Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

CARA BERSANDAR

Expand Messages
  • leonardo rimba
    CARA BERSANDAR Dear Friends, berikut rangkuman 5 percakapan tentang CARA BERSANDAR yang dilakukan oleh Mas M di Solo (sarjana teknik, 21 tahun) dan saya di
    Message 1 of 1 , May 8, 2008
    • 0 Attachment
      CARA BERSANDAR


      Dear Friends, berikut rangkuman 5 percakapan tentang
      CARA BERSANDAR yang dilakukan oleh Mas M di Solo
      (sarjana teknik, 21 tahun) dan saya di Jakarta.
      Aslinya diposting secara bersambung di Milis SI
      <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>
      beberapa waktu yang lalu. Semoga bermanfaat. (Leo)


      +++

      PERCAKAPAN 1

      M = Mas M
      L = Leo


      M = Mas Leo, pagi ini saya baru dapet pemahaman bahwa
      kebahagiaan ataupun kesedihan yg berlebih, akan secara
      otomatis membuat pikiran & emosi saya terfokus kepada
      hal-hal tersebut sehingga jika kejadiannya sudah
      lewat atau belum terjadi pun pikiran saya masih saja
      berkutat dengan mereka. Hal ini tentu saja membuat
      saya tidak bisa here and now.

      L = Ya, memang begitu, makanya kita sering diajarin
      bahwa kalau merasa bahagia, mbok ya tidak usah
      bersorak-sorak. Dan kalau merasa sedih, tidak usah
      sampai begitu2 amat. Cukup biasa2 saja. Kalau kita
      terbawa oleh EMOSI yang terlalu bahagia dan terlalu
      sedih, akibatnya kita akan jomplang / tidak seimbang /
      tidak balanced. Dan keadaan tidak seimbang is HELL.
      Neraka itu keadaan yang tidak seimbang, dan Sorga itu
      keadaan seimbang.

      M = Saya ingat yg Mas Leo pernah bilang, bahwa
      urutannya adalah niat-pikiran-emosi-tindakan. Tapi
      ternyata dimensi pikiran dan emosi dapat sewaktu-waktu
      menjadi over dan mengendalikan niat dan tindakan
      (seperti contoh di atas).

      L = Hmmm... ya memang seperti itu. Segalanya bermula
      dari BELIEF SYSTEM (Dimensi Udara), lalu EMOSI
      (Dimensi Air), lalu TINDAKAN (Dimensi Api), dan HASIL
      (Dimensi Tanah). Selalu seperti itu urutannya. Yang
      pertama itu selalu belief system (hal2 yang kita
      percayai atau asumsikan sebagai benar).

      Kalau kita asumsikan bahwa diri kita itu PUSAT DUNIA,
      kita akan uring2an ketika orang lain melihat pusat
      dunia ada dimana-mana. Kita akan merasa dilecehkan.

      Ketika kita asumsikan KIBLAT itu adanya di Mekkah,
      kita akan mencak2 ketika banyak orang ternyata
      berkiblat ke New York City, atau London, atau Paris,
      atau Jakarta, Surabaya, Pantai Kuta, Pantai Senggigi,
      Pantai Ancol, dsb...

      Kalau kita asumsikan KIBLAT itu adanya di dalam diri /
      jiwa setiap manusia, maka kita akan merasa oke2 saja
      ketika orang2 menemukan dirinya yang sejati.

      Nah, what is KIBLAT itu, by the way ? Kiblat is
      ORIENTATION (orientasi, cara pandang, cara melihat,
      sudut pandang). Cuma sudut pandang belaka, cuma kiblat
      belaka. So, biarkan saja orang2 itu berkiblat
      kemana-mana. Mereka punya mata tho ?

      Mata itu yang melihat, yang memiliki orientasi, yang
      memiliki kiblat. Karena mata itu bentuknya seperti
      BOLA, maka tentu saja bisa melihat ke segala arah.
      Yang di depan, di atas, samping kiri, samping kanan,
      ANY DIRECTION atau ANY KIBLAT.

      Biarkan saja, dan kita tidak perlu memaksakan kiblat
      kita untuk diikuti oleh orang2 lain because, in one
      way or another, akhirnya orang2 akan realize bahwa
      yang namanya kiblat is merely orientation.

      Sekarang maunya melihat ke arah mana ? Kalau mau
      melihat kesana, ya lihatlah. Kalau mau melihat kemari,
      ya lihatlah. Kita tidak perlu melihat dari sudut
      pandang yang sama dengan orang lain, and vice versa.
      As a matter of fact, bahkan MUSTAHIL bagi kita untuk
      melihat dari sudut pandang yang exactly sama dengan
      orang lain. Space atau ruang itu tidak memungkinkan
      karena ada space yang ditempati oleh orang lain
      sehingga kita tidak bisa melihat dari sudut pandang
      yang exactly sama itu...

      Nah, kurang lebih begitu analoginya sehingga melalui
      KOMUNIKASI akhirnya akan ada pertukaran sudut pandang
      which is pertukaran KIBLAT. Kita bisa pakai kiblat
      yang itu, dan yang sekarang pakai kiblat itu bisa
      pakai kiblat yang ini. We COULD change viewpoints.
      Very simple, coba aja.

      Dari viewpoints (kiblat) itu kita akan bisa merasakan
      EMOSI. Emosi atau perasaan selalu mengikuti BELIEF
      SYSTEMS (Kiblat) yang kita anut dalam suatu saat.
      Setelah itu baru ada TINDAKAN, dan setelah tindakan
      baru HASIL (bisa berupa pengertian baru, bisa pula
      ketidak-mengertian baru, kebingungan baru, dsb...
      which is oke2 aja).

      In the end, akhirnya ada INTERAKSI terus-menerus. Ada
      aksi dan reaksi yang berputar tanpa henti. Ada thesis,
      antithesis, dan sinthesis yang bergulir tanpa henti,
      worlds without end.

      Dunia ini seperti itu, selalu seperti itu. Makanya
      kita perlu mempertahankan KESEIMBANGAN (balance) yang
      ada di diri kita. Kita tidak perlu ngotot dan ngoyo
      mempertahankan sudut pandang (kiblat, viewpoints) yang
      kita anut dalam saat ini karena kita TAHU bahwa kita
      bisa merubah sudut pandang kita itu anytime. Setiap
      saat bisa kita ubah, kalau kita mau. Kita bergeser
      saja, maka bergeserlah kiblat kita. Dan EMOSI itu akan
      mengikuti belief system kita, dan TINDAKAN juga, dan
      HASIL juga.

      Udara, Air, Api, Tanah. Semuanya itu SIMBOL2 saja,
      yang bisa diurutkan dan dijelaskan secara logis dan
      rasional.

      M = Saat hal seperti ini telah terjadi (sempat
      sadarnya pada posisi dimensi pikiran dan emosi sudah
      over), saya coba untuk menstabilkan niat dan tindakan
      yaitu dengan merilekskan diri dan wirid untuk
      sementara waktu soalnya pada state tersebut pikiran
      sangat susah untuk ditenangkan (yg ada malah
      merencanakan hal-hal yg jelek melulu, yg arahnya
      pemenuhan kebutuhan pribadi tanpa memperhatikan
      kondisi sekitar –menjadi hewan?!?!?!).

      L = Ya, memang seperti itu. Makanya harus selalu ELING
      (alert) di Dimensi Mata Ketiga (Dimensi Batin).
      Caranya dengan melakukan meditasi/wirid/meneng/eling
      di GOD SPOT yang adanya di Kelenjar Pineal di tengah
      batok kepala. Coba saja itu.

      Walaupun tidak dengan postur meditasi, kita bisa stand
      by / eling terus di posisi itu. Give it a try ok ?

      M = Tp yg lucu, saat ini saya malah lebih susah untuk
      menghalangi terjadinya over dimensi pikiran dan emosi
      (sempat sadar sebelum mereka menjadi over, tapi malah
      cenderung membiarkan saja sehingga akhirnya
      benar-benar jadi over dan mengendalikan niat &
      tindakan saya). Jd untuk state ini, saya belum bisa
      mengatasinya mas, any comment?

      L = Ya, you are now EXPERIMENTING. It's oke2 aja, kita
      memang harus eksperimen juga sehingga benar2 tahu
      bahwa teknik berjalannya segala sesuatu memang seperti
      itu. You have to give it a try sampai benar2 yakin
      bahwa memang segalanya itu bermula dari belief system.
      Kalau tidak dicoba dan hanya mengikuti apa yang saya
      bilang/tulis saja, kan nanti jadinya gimana gituh.

      So, you are now experimenting.

      M = Tentang kedua state tersebut, ada saran mas?

      L = Well, you MIGHT want to try putting your
      consciousness / kesadaran di GOD SPOT yang adanya di
      Kelenjar Pineal di tengah batok kepala. Diam saja
      disitu walaupun kita tetap melakukan aktifitas
      sehari-hari secara biasa2 saja. Nanti akan bisa
      dirasakan juga bahwa kita itu bisa MENGAMATI saja.
      Walaupun kita itu terlihat tidak ada bedanya dengan
      yang lain, kita itu akan ELING/Aware bahwa kita yang
      melihat itu beda.

      We are the one who sees. Kita yang mengamati saja.
      Kita bahkan mengamati diri kita beraktifitas. Dan
      ROSO yang seperti itu bisa kita enjoy saja without
      ngasorake, dan without having to pity ourselves
      ketika ada sesuatu yang tidak sesuai.

      Kita itu TETAP, kesadaran kita itu tetap, tetap
      melihat saja, mengamati saja; dan yang berputar itu
      yang RELATIF. Segala kejadian2 itu relatif karena
      datang dan pergi, sedangkan kita yang mengamati itu
      tetap saja, selalu mengamati saja.

      M = Walaupun sempat ada ketakutan dan kekhawatiran
      mengenai kebelumbisaan saya menjadi balanced sehingga
      sewaktu-waktu dapat menimbulkan konflik/benturan dgn
      lingkungan sekitar, somehow ikhlas dan pasrah selalu
      muncul sendiri sehingga dapat menenangkan saya, dengan
      caraNya sendiri yg saya tidak/belum dapat memahami
      polanya ^_^

      L = Hmmm hmmm hmmm...


      +++

      PERCAKAPAN 2


      M = Mas Leo, ini baru dapet pemahaman lagi, ternyata
      saya sendiri terdiri atas lebih dari satu diri (D).

      D1 -> kesadaran

      -inilah yg menghidupi (sadar bahwa hidup dgn tubuh
      fisik perlu pangan, sandang, papan. Jd, D1 berusaha
      melakukan seoptimal mungkin gimana caranya mencukupi
      ketiganya demi hidup)

      -inilah yg merasakan hidup (sadar bahwa hidup tidak
      terikat dgn rejeki-jodoh-umur: segala emosi negatif
      seperti iri, kecewa, hanya terjadi karena belief
      system yg belum pas. Maka, jika masih ingin hidup,
      harus menggeser belief system supaya pas, agar tidak
      ada konflik lg dengan D2 dan sekitar)

      -inilah yg nrimo (sadar bahwa pemberian
      rejeki-jodoh-umur bukan kuasa D1, sehingga dgn
      ikhlas dan pasrah menjalani hidup dan mensyukuri
      jika diberi rejeki-jodoh-umur. kalaupun tidak jg
      diterima dgn ikhlas dan pasrah, bukannya memaksakan
      diri sehingga mengganggu balance yg sudah ada di
      sekitar/menimbulkan konflik)

      -meyadari kadang ada D2 dan D laen, dan berusaha
      berdamai dengan mereka. Penginnya satu D aja
      bareng-bareng, bisa kompromi dulu :)

      D2 -> Subjek hidup

      -menyadari ada D1 dan D laen, tetapi berusaha
      memonopoli saya

      -merasakan naek turunnya emosi, lelah segarnya
      fisik, dan ada tidaknya hasil. Lupa bahwa hakekatnya
      orang hidup hanya perlu pangan-sandang-papan.
      Sehingga sering 'tersakiti' saat emosi/fisik/hasil
      tidak seperti yg diharapkan (dgn belief system saat
      ini), dan kemudian memaksakan diri untuk mendapatkan
      'harapan' tersebut walaupun harus berkonflik dgn
      sekitar.

      D3, dan D yg laen-laen,.,.(ga tau ada brapa lg)

      L = Ya, memang seperti itu. You GOT it right, memang
      seperti itulah tantangannya. Itulah yang namanya
      tantangan hidup, dan yang namanya PEMBELAJARAN
      HIDUP itu selalu harus melewati ujian2 berupa
      tantangan2 hidup itu. Tantangan2 itu BUKAN berasal
      dari luar diri kita, sebenarnya, melainkan dari dalam
      diri kita sendiri juga. Jadi, diri kita yang fight
      melawan diri kita sendiri juga dan ter-refleksikan
      seakan-akan kita itu fight / berjuang menghadapi hal2
      yang adanya di luar diri kita. Pedahal, secara
      substantial, kita itu benernya cuma fight dengan diri
      kita sendiri. Diri kita yang 1 fight dengan diri kita
      yang 2, dengan diri kita yang 3, dst...

      M = Nah mas, saya yg belum ngerti, kenapa kadang D1
      bisa tergeser oleh D2? apa maksud dibalik proses
      peralihan diri ini, apa memang selamanya harus
      berganti-ganti kesadaran?

      L = Diri kita bisa "bergeser" karena kita itu memang
      BISA menempatkan diri/kesadaran kita itu dimana saja.
      Kalau saya mau mempertahankan posisi A, maka jadilah
      saya diri / kesadaran yang mempertahankan posisi A.
      Kalau saya mau mempertahankan posisi B, yang merupakan
      lawan dari posisi A, maka jadilah saya diri /
      kesadaran yang mempertahankan posisi B.

      Kita itu bisa menjadi apa saja. Diri / kesadaran yang
      ada di diri kita bisa DITARUH dimana saja. Memang
      seperti itu, as simple as that.

      M = Untuk kasus saya sendiri, biasanya periode
      transisinya terasa mas, bisa saya sadari walau belum
      bisa mencegah. Oia, apakah perlu dicegah? krn biasanya
      D2 menimbulkan konflik, dan lebih susah mencegah kalau
      sudah D2-mode-on; untuk kasus beberapa teman saya (yg
      mau jujur), periode transisinya bahkan saat D2-mode-on
      pun tidak disadari. Sehingga biasanya saat D1 kembali,
      merasa tidak berbuat apa-apa walaupun telah berkonflik
      dengan sekitar saat D2-mode-on. Monggo, jika
      dihubungkan dengan bahasa psikologi modern atowpun
      bahasa klenik :)

      L = Istilah psikologinya adalah SELF CONCEPT (Konsep
      Diri). Konsep dirinya itu apa ? Kalau konsep dirinya
      itu berbenturan dengan orang2 lain/lingkungan, maka
      pasti ada sesuatu yang akan berubah. Ada aksi, ada
      reaksi. Begitu seterusnya sampai diri (SELF) yang
      benar2 asli itu tidak bisa lagi terpengaruh oleh
      lingkungan sekitar. Ketika kita tidak lagi
      mempertahankan KONSEP DIRI kita, maka kita tidak akan
      berkonflik. Apa yang dikonflikkan ? Apa yang mau
      dipertahankan ?

      Kalau saya mau menjadi diri saya sendiri, mengapa saya
      harus berkonflik dengan orang lain ? Saya bisa
      berkonflik dengan orang lain kalau saya mau memaksakan
      agar orang2 lain itu mengerti saya. Pedahal, tanpa
      mereka mengerti sayapun, saya TETAP akan bisa menjadi
      diri saya sendiri. I shall always be myself whatever
      other people say or do.

      Tetapi pemahaman seperti itu biasanya memang baru bisa
      didapat setelah kita berkonflik habis2an dengan
      lingkungan sekitar, bahkan dengan diri sendiri juga.
      Prosesnya itu tahunan mas, sampai akhirnya kita bisa
      menerima diri kita sendiri yang tidak terpengaruh oleh
      apapun yang orang lain pikir / katakan tentang diri
      kita.


      +++

      PERCAKAPAN 3


      M = Mas Leo, di pangkal leher dan dalam (tengah)
      kepala kok rasanya ada yg ngganjel ya, dan ga enak bgt
      ni, uda tak coba buat olahraga, yoga, n meditasi tp
      tetep ga ilang2, kaya ada yg 'nggandhuli' di pikiran;
      kemaren sampe marah2 karena saya sendiri karena gak
      jelas maunya apa, jadi bingung yg mo ngikutinnya ini.

      L = Begini mas, menurut aku ada dua kemungkinan
      tentang rasa mengganjal di pangkal leher dan tengah
      kepala itu, yaitu:
      1. Sampeyan masuk angin.
      2. Sensasi dari Cakra Pineal yang letaknya memang di
      tengah kepala.
      3. Keduanya sekaligus, yaitu masuk angin DAN sensasi
      dari Cakra Pineal.

      Solution: minum obat masuk angin saja, dan setelah itu
      rasakan lagi. Kalau ternyata sensasi itu masih ada, ya
      sudah, terima saja, sebab ada kemungkinan sensasi2 itu
      akan semakin banyak which is semacam sindrom
      terbukanya jalur kundalini secara spontan.

      Kalau seperti itu situasinya, tidak usah memberikan
      respons berlebihan, melainkan cukup terima saja,
      meditasi atau doa saja, dan biarkan segala cakra2 itu
      terbuka sendiri. Walaupun terkadang rasanya aneh,
      seperti ada yang bergerak-gerak sendiri, itu tidak
      perlu terlalu diperhatikan.

      Bisa enjoy juga kalau mau, sebab rasanya bisa geli2,
      terutama di tulang belakang. Seperti ada yang naik
      turun sendiri di tulang belakang. Kalau tidak mau
      enjoy, bisa diabaikan saja, bisa minum obat masuk
      angin dan dibawa tidur saja.

      M = Saya sendiri cuman merasa over dalam belajar, tapi
      ternyata dibawa nyantei (refreshing) pun badan ini jg
      nolak, jd bingung maunya apa?

      L = Hmmm... just do whatever you need to do. Lihat
      saja, rasakan saja. Dan, kalau mau sharing secara
      jujur, aku itu rasanya memang seperti itu juga. I
      always feel like that, seperti ada yang "menggantung"
      dari tengah batok kepala. Malah, kalau sudah biasa,
      rasa seperti tertarik ke atas itu adalah yang normal.
      Yang tidak normal itu adalah rasa tertarik ke bawah,
      yang membuat diri kita menjadi down.

      M = Apa ada hubungannya dgn komunikasi ke orang lain
      juga ya mas?

      L = Menurut aku, yang ini tidak ada hubungannya.

      M = Ada saran mas?

      L = Please make sure bahwa itu bukan masuk angin.
      Kalau masuk angin, ya harus makan obat. Tetapi, kalau
      memang cakra2 kundalini yang terbuka spontan, ya
      memang harus diterima juga. Enjoy saja dan tidak usah
      panik. Paling akan makan waktu sekitar dua minggu
      sebelum akhirnya kita akan merasa biasa lagi. Tidak
      akan merasa aneh lagi.


      +++

      PERCAKAPAN 4


      M = Dear mas Leo, kalau masuk angin sepertinya bukan
      mas, soale udah minum obat n suplemen pula, serta
      nyoba istirahat lebih slaen olahraga & meditasi, dari
      2 harian kemaren.

      L = Kalau begitu, that's it; berarti sampeyan
      mengalami sindrom terbukanya jalur kundalini secara
      spontan. Nggak usah bingung yah, enjoy aja. Kalau
      merasa harus istirahat, ya istirahatlah, dan tidak
      usah merasa uring2an kalau gejalanya itu tidak mau
      diusir hilang.

      Aku berkali-kali menemukan sindrom terbukanya
      kundalini secara spontan di teman2. Ada juga yang
      sempat uring2an dan mencari penyembuhan kesana kemari
      sampai akhirnya bisa menerima bahwa yang dialaminya
      cuma sindrom terbukanya kundalini.

      Memang seperti itu rasanya. Rizal itu complain-nya
      dulu sama, katanya seperti ada sesuatu di dalam batok
      kepalanya. Pedahal tidak ada apa2, cuma energi prana
      saja yang memancar keluar seabrek-abrek dari sana.

      M = Hmm, kalo sindrom terbukanya jalur kundalini
      secara spontan, ini penjelasannya yg scientific/
      gampang dipahami (non klenik) gimana to mas? apa ke
      arah kecapekan fisik / emosi, atow metabolisme tubuh
      ini sendiri karena sesuatu (tujuannya si tubuh jadi
      kaya gini apa to mas? apa ada yg salah saya lakukan
      sehingga dia alert gt?)

      L = Penjelasannya begini: Ketika anda sudah SIAP untuk
      melepaskan segala keterikatan dengan hal2 yang orang2
      pada umumnya anggap sebagai hal2 yang "mutlak" dalam
      hidup, maka jalur kundalini anda itu sudah siap untuk
      terbuka. Ada setitik "pencerahan" di dalam Dimensi
      Pikiran anda yang akan mentrigger terbukanya jalur
      kundalini di Dimensi Etherik.

      Kundalini itu adanya di Dimensi Etherik dan BUKAN di
      dimensi fisik. Jadi, kalau diperiksa secara fisik,
      anda itu mungkin tidak ada yang berubah, walaupun
      kalau bertemu dengan orang2 yang bisa merasakan energi
      etherik (bisa disebut prana, chi, reiki, dsb...),
      energi yang ada di diri anda akan bisa terasakan juga.
      Energi etherik anda itu bisa terasa beda dibandingkan
      dengan, say, satu minggu yang lalu. Kenapa beda ?
      Karena ada jalur kundalini yang sudah terbuka.

      Bisa juga kundalini itu dibuka dengan latihan2 yang
      memakan waktu tahunan. Tiap hari meditasi dengan
      visualisasi dari cakra dasar sampai cakra mahkota. Dan
      itu bisa dilakukan bertahun-tahun TANPA orangnya itu
      mengalami sindrom terbukanya kundalini. Kalau pikiran
      orangnya itu masih melekat ingin menjadi orang sakti
      mandraguna, sampai kapanpun jalur kundalininya itu
      tidak akan terbuka. Paling jauh hanya akan muter2 di
      Cakra Solar Plexus alias mandeg di Ilmu Gendam belaka
      yang cuma bisa berjalan dengan cara melakukan
      gertakan2 belaka.

      Kalau kundalini kita itu sudah terbuka, bukan berarti
      kita sudah menjadi Buddha. Bukan itu pengertiannya.
      Terbukanya jalur kundalini itu cuma merupakan
      fasilitas sehingga kita akan menjadi lebih mudah untuk
      menjadi diri sendiri. Lebih mudah untuk mengerti
      kebutuhan orang lain. Lebih mudah untuk membantu
      penyembuhan orang lain. Lebih mudah untuk membedakan
      yang essensial dan yang kulit2 (superfisial). Just
      that.

      Setelah terbukanya jalur kundalini sampai ke Mata
      Ketiga itu, kita akan lebih mudah untuk bicara. Bicara
      saja but, please, hati2 dengan apa yang diucapkan
      karena bisa menjadi kenyataan. Kalau sampeyan merasa
      ada sesuatu yang jelek tentang orang lain, cobalah
      untuk mengutarakannya dengan cara seksama sehingga
      tidak berkesan judgemental (menghakimi).

      Kalau anda "menghakimi" orang dan mengeluarkan ucapan
      tertentu, itu bisa menjadi kenyataan, dan anda bisa
      menyesalinya sendiri nanti.

      Aku sendiri sudah kapok untuk keluarkan ucapan2
      spontan yang judgemental sebab aku lihat sendiri
      orang2 yang terkena. So, daripada keluarkan ucapan
      yang negatif dan mencelakakan orang, lebih baik kita
      keluarkan ucapan positif yang bisa membantu orang agar
      bisa menjadi lebih manusiawi. Lebih human. Itu saja
      HIKMAT kundalini menurut aku.

      M = Yg jelas, dgn kondisi seperti ini, aktivitas yg
      saya plot jd ga bisa jalan mas. Mebi lebih acceptable
      (commonly) kalo dianggep sakit flu / nggreges
      nggreges ya? Walo sebetulnya ga trima juga krn ga tau
      sakit apanya ini, cuman tau lg ga 'normal' aja... the
      best I can do for now is ga gangguin orang laen walo
      kerjaan saya ndiri ga beres,.,.,huhuhu pripun Mas Leo?

      L = Ya udah, try to enjoy yourself aja. Nanti akan
      sedikit demi sedikit bisa adjust yourself. I belive
      you can do that.


      +++

      PERCAKAPAN 5


      M = Mas Leo, bagaimanakah hubungan dimensi eterik &
      dimensi fisik / emosi? (apa / bagaimana akibat nya
      kalo 'sakit' di dimensi eterik). Misal kalo orang
      capek / sakit sroke dll (fisik), kan biasanya jadi
      gampang marah (emosi). Dan yg menyebabkan 'sakit' di
      dimensi eterik itu apa contohnya?

      L = Well, I'm not really sure what you mean. Maybe
      teman2 yang lain bisa menjelaskannya dengan lebih
      tepat after this.

      Buat aku sendiri, patokannya adalah urutan "Sadulur
      Papat" yang Udara, Air, Api, dan Tanah. Ada Elemen
      Udara (Tubuh Mental), Elemen Air (Tubuh Emosi), Elemen
      Api (Tubuh Fisik), dan Elemen Tanah (Tubuh Hormonal).

      Jadi, segala sakit itu sebenarnya yang utama berasal
      dari Dimensi Mental (Udara), setelah itu baru
      mempengaruhi Dimensi Emosi (Air). Setelah emosi
      terpengaruh, barulah fisik akan sakit (Api). Kalau
      fisik sakit, segala metabolisme dan produksi hormon2
      keseimbangan tubuh itu akan kacau balau (Tanah).

      Begitu urutannya.

      Nah, makanya untuk menyeimbangkan mereka yang terlalu
      banyak menggunakan kekuatan fisik atau Elemen Api
      adalah dengan mengusahakan kultivasi Dimensi Emosi
      atau Elemen Air because penyeimbang Api itu Air.
      Memang saling "memadamkan", tetapi itu juga berarti
      menyeimbangkan.

      Untuk yang terlalu banyak memakai Elemen Udara (bisa
      dikatakan terlalu banyak mikir), maka penyeimbangnya
      itu di Dimensi Hormonal. Maybe dengan membuang hormon
      berlebih or things like that. Tetapi aku tidak terlalu
      berpengalaman dengan yang ini.

      What I feel myself itu kalo kita banyak meditasi
      (Elemen Udara juga), maka produksi hormon2 itu akan
      berlimpah-limpah sehingga gimana gituh. Kalau nggak
      ada outletnya yang sah dan legal akhirnya kan harus
      dikeluarin juga. Bisa menunggu mimpi basah, bisa juga
      dikeluarin sendiri aja, nggak dosa, hmmm hmmm hmmm...

      M = Kemaren saya ngobrol2 dgn saudara saya yg Islami,
      orangnya polos dan lugu, tp Islami bgt, secara
      esensial, sekaligus masih menjalankan ritual Islami
      seperti terutama shalat. Saya sharing mengenai keadaan
      saya, dan kebingungan saya atas kecenderungan saya
      untuk diam daripada berbuat sesuatu yg ujung-ujungnya
      ngeforce orang laen.

      Walau dgn bahasa Islami dari dia, saya somehow
      dapat menyadari sesuatu yg sama sekaligus berbeda
      dari kami, yaitu: Saya merasa ada satu hal mendasar yg
      saya tidak / belum punya saat ini, yaitu “CARA
      BERSANDAR”.

      Menurut versi teman saya, tindakan yg bertujuan
      pemenuhan keinginan kita tp ujung ujungnya ngeforce
      orang laen adalah atas bujukan IBLIS. Oleh karena
      itu, dia selalu berlindung kepada Allah-nya setiap
      kali menyadari timbulnya pengaruh iblis dalam
      dirinya (wirid, shalat tobat, dll yg islami). Bahkan
      pada saat tertentu, dia mendapatkan cara yg unique
      untuk mengatasi kemarahannya sendiri, yaitu dgn
      mentransfernya ke barang lain (buku / koran /
      apalah,.,) sehingga dia hanya perlu jaga jarak dari
      barang trsbt (soalnya kalo mendekat, terasa seperti
      ditendang atau dipukul secara FISIK) sampe power
      marahnya hilang. Tp yg jelas, dia menyadari sekali
      (dgn konsep keIslaman dia), bahwa tiap kali
      melakukan hal-hal yg tidak diijinkan oleh Allah (tentu
      saja relative dan terus berkembang
      berdasarkan pemahaman dia dari waktu ke waktu), maka
      hal yg PALING PENTING adalah kembali kepada-Nya.

      Saya sendiri sadar, I’m not a Moslem anymore, nor
      a Javanese, inside. Saya sudah memilih untuk lebih
      mengerti diri saya (pake hati?!?!?!) karena lebih
      logis dan mudah saya amati progressnya. Akibatnya,
      ritualism Islam dan Jawa sudah tidak efektif lagi
      saya lakukan, sementara saya sendiri belum bisa
      connect dgn my higher self most of the time. Di saat
      blank seperti ini, I make decision to diem aja in
      most of my time (sebisanya ga ngeforce orang laen),
      tp finally saya merasa PERLU lebih mengenal diri my
      higher self shg tau persis apa yg HARUS saya lakukan
      saat ini, agar tidak ada lagi GUNDAH HATI ini, mantap
      dalam bertindak dan berucap,.,.,

      Saya lebih banyak berprogress melalui pemahaman
      lgsg atas esensi bbrp syariat / doa, tp trnyt
      pemahaman saya pun tidak cukup mendorong saya untuk
      ACT (somehow ga mau jalanin ritualnya sih,.,) maupun
      membuat ritual yg unique untuk saya (blom dapet
      inspirasi nih mas)

      Ada saran mas, bagaimana biar bisa nyandar ke hati?

      L = Hmmm hmmm hmmm... kalau saya ini benernya TIDAK
      bersandar ke hati melainkan ke GOD SPOT yang berada di
      tengah batok kepala. Kita tinggal ikhlas dan pasrah
      saja, diam saja, dan rasakan saja bahwa RUH yang ada
      di kita itu memang nyambung dengan Alam Semesta,
      dengan ALL THAT IS (God), dengan segalanya; bahwa
      we'll never get lost in this universe, that no matter
      what happens we'll always be one with ALL THAT IS. One
      from the beginnning and unto everlasting.

      Is that another belief system ? Apakah itu belief
      system aku sendiri ?

      Maybe yes, but I could also show that such a belief
      system is also rational and logical. Bisa digunakan
      setiap saat tanpa kita harus menjadi superstitious,
      tanpa harus doing harms bagi orang lain.

      So, kita menjadi diri sendiri saja, ikhlas dan pasrah
      saja, diam saja di GOD SPOT itu, aummm aummm aummm...


      +++

      [Leonardo Rimba adalah seorang praktisi Psikologi
      Transpersonal. Bersama Audifax, Leo menulis buku
      "Psikologi Tarot" (Pinus, Maret 2008). Diskusi dengan
      Leo bisa dilakukan di Milis SI; to join just click:
      <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
      Anybody is welcomed to join.]




















      Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.