Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [PeaceGeneration] Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut..

Expand Messages
  • Bje Soejibto
    Aduh.... Aduh.... BJ tersedak dengan kabar ini!!! Saya seolah tidak bisa komen banyak dengan kasus sang Prof Banyu ini. Saya sudah terlebih dahulu
    Message 1 of 7 , Feb 10, 2010
    • 0 Attachment
      Aduh.... Aduh.... BJ tersedak dengan kabar ini!!!

      Saya seolah tidak bisa komen banyak dengan kasus sang Prof Banyu ini. Saya sudah terlebih dahulu dininabobokkan Artikel2 dia yang bagus di banyak media, dengan analisis yang kuat soal isu-isu internasional kontemporer. Sekarang, saya hanya bisa bergemim: "orang sebesar dia, dengan predikat yang sudah disandangnya sedemikian berat (karena seabreg itu), masih "tidak sadar" menjebloskan dirinya ke jurang."Dia orang besar! Dan Saya, sebagai peserta JPAR, sangat amat terkesima dengan kehebatan sang Prof. Dan bahkan beliau, sehabis acara itu, menjadi salah satu inspirasi bagi saya.

      Saya sebagai orang yang belajar menulis, dan sesekali memberanikan diri memuat tulisan Artikel ke media, paham betul akan hal ini. Plagiasi, dalam dunia tulis-menulis, adalah BUNUH DIRI! Itulah prinsip, yang semestinya dipegang-teguh, dari seorang penulis. Sampai 4 kali bukan "keteledoran-ketidaksengajaan". Itu adalah pembiaran dan kesalahan yang mengenakkan. Apalagi, apalagi di media kelas (diakses) dunia internasional.

      Sulit memang dibayangkan kenapa ini terjadi. Tapi, kasus seperti sebenarnya banyak terjadi di banyak penulis kita. Penulis yang sudah menyandang guru besar dan jabatan-jabatan penting cukup suka melakukan itu, mulai dari sekedar bermain dengan mempoles (mengubah bahasa sana sini dari karya orang lain) sampai memang benar-benar mentah-mentah plagiasi. Apakah memang ada yang "anomali" dalam sistem pendidikan kita?

      Kalau penulis yang masih belajar kemudian keteledoran dengan menjamah karya tokohnya, atau karya orang lain yang dia sukai, saya tidak terlalu memperkarakan mereka. Meskipun itu tetap haram hukumnya! Tapi, jika terjadi kepada sang Prof, ceritanya akan lain, dan tentu menyesakkan. Ada mental apa di sini?

      Dari kasus ini, semoga menjadi pelajaran bersama, bagi kita semua.....


      Bernando J Sujibto (BJ)
      JPAR, Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yk



      From: ika septi <celtic_iko@...>
      To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
      Sent: Wed, February 10, 2010 4:02:08 PM
      Subject: [PeaceGeneration] Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut..

       

      seperti Faisal, saya pun menemukan headline berita yang cukup meresahkan pikiran : The Jakarta post mengklaim tulisan Profesor Banyu Perwita adalah hasil plagiarism. Setelah membaca artikel itu, saya melakukan riset kecil2an, membandingkan salah satu tulisan yang diklaim sebagai hasil plagiarisme tersebut yg berjudul:'RI as a new middle power?' yang ditulis Prof Banyu Perwita dan telah dimuat pada 12 November 2009. ternyata di dalam artikel tersebut memang terdapat bagian yang di copy paste mentah dari tulisan Carl Ungerer yang berjudul “The *Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy”.

      kutipan salah satu bagian tersebut: "In short, being a middle-sized country does not necessarily determine foreign policy behavior. But having middle-ranking economic, military and diplomatic capabilities and actively pursuing a middle-power approach to international affairs does offer some insight into what certain states can do to their international environment. "
       Tulisan ini terdapat dalam artikel Carl Ungerer pada sub-judul The Evolution of the Middle Power Concept, paragraf pertama, baris terakhir. Semua frase sama persis.

      OK, saya pun mendapat cukup bukti untuk mengetahui bahwa ada tindakan plagiarisme dilakukan oleh profesor tersebut. Lalu?! Ternyata  Banyak sekali forum di internet menghujat profesor tersebut, tapi banyak juga dukungan mengalir terutama dari murid2 Si profesor. Prof Banyu sendiri meminta maaf di facebook tapi tidak benar2 mengakui dirinya bersalah, karena beliau bilang : "unintentionally" . ( God knows apakah empat kali artikel yang sangat mirip itu adalah unintentional or not. you decide. )

      Beberapa saat setelah cukup pegel baca berbagai opini pro dan kontra kepada profesor yang diduga pelagiat tersebut, saya membatin : semoga saja semua opini itu bukan hanya euforia belaka , menghujat pelagiat padahal mereka yg menghujat, siapapun, sebenarnya mungkin pernah juga jadi pelagiat, hehe...

      seperti kata peribahasa gajah di pelupuk mata semut di seberang lautan =)

      semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua





      Get your new Email address!
      Grab the Email name you've always wanted before someone else does!


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.