Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Sekolah teori multikulturalisme (angkatan VI)

Expand Messages
  • hani raihana
      SEKOLAH TEORI  MULTIKULTURALISME (angkatan VI) -menjelajah epistemologi multikulturalisme-     Latar Belakang Sekolah diartikan sebagai suatu proses
    Message 1 of 1 , Feb 24, 2010
    • 0 Attachment

       

      SEKOLAH TEORI

       MULTIKULTURALISME

      (angkatan VI)

      -menjelajah epistemologi multikulturalisme-

       

       

      Latar Belakang

      Sekolah diartikan sebagai suatu proses pendidikan, pengajaran atau pembelajaran tertentu di sebuah institusi. Sekelompok orang yang berdialog, bermediasi dan berbagi pendapat mengenai karakteristik atau pandangan umum mengenai filosofi, berbagai disiplin keilmuan, kepercayaan, gerakan sosial atau seni juga disebut sekolah, termasuk di dalamnya berdiskusi mengenai teori sebagai dasar ‘kegiatan bersekolah’. Tujuan dari berjalannya proses ini adalah agar penilaian terhadap pandangan umum tidak bersifat diskriminatif.

       

      Mengapa sekolah harus memiliki dasar teori atau hipotesis dari seperangkat fakta atau prinsip umum yang dianut? Hal ini merujuk pada ‘keunggulan’ teori sebagai suatu konstruksi dan sarana untuk memetakan, mengkodifikasi, menginterpretasikan, menjelaskan dan memahami kompleksitas hubungan manusia. Teori mampu ‘mewadahi’ forum terbuka untuk saling berdiskusi, debat, atau mengkritisi, bahkan memunculkan alternatif baru untuk tindakan sosial atau peristiwa yang sedang ‘hangat’ di lingkungan sekitar.

       

      Isu multikultur merupakan salah satu topik hangat yang mengiringi tiap langkah dalam keseharian manusia. Kultur yang dipahami sebagai kumpulan ide yang ada di otak manusia menjadi jamak dikarenakan ide tiap manusia yang  berbeda, sehingga disebut multikultur. Realitas tentang yang jamak merupakan hal yang semula berasal dari kenyataan bahwa tiap individu adalah personal yang berbeda. Namun sayangnya, masyarakat hanya ‘membahas’ perbedaan yang kasat mata, seperti suku, warna kulit, dan agama--walaupun agama semestinya bukan sesuatu yang kasat mata, tetapi lebih kepada sistem berpikir tentang benar dan salah serta mengenai reward yang didapatkan jika kita melakukan sesuatu itu benar atau salah. Multikultur kemudian menjadi sebuah ‘isme’, sebuah proses pemahaman dan penghargaan tentang bagaimana memandang perbedaan dalam budaya, sistem maupun ide. Hal ini menjadi penting dan signifikan diperlukan karena tiap individu dalam masyarakat menjadi timbul banyak konflik karena perbedaan ini.

       

      Salah satu contoh untuk menjelaskan realitas mengenai isu multikultur ini adalah isu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai Serambi Madinah. Rencananya, Yogyakarta akan dijadikan model daerah Serambi Madinah, sebab kondisi yang ada memiliki kesamaan dengan kondisi pluralisme yang ada di Kota Madinah, Arab Saudi ketika lahirnya Islam, terlebih Yogyakarta juga didukung oleh tingkat toleransi yang tinggi oleh elemen masyarakatnya. Namun, guna mewujudkan DIY sebagai Serambi Madinah, diperlukan penguatan dalam bentuk peraturan daerah (Perda), sekaligus untuk menguatkan keistimewaan Yogyakarta. Hal ini kemudian dapat ‘mengundang’ tanggapan dari banyak pihak, baik positif maupun negatif serta dapat memunculkan memunculkan ketegangan tersendiri antar kaum mayoritas (muslim) dan minoritas(nonmuslim).

       

      Sekolah Teori Multikulturalisme kemudian menjadi suatu upaya untuk menciptakan jembatan bagi individu-individu yang berbeda untuk dapat saling berbagi. Sekolah ini memberikan ‘tempat’ untuk berdialog yang ‘berdasar’ karena telah dibekali oleh pengetahuan yang dibagikan di sekolah. Selain itu pula sekolah ini sangat diperlukan untuk mendialogkan kepentingan yang dibawa masing-masing ‘isme’ karena adanya tensi atau ketegangan antara islam dan kristen, timur dan barat, tradisionalisasi dengan modernisasi.

       

      Tujuan: Mendialogkan multikultur, mendorong pemahaman dan kesadaran baru pada individu untuk mengarahkan ‘tindakan yang berdasar atas pengetahuan’

       

      Hasil: Individu dalam masyarakat yang memiliki pemahaman, sudut pandang, dan kesadaran baru tentang multikultur yang tidak hanya berdasar common sense

       

      Materi :

      • Pengantar, Multikulturalisme ala Indonesia               
      • Epistemologi multikulturalisme
      • Kearifan lokal, sinkretisme budaya-agama,  dan budaya tandingan
      • Multikulturalisme, inclusive citizenship, dan represi atas ide majemuk   

       

      Start : 1 Maret 2010

      Setiap senin, jam 15.00-17.00

      Di kantor  IMPULSE

      Biaya sekolah Rp. 200.000,00 

       

      Informasi dan pendaftaran:

      Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (IMPULSE)

      Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta, 55281

      Telp. (0274) 588783 ext. 245 atau  081328641129 (Eli)

      fax: (0274) 563349, office@..., impulse.yogya@...

       

       

       

       


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.