Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Narasi tentang Minyak dan Sovereign Wealth Fund Indonesia era Soekarno

Expand Messages
  • kuncoro sejati
    Jangan Dengarkan Asing..!! Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal
    Message 1 of 2 , Aug 1, 2012


    Bung Karno dan Politik Minyak Kita

    "Jangan Dengarkan Asing..!!"

    Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan
    aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah
    sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif
    ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling
    menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, "Elu ada,
    gue ada" kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan
    para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

    Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet
    Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca
    meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk
    menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara
    Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti
    akan rebutan Asia Tenggara. "Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu
    tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber
    minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk
    penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja
    soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang
    didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya" kata Bung
    Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran
    Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia
    merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno
    berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda
    menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia "Kalau Belanda mau perang,
    kita jawab dengan perang" teriak Bung Karno saat memerintahkan
    Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan
    Amerika Serikat.

    "Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini
    bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang"
    Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak
    kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker
    oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata "Dunia akan
    bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee....joullie (kalian
    =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang
    punya penduduk paling banyak...inilah bangsa Indonesia, Indonesia
    punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang
    Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken
    pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri".

    Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow
    cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara
    dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno,
    tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya
    Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk
    berhadapan dengan kolonialis barat.

    Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia
    panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak "Kamu
    tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini?
    soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi
    Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi
    berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya
    ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan
    rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus
    berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun
    sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak" urai
    Sukarno di depan Djuanda.

    Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian
    ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960.
    isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National
    Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau
    perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal
    kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran
    pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia.
    Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya
    Sukarno berkata "Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya
    tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau
    dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia". Ketika laporan
    intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun
    1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa
    seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman
    Sukarno. Dan diam ketakutan.

    Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang
    lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell.
    Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama
    sebelum tahun 1960 disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang
    memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan
    Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam
    dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas
    investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para
    boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah
    keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat
    untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply
    atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan
    asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di
    negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa
    Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya
    ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan
    mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk
    kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :"Aku kasih
    waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku
    berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!" waktu itu ambisi
    terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina)
    menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi
    yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53%
    hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan
    memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan
    menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan
    investasi jangka panjang pada Permina.

    Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di
    Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila
    Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar
    di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang
    baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas
    kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung
    minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian
    Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat
    di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming
    minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang
    paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun
    Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator
    perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional.
    Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk
    mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur
    modal itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak
    empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai,
    Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan
    membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah
    struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak
    perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek
    dengan menguasai saham Indosat.

    Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia,
    di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus
    yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat
    Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk
    menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur,
    Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui
    Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat
    sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit
    ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro :
    "Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam
    bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik" begitu
    perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

    Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris
    memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno
    agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan.
    Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam
    Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan
    pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku
    Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat
    kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada
    tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat
    menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

    "Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan,
    untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan
    jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan
    Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana
    menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin
    kesejahteraannya" kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya
    sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956.
    Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok
    Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk
    mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia "Kalau Belanda
    mau perang, kita jawab dengan perang" teriak Bung Karno saat
    memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti
    Inggris dan Amerika Serikat.

    Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri (Soeharto). 
    Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati
    mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan
    bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal
    Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada
    lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

    Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah
    yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus
    berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa
    yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan
    masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

    Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang
    ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian
    pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia
    Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat
    energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan
    menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia
    maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik
    terus menerus. 
  • Suwung_ku@yahoo.com
    Hebaaat... Thanks atas sharingnya. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ... From: kuncoro sejati
    Message 2 of 2 , Aug 1, 2012
    • 0 Attachment
      Hebaaat... Thanks atas sharingnya.
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

      From: kuncoro sejati <kuncoro_no1@...>
      Sender: PeaceGeneration@yahoogroups.com
      Date: Thu, 2 Aug 2012 10:52:40 +0800 (SGT)
      To: PeaceGeneration@yahoogroups.com<PeaceGeneration@yahoogroups.com>
      ReplyTo: PeaceGeneration@yahoogroups.com
      Subject: [PeaceGeneration] Narasi tentang Minyak dan Sovereign Wealth Fund Indonesia era Soekarno [1 Attachment]

       



      Bung Karno dan Politik Minyak Kita

      "Jangan Dengarkan Asing..!!"

      Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan
      aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah
      sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif
      ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling
      menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, "Elu ada,
      gue ada" kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan
      para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

      Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet
      Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca
      meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk
      menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara
      Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti
      akan rebutan Asia Tenggara. "Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu
      tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber
      minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk
      penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja
      soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang
      didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya" kata Bung
      Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran
      Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia
      merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno
      berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda
      menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia "Kalau Belanda mau perang,
      kita jawab dengan perang" teriak Bung Karno saat memerintahkan
      Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan
      Amerika Serikat.

      "Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini
      bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang"
      Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak
      kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker
      oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata "Dunia akan
      bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee....joullie (kalian
      =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang
      punya penduduk paling banyak...inilah bangsa Indonesia, Indonesia
      punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang
      Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken
      pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri".

      Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow
      cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara
      dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno,
      tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya
      Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk
      berhadapan dengan kolonialis barat.

      Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia
      panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak "Kamu
      tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini?
      soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi
      Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi
      berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya
      ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan
      rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus
      berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun
      sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak" urai
      Sukarno di depan Djuanda.

      Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian
      ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960.
      isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National
      Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau
      perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal
      kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran
      pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia.
      Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya
      Sukarno berkata "Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya
      tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau
      dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia". Ketika laporan
      intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun
      1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa
      seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman
      Sukarno. Dan diam ketakutan.

      Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang
      lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell.
      Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama
      sebelum tahun 1960 disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang
      memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan
      Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam
      dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas
      investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para
      boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah
      keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat
      untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply
      atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan
      asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di
      negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa
      Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya
      ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan
      mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk
      kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :"Aku kasih
      waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku
      berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!" waktu itu ambisi
      terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina)
      menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi
      yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53%
      hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan
      memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan
      menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan
      investasi jangka panjang pada Permina.

      Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di
      Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila
      Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar
      di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang
      baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas
      kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung
      minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian
      Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat
      di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming
      minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang
      paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun
      Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator
      perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional.
      Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk
      mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur
      modal itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak
      empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai,
      Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan
      membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah
      struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak
      perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek
      dengan menguasai saham Indosat.

      Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia,
      di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus
      yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat
      Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk
      menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur,
      Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui
      Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat
      sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit
      ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro :
      "Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam
      bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik" begitu
      perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

      Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris
      memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno
      agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan.
      Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam
      Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan
      pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku
      Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat
      kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada
      tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat
      menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

      "Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan,
      untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan
      jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan
      Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana
      menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin
      kesejahteraannya" kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya
      sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956.
      Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok
      Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk
      mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia "Kalau Belanda
      mau perang, kita jawab dengan perang" teriak Bung Karno saat
      memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti
      Inggris dan Amerika Serikat.

      Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri (Soeharto). 
      Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati
      mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan
      bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal
      Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada
      lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

      Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah
      yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus
      berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa
      yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan
      masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

      Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang
      ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian
      pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia
      Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat
      energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan
      menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia
      maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik
      terus menerus. 
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.