Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [PeaceGeneration] Re: Pendidikan terbaik dunia

Expand Messages
  • jenang gulo
    Hi... ikut berpendapat ya... aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di dept.ku aku setuju dg artikel tsb klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
    Message 1 of 5 , May 5, 2008
    • 0 Attachment
      Hi...
      ikut berpendapat ya...
      aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di dept.ku
      aku setuju dg artikel tsb
      klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting bgt...
      tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan untuk mengurangi kualitas
      sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato dosen?
      cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah dan punya anak?
      maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato ortu
      makanya belum bisa merasakan seperti apa yang dirasakan guru Arko
      aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini realitasnya
      contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an tahun masa kerja paling cuma dpt gaji  5jutaan.
      padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen, BUMN apalagi MNC
      ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs dpt gaji sgitu..
      klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap bulan dan butuh waktu dan kerja keras
      klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
      klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
      saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn bisa
      jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari pendapatan lain
      bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah) berprofesi sebagai tukang ojek
      cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang menjadi kewajiban mereka.
      jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
      aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya buat tabungan di surga kelak

      yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan kita masuk dalam konstitusi.
      klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru (termasuk dosen).
      jadi diharapkan dosen  mengajar, penelitian dan pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang bersifat mendasar seperti finansial dan kesejahteraan

      mengenai rangking  saya juga  jg sependapat ga perlu ada
      buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
      ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...

      menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato pengacara)  ga bener (contoh mafia peradilan,suap-menyuap, korupsi) maka fak.hukum di PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
      Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti dokter, psikolog dll?
      jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya integritas.
      mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
      ada yang mau berpendapat?

      Love & peace...



      arko java <arko_java@...> wrote:
      Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat mnurutku.

      +hal yang menarik:

      1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
      Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter", asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru yang
      TAHU DIMANA DIA BERADA,
      TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
      DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak didiknya.

      Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca: Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. And dg dalih itu pula,beliau2nya ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya, tp malah kebanyakan MENGELUH.buh. . (sering aku mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).

      Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
      ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik tiap hari..
      (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi didepan kelas)..


      2. Ilmu.
      emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm bersumber dari diktat.
      jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar matemath sampai ke bab2 yang membosankan, sdg kelak blum tentu dipakai?
      Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu dijabarkan diawal pertemuan.
      Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan: EBM/evident based medicine).

      3. Guru tak harus keras pada murid.
      Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,& kepedulian murid bisa terbentuk dg sndirinya.Alhasil, tanpa keras pada murid pun,justru sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari sang murid  pasti bakal terasah dan tumbuh dg sndirinya).

      Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3 SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru menyadarkan) ,yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa yang kalian pakai itu?baru pake uang orang  tua aja kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"



      -Hal yang kurang tepat:
      1. Tak ada rangking.
      Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya, kl tanpa dibandingkan.

      Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam tempurung,jk tanpa ada perangkingan.



      2.Kontrol.
      Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama diawal2).
      suatu metode kontrol paling bagus yang pernah kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD gowok.Ky apa?
      Jadi murid diberi buku yang boleh diisi sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g jujur.wong g diperiksa juga kok.

      wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode itu justru wktu aku kelas 3 SMP.

      tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.

      Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.


      Urun rembug deh.he3x..


      warm regards,


      Arko jatmiko w.
      (www.jawaragaktakut jerawat.com)

      (Student Camp for Peace '03)
      S1 Farmasi UGM.




      2

      s.




      Ikie_Djokdja <ms_fickry@yahoo. co.id> wrote:
      artikel menarik!!

      Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

      Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
      pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
      yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
      Finlandia.

      Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian
      damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat
      iri semua guru di seluruh dunia.

      Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
      internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
      Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan
      nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga
      Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga
      menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya,
      Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

      Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
      anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan
      rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

      Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
      memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
      siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
      usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
      usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam
      perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia,
      yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

      Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
      gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
      terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi
      yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah
      menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
      sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima,
      lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya
      seperti fakultas hukum dan kedokteran!

      Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan
      kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
      pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
      yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
      guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

      Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas
      apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan
      buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
      lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang
      sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian
      dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
      testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap
      seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
      tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian
      untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
      lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

      Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
      Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
      kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
      mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
      selalu mengontrol mereka.

      Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
      sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
      mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
      apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
      guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
      salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai
      dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
      rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

      Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
      Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia
      sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
      merupakan yang terbaik menurut OECD.

      Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
      untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
      prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
      tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
      datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa
      bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka
      berusaha.

      Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
      mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan
      membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka
      dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
      diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
      lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan
      agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

      Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
      tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
      Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
      toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
      Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak
      beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat
      bertanggungjawab.


       
      Sincerely yours,

      M Solihin Fikri
      The Peace Scholarship Program 2008
      University of Canberra
      ACT - AUSTRALIA

      http://defickry. wordpress. com





      Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

    • sigit andhirahman
      10 Books To Read Before Going To University Page 36 Q-News, Issue 368 Sept-Oct 2006 As hundreds of thousands of students make their way back to their dorm
      Message 2 of 5 , May 5, 2008
      • 0 Attachment
        10 Books To Read Before Going To University
        Page 36
        Q-News, Issue 368
        Sept-Oct 2006
        As hundreds of thousands of students make their way
        back to their dorm rooms and ivory towers, the purpose
        of a university education has never been more
        contested. To most, it’s now little more than advanced
        vocational training, preparing a new generation of
        Britons to serve their economic utility to society.
        Mujadad Zaman has had enough. He humbly suggests 10
        tomes to get the process of real education started. No
        classroom required.
        They are impossible to disagree with and because of
        their intellectual benevolence we’re forever drawn
        into their gravitational pull. Such are the learned.
        Such are the readers. “Little is hidden,” said John of
        Salisbury, the 12th century philosopher, consul and
        scholastic, “from he who reads much". The university
        used to be a place where deep reading was given high
        value and an education was capable of producing
        passionate, pensive and persuasive people.

        When we think of universities today what comes to
        mind? Tuition fees, qualification inflation, UCAS
        points, the market led drive for graduates. The
        student often feels less indebted to the experience of
        the university, then the Students Loans Company. This
        pecuniary instability leads so many to wince at the
        Arts and Humanities because if they do not already see
        their relevance as incomprehensible, they certainly
        assume its study to lead to economic insolvency. “What
        job are you going to get by studying ancient
        literature?” is the plebeian cry. We should reply in
        chorus “I may not get rich reading them but I’ll be a
        wealthier person for having studied them.”

        Yet, in a world where classical idioms of learning are
        beguiled to the back pages of history and the Grand
        Tour replaced by BBC4, it is in university that we
        still seek intellectual solace. However, many find
        themselves a purneva in this potential hotbed of
        intellectual activity. That’s because students lack a
        culturing into the true ethos of the university. The
        modern university sees it forefathers in the sacred
        parthenon of Greek antiquity, medieval scholasticism,
        classical Islam, the renaissance and enlightenment.
        What then of the poor student who is dwarfed by these
        ideas? Introductory textbooks may help, but we may
        alternatively realise that there are certain works,
        “Great Books”, that form so much of today’s ideas. The
        book list below is then, a collection whose intent is
        to help students to chew manageable morsels and digest
        enough to know what a good liberal education (of the
        expedient variety) might look like. It’s merely one
        version of a list that other, more worthy, will
        conceive differently.


        1. Islam and The Destiny of Man, Shaykh Hasan Le Gai
        Eaton

        Ovid wrote that “here I am considered a barbarian
        because I am not understood". The Destiny of Man’s
        gift is a book that maligns the misconceptions of
        Islam and allows the ‘barbarian’ to speak on his own
        terms. Shaykh Hasan Gai Eaton, a Cambridge trained
        Englishman who converted to Islam, writes a
        beautifully written and diligently researched book
        that covers the ideals of Islam, its historical
        developments, confrontations of East-West and Islamic
        art amongst other topics. The first chapter “Islam and
        Europe” is 25-page symphony condensing 1400 years of
        history, without zealousness or melodrama and as such
        should be made compulsory reading for all. It is a
        brilliant book to introduce non-Muslims to Islam as
        well as helping Muslim communities relearn what is so
        often forgotten about their religion. This work sits
        on the same shelf as The Vision of Islam (William C.
        Chittick and Sachiko Murata) and Muhammad (Martin
        Lings) as it that will cause great relief in the
        collective mind of Muslims, knowing that they have an
        intellect, such as Mr Eaton amongst them.


        2. An Introduction to Political Philosophy, Jonathan
        Wolff

        There are many great introductory books to political
        philosophy, yet I am still to encounter one that is as
        easygoing and yet comprehensive as Jonathan Wolff’s.
        Beginning with Plato and ending with Rawls, the entire
        spectrum of western political thought is made
        accessible, amusing and thus definitely readable. We
        discover that all the talk today about “democracy”,
        “liberty” and “freedom” often originates in the
        retrospective thoughts of philosophers who had seen
        too much of human nature. If man is truly a political
        animal then how best to wean out his bestial nature?
        By reading this book of course.


        3. Selected Writings, John Ruskin

        Ruskin is among those lost figures, which the general
        public have yet to rediscover. Proust called him the
        “great master” and Gandhi said his work changed his
        life. In Ruskin we find a writer whose prose manses
        his contemporaries (Marx and Carlyle). Principally
        known as an art critic, his work stretches across a
        vast terrain and this Oxford edition brilliantly
        summates his best writing. Must read essays are the
        Nature of Gothic and his 1858 Lecture to the School
        Cambridge of Fine Art. The latter contains the classic
        lines that remind the student that having no knowledge
        is often better then to have enough to reveal one’s
        ignorance and impertinence. “Better, infinitely
        better”, says Ruskin, “that you should be wholly
        uninterested in pictures and uniformed respecting
        them, then that you should just know enough to detect
        blemishes in great works, to give a colour of
        reasonableness to presumption and an appearance of
        acuteness to misunderstanding".


        4. A Brief History of Time, Stephen Hawking

        A science book may not be an obvious addition to our
        list, yet consider this analogy. An empty Olympic
        sized swimming pool is filled with grains of salt till
        its brim (approx. 100 million grains). Consider each
        grain is a star and you have the Milky Way. Now
        consider there are approximately 100 million galaxies
        in the universe, each with 100 million stars, it
        should be reason enough for people to acquaint
        themselves with their celestial neighbours. Hawking’s
        book has proven to be amongst the best introductions
        to cosmology, covering the issues of the beginning of
        the universe to its ultimate destruction in a lucid
        and non-mathematically verbose way. “The majority of
        mankind concerns itself with the most petty of
        affairs," said Einstein and this book will, if
        anything, aid in realising his sage words.


        5. Runaway World, Anthony Giddens

        I have surprised myself with this selection. Not a
        very inspiring work nor academically solid but this
        former head of the LSE has produced a pithy booklet on
        the nature of modern society in five short chapters.
        Originally given as the Reith Lectures of 1999,
        Giddens provides informed statements about the ideal
        of ‘progress’ and its modern-day handmaid,
        ‘globalisation’ as well as their bastard child,
        ‘environmental devastation'. The reading list is also
        a brilliant springboard for personal research into the
        subjects discussed.


        6. Walden, Henry David Thoreau

        “A life without love, and an activity without an aim”
        is how Thoreau described the lives of men. In 1845 a
        slim, young, Harvard educated man left his parents
        home in Concord, Massachusetts to live in a forest
        called Walden. Why? To help cure himself of
        commercialism, moral degradation and the general
        decadence of modern man. In his words: “I went to the
        woods because I wished to live deliberately, to front
        only the essential facts of life, and see if I could
        not learn what it had to teach, and not, when I came
        to die, to discover that I had not lived". Thoreau
        takes us by the hand and restores that which we all
        lose in due course: the subtleties and wonder found in
        the mundanity of life.


        7. Clueless in Academe, Gerald Graff

        The university has come under much scrutiny of late
        and this book by Graff, strikes at the crux of the
        predicament by suggesting that the problem is not too
        little research funding or low achieving students,
        rather it is the surreptitious nature of the
        university itself. Chomsky says that higher
        mathematics is not necessarily difficult, but enough
        turgid terminology keeps most people out. Graff asks
        those questions that most students are charmed into
        thinking as natural, such as is there really a
        difference between a 62% and 64% essay? Why is it so
        deplorable to social scientists to except the world on
        face value? Did Rubens really think about all those
        things when painting, that my art teacher thinks he
        did? Particularly insightful is his “six degrees of
        obfuscation” by which academics will command their
        supremacy over students. Another must read section is
        “how to write an argument” guaranteed A’s for all
        those who follow it. The triumph of this book is that
        having dragged out the faculty of mystification from
        university, it helps us draw upon our own faculties to
        rediscover what it means to be “educated". By doing
        this, Graff proves the old adage right, that most
        academic disputes are especially vicious because so
        little is at stake in them.


        8. What is History?, E.H. Carr

        More than just a profile of what the historian does,
        Carr calls into question the history of history. Is it
        merely an unfettered study, which is to be left
        unchallenged? An emphatic no, is Carr’s response. He
        takes on the burden of this conundrum and argues that
        facts of the past and historical facts are two
        completely disparate entities. The former being the
        body of events, which forms the past, the latter is
        the selective process by historians choose what is
        worthy for people to know of the past. Carr’s
        revelations about ‘top-down’ history, subsequently
        sparked a torrid of books in the late 20th century to
        tell history from the ‘bottom up’ (Howard Zinn’s A
        Peoples History of the United States, is a shining
        example of such literature).


        9. Amusing Ourselves to Death, Neil Postman

        By the age of 40, Neil Postman writes, the average
        American will have seen over 1 million advertisements.
        What could be the effects of such exposure? This
        question is the central kernel of questioning
        throughout this classic book. Concentrating its venom
        most readily on television, this book shows how just a
        hundred years ago America was amongst the most
        literary active and politically engaged societies,
        whereas today it has fallen into a pit of trivialities
        because the medium through which serious discussion is
        done, is in fact the most ludicrously benign.
        Postman’s particular message to the Big Brother
        generation deserves our collective attention: that
        unlike Orwell who thought what we despise will cause
        our eventual demise, he prefers the Huxley vision that
        what we love will destroy us.


        10. Crime and Punishment, Fyodr Dostoyevsky

        To choose one novel as a ‘must read’ is certainly
        challenging and to have chosen Dostoevsky’s
        masterpiece, I am hoping to have appeased true novel
        lovers. Crime and Punishment tells the story of a
        gifted young Russian student, Raskolnikov, who decides
        to kill an evil pawnbroker and her sister. However,
        after the act, of which Raskolnikov felt morally
        justified, he suffers physical illness, mental woes
        and a prison sentence in Siberia. Raskolnikov, which
        means schism in Russian, is torn by the moral
        questions that instigated the initial murders: is it
        morally justified to perform an immoral act under the
        considerations that it will lead to something morally
        better? We come to realise that the crime itself was
        punishment enough. I’ll say it again: a must read.


        Mujadad Zaman begins his M.Phil at Oxford University
        this autumn where he will study the philosophy of
        education.

        --- jenang gulo <jenangguloku@...> wrote:

        > Hi...
        > ikut berpendapat ya...
        > aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di
        > dept.ku
        > aku setuju dg artikel tsb
        > klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
        > bgt...
        > tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan
        > untuk mengurangi kualitas
        > sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato
        > dosen?
        > cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah
        > dan punya anak?
        > maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato
        > ortu
        > makanya belum bisa merasakan seperti apa yang
        > dirasakan guru Arko
        > aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini
        > realitasnya
        > contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an
        > tahun masa kerja paling cuma dpt gaji 5jutaan.
        > padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen,
        > BUMN apalagi MNC
        > ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau
        > bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs
        > dpt gaji sgitu..
        > klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap
        > bulan dan butuh waktu dan kerja keras
        > klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu
        > baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
        > klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
        > saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu
        > dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup
        > di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn
        > bisa
        > jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari
        > pendapatan lain
        > bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah)
        > berprofesi sebagai tukang ojek
        > cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang
        > menjadi kewajiban mereka.
        > jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek
        > dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
        > aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka
        > mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya
        > buat tabungan di surga kelak
        >
        > yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang
        > menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan
        > kita masuk dalam konstitusi.
        > klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada
        > negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya
        > maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru
        > (termasuk dosen).
        > jadi diharapkan dosen mengajar, penelitian dan
        > pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang
        > bersifat mendasar seperti finansial dan
        > kesejahteraan
        >
        > mengenai rangking saya juga jg sependapat ga perlu
        > ada
        > buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
        > ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya
        > disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg
        > rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek
        > afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu
        > novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma
        > mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...
        >
        > menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada
        > penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato
        > pengacara) ga bener (contoh mafia
        > peradilan,suap-menyuap, korupsi) maka fak.hukum di
        > PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
        > Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti
        > dokter, psikolog dll?
        > jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk
        > mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya
        > integritas.
        > mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
        > ada yang mau berpendapat?
        >
        > Love & peace...
        >
        >
        >
        > arko java <arko_java@...> wrote:
        > Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg
        > tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat
        > mnurutku.
        >
        > +hal yang menarik:
        >
        > 1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
        > Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter",
        > asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru
        > yang
        > TAHU DIMANA DIA BERADA,
        > TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
        > DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak
        > didiknya.
        >
        > Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca:
        > Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama
        > SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru
        > perlu ditingkatkan.And dg dalih itu pula,beliau2nya
        > ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya,tp
        > malah kebanyakan MENGELUH.buh.. (sering aku
        > mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami
        > butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).
        >
        > Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban
        > probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
        > ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik
        > tiap hari..
        > (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet
        > sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo
        > beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral
        > yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang
        > didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi
        > didepan kelas)..
        >
        >
        > 2. Ilmu.
        > emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm
        > bersumber dari diktat.
        > jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar
        > matemath sampai ke bab2 yang membosankan,sdg kelak
        > blum tentu dipakai?
        > Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu
        > dijabarkan diawal pertemuan.
        > Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt
        > yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan:
        > EBM/evident based medicine).
        >
        > 3. Guru tak harus keras pada murid.
        > Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,&
        > kepedulian murid bisa terbentuk dg
        > sndirinya.Alhasil,tanpa keras pada murid pun,justru
        > sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari
        > sang murid pasti bakal terasah dan tumbuh dg
        > sndirinya).
        >
        > Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3
        > SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali
        > kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini
        > udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering
        > diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru
        > menyadarkan),yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an
        > kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa
        > yang kalian pakai itu?baru pake uang orang tua aja
        > kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya
        > pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga
        > kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"
        >
        >
        >
        > -Hal yang kurang tepat:
        > 1. Tak ada rangking.
        > Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu
        > perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa
        > tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya,kl tanpa
        > dibandingkan.
        >
        > Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam
        > tempurung,jk tanpa ada perangkingan.
        >
        >
        >
        > 2.Kontrol.
        > Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama
        > diawal2).
        > suatu metode kontrol paling bagus yang pernah
        > kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD
        > gowok.Ky apa?
        > Jadi murid diberi buku yang boleh diisi
        > sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku
        > kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini
        > dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi
        > mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g
        > jujur.wong g diperiksa juga kok.
        >
        > wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt
        > itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode
        > itu justru wktu aku kelas 3 SMP.
        >
        > tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.
        >
        > Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian
        > kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.
        >
        >
        > Urun rembug deh.he3x..
        >
        >
        > warm regards,
        >
        >
        > Arko jatmiko w.
        > (www.jawaragaktakutjerawat.com)
        >
        >
        === message truncated ===



        ____________________________________________________________________________________
        Be a better friend, newshound, and
        know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
      • dian ina
        jadi inget sama Walden-ku di kamar. yang udah sejak entah kapan dibelinya, tapi belum dibaca-baca juga ... place for thoughts, stories and odd things called
        Message 3 of 5 , May 6, 2008
        • 0 Attachment
          jadi inget sama Walden-ku di kamar. yang udah sejak entah kapan dibelinya, tapi belum dibaca-baca juga
          :p
           
          place for thoughts, stories and odd things called memories http://alamanda.blogspot.com


          ----- Original Message ----
          From: sigit andhirahman <emsigitar@...>
          To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
          Sent: Monday, May 5, 2008 17:02:05
          Subject: Re: [PeaceGeneration] Re: Pendidikan terbaik dunia

          10 Books To Read Before Going To University
          Page 36
          Q-News, Issue 368
          Sept-Oct 2006
          As hundreds of thousands of students make their way
          back to their dorm rooms and ivory towers, the purpose
          of a university education has never been more
          contested. To most, it’s now little more than advanced
          vocational training, preparing a new generation of
          Britons to serve their economic utility to society.
          Mujadad Zaman has had enough. He humbly suggests 10
          tomes to get the process of real education started. No
          classroom required.
          They are impossible to disagree with and because of
          their intellectual benevolence we’re forever drawn
          into their gravitational pull. Such are the learned.
          Such are the readers. “Little is hidden,” said John of
          Salisbury, the 12th century philosopher, consul and
          scholastic, “from he who reads much". The university
          used to be a place where deep reading was given high
          value and an education was capable of producing
          passionate, pensive and persuasive people.

          When we think of universities today what comes to
          mind? Tuition fees, qualification inflation, UCAS
          points, the market led drive for graduates. The
          student often feels less indebted to the experience of
          the university, then the Students Loans Company. This
          pecuniary instability leads so many to wince at the
          Arts and Humanities because if they do not already see
          their relevance as incomprehensible, they certainly
          assume its study to lead to economic insolvency. “What
          job are you going to get by studying ancient
          literature?” is the plebeian cry. We should reply in
          chorus “I may not get rich reading them but I’ll be a
          wealthier person for having studied them.”

          Yet, in a world where classical idioms of learning are
          beguiled to the back pages of history and the Grand
          Tour replaced by BBC4, it is in university that we
          still seek intellectual solace. However, many find
          themselves a purneva in this potential hotbed of
          intellectual activity. That’s because students lack a
          culturing into the true ethos of the university. The
          modern university sees it forefathers in the sacred
          parthenon of Greek antiquity, medieval scholasticism,
          classical Islam, the renaissance and enlightenment.
          What then of the poor student who is dwarfed by these
          ideas? Introductory textbooks may help, but we may
          alternatively realise that there are certain works,
          “Great Books”, that form so much of today’s ideas. The
          book list below is then, a collection whose intent is
          to help students to chew manageable morsels and digest
          enough to know what a good liberal education (of the
          expedient variety) might look like. It’s merely one
          version of a list that other, more worthy, will
          conceive differently.

          1. Islam and The Destiny of Man, Shaykh Hasan Le Gai
          Eaton

          Ovid wrote that “here I am considered a barbarian
          because I am not understood". The Destiny of Man’s
          gift is a book that maligns the misconceptions of
          Islam and allows the ‘barbarian’ to speak on his own
          terms. Shaykh Hasan Gai Eaton, a Cambridge trained
          Englishman who converted to Islam, writes a
          beautifully written and diligently researched book
          that covers the ideals of Islam, its historical
          developments, confrontations of East-West and Islamic
          art amongst other topics. The first chapter “Islam and
          Europe” is 25-page symphony condensing 1400 years of
          history, without zealousness or melodrama and as such
          should be made compulsory reading for all. It is a
          brilliant book to introduce non-Muslims to Islam as
          well as helping Muslim communities relearn what is so
          often forgotten about their religion. This work sits
          on the same shelf as The Vision of Islam (William C.
          Chittick and Sachiko Murata) and Muhammad (Martin
          Lings) as it that will cause great relief in the
          collective mind of Muslims, knowing that they have an
          intellect, such as Mr Eaton amongst them.

          2. An Introduction to Political Philosophy, Jonathan
          Wolff

          There are many great introductory books to political
          philosophy, yet I am still to encounter one that is as
          easygoing and yet comprehensive as Jonathan Wolff’s.
          Beginning with Plato and ending with Rawls, the entire
          spectrum of western political thought is made
          accessible, amusing and thus definitely readable. We
          discover that all the talk today about “democracy”,
          “liberty” and “freedom” often originates in the
          retrospective thoughts of philosophers who had seen
          too much of human nature. If man is truly a political
          animal then how best to wean out his bestial nature?
          By reading this book of course.

          3. Selected Writings, John Ruskin

          Ruskin is among those lost figures, which the general
          public have yet to rediscover. Proust called him the
          “great master” and Gandhi said his work changed his
          life. In Ruskin we find a writer whose prose manses
          his contemporaries (Marx and Carlyle). Principally
          known as an art critic, his work stretches across a
          vast terrain and this Oxford edition brilliantly
          summates his best writing. Must read essays are the
          Nature of Gothic and his 1858 Lecture to the School
          Cambridge of Fine Art. The latter contains the classic
          lines that remind the student that having no knowledge
          is often better then to have enough to reveal one’s
          ignorance and impertinence. “Better, infinitely
          better”, says Ruskin, “that you should be wholly
          uninterested in pictures and uniformed respecting
          them, then that you should just know enough to detect
          blemishes in great works, to give a colour of
          reasonableness to presumption and an appearance of
          acuteness to misunderstanding" .

          4. A Brief History of Time, Stephen Hawking

          A science book may not be an obvious addition to our
          list, yet consider this analogy. An empty Olympic
          sized swimming pool is filled with grains of salt till
          its brim (approx. 100 million grains). Consider each
          grain is a star and you have the Milky Way. Now
          consider there are approximately 100 million galaxies
          in the universe, each with 100 million stars, it
          should be reason enough for people to acquaint
          themselves with their celestial neighbours. Hawking’s
          book has proven to be amongst the best introductions
          to cosmology, covering the issues of the beginning of
          the universe to its ultimate destruction in a lucid
          and non-mathematically verbose way. “The majority of
          mankind concerns itself with the most petty of
          affairs," said Einstein and this book will, if
          anything, aid in realising his sage words.

          5. Runaway World, Anthony Giddens

          I have surprised myself with this selection. Not a
          very inspiring work nor academically solid but this
          former head of the LSE has produced a pithy booklet on
          the nature of modern society in five short chapters.
          Originally given as the Reith Lectures of 1999,
          Giddens provides informed statements about the ideal
          of ‘progress’ and its modern-day handmaid,
          ‘globalisation’ as well as their bastard child,
          ‘environmental devastation' . The reading list is also
          a brilliant springboard for personal research into the
          subjects discussed.


          6. Walden, Henry David Thoreau

          “A life without love, and an activity without an aim”
          is how Thoreau described the lives of men. In 1845 a
          slim, young, Harvard educated man left his parents
          home in Concord, Massachusetts to live in a forest
          called Walden. Why? To help cure himself of
          commercialism, moral degradation and the general
          decadence of modern man. In his words: “I went to the
          woods because I wished to live deliberately, to front
          only the essential facts of life, and see if I could
          not learn what it had to teach, and not, when I came
          to die, to discover that I had not lived". Thoreau
          takes us by the hand and restores that which we all
          lose in due course: the subtleties and wonder found in
          the mundanity of life.

          7. Clueless in Academe, Gerald Graff

          The university has come under much scrutiny of late
          and this book by Graff, strikes at the crux of the
          predicament by suggesting that the problem is not too
          little research funding or low achieving students,
          rather it is the surreptitious nature of the
          university itself. Chomsky says that higher
          mathematics is not necessarily difficult, but enough
          turgid terminology keeps most people out. Graff asks
          those questions that most students are charmed into
          thinking as natural, such as is there really a
          difference between a 62% and 64% essay? Why is it so
          deplorable to social scientists to except the world on
          face value? Did Rubens really think about all those
          things when painting, that my art teacher thinks he
          did? Particularly insightful is his “six degrees of
          obfuscation” by which academics will command their
          supremacy over students. Another must read section is
          “how to write an argument” guaranteed A’s for all
          those who follow it. The triumph of this book is that
          having dragged out the faculty of mystification from
          university, it helps us draw upon our own faculties to
          rediscover what it means to be “educated". By doing
          this, Graff proves the old adage right, that most
          academic disputes are especially vicious because so
          little is at stake in them.

          8. What is History?, E.H. Carr

          More than just a profile of what the historian does,
          Carr calls into question the history of history. Is it
          merely an unfettered study, which is to be left
          unchallenged? An emphatic no, is Carr’s response. He
          takes on the burden of this conundrum and argues that
          facts of the past and historical facts are two
          completely disparate entities. The former being the
          body of events, which forms the past, the latter is
          the selective process by historians choose what is
          worthy for people to know of the past. Carr’s
          revelations about ‘top-down’ history, subsequently
          sparked a torrid of books in the late 20th century to
          tell history from the ‘bottom up’ (Howard Zinn’s A
          Peoples History of the United States, is a shining
          example of such literature).

          9. Amusing Ourselves to Death, Neil Postman

          By the age of 40, Neil Postman writes, the average
          American will have seen over 1 million advertisements.
          What could be the effects of such exposure? This
          question is the central kernel of questioning
          throughout this classic book. Concentrating its venom
          most readily on television, this book shows how just a
          hundred years ago America was amongst the most
          literary active and politically engaged societies,
          whereas today it has fallen into a pit of trivialities
          because the medium through which serious discussion is
          done, is in fact the most ludicrously benign.
          Postman’s particular message to the Big Brother
          generation deserves our collective attention: that
          unlike Orwell who thought what we despise will cause
          our eventual demise, he prefers the Huxley vision that
          what we love will destroy us.

          10. Crime and Punishment, Fyodr Dostoyevsky

          To choose one novel as a ‘must read’ is certainly
          challenging and to have chosen Dostoevsky’s
          masterpiece, I am hoping to have appeased true novel
          lovers. Crime and Punishment tells the story of a
          gifted young Russian student, Raskolnikov, who decides
          to kill an evil pawnbroker and her sister. However,
          after the act, of which Raskolnikov felt morally
          justified, he suffers physical illness, mental woes
          and a prison sentence in Siberia. Raskolnikov, which
          means schism in Russian, is torn by the moral
          questions that instigated the initial murders: is it
          morally justified to perform an immoral act under the
          considerations that it will lead to something morally
          better? We come to realise that the crime itself was
          punishment enough. I’ll say it again: a must read.

          Mujadad Zaman begins his M.Phil at Oxford University
          this autumn where he will study the philosophy of
          education.

          --- jenang gulo <jenangguloku@ yahoo.com> wrote:

          > Hi...
          > ikut berpendapat ya...
          > aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di
          > dept.ku
          > aku setuju dg artikel tsb
          > klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
          > bgt...
          > tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan
          > untuk mengurangi kualitas
          > sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato
          > dosen?
          > cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah
          > dan punya anak?
          > maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato
          > ortu
          > makanya belum bisa merasakan seperti apa yang
          > dirasakan guru Arko
          > aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini
          > realitasnya
          > contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an
          > tahun masa kerja paling cuma dpt gaji 5jutaan.
          > padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen,
          > BUMN apalagi MNC
          > ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau
          > bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs
          > dpt gaji sgitu..
          > klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap
          > bulan dan butuh waktu dan kerja keras
          > klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu
          > baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
          > klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
          > saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu
          > dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup
          > di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn
          > bisa
          > jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari
          > pendapatan lain
          > bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah)
          > berprofesi sebagai tukang ojek
          > cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang
          > menjadi kewajiban mereka.
          > jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek
          > dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
          > aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka
          > mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya
          > buat tabungan di surga kelak
          >
          > yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang
          > menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan
          > kita masuk dalam konstitusi.
          > klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada
          > negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya
          > maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru
          > (termasuk dosen).
          > jadi diharapkan dosen mengajar, penelitian dan
          > pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang
          > bersifat mendasar seperti finansial dan
          > kesejahteraan
          >
          > mengenai rangking saya juga jg sependapat ga perlu
          > ada
          > buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
          > ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya
          > disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg
          > rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek
          > afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu
          > novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma
          > mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...
          >
          > menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada
          > penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato
          > pengacara) ga bener (contoh mafia
          > peradilan,suap- menyuap, korupsi) maka fak.hukum di
          > PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
          > Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti
          > dokter, psikolog dll?
          > jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk
          > mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya
          > integritas.
          > mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
          > ada yang mau berpendapat?
          >
          > Love & peace...
          >
          >
          >
          > arko java <arko_java@yahoo. com> wrote:
          > Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg
          > tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat
          > mnurutku.
          >
          > +hal yang menarik:
          >
          > 1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
          > Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter",
          > asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru
          > yang
          > TAHU DIMANA DIA BERADA,
          > TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
          > DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak
          > didiknya.
          >
          > Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca:
          > Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama
          > SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru
          > perlu ditingkatkan. And dg dalih itu pula,beliau2nya
          > ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya, tp
          > malah kebanyakan MENGELUH.buh. . (sering aku
          > mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami
          > butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).
          >
          > Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban
          > probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
          > ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik
          > tiap hari..
          > (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet
          > sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo
          > beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral
          > yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang
          > didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi
          > didepan kelas)..
          >
          >
          > 2. Ilmu.
          > emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm
          > bersumber dari diktat.
          > jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar
          > matemath sampai ke bab2 yang membosankan, sdg kelak
          > blum tentu dipakai?
          > Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu
          > dijabarkan diawal pertemuan.
          > Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt
          > yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan:
          > EBM/evident based medicine).
          >
          > 3. Guru tak harus keras pada murid.
          > Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,&
          > kepedulian murid bisa terbentuk dg
          > sndirinya.Alhasil, tanpa keras pada murid pun,justru
          > sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari
          > sang murid pasti bakal terasah dan tumbuh dg
          > sndirinya).
          >
          > Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3
          > SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali
          > kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini
          > udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering
          > diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru
          > menyadarkan) ,yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an
          > kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa
          > yang kalian pakai itu?baru pake uang orang tua aja
          > kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya
          > pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga
          > kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"
          >
          >
          >
          > -Hal yang kurang tepat:
          > 1. Tak ada rangking.
          > Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu
          > perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa
          > tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya, kl tanpa
          > dibandingkan.
          >
          > Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam
          > tempurung,jk tanpa ada perangkingan.
          >
          >
          >
          > 2.Kontrol.
          > Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama
          > diawal2).
          > suatu metode kontrol paling bagus yang pernah
          > kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD
          > gowok.Ky apa?
          > Jadi murid diberi buku yang boleh diisi
          > sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku
          > kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini
          > dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi
          > mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g
          > jujur.wong g diperiksa juga kok.
          >
          > wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt
          > itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode
          > itu justru wktu aku kelas 3 SMP.
          >
          > tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.
          >
          > Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian
          > kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.
          >
          >
          > Urun rembug deh.he3x..
          >
          >
          > warm regards,
          >
          >
          > Arko jatmiko w.
          > (www.jawaragaktakut jerawat.com)
          >
          >
          === message truncated ===

          ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
          Be a better friend, newshound, and
          know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ


          Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.