Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: [pcmi_jogja] Fwd:Mengapa karyawan meninggalkan perusahaan?

Expand Messages
  • Iman Persada
    francy iriani wrote: To: Bambang Tri Hartanto From: francy iriani Date: Thu, 1 May
    Message 1 of 1 , May 1, 2008
    • 0 Attachment
      francy iriani <francyiriani@...> wrote:
      To: Bambang Tri Hartanto <tonytree@...>
      From: francy iriani <francyiriani@...>
      Date: Thu, 1 May 2008 16:49:24 -0700 (PDT)
      Subject: [pcmi_jogja] Fwd:Mengapa karyawan meninggalkan perusahaan?




      Mudah-mudahan bermanfaat.. ..
      cukup menarik sebagai bahan renungan :)

      Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering
      ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul
      Azim Premji, "Bill Gates" Muslim dari India (terbitan Mizania 2007).

      Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro,
      dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan
      dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon
      kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21
      orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner
      yang bergaya hidup sederhana.

      Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak
      betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over
      (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih
      tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.

      Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan?

      Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian
      karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang
      meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih
      menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan
      pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.

      Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer
      software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan
      internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India
      sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah
      mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering
      dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat.
      Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor
      yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang
      menyediakan makanan lezat.

      Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri
      untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru,"
      katanya tak lama setelah bergabung. "Ini betul-betul pekerjaan yang
      hebat dengan teknologi mutakhir." Ternyata, kurang dari delapan bulan
      setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya
      tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di
      sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru
      ini.

      Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia
      pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung
      karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi
      walaupun gajinya besar? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang
      mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah
      satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization.
      Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh
      ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break
      All the Rules.

      Penemuannya adalah sebagai berikut:

      Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihalah atasan
      langsung mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang
      bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa
      mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama
      mereka. Biasanya langsung ke pesaing. "Orang meninggalkan manajer, bukan
      perusahaan," tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First
      Break All the Rules.

      "Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan
      mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar,
      fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab
      kebanyakan orang keluar adalah manajer." Kalau Anda punya masalah
      pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer Anda terlebih
      dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi,
      kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan
      lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan
      hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.

      Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang
      bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa
      hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang
      sulit.

      Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan
      yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional
      dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk
      tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang
      paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan
      mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam.
      Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya,
      dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas
      kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif,
      seperti : dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa
      yangdiperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak
      menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.

      Seorang pakar manajemen mengatakan, "Jika Anda bekerja untuk atasan yang
      tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah.
      Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu." Para manajer
      bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda : dengan
      terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, juga terlalu
      mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka
      adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang
      karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh.
      Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99
      pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan
      pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau
      alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan,
      kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti
      yang dilakukan bos Sanjay: "Kamu tidak penting. Saya bisa mencari
      puluhan orang seperti kamu."

      Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat
      biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari
      penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki
      seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan
      klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril
      sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang
      dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja,
      kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah
      korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.

      ...

      Demikian pesan Azim Premji.

      Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan)?



      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.