Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bls: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

Expand Messages
  • Junaedi Ghazali
    Aduh, ga boleh di share di media lain ya mas :( ________________________________ Dari: Luthfi Widagdo Eddyono Kepada:
    Message 1 of 4 , May 6, 2011
    • 0 Attachment
      Aduh, ga boleh di share di media lain ya mas :(



      Dari: Luthfi Widagdo Eddyono <luthfi_we@...>
      Kepada: "jejak_langkah@yahoogroups.com" <jejak_langkah@yahoogroups.com>; peace ge <peacegeneration@yahoogroups.com>
      Terkirim: Jum, 6 Mei, 2011 12:59:16
      Judul: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

       

      Korban teroris tidak selalu orang lain
      Tahir Wadood Malik
       
      Islamabad – Bagi saya, dulu terorisme adalah sesuatu yang menimpa orang lain. 

      Saat melihat berita tentang serangan teroris, mudah saja saya mengganti saluran televisi. Itulah yang biasa saya lakukan sampai 5 Oktober 2009, ketika saya menerima sebuah panggilan telepon yang kemudian mengubah hidup saya untuk selamanya. Sang penelepon mengatakan bahwa ada bom meledak di kantor biro PBB di Islamabad di mana istri saya, Gul Rukh, bekerja.

      Saya tidak ingat persis apakah waktu itu saya mengendarai mobil sendiri atau bagaimana untuk mencapai kantor itu. Yang saya cuma ingat, saya pun sampai di sana. Tapi di sana sudah tidak ada apa-apa. 

      Seseorang memberi tahu saya kalau Gul Rukh telah dibawa ke rumah sakit. Meluncur ke sana dengan perasaan bingung karena terkejut, saya pun mulai bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan yang biasa orang-orang tanyakan dalam situasi seperti itu: “Apa salah kami?”

      Nama saya Tahir Wadood Malik, pensiunan tentara berpangkat terakhir mayor. Karena berkarir sebagai tentara, saya pun hidup nyaman-nyaman saja, dan saya menganggap diri saya termasuk orang-orang yang “diistimewakan” di Pakistan. tidak jarang saya merasa jauh dari kebanyakan orang biasa di Pakistan.

      Setiba di rumah sakit, saya berdiri di tengah kegaduhan orang-orang, sampai seorang dokter membawa saya ke sebuah brankar yang tertutup kain putih. Saat mengangkatnya, saya pun melihat wajah Gul Rukh, yang sudah tidak bernyawa.

      Saat saya berdiri di sana, mati rasa dan terpaku, saya mendengar sedikit keributan. Sedikit menyelidik, saya pun melihat seorang staf rumah sakit mendorong seorang juru kamera televisi menjauh dari tempat di mana saya berdiri. Ia telah menyorot kegaduhan di rumah sakit dan reaksi saya, dan saya sadar kalau saya telah menjadi orang yang tidak dikenal yang muncul di televisi, yang terkejut dan terbingung-bingung dengan pembunuhan akibat serangan teroris ini. Saya pun menjadi orang Pakistan “biasa” yang tidak seorang pun ingin kenali. 

      Sebelum tengah malam, pemakaman sudah selesai dan orang-orang telah bubar. Saya ditinggal sendiri untuk menyesal dan merasa kesal, sedih dan tidak bercabik-cabik, dan tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang terjadi. 

      Saat hari-hari terus berlalu, saya semakin merasa sendirian. tidak ada orang yang bisa saya ajak bicara. Bagi banyak orang di Pakistan, berduka adalah urusan pribadi, dan kebanyakan orang menerima nasib kehilangan sebagai kehendak Tuhan. Namun, meski respon orang-orang saat berduka boleh jadi tampak sama, tidak ada respon yang sama saat berduka, mungkin karena tidak ada duka yang sama. Kesedihan kita sama pribadinya dengan hidup kita. 

      Pada masa-masa berikutnya, ada lebih banyak lagi serangan teroris dan saya merasa diri saya dibawa ke tempat-tempat tersebut. Bicara dengan orang-orang yang ditinggalkan membuat saya sadar kalau kami bisa saling berempati karena kami sama-sama mengalami kehilangan yang orang lain tidak bisa rasakan.

      Apa yang bisa diperbuat bagi orang lain yang demikian bersedih? Saya berkesempatan untuk bertemu dengan para korban terorisme yang selamat atau orang-orang yang ditinggalkan para korban dari seluruh dunia di Amman, Yordania ketika saya diundang menghadiri pembukaan sebuah taman yang dibuat untuk mengenang bom hotel 2005 di sana, yang menewaskan 60 orang dan melukai 115 lainnya. 

      Kerjasama para korban serangan teror dari seluruh dunia ini memberikan petunjuk yang saya perlukan untuk menyalurkan kekecewaan dan ketidakberdayaan saya guna membantu sesama orang Pakistan. Sekembalinya ke Pakistan, saya mulai bicara kepada lebih banyak korban dan orang yang ditinggalkan, dan memberi presentasi kepada para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang terjadi pada keluarga dan teman-teman setelah adanya serangan-serangan semacam itu, dan membuat mereka saling berinteraksi, curhat dan berempati.

      Saat bicara dengan yang lain, saya sadar bahwa, meski melupakan itu mustahil, kita semua bisa belajar untuk memaafkan. Saya meminta orang-orang lain yang dalam situasi seperti saya untuk juga berusaha demikian.

      Tapi andai saya sempat bertemu seseorang yang berpikir akan menjadi pembom bunuh diri, saya akan menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan: sudahkah Anda benar-benar membaca apa yang al-Qur’an katakan tentang tindakan-tindakan semacam itu, atau Anda hanya mendengar dari seorang ideolog? Apakah Anda tahu kalau Nabi Muhammad membenci kekerasan? Dan, akhirnya, bagaimana Anda bisa membayangkan kenyataan kalau, suatu hari, orang lain melakukan serangan yang sama, dan membuat keluarga Anda terluka atau meninggal? 

      Kami para korban dan orang-orang yang ditinggalkan tentu bukanlah “orang biasa”. Kami telah menanggung duka yang begitu mendalam, yang mudah-mudahan banyak orang lain tidak akan pernah harus mengerti atau alami. Saya berharap suara kami cukup keras untuk sampai ke para ekstremis muda dan simpatisan mereka, dan menyadarkan mereka bahwa aksi mereka tidak akan berbuah apa-apa selain kepedihan, kehilangan dan kerusakan.

      ###

      * Tahir Wadood Malik ialah pendiri Pakistan Terrorism Survivors Network, suatu jejaring yang bertujuan memberi dukungan yang dibutuhkan oleh para korban yang masih selamat dan para keluarga korban yang meninggal untuk mengekspresikan kepedihan mereka, berbagi rasa kehilangan dan menyadari kalau mereka tidaklah sendiri. 

      Artikel ini adalah bagian dari seri tentang akibat-akibat terorisme yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

      Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 April 2011, www.commongroundnews.org 
      Telah memperoleh izin publikasi.
       
      Luthfi Widagdo Eddyono
      http://www.luthfiwe.blogspot.com
      luthfi_we@...

      Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk dipublikasikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Jika anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini anda diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah terlarang. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun dokumen cetak.Terima kasih.


      This email is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential and may also be privileged. Any form of unauthorized use or dissemination is strictly prohibited. If you are not the intended recipient or if this email is otherwise sent to you in error, you should not disseminate, distribute or copy this email and you should delete it immediately and notify us. Thank you.

    • Luthfi Widagdo Eddyono
      Demi ilmu pengetahuan, kayaknya boleh, asal merujuk ke sumber aslinya  www.commongroundnews.org  hehe. Salam,   Luthfi Widagdo Eddyono
      Message 2 of 4 , May 6, 2011
      • 0 Attachment
        Demi ilmu pengetahuan, kayaknya boleh, asal merujuk ke sumber aslinya  www.commongroundnews.org  hehe.

        Salam,
         
        Luthfi Widagdo Eddyono
        http://www.luthfiwe.blogspot.com
        luthfi_we@...

        Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk dipublikasikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Jika anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini anda diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah terlarang. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun dokumen cetak.Terima kasih.


        This email is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential and may also be privileged. Any form of unauthorized use or dissemination is strictly prohibited. If you are not the intended recipient or if this email is otherwise sent to you in error, you should not disseminate, distribute or copy this email and you should delete it immediately and notify us. Thank you.



        From: Junaedi Ghazali <numero_uno2006@...>
        To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
        Sent: Friday, May 6, 2011 2:02 PM
        Subject: Bls: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

         
        Aduh, ga boleh di share di media lain ya mas :(



        Dari: Luthfi Widagdo Eddyono <luthfi_we@...>
        Kepada: "jejak_langkah@yahoogroups.com" <jejak_langkah@yahoogroups.com>; peace ge <peacegeneration@yahoogroups.com>
        Terkirim: Jum, 6 Mei, 2011 12:59:16
        Judul: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

         
        Korban teroris tidak selalu orang lain
        Tahir Wadood Malik
         
        Islamabad – Bagi saya, dulu terorisme adalah sesuatu yang menimpa orang lain. 

        Saat melihat berita tentang serangan teroris, mudah saja saya mengganti saluran televisi. Itulah yang biasa saya lakukan sampai 5 Oktober 2009, ketika saya menerima sebuah panggilan telepon yang kemudian mengubah hidup saya untuk selamanya. Sang penelepon mengatakan bahwa ada bom meledak di kantor biro PBB di Islamabad di mana istri saya, Gul Rukh, bekerja.

        Saya tidak ingat persis apakah waktu itu saya mengendarai mobil sendiri atau bagaimana untuk mencapai kantor itu. Yang saya cuma ingat, saya pun sampai di sana. Tapi di sana sudah tidak ada apa-apa. 

        Seseorang memberi tahu saya kalau Gul Rukh telah dibawa ke rumah sakit. Meluncur ke sana dengan perasaan bingung karena terkejut, saya pun mulai bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan yang biasa orang-orang tanyakan dalam situasi seperti itu: “Apa salah kami?”

        Nama saya Tahir Wadood Malik, pensiunan tentara berpangkat terakhir mayor. Karena berkarir sebagai tentara, saya pun hidup nyaman-nyaman saja, dan saya menganggap diri saya termasuk orang-orang yang “diistimewakan” di Pakistan. tidak jarang saya merasa jauh dari kebanyakan orang biasa di Pakistan.

        Setiba di rumah sakit, saya berdiri di tengah kegaduhan orang-orang, sampai seorang dokter membawa saya ke sebuah brankar yang tertutup kain putih. Saat mengangkatnya, saya pun melihat wajah Gul Rukh, yang sudah tidak bernyawa.

        Saat saya berdiri di sana, mati rasa dan terpaku, saya mendengar sedikit keributan. Sedikit menyelidik, saya pun melihat seorang staf rumah sakit mendorong seorang juru kamera televisi menjauh dari tempat di mana saya berdiri. Ia telah menyorot kegaduhan di rumah sakit dan reaksi saya, dan saya sadar kalau saya telah menjadi orang yang tidak dikenal yang muncul di televisi, yang terkejut dan terbingung-bingung dengan pembunuhan akibat serangan teroris ini. Saya pun menjadi orang Pakistan “biasa” yang tidak seorang pun ingin kenali. 

        Sebelum tengah malam, pemakaman sudah selesai dan orang-orang telah bubar. Saya ditinggal sendiri untuk menyesal dan merasa kesal, sedih dan tidak bercabik-cabik, dan tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang terjadi. 

        Saat hari-hari terus berlalu, saya semakin merasa sendirian. tidak ada orang yang bisa saya ajak bicara. Bagi banyak orang di Pakistan, berduka adalah urusan pribadi, dan kebanyakan orang menerima nasib kehilangan sebagai kehendak Tuhan. Namun, meski respon orang-orang saat berduka boleh jadi tampak sama, tidak ada respon yang sama saat berduka, mungkin karena tidak ada duka yang sama. Kesedihan kita sama pribadinya dengan hidup kita. 

        Pada masa-masa berikutnya, ada lebih banyak lagi serangan teroris dan saya merasa diri saya dibawa ke tempat-tempat tersebut. Bicara dengan orang-orang yang ditinggalkan membuat saya sadar kalau kami bisa saling berempati karena kami sama-sama mengalami kehilangan yang orang lain tidak bisa rasakan.

        Apa yang bisa diperbuat bagi orang lain yang demikian bersedih? Saya berkesempatan untuk bertemu dengan para korban terorisme yang selamat atau orang-orang yang ditinggalkan para korban dari seluruh dunia di Amman, Yordania ketika saya diundang menghadiri pembukaan sebuah taman yang dibuat untuk mengenang bom hotel 2005 di sana, yang menewaskan 60 orang dan melukai 115 lainnya. 

        Kerjasama para korban serangan teror dari seluruh dunia ini memberikan petunjuk yang saya perlukan untuk menyalurkan kekecewaan dan ketidakberdayaan saya guna membantu sesama orang Pakistan. Sekembalinya ke Pakistan, saya mulai bicara kepada lebih banyak korban dan orang yang ditinggalkan, dan memberi presentasi kepada para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang terjadi pada keluarga dan teman-teman setelah adanya serangan-serangan semacam itu, dan membuat mereka saling berinteraksi, curhat dan berempati.

        Saat bicara dengan yang lain, saya sadar bahwa, meski melupakan itu mustahil, kita semua bisa belajar untuk memaafkan. Saya meminta orang-orang lain yang dalam situasi seperti saya untuk juga berusaha demikian.

        Tapi andai saya sempat bertemu seseorang yang berpikir akan menjadi pembom bunuh diri, saya akan menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan: sudahkah Anda benar-benar membaca apa yang al-Qur’an katakan tentang tindakan-tindakan semacam itu, atau Anda hanya mendengar dari seorang ideolog? Apakah Anda tahu kalau Nabi Muhammad membenci kekerasan? Dan, akhirnya, bagaimana Anda bisa membayangkan kenyataan kalau, suatu hari, orang lain melakukan serangan yang sama, dan membuat keluarga Anda terluka atau meninggal? 

        Kami para korban dan orang-orang yang ditinggalkan tentu bukanlah “orang biasa”. Kami telah menanggung duka yang begitu mendalam, yang mudah-mudahan banyak orang lain tidak akan pernah harus mengerti atau alami. Saya berharap suara kami cukup keras untuk sampai ke para ekstremis muda dan simpatisan mereka, dan menyadarkan mereka bahwa aksi mereka tidak akan berbuah apa-apa selain kepedihan, kehilangan dan kerusakan.

        ###

        * Tahir Wadood Malik ialah pendiri Pakistan Terrorism Survivors Network, suatu jejaring yang bertujuan memberi dukungan yang dibutuhkan oleh para korban yang masih selamat dan para keluarga korban yang meninggal untuk mengekspresikan kepedihan mereka, berbagi rasa kehilangan dan menyadari kalau mereka tidaklah sendiri. 

        Artikel ini adalah bagian dari seri tentang akibat-akibat terorisme yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

        Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 April 2011, www.commongroundnews.org 
        Telah memperoleh izin publikasi.
         
        Luthfi Widagdo Eddyono
        http://www.luthfiwe.blogspot.com
        luthfi_we@...

        Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk dipublikasikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Jika anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini anda diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah terlarang. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun dokumen cetak.Terima kasih.


        This email is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential and may also be privileged. Any form of unauthorized use or dissemination is strictly prohibited. If you are not the intended recipient or if this email is otherwise sent to you in error, you should not disseminate, distribute or copy this email and you should delete it immediately and notify us. Thank you.



      • Junaedi Ghazali
        sip...sip...nuwun mas. aku share di FB dah :) ________________________________ Dari: Luthfi Widagdo Eddyono Kepada:
        Message 3 of 4 , May 6, 2011
        • 0 Attachment
          sip...sip...nuwun mas. aku share di FB dah :)




          Dari: Luthfi Widagdo Eddyono <luthfi_we@...>
          Kepada: "PeaceGeneration@yahoogroups.com" <PeaceGeneration@yahoogroups.com>
          Terkirim: Jum, 6 Mei, 2011 14:15:00
          Judul: Re: Bls: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

           

          Demi ilmu pengetahuan, kayaknya boleh, asal merujuk ke sumber aslinya  www.commongroundnews.org  hehe.

          Salam,
           
          Luthfi Widagdo Eddyono
          http://www.luthfiwe.blogspot.com
          luthfi_we@...

          Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk dipublikasikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Jika anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini anda diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah terlarang. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun dokumen cetak.Terima kasih.


          This email is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential and may also be privileged. Any form of unauthorized use or dissemination is strictly prohibited. If you are not the intended recipient or if this email is otherwise sent to you in error, you should not disseminate, distribute or copy this email and you should delete it immediately and notify us. Thank you.



          From: Junaedi Ghazali <numero_uno2006@...>
          To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
          Sent: Friday, May 6, 2011 2:02 PM
          Subject: Bls: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

           
          Aduh, ga boleh di share di media lain ya mas :(



          Dari: Luthfi Widagdo Eddyono <luthfi_we@...>
          Kepada: "jejak_langkah@yahoogroups.com" <jejak_langkah@yahoogroups.com>; peace ge <peacegeneration@yahoogroups.com>
          Terkirim: Jum, 6 Mei, 2011 12:59:16
          Judul: [PeaceGeneration] Korban teroris tidak selalu orang lain

           
          Korban teroris tidak selalu orang lain
          Tahir Wadood Malik
           
          Islamabad – Bagi saya, dulu terorisme adalah sesuatu yang menimpa orang lain. 

          Saat melihat berita tentang serangan teroris, mudah saja saya mengganti saluran televisi. Itulah yang biasa saya lakukan sampai 5 Oktober 2009, ketika saya menerima sebuah panggilan telepon yang kemudian mengubah hidup saya untuk selamanya. Sang penelepon mengatakan bahwa ada bom meledak di kantor biro PBB di Islamabad di mana istri saya, Gul Rukh, bekerja.

          Saya tidak ingat persis apakah waktu itu saya mengendarai mobil sendiri atau bagaimana untuk mencapai kantor itu. Yang saya cuma ingat, saya pun sampai di sana. Tapi di sana sudah tidak ada apa-apa. 

          Seseorang memberi tahu saya kalau Gul Rukh telah dibawa ke rumah sakit. Meluncur ke sana dengan perasaan bingung karena terkejut, saya pun mulai bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan yang biasa orang-orang tanyakan dalam situasi seperti itu: “Apa salah kami?”

          Nama saya Tahir Wadood Malik, pensiunan tentara berpangkat terakhir mayor. Karena berkarir sebagai tentara, saya pun hidup nyaman-nyaman saja, dan saya menganggap diri saya termasuk orang-orang yang “diistimewakan” di Pakistan. tidak jarang saya merasa jauh dari kebanyakan orang biasa di Pakistan.

          Setiba di rumah sakit, saya berdiri di tengah kegaduhan orang-orang, sampai seorang dokter membawa saya ke sebuah brankar yang tertutup kain putih. Saat mengangkatnya, saya pun melihat wajah Gul Rukh, yang sudah tidak bernyawa.

          Saat saya berdiri di sana, mati rasa dan terpaku, saya mendengar sedikit keributan. Sedikit menyelidik, saya pun melihat seorang staf rumah sakit mendorong seorang juru kamera televisi menjauh dari tempat di mana saya berdiri. Ia telah menyorot kegaduhan di rumah sakit dan reaksi saya, dan saya sadar kalau saya telah menjadi orang yang tidak dikenal yang muncul di televisi, yang terkejut dan terbingung-bingung dengan pembunuhan akibat serangan teroris ini. Saya pun menjadi orang Pakistan “biasa” yang tidak seorang pun ingin kenali. 

          Sebelum tengah malam, pemakaman sudah selesai dan orang-orang telah bubar. Saya ditinggal sendiri untuk menyesal dan merasa kesal, sedih dan tidak bercabik-cabik, dan tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang terjadi. 

          Saat hari-hari terus berlalu, saya semakin merasa sendirian. tidak ada orang yang bisa saya ajak bicara. Bagi banyak orang di Pakistan, berduka adalah urusan pribadi, dan kebanyakan orang menerima nasib kehilangan sebagai kehendak Tuhan. Namun, meski respon orang-orang saat berduka boleh jadi tampak sama, tidak ada respon yang sama saat berduka, mungkin karena tidak ada duka yang sama. Kesedihan kita sama pribadinya dengan hidup kita. 

          Pada masa-masa berikutnya, ada lebih banyak lagi serangan teroris dan saya merasa diri saya dibawa ke tempat-tempat tersebut. Bicara dengan orang-orang yang ditinggalkan membuat saya sadar kalau kami bisa saling berempati karena kami sama-sama mengalami kehilangan yang orang lain tidak bisa rasakan.

          Apa yang bisa diperbuat bagi orang lain yang demikian bersedih? Saya berkesempatan untuk bertemu dengan para korban terorisme yang selamat atau orang-orang yang ditinggalkan para korban dari seluruh dunia di Amman, Yordania ketika saya diundang menghadiri pembukaan sebuah taman yang dibuat untuk mengenang bom hotel 2005 di sana, yang menewaskan 60 orang dan melukai 115 lainnya. 

          Kerjasama para korban serangan teror dari seluruh dunia ini memberikan petunjuk yang saya perlukan untuk menyalurkan kekecewaan dan ketidakberdayaan saya guna membantu sesama orang Pakistan. Sekembalinya ke Pakistan, saya mulai bicara kepada lebih banyak korban dan orang yang ditinggalkan, dan memberi presentasi kepada para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang terjadi pada keluarga dan teman-teman setelah adanya serangan-serangan semacam itu, dan membuat mereka saling berinteraksi, curhat dan berempati.

          Saat bicara dengan yang lain, saya sadar bahwa, meski melupakan itu mustahil, kita semua bisa belajar untuk memaafkan. Saya meminta orang-orang lain yang dalam situasi seperti saya untuk juga berusaha demikian.

          Tapi andai saya sempat bertemu seseorang yang berpikir akan menjadi pembom bunuh diri, saya akan menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan: sudahkah Anda benar-benar membaca apa yang al-Qur’an katakan tentang tindakan-tindakan semacam itu, atau Anda hanya mendengar dari seorang ideolog? Apakah Anda tahu kalau Nabi Muhammad membenci kekerasan? Dan, akhirnya, bagaimana Anda bisa membayangkan kenyataan kalau, suatu hari, orang lain melakukan serangan yang sama, dan membuat keluarga Anda terluka atau meninggal? 

          Kami para korban dan orang-orang yang ditinggalkan tentu bukanlah “orang biasa”. Kami telah menanggung duka yang begitu mendalam, yang mudah-mudahan banyak orang lain tidak akan pernah harus mengerti atau alami. Saya berharap suara kami cukup keras untuk sampai ke para ekstremis muda dan simpatisan mereka, dan menyadarkan mereka bahwa aksi mereka tidak akan berbuah apa-apa selain kepedihan, kehilangan dan kerusakan.

          ###

          * Tahir Wadood Malik ialah pendiri Pakistan Terrorism Survivors Network, suatu jejaring yang bertujuan memberi dukungan yang dibutuhkan oleh para korban yang masih selamat dan para keluarga korban yang meninggal untuk mengekspresikan kepedihan mereka, berbagi rasa kehilangan dan menyadari kalau mereka tidaklah sendiri. 

          Artikel ini adalah bagian dari seri tentang akibat-akibat terorisme yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

          Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 April 2011, www.commongroundnews.org 
          Telah memperoleh izin publikasi.
           
          Luthfi Widagdo Eddyono
          http://www.luthfiwe.blogspot.com
          luthfi_we@...

          Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk dipublikasikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Jika anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini anda diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah terlarang. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun dokumen cetak.Terima kasih.


          This email is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential and may also be privileged. Any form of unauthorized use or dissemination is strictly prohibited. If you are not the intended recipient or if this email is otherwise sent to you in error, you should not disseminate, distribute or copy this email and you should delete it immediately and notify us. Thank you.



        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.