Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: [afsjogja] Fakta di balik kriminalisasi KPK dan keterlibatan SBY

Expand Messages
  • wiwien apriliani
    buat baca2....  :) salam, wiwien ... From: Satrio Arismunandar To: news Trans TV ; kampus tiga ; aipi_politik@ yahoogroups. com ; ex menwa UI 2 ; HMI Kahmi
    Message 1 of 1 , Nov 16, 2009
    • 0 Attachment
      buat baca2....  :)

      salam,
      wiwien
      ----- Original Message -----
      Sent: Monday, November 16, 2009 3:37 AM
      Subject: [PersIndonesia] Fakta di balik kriminalisasi KPK dan keterlibatan SBY

       

      Posted by: "Yudhi" wahyudin.trisnawan@ gmail.com   yudhi_naval01

      Sun Nov 15, 2009 11:41 pm (PST)

      (Dikutip dari milis pembaca Kompas)


      Dear All,

      Tulisan dibawah sempat populer di kompasiana.com karena jika dilihat
      dari judul dan isinya, apabila benar maka sangat hebat permainan
      sandiwara para petinggi negara kita ini. Berdoa saja semoga semuanya
      terselesaikan dengan baik.

      sumber :
      http://politik. kompasiana. com/2009/ 11/15/fakta- di-balik- kriminalisasi- kp\
      k-dan-keterlibatan- sby/

      <http://politik. kompasiana. com/2009/ 11/15/fakta- di-balik- kriminalisasi- k\
      pk-dan-keterlibatan -sby/
      >

      Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya,
      tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan
      mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu
      mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan
      orang-orang yang sudah dipilih oleh "sang sutradara", akibatnya,
      meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

      Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita
      telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang
      baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar
      biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan
      Presiden SBY.

      Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak
      pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat.
      Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung
      pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

      Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman
      sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih,
      dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin
      menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses
      menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap
      orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi
      jabatan sebagai Jaksa Agung.

      Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu
      banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan
      banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di
      Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu
      saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim,
      karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para
      aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui
      Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira
      polisi lainnya.

      Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY
      sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena
      dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati
      Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh
      orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan
      kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas
      korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa
      Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

      Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa
      Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk
      "melenyapkan" Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri
      juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul
      Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya) , dan
      konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus
      penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro
      terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu
      Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong
      dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata
      (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK),
      Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat
      lainnya].

      Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun
      mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani
      KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk "menghabisi Antasari
      " adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008
      semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah
      wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di
      Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar
      media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari.
      Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan
      menggusur Antasari.

      Nyatanya, tidak semua wartawan itu "hitam", namun ada juga
      wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari
      lewat media tidak berhasil.

      Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri
      dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari
      bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan
      melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah
      dijadikan "alat" untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai
      kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari
      sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri
      Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian
      Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak
      sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century,
      sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya
      kampanye SBY.

      Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam
      kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy
      Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara
      Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus
      melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan
      pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri),
      yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh
      Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk
      memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke
      Bank Century.

      Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam
      akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan
      oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah
      menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga
      Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY.
      Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para
      intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan
      menjerat Antasari.

      Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang
      cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih
      menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus
      (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin
      melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia
      (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut,
      Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat
      seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri
      BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi
      PT RNI ditangkap KPK.

      Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan
      Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga
      Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi
      yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk
      bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan
      dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka
      skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti
      untuk menjebak Antasari.

      Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti
      Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan
      umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh
      karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat
      skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka
      dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan
      kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan
      Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus
      penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

      Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan
      dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari,
      mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus
      "dipaksa KPK". Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan
      Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah
      kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk
      memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar
      tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait
      dengan "terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga
      Nasrudin.

      Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa
      akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari
      selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang
      seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor
      Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi
      seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

      Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian
      dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah.
      Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang
      rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari
      ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada
      dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

      Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus
      melakukan penyadapan-penyadap an. Nah saat melakukan berbagai penyadapan,
      nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp
      10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau
      180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran
      Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu
      biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari
      hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa
      dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara
      melalui Century oleh inner cycle SBY.

      Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka
      skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno
      pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui
      seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra
      mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian
      dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

      Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan
      Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat
      lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah
      Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap
      (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa
      Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

      Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan
      akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah
      berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini
      sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai
      mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media,
      SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan
      Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon
      ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah
      Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan
      Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun
      sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar
      hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

      Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung,
      Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY
      (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING
      PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP.
      Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang
      paling besar.

      Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun
      berani menagkap Anggodo!

      Oleh : Rina Dewreight

      http://faktakrimina lisasi.wordpress .com/2009/ 11/12/fakta- di-balik- krimin\
      alisasi-kpk- dan-keterlibatan -sby/





      New Email names for you!
      Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
      Hurry before someone else does!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.