Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

OOT : Kapan aku besar, Ayah?

Expand Messages
  • Abadi Purwadaksina
    Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh
    Message 1 of 1 , Apr 23, 2005
    • 0 Attachment
      Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang
      yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang
      berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota.

      Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar
      itu.
      Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan
      anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang
      mengusik ambang sadar si pedagang.

      "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa
      dagangan kita ke kota?" "Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa
      besar.Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan
      berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku
      tetap seperti ini."

      Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali
      melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"

      Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah
      benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya
      benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang
      kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang
      besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

      "Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar
      tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu
      berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga
      berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol,
      juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah,
      sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang
      sama."

      Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih
      ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang
      rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi
      sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang
      cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh.

      Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya
      menjadi mahluk yang sabar."

      "Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap
      menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

      Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan
      pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam
      benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan
      lelah mereka setelah seharian bekerja.


      --------------------------------------------------------------------------
      Kerja keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya. Perlu juga
      diimbangi dengan kerja pintar (smart work) http://www.kerjapintar.com
      --------------------------------------------------------------------------
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.