Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Trs: Re: [jaringanperempuanjogja] Antara Tuhan & tuhan

Expand Messages
  • little che
    ... Dari: Naila Zain Topik: Re: [jaringanperempuanjogja] Antara Tuhan & tuhan Kepada: jaringanperempuanjogja@yahoogroups.com Tanggal:
    Message 1 of 1 , May 5, 2009
    • 0 Attachment


      --- Pada Sen, 4/5/09, Naila Zain <nailazain98@...> menulis:

      Dari: Naila Zain <nailazain98@...>
      Topik: Re: [jaringanperempuanjogja] Antara Tuhan & tuhan
      Kepada: jaringanperempuanjogja@yahoogroups.com
      Tanggal: Senin, 4 Mei, 2009, 12:38 PM

      Trima kasih mbak Soe Tjen untuk tulisan diskusi kemarin. Dan juga pd mbak Listia  untuk tanggapannya. Senang sekali membacanya. Yang final memang tidak ada ya mbak sebab yang abadi adalah kesementaraan. Lacan menyebut bhw sepanjang hidupnya manusia adalah makhluk yg tidak akan pernah selesai. Tugas manusia memang bukan mencari kepastian, melainkan untuk menggugatnya. Lebih baik mengekalkan pertanyaan (pencarian) tanpa henti daripada memegang pengertian tunggal. Tuhan justru ada dlm pertanyaan, ketidakpastian dan kelonggaran. Mungkin itu juga sebabnya cita2 dari berbagai klaim (baik sains, atheisme, mitis, religiositas, dll) bisa saja berlainan atau bahkan tidak akur satu sama lain, atau bahkan saling mendukung satu sama lain, atau bahkan paradoksal.. . Namun seringkali itu semua tidak berdampak pd kenyataan bhw perasaan spiritual memang memiliki bentuk tertentu & chaos tertentu.

      Aku teringat ketika diskusi kemarin ada yang mengatakan "asumsi" waktu mbak Soe Tjen bertanya mengenai apa Tuhan bagi pikiran kita. Asumsi dari kesadaran bhw konsep surga-neraka, dosa-tak dosa, benar-salah adalah suatu pola yg tak terlepas dari persepsi mitis & realitas par excellence. Sekaligus asumsi yg berangkat dari prinsip dinamis bhw Tuhan adalah Maha Tidak Ada, dengan ketiadaannya tuhan adalah Pribadi yg terlepas dari ego realitas : kerangka, agenda, politik, struktur & normalitas. Tuhan yg tidak dipenjara oleh apapun. Tuhan yg dikenal dengan spirit kebebasan yg dikembalikan lagi kpd tiap pribadi. Dengan begitu semboyan spiritual Tertullianus "Credo quia absurdum" - aku bertaqwa karena Absurd... Mampu dipahami walaupun kebenaran relatif dari feeling tetap ada.. Seperti yg Pascal sebutkan, unsur pokok keimanan adalah samar...

      Trima kasih mbak Soe Tjen & mbak Listia utk edukasinya, sering2 yah... :)


      Salam,

      Naila




      --- On Wed, 4/29/09, smarching <smarching@yahoo. com> wrote:

      From: smarching <smarching@yahoo. com>
      Subject: [jaringanperempuanj ogja] Re: Antara Tuhan & tuhan
      To: jaringanperempuanjo gja@yahoogroups. com
      Date: Wednesday, April 29, 2009, 6:23 AM

      Listia,
      Senang juga bisa berkenalan. Memang tuhan sering diartikan sempit oleh beberapa orang. Sehingga tuhan kadangkala harus dijilat & Tuhan yang begini ini yang sering menimbulkan kekerasan.

      Soe Tjen.

      --- In jaringanperempuanjo gja@yahoogroups. com, listia-suprobo <listia_probo@ ...> wrote:
      >
      > Soe Chen Marsching, salam kenal.
      > Terimakasih telah berbagi artikel yang menggugah dan bersemangat. Hentakan-hentakan diksi anda mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri, yang bila saya tulis barangkali bisa menjadi tanggapan untuk artikel anda.
      >  
      > Suatu kali dalam acara sukuran ultah Interfidei tahun 2006 saya duduk bersebelahan dengan Bante (panggilan untuk Biksu) Sri Panavaro Mahatera. Kami ngobrol ala kadarnya sambil menunggu acara dimulai. Kemudian tanpa kendali saya nyerocos bicara ngalor ngidul dan ada detik-detik di mana saya mengungkapkan kejengjelan dan kemarahan pada kelompok FPI dkk(saya lupa persisnya bilang apa) sampai pada sebuah jeda, Bante terbatuk-batuk memandang saya..
      > " Hati-hari anda sebagai pekerja sosial,..marah, mengapa anda marah? artinya anda ingin semua orang seperti yang anda pikirkan. Itu ego..." Tentu saya terkejut dengan kenyataan diri saya ketika itu. Saya bertanya, "bangaimana supaya tidak marah dengan hal-hal seperti itu."..(kami sebelumnya bicara tentang pemaksaan paham dan kehendak)..Bante menjawab, "pikiran, pikiran anda..."
      >  
      >  
      > Pikiran, 'belenggu pikiran', pantas saja meski Rene Descartes menandaskan modal besar menjadi manusia adalah pikiran, tetapi jasa besar Immanuel Kant adalah karyanya tentang Kritik atas Rasio. Tentu saja sebagaimana kemudian dikembangkan oleh para penerus Kant, aktifitas rasio ini penuh dilekati oleh kepentingan- kepentingan yang harus senantiasa dicermati geraknya.... dalam hal ini menurut saya termasuk ketika memahami realitas hidup manusia.
      > Hidup ini memang tidak sempurna, ketidaksempurnaan inilah yang memungkinkan manusia meniti perjalanan-berjuang dengan membangun pemahaman dan merajut cara penjelasan, belajar menentukan pilihan dan menghadapi resiko atas pilihan....dst. ..
      > Tetapi tetap saja  semua tidak sempurna.... .kesempurnaan dalam hidup manusia hanya ada dalam visi yang menggerakan ke sana.....
      > Pemahaman tentang hidup, cara penjelasan tentang Tuhan...persepsi tentang diri dan yang lain, semua itu hanya ujicoba dalam pencarian. Memang  ada banyak orang rendah hati atau sebaliknya bodoh, tetapi benar kata Bante tidak ada alasan untuk membiarkan ego menjadi pendikte tanpa rupa dalam diri, yang menjadi penghalang dalam perjalanan, pencarian, pembelajaran, ....
      > Biarlah ketidaksempuraan memang melekat dalam hidup, supaya energi kita bisa fokus untuk mendorongkan lahirnya inspirasi bagi kebersamaan yang berkeadilan. .
      >  
      > Terimakasih,
      > Salam
      > Listia
      >
      > --- On Tue, 4/28/09, smarching <smarching@. ..> wrote:
      >
      >
      > From: smarching <smarching@. ..>
      > Subject: [jaringanperempuanj ogja] Antara Tuhan & tuhan
      > To: jaringanperempuanjo gja@yahoogroups. com
      > Date: Tuesday, April 28, 2009, 7:04 PM
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Ada seorang peserta yang minta artikel saya tentang "Tuhan" ini. Saya lupa siapa & apa anak itu anggota milis ini.
      >
      > Jadi, saya kirim artikelnya di sini & juga di Facebook saya. Maaf sekali, bagi yang meminta artikel ini kalau saya tidak sempat tanya namanya.
      >
      > Soe Tjen Marching.
      >
      > ------------ --------- --------- --------- --------- ---
      >
      > Antara tuhan dan Tuhan
      >
      > "Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan, " kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah saya terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan "mengapa perempuan tidak bisa menjadi pastor?"
      > Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini? Ketercengangan, kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang menuntunnya untuk mencari "Yang Maha Kuasa". Karena itulah, manusia sempat menyembah gunung, matahari atau cahaya apa saja dari langit. Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan tidak bukan adalah "Yang paling ditakuti".
      >
      > Kepercayaan pada yang maha kuasa memang sering didasarkan pada ke-egoisan. Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang melimpah dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan dengan sesaji.
      >
      > Tidaklah heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah diktator yang selalu menuntut. Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya. Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan kata lain, dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah keberadaan yang menuntut dan tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu tergantung pada elu-eluan penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.
      > Tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan Tuhan, dalam sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi, atau pada pemerintah Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi negara kita yang memaksa para warganya untuk menulis agama mereka â€" kepercayaan mereka pada Tuhan. Dan dalam keroyokan yang mengamuk, merusak dan menyerang insan-insan yang tak mempercayai Tuhan tertentu.
      >
      > Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme tajam: Yang Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja terkadang sama besarnya dengan ambisinya untuk dipuja.
      > Karena itulah, Tuhan dan pengikutnya seringkali menjadi cermin yang memantulkan persona yang sama. Dan karena itu pula, si pengikut dapat berlaku seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak dan metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa yang menjadi kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan tangis dan membawa mangsa.
      >
      > Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan tidak lain adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran seperti inilah yang memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan gambaran yang begitu melambung dan dilambungkan.
      >
      > Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis mereka. Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika manusia layaknya Musdah Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah mempunyai pandangan "baru" tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang telah tersakiti. Karena pada saat itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka tak akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak keyakinan mereka atau paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Narsis yang marah karena kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu besar, kekar, dan benar.
      >
      > Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi banyak atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap. Dengan bukti dan akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan dapat disanggah: Teori Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan teori relativitas. Teori Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang menyatakan bahwa teori Einstein tidak cukup relatif karena Einstein luput mengindahkan karakter kuantum mekanik yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh subyektifitas sang peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh Everett, dan seterusnya dan seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak pernah dapat menemukan jawaban akhir yang pasti.
      >
      > Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian dalam sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanya an akan keberadaan, kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai manusia.
      >
      > Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran, kita akan ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam pusaran-pusaran teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di dalamnya selalu ada jurang begitu dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita tempuh. Namun, hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.
      > Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu "keindahan yang tiada tara", yang tak pernah dapat kita mengerti. Sesuatu yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena ketidak-mengertian inilah, Einstein terus mencari.
      >
      > Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk mengambil jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat menuntun manusia untuk merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari 200 tuhan dalam sejarah dunia.
      > Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam segala getaran dan frekuensi, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik: berhenti dan terpaku dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah dogma yang membuahkan amarah? Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang telah saya bunuh.
      > Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada ketidak-tahuan. . Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena itu, kita harus siap tidak saja untuk menemukan "keindahan yang tiada tara", namun juga kekecewaan.
      >
      > Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan pencarian akan esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak terlihat namun ada. Esensi yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Dan inilah yang menyebabkan Chuang Tzu bertanya: "Kita berkata `aku, namun tahukah kita siapa dan apa artinya `aku'?"
      > Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa, saya dapat berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya akan tuhan. tuhan yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak maha tinggi dan yang tak maha esa.. Dalam tuhan yang seperti ini, saya dapat bertakwa.
      >




      Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.