Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Good Article

Expand Messages
  • Ikie_Djokdja
    this is good article..really...read it and give comments plz. -for a better Indonesia- NDESO! oleh : Ika S. Creech *) Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk
    Message 1 of 2 , May 8, 2008
    • 0 Attachment
      this is good article..really...read it and give comments plz.
      -for a better Indonesia-
       
      NDESO!
      oleh : Ika S. Creech *)

      Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

      Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

      Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

      Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

      Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

      Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

      Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

      Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

      Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.

      Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!

      Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
      - Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
      - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
      - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
      - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan
      - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
      - Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
      - Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
      - Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
      - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
      - Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
      - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
      - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
      - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
      - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
      - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
      - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
      - Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin Tomang jg digandeng

      Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

      *) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun tv di Perancis. 

       
      Sincerely yours,

      M Solihin Fikri
      The Peace Scholarship Program 2008
      University of Canberra
      ACT - AUSTRALIA

      http://defickry.wordpress.com





      Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
    • dreal_milanisti
      Artikelnya bener2 bagus, menggugah kita untuk menyadari realita masyarakat kita yang mengedepankan prestis. ironis memang bangsa kita, setiap hari kita
      Message 2 of 2 , May 9, 2008
      • 0 Attachment
        Artikelnya bener2 bagus, menggugah kita untuk menyadari realita
        masyarakat kita yang mengedepankan prestis. ironis memang bangsa kita,
        setiap hari kita berteriak harga pangan mahal, minyak tanah susah di
        dapat, tp kita masih sanggup menysihkan uang untuk beli brg2 bermerek.
        gengsi bangsa kita sudah sedemikian tingginya. banyak dri masyarakat
        kita yang jd anti barang2 buatan dalam negeri.
        semoga bangsa ini bs menjadi lebih baik lg. mengedepankan kemaslahatan
        atas apa yang dipakainya dari pada hanya sebuah prestis.

        >
        > this is good article..really...read it and give comments plz.
        > -for a better Indonesia-
        > NDESO!
        > oleh : Ika S. Creech *)
        >
        > Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
        udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
        merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
        takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak
        ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap
        hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
        mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus
        mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
        harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
        >
        > Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
        langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
        seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus
        berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain,
        serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan
        alias deso.
        >
        > Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan
        atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara
        si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang
        sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada
        pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita.
        Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat
        Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
        >
        > Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni
        dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
        saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru
        yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
        pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan
        tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
        >
        > Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand.
        Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3,
        sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha
        yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah
        jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
        >
        > Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator,
        mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata
        konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan
        juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
        dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak
        kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di
        pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa
        yaa?
        >
        > Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di
        Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
        rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
        pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang
        Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede
        dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa
        dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
        banyak yang lesehan.
        >
        > Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak
        yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak
        tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat
        dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak
        seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil,
        proyek mercusuar, dll, dsb, dst.
        >
        > Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
        tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS
        (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka
        kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap
        kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi
        krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam
        menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak
        maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau
        bahkan mengikut negara maju.
        >
        > Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar
        sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!
        >
        > Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan
        dari atas sampai bawah :
        > - Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
        > - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
        > - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
        > - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli
        minuman patungan
        > - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
        > - Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
        > - Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
        > - Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang
        sempit di Cibubur
        > - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
        > - Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
        persepakbolaan.
        > - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
        > - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
        > - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di
        acara tembang kenangan.
        > - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
        > - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
        > - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
        > - Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo
        perlu jin Tomang jg digandeng
        >
        > Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere,
        maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu
        dirinya kere.
        >
        > *) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di
        Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu
        stasiun tv di Perancis. 
        >  Sincerely yours,
        >
        > M Solihin FikriThe Peace Scholarship Program 2008
        > University of Canberra
        > ACT - AUSTRALIA
        >
        > http://defickry.wordpress.com
        >
        >
        > ________________________________________________________
        > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
        Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
        >
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.