Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Keragaman Memperkaya Nurani

Expand Messages
  • Rumah Pelangi
    FESTIVAL SENI TRADISI ANAK MERAPI KE 6 =================================== Berawal pada tahun 2004, TLATAH BOCAH (bhs Jawa: Area Ramah Anak) beserta
    Message 1 of 1 , Apr 22, 2012
    • 0 Attachment
      FESTIVAL SENI TRADISI ANAK MERAPI KE 6
      ===================================


      Berawal pada tahun 2004, TLATAH BOCAH (bhs Jawa: Area Ramah Anak) beserta komunitas-komunitas di lereng Merapi bermimpi mewujudkan area ramah anak, sebuah ruang fisik dan psikologis yang memberikan kesempatan anak berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Jejaring ini menumbuhkembangkan kepekaan anak terhadap realita sosial, alam lingkungan, dan relasi antar manusia yang diwujudkan dalam program kegiatan dimana salah satu media pembelajaran menggunakan kesenian tradisi yang mengandung nilai-nilai kepedulian, solidaritas, dan keberagaman.

      Pada tahun 2007 jaringan komunitas bersama-sama mengkampanyekan hak anak dalam bentuk festival bertemakan transformasi nilai-nilai pendidikan melalui kesenian tradisi. Kegiatan ini kemudian rutin diadakan setahun sekali selama liburan kenaikan sekolah dengan nama Festival Seni Tadisi Anak Merapi / Tlatah Bocah yang selalu mengusung isu berkaitan dengan anak. Berikut adalah tema yang diangkat dari tahun ke tahun:
      2008 Nandur Woh, Ngangsu Kawruh (Menanam Benih, Menimba Ilmu)
      Mengangkat pemenuhan hak tumbuh-kembang anak
      2009 Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan (Anak Bukanlah Mainan, Anak Wajib Bermain)
      Mengangkat pemenuhan hak perlindungan anak
      2010 Tutur Tinular: Tuturing Ati Tinular ing Pakarti (Suara Hati Bermakna pada Pekerti)
      Mengangkat pemenuhan hak pendidikan anak
      2011 Wayah Gumregah (Saatnya Anak-anak Merapi Bangkit)
      Mengangkat pemenuhan hak berpartisipasi anak

      Festival Tlatah Bocah telah mampu menggerakkan masyarakat memperhatikan anak dengan berdirinya 22 komunitas anak di 3 kabupaten (Magelang, Boyolali, dan Kulonprogo) yang berlokasi di lereng gunung Merapi, gunung Sumbing dan pelosok perbukitan Menoreh. Tercatat pula bahwa festival ini semakin semarak dengan keterlibatan komunitas dari kabupaten Pariaman (Sumatra Barat), DKI Jakarta, Surabaya, Grobogan, Salatiga, Surakarta, Kulonprogo, Jogja serta dukungan partisipan dari berbagai penjuru tanah air.


      TEMA

      Masyarakat Merapi mempunyai pola pikir sederhana yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, dll dimana terlihat dalam pengelolaan tradisi setiap dusun seperti upacara adat dan kesenian. Selain itu, masyarakatnya juga mentolerir adanya kepercayaan dan berbagai agama untuk hidup rukun berdampingan menjadi sebuah akulturasi budaya. Hal tersebut merupakan pencerminan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai bahasa, tradisi, suku, dll. Namun demikian, dalam dua dekade ini, banyak kejadian luar biasa bernuansa kekerasan atas nama suku, agama, ras, dan golongan di beberapa wilayah Indonesia tanpa penyelesaian tuntas yang dapat memicu disintegrasi kebangsaan.

      Keprihatinan terhadap permasalahan tersebut disikapi dengan kampanye KEBERAGAMAN dalam Festival Tlatah Bocah ke 6 ini dengan mengangkat kekayaan budaya masyarakat Merapi serta keterlibatan komunitas daerah lain dalam rangka mengukuhkan persatuan untuk menjaga keharmonisan dan toleransi sebagai pondasi pembangunan bangsa.

      JUDUL

      KERAGAMAN MEMPERKAYA NURANI



      FESTIVAL SENI TRADISI

      1. Merti Jiwo
      Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VI
      Peserta : Simpatisan terbatas (pendaftaran)
      Publik : Masyarakat dusun setempat (gratis)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 9 Juni - Minggu, 10 Juni 2012
      Lokasi : Dusun Gligir Pasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang,
      Kabupaten Klaten

      Merti Jiwo berarti bersih diri mengembalikan pada fitrah nurani. Tlatah Bocah memaknainya untuk pembukaan festival dengan ritual untuk menyatukan persepsi para penggiatnya. Agenda yang dilakukan berupa karawitan untuk kontemplasi dilanjutkan doa antar iman di Gligir Pasang dan diteruskan perjalanan hening beberapa jam menuju sebuah situs di Merapi untuk eksplorasi gerak (tari) di lokasi yang jauh dari keramaian untuk memahami kehidupan.

      Gligir Pasang merupakan sebuah dusun di lereng Merapi pada ketinggian +- 1250 meter dari permukaan laut yang dipisahkan oleh jurang dari dusun tetangga dan hanya ditinggali oleh 10 Keluarga (32 jiwa). Merti Jiwo selalu dilakukan di salah satu dusun paling Merapi yang paling atas dimana identik dengan keheningan. Pada tahun 2010 laku ini dilaksanakan di dusun Stabelan (Kabupaten Boyolali), 2009 di dusun Ngandong (Kabupaten Magelang).

      2. Laku Lampah
      Pelaksana : Komunitas Nglinggo Muda
      Peserta : Komunitas / Simpatisan
      Publik : Penonton (gratis)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 23 Juni - Minggu, 24 Juni 2012
      Lokasi : Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo

      Laku Lampah mengandung arti proses spiritual dengan melakukan perjalanan ke tempat lain. Agenda berupa anjangsana komunitas-komunitas Merapi ke wilayah lain untuk mendukung keberlangsungan komunitas setempat serta mengkampanyekan hak anak dengan menyajikan pertunjukan beberapa kesenian lokal / mini festival menyikapi berdirinya komunitas-komunitas anak di luar Merapi yang tergabung dalam jejaring Tlatah Bocah.

      Pada tahun 2011 Laku Lampah dilakukan di huntara Jumoyo (Kabupaten Magelang) untuk masyarakat pengungsi lahar hujan, huntara Cangkringan (Kabupaten Sleman) yang menghuni lingkungan ini dikarenakan awan panas dan juga di Deles sebuah dusun di pinggiran Merapi wilayah Kabupaten Klaten yang diapit Sungai Gendol dan Sungai Woro. Pemilihan 3 tempat ini untuk memberikan dukungan psikologis masyarakat setempat atas dampak erupsi Merapi di tahun 2010.

      3. Srawung Gunung
      Pelaksana : Bangun Budaya
      Peserta : Individu / kelompok (pendaftaran)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 23 Juni - Minggu, 8 Juli 2012
      Lokasi : Dusun Sumber, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

      Srawung Gunung berarti berinteraksi ala gunung. Sebuah program pembelajaran tentang kehidupan dengan mengajak anak-anak dari luar Merapi berkolaborasi dengan anak-anak setempat. Kegiatan yang dijalankan berupa pembelajaran tentang seni dan lingkungan untuk menyikapi isu-isu berkaitan dengan dunia anak yang difasilitasi oleh anak setempat. Semenjak dua tahun lalu, Srawung Gunung telah diikuti anak-anak dari Sulawesi, Padang Pariaman, Jakarta, Salatiga, Jogja, dan beberapa daerah lain, bahkan juga melibatkan Australia.

      4. Lokakarya Seni
      Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VI
      Peserta : Individu / Kelompok (pendaftaran)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 1 Juli - Jumat, 6 Juli 2012
      Lokasi : Dusun Gejiwan, Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

      Anak-anak selalu dituntut belajar ilmu-ilmu eksak (Matematika, Fisika, Kimia) namun kurang dikenalkan dengan pendidikan humaniora maupun seni yang berhubungan langsung dengan kehidupan bermasyarakat. Lokakarya seni merupakan sebuah program pendidikan seni untuk menggali nilai kepedulian, solidaritas, dan keberagaman melalui karya instalasi yang dihasilkan untuk mendukung kemeriahan hajat seni.

      5. Hajat Seni
      Pelaksana : Singo Mudo Bangun Jiwo
      Peserta : Komunitas
      Publik : Penonton (gratis)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 7 Juli - Minggu, 8 Juli 2012
      Lokasi : Dusun Gejiwan, Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang

      Hajat seni merupakan sebuah perayaan kesenian tradisi untuk mengkampanyekan secara bersama tentang hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, pendidikan, partisipasi). Puluhan komunitas yang terlibat dalam kampanye ini terdiri dari komunitas anak lereng Merapi, Sumbing, dan perbukitan Menoreh serta beberapa daerah lain di Jawa (Jakarta, Surabaya, Grobogan, Salatiga, Surakarta, Kulonprogo, dan Jogja).

      Pada tahun 2012 ini Hajat Seni dilaksanakan selama dua hari dua malam dengan mengagendakan: karnaval, sarasehan, orasi, pentas seni tradisi, pameran karya komunitas luar daerah, dan pasar rakyat. Komunitas luar daerah selain yang disebut di atas tertarik pula terlibat dalam pelaksanaan hajat seni ini.

      6. Larung Sukerta
      Pelaksana : Panitia Tlatah Bocah VI
      Peserta : Komunitas
      Publik : Penonton (gratis)
      Hari - Tanggal : Sabtu, 14 Juli - Minggu, 15 Juni 2012
      Lokasi : Sendang Widodari, Desa Ampel, Kecamatan Boyolali,
      Kabupaten Boyolali

      Larung Sukerta merupakan suatu tradisi menghilangkan unsur negatif dalam kehidupan disimbolkan dengan melepas benda sebagai gambaran unsur tersebut. Prosesi ini biasanya dilakukan di sungai, sendang, maupun laut yang bersifat mengalir. Selain itu, larung juga menggambarkan kehidupan baru dengan berpikir positif atas segala yang terjadi.

      Pada tahun 2011 dilaksanakan di Trisik (Muara Sungai Progo - Kabupaten Kulonprogo), serta 2010 di Wonolelo (pertemuan sungai Pabelan dan Apu - Kabupaten Magelang).


      =======
      I N F O
      =======


      Kontak : Gunawan Julianto
      BB : 241AADD3
      Telpon : 0818 - 0272 3030

      Facebook: Tlatah Bocah
      Twitter : @TlatahBocah
      Email : TlatahBocah@...
      Website : www.TlatahBocah.org


      Alamat:
      RUMAH PELANGI
      Jl. Talun km 1 no. 57 - Patosan
      Muntilan - Jawa Tengah 56412
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.