Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Diaspora Global: Dari Tan Malaka Sampai Osama

Expand Messages
  • kuncoro sejati
    Diaspora Global: Dari Tan Malaka Sampai Osama Belasan teroris yang menghujat Amerika pada 11 September, selain berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan
    Message 1 of 1 , Jan 4, 2009
    View Source
    • 0 Attachment
      Diaspora Global: Dari Tan Malaka Sampai Osama Belasan teroris yang menghujat Amerika pada 11 September, selain berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan ideologis kuat, semuanya adalah perantau. Mereka pernah bermukim lama di negeri orang.Teroris atau bukan, para perantau cenderung membawa misi politik. Seringkali mereka membuat sejarah ketika mereka berkelana, atau berkelana untuk membuat sejarah. Tan Malaka, misalnya, diangkat-anak oleh seorang pejabat Belanda dan disekolahkan di Haarlem, terbuai oleh Marxisme pada 1920-an, giat di Eropa, lalu keliling Asia. Dia orang Indonesia pertama yang memperkenalkan Marxisme di negeri lain, yaitu di Filipina.Ada pula yang membawa ide-ide chauvenis dan otoriter: seperti Soepomo dan Ki Hajar Dewantara sekembali dari Belanda pada 1920-an, atau Sarloth Sar (Pol Pot) dan Khieu Samphan, dua mahasiswa Kamboja, yang sepulang dari Prancis menjadi arsitek negara-teror Khmer Merah pada 1970-an. Sementara Che Guevara mengembara dari tanah airnya, Bolivia, untuk berrevolusi di Kuba dan Afrika.Perantauan, tampaknya, memberi ilham dan tekad, dengan dinamika tersendiri. Per-jalanan "diaspora" (istilah ini aslinya bagi kaum Yahudi ketika tersebar di Eropa) adalah sebuah fenomena sui generis-terikat ciri-ciri sejenis-yang mengisyaratkan suatu momentum zaman.Tak bisa disamakan di segala ruang dan waktu.Tan Malaka, pemuda Minangkabau itu, langlang-buana dengan bekal kecerdasan dan menghayati perjuangan dan ideologi di tahun 1920-30-an. Osama bin Leden, playboy milyuner, hengkang dari Saudi, menjadi pejuang Islamis sejak 1980-an. Bekal boleh berbeda, tapi keduanya menerobos sejarah.Setengah abad setelah Tan Malaka, gerakan kiri yang tak kenal mandeg, akhirnya mandeg di rantau. Sastrawan Sobron Aidit, sambil menunjuk pada tragedi 1965-66, mengaku keberadaan diaspora-nya di Paris bersumber dari "darah, derita dan semangat" di tanah air. Osama, selaku bekas pejuang melawan tentara Soviet, seperti juga pejuang kemerdekaan, tentu, juga bisa menunjuk pada kisah "darah, derita dan semangat" yang serupa.Dengan kata lain, "darah dan semangat" itu mengacu pada kancah, yang menjadi bagian dari suatu "cause" - tujuan perjuangan. Bagi Tan Malaka dan kerabat sezamannya, kancah itu adalah Hindia-Belanda dan "cause"-nya adalah kemerdekaan dan cita-cita sosialisme Indonesia (Asia).Pelukis Lekra, alm. Basuki Resobowo, lewat sebuah lukisannya (1987), pernah bercerita bahwa di tengah konflik antar kaum kiri, Tan Malaka (yang disejajarkannya dengan Mohamad Hatta dan Amir Syarifuddin) patut dihormati, karena dia termasuk sejumlah pejuang yang "tak pernah menjual bangsa". Menurut Basuki, di masa lalu priyayi Jawa "menjual rakyat Indonesia" kepada Tuan Belanda, dan ada pejuang-pejuang kemerdekaan yang melakukan hal yang sama kepada Tuan Dai Nippon, kemudian kepada bos-bos partai komunis (PKUS) di Moskow, lantas Soeharto juga, kepada Tuan Imperialis Barat.Indonesia adalah sebuah kancah, di mana keadilan ingin diperkenalkan dengan berbagai wacana dan cara, dari dalam maupun dari diaspora. Abdurrahman Wahid, ketika merantau di Irak, Mesir, Yordania dan Eropa pada 1970-an, juga merancang wacana buat Indonesia (termasuk buat Islam di Indonesia), dengan mempelajari agama-agama dunia, dengan menghimpun berbagai aliran Islam dengan mendirikan sebuah perkumpulan Muslim (PPME) di Belanda, dan membuka jaringan dengan LSM-LSM dan partai-partai sosial-demokrat di Eropa.Kancah bukan sekedar ajang geografis. Ketika sebuah cita-cita dilekatkan padanya, dia bermakna suatu cause.Osama dan sejenisnya, dengan Al-Qaeda, "seharusnya" juga memiliki cause yang jelas. Ternyata, tidak. Osama mengaku berjuang untuk Islam; mungkin, maksudnya demi kehidupan Arab yang "Islami". Tetapi para pakar Timur Tengah menunjuk nama agama itu disandangnya ke mana-mana, keluar masuk goa, bak "menyandang jubah" untuk menjadikannya magnit politik untuk menggalang ummat. Apa pun "jubah" itu, Osama bermimpi mewujudkan cita-cita yang telah di"jubah"kannya, tapi tak pernah memberi batasan apa dan di mana "jubah" itu ingin diwujudkannya. Orang tak tahu dia berjuang untuk apa, siapa, dan negeri apa. Dia pun tak merasa perlu memberi acuan geografis atau negara mana pun. Boleh jadi, dia tak punya cause yang jelas.Dengan kata lain, perbedaan antara perantau Osama dan sejenisnya di satu pihak, dan perantau-pejuang sejenis Tan Malaka di lain pihak, bukanlah sekedar siapa "teroris" dan siapa "pejuang". Setiap protagonis tentu akan berkata kepada lawannya bahwa "teroris-mu" adalah "pejuang-ku." Tetapi, sejak Robespierre di zaman Revolusi Prancis sampai Noam Chomsky di tahun 1970-an, kita tahu, teror adalah sebuah sarana dari kekuasaan negara. Dan terbukti, kekerasan politik yang paling besar dan efektif, selalu bersumber dari lembaga negara (Holocaust-nya Hitler, Gulag-nya Stalin, Orde Baru-nya Suharto).Sekarang Amerika menteror rakyat Afganistan dengan bom, untuk memburu Osama dan Al-Qaeda.Kadang kala, teror-negara berubah. Dia tak perlu selalu monopoli negara, tapi bisa menjadi simbiose - perkawinan kepentingan - dari unsur-unsur negara dan sekelompok warga masyarakat. Contohnya: Osama bin Laden. Dia berubah jadi Islamis dan teroris global ketika dia bekerja sama dan disponsori oleh dinas intelejen militer Pakistan I.S.I, rezim Taliban dan unsur-unsur Saudi dan dinas intelejen Amerika CIA pada 1980-an, lalu berbalik melawan Amerika dan Saudi pada saat Saudi menjadi pangkalan Amerika untuk menggempur Irak pada 1991.Osama, seperti Tan Malaka, adalah seorang Muslim yang giat membangun jaringan politik global di mana pun dia berada. Bedanya, Osama sejak berhenti mabuk, berubah jadi Islamis, lalu ketika pasukan Soviet terusir dari Afghanistan pada 1989, dia menganggap perjuangan itu sebagai kemenangan "Islam" yang pertama terhadap "Barat", setelah "Islam" terus menerus kalah selama berabad-abad. Sejak itu, baginya, kemenangan "Islam" harus diglobalkan tanpa pandang bulu sikon dan konteks. Jadi, cause-nya serampangan.Samuel Huntington juga membangun wacana seolah-olah "Barat" dan "Islam" itu merupakan dua entitas yang terpisah, bulat dan gamblang, dan lewat bukunya "The Clash of Civilization" (1993), dia menyampaikan pesan perlunya "Barat" membangun pagar untuk membendung benturan benturan antar "peradaban". Sebaliknya, Edward Said baru baru ini mengingatkan bahwa tidaklah semudah itu menggambarkan percaturan antar peradaban yang luas dan kompleks sepanjang sejarah. Menggambarkan "Barat" dan "Islam" sebagai dua entitas bulat tanpa interaksi pengaruh yang mendalam, sama saja dengan melukiskan pengabaian. Maka menurutnya, apa yang terjadi sebenarnya adalah benturan antar pengabaian (clash of ignorance).Pada tingkat aksi politik, Osama melakukan pengabaian yang serupa, dan di situ dia menemukan "cause"-nya secara serampangan.Kebalikannya, Tan Malaka, pada zaman yang berbeda, melalui kajian teori-teori dan proses kongkrit yang berlaku kala itu, menjadi pejuang global ketika menyadari kebangkitan bangsa-bangsa Asia sejak Jepang mengalahkan Rusia pada 1905. Dia seorang Muslim yang tidak fanatik; seorang kosmopolit yang menguasai bahasa-bahasa Eropa, Cina dan Tagalog; seorang Marxis yang memahami sejarah dan masyarakat, namun, pertama-tama, dia seorang pejuang anti-imperialis global, yang membangun jaringan politik di Eropa, Shanghai, Bangkok, Manila dan Jawa. Jadi, cause-nya gamblang dan kongkrit. Bahkan dia sempat bermimpi mendirikan suatu negara besar, mencakup Asia Tenggara dan Australia, sebagai benteng anti-imperialisme.Peran dan permainan global Tan Malaka - sebagian bertujuan untuk melawan Stalinisme - nyaris tak ada bandingannya. Dihadapan itu, ulah global Osama tak ada apa-apanya. Dibanding dengan Khomeiny, pun, pola Osama amat berbeda dan terbelakang. Diktator Soviet Stalin juga pernah bermimpi global, umum sekaligus spesifik, dengan mendambakan revolusi menuju "sosialisme di satu negeri" (socialism in one country) di seluruh jagad. Khomeiny, ironisnya sedikit mirip Stalin, menginginkan sebuah revolusi Islam di satu negeri, yaitu Iran.Dibanding dengan Khomeiny, Osama tak punya target yang spesifik. Apa pun, Khomeiny dan kelompoknya memahami konteks perjuangan masyarakatnya, sedangkan Osama tidak. Ketika Ayatullah Ruhollah Khomeiny meninggalkan pengasingannya di Prancis pada 1979 dan kembali ke Iran, negerinya sudah bergelora revolusi Islam-Iran yang dipimpin oleh kaum Mullah dan kelas-kelas menengah, untuk melawan rezim Syah Pahlevi yang despotik.Jadi Khomeiny tidak menyulut api di rantau lantas otomatis terjadi kebakaran besar.Osama memutarbalik logika itu seolah-olah dia - atau siapa pun - dapat menyalakan revolusi di mana saja tanpa memerlukan suatu momentum revolusioner. Itu sebabnya, Osama dan gerakannya hanya akan membuat teror dan kerusuhan di sana sini, tetapi tak akan mampu memotori suatu perlawanan rakyat.Walhasil, perbedaan yang paling bermakna adalah: bagi Osama dan sejenisnya, kancah itu tak membutuhkan batasan dan acuan - geografis, jangka waktu, program sosial, atau apapun. Cause-nya tak jelas. Baginya, "jubah" itu bisa diwujudkan di mana saja dan kapan saja. Artinya, konsepnya itu anti-historis dan anti-sosiologis. Dan metode untuk mencapainya-jaringan teror- tak bersosok (invisible) dan tak beridentitas.Betapa amat kontras semua itu dengan gerakan-gerakan di masa lalu. Pada 1995, Ben Anderson, pakar kajian Asia Tenggara, dalam `Wertheim Lecture' di Universitas Amsterdam memperkenalkan apa yang disebutnya "long-distance nationalism". Dia menunjuk pada kelompok-kelompok Sikh yang hidup di Kanada, dan Armenia, Kashmir, Irlandia di Amerika dan Eropa, yang berperan kunci dalam menunjang gerakan emansipasi dan kemerdekaan di negeri-negeri itu.Di lain kesempatan, Ben Anderson menyebut aktivis Indonesia - Pipit Rochijat di Berlin dan Buyung Nasution semasa studi di Belanda - sebagai nasionalis-jarak-jauh yang vokal. Sepanjang 1970-1990-an, nasionalisme berkobar dengan pola baru tsb. Dia tak memerlukan kandang sendiri sebagai pijakan tunggal, melainkan bisa dimotori, disemangati, didanai, bahkan dibentuk dari perantauan. Mereka tak perlu membayar pajak buat negeri sendiri, tapi dari kejauhan bisa menyumbang "teror" dan "perjuangan." Inilah yang terjadi ketika acuan geografis mulai ditinggalkan.Daftar "nasionalis-jarak-jauh" itu bisa ditambah dengan peran aktivis Timor Timur di Indonesia, Portugal dan Australia sampai 1999, serta aktivis dan saudagar Aceh di Malaysia, Swedia, Norwegia dan Amerika. Xanana Gusmao, kita tahu, dari selnya di LP Cipinang dulu bisa kontak langsung dengan gerilya di hutan dekat Viqueque dan dengan kawan-kawannya di Lisbon dan Sydney.Berkat komunikasi canggih, jaringan lebih penting ketimbang geografi. Tetapi, Osama bukan seorang nasionalis. Dia melangkah lebih jauh lagi, dengan berpretensi universal dan membajak sebuah agama untuk menggelar suatu "perjuangan" demi perubahan besar, tanpa menetapkan tujuan, target sosial, dan batasan ruangnya.Dengan transformasi wacana ini, dan dengan menggebrak adidaya di kandang sendiri pada 11 September-agresi pertama terhadap Amerika sejak 1812-para terorisnya Osama menggedor sejarah, untuk menyampaikan pesan tentang sebuah cita-cita yang anti-historis, dengan sekadar berangkat dari kategori-berpikir bipolar yang sederhana: "kami" versus "mereka", dan memakai metode jaringan teror.Sebagai pelaku politik diaspora, Osama cum suis telah jauh "melampaui" Tan Malaka pada 1920-an dan perantau nasionalis Sikh atau Irlandia pada 1980-an. Kaum diaspora, dengan ragam misinya, sejak mula bermain global, Osama cuma memperbaruinya dengan mengglobalkan teror.Lompatan Osama itu - dan reaksi Amerika - pada gilirannya memukulbalik pola nasionalisme-jarak-jauh. Para imigran Irlandia di Amerika kini menyetop kran jutaan dolar, sehingga pertama kali IRA (Tentara Republik Irlandia) melucuti senjatanya di Irlandia Utara. Selain itu, Rusia kini merasa mendapat dukungan internasional untuk menggebrak pemberontakan "teroris" Chechnya. Sementara penguasa di Amerika Serikat memperluas daftar teroris yang resmi dicurigai. Dan di Eropa, yang kini berpenduduk migran Muslim sekitar 10-an juta, oranisasi organisasi kaum diaspora makin diamati.Ulah Osama cum suis , jelas, dampaknya besar dan berbahaya bagi kemanusiaan, demokrasi dan pluralisme, tetapi juga bisa menjadi dalih bagi penguasa negara mana pun untuk menekan hak-hak sipil warganya.


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.