Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

PeaceGen for Conflict in Gaza

Expand Messages
  • wiwitprasetyono
    Dear: Everyone,,, Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya prihatin
    Message 1 of 3 , Jan 5, 2009
    • 0 Attachment

      Dear: Everyone,,,

      Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya prihatin tentang Peace Gen yang bisa jadi tidak berbuat apapun.

      Memang benar, keberpihakan orang terhadap kasus di Jalur Gaza sangat beragam. Tapi satu hal! Apa yang terjadi di sana sangat bertentangan dengan prinsip Peace Generation yang anti kekerasan.

      Saya punya ide seperti ini:
      Mari Peace Gen buat aksi dengan tujuan: raising people's awareness.
      Caranya mungkin dengan menyebarkan sticker yang diselipkan deskripsi singkat tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza selama 2 minggu terakhir. Berikut kita sisipkan alamat rekening Republika yang mengelola penyaluran bantuan ke Jalur Gaza.

      Bagi saya, apa yang dilakukan Israel yang membombardir Hamas yang disangka membuat teror tidak bisa dibenarkan. Sama dengan teror itu sendiri yang tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari perdebatan panjang terkait sejarah mengenai siapa yang menabur salah lebih dulu, bagi Saya aksi kekerasan selama 2 minggu terakhir, sekali lagi tidak dapat dibenarkan! Artinya, deskripsi yang saya maksud di atas hanya menggambarkan peristiwa 2 minggu terakhir. Toh keberpihakan publik sangat kita hargai. Bagi yang mau menyumbang kita berikan informasi mll Republika, yg tidak pun tidak mengapa. 

      Menurut saya ini ide konkret yang bisa membuat Peace Gen berkontribusi kepada perdamaian tanpa berpihak kepada siapapun.Kita hanya raising people's awareness. Kesadaran yang  sesuai prinsip kita, bahwa Peace Gen sangat menentang setiap bentuk kekerasan. Bagaimana menurut teman-teman?


      --- On Mon, 1/5/09, Ikie_Djokdja <ms_fickry@...> wrote:

      From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@...>
      Subject: [PeaceGeneration] [OOT] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
      To: "Peace" <peacegeneration@yahoogroups.com>, "PPI Canberra" <ppia-canberra@...>, "Inculs UGM" <inculs_ugm@yahoogroups.com>, "jajang setiadi" <jajangsetiadi@...>, "abrar yusuf" <abyus1@...>, "Peace Scholarship" <peace_scholars_indonesia@yahoogroups.com>, alumni_sman18_plbg@yahoogroups.com, "PPIA Melbourne" <ppia-melbuni@yahoogroups.com>, "Kepel Community" <kepelcommunity@yahoogroups.com>, "Kepel UGM" <kepel_ugm@yahoogroups.com>, "Imiki" <imiki@yahoogroups.com>
      Date: Monday, January 5, 2009, 3:01 AM

      Opini menarik terkait krisis di Palestina...
      dari mapres UI yg sekarang di S2 di Nagoya, Jepang.
      Juga alumnus SMAN 1 Jogja dan penulis buku "Ramadhan Is Dead"
      dan "Palestine, Emang Gue Pikirin".

      Maaf bagi yang kurang berkenan.


       

      M Solihin Fikri


      Mobile Content Developer

      DetikCom

      www.detik.com

       

      Mobile: +62817461947

      Blog    : http://defickry. wordpres. com

       



      ----- Pesan Diteruskan ----
      Dari: alex red <terpaksabikinemail@ yahoo.com>
      Kepada: alumni_ppsdms@ yahoogroups. com; teladan03@yahoogrou ps.com
      Terkirim: Senin, 5 Januari, 2009 10:17:40
      Topik: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

      Sekedar berbagi...:)
       

      Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

       

      Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

       

      Surabaya, 1945

       

      Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau hancur”.

       

      Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

       

      Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

       

      Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

       

      “Saudara-saudara rakyat Surabaya.
      Bersiaplah! Keadaan genting.
      Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
      Jangan mulai menembak.
      Baru kalau kita ditembak.
      Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
      Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
      Dan untuk kita saudara-saudara.
      Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
      Semboyan kita tetap.
      Merdeka atau mati.
      Dan kita yakin, Saudara-saudara.
      Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
      Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
      Percayalah Saudara-saudara!
      Tuhan akan melindungi kita sekalian.
      Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

      Merdeka!”

       

      Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

       

      ***

       

      Gaza, peralihan tahun 2008-2009

       

      Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul “Cast Lead” ini akan memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

       

      Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

       

      ***

       

      Hati saya sakit saat ada yang berkata: “Ngapain kita ngurusin Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul”.

       

      Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

       

      Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. “Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia” adalah logika yang menghina keindonesiaan.

       

      Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan “Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!”

       

      Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.

       

      Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

       

      “Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…”

       

      Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini. Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: “Ini dadaku, mana dadamu!”

       

      Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. “Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!”

       

      Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

       

      Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.

       

      Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif “Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai”.

       

      Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina.

       

      Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.

       

      “If you stand for nothing, you will fall for anything”

      Malcolm X




      Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .

    • dreal_milanisti
      I strongly agree with mas wiwit Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada
      Message 2 of 3 , Jan 5, 2009
      • 0 Attachment
        I strongly agree with mas wiwit
        Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take
        action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada masyarakat
        sekitar yang kurang tahu ttg maslah sebenarnya di Palestina. Meskipun
        jauh, kita harus ttp membantu saudara2 kita yang di PAlestin. Sekecil
        apa pun tindakan kita, pastinya sangat berharga untuk saudara2 kita.
        Ayo kita mulai as soon as possible!!!
        Ak siap ikut aksinya mas!!!

        regards,
        rahmat


        --- In PeaceGeneration@yahoogroups.com, wiwitprasetyono
        <breakcombion@...> wrote:
        >
        >
        > Dear: Everyone,,,
        >
        > Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta
        pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya
        prihatin tentang Peace Gen yang bisa jadi tidak berbuat apapun.
        >
        > Memang benar, keberpihakan orang terhadap kasus di Jalur Gaza sangat
        beragam. Tapi satu hal! Apa yang terjadi di sana sangat bertentangan
        dengan prinsip Peace Generation yang anti kekerasan.
        >
        > Saya punya ide seperti ini:
        > Mari Peace Gen buat aksi dengan tujuan: raising people's awareness.
        > Caranya mungkin dengan menyebarkan sticker yang diselipkan deskripsi
        singkat tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza selama 2 minggu
        terakhir. Berikut kita sisipkan alamat rekening Republika yang
        mengelola penyaluran bantuan ke Jalur Gaza.
        >
        > Bagi saya, apa yang dilakukan Israel yang membombardir Hamas yang
        disangka membuat teror tidak bisa dibenarkan. Sama dengan teror itu
        sendiri yang tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari perdebatan panjang
        terkait sejarah mengenai siapa yang menabur salah lebih dulu, bagi
        Saya aksi kekerasan selama 2 minggu terakhir, sekali lagi tidak dapat
        dibenarkan! Artinya, deskripsi yang saya maksud di atas hanya
        menggambarkan peristiwa 2 minggu terakhir. Toh keberpihakan publik
        sangat kita hargai. Bagi yang mau menyumbang kita berikan informasi
        mll Republika, yg tidak pun tidak mengapa.
        >
        > Menurut saya ini ide konkret yang bisa membuat Peace Gen
        berkontribusi kepada perdamaian tanpa berpihak kepada siapapun.Kita
        hanya raising people's awareness. Kesadaran yang sesuai prinsip kita,
        bahwa Peace Gen sangat menentang setiap bentuk kekerasan. Bagaimana
        menurut teman-teman?
        >
        >
        > --- On Mon, 1/5/09, Ikie_Djokdja <ms_fickry@...> wrote:
        >
        > From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@...>
        > Subject: [PeaceGeneration] [OOT] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        > To: "Peace" <peacegeneration@yahoogroups.com>, "PPI Canberra"
        <ppia-canberra@...>, "Inculs UGM" <inculs_ugm@yahoogroups.com>,
        "jajang setiadi" <jajangsetiadi@...>, "abrar yusuf" <abyus1@...>,
        "Peace Scholarship" <peace_scholars_indonesia@yahoogroups.com>,
        alumni_sman18_plbg@yahoogroups.com, "PPIA Melbourne"
        <ppia-melbuni@yahoogroups.com>, "Kepel Community"
        <kepelcommunity@yahoogroups.com>, "Kepel UGM"
        <kepel_ugm@yahoogroups.com>, "Imiki" <imiki@yahoogroups.com>
        > Date: Monday, January 5, 2009, 3:01 AM
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Opini menarik terkait krisis di Palestina...
        > dari mapres UI yg sekarang di S2 di Nagoya, Jepang.
        > Juga alumnus SMAN 1 Jogja dan penulis buku "Ramadhan Is Dead"
        > dan "Palestine, Emang Gue Pikirin".
        >
        > Maaf bagi yang kurang berkenan.
        >
        >
        > M Solihin FikriMobile Content DeveloperDetikComwww.detik.com
        > Mobile: +62817461947Blog : http://defickry. wordpres. com
        >
        > ----- Pesan Diteruskan ----
        > Dari: alex red <terpaksabikinemail@ yahoo.com>
        > Kepada: alumni_ppsdms@ yahoogroups. com; teladan03@yahoogrou ps.com
        > Terkirim: Senin, 5 Januari, 2009 10:17:40
        > Topik: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Sekedar berbagi...:)
        >
        >
        >
        > Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
        >
        > Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
        >
        > Surabaya, 1945
        >
        > Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
        dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
        masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
        Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
        "menyerah, atau hancur".
        >
        > Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
        para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
        bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
        rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
        bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
        Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
        tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
        >
        > Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
        perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
        yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
        Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.
        >
        > Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.
        >
        > "Saudara-saudara rakyat Surabaya.
        > Bersiaplah! Keadaan genting.
        > Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
        > Jangan mulai menembak.
        > Baru kalau kita ditembak.
        > Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
        > Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin
        merdeka.
        > Dan untuk kita saudara-saudara.
        > Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
        > Semboyan kita tetap.
        > Merdeka atau mati.
        > Dan kita yakin, Saudara-saudara.
        > Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
        > Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
        > Percayalah Saudara-saudara!
        > Tuhan akan melindungi kita sekalian.
        > Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
        > Merdeka!"
        >
        > Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang
        sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai
        negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di
        pojokan sejarah.
        >
        > ***
        >
        > Gaza, peralihan tahun 2008-2009
        >
        > Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi
        akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
        ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
        dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
        pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
        Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
        Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan
        waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
        ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
        pun kesulitan.
        >
        > Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
        Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
        kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.
        >
        > ***
        >
        > Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
        Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".
        >
        > Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
        Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
        Indonesia di radio internasional.
        >
        > Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
        kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
        Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
        penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
        nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
        hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.
        >
        > Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
        HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
        Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!"
        >
        > Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
        lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
        ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
        sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
        menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
        Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
        dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
        dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
        tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
        isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.
        >
        > Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
        Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
        bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan
        perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
        Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
        perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
        pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
        pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
        kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
        dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.
        >
        > "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"
        >
        > Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
        Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
        palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
        dadaku, mana dadamu!"
        >
        > Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung
        Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
        kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"
        >
        > Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
        darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
        terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
        Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
        Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
        saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
        membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
        Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
        komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
        dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
        muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
        pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.
        >
        > Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
        rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
        hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
        Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
        mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
        popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.
        >
        > Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
        ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
        narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
        HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".
        >
        > Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
        Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
        yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
        mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
        terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
        Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
        dipaksakan pada Palestina.
        >
        > Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak
        pada yang lemah dan tertindas.
        >
        > "If you stand for nothing, you will fall for anything"
        > Malcolm X
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        > Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .
        >
      • rizza maulana
        aku setuju! semakin cepat semakin baik.. bantuan doa dari temen2 semua akan sangat berarti untuk mereka,, apalagi aksi nyata, seperti yang dikatakan mas
        Message 3 of 3 , Jan 6, 2009
        • 0 Attachment
          aku setuju!
          semakin cepat semakin baik..
          bantuan doa dari temen2 semua akan sangat berarti untuk mereka,,

          apalagi aksi nyata, seperti yang dikatakan mas wiwit..
          daripada NATO (talk Only No Action)

          SEMANGATDZ!

          "Tidak Beriman seseorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti Ia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari-Muslim) Hadits Arbain no.13 Imam An-Nawawi


          --- On Mon, 1/5/09, dreal_milanisti <dreal_milanisti@...> wrote:
          From: dreal_milanisti <dreal_milanisti@...>
          Subject: [PeaceGeneration] Re: PeaceGen for Conflict in Gaza
          To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
          Date: Monday, January 5, 2009, 7:54 AM

          I strongly agree with mas wiwit
          Sebagai kumpulan org2 yg peduli dgn perdamaian, saatnya kita take
          action dengan campaign untuk memberikan informasi kepada masyarakat
          sekitar yang kurang tahu ttg maslah sebenarnya di Palestina. Meskipun
          jauh, kita harus ttp membantu saudara2 kita yang di PAlestin. Sekecil
          apa pun tindakan kita, pastinya sangat berharga untuk saudara2 kita.
          Ayo kita mulai as soon as possible!!!
          Ak siap ikut aksinya mas!!!

          regards,
          rahmat

          --- In PeaceGeneration@ yahoogroups. com, wiwitprasetyono
          <breakcombion@ ...> wrote:
          >
          >
          > Dear: Everyone,,,
          >
          > Menanggapi kasus yang sedang marak di Jalur Gaza serta
          pendapat-pendapat teman-teman di sini saya jadi sedikit prihatin. Saya
          prihatin tentang Peace Gen yang bisa jadi tidak berbuat apapun.
          >
          > Memang benar, keberpihakan orang terhadap kasus di Jalur Gaza sangat
          beragam. Tapi satu hal! Apa yang terjadi di sana sangat bertentangan
          dengan prinsip Peace Generation yang anti kekerasan.
          >
          > Saya punya ide seperti ini:
          > Mari Peace Gen buat aksi dengan tujuan: raising people's awareness.
          > Caranya mungkin dengan menyebarkan sticker yang diselipkan deskripsi
          singkat tentang apa yang terjadi di Jalur Gaza selama 2 minggu
          terakhir. Berikut kita sisipkan alamat rekening Republika yang
          mengelola penyaluran bantuan ke Jalur Gaza.
          >
          > Bagi saya, apa yang dilakukan Israel yang membombardir Hamas yang
          disangka membuat teror tidak bisa dibenarkan. Sama dengan teror itu
          sendiri yang tidak dapat dibenarkan. Terlepas dari perdebatan panjang
          terkait sejarah mengenai siapa yang menabur salah lebih dulu, bagi
          Saya aksi kekerasan selama 2 minggu terakhir, sekali lagi tidak dapat
          dibenarkan! Artinya, deskripsi yang saya maksud di atas hanya
          menggambarkan peristiwa 2 minggu terakhir. Toh keberpihakan publik
          sangat kita hargai. Bagi yang mau menyumbang kita berikan informasi
          mll Republika, yg tidak pun tidak mengapa.
          >
          > Menurut saya ini ide konkret yang bisa membuat Peace Gen
          berkontribusi kepada perdamaian tanpa berpihak kepada siapapun.Kita
          hanya raising people's awareness. Kesadaran yang sesuai prinsip kita,
          bahwa Peace Gen sangat menentang setiap bentuk kekerasan. Bagaimana
          menurut teman-teman?
          >
          >
          > --- On Mon, 1/5/09, Ikie_Djokdja <ms_fickry@. ..> wrote:
          >
          > From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@. ..>
          > Subject: [PeaceGeneration] [OOT] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
          > To: "Peace" <peacegeneration@ yahoogroups. com>, "PPI Canberra"
          <ppia-canberra@ ...>, "Inculs UGM" <inculs_ugm@yahoogro ups.com>,
          "jajang setiadi" <jajangsetiadi@ ...>, "abrar yusuf" <abyus1@...> ,
          "Peace Scholarship" <peace_scholars_ indonesia@ yahoogroups. com>,
          alumni_sman18_ plbg@yahoogroups .com, "PPIA Melbourne"
          <ppia-melbuni@ yahoogroups. com>, "Kepel Community"
          <kepelcommunity@ yahoogroups. com>, "Kepel UGM"
          <kepel_ugm@yahoogrou ps.com>, "Imiki" <imiki@yahoogroups. com>
          > Date: Monday, January 5, 2009, 3:01 AM
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > Opini menarik terkait krisis di Palestina...
          > dari mapres UI yg sekarang di S2 di Nagoya, Jepang.
          > Juga alumnus SMAN 1 Jogja dan penulis buku "Ramadhan Is Dead"
          > dan "Palestine, Emang Gue Pikirin".
          >
          > Maaf bagi yang kurang berkenan.
          >
          >
          > M Solihin FikriMobile Content DeveloperDetikComww w.detik.com
          > Mobile: +62817461947Blog : http://defickry. wordpres. com
          >
          > ----- Pesan Diteruskan ----
          > Dari: alex red <terpaksabikinemail @ yahoo.com>
          > Kepada: alumni_ppsdms@ yahoogroups. com; teladan03@yahoogrou ps.com
          > Terkirim: Senin, 5 Januari, 2009 10:17:40
          > Topik: [alumni_ppsdms] Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > Sekedar berbagi...:)
          >
          >
          >
          > Surabaya Dulu, Gaza Sekarang
          >
          > Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
          >
          > Surabaya, 1945
          >
          > Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
          dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
          masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
          Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
          "menyerah, atau hancur".
          >
          > Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
          para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
          bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
          rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
          bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
          Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
          tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
          >
          > Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
          perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
          yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
          Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.
          >
          > Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.
          >
          > "Saudara-saudara rakyat Surabaya.
          > Bersiaplah! Keadaan genting.
          > Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
          > Jangan mulai menembak.
          > Baru kalau kita ditembak.
          > Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
          > Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin
          merdeka.
          > Dan untuk kita saudara-saudara.
          > Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
          > Semboyan kita tetap.
          > Merdeka atau mati.
          > Dan kita yakin, Saudara-saudara.
          > Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
          > Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
          > Percayalah Saudara-saudara!
          > Tuhan akan melindungi kita sekalian.
          > Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
          > Merdeka!"
          >
          > Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang
          sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai
          negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di
          pojokan sejarah.
          >
          > ***
          >
          > Gaza, peralihan tahun 2008-2009
          >
          > Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi
          akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
          ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
          dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
          pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
          Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
          Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan
          waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
          ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
          pun kesulitan.
          >
          > Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
          Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
          kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.
          >
          > ***
          >
          > Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
          Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".
          >
          > Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
          Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
          Indonesia di radio internasional.
          >
          > Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
          kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
          Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
          penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
          nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
          hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.
          >
          > Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
          HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
          Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!"
          >
          > Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
          lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
          ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
          sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
          menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
          Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
          dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
          dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
          tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
          isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.
          >
          > Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
          Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
          bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan
          perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
          Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
          perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
          pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
          pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
          kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
          dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.
          >
          > "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"
          >
          > Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
          Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
          palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
          dadaku, mana dadamu!"
          >
          > Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung
          Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
          kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"
          >
          > Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
          darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
          terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
          Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
          Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
          saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
          membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
          Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
          komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
          dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
          muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
          pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.
          >
          > Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
          rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
          hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
          Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
          mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
          popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.
          >
          > Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
          ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
          narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
          HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".
          >
          > Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
          Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
          yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
          mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
          terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
          Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
          dipaksakan pada Palestina.
          >
          > Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak
          pada yang lemah dan tertindas.
          >
          > "If you stand for nothing, you will fall for anything"
          > Malcolm X
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .
          >


        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.