Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: PeaceGen for Conflict in Gaza

Expand Messages
  • dreal_milanisti
    I strongly agree with mas wiwit Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada
    Message 1 of 3 , Jan 5, 2009
    • 0 Attachment
      I strongly agree with mas wiwit
      Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take
      action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada masyarakat
      sekitar yang kurang tahu ttg maslah sebenarnya di Palestina. Meskipun
      jauh, kita harus ttp membantu saudara2 kita yang di PAlestin. Sekecil
      apa pun tindakan kita, pastinya sangat berharga untuk saudara2 kita.
      Ayo kita mulai as soon as possible!!!
      Ak siap ikut aksinya mas!!!

      regards,
      rahmat


      --- In PeaceGeneration@yahoogroups.com, wiwitprasetyono
      <breakcombion@...> wrote:
      >
      >
      > Dear: Everyone,,,
      >
      > Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta
      pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya
      prihatin tentang Peace Gen yang bisa jadi tidak berbuat apapun.
      >
      > Memang benar, keberpihakan orang terhadap kasus di Jalur Gaza sangat
      beragam. Tapi satu hal! Apa yang terjadi di sana sangat bertentangan
      dengan prinsip Peace Generation yang anti kekerasan.
      >
      > Saya punya ide seperti ini:
      > Mari Peace Gen buat aksi dengan tujuan: raising people's awareness.
      > Caranya mungkin dengan menyebarkan sticker yang diselipkan deskripsi
      singkat tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza selama 2 minggu
      terakhir. Berikut kita sisipkan alamat rekening Republika yang
      mengelola penyaluran bantuan ke Jalur Gaza.
      >
      > Bagi saya, apa yang dilakukan Israel yang membombardir Hamas yang
      disangka membuat teror tidak bisa dibenarkan. Sama dengan teror itu
      sendiri yang tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari perdebatan panjang
      terkait sejarah mengenai siapa yang menabur salah lebih dulu, bagi
      Saya aksi kekerasan selama 2 minggu terakhir, sekali lagi tidak dapat
      dibenarkan! Artinya, deskripsi yang saya maksud di atas hanya
      menggambarkan peristiwa 2 minggu terakhir. Toh keberpihakan publik
      sangat kita hargai. Bagi yang mau menyumbang kita berikan informasi
      mll Republika, yg tidak pun tidak mengapa.
      >
      > Menurut saya ini ide konkret yang bisa membuat Peace Gen
      berkontribusi kepada perdamaian tanpa berpihak kepada siapapun.Kita
      hanya raising people's awareness. Kesadaran yang sesuai prinsip kita,
      bahwa Peace Gen sangat menentang setiap bentuk kekerasan. Bagaimana
      menurut teman-teman?
      >
      >
      > --- On Mon, 1/5/09, Ikie_Djokdja <ms_fickry@...> wrote:
      >
      > From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@...>
      > Subject: [PeaceGeneration] [OOT] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
      > To: "Peace" <peacegeneration@yahoogroups.com>, "PPI Canberra"
      <ppia-canberra@...>, "Inculs UGM" <inculs_ugm@yahoogroups.com>,
      "jajang setiadi" <jajangsetiadi@...>, "abrar yusuf" <abyus1@...>,
      "Peace Scholarship" <peace_scholars_indonesia@yahoogroups.com>,
      alumni_sman18_plbg@yahoogroups.com, "PPIA Melbourne"
      <ppia-melbuni@yahoogroups.com>, "Kepel Community"
      <kepelcommunity@yahoogroups.com>, "Kepel UGM"
      <kepel_ugm@yahoogroups.com>, "Imiki" <imiki@yahoogroups.com>
      > Date: Monday, January 5, 2009, 3:01 AM
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Opini menarik terkait krisis di Palestina...
      > dari mapres UI yg sekarang di S2 di Nagoya, Jepang.
      > Juga alumnus SMAN 1 Jogja dan penulis buku "Ramadhan Is Dead"
      > dan "Palestine, Emang Gue Pikirin".
      >
      > Maaf bagi yang kurang berkenan.
      >
      >
      > M Solihin FikriMobile Content DeveloperDetikComwww.detik.com
      > Mobile: +62817461947Blog : http://defickry. wordpres. com
      >
      > ----- Pesan Diteruskan ----
      > Dari: alex red <terpaksabikinemail@ yahoo.com>
      > Kepada: alumni_ppsdms@ yahoogroups. com; teladan03@yahoogrou ps.com
      > Terkirim: Senin, 5 Januari, 2009 10:17:40
      > Topik: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Sekedar berbagi...:)
      >
      >
      >
      > Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
      >
      > Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
      >
      > Surabaya, 1945
      >
      > Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
      dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
      masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
      Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
      "menyerah, atau hancur".
      >
      > Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
      para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
      bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
      rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
      bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
      Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
      tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
      >
      > Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
      perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
      yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
      Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.
      >
      > Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.
      >
      > "Saudara-saudara rakyat Surabaya.
      > Bersiaplah! Keadaan genting.
      > Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
      > Jangan mulai menembak.
      > Baru kalau kita ditembak.
      > Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
      > Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin
      merdeka.
      > Dan untuk kita saudara-saudara.
      > Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
      > Semboyan kita tetap.
      > Merdeka atau mati.
      > Dan kita yakin, Saudara-saudara.
      > Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
      > Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
      > Percayalah Saudara-saudara!
      > Tuhan akan melindungi kita sekalian.
      > Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
      > Merdeka!"
      >
      > Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang
      sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai
      negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di
      pojokan sejarah.
      >
      > ***
      >
      > Gaza, peralihan tahun 2008-2009
      >
      > Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi
      akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
      ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
      dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
      pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
      Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
      Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan
      waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
      ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
      pun kesulitan.
      >
      > Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
      Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
      kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.
      >
      > ***
      >
      > Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
      Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".
      >
      > Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
      Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
      Indonesia di radio internasional.
      >
      > Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
      kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
      Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
      penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
      nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
      hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.
      >
      > Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
      HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
      Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!"
      >
      > Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
      lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
      ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
      sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
      menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
      Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
      dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
      dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
      tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
      isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.
      >
      > Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
      Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
      bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan
      perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
      Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
      perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
      pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
      pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
      kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
      dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.
      >
      > "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"
      >
      > Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
      Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
      palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
      dadaku, mana dadamu!"
      >
      > Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung
      Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
      kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"
      >
      > Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
      darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
      terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
      Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
      Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
      saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
      membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
      Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
      komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
      dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
      muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
      pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.
      >
      > Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
      rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
      hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
      Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
      mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
      popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.
      >
      > Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
      ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
      narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
      HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".
      >
      > Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
      Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
      yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
      mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
      terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
      Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
      dipaksakan pada Palestina.
      >
      > Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak
      pada yang lemah dan tertindas.
      >
      > "If you stand for nothing, you will fall for anything"
      > Malcolm X
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .
      >
    • rizza maulana
      aku setuju! semakin cepat semakin baik.. bantuan doa dari temen2 semua akan sangat berarti untuk mereka,, apalagi aksi nyata, seperti yang dikatakan mas
      Message 2 of 3 , Jan 6, 2009
      • 0 Attachment
        aku setuju!
        semakin cepat semakin baik..
        bantuan doa dari temen2 semua akan sangat berarti untuk mereka,,

        apalagi aksi nyata, seperti yang dikatakan mas wiwit..
        daripada NATO (talk Only No Action)

        SEMANGATDZ!

        "Tidak Beriman seseorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti Ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari-Muslim) Hadits Arbain no.13 Imam An-Nawawi


        --- On Mon, 1/5/09, dreal_milanisti <dreal_milanisti@...> wrote:
        From: dreal_milanisti <dreal_milanisti@...>
        Subject: [PeaceGeneration] Re: PeaceGen for Conflict in Gaza
        To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
        Date: Monday, January 5, 2009, 7:54 AM

        I strongly agree with mas wiwit
        Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take
        action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada masyarakat
        sekitar yang kurang tahu ttg maslah sebenarnya di Palestina. Meskipun
        jauh, kita harus ttp membantu saudara2 kita yang di PAlestin. Sekecil
        apa pun tindakan kita, pastinya sangat berharga untuk saudara2 kita.
        Ayo kita mulai as soon as possible!!!
        Ak siap ikut aksinya mas!!!

        regards,
        rahmat

        --- In PeaceGeneration@ yahoogroups. com, wiwitprasetyono
        <breakcombion@ ...> wrote:
        >
        >
        > Dear: Everyone,,,
        >
        > Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta
        pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya
        prihatin tentang Peace Gen yang bisa jadi tidak berbuat apapun.
        >
        > Memang benar, keberpihakan orang terhadap kasus di Jalur Gaza sangat
        beragam. Tapi satu hal! Apa yang terjadi di sana sangat bertentangan
        dengan prinsip Peace Generation yang anti kekerasan.
        >
        > Saya punya ide seperti ini:
        > Mari Peace Gen buat aksi dengan tujuan: raising people's awareness.
        > Caranya mungkin dengan menyebarkan sticker yang diselipkan deskripsi
        singkat tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza selama 2 minggu
        terakhir. Berikut kita sisipkan alamat rekening Republika yang
        mengelola penyaluran bantuan ke Jalur Gaza.
        >
        > Bagi saya, apa yang dilakukan Israel yang membombardir Hamas yang
        disangka membuat teror tidak bisa dibenarkan. Sama dengan teror itu
        sendiri yang tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari perdebatan panjang
        terkait sejarah mengenai siapa yang menabur salah lebih dulu, bagi
        Saya aksi kekerasan selama 2 minggu terakhir, sekali lagi tidak dapat
        dibenarkan! Artinya, deskripsi yang saya maksud di atas hanya
        menggambarkan peristiwa 2 minggu terakhir. Toh keberpihakan publik
        sangat kita hargai. Bagi yang mau menyumbang kita berikan informasi
        mll Republika, yg tidak pun tidak mengapa.
        >
        > Menurut saya ini ide konkret yang bisa membuat Peace Gen
        berkontribusi kepada perdamaian tanpa berpihak kepada siapapun.Kita
        hanya raising people's awareness. Kesadaran yang sesuai prinsip kita,
        bahwa Peace Gen sangat menentang setiap bentuk kekerasan. Bagaimana
        menurut teman-teman?
        >
        >
        > --- On Mon, 1/5/09, Ikie_Djokdja <ms_fickry@. ..> wrote:
        >
        > From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@. ..>
        > Subject: [PeaceGeneration] [OOT] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        > To: "Peace" <peacegeneration@ yahoogroups. com>, "PPI Canberra"
        <ppia-canberra@ ...>, "Inculs UGM" <inculs_ugm@yahoogro ups.com>,
        "jajang setiadi" <jajangsetiadi@ ...>, "abrar yusuf" <abyus1@...> ,
        "Peace Scholarship" <peace_scholars_ indonesia@ yahoogroups. com>,
        alumni_sman18_ plbg@yahoogroups .com, "PPIA Melbourne"
        <ppia-melbuni@ yahoogroups. com>, "Kepel Community"
        <kepelcommunity@ yahoogroups. com>, "Kepel UGM"
        <kepel_ugm@yahoogrou ps.com>, "Imiki" <imiki@yahoogroups. com>
        > Date: Monday, January 5, 2009, 3:01 AM
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Opini menarik terkait krisis di Palestina...
        > dari mapres UI yg sekarang di S2 di Nagoya, Jepang.
        > Juga alumnus SMAN 1 Jogja dan penulis buku "Ramadhan Is Dead"
        > dan "Palestine, Emang Gue Pikirin".
        >
        > Maaf bagi yang kurang berkenan.
        >
        >
        > M Solihin FikriMobile Content DeveloperDetikComww w.detik.com
        > Mobile: +62817461947Blog : http://defickry. wordpres. com
        >
        > ----- Pesan Diteruskan ----
        > Dari: alex red <terpaksabikinemail @ yahoo.com>
        > Kepada: alumni_ppsdms@ yahoogroups. com; teladan03@yahoogrou ps.com
        > Terkirim: Senin, 5 Januari, 2009 10:17:40
        > Topik: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Sekedar berbagi...:)
        >
        >
        >
        > Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        >
        > Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
        >
        > Surabaya, 1945
        >
        > Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
        dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
        masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
        Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
        "menyerah, atau hancur".
        >
        > Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
        para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
        bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
        rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
        bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
        Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
        tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
        >
        > Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
        perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
        yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
        Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.
        >
        > Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.
        >
        > "Saudara-saudara rakyat Surabaya.
        > Bersiaplah! Keadaan genting.
        > Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
        > Jangan mulai menembak.
        > Baru kalau kita ditembak.
        > Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
        > Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin
        merdeka.
        > Dan untuk kita saudara-saudara.
        > Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
        > Semboyan kita tetap.
        > Merdeka atau mati.
        > Dan kita yakin, Saudara-saudara.
        > Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
        > Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
        > Percayalah Saudara-saudara!
        > Tuhan akan melindungi kita sekalian.
        > Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
        > Merdeka!"
        >
        > Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang
        sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai
        negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di
        pojokan sejarah.
        >
        > ***
        >
        > Gaza, peralihan tahun 2008-2009
        >
        > Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi
        akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
        ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
        dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
        pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
        Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
        Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan
        waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
        ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
        pun kesulitan.
        >
        > Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
        Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
        kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.
        >
        > ***
        >
        > Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
        Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".
        >
        > Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
        Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
        Indonesia di radio internasional.
        >
        > Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
        kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
        Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
        penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
        nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
        hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.
        >
        > Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
        HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
        Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!"
        >
        > Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
        lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
        ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
        sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
        menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
        Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
        dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
        dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
        tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
        isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.
        >
        > Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
        Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
        bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan
        perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
        Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
        perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
        pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
        pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
        kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
        dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.
        >
        > "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"
        >
        > Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
        Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
        palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
        dadaku, mana dadamu!"
        >
        > Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung
        Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
        kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"
        >
        > Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
        darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
        terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
        Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
        Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
        saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
        membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
        Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
        komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
        dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
        muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
        pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.
        >
        > Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
        rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
        hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
        Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
        mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
        popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.
        >
        > Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
        ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
        narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
        HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".
        >
        > Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
        Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
        yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
        mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
        terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
        Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
        dipaksakan pada Palestina.
        >
        > Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak
        pada yang lemah dan tertindas.
        >
        > "If you stand for nothing, you will fall for anything"
        > Malcolm X
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .
        >


      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.