Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[nice story] Sebuah Ciuman Selamat Tinggal

Expand Messages
  • Ikie_Djokdja
    Saya mendung ketika membaca 3/4 postingan ini. mengingatkan kejadian 6 tahun lalu. . Yours sincerely, M Solihin Fikri Department of Communication Studies
    Message 1 of 1 , Nov 8, 2008
    • 0 Attachment
      Saya mendung ketika membaca 3/4 postingan ini.
      mengingatkan kejadian 6 tahun lalu. .
       
      Yours sincerely,

      M Solihin Fikri
      Department of Communication Studies
      Gadjah Mada University
      Yogyakarta - INDONESIA

      http://defickry.wordpress.com



      ----- Forwarded Message ----
      From: tHea Arabella <thea.arabella@ yahoo.de>
      To: WB 82 <werdibhuwana82@ yahoogroups. com>; LKMM LKMM 30 <lkmm30@yahoogroups. com>; SWR SWR <swanarapala@ yahoogroups. com>; pom 2009 <pom2009@yahoogroups .com>; pom binusian <pom_binusian2009@ yahoogroups. com>; jp jp <jejakpetualang@ yahoogroups. com>; soe hok <soe_hok_gie@ yahoogroups. com>; cidahu cidahu <cidahu@yahoogroups. com>; Ratri Ratri <rat_nonik@yahoo. com>; Mama Lia <pjlp_31785@yahoo. com>; ratrikala bhre <bhre19@yahoo. com>; dede didi <dd_ney@yahoo. com>; mapala indonesia <mapalaindonesia@ yahoogroups. com>; pecinta alam <pecinta_alam_ indonesia@ yahoogroups. com>
      Sent: Wednesday, July 19, 2006 3:50:47 PM
      Subject: [POM2009] Sebuah Ciuman Selamat Tinggal

      Sebuah Ciuman Selamat Tinggal
      Really Nice Read....

      Rapat Direksi baru saja berakhir.
      Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah ke atas catatan-catatannya.

      "Waduh, memalukan sekali aku ini, di usia
      tua kok tambah ngaco".

      Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu
      sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakan saat-saat yang paling menyakitkan di masa lalu dulu.

      Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah lain-lainnya.

      "Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu."

      Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.

      "Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut.

      Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga.

      Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan
      saudara2 lainnya yang masih di rumah."

      Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan.

      Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya.

      Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan."
      Suara Frank mulai merendah sedikit.

      "Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah.
      Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya
      daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan.

      Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa menghilang.

      Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton.

      Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku
      dan memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak malu, begitu risih.

      Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri ke depan dan menciumi aku selamat tinggal!"

      Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal.
      Waktu kami sampai ke sekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya ke arahku, tetapi

      aku mengangkat tangan dan berkata, "Jangan, ayah". Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.

      Aku bilang, "Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan". Ayahku
      memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.

      Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan.
      "Kau benar", katanya.
      "Kau sudah jadi pemuda besar......seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi".

      Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya.

      "Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan
      merapat di pelabuhan, tapi kapal ayah tidak.
      Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.

      Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada di laut. Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapung nya."

      Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya. Frank menyambung lagi,

      "Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang Akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi
      sebuah ciuman pada pipiku.... untuk merasakan wajah tuanya yang kasar......

      untuk mencium bau air laut dan samudra padanya.....
      untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku.

      Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu.
      Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua "untuk sebuah ciuman selamat
      tinggal."

      By: Thomas Charles Clary

      Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih
      kita.

      AKU TAK SELALU MENDAPATKAN
      APA YANG KUSUKAI,
      OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN


      Was ist Glück? Schlafen Fische überhaupt? Die Antworten gibt’s auf Yahoo! Clever.




      Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
      Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!


      Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya?
      Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.