Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Reporter hijau

Expand Messages
  • lebah buayawati
    [:::Komunitas Merapi:::] Dicari Reporter Hijau (Green Reporter Indonesia), Pingin? Sunday, March 29, 2009 3:52 PM From:  hutan.lestari
    Message 1 of 1 , Mar 31, 2009
    • 0 Attachment

      [:::Komunitas Merapi:::] Dicari Reporter Hijau (Green Reporter Indonesia), Pingin?
      Sunday, March 29, 2009 3:52 PM
      From: 
      "hutan.lestari" <hutan.lestari@...>
      Add sender to Contacts
      To: 
      komunitas_merapi@yahoogroups.com

      Bumi kini sedang menangis sedih. Tetumbuhan tengah dilanda lara-lapa yang sangat, akibat tertimpuk oleh gergaji dan kampak-kampak yang tak kenal ampun. Air dan tanahnya juga sedang termehek-mehek menahan lukanya yang terlalu amat, akibat terkooptasi oleh berbagai limbah yang mematikan mereka. Global warming, benar-benar menjadi ancaman yang sedang melilit denyut nadi keselamatan bumi dan lingkungan hidup ini.

      Semata-mata demi usaha maksimal penyelamatan dunia dari ancaman global warming lengkap dengan musibah-musibah yang menyertainya akibat kerusakan lingkungan hidup yang mengakut dan kronis; jelaslah dibutuhkan kesadaran kolektif dari kita semua. Langkah jitu pertama yakni menstimulusi agar setiap orang bisa menjadi "WargaHijau"— yakni orang-orang yang peduli (cinta, tresno, love, hubb, libbe) pada upaya-upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup. Pada tataran selanjutnya diperlukan para juru warta, penulis, inspirator yang kuasa memercik-percikkan informasi tentang urgensitas pelestarian lingkungan hidup di tengah masyarakat. Maka kehadiran "Pewarta Hijau (Green Reporter)" menjadi perkara paling substantif yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

      Memang, upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup tak harus perlu dimulai via langkah-langkah yang membutuhkan biaya finansial tinggi. Langkah-langkah kecil, taktis tetapi secara kontinyu digencarkan semisal seorang petani yang rajin menanam satu tanaman setiap minggu sekali, termasuk juga langkah cerdas. Memelihara kelinci untuk memakan sampah-sampah (limbah) organik di rumah tangga kita serta membuat lubang sampah pada tanah, memakai air (hidrogen monoksida) seirit mungkin, dan masih banyak lagi—pun include dalam usaha-usaha melestarikan lingkungan hidup.

      Boleh dikata, saat ini—bulatan pejal tanah liat raksasa bernama bumi yang kini dihuni hampir 7 miliar manusia lengkap dengan multispesies fauna dan jenis-jenis tumbuhan, tengah berada di ujung pintu gerbang "big bang" mesin penghancur batu. Kalau kita rajin membaca-baca berbagai jurnal ilmiah atau minimal telaten mengudap-kudapi media cetak dan elektronik, ternyata kerusakan lingkungan di jagat raya ini kian parah. Bulu kuduk kita dijamin seribu persen bisa dibikin berlari-lari ke sana kemari pascatahu ancaman "kiamat" segera datang akibat ulah kerakusan tabiat umat manusia sendiri. Sebab nasib bumi sedang dalam status "gawat darurat" alias dinyatakan "Save Our `SOS' Soul".

      Detik-detik ini pula, para pemimpin negeri berpenghuni 230 juta ini masih minim yang peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Para pengusaha, konglomerat juga bisa dihitung dengan jempol berapa banyak yang peduli pada kelestarian alam. Artinya, sementara ini kita tak bisa menggantungkan dua ratus, tiga ratus persen akan nasib perbaikan dan kelestarian lingkungan hidup hanya kepada kaum konglomerat dan pemimpin negeri ini. Toh, mereka mayoritas tidak banyak peduli. Itu cuma jadi bahan retorika yang terus utopis.

      Dengan demikian, amat dibutuhkan kesadaran mutlak kita (umat/rakyat) sendiri—yang jumlahnya lebih mendominasi untuk melakukan gerakan swadaya nan terstruktur untuk mencari solusi cerdas atas kerusakan lingkungan hidup itu. Para petani yang amat melekat dengan kehidupan alam, yang jumlahnya jutaan orang itu bisa segera diberdayakan (bukan malah diperdayai) untuk melakukan gerakan massal peduli nasib lingkungan. Pedagang, pelajar, mahasiswa dan buruh pabrik juga perlu diprovokasi agar segera melek lingkungan hidup.

      Serupa dengan itu; para nelayan, polisi, tukang parkir, karyawan swasta dan profesi lain yang tak tercatat dalam peta pekerjaan formal—bisa memprakarasai munculnya kesadaran kolektif untuk care pada alam, hewan, tumbuhan dan kelestarian bumi ini. Penting pula membangunkan kepedulian dan partisipasi para budayawan, sineas, aktor/aktris, penulis, jurnalis, tokoh agama dan pejabat selalu mendahulukan kelestarian lingkungan hidup.

      Guna menumbuhkan kesadaran dalam melestarikan lingkungan hidup itulah, maka Yayasan Peduli Hutan "YPHL" Lestari secara terbuka mengajak Anda tanpa mengenal batasan usia, perbedaan SARA, gender dan ras serta bahasa, bangsa—untuk jadi voluenteer Pewarta Hijau (Green Reporter Indonesia) dalam lingkup komunitas "WargaHijau (Green Citizen Indonesia)" 

      Bagi Anda yang tertarik, cukup dipersilahkan kirim email maupun Curriculum "CV" Vitae-nya ke alamat email: 
      reporter[at] wargahijau. org

      Peace Generation is da Best
      Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
      Joy oh joy
      Of the life adventure I'll find in the next bend of being
      Since knowledge omnivora have I decided to be  
       
      "Aerodynamically a bee can't fly .
      But since a bee don't know the law of aerodynamics , a bee fly."
      Mary Kay Ash
      Don't know who she is but worthy word she does has.



    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.