Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [PeaceGeneration] Mari berpikir dengan kepala dingin

Expand Messages
  • sigit andhirahman
    bismillahhirrahmanirrahim assalamualaykum wa rahmatullahi wa barakatuh ingin ikut rembug..  pertama tentang premis bahwa seluruh yahudi sama (baca mendukung)
    Message 1 of 4 , Jan 4, 2009
    • 0 Attachment
      bismillahhirrahmanirrahim
      assalamualaykum wa rahmatullahi wa barakatuh
      ingin ikut rembug..

       pertama tentang premis bahwa seluruh yahudi sama (baca mendukung) Israel. premis ini adalah salah
      hal ini jelas difahami oleh mayoritas umat muslim dari segala zaman dan tentunya oleh orang yang sehat fikiran
      sejarah peperangan muslim-yahudi pun sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan sejarah keharmonisannya dibandingkan sejarah konflik kristen-yahudi yang relatif lebih panjang dan berdarah-darah.
      meskipun begitu umat muslim dalam banyak hal berkonflik dengan yahudi khususnya dalam masalah prinsip dan ini tidak bisa kita pungkiri. hal ini tentunya tidak mesti berujung pada peperangan.sejarah telah membuktikan.
      muslim-yahudi berperang sejak mulai jaman Rasul (pasca perang khandaq kemudian khaibar). semenjak kekhalifahan muslim mnyebar keluar jazirah arabia relatif tidak ada pertentangan terbuka muslim-yahudi.masa yang panjang penuh damai di abad pertengahan. dan baru mulai lagi muncul peperangan ketika pendirian negara israel.
      dari segala peperangan terbuka dalam sejarah semuanya disebabkan oleh sebab yang kasuistik/insidental dan bukan sebab perenial (artinya sebab yang menyatakan yahudi dan muslim adalah musuh abadi).

      yang kedua dari forward an email nofieiman.comt entang beberapa comotan ayat al-qur'an  yang menurut saya tidak tepat. selain itu betapa konsep perdamaian digunakan sebagai alibi kelemahan dan kepengecutan kita.

      1.Lantas, mengapa doa kita (dan doa saudara-saudara kita di sana) belum juga dikabulkan?
      s
      sebuah kesimpulan yang terburu-buru menurut saya...tidak ada doa yang lebih agung yang slalu mereka ucapkan selain untuk diberi kemulian dalam hidup dan dimatikan sebagai Syuhada.
      Saat ini juga Tuhan senantiasa menjawab do'a saudara di palestina, dan insyaAllah suatu saat akan datang dimana Jerusalem akan dimasuki lagi oleh setiap orang dan damai
      sekarang tentang doa kita..apa yang kita doakan dan bagaimana kita berdoa?

      2.Pertanyaannya, mengapa pada kalimat terakhir disebutkan "rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik"? Mengapa bukan "rahmat Allah dekat pada orang yang sholat"? Mengapa bukan "rahmat Allah dekat pada orang yang berpuasa dan berzakat"? Atau "rahmat Allah dekat pada orang yang rajin pergi ke masjid"?


      - kok berbuat baik dipisahkan artinya dengan Sholat, puasa, zakat dan rajin pergi ke masjid?setahu saya di kamus kehidupan muslim tidak ada arti kebaikan dipisahkan dengan hal2 tersebut. dan sangat keji sekali mengambil kesimpulan bahwa  orang palestina masih menderita dikarenakan tidak berbuat baik.


      3. Masalahnya, saudara-saudara kita bukannya memilih salah satu diantara opsi tersebut di atas.

      Embargo ekonomi Amerika (dan Israel) dibalas dengan menculik dan membunuh tentara Israel. Intervensi politik Amerika (dan Israel) dibalas dengan melakukan aksi bom bunuh diri. Ketika Amerika dan Israel mengisolir wilayah mereka, malah mereka balas dengan mengebom WTC dan Pentagon.



      -
      kita harus adil dan cukup cerdas dong membedakan kasus2 ini memangnya tidak baca koran

      4. ..jadi, sudah sangat jelas sekali bukan? Kalau Rasul saja bisa begitu sabar dan sangat pemaaf, kenapa kita nggak ?!?!

      -
      perlu kita memahami kehidupan Rasulullah. beliau mengalami beberapa pertempuran juga. sekarang tinggal bgaimana beliau berperang. beliau punya rule of engagement.sangat picik hanya mengambil beberpa episode kehidupan beliau untuk mendukung "premis perdamaian" tersebut.

      5. Tentang perdamaian:
      saya join pisgen sejak YCDP kemudian SCP. meski tidak aktif secara langsung diskursus tentang perdamaian ini  selalu jadi  renungan saya.
      sayang sekali perdamaian dimaknai secara begitu sempit dengan  "memaafkan  dan doa" . bukan ingin menafikan doa karena betul doa kitalah yang pada hakikatnya jadi "bom" bagi mereka, seperti dari update berita (yang tidak diberitakan secara umum):
      " Muhammad Nazal salah seorang anggota office political Hamas mengatakan bahwa mujahidin Palestina telah menewaeskan 11 orang tentara Zionis Israel, diantaranya adalah seorang berpangkat Kolonel.
      Mujahidin palestina telah menghancurkan 11 tank jenis Merkava dengan menggunakan bahan peledak dan peluru anti roket dan menyebabkan belasan tentara zionis israel tewas dan terluka .

      ini semua adalah hakikatnya berkat doa karena apa sebenarnya kemampuan manusia
      tapi kembali ke makna perdamaian kalau kita lihat dari sejarah tokoh perdamaian
      yang diperdebatkan adalah tentang just war atau perang yang adil.
      sebagian menolak sedikitpun adanya kekerasan, tidak ada perang dalam perjuangan. sebagian lagi membolehkan dengan catatan ketika perang itu sesuai aturan atau adil.
      Richard Falk seorang ilmuwan hukum internasional yang yahudi pun meyatakan lemparan batu anak2 palestina adalah active nonviolence.
      tapi satu hal yang menjadi kesamaan mereka adalah mereka berjuang, mereka berdarah-darah.
      lihat lagi film gandhi ketika mereka berbaris dan dipukuli bahkan sempat di diberondong peluru. atau Badshah khan " Gandhi dari Peshawr".

      Maaf dan Doa adalah dua hal yang selalu memulai dan menyertai langkah-langkah perjuangan mereka demikian pula saudara-saudara di palestina

      jangan berlindung di kata perdamaian akan kelemahan kita atas kerusakan yang terjadi di muka bumi dan berkilah dengan "berdoa" dan "berbuat baik" masalah akan selesai dengan sendirinya. Para pejuang perdamaian selalu menyediakan tubuhnya, dan segala yang dimilikinya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan cara damai.
      jangan lupakan kebenaran dan keadilan dalam myebutkan perdamaian, dan jangan lupakan active dari kata nonviolence.

      selain itu apakah kita mau menisbikan perjuangan para pahlawan kita melawan penjajah?
      jadi menurut saya damainya orang yang membiarkan orang-orang dibom setelah diblokade selama lebih dari dua tahun hanya karena menang pemilu yang demokratis dan membela dirinya adalah damainya orang yang pengecut.


      wallahu a'lam
      wa salamu alaykum warahmatullahi wa barakatuh

      m sigit andhi rahman

      Volume 3, Book 43, Number 622:

      Narrated 'Abdullah bin Umar:

      Allah's Apostle said, "A Muslim is a brother of another Muslim, so he should not oppress him, nor should he hand him over to an oppressor. Whoever fulfilled the needs of his brother, Allah will fulfill his needs; whoever brought his (Muslim) brother out of a discomfort, Allah will bring him out of the discomforts of the Day of Resurrection, and whoever screened a Muslim, Allah will screen him on the Day of Resurrection . "


      http://www.usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/bukhari/043.sbt.html

      Sa`id bin Zaid bin `Amr bin Nufail (May Allah be pleased with him) reported, one of the ten Companions who were given the glad tidings of entering Jannah reported: I heard the Messenger of Allah (PBUH) saying: "He who dies while defending his property is a martyr; he who dies in defence of his own life is a martyr; and he who dies on defense of his faith is a martyr, he who dies in defence of his family is a martyr.''
      [Abu Dawud and At-Tirmidhi].
      http://www.witness-pioneer.org/vil/hadeeth/riyad/11/chap235.htm




      --- On Fri, 1/2/09, Ratna dewi kusumawati <ratnadewikusumawati@...> wrote:
      From: Ratna dewi kusumawati <ratnadewikusumawati@...>
      Subject: [PeaceGeneration] Mari berpikir dengan kepala dingin
      To: peacegeneration@yahoogroups.com
      Date: Friday, January 2, 2009, 1:40 AM

      Aku dapet tulisan yang menurut ku apik banget dan sangat "berbau" perdamaian  :)
      Tulisan ini aku dapet waktu search untuk skripsiku, coba deh disimak..... .tentang perdamaian.. .  :) 
       
      Teman, maksud aku hanya berbagi, kalau ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan yup!!  :)

      Oya, sesuai anjuran astrid, ini dari nofieiman.com
       

      Mungkin Anda sudah jemu dengan topik ini. Apalagi, topik tersebut banyak diulas secara intensif dan repetitif pada berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Blog maupun situs internet yang mengulas tentang topik tersebut juga menjamur bak musim hujan. Masing-masing menawarkan sudut pandang, analisis, dan teori yang berbeda satu sama lain.

      Saya juga tergelitik untuk menulis soal ini, meskipun bidang ini bukan merupakan bidang keahlian saya. Jujur saja, kadang saya sering gemas dengan perilaku Israel dan Amerika. Kadang saya juga merasa prihatin dan kasihan dengan saudara-saudara kita di Lebanon dan Palestina.

      Tapi, apa sih sebenarnya duduk permasalahannya? Apa benar kita perlu mengirimkan laskar jihad ke sana? Bagaimana sih seharusnya kita bersikap dalam menghadapi masalah tersebut?

      Mari Berpikir dengan Kepala Dingin

      Saya, juga Anda semua, tentu sering berdoa dengan khusyuk. Tetapi ternyata belum dikabulkan. Padahal, kita merasa bahwa kita sudah sholat dengan baik, mengaji dengan rutin, melakukan puasa, membayar zakat, dan seterusnya. Padahal kita merasa bahwa agama selalu kita pegang dalam keseharian kita.

      Sama halnya dengan saudara-saudara kita di Lebanon, Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya. Mereka pasti rutin menjalankan ibadah dengan khusyu. Mereka juga pasti setiap saat selalu berdoa memohonkan keselamatan, ketenangan, dan perdamaian.

      Tapi kok sampai saat ini, wilayah-wilayah tersebut masih saja kisruh?

      Padahal, setiap umat Islam (hampir) pasti memahami kalimat ini: Ud 'unii astajib lakum; Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60).

      Tidak hanya itu, di QS Al Baqarah 186 disebutkan juga, "Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku."

      Lantas, mengapa doa kita (dan doa saudara-saudara kita di sana) belum juga dikabulkan?

      Doa yang Diijabahi Allah

      Dalam QS Al A'raf 55 disebutkan, "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

      Hal tersebut ditegaskan lagi pada ayat selanjutnya yang berbunyi, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

      Jadi, supaya doa kita bisa dikabulkan, kita haruslah:

      1. berdoa dengan rendah diri dan suara yang lembut,
      2. berdoa dengan rasa takut (tidak dikabulkan) dan penuh harapan, dan
      3. berbuat kebaikan agar rahmat Allah dekat kepada kita.

      Pertanyaannya, mengapa pada kalimat terakhir disebutkan "rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik"? Mengapa bukan "rahmat Allah dekat pada orang yang sholat"? Mengapa bukan "rahmat Allah dekat pada orang yang berpuasa dan berzakat"? Atau "rahmat Allah dekat pada orang yang rajin pergi ke masjid"?

      Sederhana saja.

      Karena berbuat baik itu sulit. Berbuat baik itu kompleks. Berbuat baik itu aplikatif dan kontinu. Berbuat baik itu juga penuh tantangan dan jelas tidak mudah untuk dilakukan.

      Dalam lingkungan kita terkecil (baca: keluarga), apakah kita yakin bahwa kita sudah berbuat baik? Apa kita yakin bahwa kita sudah mendidik istri kita dengan baik tanpa merendahkan martabatnya? Apa kita juga yakin bahwa kita sudah memberi pelajaran kepada anak-anak kita tanpa menggunakan emosi dan kekerasan?

      Dalam lingkungan pekerjaan, apa kita sudah yakin kalau kita mencari duit tanpa memotong hak orang lain? Bagaimana kita bersikap kalau rekan kerja kita sikut-sikutan dengan kita? Apa kita yakin bahwa sebagian rizki kita sudah disisihkan buat fakir miskin dan anak yatim?

      Dalam lingkungan sosial dan bertetangga, apa kita yakin kalau kita nggak pernah menggunjingkan tetangga kita? Apakah kita yakin kalau masalah-masalah yang muncul kita selesaikan dengan solusi yang tuntas namun tetap islami?

      Kalau kita belum yakin bahwa kita benar-benar telah berbuat baik, maka sudah sewajarnya kalau Allah SWT mem-pending doa-doa kita.

      Balas Dendam dalam Islam

      Lalu, bagaimana kita menyikapi tindakan agresif Israel terhadap Lebanon dan Palestina? Perlukah kita melakukan tindakan-tindakan balasan? Perlukah laskar-laskar jihad dikirimkan ke sana?

      Dalam Qur'an, selalu disebutkan betapa Allah SWT memiliki sifat Maha Pengampun (ghafur). Di sisi lain, kita juga tahu bahwa Rasulullah juga dikenal dengan sifat lembut dan pemaafnya. Jadi, bicara soal balas dendam, tangan dibalas tangan, nyawa dibalas dengan nyawa, sesungguhnya tidaklah relevan.

      Pernah diceritakan bahwa ketika Rasul pergi ke masjid, dalam perjalanannya selalu dilempar kotoran unta. Sampai suatu hari tidak ada lagi yang melempari beliau dengan kotoran unta. Rasul menanyakan kemana absennya si pecanda tersebut. Ternyata orang yang selama ini melempari Rasul sedang jatuh sakit. Akhirnya, sepulang dari masjid, Rasul menjenguk dan mendoakan si pecanda tersebut hingga sembuh. Cerita selesai.

      Kalau kita baca di QS An Nahl 126, disebutkan bahwa, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[*]. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." Footnote pada ayat tersebut maksudnya "pembalasan yang dijatuhkan atas mereka janganlah melebihi dari siksaan yang ditimpakan atas kita."

      Memang sih, boleh-boleh saja kita membalas siksaan yang ditimpakan kepada kita, tetapi harus sesuai dengan apa yang mereka timpakan kepada kita. Tetapi, kalau kita ingin mendapat rahmat Allah SWT, maka sudah tentu selayaknya kita tidak melakukannya. Inilah alasan mengapa Rasul tidak membalas lemparan kotoran unta dari si pecanda tersebut.

      Pada QS Ali Imran 159, Allah berfirman, "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[*]." Dalam footnote tersebut, dijelaskan bahwa "urusan itu" mencakup urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

      Jadi, sudah sangat jelas sekali bukan? Kalau Rasul saja bisa begitu sabar dan sangat pemaaf, kenapa kita nggak ?!?!

      Amerika dan Israel vs Lebanon dan Palestina

      Memang sudah sejak lama Amerika menerapkan double standard dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya. Sebagian dari Anda mungkin juga tahu bahwa disinyalir perusahaan-perusaha an Amerika banyak yang "menyumbangkan" dananya ke Israel. Amerika juga sering memanfaatkan hak veto yang dimilikinya untuk membela kepentingan Israel.

      Anda mungkin juga tahu bahwa George Bush adalah tamatan MBA dari Harvard Business School, tetapi reputasinya sangat "luar biasa". Sebagian dari Anda mungkin juga tahu bahwa Condoleezza Rice adalah seorang PhD yang ahli dalam bidang perang dan agresi militer. Jadi, sikap agresif Amerika kali ini merupakan sesuatu yang sesungguhnya mungkin bisa sedikit "dimaklumi".

      Maka, kalau kita mengacu pada QS An Nahl 126, seharusnya kita menyikapi sikap Amerika dan Israel tersebut dengan cara:

      1. Membalas balik tindakan mereka, tetapi melalui kebijakan ekonomi dan intervensi politik sebagaimana apa yang mereka lakukan terhadap bangsa-bangsa Arab; dengan tanpa melebihi batas. Atau,
      2. Bersikap sabar dan memaafkan tindakan mereka.

      Kalau kita ambil opsi #1, hukumnya "boleh", tetapi jelas rahmat Allah tidak akan diturunkan kepada kita. Sementara jika kita memilih opsi #2, insya Allah rahmat dan maghfirah Allah SWT akan selalu menyertai kita.

      Masalahnya, saudara-saudara kita bukannya memilih salah satu diantara opsi tersebut di atas.

      Embargo ekonomi Amerika (dan Israel) dibalas dengan menculik dan membunuh tentara Israel. Intervensi politik Amerika (dan Israel) dibalas dengan melakukan aksi bom bunuh diri. Ketika Amerika dan Israel mengisolir wilayah mereka, malah mereka balas dengan mengebom WTC dan Pentagon.

      Kalau sudah begini, wajar kan Amerika dan Israel mencak-mencak dan marah bukan kepalang?

      Ibaratnya, kalau saya ini anak seorang kyai, lalu saya menantang berkelahi preman di kampung saya, bisa-bisa saya sekeluarga mati konyol. Apalagi, orang yang saya ajak berantem adalah orang yang benar-benar troublemaker. Jadi, lengkaplah sudah.

      Penutup

      Dari sepenggal uraian di atas, rasanya sudah bisa kita simpulkan sendiri sikap dan tindakan yang harus diambil dalam menghadapi persoalan ini. Membenci Amerika jelas bukan merupakan tindakan yang arif. Menghancurkan Israel juga tentu tidak bisa serta merta dibenarkan.

      Perlu dicatat bahwa setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini selalu atas ijin Allah SWT. Jadi, nggak perlu lah kita menghujat apa yang sudah (dan sedang) terjadi.

      Last but not least, yuk kita sama-sama berbuat kebaikan di muka bumi ini. Bersujud dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT. Supaya rahmat Allah selalu menyertai kita. Supaya kita dijauhkan dari musibah dan masalah. Supaya doa-doa kita bisa selalu dikabulkan.

      Karena sesungguhnya, doa kita bisa saja menjadi "bom" bagi mereka.


       
       
       

       

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.