Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pendidikan Terbaik Dunia

Expand Messages
  • Ikie_Djokdja
    artikel menarik!! Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda
    Message 1 of 5 , Apr 30 7:02 AM
    • 0 Attachment
      artikel menarik!!

      Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

      Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
      pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
      yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
      Finlandia.

      Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian
      damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat
      iri semua guru di seluruh dunia.

      Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
      internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
      Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan
      nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga
      Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga
      menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya,
      Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

      Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
      anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan
      rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

      Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
      memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
      siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
      usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
      usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam
      perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia,
      yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

      Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
      gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
      terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi
      yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah
      menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
      sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima,
      lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya
      seperti fakultas hukum dan kedokteran!

      Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan
      kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
      pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
      yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
      guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

      Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas
      apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan
      buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
      lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang
      sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian
      dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
      testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap
      seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
      tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian
      untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
      lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

      Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
      Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
      kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
      mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
      selalu mengontrol mereka.

      Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
      sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
      mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
      apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
      guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
      salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai
      dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
      rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

      Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
      Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia
      sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
      merupakan yang terbaik menurut OECD.

      Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
      untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
      prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
      tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
      datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa
      bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka
      berusaha.

      Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
      mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan
      membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka
      dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
      diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
      lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan
      agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

      Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
      tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
      Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
      toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
      Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak
      beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat
      bertanggungjawab.


       
      Sincerely yours,

      M Solihin Fikri
      The Peace Scholarship Program 2008
      University of Canberra
      ACT - AUSTRALIA

      http://defickry.wordpress.com





      Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
    • arko java
      Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat mnurutku. +hal yang menarik: 1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
      Message 2 of 5 , Apr 30 8:38 AM
      • 0 Attachment
        Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat mnurutku.

        +hal yang menarik:

        1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
        Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter", asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru yang
        TAHU DIMANA DIA BERADA,
        TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
        DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak didiknya.

        Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca: Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru perlu ditingkatkan.And dg dalih itu pula,beliau2nya ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya,tp malah kebanyakan MENGELUH.buh.. (sering aku mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).

        Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
        ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik tiap hari..
        (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi didepan kelas)..


        2. Ilmu.
        emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm bersumber dari diktat.
        jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar matemath sampai ke bab2 yang membosankan,sdg kelak blum tentu dipakai?
        Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu dijabarkan diawal pertemuan.
        Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan: EBM/evident based medicine).

        3. Guru tak harus keras pada murid.
        Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,& kepedulian murid bisa terbentuk dg sndirinya.Alhasil,tanpa keras pada murid pun,justru sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari sang murid  pasti bakal terasah dan tumbuh dg sndirinya).

        Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3 SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru menyadarkan),yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa yang kalian pakai itu?baru pake uang orang  tua aja kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"



        -Hal yang kurang tepat:
        1. Tak ada rangking.
        Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya,kl tanpa dibandingkan.

        Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam tempurung,jk tanpa ada perangkingan.



        2.Kontrol.
        Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama diawal2).
        suatu metode kontrol paling bagus yang pernah kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD gowok.Ky apa?
        Jadi murid diberi buku yang boleh diisi sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g jujur.wong g diperiksa juga kok.

        wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode itu justru wktu aku kelas 3 SMP.

        tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.

        Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.


        Urun rembug deh.he3x..


        warm regards,


        Arko jatmiko w.
        (www.jawaragaktakutjerawat.com)

        (Student Camp for Peace '03)
        S1 Farmasi UGM.




        2

        s.




        Ikie_Djokdja <ms_fickry@...> wrote:
        artikel menarik!!

        Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

        Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
        pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
        yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
        Finlandia.

        Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian
        damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat
        iri semua guru di seluruh dunia.

        Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
        internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
        Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan
        nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga
        Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga
        menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya,
        Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

        Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
        anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan
        rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

        Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
        memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
        siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
        usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
        usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam
        perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia,
        yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

        Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
        gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
        terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi
        yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah
        menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
        sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima,
        lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya
        seperti fakultas hukum dan kedokteran!

        Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan
        kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
        pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
        yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
        guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

        Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas
        apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan
        buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
        lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang
        sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian
        dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
        testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap
        seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
        tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian
        untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
        lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

        Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
        Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
        kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
        mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
        selalu mengontrol mereka.

        Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
        sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
        mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
        apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
        guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
        salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai
        dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
        rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

        Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
        Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia
        sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
        merupakan yang terbaik menurut OECD.

        Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
        untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
        prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
        tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
        datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa
        bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka
        berusaha.

        Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
        mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan
        membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka
        dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
        diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
        lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan
        agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

        Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
        tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
        Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
        toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
        Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak
        beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat
        bertanggungjawab.


         
        Sincerely yours,

        M Solihin Fikri
        The Peace Scholarship Program 2008
        University of Canberra
        ACT - AUSTRALIA

        http://defickry. wordpress. com





        Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers


        Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

      • jenang gulo
        Hi... ikut berpendapat ya... aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di dept.ku aku setuju dg artikel tsb klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
        Message 3 of 5 , May 5, 2008
        • 0 Attachment
          Hi...
          ikut berpendapat ya...
          aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di dept.ku
          aku setuju dg artikel tsb
          klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting bgt...
          tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan untuk mengurangi kualitas
          sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato dosen?
          cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah dan punya anak?
          maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato ortu
          makanya belum bisa merasakan seperti apa yang dirasakan guru Arko
          aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini realitasnya
          contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an tahun masa kerja paling cuma dpt gaji  5jutaan.
          padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen, BUMN apalagi MNC
          ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs dpt gaji sgitu..
          klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap bulan dan butuh waktu dan kerja keras
          klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
          klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
          saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn bisa
          jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari pendapatan lain
          bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah) berprofesi sebagai tukang ojek
          cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang menjadi kewajiban mereka.
          jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
          aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya buat tabungan di surga kelak

          yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan kita masuk dalam konstitusi.
          klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru (termasuk dosen).
          jadi diharapkan dosen  mengajar, penelitian dan pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang bersifat mendasar seperti finansial dan kesejahteraan

          mengenai rangking  saya juga  jg sependapat ga perlu ada
          buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
          ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...

          menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato pengacara)  ga bener (contoh mafia peradilan,suap-menyuap, korupsi) maka fak.hukum di PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
          Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti dokter, psikolog dll?
          jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya integritas.
          mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
          ada yang mau berpendapat?

          Love & peace...



          arko java <arko_java@...> wrote:
          Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat mnurutku.

          +hal yang menarik:

          1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
          Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter", asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru yang
          TAHU DIMANA DIA BERADA,
          TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
          DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak didiknya.

          Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca: Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. And dg dalih itu pula,beliau2nya ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya, tp malah kebanyakan MENGELUH.buh. . (sering aku mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).

          Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
          ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik tiap hari..
          (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi didepan kelas)..


          2. Ilmu.
          emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm bersumber dari diktat.
          jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar matemath sampai ke bab2 yang membosankan, sdg kelak blum tentu dipakai?
          Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu dijabarkan diawal pertemuan.
          Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan: EBM/evident based medicine).

          3. Guru tak harus keras pada murid.
          Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,& kepedulian murid bisa terbentuk dg sndirinya.Alhasil, tanpa keras pada murid pun,justru sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari sang murid  pasti bakal terasah dan tumbuh dg sndirinya).

          Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3 SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru menyadarkan) ,yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa yang kalian pakai itu?baru pake uang orang  tua aja kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"



          -Hal yang kurang tepat:
          1. Tak ada rangking.
          Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya, kl tanpa dibandingkan.

          Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam tempurung,jk tanpa ada perangkingan.



          2.Kontrol.
          Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama diawal2).
          suatu metode kontrol paling bagus yang pernah kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD gowok.Ky apa?
          Jadi murid diberi buku yang boleh diisi sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g jujur.wong g diperiksa juga kok.

          wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode itu justru wktu aku kelas 3 SMP.

          tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.

          Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.


          Urun rembug deh.he3x..


          warm regards,


          Arko jatmiko w.
          (www.jawaragaktakut jerawat.com)

          (Student Camp for Peace '03)
          S1 Farmasi UGM.




          2

          s.




          Ikie_Djokdja <ms_fickry@yahoo. co.id> wrote:
          artikel menarik!!

          Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

          Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
          pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
          yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
          Finlandia.

          Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian
          damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat
          iri semua guru di seluruh dunia.

          Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
          internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
          Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan
          nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga
          Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga
          menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya,
          Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

          Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
          anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan
          rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

          Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
          memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
          siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
          usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
          usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam
          perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia,
          yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

          Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
          gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
          terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi
          yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah
          menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
          sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima,
          lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya
          seperti fakultas hukum dan kedokteran!

          Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan
          kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
          pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
          yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
          guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

          Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas
          apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan
          buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
          lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang
          sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian
          dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
          testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap
          seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
          tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian
          untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
          lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

          Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
          Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
          kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
          mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
          selalu mengontrol mereka.

          Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
          sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
          mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
          apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
          guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
          salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai
          dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
          rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

          Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
          Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia
          sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
          merupakan yang terbaik menurut OECD.

          Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
          untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
          prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
          tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
          datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa
          bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka
          berusaha.

          Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
          mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan
          membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka
          dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
          diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
          lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan
          agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

          Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
          tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
          Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
          toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
          Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak
          beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat
          bertanggungjawab.


           
          Sincerely yours,

          M Solihin Fikri
          The Peace Scholarship Program 2008
          University of Canberra
          ACT - AUSTRALIA

          http://defickry. wordpress. com





          Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers


          Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


          Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

        • sigit andhirahman
          10 Books To Read Before Going To University Page 36 Q-News, Issue 368 Sept-Oct 2006 As hundreds of thousands of students make their way back to their dorm
          Message 4 of 5 , May 5, 2008
          • 0 Attachment
            10 Books To Read Before Going To University
            Page 36
            Q-News, Issue 368
            Sept-Oct 2006
            As hundreds of thousands of students make their way
            back to their dorm rooms and ivory towers, the purpose
            of a university education has never been more
            contested. To most, it’s now little more than advanced
            vocational training, preparing a new generation of
            Britons to serve their economic utility to society.
            Mujadad Zaman has had enough. He humbly suggests 10
            tomes to get the process of real education started. No
            classroom required.
            They are impossible to disagree with and because of
            their intellectual benevolence we’re forever drawn
            into their gravitational pull. Such are the learned.
            Such are the readers. “Little is hidden,” said John of
            Salisbury, the 12th century philosopher, consul and
            scholastic, “from he who reads much". The university
            used to be a place where deep reading was given high
            value and an education was capable of producing
            passionate, pensive and persuasive people.

            When we think of universities today what comes to
            mind? Tuition fees, qualification inflation, UCAS
            points, the market led drive for graduates. The
            student often feels less indebted to the experience of
            the university, then the Students Loans Company. This
            pecuniary instability leads so many to wince at the
            Arts and Humanities because if they do not already see
            their relevance as incomprehensible, they certainly
            assume its study to lead to economic insolvency. “What
            job are you going to get by studying ancient
            literature?” is the plebeian cry. We should reply in
            chorus “I may not get rich reading them but I’ll be a
            wealthier person for having studied them.”

            Yet, in a world where classical idioms of learning are
            beguiled to the back pages of history and the Grand
            Tour replaced by BBC4, it is in university that we
            still seek intellectual solace. However, many find
            themselves a purneva in this potential hotbed of
            intellectual activity. That’s because students lack a
            culturing into the true ethos of the university. The
            modern university sees it forefathers in the sacred
            parthenon of Greek antiquity, medieval scholasticism,
            classical Islam, the renaissance and enlightenment.
            What then of the poor student who is dwarfed by these
            ideas? Introductory textbooks may help, but we may
            alternatively realise that there are certain works,
            “Great Books”, that form so much of today’s ideas. The
            book list below is then, a collection whose intent is
            to help students to chew manageable morsels and digest
            enough to know what a good liberal education (of the
            expedient variety) might look like. It’s merely one
            version of a list that other, more worthy, will
            conceive differently.


            1. Islam and The Destiny of Man, Shaykh Hasan Le Gai
            Eaton

            Ovid wrote that “here I am considered a barbarian
            because I am not understood". The Destiny of Man’s
            gift is a book that maligns the misconceptions of
            Islam and allows the ‘barbarian’ to speak on his own
            terms. Shaykh Hasan Gai Eaton, a Cambridge trained
            Englishman who converted to Islam, writes a
            beautifully written and diligently researched book
            that covers the ideals of Islam, its historical
            developments, confrontations of East-West and Islamic
            art amongst other topics. The first chapter “Islam and
            Europe” is 25-page symphony condensing 1400 years of
            history, without zealousness or melodrama and as such
            should be made compulsory reading for all. It is a
            brilliant book to introduce non-Muslims to Islam as
            well as helping Muslim communities relearn what is so
            often forgotten about their religion. This work sits
            on the same shelf as The Vision of Islam (William C.
            Chittick and Sachiko Murata) and Muhammad (Martin
            Lings) as it that will cause great relief in the
            collective mind of Muslims, knowing that they have an
            intellect, such as Mr Eaton amongst them.


            2. An Introduction to Political Philosophy, Jonathan
            Wolff

            There are many great introductory books to political
            philosophy, yet I am still to encounter one that is as
            easygoing and yet comprehensive as Jonathan Wolff’s.
            Beginning with Plato and ending with Rawls, the entire
            spectrum of western political thought is made
            accessible, amusing and thus definitely readable. We
            discover that all the talk today about “democracy”,
            “liberty” and “freedom” often originates in the
            retrospective thoughts of philosophers who had seen
            too much of human nature. If man is truly a political
            animal then how best to wean out his bestial nature?
            By reading this book of course.


            3. Selected Writings, John Ruskin

            Ruskin is among those lost figures, which the general
            public have yet to rediscover. Proust called him the
            “great master” and Gandhi said his work changed his
            life. In Ruskin we find a writer whose prose manses
            his contemporaries (Marx and Carlyle). Principally
            known as an art critic, his work stretches across a
            vast terrain and this Oxford edition brilliantly
            summates his best writing. Must read essays are the
            Nature of Gothic and his 1858 Lecture to the School
            Cambridge of Fine Art. The latter contains the classic
            lines that remind the student that having no knowledge
            is often better then to have enough to reveal one’s
            ignorance and impertinence. “Better, infinitely
            better”, says Ruskin, “that you should be wholly
            uninterested in pictures and uniformed respecting
            them, then that you should just know enough to detect
            blemishes in great works, to give a colour of
            reasonableness to presumption and an appearance of
            acuteness to misunderstanding".


            4. A Brief History of Time, Stephen Hawking

            A science book may not be an obvious addition to our
            list, yet consider this analogy. An empty Olympic
            sized swimming pool is filled with grains of salt till
            its brim (approx. 100 million grains). Consider each
            grain is a star and you have the Milky Way. Now
            consider there are approximately 100 million galaxies
            in the universe, each with 100 million stars, it
            should be reason enough for people to acquaint
            themselves with their celestial neighbours. Hawking’s
            book has proven to be amongst the best introductions
            to cosmology, covering the issues of the beginning of
            the universe to its ultimate destruction in a lucid
            and non-mathematically verbose way. “The majority of
            mankind concerns itself with the most petty of
            affairs," said Einstein and this book will, if
            anything, aid in realising his sage words.


            5. Runaway World, Anthony Giddens

            I have surprised myself with this selection. Not a
            very inspiring work nor academically solid but this
            former head of the LSE has produced a pithy booklet on
            the nature of modern society in five short chapters.
            Originally given as the Reith Lectures of 1999,
            Giddens provides informed statements about the ideal
            of ‘progress’ and its modern-day handmaid,
            ‘globalisation’ as well as their bastard child,
            ‘environmental devastation'. The reading list is also
            a brilliant springboard for personal research into the
            subjects discussed.


            6. Walden, Henry David Thoreau

            “A life without love, and an activity without an aim”
            is how Thoreau described the lives of men. In 1845 a
            slim, young, Harvard educated man left his parents
            home in Concord, Massachusetts to live in a forest
            called Walden. Why? To help cure himself of
            commercialism, moral degradation and the general
            decadence of modern man. In his words: “I went to the
            woods because I wished to live deliberately, to front
            only the essential facts of life, and see if I could
            not learn what it had to teach, and not, when I came
            to die, to discover that I had not lived". Thoreau
            takes us by the hand and restores that which we all
            lose in due course: the subtleties and wonder found in
            the mundanity of life.


            7. Clueless in Academe, Gerald Graff

            The university has come under much scrutiny of late
            and this book by Graff, strikes at the crux of the
            predicament by suggesting that the problem is not too
            little research funding or low achieving students,
            rather it is the surreptitious nature of the
            university itself. Chomsky says that higher
            mathematics is not necessarily difficult, but enough
            turgid terminology keeps most people out. Graff asks
            those questions that most students are charmed into
            thinking as natural, such as is there really a
            difference between a 62% and 64% essay? Why is it so
            deplorable to social scientists to except the world on
            face value? Did Rubens really think about all those
            things when painting, that my art teacher thinks he
            did? Particularly insightful is his “six degrees of
            obfuscation” by which academics will command their
            supremacy over students. Another must read section is
            “how to write an argument” guaranteed A’s for all
            those who follow it. The triumph of this book is that
            having dragged out the faculty of mystification from
            university, it helps us draw upon our own faculties to
            rediscover what it means to be “educated". By doing
            this, Graff proves the old adage right, that most
            academic disputes are especially vicious because so
            little is at stake in them.


            8. What is History?, E.H. Carr

            More than just a profile of what the historian does,
            Carr calls into question the history of history. Is it
            merely an unfettered study, which is to be left
            unchallenged? An emphatic no, is Carr’s response. He
            takes on the burden of this conundrum and argues that
            facts of the past and historical facts are two
            completely disparate entities. The former being the
            body of events, which forms the past, the latter is
            the selective process by historians choose what is
            worthy for people to know of the past. Carr’s
            revelations about ‘top-down’ history, subsequently
            sparked a torrid of books in the late 20th century to
            tell history from the ‘bottom up’ (Howard Zinn’s A
            Peoples History of the United States, is a shining
            example of such literature).


            9. Amusing Ourselves to Death, Neil Postman

            By the age of 40, Neil Postman writes, the average
            American will have seen over 1 million advertisements.
            What could be the effects of such exposure? This
            question is the central kernel of questioning
            throughout this classic book. Concentrating its venom
            most readily on television, this book shows how just a
            hundred years ago America was amongst the most
            literary active and politically engaged societies,
            whereas today it has fallen into a pit of trivialities
            because the medium through which serious discussion is
            done, is in fact the most ludicrously benign.
            Postman’s particular message to the Big Brother
            generation deserves our collective attention: that
            unlike Orwell who thought what we despise will cause
            our eventual demise, he prefers the Huxley vision that
            what we love will destroy us.


            10. Crime and Punishment, Fyodr Dostoyevsky

            To choose one novel as a ‘must read’ is certainly
            challenging and to have chosen Dostoevsky’s
            masterpiece, I am hoping to have appeased true novel
            lovers. Crime and Punishment tells the story of a
            gifted young Russian student, Raskolnikov, who decides
            to kill an evil pawnbroker and her sister. However,
            after the act, of which Raskolnikov felt morally
            justified, he suffers physical illness, mental woes
            and a prison sentence in Siberia. Raskolnikov, which
            means schism in Russian, is torn by the moral
            questions that instigated the initial murders: is it
            morally justified to perform an immoral act under the
            considerations that it will lead to something morally
            better? We come to realise that the crime itself was
            punishment enough. I’ll say it again: a must read.


            Mujadad Zaman begins his M.Phil at Oxford University
            this autumn where he will study the philosophy of
            education.

            --- jenang gulo <jenangguloku@...> wrote:

            > Hi...
            > ikut berpendapat ya...
            > aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di
            > dept.ku
            > aku setuju dg artikel tsb
            > klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
            > bgt...
            > tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan
            > untuk mengurangi kualitas
            > sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato
            > dosen?
            > cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah
            > dan punya anak?
            > maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato
            > ortu
            > makanya belum bisa merasakan seperti apa yang
            > dirasakan guru Arko
            > aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini
            > realitasnya
            > contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an
            > tahun masa kerja paling cuma dpt gaji 5jutaan.
            > padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen,
            > BUMN apalagi MNC
            > ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau
            > bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs
            > dpt gaji sgitu..
            > klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap
            > bulan dan butuh waktu dan kerja keras
            > klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu
            > baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
            > klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
            > saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu
            > dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup
            > di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn
            > bisa
            > jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari
            > pendapatan lain
            > bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah)
            > berprofesi sebagai tukang ojek
            > cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang
            > menjadi kewajiban mereka.
            > jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek
            > dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
            > aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka
            > mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya
            > buat tabungan di surga kelak
            >
            > yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang
            > menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan
            > kita masuk dalam konstitusi.
            > klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada
            > negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya
            > maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru
            > (termasuk dosen).
            > jadi diharapkan dosen mengajar, penelitian dan
            > pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang
            > bersifat mendasar seperti finansial dan
            > kesejahteraan
            >
            > mengenai rangking saya juga jg sependapat ga perlu
            > ada
            > buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
            > ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya
            > disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg
            > rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek
            > afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu
            > novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma
            > mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...
            >
            > menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada
            > penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato
            > pengacara) ga bener (contoh mafia
            > peradilan,suap-menyuap, korupsi) maka fak.hukum di
            > PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
            > Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti
            > dokter, psikolog dll?
            > jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk
            > mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya
            > integritas.
            > mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
            > ada yang mau berpendapat?
            >
            > Love & peace...
            >
            >
            >
            > arko java <arko_java@...> wrote:
            > Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg
            > tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat
            > mnurutku.
            >
            > +hal yang menarik:
            >
            > 1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
            > Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter",
            > asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru
            > yang
            > TAHU DIMANA DIA BERADA,
            > TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
            > DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak
            > didiknya.
            >
            > Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca:
            > Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama
            > SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru
            > perlu ditingkatkan.And dg dalih itu pula,beliau2nya
            > ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya,tp
            > malah kebanyakan MENGELUH.buh.. (sering aku
            > mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami
            > butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).
            >
            > Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban
            > probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
            > ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik
            > tiap hari..
            > (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet
            > sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo
            > beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral
            > yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang
            > didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi
            > didepan kelas)..
            >
            >
            > 2. Ilmu.
            > emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm
            > bersumber dari diktat.
            > jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar
            > matemath sampai ke bab2 yang membosankan,sdg kelak
            > blum tentu dipakai?
            > Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu
            > dijabarkan diawal pertemuan.
            > Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt
            > yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan:
            > EBM/evident based medicine).
            >
            > 3. Guru tak harus keras pada murid.
            > Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,&
            > kepedulian murid bisa terbentuk dg
            > sndirinya.Alhasil,tanpa keras pada murid pun,justru
            > sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari
            > sang murid pasti bakal terasah dan tumbuh dg
            > sndirinya).
            >
            > Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3
            > SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali
            > kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini
            > udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering
            > diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru
            > menyadarkan),yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an
            > kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa
            > yang kalian pakai itu?baru pake uang orang tua aja
            > kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya
            > pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga
            > kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"
            >
            >
            >
            > -Hal yang kurang tepat:
            > 1. Tak ada rangking.
            > Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu
            > perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa
            > tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya,kl tanpa
            > dibandingkan.
            >
            > Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam
            > tempurung,jk tanpa ada perangkingan.
            >
            >
            >
            > 2.Kontrol.
            > Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama
            > diawal2).
            > suatu metode kontrol paling bagus yang pernah
            > kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD
            > gowok.Ky apa?
            > Jadi murid diberi buku yang boleh diisi
            > sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku
            > kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini
            > dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi
            > mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g
            > jujur.wong g diperiksa juga kok.
            >
            > wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt
            > itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode
            > itu justru wktu aku kelas 3 SMP.
            >
            > tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.
            >
            > Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian
            > kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.
            >
            >
            > Urun rembug deh.he3x..
            >
            >
            > warm regards,
            >
            >
            > Arko jatmiko w.
            > (www.jawaragaktakutjerawat.com)
            >
            >
            === message truncated ===



            ____________________________________________________________________________________
            Be a better friend, newshound, and
            know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
          • dian ina
            jadi inget sama Walden-ku di kamar. yang udah sejak entah kapan dibelinya, tapi belum dibaca-baca juga ... place for thoughts, stories and odd things called
            Message 5 of 5 , May 6, 2008
            • 0 Attachment
              jadi inget sama Walden-ku di kamar. yang udah sejak entah kapan dibelinya, tapi belum dibaca-baca juga
              :p
               
              place for thoughts, stories and odd things called memories http://alamanda.blogspot.com


              ----- Original Message ----
              From: sigit andhirahman <emsigitar@...>
              To: PeaceGeneration@yahoogroups.com
              Sent: Monday, May 5, 2008 17:02:05
              Subject: Re: [PeaceGeneration] Re: Pendidikan terbaik dunia

              10 Books To Read Before Going To University
              Page 36
              Q-News, Issue 368
              Sept-Oct 2006
              As hundreds of thousands of students make their way
              back to their dorm rooms and ivory towers, the purpose
              of a university education has never been more
              contested. To most, it’s now little more than advanced
              vocational training, preparing a new generation of
              Britons to serve their economic utility to society.
              Mujadad Zaman has had enough. He humbly suggests 10
              tomes to get the process of real education started. No
              classroom required.
              They are impossible to disagree with and because of
              their intellectual benevolence we’re forever drawn
              into their gravitational pull. Such are the learned.
              Such are the readers. “Little is hidden,” said John of
              Salisbury, the 12th century philosopher, consul and
              scholastic, “from he who reads much". The university
              used to be a place where deep reading was given high
              value and an education was capable of producing
              passionate, pensive and persuasive people.

              When we think of universities today what comes to
              mind? Tuition fees, qualification inflation, UCAS
              points, the market led drive for graduates. The
              student often feels less indebted to the experience of
              the university, then the Students Loans Company. This
              pecuniary instability leads so many to wince at the
              Arts and Humanities because if they do not already see
              their relevance as incomprehensible, they certainly
              assume its study to lead to economic insolvency. “What
              job are you going to get by studying ancient
              literature?” is the plebeian cry. We should reply in
              chorus “I may not get rich reading them but I’ll be a
              wealthier person for having studied them.”

              Yet, in a world where classical idioms of learning are
              beguiled to the back pages of history and the Grand
              Tour replaced by BBC4, it is in university that we
              still seek intellectual solace. However, many find
              themselves a purneva in this potential hotbed of
              intellectual activity. That’s because students lack a
              culturing into the true ethos of the university. The
              modern university sees it forefathers in the sacred
              parthenon of Greek antiquity, medieval scholasticism,
              classical Islam, the renaissance and enlightenment.
              What then of the poor student who is dwarfed by these
              ideas? Introductory textbooks may help, but we may
              alternatively realise that there are certain works,
              “Great Books”, that form so much of today’s ideas. The
              book list below is then, a collection whose intent is
              to help students to chew manageable morsels and digest
              enough to know what a good liberal education (of the
              expedient variety) might look like. It’s merely one
              version of a list that other, more worthy, will
              conceive differently.

              1. Islam and The Destiny of Man, Shaykh Hasan Le Gai
              Eaton

              Ovid wrote that “here I am considered a barbarian
              because I am not understood". The Destiny of Man’s
              gift is a book that maligns the misconceptions of
              Islam and allows the ‘barbarian’ to speak on his own
              terms. Shaykh Hasan Gai Eaton, a Cambridge trained
              Englishman who converted to Islam, writes a
              beautifully written and diligently researched book
              that covers the ideals of Islam, its historical
              developments, confrontations of East-West and Islamic
              art amongst other topics. The first chapter “Islam and
              Europe” is 25-page symphony condensing 1400 years of
              history, without zealousness or melodrama and as such
              should be made compulsory reading for all. It is a
              brilliant book to introduce non-Muslims to Islam as
              well as helping Muslim communities relearn what is so
              often forgotten about their religion. This work sits
              on the same shelf as The Vision of Islam (William C.
              Chittick and Sachiko Murata) and Muhammad (Martin
              Lings) as it that will cause great relief in the
              collective mind of Muslims, knowing that they have an
              intellect, such as Mr Eaton amongst them.

              2. An Introduction to Political Philosophy, Jonathan
              Wolff

              There are many great introductory books to political
              philosophy, yet I am still to encounter one that is as
              easygoing and yet comprehensive as Jonathan Wolff’s.
              Beginning with Plato and ending with Rawls, the entire
              spectrum of western political thought is made
              accessible, amusing and thus definitely readable. We
              discover that all the talk today about “democracy”,
              “liberty” and “freedom” often originates in the
              retrospective thoughts of philosophers who had seen
              too much of human nature. If man is truly a political
              animal then how best to wean out his bestial nature?
              By reading this book of course.

              3. Selected Writings, John Ruskin

              Ruskin is among those lost figures, which the general
              public have yet to rediscover. Proust called him the
              “great master” and Gandhi said his work changed his
              life. In Ruskin we find a writer whose prose manses
              his contemporaries (Marx and Carlyle). Principally
              known as an art critic, his work stretches across a
              vast terrain and this Oxford edition brilliantly
              summates his best writing. Must read essays are the
              Nature of Gothic and his 1858 Lecture to the School
              Cambridge of Fine Art. The latter contains the classic
              lines that remind the student that having no knowledge
              is often better then to have enough to reveal one’s
              ignorance and impertinence. “Better, infinitely
              better”, says Ruskin, “that you should be wholly
              uninterested in pictures and uniformed respecting
              them, then that you should just know enough to detect
              blemishes in great works, to give a colour of
              reasonableness to presumption and an appearance of
              acuteness to misunderstanding" .

              4. A Brief History of Time, Stephen Hawking

              A science book may not be an obvious addition to our
              list, yet consider this analogy. An empty Olympic
              sized swimming pool is filled with grains of salt till
              its brim (approx. 100 million grains). Consider each
              grain is a star and you have the Milky Way. Now
              consider there are approximately 100 million galaxies
              in the universe, each with 100 million stars, it
              should be reason enough for people to acquaint
              themselves with their celestial neighbours. Hawking’s
              book has proven to be amongst the best introductions
              to cosmology, covering the issues of the beginning of
              the universe to its ultimate destruction in a lucid
              and non-mathematically verbose way. “The majority of
              mankind concerns itself with the most petty of
              affairs," said Einstein and this book will, if
              anything, aid in realising his sage words.

              5. Runaway World, Anthony Giddens

              I have surprised myself with this selection. Not a
              very inspiring work nor academically solid but this
              former head of the LSE has produced a pithy booklet on
              the nature of modern society in five short chapters.
              Originally given as the Reith Lectures of 1999,
              Giddens provides informed statements about the ideal
              of ‘progress’ and its modern-day handmaid,
              ‘globalisation’ as well as their bastard child,
              ‘environmental devastation' . The reading list is also
              a brilliant springboard for personal research into the
              subjects discussed.


              6. Walden, Henry David Thoreau

              “A life without love, and an activity without an aim”
              is how Thoreau described the lives of men. In 1845 a
              slim, young, Harvard educated man left his parents
              home in Concord, Massachusetts to live in a forest
              called Walden. Why? To help cure himself of
              commercialism, moral degradation and the general
              decadence of modern man. In his words: “I went to the
              woods because I wished to live deliberately, to front
              only the essential facts of life, and see if I could
              not learn what it had to teach, and not, when I came
              to die, to discover that I had not lived". Thoreau
              takes us by the hand and restores that which we all
              lose in due course: the subtleties and wonder found in
              the mundanity of life.

              7. Clueless in Academe, Gerald Graff

              The university has come under much scrutiny of late
              and this book by Graff, strikes at the crux of the
              predicament by suggesting that the problem is not too
              little research funding or low achieving students,
              rather it is the surreptitious nature of the
              university itself. Chomsky says that higher
              mathematics is not necessarily difficult, but enough
              turgid terminology keeps most people out. Graff asks
              those questions that most students are charmed into
              thinking as natural, such as is there really a
              difference between a 62% and 64% essay? Why is it so
              deplorable to social scientists to except the world on
              face value? Did Rubens really think about all those
              things when painting, that my art teacher thinks he
              did? Particularly insightful is his “six degrees of
              obfuscation” by which academics will command their
              supremacy over students. Another must read section is
              “how to write an argument” guaranteed A’s for all
              those who follow it. The triumph of this book is that
              having dragged out the faculty of mystification from
              university, it helps us draw upon our own faculties to
              rediscover what it means to be “educated". By doing
              this, Graff proves the old adage right, that most
              academic disputes are especially vicious because so
              little is at stake in them.

              8. What is History?, E.H. Carr

              More than just a profile of what the historian does,
              Carr calls into question the history of history. Is it
              merely an unfettered study, which is to be left
              unchallenged? An emphatic no, is Carr’s response. He
              takes on the burden of this conundrum and argues that
              facts of the past and historical facts are two
              completely disparate entities. The former being the
              body of events, which forms the past, the latter is
              the selective process by historians choose what is
              worthy for people to know of the past. Carr’s
              revelations about ‘top-down’ history, subsequently
              sparked a torrid of books in the late 20th century to
              tell history from the ‘bottom up’ (Howard Zinn’s A
              Peoples History of the United States, is a shining
              example of such literature).

              9. Amusing Ourselves to Death, Neil Postman

              By the age of 40, Neil Postman writes, the average
              American will have seen over 1 million advertisements.
              What could be the effects of such exposure? This
              question is the central kernel of questioning
              throughout this classic book. Concentrating its venom
              most readily on television, this book shows how just a
              hundred years ago America was amongst the most
              literary active and politically engaged societies,
              whereas today it has fallen into a pit of trivialities
              because the medium through which serious discussion is
              done, is in fact the most ludicrously benign.
              Postman’s particular message to the Big Brother
              generation deserves our collective attention: that
              unlike Orwell who thought what we despise will cause
              our eventual demise, he prefers the Huxley vision that
              what we love will destroy us.

              10. Crime and Punishment, Fyodr Dostoyevsky

              To choose one novel as a ‘must read’ is certainly
              challenging and to have chosen Dostoevsky’s
              masterpiece, I am hoping to have appeased true novel
              lovers. Crime and Punishment tells the story of a
              gifted young Russian student, Raskolnikov, who decides
              to kill an evil pawnbroker and her sister. However,
              after the act, of which Raskolnikov felt morally
              justified, he suffers physical illness, mental woes
              and a prison sentence in Siberia. Raskolnikov, which
              means schism in Russian, is torn by the moral
              questions that instigated the initial murders: is it
              morally justified to perform an immoral act under the
              considerations that it will lead to something morally
              better? We come to realise that the crime itself was
              punishment enough. I’ll say it again: a must read.

              Mujadad Zaman begins his M.Phil at Oxford University
              this autumn where he will study the philosophy of
              education.

              --- jenang gulo <jenangguloku@ yahoo.com> wrote:

              > Hi...
              > ikut berpendapat ya...
              > aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di
              > dept.ku
              > aku setuju dg artikel tsb
              > klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting
              > bgt...
              > tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan
              > untuk mengurangi kualitas
              > sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato
              > dosen?
              > cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah
              > dan punya anak?
              > maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato
              > ortu
              > makanya belum bisa merasakan seperti apa yang
              > dirasakan guru Arko
              > aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini
              > realitasnya
              > contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an
              > tahun masa kerja paling cuma dpt gaji 5jutaan.
              > padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen,
              > BUMN apalagi MNC
              > ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau
              > bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs
              > dpt gaji sgitu..
              > klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap
              > bulan dan butuh waktu dan kerja keras
              > klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu
              > baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
              > klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
              > saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu
              > dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup
              > di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn
              > bisa
              > jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari
              > pendapatan lain
              > bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah)
              > berprofesi sebagai tukang ojek
              > cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang
              > menjadi kewajiban mereka.
              > jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek
              > dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
              > aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka
              > mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya
              > buat tabungan di surga kelak
              >
              > yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang
              > menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan
              > kita masuk dalam konstitusi.
              > klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada
              > negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya
              > maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru
              > (termasuk dosen).
              > jadi diharapkan dosen mengajar, penelitian dan
              > pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang
              > bersifat mendasar seperti finansial dan
              > kesejahteraan
              >
              > mengenai rangking saya juga jg sependapat ga perlu
              > ada
              > buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
              > ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya
              > disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg
              > rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek
              > afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu
              > novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma
              > mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...
              >
              > menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada
              > penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato
              > pengacara) ga bener (contoh mafia
              > peradilan,suap- menyuap, korupsi) maka fak.hukum di
              > PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
              > Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti
              > dokter, psikolog dll?
              > jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk
              > mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya
              > integritas.
              > mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
              > ada yang mau berpendapat?
              >
              > Love & peace...
              >
              >
              >
              > arko java <arko_java@yahoo. com> wrote:
              > Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg
              > tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat
              > mnurutku.
              >
              > +hal yang menarik:
              >
              > 1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
              > Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter",
              > asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru
              > yang
              > TAHU DIMANA DIA BERADA,
              > TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
              > DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak
              > didiknya.
              >
              > Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca:
              > Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama
              > SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru
              > perlu ditingkatkan. And dg dalih itu pula,beliau2nya
              > ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya, tp
              > malah kebanyakan MENGELUH.buh. . (sering aku
              > mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami
              > butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).
              >
              > Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban
              > probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
              > ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik
              > tiap hari..
              > (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet
              > sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo
              > beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral
              > yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang
              > didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi
              > didepan kelas)..
              >
              >
              > 2. Ilmu.
              > emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm
              > bersumber dari diktat.
              > jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar
              > matemath sampai ke bab2 yang membosankan, sdg kelak
              > blum tentu dipakai?
              > Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu
              > dijabarkan diawal pertemuan.
              > Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt
              > yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan:
              > EBM/evident based medicine).
              >
              > 3. Guru tak harus keras pada murid.
              > Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,&
              > kepedulian murid bisa terbentuk dg
              > sndirinya.Alhasil, tanpa keras pada murid pun,justru
              > sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari
              > sang murid pasti bakal terasah dan tumbuh dg
              > sndirinya).
              >
              > Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3
              > SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali
              > kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini
              > udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering
              > diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru
              > menyadarkan) ,yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an
              > kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa
              > yang kalian pakai itu?baru pake uang orang tua aja
              > kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya
              > pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga
              > kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"
              >
              >
              >
              > -Hal yang kurang tepat:
              > 1. Tak ada rangking.
              > Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu
              > perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa
              > tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya, kl tanpa
              > dibandingkan.
              >
              > Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam
              > tempurung,jk tanpa ada perangkingan.
              >
              >
              >
              > 2.Kontrol.
              > Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama
              > diawal2).
              > suatu metode kontrol paling bagus yang pernah
              > kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD
              > gowok.Ky apa?
              > Jadi murid diberi buku yang boleh diisi
              > sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku
              > kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini
              > dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi
              > mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g
              > jujur.wong g diperiksa juga kok.
              >
              > wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt
              > itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode
              > itu justru wktu aku kelas 3 SMP.
              >
              > tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.
              >
              > Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian
              > kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.
              >
              >
              > Urun rembug deh.he3x..
              >
              >
              > warm regards,
              >
              >
              > Arko jatmiko w.
              > (www.jawaragaktakut jerawat.com)
              >
              >
              === message truncated ===

              ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
              Be a better friend, newshound, and
              know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ


              Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
            Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.