Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut..

Expand Messages
  • Faisal Dwiyana
    Masih ingat sosok dan nama ini? buat temen2 JPAR tentunya masih ingat, mudah2 kabar ini tidaklah benar, semoga beliau dimudahkan dalam masalah ini, -- [image:
    Message 1 of 7 , Feb 9, 2010
      Masih ingat sosok dan nama ini?
      buat temen2 JPAR tentunya masih ingat,
      mudah2 kabar ini tidaklah benar,
      semoga beliau dimudahkan dalam masalah ini,

      --
      1838286p.jpg

      Guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Anak Agung Banyu Perwita (43), diduga melakukan serangkaian tindakan plagiat di artikel-artikel harian nasional.

      Kabar ini terkuak dari keterangan (disclaimer) editorial kolom Opini Harian The Jakarta Postyang dirilis pada 4 Februari lalu. Dalamdisclaimer ini disebutkan bahwa artikel Banyu Perwita berjudul "RI as A New Middle Power".

      Artikel yang dimuat di harian ini pada 12 November 2009 ternyata memiliki kemiripan dalam hal pemaparan gagasan, kata-kata, dan kalimat dengan artikel yang ditulis Carl Ungerer, penulis asal Australia. Tulisannya berjudul "The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy" yang telah lebih dulu dimuat di Australian Journal of Politics and History Volume 53, pada tahun 2007.  

      "Both in terms of ideas and in the phrases used, it i s very evident this is not the original work of the writer", bunyi pernyataan resmi dari editorial The Jakarta Post itu.

      Kasus ini menarik perhatian masyarakat, terbukti dengan banyaknya komentar di beragam media blog dan mailing list, salah satunya di Kompasiana yang terintegrasi di media Kompas.com ini. Sejak di-posting oleh Limantina Sihaloho—salah satu Kompasianer—dengan judul tulisan "Profesor Indonesia Memalukan", isu plagiarisme ini mendapat banyak tanggapan.

      Yang juga mengejutkan, terungkap di Kompasiana, Banyu Perwita diduga bukan hanya sekali melakukan perbuatan tercela ini, melainkan juga empat artikel sekaligus dari enam narasumber internasional, seperti diungkap Kompasianer Hireka Eric.

      smbr:

      --
      Faisal Dwiyana Purnawarman
      http://www.faisaldwiyana.wordpress.com


    • ika septi
      seperti Faisal, saya pun menemukan headline berita yang cukup meresahkan pikiran : The Jakarta post mengklaim tulisan Profesor Banyu Perwita adalah hasil
      Message 2 of 7 , Feb 10, 2010
        seperti Faisal, saya pun menemukan headline berita yang cukup meresahkan pikiran : The Jakarta post mengklaim tulisan Profesor Banyu Perwita adalah hasil plagiarism. Setelah membaca artikel itu, saya melakukan riset kecil2an, membandingkan salah satu tulisan yang diklaim sebagai hasil plagiarisme tersebut yg berjudul:'RI as a new middle power?' yang ditulis Prof Banyu Perwita dan telah dimuat pada 12 November 2009. ternyata di dalam artikel tersebut memang terdapat bagian yang di copy paste mentah dari tulisan Carl Ungerer yang berjudul “The *Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy”.

        kutipan salah satu bagian tersebut: "In short, being a middle-sized country does not necessarily determine foreign policy behavior. But having middle-ranking economic, military and diplomatic capabilities and actively pursuing a middle-power approach to international affairs does offer some insight into what certain states can do to their international environment."
         Tulisan ini terdapat dalam artikel Carl Ungerer pada sub-judul The Evolution of the Middle Power Concept, paragraf pertama, baris terakhir. Semua frase sama persis.

        OK, saya pun mendapat cukup bukti untuk mengetahui bahwa ada tindakan plagiarisme dilakukan oleh profesor tersebut. Lalu?! Ternyata  Banyak sekali forum di internet menghujat profesor tersebut, tapi banyak juga dukungan mengalir terutama dari murid2 Si profesor. Prof Banyu sendiri meminta maaf di facebook tapi tidak benar2 mengakui dirinya bersalah, karena beliau bilang : "unintentionally". ( God knows apakah empat kali artikel yang sangat mirip itu adalah unintentional or not. you decide. )

        Beberapa saat setelah cukup pegel baca berbagai opini pro dan kontra kepada profesor yang diduga pelagiat tersebut, saya membatin : semoga saja semua opini itu bukan hanya euforia belaka , menghujat pelagiat padahal mereka yg menghujat, siapapun, sebenarnya mungkin pernah juga jadi pelagiat, hehe...

        seperti kata peribahasa gajah di pelupuk mata semut di seberang lautan =)

        semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua





        Get your new Email address!
        Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
      • I Nengah Budi Setiawan
        plagiat memang bisa membuat seseorang lebih maju dr sebelumnya ________________________________ From: ika septi To:
        Message 3 of 7 , Feb 10, 2010
          plagiat memang bisa membuat seseorang lebih maju dr sebelumnya



          From: ika septi <celtic_iko@...>
          To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
          Sent: Wed, February 10, 2010 4:02:08 PM
          Subject: [PeaceGeneration] Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut..

           

          seperti Faisal, saya pun menemukan headline berita yang cukup meresahkan pikiran : The Jakarta post mengklaim tulisan Profesor Banyu Perwita adalah hasil plagiarism. Setelah membaca artikel itu, saya melakukan riset kecil2an, membandingkan salah satu tulisan yang diklaim sebagai hasil plagiarisme tersebut yg berjudul:'RI as a new middle power?' yang ditulis Prof Banyu Perwita dan telah dimuat pada 12 November 2009. ternyata di dalam artikel tersebut memang terdapat bagian yang di copy paste mentah dari tulisan Carl Ungerer yang berjudul “The *Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy”.

          kutipan salah satu bagian tersebut: "In short, being a middle-sized country does not necessarily determine foreign policy behavior. But having middle-ranking economic, military and diplomatic capabilities and actively pursuing a middle-power approach to international affairs does offer some insight into what certain states can do to their international environment. "
           Tulisan ini terdapat dalam artikel Carl Ungerer pada sub-judul The Evolution of the Middle Power Concept, paragraf pertama, baris terakhir. Semua frase sama persis.

          OK, saya pun mendapat cukup bukti untuk mengetahui bahwa ada tindakan plagiarisme dilakukan oleh profesor tersebut. Lalu?! Ternyata  Banyak sekali forum di internet menghujat profesor tersebut, tapi banyak juga dukungan mengalir terutama dari murid2 Si profesor. Prof Banyu sendiri meminta maaf di facebook tapi tidak benar2 mengakui dirinya bersalah, karena beliau bilang : "unintentionally" . ( God knows apakah empat kali artikel yang sangat mirip itu adalah unintentional or not. you decide. )

          Beberapa saat setelah cukup pegel baca berbagai opini pro dan kontra kepada profesor yang diduga pelagiat tersebut, saya membatin : semoga saja semua opini itu bukan hanya euforia belaka , menghujat pelagiat padahal mereka yg menghujat, siapapun, sebenarnya mungkin pernah juga jadi pelagiat, hehe...

          seperti kata peribahasa gajah di pelupuk mata semut di seberang lautan =)

          semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua





          Get your new Email address!
          Grab the Email name you've always wanted before someone else does!


        • Faisal Dwiyana
          hmm,kalo mau ngikuti beritanya silahkan search di kompasiana disitu jelas mulai darimananya, thx.. -- Faisal Dwiyana Purnawarman
          Message 4 of 7 , Feb 10, 2010
            hmm,kalo mau ngikuti beritanya silahkan search di kompasiana
            disitu jelas mulai darimananya, thx..

            --
            Faisal Dwiyana Purnawarman
            http://www.faisaldwiyana.wordpress.com


          • Faisal Dwiyana
            satu lagi, ini saya attachkan hasil searching saya.. -- Faisal Dwiyana Purnawarman http://www.faisaldwiyana.wordpress.com
            Message 5 of 7 , Feb 10, 2010
            satu lagi, ini saya attachkan hasil searching saya..

            --
            Faisal Dwiyana Purnawarman
            http://www.faisaldwiyana.wordpress.com


          • Marcella Chandra Wijayanti
            Wow, too bad.I thought he s great academician.  Marcella Chandra Wijayanti Economics Department, Faculty of Economics and Buiness Universitas Gadjah Mada,
            Message 6 of 7 , Feb 10, 2010
              Wow, too bad.I thought he's great academician.
               

               
              Marcella Chandra Wijayanti
              Economics Department, Faculty of Economics and Buiness
              Universitas Gadjah Mada, Indonesia



              Dari: Faisal Dwiyana <faisal.dwiyana@...>
              Kepada: PeaceGeneration@yahoogroups.com
              Terkirim: Rab, 10 Februari, 2010 17:44:13
              Judul: Re: [PeaceGeneration] Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut.. [1 Attachment]

               

              satu lagi, ini saya attachkan hasil searching saya..

              --
              Faisal Dwiyana Purnawarman
              http://www.faisaldw iyana.wordpress. com




              Dapatkan nama yang Anda sukai!
              Sekarang Anda dapat memiliki email di @... dan @....
            • Bje Soejibto
              Aduh.... Aduh.... BJ tersedak dengan kabar ini!!! Saya seolah tidak bisa komen banyak dengan kasus sang Prof Banyu ini. Saya sudah terlebih dahulu
              Message 7 of 7 , Feb 10, 2010
                Aduh.... Aduh.... BJ tersedak dengan kabar ini!!!

                Saya seolah tidak bisa komen banyak dengan kasus sang Prof Banyu ini. Saya sudah terlebih dahulu dininabobokkan Artikel2 dia yang bagus di banyak media, dengan analisis yang kuat soal isu-isu internasional kontemporer. Sekarang, saya hanya bisa bergemim: "orang sebesar dia, dengan predikat yang sudah disandangnya sedemikian berat (karena seabreg itu), masih "tidak sadar" menjebloskan dirinya ke jurang."Dia orang besar! Dan Saya, sebagai peserta JPAR, sangat amat terkesima dengan kehebatan sang Prof. Dan bahkan beliau, sehabis acara itu, menjadi salah satu inspirasi bagi saya.

                Saya sebagai orang yang belajar menulis, dan sesekali memberanikan diri memuat tulisan Artikel ke media, paham betul akan hal ini. Plagiasi, dalam dunia tulis-menulis, adalah BUNUH DIRI! Itulah prinsip, yang semestinya dipegang-teguh, dari seorang penulis. Sampai 4 kali bukan "keteledoran-ketidaksengajaan". Itu adalah pembiaran dan kesalahan yang mengenakkan. Apalagi, apalagi di media kelas (diakses) dunia internasional.

                Sulit memang dibayangkan kenapa ini terjadi. Tapi, kasus seperti sebenarnya banyak terjadi di banyak penulis kita. Penulis yang sudah menyandang guru besar dan jabatan-jabatan penting cukup suka melakukan itu, mulai dari sekedar bermain dengan mempoles (mengubah bahasa sana sini dari karya orang lain) sampai memang benar-benar mentah-mentah plagiasi. Apakah memang ada yang "anomali" dalam sistem pendidikan kita?

                Kalau penulis yang masih belajar kemudian keteledoran dengan menjamah karya tokohnya, atau karya orang lain yang dia sukai, saya tidak terlalu memperkarakan mereka. Meskipun itu tetap haram hukumnya! Tapi, jika terjadi kepada sang Prof, ceritanya akan lain, dan tentu menyesakkan. Ada mental apa di sini?

                Dari kasus ini, semoga menjadi pelajaran bersama, bagi kita semua.....


                Bernando J Sujibto (BJ)
                JPAR, Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yk



                From: ika septi <celtic_iko@...>
                To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
                Sent: Wed, February 10, 2010 4:02:08 PM
                Subject: [PeaceGeneration] Gelar Profesor pengisi materi di JPAR terancam dicabut..

                 

                seperti Faisal, saya pun menemukan headline berita yang cukup meresahkan pikiran : The Jakarta post mengklaim tulisan Profesor Banyu Perwita adalah hasil plagiarism. Setelah membaca artikel itu, saya melakukan riset kecil2an, membandingkan salah satu tulisan yang diklaim sebagai hasil plagiarisme tersebut yg berjudul:'RI as a new middle power?' yang ditulis Prof Banyu Perwita dan telah dimuat pada 12 November 2009. ternyata di dalam artikel tersebut memang terdapat bagian yang di copy paste mentah dari tulisan Carl Ungerer yang berjudul “The *Middle Power’ Concept in Australian Foreign Policy”.

                kutipan salah satu bagian tersebut: "In short, being a middle-sized country does not necessarily determine foreign policy behavior. But having middle-ranking economic, military and diplomatic capabilities and actively pursuing a middle-power approach to international affairs does offer some insight into what certain states can do to their international environment. "
                 Tulisan ini terdapat dalam artikel Carl Ungerer pada sub-judul The Evolution of the Middle Power Concept, paragraf pertama, baris terakhir. Semua frase sama persis.

                OK, saya pun mendapat cukup bukti untuk mengetahui bahwa ada tindakan plagiarisme dilakukan oleh profesor tersebut. Lalu?! Ternyata  Banyak sekali forum di internet menghujat profesor tersebut, tapi banyak juga dukungan mengalir terutama dari murid2 Si profesor. Prof Banyu sendiri meminta maaf di facebook tapi tidak benar2 mengakui dirinya bersalah, karena beliau bilang : "unintentionally" . ( God knows apakah empat kali artikel yang sangat mirip itu adalah unintentional or not. you decide. )

                Beberapa saat setelah cukup pegel baca berbagai opini pro dan kontra kepada profesor yang diduga pelagiat tersebut, saya membatin : semoga saja semua opini itu bukan hanya euforia belaka , menghujat pelagiat padahal mereka yg menghujat, siapapun, sebenarnya mungkin pernah juga jadi pelagiat, hehe...

                seperti kata peribahasa gajah di pelupuk mata semut di seberang lautan =)

                semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua





                Get your new Email address!
                Grab the Email name you've always wanted before someone else does!


              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.