Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Nangis nggak sih ... mau donk

Expand Messages
  • narcissus perkapus ingenious
    Dr FLP mesir di CRCS gitu deh .Senada dengan Lutfi kali. hueee aku juga pingin. Eh iya nomernya Mel farmasi UII ganti jadi 085267547345. Ada yang punya
    Message 1 of 3 , Nov 16, 2005
      Dr FLP mesir di CRCS gitu deh .Senada dengan Lutfi kali.
       
      hueee aku juga pingin.
      Eh iya nomernya Mel farmasi UII ganti jadi 085267547345.
      Ada yang punya software primavera atau microsoftproject nggak ?
      Buat mel teknik sipil ugm ayo nongol donk aku kan pengen bincang2 karena iseng nih bikin RPPP p ala peacegen dimana masalah uang dan jobdesk diketahui tapi lebih itu level ke "I'm loving it here " gitu.
      Mere lo ke Jepang pas AFS kan cerita donk Kaizen di sana .. Lha take ngomong ra ngerti je.
       
      PSDM ... eung pusat Kateketik lebih tepatnya dimana yaaa?
       
      Han piye tak tunggu penilaianmu.
       
      Gus aku mau versi aslimu jadi nggak mau yang buku versi udah editan ... btw skripsimu lak ra rusak tho ..kena ujan kemaren .Kalo ada waktu nggak tau terbuka tau tidak tapi di LIPI ada pemenang nobel fisika mo bicara . Kalo ikutan aku nitip ngopi makalah ya .
       
      Makasih semua
      Maza
       
       

      Cinta Laki-laki Biasa
       

      MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
      dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
      hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan
      semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-
      kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
      "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
      Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati
      hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
      Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
      Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
      bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang
      barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
      terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya
      menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
      Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
      detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
      kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
      Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat
      karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya
      yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
      "Kamu pasti bercanda!"
      Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
      tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari
      Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira
      Nania bercanda.
      Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania
      yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka ya ng ompong. Semua menatap
      Nania!
      "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
      memang melamarnya.
      "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira
      Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
      Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah
      pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
      berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
      penuh seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
      pesakitan.
      "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif
      bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama
      siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya,
      toh?"
      Nania terkesima.
      "Kenapa?"
      Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
      Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang
      busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara
      baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
      Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
      Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-
      laki manapun yang kamu mau!
      Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
      kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
      mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
      "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
      kelopak.
      Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
      sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
      Parah.
      "Tapi kenapa?"
      Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
      pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
      sangat biasa.
      Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
      "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
      Cukup!
      Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
      menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
      tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
      melihat pencapaiannya hari ini?
      Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
      Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar
      biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun
      Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima
      Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
      Mereka akhirnya menikah.
      ***
      Setahun pernikahan.
      Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-
      bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
      Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
      tampak di mata mereka.
      Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar
      hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata,
      atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
      sangat bahagia.
      "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada
      Nania."
      Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
      Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
      percaya.
      "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
      "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
      "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan
      sukses!"
      Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
      dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
      Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
      Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
      Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
      Rafli juga pintar!
      Tidak sepintarmu, Nania.
      Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
      Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
      Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
      mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
      "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu
      bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."
      Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka
      sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
      Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
      Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
      perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah
      mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih
      dari cukup unt uk hidup senang.
      "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
      terlalu memforsir diri.
      "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
      Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
      khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap
      hanya maksud baik.
      "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
      Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
      sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat
      pikiran Nania cerah.
      Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
      Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
      dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
      yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
      Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
      Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
      gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
      pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan
      itu berada di puncak!
      Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
      bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga
      kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
      Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
      Cantik ya? dan kaya!
      Tak imbang!
      Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi
      Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan
      perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
      Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
      puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun
      waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania
      menangis.
      ***
      Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
      minggu dari waktunya.
      "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
      dikeluarkan!"
      Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat
      ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
      perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
      Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
      Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar
      mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
      orangtua Nania belum satu pun yang datang.
      Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
      pertama, Nania tak menunjukka n tanda-tanda akan melahirkan. Rasa
      sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
      pembukaan berjalan lambat sekali.
      "Baru pembukaan satu."
      "Belum ada perubahan, Bu."
      "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
      menyemaikan harapan.
      "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
      Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
      memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
      Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan
      pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
      kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka
      meleset.
      "Masih pembukaan dua, Pak!"
      Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit
      yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
      payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
      "Bang?"
      Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
      kehidupan.
      "Dokter?"
      "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
      Mungkin?
      Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
      Bagaimana jika terlambat?
      Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
      karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
      operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
      Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah
      sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
      dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
      perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
      Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
      sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak
      sadarkan diri.
      Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
      lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
      Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
      "Pendarahan hebat."
      Rafli membayangkan sebuah sumber a ir yang meluap, berwarna merah.
      Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
      pecah!
      Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
      Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
      Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
      mereka.
      Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu
      tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
      darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
      Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
      ***
      Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
      kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania
      dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
      sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
      sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
      Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania
      di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
      kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga
      Nania dengan Rafli.
      Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan
      rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
      perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izi n penuh. Toh,
      dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
      Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
      kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
      Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
      mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
      bercanda mesra.
      Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan
      kehadirannya.
      "Nania, bangun, Cinta?"
      Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan,
      pipi dan kening istrinya yang cantik.
      Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
      berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah
      sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
      lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.
      Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
      "Nania, bangun, Cinta?"
      Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
      Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi
      cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
      semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
      Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan
      ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang
      lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
      Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di
      mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
      wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
      Pada hari ket igapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan
      wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
      Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania
      dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
      airmata yang meleleh.
      Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
      Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
      Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
      terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
      sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
      cepat-cepat menuju rumah dan mengge ndong Nania ke teras, melihat
      senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang
      sedang jatuh cinta.
      Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
      Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak
      perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
      Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
      selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
      perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
      Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
      keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
      restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak,
      seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
      bertahun-tahun.
      Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
      di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
      yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan
      senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
      Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya
      di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak
      puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
      "Baik banget suaminya!"
      "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
      "Nania beruntung!"
      "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
      "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
      suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
      Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa
      dan Mama.
      Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
      frustrasi, merasa tak berani, merasa?
      Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-
      orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
      selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
      Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
      mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
      Ya . Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
      anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
      yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
      Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
      takdir dari tangannya.
      Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
      biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

      Asma Nadia



       


      Peace Generation is da Best
      Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
      Joy oh joy
      Of the life adventure I'll find in the next bend of being
      Since knowledge omnivora have I decided to be  


      Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.