Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Maahhhaaaaaaaafffffff

Expand Messages
  • narcissus perkapus ingenious
    Hi teman2 maahhhhhhhhhhhhhhaaaaaaaafin aku ya . Aku ngobrol ampe pagi ama bestfriendku Nieet kemarin en biasa cerita macem2 hal .Dan aku menganalisa cemamcem.
    Message 1 of 3 , Nov 12, 2005
      Hi teman2 maahhhhhhhhhhhhhhaaaaaaaafin aku ya .
       
      Aku ngobrol ampe pagi ama bestfriendku Nieet kemarin en biasa cerita macem2 hal .Dan aku menganalisa cemamcem.
       
      Kayaknya kemaren itu pas di rumahnya Hani dan saat ngimel I'm menyerang lebih dari satu orang sadar dan tidak deeeh .Jadi kalo ada yang merasa kuserrrrraanng termasuk personal spacenya ( aku deket2 duduknya ) maahhhaafiiin aku ya .
      Kiki di Amrik bagaimana kabarmu dan keluarga ?
      Mbak Ina punya masukan entang topik modul ?
      Eh akhirnya yang ngadiri blahblah ElSAM itu sapa ya ?
      Take care .
       
      Maza


      Peace Generation is da Best
      Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
      Joy oh joy
      Of the life adventure I'll find in the next bend of being
      Since knowledge omnivora have I decided to be  


      Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
    • narcissus perkapus ingenious
      Dr FLP mesir di CRCS gitu deh .Senada dengan Lutfi kali. hueee aku juga pingin. Eh iya nomernya Mel farmasi UII ganti jadi 085267547345. Ada yang punya
      Message 2 of 3 , Nov 16, 2005
        Dr FLP mesir di CRCS gitu deh .Senada dengan Lutfi kali.
         
        hueee aku juga pingin.
        Eh iya nomernya Mel farmasi UII ganti jadi 085267547345.
        Ada yang punya software primavera atau microsoftproject nggak ?
        Buat mel teknik sipil ugm ayo nongol donk aku kan pengen bincang2 karena iseng nih bikin RPPP p ala peacegen dimana masalah uang dan jobdesk diketahui tapi lebih itu level ke "I'm loving it here " gitu.
        Mere lo ke Jepang pas AFS kan cerita donk Kaizen di sana .. Lha take ngomong ra ngerti je.
         
        PSDM ... eung pusat Kateketik lebih tepatnya dimana yaaa?
         
        Han piye tak tunggu penilaianmu.
         
        Gus aku mau versi aslimu jadi nggak mau yang buku versi udah editan ... btw skripsimu lak ra rusak tho ..kena ujan kemaren .Kalo ada waktu nggak tau terbuka tau tidak tapi di LIPI ada pemenang nobel fisika mo bicara . Kalo ikutan aku nitip ngopi makalah ya .
         
        Makasih semua
        Maza
         
         

        Cinta Laki-laki Biasa
         

        MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
        dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
        hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan
        semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-
        kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
        "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
        Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati
        hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
        Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
        Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
        bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang
        barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
        terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya
        menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
        Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
        detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
        kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
        Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat
        karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya
        yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
        "Kamu pasti bercanda!"
        Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
        tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari
        Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira
        Nania bercanda.
        Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania
        yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka ya ng ompong. Semua menatap
        Nania!
        "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
        memang melamarnya.
        "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira
        Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
        Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah
        pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
        berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
        penuh seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
        pesakitan.
        "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif
        bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama
        siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya,
        toh?"
        Nania terkesima.
        "Kenapa?"
        Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
        Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang
        busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara
        baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
        Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
        Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-
        laki manapun yang kamu mau!
        Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
        kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
        mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
        "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
        kelopak.
        Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
        sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
        Parah.
        "Tapi kenapa?"
        Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
        pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
        sangat biasa.
        Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
        "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
        Cukup!
        Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
        menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
        tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
        melihat pencapaiannya hari ini?
        Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
        Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar
        biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun
        Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima
        Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
        Mereka akhirnya menikah.
        ***
        Setahun pernikahan.
        Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-
        bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
        Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
        tampak di mata mereka.
        Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar
        hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata,
        atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
        sangat bahagia.
        "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada
        Nania."
        Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
        Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
        percaya.
        "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
        "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
        "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan
        sukses!"
        Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
        dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
        Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
        Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
        Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
        Rafli juga pintar!
        Tidak sepintarmu, Nania.
        Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
        Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
        Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
        mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
        "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu
        bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."
        Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka
        sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
        Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
        Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
        perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah
        mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih
        dari cukup unt uk hidup senang.
        "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
        terlalu memforsir diri.
        "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
        Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
        khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap
        hanya maksud baik.
        "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
        Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
        sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat
        pikiran Nania cerah.
        Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
        Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
        dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
        yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
        Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
        Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
        gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
        pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan
        itu berada di puncak!
        Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
        bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga
        kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
        Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
        Cantik ya? dan kaya!
        Tak imbang!
        Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi
        Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan
        perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
        Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
        puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun
        waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania
        menangis.
        ***
        Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
        minggu dari waktunya.
        "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
        dikeluarkan!"
        Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat
        ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
        perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
        Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
        Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar
        mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
        orangtua Nania belum satu pun yang datang.
        Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
        pertama, Nania tak menunjukka n tanda-tanda akan melahirkan. Rasa
        sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
        pembukaan berjalan lambat sekali.
        "Baru pembukaan satu."
        "Belum ada perubahan, Bu."
        "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
        menyemaikan harapan.
        "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
        Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
        memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
        Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan
        pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
        kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka
        meleset.
        "Masih pembukaan dua, Pak!"
        Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit
        yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
        payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
        "Bang?"
        Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
        kehidupan.
        "Dokter?"
        "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
        Mungkin?
        Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
        Bagaimana jika terlambat?
        Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
        karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
        operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
        Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah
        sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
        dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
        perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
        Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
        sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak
        sadarkan diri.
        Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
        lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
        Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
        "Pendarahan hebat."
        Rafli membayangkan sebuah sumber a ir yang meluap, berwarna merah.
        Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
        pecah!
        Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
        Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
        Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua
        mereka.
        Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu
        tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
        darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
        Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
        ***
        Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
        kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania
        dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
        sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
        sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
        Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania
        di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
        kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga
        Nania dengan Rafli.
        Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan
        rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
        perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izi n penuh. Toh,
        dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
        Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
        kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
        Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
        mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
        bercanda mesra.
        Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan
        kehadirannya.
        "Nania, bangun, Cinta?"
        Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan,
        pipi dan kening istrinya yang cantik.
        Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
        berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah
        sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
        lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.
        Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
        "Nania, bangun, Cinta?"
        Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
        Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi
        cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
        semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
        Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan
        ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang
        lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
        Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di
        mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
        wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
        Pada hari ket igapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan
        wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
        Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania
        dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
        airmata yang meleleh.
        Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
        Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
        Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
        terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
        sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
        cepat-cepat menuju rumah dan mengge ndong Nania ke teras, melihat
        senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang
        sedang jatuh cinta.
        Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
        Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak
        perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
        Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
        selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
        perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
        Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
        keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
        restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak,
        seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
        bertahun-tahun.
        Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
        di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
        yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan
        senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
        Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya
        di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak
        puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
        "Baik banget suaminya!"
        "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
        "Nania beruntung!"
        "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
        "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
        suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
        Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa
        dan Mama.
        Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
        frustrasi, merasa tak berani, merasa?
        Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-
        orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
        selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
        Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
        mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
        Ya . Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
        anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
        yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
        Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
        takdir dari tangannya.
        Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
        biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

        Asma Nadia



         


        Peace Generation is da Best
        Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
        Joy oh joy
        Of the life adventure I'll find in the next bend of being
        Since knowledge omnivora have I decided to be  


        Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.