Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: ITB73 [RenunganPagi] Senyumlah

Expand Messages
  • Ikie_Djokdja
    Renungan pagi ... Menyentuh... Yours sincerely, M Solihin Fikri Department of Communication Studies Gadjah Mada University Yogyakarta - INDONESIA
    Message 1 of 2 , Oct 28, 2008
    • 0 Attachment
      Renungan pagi ...
      Menyentuh...
       
      Yours sincerely,

      M Solihin Fikri
      Department of Communication Studies
      Gadjah Mada University
      Yogyakarta - INDONESIA

      http://defickry.wordpress.com





      > SENYUMLAH...
      >
      > Kisah
      di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni
      > Jerman,
      atau
      > warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana
      .
      >
      > Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan
      seumur
      > hidup.
      >
      > Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan
      baru saja menyelesaikan kuliah
      > saya.
      > Kelas terakhir yang harus
      saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat
      > inspiratif, dengan
      kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
      >
      > Tugas
      terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
      >
      "Smiling."
      >
      > Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan
      memberikan senyumnya kepada
      > tiga
      > orang asing yang ditemuinya dan
      mendokumentasikan reaksi mereka.
      >
      > Setelah itu setiap siswa
      diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.
      >
      > Saya adalah
      seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum
      > pada
      >
      setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.
      >
      >
      Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
      >
      bungsu
      > saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke
      restoran
      > McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya
      sangat
      > dingin
      > dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam
      antrian, saya menyela
      > dan
      > meminta agar dia saja yang menemani si
      Bungsu sambil mencari tempat
      > duduk yang
      > masih
      kosong.
      >
      > Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk
      dilayani, mendadak
      > setiap
      > orang di sekitar kami bergerak
      menyingkir, dan bahkan orang yang semula
      > antri di
      > belakang saya
      ikut menyingkir keluar dari antrian.
      >
      > Suatu perasaan panik
      menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
      > mengapa
      > mereka
      semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu
      >
      "bau
      > badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
      saya
      > berdiri
      > dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya
      bingung, dan tidak
      > mampu
      > bergerak sama sekali.
      >
      >
      Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
      >
      lebih
      > pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia
      sedang
      > "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot
      matanya
      > tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah
      saya,
      > seolah ia
      > meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya'
      di tempat itu.
      >
      > Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan
      sembari menghitung
      > beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan
      yang akan dipesan.
      >
      > Secara spontan saya membalas senyumnya, dan
      seketika teringat oleh saya
      > 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya.
      Lelaki kedua sedang memainkan
      > tangannya dengan gerakan aneh berdiri di
      belakang temannya.
      >
      > Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu
      menderita defisiensi
      > mental, dan
      > lelaki dengan mata biru itu
      adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat
      > prihatin setelah mengetahui
      bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya
      > tinggal
      > saya bersama
      mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan
      >
      counter.
      >
      > Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya
      apa yang ingin saya
      > pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk
      memesan duluan. Lelaki
      > bermata
      > biru segera memesan "Kopi saja,
      satu cangkir Nona." Ternyata dari koin
      > yang terkumpul hanya itulah yang
      mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi
      > aturan
      > di restoran
      disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan
      >
      tubuh,
      > maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini
      hanya
      > ingin
      > menghangatkan badan.
      >
      > Tiba2 saja saya
      diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
      > beberapa saat,
      sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
      > duduk
      >
      yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
      >
      mengamati
      > mereka...
      >
      > Pada saat yang bersamaan, saya baru
      menyadari bahwa saat itu semua mata
      > di
      > restoran itu juga sedang
      tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat
      > semua
      > 'tindakan'
      saya.
      >
      > Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa
      saya untuk
      > ketiga
      > kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan.
      Saya tersenyum dan minta
      > diberikan
      > dua paket makan pagi (di luar
      pesanan saya) dalam nampan terpisah.
      >
      > Setelah membayar semua
      pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
      > di
      > counter itu
      untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
      >
      suami
      > dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
      melingkari
      > sudut
      > ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki
      itu untuk beristirahat.
      > Saya
      > letakkan nampan berisi makanan itu
      di atas mejanya, dan meletakkan
      > tangan saya
      > di atas punggung
      telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil
      > saya
      >
      berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
      >
      >
      Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
      >
      basah
      > berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak,
      nyonya."
      >
      > Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk
      bahunya saya
      > berkata
      > "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini
      untuk kalian,Tuhan juga
      > berada
      > di sekitar sini dan telah
      membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk
      > menyampaikan
      > makanan
      ini kepada kalian."
      >
      > Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak
      kuasa menahan haru dan memeluk
      > lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat
      itu ingin sekali saya merengkuh
      > kedua
      > lelaki
      itu.
      >
      > Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan
      meninggalkan
      > mereka
      > dan bergabung dengan suami dan anak saya,
      yang tidak jauh dari tempat
      > duduk
      > mereka. Ketika saya duduk
      suami saya mencoba meredakan tangis saya
      > sambil
      > tersenyum dan
      berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
      > dirimu
      >
      menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku
      >
      dan anak2ku!"
      >
      > Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan
      saat itu kami benar2
      > bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena
      'bisikanNYA' lah kami telah
      > mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat
      berbuat sesuatu bagi orang
      > lain yang sedang sangat
      membutuhkan.
      >
      > Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari
      tamu yang akan
      > meninggalkan
      > restoran dan disusul oleh beberapa
      tamu lainnya, mereka satu persatu
      > menghampiri
      > meja kami, untuk
      sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu
      > di antaranya,
      seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
      > "Tanganmu
      > ini
      telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada
      >
      disini,
      > jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
      lakukan
      > seperti yang
      > telah kamu contohkan tadi kepada
      kami."
      >
      > Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum.
      Sebelum
      > beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke
      arah
      > kedua lelaki
      > itu, dan seolah ada 'magnit' yang
      menghubungkan bathin kami, mereka
      > langsung menoleh ke arah kami sambil
      tersenyum, lalu melambai2kan
      > tangannya ke
      > arah kami. Dalam
      perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang
      > telah saya
      >
      lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang
      >
      tidak pernah terpikir oleh saya.
      >
      > Pengalaman hari itu menunjukkan
      kepada saya betapa 'kasih sayang'
      > Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH
      sekali!
      >
      > Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah
      dengan 'cerita' ini
      > di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada
      dosen saya. Dan
      > keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya
      dipanggil dosen saya ke
      > depan
      > kelas, ia melihat kepada saya dan
      berkata, "Bolehkah saya membagikan
      > ceritamu ini kepada yang lain?"
      dengan senang hati saya mengiyakan.
      >
      > Ketika akan memulai
      kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk
      > membacakan paper saya.
      Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan
      > dengan
      > seksama
      cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.
      >
      > Dengan cara
      dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan
      > ceritanya,
      >
      membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat
      >
      bagaimana
      > sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi
      yang duduk di
      > deretan
      > belakang di dekat saya di antaranya datang
      memeluk saya untuk
      > mengungkapkan
      > perasaan
      harunya.
      >
      > Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja
      menutup ceritanya
      > dengan
      > mengutip salah satu kalimat yang saya
      tulis di akhir paper saya.
      >
      > "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan
      kau akan mengetahui betapa
      > 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh
      senyummu itu."
      >
      > Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan'
      diri saya untuk
      > menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku,
      anakku, guruku,
      > dan
      > setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam
      terakhir saya sebagai
      > mahasiswi.
      > Saya lulus dengan 1 pelajaran
      terbesar yang tidak pernah saya dapatkan
      > di bangku
      > kuliah
      manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
      >
      > Banyak cerita tentang
      kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
      > para
      >
      pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
      >
      cerita ini
      > diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
      SESAMA,
      > DENGAN
      > MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA
      MILIKI, dan bukannya
      > MENCINTAI
      > HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK
      KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
      >
      > Jika anda berpikir bahwa
      cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
      > cerita
      > ini kepada
      orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan
      > menyertai anda,
      agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
      > tergerak
      >
      hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang
      >
      sedang
      > membutuhkan uluran tangannya!
      >
      > Orang bijak
      mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
      > kehidupanmu,
      >
      tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam
      >
      hatimu.
      >
      > Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu.
      Tetapi untuk
      > berinteraksi
      > dengan orang lain, gunakan HATImu!
      Orang yang kehilangan uang, akan
      > kehilangan
      > banyak, orang yang
      kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi
      > orang
      > yang
      kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan
      >
      memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak
      >
      melemparkan
      > makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus
      BERIKHTIAR
      > untuk bisa
      > mendapatkannya.
      >
      >
      Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi
      >
      orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari
      >
      PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa
      >
      mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
      >
      >
      CHEERS
      >
      >
      >
      ------------ --------- --------- ------
      >
      >
      >
      >
      ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
      >
      >
      The DAI email disclaimer can be found at http://www.dai. com/disclaimer
      >
      <http://www.dai. com/disclaimer> .
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >






      Nama baru untuk Anda!
      Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
      Cepat sebelum diambil orang lain!
    • atin prabandari
      menyentuh banget.. jadi inget salah satu hal yang aku sesali adalah .. urung memberi sedekah pada seorang gelandangan di Jerman.. mentang-mentang di negara
      Message 2 of 2 , Oct 28, 2008
      • 0 Attachment

        menyentuh banget..
        jadi inget
        salah satu hal yang aku sesali adalah ..
        urung memberi sedekah pada seorang gelandangan di Jerman..
        mentang-mentang di negara maju yaa
        tapi kan pengemis juga..
        beneran nyesel banget..
        ga sekali kali deh
        astatghfirullah..

        From: Ikie_Djokdja <ms_fickry@...>
        To: JMF ugm <jmf_ugm@yahoogroups.com>; Kepel Community <kepelcommunity@yahoogroups.com>; ALumni PPSDMS <alumni_ppsdms@yahoogroups.com>; PPSDMS milis <ppsdms_0608@yahoogroups.com>; Petualang <petualang@...>; UC PPIA <ppia_uc@yahoogroups.com>; alumni_sman18_plbg@yahoogroups.com; Imiki <imiki@yahoogroups.com>; Inculs UGM <inculs_ugm@yahoogroups.com>; Peace <peacegeneration@yahoogroups.com>; Lepass Sripo <lepass_sripo@yahoogroups.com>
        Sent: Wednesday, October 29, 2008 11:47:38
        Subject: [PeaceGeneration] Fwd: ITB73 [RenunganPagi] Senyumlah

        Renungan pagi ...
        Menyentuh...
         
        Yours sincerely,

        M Solihin Fikri
        Department of Communication Studies
        Gadjah Mada University
        Yogyakarta - INDONESIA

        http://defickry. wordpress. com





        > SENYUMLAH...
        >
        > Kisah
        di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni
        > Jerman,
        atau
        > warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana
        .
        >
        > Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan
        seumur
        > hidup.
        >
        > Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan
        baru saja menyelesaikan kuliah
        > saya.
        > Kelas terakhir yang harus
        saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat
        > inspiratif, dengan
        kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
        >
        > Tugas
        terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
        >
        "Smiling."
        >
        > Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan
        memberikan senyumnya kepada
        > tiga
        > orang asing yang ditemuinya dan
        mendokumentasikan reaksi mereka.
        >
        > Setelah itu setiap siswa
        diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.
        >
        > Saya adalah
        seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum
        > pada
        >
        setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.
        >
        >
        Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
        >
        bungsu
        > saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke
        restoran
        > McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya
        sangat
        > dingin
        > dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam
        antrian, saya menyela
        > dan
        > meminta agar dia saja yang menemani si
        Bungsu sambil mencari tempat
        > duduk yang
        > masih
        kosong.
        >
        > Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk
        dilayani, mendadak
        > setiap
        > orang di sekitar kami bergerak
        menyingkir, dan bahkan orang yang semula
        > antri di
        > belakang saya
        ikut menyingkir keluar dari antrian.
        >
        > Suatu perasaan panik
        menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
        > mengapa
        > mereka
        semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu
        >
        "bau
        > badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
        saya
        > berdiri
        > dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya
        bingung, dan tidak
        > mampu
        > bergerak sama sekali.
        >
        >
        Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
        >
        lebih
        > pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia
        sedang
        > "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot
        matanya
        > tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah
        saya,
        > seolah ia
        > meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya'
        di tempat itu.
        >
        > Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan
        sembari menghitung
        > beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan
        yang akan dipesan.
        >
        > Secara spontan saya membalas senyumnya, dan
        seketika teringat oleh saya
        > 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya.
        Lelaki kedua sedang memainkan
        > tangannya dengan gerakan aneh berdiri di
        belakang temannya.
        >
        > Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu
        menderita defisiensi
        > mental, dan
        > lelaki dengan mata biru itu
        adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat
        > prihatin setelah mengetahui
        bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya
        > tinggal
        > saya bersama
        mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan
        >
        counter.
        >
        > Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya
        apa yang ingin saya
        > pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk
        memesan duluan. Lelaki
        > bermata
        > biru segera memesan "Kopi saja,
        satu cangkir Nona." Ternyata dari koin
        > yang terkumpul hanya itulah yang
        mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi
        > aturan
        > di restoran
        disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan
        >
        tubuh,
        > maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini
        hanya
        > ingin
        > menghangatkan badan.
        >
        > Tiba2 saja saya
        diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
        > beberapa saat,
        sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
        > duduk
        >
        yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
        >
        mengamati
        > mereka...
        >
        > Pada saat yang bersamaan, saya baru
        menyadari bahwa saat itu semua mata
        > di
        > restoran itu juga sedang
        tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat
        > semua
        > 'tindakan'
        saya.
        >
        > Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa
        saya untuk
        > ketiga
        > kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan.
        Saya tersenyum dan minta
        > diberikan
        > dua paket makan pagi (di luar
        pesanan saya) dalam nampan terpisah.
        >
        > Setelah membayar semua
        pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
        > di
        > counter itu
        untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
        >
        suami
        > dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
        melingkari
        > sudut
        > ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki
        itu untuk beristirahat.
        > Saya
        > letakkan nampan berisi makanan itu
        di atas mejanya, dan meletakkan
        > tangan saya
        > di atas punggung
        telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil
        > saya
        >
        berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
        >
        >
        Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
        >
        basah
        > berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak,
        nyonya."
        >
        > Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk
        bahunya saya
        > berkata
        > "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini
        untuk kalian,Tuhan juga
        > berada
        > di sekitar sini dan telah
        membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk
        > menyampaikan
        > makanan
        ini kepada kalian."
        >
        > Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak
        kuasa menahan haru dan memeluk
        > lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat
        itu ingin sekali saya merengkuh
        > kedua
        > lelaki
        itu.
        >
        > Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan
        meninggalkan
        > mereka
        > dan bergabung dengan suami dan anak saya,
        yang tidak jauh dari tempat
        > duduk
        > mereka. Ketika saya duduk
        suami saya mencoba meredakan tangis saya
        > sambil
        > tersenyum dan
        berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
        > dirimu
        >
        menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku
        >
        dan anak2ku!"
        >
        > Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan
        saat itu kami benar2
        > bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena
        'bisikanNYA' lah kami telah
        > mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat
        berbuat sesuatu bagi orang
        > lain yang sedang sangat
        membutuhkan.
        >
        > Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari
        tamu yang akan
        > meninggalkan
        > restoran dan disusul oleh beberapa
        tamu lainnya, mereka satu persatu
        > menghampiri
        > meja kami, untuk
        sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu
        > di antaranya,
        seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
        > "Tanganmu
        > ini
        telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada
        >
        disini,
        > jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
        lakukan
        > seperti yang
        > telah kamu contohkan tadi kepada
        kami."
        >
        > Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum.
        Sebelum
        > beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke
        arah
        > kedua lelaki
        > itu, dan seolah ada 'magnit' yang
        menghubungkan bathin kami, mereka
        > langsung menoleh ke arah kami sambil
        tersenyum, lalu melambai2kan
        > tangannya ke
        > arah kami. Dalam
        perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang
        > telah saya
        >
        lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang
        >
        tidak pernah terpikir oleh saya.
        >
        > Pengalaman hari itu menunjukkan
        kepada saya betapa 'kasih sayang'
        > Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH
        sekali!
        >
        > Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah
        dengan 'cerita' ini
        > di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada
        dosen saya. Dan
        > keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya
        dipanggil dosen saya ke
        > depan
        > kelas, ia melihat kepada saya dan
        berkata, "Bolehkah saya membagikan
        > ceritamu ini kepada yang lain?"
        dengan senang hati saya mengiyakan.
        >
        > Ketika akan memulai
        kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk
        > membacakan paper saya.
        Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan
        > dengan
        > seksama
        cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.
        >
        > Dengan cara
        dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan
        > ceritanya,
        >
        membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat
        >
        bagaimana
        > sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi
        yang duduk di
        > deretan
        > belakang di dekat saya di antaranya datang
        memeluk saya untuk
        > mengungkapkan
        > perasaan
        harunya.
        >
        > Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja
        menutup ceritanya
        > dengan
        > mengutip salah satu kalimat yang saya
        tulis di akhir paper saya.
        >
        > "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan
        kau akan mengetahui betapa
        > 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh
        senyummu itu."
        >
        > Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan'
        diri saya untuk
        > menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku,
        anakku, guruku,
        > dan
        > setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam
        terakhir saya sebagai
        > mahasiswi.
        > Saya lulus dengan 1 pelajaran
        terbesar yang tidak pernah saya dapatkan
        > di bangku
        > kuliah
        manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
        >
        > Banyak cerita tentang
        kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
        > para
        >
        pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
        >
        cerita ini
        > diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
        SESAMA,
        > DENGAN
        > MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA
        MILIKI, dan bukannya
        > MENCINTAI
        > HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK
        KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
        >
        > Jika anda berpikir bahwa
        cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
        > cerita
        > ini kepada
        orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan
        > menyertai anda,
        agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
        > tergerak
        >
        hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang
        >
        sedang
        > membutuhkan uluran tangannya!
        >
        > Orang bijak
        mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
        > kehidupanmu,
        >
        tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam
        >
        hatimu.
        >
        > Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu.
        Tetapi untuk
        > berinteraksi
        > dengan orang lain, gunakan HATImu!
        Orang yang kehilangan uang, akan
        > kehilangan
        > banyak, orang yang
        kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi
        > orang
        > yang
        kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan
        >
        memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak
        >
        melemparkan
        > makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus
        BERIKHTIAR
        > untuk bisa
        > mendapatkannya.
        >
        >
        Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi
        >
        orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari
        >
        PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa
        >
        mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
        >
        >
        CHEERS
        >
        >
        >
        ------------ --------- --------- ------
        >
        >
        >
        >
        ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
        >
        >
        The DAI email disclaimer can be found at http://www.dai. com/disclaimer
        >
        <http://www.dai. com/disclaimer> .
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >






        Nama baru untuk Anda!
        Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
        Cepat sebelum diambil orang lain!


        New Email names for you!
        Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
        Hurry before someone else does!
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.