >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.

        >>Untuk

        >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan

        >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani

        >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.

        >>Saya

        >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut

        >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.

        >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir

        >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.

        >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian

        >>sensitifnya sekalipun :p

        >>7.30

        >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa

        >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam

        >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba

        >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa

        >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga

        >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.

        >>Puncak

        >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,

        >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang

        >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus

        >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah

        >>kesalahan.

        >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak Rinjani

        >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.

        >>

        >>Selepas

        >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si

        >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati

        >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun

        >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar

        >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat

        >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.

        >>Rinjani

        >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju

        >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah

        >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk

        >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang

        >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.

        >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.

        >>

        >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan

        >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela

        >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus

        >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter

        >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke

        >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami

        >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport

        >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.

        >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.

        >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu

        >> berasal.

        >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--

        >>

        >>[Non-text portions of this message have been removed]

        >>

        >>

        >>

        >>

        >>

        >

        > [Non-text portions of this message have been removed]

        >

        >

        >

        >

        > [Non-text portions of this message have been removed]

        >

        >




















        [Non-text portions of this message have been removed]
      • guritno@indocarding.net
        Aku jg belum bisa keluar nich om Blothonk Mobile Device ... From: singletrekker Sender: Pendaki@yahoogroups.com Date: Fri, 1 Jul 2011
        Message 3 of 28 , Jul 1, 2011
        • 0 Attachment
          Aku jg belum bisa keluar nich om

          Blothonk Mobile Device

          -----Original Message-----
          From: singletrekker <singletrekker@...>
          Sender: Pendaki@yahoogroups.com
          Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
          To: <Pendaki@yahoogroups.com>
          Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
          Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

          makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
          santai aje....masih ada hari esok...

          bedoel
          *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!

          Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
          <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
          > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
          > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
          > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for the
          > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing
          > Powered by Telkomsel BlackBerry�
          >
          > -----Original Message-----
          > From: arie.cendana@...
          > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
          > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
          > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
          > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
          > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
          >
          > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku yang
          > sedang ku tinggal di semarang.
          > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah jalan
          > menuju sukses...
          > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
          >
          >
          >
          >>________________________________
          >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
          >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
          >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
          >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
          >>
          >>
          >>
          >>"Puncak bukan segalanya"
          >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
          >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
          >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
          >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
          >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
          >>yang seringkali di ucapkan itu.
          >>Berawal
          >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
          >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
          >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
          >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
          >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
          >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
          >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
          >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
          >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
          >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
          >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
          >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
          >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
          >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
          >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
          >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
          >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
          >>Sempat
          >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
          >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
          >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
          >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
          >>Jam
          >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
          >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
          >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
          >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
          >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
          >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
          >>malam itu.
          >>
          >>Saturday, June 25th 2011
          >>Jam
          >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
          >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
          >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
          >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
          >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
          >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
          >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
          >>Setengah
          >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
          >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
          >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
          >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
          >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
          >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
          >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
          >>bertegur sapa dengan kami.
          >>Jalur
          >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
          >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
          >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
          >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
          >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
          >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
          >>Hanya
          >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
          >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
          >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
          >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
          >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
          >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
          >>Tepat
          >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
          >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
          >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
          >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
          >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
          >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
          >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
          >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
          >>Porter-porter
          >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
          >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
          >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
          >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
          >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
          >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
          >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
          >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
          >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
          >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
          >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
          >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
          >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
          >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
          >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
          >>Plawangan
          >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
          >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
          >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
          >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
          >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
          >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
          >>Malam
          >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
          >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
          >>ditutup dan mata langsung terpejam.
          >>"Nyanyian
          >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
          >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
          >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
          >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
          >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
          >>anak saya berasal : Rinjani"
          >>
          >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
          >>Pagi
          >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
          >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
          >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
          >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
          >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
          >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
          >>Jalur
          >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
          >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
          >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
          >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
          >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
          >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
          >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
          >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
          >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
          >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
          >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
          >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
          >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
          >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
          >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
          >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
          >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
          >>permukaan.
          >>Di
          >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
          >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
          >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
          >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
          >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
          >>rinjani.
          >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
          >>Untuk
          >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
          >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
          >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
          >>Saya
          >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
          >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
          >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
          >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
          >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
          >>sensitifnya sekalipun :p
          >>7.30
          >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
          >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
          >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
          >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
          >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
          >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
          >>Puncak
          >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
          >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
          >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
          >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
          >>kesalahan.
          >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak Rinjani
          >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
          >>
          >>Selepas
          >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
          >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
          >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
          >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
          >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
          >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
          >>Rinjani
          >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
          >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
          >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
          >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
          >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
          >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
          >>
          >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
          >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
          >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
          >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
          >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
          >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
          >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
          >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
          >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
          >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu
          >> berasal.
          >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
          >>
          >>[Non-text portions of this message have been removed]
          >>
          >>
          >>
          >>
          >>
          >
          > [Non-text portions of this message have been removed]
          >
          >
          >
          >
          > [Non-text portions of this message have been removed]
          >
          >



          [Non-text portions of this message have been removed]
        • BlueCloud
          As we have planned bro, after Lebaran ya. *sangatrindurinjani 2011/7/1 ... [Non-text portions of this message have been removed]
          Message 4 of 28 , Jul 1, 2011
          • 0 Attachment
            As we have planned bro, after Lebaran ya.

            *sangatrindurinjani

            2011/7/1 <guritno@...>

            > Aku jg belum bisa keluar nich om
            >
            > Blothonk Mobile Device
            >
            > -----Original Message-----
            > From: singletrekker <singletrekker@...>
            > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
            > Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
            > To: <Pendaki@yahoogroups.com>
            > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
            > Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
            >
            > makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
            > santai aje....masih ada hari esok...
            >
            > bedoel
            > *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
            >
            > Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
            > <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
            > > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
            > > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
            > > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for
            > the
            > > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing
            > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
            > >
            > > -----Original Message-----
            > > From: arie.cendana@...
            > > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
            > > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
            > > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
            > > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
            > > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
            > >
            > > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku
            > yang
            > > sedang ku tinggal di semarang.
            > > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah
            > jalan
            > > menuju sukses...
            > > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
            > >
            > >
            > >
            > >>________________________________
            > >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
            > >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
            > >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
            > >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
            > >>
            > >>
            > >>
            > >>"Puncak bukan segalanya"
            > >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
            > >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
            > >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
            > >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
            > >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
            > >>yang seringkali di ucapkan itu.
            > >>Berawal
            > >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
            > >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
            > >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
            > >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
            > >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
            > >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
            > >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
            > >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
            > >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
            > >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
            > >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
            > >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
            > >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
            > >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
            > >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
            > >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
            > >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
            > >>Sempat
            > >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
            > >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
            > >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
            > >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
            > >>Jam
            > >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
            > >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
            > >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
            > >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
            > >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
            > >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
            > >>malam itu.
            > >>
            > >>Saturday, June 25th 2011
            > >>Jam
            > >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
            > >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
            > >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
            > >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
            > >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
            > >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
            > >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
            > >>Setengah
            > >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
            > >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
            > >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
            > >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
            > >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
            > >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
            > >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
            > >>bertegur sapa dengan kami.
            > >>Jalur
            > >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
            > >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
            > >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
            > >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
            > >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
            > >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
            > >>Hanya
            > >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
            > >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
            > >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
            > >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
            > >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
            > >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
            > >>Tepat
            > >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
            > >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
            > >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
            > >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
            > >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
            > >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
            > >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
            > >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
            > >>Porter-porter
            > >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
            > >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
            > >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
            > >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
            > >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
            > >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
            > >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
            > >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
            > >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
            > >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
            > >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
            > >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
            > >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
            > >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
            > >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
            > >>Plawangan
            > >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
            > >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
            > >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
            > >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
            > >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
            > >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
            > >>Malam
            > >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
            > >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
            > >>ditutup dan mata langsung terpejam.
            > >>"Nyanyian
            > >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
            > >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
            > >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
            > >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
            > >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
            > >>anak saya berasal : Rinjani"
            > >>
            > >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
            > >>Pagi
            > >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
            > >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
            > >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
            > >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
            > >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
            > >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
            > >>Jalur
            > >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
            > >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
            > >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
            > >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
            > >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
            > >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
            > >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
            > >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
            > >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
            > >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
            > >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
            > >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
            > >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
            > >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
            > >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
            > >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
            > >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
            > >>permukaan.
            > >>Di
            > >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
            > >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
            > >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
            > >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
            > >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
            > >>rinjani.
            > >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
            > >>Untuk
            > >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
            > >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
            > >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
            > >>Saya
            > >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
            > >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
            > >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
            > >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
            > >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
            > >>sensitifnya sekalipun :p
            > >>7.30
            > >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
            > >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
            > >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
            > >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
            > >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
            > >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
            > >>Puncak
            > >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
            > >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
            > >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
            > >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
            > >>kesalahan.
            > >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
            > Rinjani
            > >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
            > >>
            > >>Selepas
            > >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
            > >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
            > >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
            > >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
            > >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
            > >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
            > >>Rinjani
            > >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
            > >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
            > >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
            > >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
            > >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
            > >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
            > >>
            > >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
            > >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
            > >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
            > >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
            > >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
            > >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
            > >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
            > >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
            > >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
            > >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu
            > >> berasal.
            > >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
            > >>
            > >>[Non-text portions of this message have been removed]
            > >>
            > >>
            > >>
            > >>
            > >>
            > >
            > > [Non-text portions of this message have been removed]
            > >
            > >
            > >
            > >
            > > [Non-text portions of this message have been removed]
            > >
            > >
            >
            >
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >
            >
            >
            > ------------------------------------
            >
            > http://www.pendaki.org/web
            > http://pendaki.multiply.com
            > http://profiles.friendster.com/7329775
            > http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
            >
            > "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
            > kepada Alam"Yahoo! Groups Links
            >
            >
            >
            >


            [Non-text portions of this message have been removed]
          • Eflinda Sianipar
            RREeREewEeyyeyeeYyEuIu Regards, Eflinda Sianipar Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone ... From: BlueCloud Sender:
            Message 5 of 28 , Jul 1, 2011
            • 0 Attachment
              RREeREewEeyyeyeeYyEuIu

              Regards,
              Eflinda Sianipar

              Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry� smartphone

              -----Original Message-----
              From: BlueCloud <greatfire99@...>
              Sender: Pendaki@yahoogroups.com
              Date: Sat, 2 Jul 2011 08:54:30
              To: <Pendaki@yahoogroups.com>
              Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
              Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

              As we have planned bro, after Lebaran ya.

              *sangatrindurinjani

              2011/7/1 <guritno@...>

              > Aku jg belum bisa keluar nich om
              >
              > Blothonk Mobile Device
              >
              > -----Original Message-----
              > From: singletrekker <singletrekker@...>
              > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
              > Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
              > To: <Pendaki@yahoogroups.com>
              > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
              > Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
              >
              > makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
              > santai aje....masih ada hari esok...
              >
              > bedoel
              > *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
              >
              > Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
              > <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
              > > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
              > > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
              > > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for
              > the
              > > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing
              > > Powered by Telkomsel BlackBerry�
              > >
              > > -----Original Message-----
              > > From: arie.cendana@...
              > > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
              > > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
              > > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
              > > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
              > > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
              > >
              > > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku
              > yang
              > > sedang ku tinggal di semarang.
              > > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah
              > jalan
              > > menuju sukses...
              > > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
              > >
              > >
              > >
              > >>________________________________
              > >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
              > >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
              > >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
              > >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
              > >>
              > >>
              > >>
              > >>"Puncak bukan segalanya"
              > >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
              > >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
              > >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
              > >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
              > >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
              > >>yang seringkali di ucapkan itu.
              > >>Berawal
              > >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
              > >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
              > >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
              > >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
              > >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
              > >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
              > >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
              > >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
              > >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
              > >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
              > >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
              > >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
              > >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
              > >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
              > >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
              > >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
              > >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
              > >>Sempat
              > >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
              > >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
              > >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
              > >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
              > >>Jam
              > >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
              > >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
              > >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
              > >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
              > >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
              > >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
              > >>malam itu.
              > >>
              > >>Saturday, June 25th 2011
              > >>Jam
              > >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
              > >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
              > >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
              > >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
              > >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
              > >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
              > >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
              > >>Setengah
              > >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
              > >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
              > >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
              > >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
              > >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
              > >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
              > >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
              > >>bertegur sapa dengan kami.
              > >>Jalur
              > >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
              > >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
              > >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
              > >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
              > >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
              > >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
              > >>Hanya
              > >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
              > >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
              > >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
              > >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
              > >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
              > >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
              > >>Tepat
              > >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
              > >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
              > >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
              > >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
              > >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
              > >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
              > >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
              > >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
              > >>Porter-porter
              > >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
              > >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
              > >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
              > >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
              > >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
              > >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
              > >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
              > >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
              > >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
              > >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
              > >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
              > >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
              > >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
              > >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
              > >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
              > >>Plawangan
              > >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
              > >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
              > >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
              > >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
              > >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
              > >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
              > >>Malam
              > >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
              > >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
              > >>ditutup dan mata langsung terpejam.
              > >>"Nyanyian
              > >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
              > >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
              > >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
              > >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
              > >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
              > >>anak saya berasal : Rinjani"
              > >>
              > >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
              > >>Pagi
              > >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
              > >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
              > >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
              > >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
              > >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
              > >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
              > >>Jalur
              > >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
              > >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
              > >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
              > >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
              > >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
              > >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
              > >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
              > >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
              > >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
              > >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
              > >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
              > >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
              > >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
              > >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
              > >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
              > >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
              > >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
              > >>permukaan.
              > >>Di
              > >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
              > >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
              > >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
              > >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
              > >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
              > >>rinjani.
              > >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
              > >>Untuk
              > >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
              > >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
              > >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
              > >>Saya
              > >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
              > >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
              > >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
              > >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
              > >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
              > >>sensitifnya sekalipun :p
              > >>7.30
              > >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
              > >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
              > >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
              > >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
              > >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
              > >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
              > >>Puncak
              > >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
              > >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
              > >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
              > >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
              > >>kesalahan.
              > >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
              > Rinjani
              > >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
              > >>
              > >>Selepas
              > >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
              > >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
              > >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
              > >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
              > >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
              > >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
              > >>Rinjani
              > >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
              > >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
              > >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
              > >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
              > >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
              > >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
              > >>
              > >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
              > >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
              > >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
              > >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
              > >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
              > >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
              > >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
              > >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
              > >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
              > >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu
              > >> berasal.
              > >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
              > >>
              > >>[Non-text portions of this message have been removed]
              > >>
              > >>
              > >>
              > >>
              > >>
              > >
              > > [Non-text portions of this message have been removed]
              > >
              > >
              > >
              > >
              > > [Non-text portions of this message have been removed]
              > >
              > >
              >
              >
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]
              >
              >
              >
              > ------------------------------------
              >
              > http://www.pendaki.org/web
              > http://pendaki.multiply.com
              > http://profiles.friendster.com/7329775
              > http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
              >
              > "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
              > kepada Alam"Yahoo! Groups Links
              >
              >
              >
              >


              [Non-text portions of this message have been removed]




              [Non-text portions of this message have been removed]
            • Eflinda Sianipar
              QpPfckcvn Regards, Eflinda Sianipar Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone ... From: BlueCloud Sender:
              Message 6 of 28 , Jul 1, 2011
              • 0 Attachment
                QpPfckcvn

                Regards,
                Eflinda Sianipar

                Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry� smartphone

                -----Original Message-----
                From: BlueCloud <greatfire99@...>
                Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                Date: Sat, 2 Jul 2011 08:54:30
                To: <Pendaki@yahoogroups.com>
                Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah

                As we have planned bro, after Lebaran ya.

                *sangatrindurinjani

                2011/7/1 <guritno@...>

                > Aku jg belum bisa keluar nich om
                >
                > Blothonk Mobile Device
                >
                > -----Original Message-----
                > From: singletrekker <singletrekker@...>
                > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                > Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
                > To: <Pendaki@yahoogroups.com>
                > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                > Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                >
                > makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
                > santai aje....masih ada hari esok...
                >
                > bedoel
                > *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
                >
                > Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
                > <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
                > > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
                > > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
                > > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for
                > the
                > > worst. safety is not everything, but without safety everything is nothing
                > > Powered by Telkomsel BlackBerry�
                > >
                > > -----Original Message-----
                > > From: arie.cendana@...
                > > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                > > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
                > > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
                > > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                > > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                > >
                > > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku
                > yang
                > > sedang ku tinggal di semarang.
                > > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah
                > jalan
                > > menuju sukses...
                > > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
                > >
                > >
                > >
                > >>________________________________
                > >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
                > >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
                > >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
                > >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                > >>
                > >>
                > >>
                > >>"Puncak bukan segalanya"
                > >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
                > >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
                > >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
                > >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
                > >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
                > >>yang seringkali di ucapkan itu.
                > >>Berawal
                > >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
                > >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
                > >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
                > >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
                > >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
                > >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
                > >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
                > >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
                > >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
                > >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
                > >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
                > >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
                > >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
                > >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
                > >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
                > >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
                > >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
                > >>Sempat
                > >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
                > >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
                > >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
                > >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
                > >>Jam
                > >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
                > >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
                > >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
                > >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
                > >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
                > >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
                > >>malam itu.
                > >>
                > >>Saturday, June 25th 2011
                > >>Jam
                > >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
                > >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
                > >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
                > >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
                > >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
                > >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
                > >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
                > >>Setengah
                > >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
                > >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
                > >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
                > >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
                > >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
                > >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
                > >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
                > >>bertegur sapa dengan kami.
                > >>Jalur
                > >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
                > >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
                > >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
                > >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
                > >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
                > >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
                > >>Hanya
                > >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
                > >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
                > >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
                > >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
                > >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
                > >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
                > >>Tepat
                > >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
                > >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
                > >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
                > >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
                > >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
                > >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
                > >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
                > >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
                > >>Porter-porter
                > >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
                > >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
                > >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
                > >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
                > >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
                > >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
                > >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
                > >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
                > >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
                > >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
                > >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
                > >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
                > >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
                > >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
                > >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
                > >>Plawangan
                > >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
                > >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
                > >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
                > >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
                > >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
                > >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
                > >>Malam
                > >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
                > >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
                > >>ditutup dan mata langsung terpejam.
                > >>"Nyanyian
                > >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
                > >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
                > >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
                > >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
                > >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
                > >>anak saya berasal : Rinjani"
                > >>
                > >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
                > >>Pagi
                > >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
                > >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
                > >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
                > >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
                > >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
                > >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
                > >>Jalur
                > >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
                > >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
                > >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
                > >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
                > >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
                > >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
                > >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
                > >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
                > >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
                > >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
                > >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
                > >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
                > >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
                > >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
                > >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
                > >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
                > >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
                > >>permukaan.
                > >>Di
                > >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
                > >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
                > >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
                > >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
                > >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
                > >>rinjani.
                > >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
                > >>Untuk
                > >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
                > >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
                > >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
                > >>Saya
                > >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
                > >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
                > >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
                > >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
                > >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
                > >>sensitifnya sekalipun :p
                > >>7.30
                > >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
                > >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
                > >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
                > >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
                > >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
                > >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
                > >>Puncak
                > >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
                > >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
                > >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
                > >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
                > >>kesalahan.
                > >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
                > Rinjani
                > >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
                > >>
                > >>Selepas
                > >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
                > >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
                > >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
                > >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
                > >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
                > >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
                > >>Rinjani
                > >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
                > >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
                > >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
                > >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
                > >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
                > >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
                > >>
                > >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
                > >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
                > >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
                > >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
                > >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
                > >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
                > >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
                > >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
                > >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
                > >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana nama-mu
                > >> berasal.
                > >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
                > >>
                > >>[Non-text portions of this message have been removed]
                > >>
                > >>
                > >>
                > >>
                > >>
                > >
                > > [Non-text portions of this message have been removed]
                > >
                > >
                > >
                > >
                > > [Non-text portions of this message have been removed]
                > >
                > >
                >
                >
                >
                > [Non-text portions of this message have been removed]
                >
                >
                >
                > ------------------------------------
                >
                > http://www.pendaki.org/web
                > http://pendaki.multiply.com
                > http://profiles.friendster.com/7329775
                > http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
                >
                > "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
                > kepada Alam"Yahoo! Groups Links
                >
                >
                >
                >


                [Non-text portions of this message have been removed]




                [Non-text portions of this message have been removed]
              • singletrekker
                ni luk ane share poto terbaru nya rinjani http://detik.travel/readfoto/2011/07/01/161650/1672712/1026/1/menggapai-mimpi-di-puncak-rinjani bedoel
                Message 7 of 28 , Jul 3, 2011
                • 0 Attachment
                  ni luk ane share poto terbaru nya rinjani
                  http://detik.travel/readfoto/2011/07/01/161650/1672712/1026/1/menggapai-mimpi-di-puncak-rinjani

                  bedoel
                  ***mogabisamengobatirindunyabuluk

                  Pada tanggal 02/07/11, BlueCloud <greatfire99@...> menulis:
                  > As we have planned bro, after Lebaran ya.
                  >
                  > *sangatrindurinjani
                  >
                  > 2011/7/1 <guritno@...>
                  >
                  >> Aku jg belum bisa keluar nich om
                  >>
                  >> Blothonk Mobile Device
                  >>
                  >> -----Original Message-----
                  >> From: singletrekker <singletrekker@...>
                  >> Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                  >> Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
                  >> To: <Pendaki@yahoogroups.com>
                  >> Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                  >> Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                  >>
                  >> makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
                  >> santai aje....masih ada hari esok...
                  >>
                  >> bedoel
                  >> *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
                  >>
                  >> Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
                  >> <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
                  >> > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
                  >> > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
                  >> > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for
                  >> the
                  >> > worst. safety is not everything, but without safety everything is
                  >> > nothing
                  >> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
                  >> >
                  >> > -----Original Message-----
                  >> > From: arie.cendana@...
                  >> > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                  >> > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
                  >> > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
                  >> > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                  >> > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                  >> >
                  >> > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat anakku
                  >> yang
                  >> > sedang ku tinggal di semarang.
                  >> > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah
                  >> jalan
                  >> > menuju sukses...
                  >> > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
                  >> >
                  >> >
                  >> >
                  >> >>________________________________
                  >> >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
                  >> >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
                  >> >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
                  >> >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >>"Puncak bukan segalanya"
                  >> >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
                  >> >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
                  >> >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
                  >> >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
                  >> >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
                  >> >>yang seringkali di ucapkan itu.
                  >> >>Berawal
                  >> >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
                  >> >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman tersebut
                  >> >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
                  >> >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
                  >> >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
                  >> >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
                  >> >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang benar,
                  >> >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
                  >> >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat, kita
                  >> >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
                  >> >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
                  >> >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang kawan
                  >> >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
                  >> >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
                  >> >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
                  >> >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
                  >> >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
                  >> >>Sempat
                  >> >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
                  >> >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
                  >> >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang sempat
                  >> >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
                  >> >>Jam
                  >> >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
                  >> >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
                  >> >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
                  >> >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
                  >> >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
                  >> >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
                  >> >>malam itu.
                  >> >>
                  >> >>Saturday, June 25th 2011
                  >> >>Jam
                  >> >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
                  >> >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
                  >> >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
                  >> >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
                  >> >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
                  >> >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
                  >> >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
                  >> >>Setengah
                  >> >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
                  >> >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
                  >> >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
                  >> >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
                  >> >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :) dan
                  >> >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
                  >> >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang sempat
                  >> >>bertegur sapa dengan kami.
                  >> >>Jalur
                  >> >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
                  >> >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
                  >> >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat sosok
                  >> >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
                  >> >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
                  >> >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
                  >> >>Hanya
                  >> >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
                  >> >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
                  >> >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
                  >> >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana kering
                  >> >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
                  >> >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
                  >> >>Tepat
                  >> >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
                  >> >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
                  >> >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
                  >> >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
                  >> >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
                  >> >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
                  >> >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan beban.
                  >> >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
                  >> >>Porter-porter
                  >> >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
                  >> >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
                  >> >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
                  >> >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
                  >> >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
                  >> >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
                  >> >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
                  >> >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
                  >> >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
                  >> >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
                  >> >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
                  >> >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
                  >> >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami sampai
                  >> >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
                  >> >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
                  >> >>Plawangan
                  >> >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
                  >> >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
                  >> >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
                  >> >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
                  >> >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
                  >> >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
                  >> >>Malam
                  >> >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
                  >> >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
                  >> >>ditutup dan mata langsung terpejam.
                  >> >>"Nyanyian
                  >> >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
                  >> >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
                  >> >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
                  >> >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan untuk
                  >> >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
                  >> >>anak saya berasal : Rinjani"
                  >> >>
                  >> >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
                  >> >>Pagi
                  >> >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
                  >> >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu banyak
                  >> >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
                  >> >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari sebelumnya
                  >> >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
                  >> >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
                  >> >>Jalur
                  >> >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
                  >> >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
                  >> >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali ke
                  >> >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
                  >> >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
                  >> >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas mendaki
                  >> >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
                  >> >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
                  >> >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan selain
                  >> >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
                  >> >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
                  >> >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
                  >> >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
                  >> >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
                  >> >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama angin
                  >> >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
                  >> >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
                  >> >>permukaan.
                  >> >>Di
                  >> >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
                  >> >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik seperti
                  >> >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
                  >> >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik kembali
                  >> >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
                  >> >>rinjani.
                  >> >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
                  >> >>Untuk
                  >> >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
                  >> >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
                  >> >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
                  >> >>Saya
                  >> >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
                  >> >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
                  >> >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur berpasir
                  >> >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
                  >> >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
                  >> >>sensitifnya sekalipun :p
                  >> >>7.30
                  >> >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
                  >> >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
                  >> >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
                  >> >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
                  >> >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang hingga
                  >> >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
                  >> >>Puncak
                  >> >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
                  >> >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
                  >> >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
                  >> >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
                  >> >>kesalahan.
                  >> >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
                  >> Rinjani
                  >> >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
                  >> >>
                  >> >>Selepas
                  >> >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
                  >> >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
                  >> >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
                  >> >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang mengantar
                  >> >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
                  >> >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
                  >> >>Rinjani
                  >> >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
                  >> >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir merah
                  >> >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
                  >> >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
                  >> >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
                  >> >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
                  >> >>
                  >> >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
                  >> >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
                  >> >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
                  >> >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak porter
                  >> >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
                  >> >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat kami
                  >> >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
                  >> >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
                  >> >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
                  >> >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana
                  >> >> nama-mu
                  >> >> berasal.
                  >> >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
                  >> >>
                  >> >>[Non-text portions of this message have been removed]
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >>
                  >> >
                  >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >> >
                  >> >
                  >> >
                  >> >
                  >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >> >
                  >> >
                  >>
                  >>
                  >>
                  >> [Non-text portions of this message have been removed]
                  >>
                  >>
                  >>
                  >> ------------------------------------
                  >>
                  >> http://www.pendaki.org/web
                  >> http://pendaki.multiply.com
                  >> http://profiles.friendster.com/7329775
                  >> http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
                  >>
                  >> "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
                  >> kepada Alam"Yahoo! Groups Links
                  >>
                  >>
                  >>
                  >>
                  >
                  >
                  > [Non-text portions of this message have been removed]
                  >
                  >
                • BlueCloud
                  Bang bedul, makasih poto2nya... Elo sukses bikin gw tambah kangen Rinjani... Whuuuaaaa...:(( 2011/7/3 singletrekker ... [Non-text
                  Message 8 of 28 , Jul 3, 2011
                  • 0 Attachment
                    Bang bedul, makasih poto2nya...
                    Elo sukses bikin gw tambah kangen Rinjani... Whuuuaaaa...:((

                    2011/7/3 singletrekker <singletrekker@...>

                    > **
                    >
                    >
                    > ni luk ane share poto terbaru nya rinjani
                    >
                    > http://detik.travel/readfoto/2011/07/01/161650/1672712/1026/1/menggapai-mimpi-di-puncak-rinjani
                    >
                    > bedoel
                    > ***mogabisamengobatirindunyabuluk
                    >
                    > Pada tanggal 02/07/11, BlueCloud <greatfire99@...> menulis:
                    >
                    > > As we have planned bro, after Lebaran ya.
                    > >
                    > > *sangatrindurinjani
                    > >
                    > > 2011/7/1 <guritno@...>
                    > >
                    > >> Aku jg belum bisa keluar nich om
                    > >>
                    > >> Blothonk Mobile Device
                    > >>
                    > >> -----Original Message-----
                    > >> From: singletrekker <singletrekker@...>
                    > >> Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                    > >> Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
                    > >> To: <Pendaki@yahoogroups.com>
                    > >> Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                    > >> Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                    > >>
                    > >> makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
                    > >> santai aje....masih ada hari esok...
                    > >>
                    > >> bedoel
                    > >> *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
                    > >>
                    > >> Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
                    > >> <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
                    > >> > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
                    > >> > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
                    > >> > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare for
                    > >> the
                    > >> > worst. safety is not everything, but without safety everything is
                    > >> > nothing
                    > >> > Powered by Telkomsel BlackBerry�
                    > >> >
                    > >> > -----Original Message-----
                    > >> > From: arie.cendana@...
                    > >> > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                    > >> > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
                    > >> > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
                    > >> > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                    > >> > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                    > >> >
                    > >> > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat
                    > anakku
                    > >> yang
                    > >> > sedang ku tinggal di semarang.
                    > >> > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan adalah
                    > >> jalan
                    > >> > menuju sukses...
                    > >> > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
                    > >> >
                    > >> >
                    > >> >
                    > >> >>________________________________
                    > >> >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
                    > >> >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
                    > >> >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
                    > >> >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >>"Puncak bukan segalanya"
                    > >> >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
                    > >> >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
                    > >> >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
                    > >> >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
                    > >> >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
                    > >> >>yang seringkali di ucapkan itu.
                    > >> >>Berawal
                    > >> >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
                    > >> >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman
                    > tersebut
                    > >> >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua hari
                    > >> >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
                    > >> >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
                    > >> >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
                    > >> >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang
                    > benar,
                    > >> >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
                    > >> >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat,
                    > kita
                    > >> >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
                    > >> >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
                    > >> >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang
                    > kawan
                    > >> >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
                    > >> >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
                    > >> >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
                    > >> >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
                    > >> >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
                    > >> >>Sempat
                    > >> >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam beberapa
                    > >> >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
                    > >> >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang
                    > sempat
                    > >> >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
                    > >> >>Jam
                    > >> >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
                    > >> >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
                    > >> >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
                    > >> >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
                    > >> >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
                    > >> >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
                    > >> >>malam itu.
                    > >> >>
                    > >> >>Saturday, June 25th 2011
                    > >> >>Jam
                    > >> >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
                    > >> >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan
                    > untuk
                    > >> >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
                    > >> >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
                    > >> >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
                    > >> >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan kami
                    > >> >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
                    > >> >>Setengah
                    > >> >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
                    > >> >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
                    > >> >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
                    > >> >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
                    > >> >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :)
                    > dan
                    > >> >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
                    > >> >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang
                    > sempat
                    > >> >>bertegur sapa dengan kami.
                    > >> >>Jalur
                    > >> >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
                    > >> >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
                    > >> >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat
                    > sosok
                    > >> >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
                    > >> >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
                    > >> >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
                    > >> >>Hanya
                    > >> >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
                    > >> >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
                    > >> >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
                    > >> >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana
                    > kering
                    > >> >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
                    > >> >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
                    > >> >>Tepat
                    > >> >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
                    > >> >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
                    > >> >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
                    > >> >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang mungkin
                    > >> >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
                    > >> >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
                    > >> >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan
                    > beban.
                    > >> >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
                    > >> >>Porter-porter
                    > >> >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
                    > >> >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
                    > >> >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
                    > >> >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
                    > >> >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
                    > >> >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah bukit
                    > >> >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
                    > >> >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
                    > >> >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
                    > >> >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
                    > >> >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
                    > >> >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan sampai
                    > >> >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami
                    > sampai
                    > >> >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih dulu
                    > >> >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
                    > >> >>Plawangan
                    > >> >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
                    > >> >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak rinjani
                    > >> >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
                    > >> >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
                    > >> >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik pertama
                    > >> >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
                    > >> >>Malam
                    > >> >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
                    > >> >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
                    > >> >>ditutup dan mata langsung terpejam.
                    > >> >>"Nyanyian
                    > >> >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
                    > >> >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
                    > >> >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
                    > >> >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan
                    > untuk
                    > >> >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
                    > >> >>anak saya berasal : Rinjani"
                    > >> >>
                    > >> >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
                    > >> >>Pagi
                    > >> >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
                    > >> >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu
                    > banyak
                    > >> >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
                    > >> >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari
                    > sebelumnya
                    > >> >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga berusaha
                    > >> >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
                    > >> >>Jalur
                    > >> >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
                    > >> >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus banyak
                    > >> >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali
                    > ke
                    > >> >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
                    > >> >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
                    > >> >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas
                    > mendaki
                    > >> >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
                    > >> >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
                    > >> >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan
                    > selain
                    > >> >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
                    > >> >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
                    > >> >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
                    > >> >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga puluh
                    > >> >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
                    > >> >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama
                    > angin
                    > >> >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
                    > >> >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
                    > >> >>permukaan.
                    > >> >>Di
                    > >> >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
                    > >> >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik
                    > seperti
                    > >> >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
                    > >> >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik
                    > kembali
                    > >> >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir puncak
                    > >> >>rinjani.
                    > >> >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
                    > >> >>Untuk
                    > >> >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
                    > >> >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
                    > >> >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
                    > >> >>Saya
                    > >> >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
                    > >> >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
                    > >> >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur
                    > berpasir
                    > >> >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa hambatan.
                    > >> >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
                    > >> >>sensitifnya sekalipun :p
                    > >> >>7.30
                    > >> >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
                    > >> >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
                    > >> >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya mencoba
                    > >> >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
                    > >> >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang
                    > hingga
                    > >> >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
                    > >> >>Puncak
                    > >> >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
                    > >> >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
                    > >> >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
                    > >> >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
                    > >> >>kesalahan.
                    > >> >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
                    > >> Rinjani
                    > >> >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
                    > >> >>
                    > >> >>Selepas
                    > >> >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
                    > >> >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus ditepati
                    > >> >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
                    > >> >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang
                    > mengantar
                    > >> >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
                    > >> >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
                    > >> >>Rinjani
                    > >> >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
                    > >> >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir
                    > merah
                    > >> >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
                    > >> >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor yang
                    > >> >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
                    > >> >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
                    > >> >>
                    > >> >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
                    > >> >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
                    > >> >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
                    > >> >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak
                    > porter
                    > >> >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
                    > >> >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat
                    > kami
                    > >> >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
                    > >> >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
                    > >> >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
                    > >> >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana
                    > >> >> nama-mu
                    > >> >> berasal.
                    > >> >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
                    > >> >>
                    > >> >>[Non-text portions of this message have been removed]
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >>
                    > >> >
                    > >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >> >
                    > >> >
                    > >> >
                    > >> >
                    > >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >> >
                    > >> >
                    > >>
                    > >>
                    > >>
                    > >> [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >>
                    > >>
                    > >>
                    > >> ------------------------------------
                    > >>
                    > >> http://www.pendaki.org/web
                    > >> http://pendaki.multiply.com
                    > >> http://profiles.friendster.com/7329775
                    > >> http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
                    > >>
                    > >> "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
                    > >> kepada Alam"Yahoo! Groups Links
                    > >>
                    > >>
                    > >>
                    > >>
                    > >
                    > >
                    > > [Non-text portions of this message have been removed]
                    > >
                    > >
                    >
                    >


                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  • singletrekker
                    ntar kalo lw jadi berangkatnye...salam aje buat tanjakan pasir jatuh bangun nya ajah..heheheh
                    Message 9 of 28 , Jul 4, 2011
                    • 0 Attachment
                      ntar kalo lw jadi berangkatnye...salam aje buat tanjakan pasir "jatuh
                      bangun" nya ajah..heheheh

                      Pada tanggal 04/07/11, BlueCloud <greatfire99@...> menulis:
                      > Bang bedul, makasih poto2nya...
                      > Elo sukses bikin gw tambah kangen Rinjani... Whuuuaaaa...:((
                      >
                      > 2011/7/3 singletrekker <singletrekker@...>
                      >
                      >> **
                      >>
                      >>
                      >> ni luk ane share poto terbaru nya rinjani
                      >>
                      >> http://detik.travel/readfoto/2011/07/01/161650/1672712/1026/1/menggapai-mimpi-di-puncak-rinjani
                      >>
                      >> bedoel
                      >> ***mogabisamengobatirindunyabuluk
                      >>
                      >> Pada tanggal 02/07/11, BlueCloud <greatfire99@...> menulis:
                      >>
                      >> > As we have planned bro, after Lebaran ya.
                      >> >
                      >> > *sangatrindurinjani
                      >> >
                      >> > 2011/7/1 <guritno@...>
                      >> >
                      >> >> Aku jg belum bisa keluar nich om
                      >> >>
                      >> >> Blothonk Mobile Device
                      >> >>
                      >> >> -----Original Message-----
                      >> >> From: singletrekker <singletrekker@...>
                      >> >> Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                      >> >> Date: Fri, 1 Jul 2011 14:54:52
                      >> >> To: <Pendaki@yahoogroups.com>
                      >> >> Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                      >> >> Subject: Re: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu
                      >> >> Merah
                      >> >>
                      >> >> makanya tong... jaga dengkul....hehehehe
                      >> >> santai aje....masih ada hari esok...
                      >> >>
                      >> >> bedoel
                      >> >> *** inget temen yang nangis di tanjakan pasir itu!!!!
                      >> >>
                      >> >> Pada tanggal 30/06/11, nizar_adityo_kumboro@...
                      >> >> <nizar_adityo_kumboro@...> menulis:
                      >> >> > Rinjani memang indah dan cantik :). Betul, suatu hri nanti anda harus
                      >> >> > kembali ke sana. Lagipula segara anakan blm anda cicipi kan? Hehehe.
                      >> >> > Tentunya dengan persiapan yg lebih matang okeh bung arie ! prepare
                      >> >> > for
                      >> >> the
                      >> >> > worst. safety is not everything, but without safety everything is
                      >> >> > nothing
                      >> >> > Powered by Telkomsel BlackBerryŽ
                      >> >> >
                      >> >> > -----Original Message-----
                      >> >> > From: arie.cendana@...
                      >> >> > Sender: Pendaki@yahoogroups.com
                      >> >> > Date: Tue, 28 Jun 2011 04:34:36
                      >> >> > To: Pendaki@yahoogroups.com<Pendaki@yahoogroups.com>
                      >> >> > Reply-To: Pendaki@yahoogroups.com
                      >> >> > Subject: Bls: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                      >> >> >
                      >> >> > Keren bung ceritanya, hingga ku meneteskan air mata karena ingat
                      >> anakku
                      >> >> yang
                      >> >> > sedang ku tinggal di semarang.
                      >> >> > "Authar Meru Wikrama Prasetio" terinspirasi MahaMeru. Kegagalan
                      >> >> > adalah
                      >> >> jalan
                      >> >> > menuju sukses...
                      >> >> > Boleh nih ajak-ajak kalo ke rinjani lagi... kawan :D
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >> >>________________________________
                      >> >> >>Dari: new tracker <begundalz_kecil@...>
                      >> >> >>Kepada: Pendaki@yahoogroups.com
                      >> >> >>Dikirim: Selasa, 28 Juni 2011 0:43
                      >> >> >>Judul: [Pendaki] Rinjani, dan saya pun menyerah di Batu Merah
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >>"Puncak bukan segalanya"
                      >> >> >>begitu kata orang tentang alasan kenapa tidak sampai titik tertinggi
                      >> >> >>ketika kita sudah jauh-jauh datang "menggunung". Tapi saya tak ingin
                      >> >> >>"berlindung" di balik alasan itu, karena saya memang tidak mencari
                      >> >> >>prestige ketika harus berkunjung ke rinjani kemarin, dan juga saya
                      >> >> >>punya alasan yang lebih masuk akal daripada menjawab dengan statement
                      >> >> >>yang seringkali di ucapkan itu.
                      >> >> >>Berawal
                      >> >> >>karena kedatangan seorang partner yang sangat dibutuhkan untuk
                      >> >> >>pekerjaan engineering di area lombok, saya tergoda ketika teman
                      >> tersebut
                      >> >> >>menawarkan untuk singgah sebentar ke Rinjani di jeda progress dua
                      >> >> >> hari
                      >> >> >>yang kami punya. Hanya dua hari dan sesudahnya harus kembali kerja,
                      >> >> >>hampir saja saya menampik, karena tak ada persiapan apapun, bahkan
                      >> >> >>pakaian yang saya bawa hanya dua potong, yang menempel di badan dan
                      >> >> >>satunya yang akan saya pakai pulang ke Base Denpasar. Tapi memang
                      >> benar,
                      >> >> >>setan selalu lebih punya aura untuk menggoda manusia, dan karena
                      >> >> >>lemahnya iman yang tak seberapa ini sayapun menyetujui bulat-bulat,
                      >> kita
                      >> >> >>harus mampir ke rinjani.Jum'at
                      >> >> >>sore, selepas antenna terakhir salah satu provider telekomunikasi
                      >> >> >>terpasang di ketinggian 40 meter, kami berempat (saya dan 3 orang
                      >> kawan
                      >> >> >>se-pekerjaan) bergegas kembali ke penginapan, masih dengan aura lelah
                      >> >> >>karena mengejar target 3 hari installasi, langsung packing dengan
                      >> >> >>ingatan seadanya untuk segera berangkat ke basecamp pendaftaran
                      >> >> >>sembalun. Bahkan sebagian sampai tak sempat mandi dan bersih-bersih,
                      >> >> >>demi sisa waktu yang memang sedikit untuk tetap bisa sampai rinjani.
                      >> >> >>Sempat
                      >> >> >>mampir ke rumah salah seorang kawan di mataram untuk meminjam
                      >> >> >> beberapa
                      >> >> >>peralatan pendakian dan sedikir merepotkan dengan minta di antar :)
                      >> >> >>berulang kali saya mampir untuk kembali memenuhi perbekalan yang
                      >> sempat
                      >> >> >>di ingat selama perjalanan ke Sembalun.
                      >> >> >>Jam
                      >> >> >>11 Malam, sampai di Sembalun dengan kondisi salah seorang team
                      >> >> >>"nge-drop" akibat perjalanan darat yang ugal2an (jalannya selalu
                      >> >> >>menikung dan naik turun) akhirnya kami membatalkan rencana naik di
                      >> >> >>malam hari dengan pertimbangan kesehatan dan keamanan team. Jadilah,
                      >> >> >>istirahat sejenak, meluruskan otot-otot tegang yang dipaksa bekerja
                      >> >> >>kemarin dan menikmati taburan bintang yang luar biasa banyak muncul
                      >> >> >>malam itu.
                      >> >> >>
                      >> >> >>Saturday, June 25th 2011
                      >> >> >>Jam
                      >> >> >>7.30 pagi kembali re-packaging, berbincang-bincang sejenak dengan
                      >> >> >>porter tentang jalur pendakian dan estimasi waktu yang dibutuhkan
                      >> untuk
                      >> >> >>bisa meredam waktu dua hari yang kami punya. Juga menjelaskan situasi
                      >> >> >>kami, termasuk kaki saya yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat, dan
                      >> >> >>kemungkinan saya turun lebih dulu karena itu. Porter hanya mengiyakan
                      >> >> >>dan mereka-reka watu untuk mencapai Plawangan sembalun. Perkiraan
                      >> >> >> kami
                      >> >> >>akan sampai jam 8 atau 9 malam dengan kondisi yang sudah diceritakan.
                      >> >> >>Setengah
                      >> >> >>jam kemudian kami sudah meluncur, menapaki jalur makadam menuju Pos
                      >> >> >>pertama di tengah-tengah savana sembalun. Tertipu dengan penampakan
                      >> >> >>Rinjani di depan mata yang seolah bisa diterjang dalam beberapa jam
                      >> >> >>saja, saya habis-habisan menghela napas ketika ternyata makan waktu
                      >> >> >>lebih dari 2 jam untuk sampai di Pos I. Pemanasan tidak berhasil :)
                      >> dan
                      >> >> >>salah satu kaki memang lebih mudah kelelahan ternyata. Tapi untungnya
                      >> >> >>dihibur dengan lewatnya "bule2" nan aduhai, ramah dan bohay yang
                      >> sempat
                      >> >> >>bertegur sapa dengan kami.
                      >> >> >>Jalur
                      >> >> >>sembalun ternyata memang rute landai yang dibuat berputar 90 derajat,
                      >> >> >>menjauh dari puncak rinjani beberapa saat, sebelum akhirnya straight
                      >> >> >>forward ke Plawangan selepas pos III, dan kami harus rela melihat
                      >> sosok
                      >> >> >>rinjani yang masih saja seperti itu (tak bertambah ketinggian) dan
                      >> >> >>memang, selain dari Pos III menuju Plawangan, jalur Menuju Pos I
                      >> >> >>sembalun termasuk panjang dibandingkan pos-pos berikutnya.
                      >> >> >>Hanya
                      >> >> >>satu jam lima belas menit kami sampai Pos II dengan jalur yang sama,
                      >> >> >>melewati savana kepanjangan yang serasa tiada habis dilewati. Jika
                      >> >> >>cepat bosan, mungkin jalur sembalun, Camp pendaftaran -Pos I s/d Pos
                      >> >> >>III akan sangat membosankan dilihat karena hanya melewati savana
                      >> kering
                      >> >> >>yang sebagian terbakar menghitam, tapi buat yang suka sekali luasnya
                      >> >> >>padang rumput tanpa batas. Ini surganya.
                      >> >> >>Tepat
                      >> >> >>satu setengah jam setelah tengah hari, Pos III berhasil diraih di
                      >> >> >>ketinggain 1800m.a.s.l, dan dapet early warning dari porter
                      >> >> >>berpengalaman, bahwa ini jalur terakhir kami bisa berleha-leha dan
                      >> >> >>bercanda ria. Selebihnya harus banyak stok sumpah serapah yang
                      >> >> >> mungkin
                      >> >> >>di ucap untuk melanjutkan perjalanan ke Plawangan sembalun, Base Camp
                      >> >> >>sebelum summit Attack dinihari nanti. Secara fisik saya sudah mulai
                      >> >> >>merasa kelelahan karena hanya memakai sebelah kaki untuk menahan
                      >> beban.
                      >> >> >>Sebelah lagi hanya sebagai tumpuan sesaat.
                      >> >> >>Porter-porter
                      >> >> >>itu tidak becanda! dan memang, ketika menelusuri jalur Pos III -
                      >> >> >>Plawangan, saya harus bersabar untuk tidak bersumpah serapah meski
                      >> >> >>sebagian tetap berhamburan. Jalur terakhir sebelum buka tenda yang
                      >> >> >>dikenal dengan jalur bukit sembilan. Bukan sembarangan, karena memang
                      >> >> >>ada sembilan bukit yang harus dilewati dengan ketinggian variatif dan
                      >> >> >>jalur vertical yang nyaris sama, salah satu yang terkenal adalah
                      >> >> >> bukit
                      >> >> >>penyesalan (mungkin di bukit ini orang sering menyesal, kenapa harus
                      >> >> >>naik gunung rinjani lewat sembalun, panjang sekali jalurnya). Waktu
                      >> >> >>terlama kami habiskan di jalur ini, nyaris empat setengah jam untuk
                      >> >> >>sampai puncak plawangan sembalun dan di jalur ini juga rinjani
                      >> >> >>menampakan jalur puncaknya yang "mengerikan" itu. Hanya saja kami
                      >> >> >>sedikit terhibur, estimasi pak porter yang menyatakan kami akan
                      >> >> >> sampai
                      >> >> >>di Plawangan jam delapan malam gagal total dan pecah karena kami
                      >> sampai
                      >> >> >>dua jam lebih cepat, meski mereka sudah sampai setengah jam lebih
                      >> >> >> dulu
                      >> >> >>dan sudah mendirikan tenda juga menyediakan air buat kami.
                      >> >> >>Plawangan
                      >> >> >>adalah dataran terbuka di punggungan puncak sembalun menuju puncak
                      >> >> >>rinjani, dari sini kita bisa melihat dengan jelas jalur puncak
                      >> >> >> rinjani
                      >> >> >>yang berpasir dan terbuka "ngablak" tanpa perlindungan. Sore itu kami
                      >> >> >>di suguhkan penampakan "Jet Stream" yang tiada henti hingga gelap
                      >> >> >>datang dan raungan angin yang tiada habisnya bersahutan. Titik
                      >> >> >> pertama
                      >> >> >>kami bisa tidur dan istirahat di tanah Rinjani.
                      >> >> >>Malam
                      >> >> >>itu kami sama sekali tak berminat melihat bintang karena sudah didera
                      >> >> >>kelelahan. Lepas makan malam yang "super ekonomis" tenda langsung
                      >> >> >>ditutup dan mata langsung terpejam.
                      >> >> >>"Nyanyian
                      >> >> >>bisu itu masih sama, saya masih mengingatnya persis seperti ketika
                      >> >> >>waktu sendiri menapaki jalur-jalur cadas yang dingin berkepanjangan.
                      >> >> >>Bintang yang berjatuhan dan hembusan angin yang menembus kulit.
                      >> >> >>Kesepian yang berusaha menerobos jiwa-jiwa rapuh dan gelisah. Dan
                      >> untuk
                      >> >> >>kali ini saya ingin benar-benar menikmatinya, karena di sini, nama
                      >> >> >>anak saya berasal : Rinjani"
                      >> >> >>
                      >> >> >>Sunday, early morning, 3.00 a.m
                      >> >> >>Pagi
                      >> >> >>buta itu kami dipaksa bangun dan prepare untuk summit attack. Angin
                      >> >> >>masih saja ribut tak tentu seolah protes karena kedatangan begitu
                      >> banyak
                      >> >> >>orang malam itu yang menginjak-nginjak tanahnya. Dengan meninggalkan
                      >> >> >>seorang kawan yang tak bisa lagi lanjut ke Puncak karena hari
                      >> sebelumnya
                      >> >> >>"ngebut" mengikuti gaya porter sampai plawangan. Kami bertiga
                      >> >> >> berusaha
                      >> >> >>melawan dingin dan menelusuri jalur berpasir menuju puncak rinjani.
                      >> >> >>Jalur
                      >> >> >>Plawangan - Puncak rinjani adala jalur pasir bebatuan yang rapuh dan
                      >> >> >>gampang ambrol ketika di injak, mirip dengan semeru, kita harus
                      >> >> >> banyak
                      >> >> >>bersabar ketika berjalan beberapa langkah lalu merosot turun kembali
                      >> ke
                      >> >> >>posisi semula. Hanya saja disini lebih banyak pegangan, baik batuan
                      >> >> >>maupun akar-akar tanaman yang bisa dijadikan penahan tubuh ketika
                      >> >> >>merosot. Tapi itu hanya sampai punggungan kaldera saja, selepas
                      >> mendaki
                      >> >> >>rute Plawangan - Kaldera, kami berhadapan dengan punggungan Kaldera
                      >> >> >>menuju puncak yang terbuka tanpa perlindungan. Disini tamparan angin
                      >> >> >>benar-benar bikin kulit mati rasa karena dingin. tak ada penahan
                      >> selain
                      >> >> >>jaket windproof yang saya kenakan pagi itu. Melewati beberapa
                      >> >> >>punggungan tipis dengan jalur berpasir yang juga sebagian merosot
                      >> >> >>ketika di injak, saya mengabiskan waktu tiga jam hanya untuk sampai
                      >> >> >>ujung batu merah, tepat di bawah Puncak Rinjani. Dan nyaris tiga
                      >> >> >> puluh
                      >> >> >>orang berhenti di titik yang sama, Pagi itu menjelang sunrise, kabut
                      >> >> >>yang biasanya tak muncul di bulan Juni, mendadak naik dan bersama
                      >> angin
                      >> >> >>dan tanpa kompromi menyapu kawasan puncak, menciutkan nyali. Tak ada
                      >> >> >>sunrise, hanya lembayung jingga yang tampak hingga matahari naik ke
                      >> >> >>permukaan.
                      >> >> >>Di
                      >> >> >>titik ini juga kaki saya tak mau kompromi dan terus bergetar, senat
                      >> >> >>senut seperti lagu Smash, meski beberapa kali di coba otak atik
                      >> seperti
                      >> >> >>biasa ketika pen-nya salah posisi, tetap saja, nyerinya tak bisa lagi
                      >> >> >>dipaksa menapaki jejak pasir yang sudah mebuat lima orang balik
                      >> kembali
                      >> >> >>ke posisi semula setelah 5 menit mencoba naik di etape terakhir
                      >> >> >> puncak
                      >> >> >>rinjani.
                      >> >> >>Saya bisa naik, tapi belum tentu saya bisa turun sesudahnya.
                      >> >> >>Untuk
                      >> >> >>kali ini saya tak mau berspekulasi, nyali saya menciut dan memutuskan
                      >> >> >>untuk kembali ke camp site. Di titik ini saya melihat Puncak Rinjani
                      >> >> >>sekali lagi dan bergumam, saya akan kembali nanti.
                      >> >> >>Saya
                      >> >> >>kembali sendirian dan meninggalkan dua orang kawan untuk tetap lanjut
                      >> >> >>meraih puncak Rinjani dan sama sekali tak menyesali keputusan itu.
                      >> >> >>dengan menahan nyeri yang semakin menghebat saya menuruni jalur
                      >> berpasir
                      >> >> >>dan sampai ke camp site dalam waktu satu jam, meluncur tanpa
                      >> >> >> hambatan.
                      >> >> >>Sampai isi celana saya penuh dengan pasir, bahkan hingga bagian
                      >> >> >>sensitifnya sekalipun :p
                      >> >> >>7.30
                      >> >> >>pagi, sampai di camp site dan langsung "geratakan" mencari sisa
                      >> >> >>logistik yang bisa langsung dimakan. Sebutir painkiller untuk meredam
                      >> >> >>nyeri di kaki. Sambil menunggu kawan kembali dari puncak, saya
                      >> >> >> mencoba
                      >> >> >>menikmati kabut yang perlahan kembali naik. Rinjani, Saya hanya bisa
                      >> >> >>mengamati puncak-nya diam di kejauhan yang tersapu angin kencang
                      >> hingga
                      >> >> >>meninggalkan gumpalan kabut di satu sisi. "Jet Stream" di 3726.
                      >> >> >>Puncak
                      >> >> >>di depan mata dan iya, meski sedikit kecewa karena tak menyentuhnya,
                      >> >> >>kita sudah mengusahakan semua yang kita punya dengan perhitungan yang
                      >> >> >>logis untuk menakar segala resiko. Dan pilihan kita, untuk terus
                      >> >> >>menjejakan kaki disana, atau turun tanpa penyesalan, bukanlah sebuah
                      >> >> >>kesalahan.
                      >> >> >>Karena sekarang, besok atau puluhan tahun yang akan datang, Puncak
                      >> >> Rinjani
                      >> >> >> tetap akan berada disana, tak bergeser sedikitpun.
                      >> >> >>
                      >> >> >>Selepas
                      >> >> >>tengah hari kami kembali menuruni jalur sembalun. Tak singgah di "si
                      >> >> >>cantik" Segara Anak, karena ada progress pekerjaan yang harus
                      >> >> >> ditepati
                      >> >> >>senin pagi. Jam 7 malam sampai kembali di Pos pendaftaran sembalun
                      >> >> >>dengan kondisi kelelahan, lapar dan haus. Beruntung poter yang
                      >> mengantar
                      >> >> >>kami kemarin bisa dihubungi kembali dan menawarkan tempat istirahat
                      >> >> >>sejenak sambil menunggu jemputan dari Mataram.
                      >> >> >>Rinjani
                      >> >> >>masih menakutkan buat saya, setidaknya di etape terakhir menuju
                      >> >> >>puncak. Dan ketika mencoba mengingat kembali jalur tipis berpasir
                      >> merah
                      >> >> >>itu, saya hanya sempat berucap. "Saya akan kembali lagi" Bukan untuk
                      >> >> >>sebuah penaklukan, bukan untuk sebuah prestige atau catatan rekor
                      >> >> >> yang
                      >> >> >>harus disimpan, apalagi sebentuk pujian.
                      >> >> >>Saya hanya merasa rindu. Itu saja.
                      >> >> >>
                      >> >> >>Terima kasih tak terhingga untuk:Tuhan
                      >> >> >>yang tak pernah bosan memaafkan saya, Team mate yang sukarela
                      >> >> >>membiarkan saya membawa Daypack sepanjang perjalanan tanpa harus
                      >> >> >>menanggung keril, Amir Maulana, Ahmad Zaki, Sulaeman Baboel. Pak
                      >> porter
                      >> >> >>dengan tenaga extra-nya yang luar biasa mengantar kami hingga ke
                      >> >> >>Plawangan. Nitta Febriyanti yang meminjamkan peralatan mendaki buat
                      >> kami
                      >> >> >>(it's so much help us out there). All Team Bali Nusra yang mensupport
                      >> >> >>pekerjaan selama saya singgah di Tanah Rinjani.
                      >> >> >>Frieska Elisa, untuk segala bentuk pengertian dan kepercayaanya.
                      >> >> >>Dedicated to: Banyu Airen Rinjani, kelak kamu akan berdiri dimana
                      >> >> >> nama-mu
                      >> >> >> berasal.
                      >> >> >>Mataram, June 28, 2011 begundalskecil --if--
                      >> >> >>
                      >> >> >>[Non-text portions of this message have been removed]
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >>
                      >> >> >
                      >> >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                      >> >> >
                      >> >> >
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >> [Non-text portions of this message have been removed]
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >> ------------------------------------
                      >> >>
                      >> >> http://www.pendaki.org/web
                      >> >> http://pendaki.multiply.com
                      >> >> http://profiles.friendster.com/7329775
                      >> >> http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
                      >> >>
                      >> >> "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
                      >> >> kepada Alam"Yahoo! Groups Links
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >>
                      >> >
                      >> >
                      >> > [Non-text portions of this message have been removed]
                      >> >
                      >> >
                      >>
                      >>
                      >
                      >
                      > [Non-text portions of this message have been removed]
                      >
                      >
                      >
                      > ------------------------------------
                      >
                      > http://www.pendaki.org/web
                      > http://pendaki.multiply.com
                      > http://profiles.friendster.com/7329775
                      > http://www.facebook.com/group.php?gid=40560902054
                      >
                      > "Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta
                      > kepada Alam"Yahoo! Groups Links
                      >
                      >
                      >
                      >
                    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.