Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: [Jaket Negosiator] kisah Yu Timah

Expand Messages
  • Iman Persada
    muhammad afrimadona wrote: To: jaket_negosiator@yahoogroups.com From: muhammad afrimadona Date: Thu, 13 Dec 2007
    Message 1 of 1 , Dec 16, 2007
    • 0 Attachment
      muhammad afrimadona <md_afri@...> wrote:
      To: jaket_negosiator@yahoogroups.com
      From: muhammad afrimadona <md_afri@...>
      Date: Thu, 13 Dec 2007 16:14:14 -0800 (PST)
      Subject: [Jaket Negosiator] kisah Yu Timah

      All,

      Saya forwardkan, semoga berkenan,...


      Kisah "YU TIMAH"
      (dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)
      Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami.
      Dia
      salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini
      sudah
      berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang
      diterima
      Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
      Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai
      tanah,
      berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah
      yang
      di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
      Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
      Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah
      yatim
      sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu
      Timah
      perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah

      bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya
      yang
      terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah
      tangga.
      Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan
      gubuk
      buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu
      didirikan di
      atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat
      miskin
      itu.
      Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan
      nasi
      bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di
      pesantren
      kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan
      nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
      Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia
      biayai
      anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan.
      Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi
      terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali
      hidup
      sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi
      bungkus.
      Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah
      anak-anak
      petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
      Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau
      bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa
      menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi
      pengurus.
      Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia

      orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu
      setiap
      bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan
      hingga
      Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.
      Yah,
      emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah
      persoalan
      mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
      Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
      bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
      ''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang

      kecil.
      ''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
      tutup.
      Bagaimana bila Senin?''
      ''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
      ''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
      ''Enam ratus ribu, Pak.''
      ''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
      Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
      ''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi
      dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
      Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
      kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
      tanggapan,
      mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.
      Padahal
      saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli

      kambing kurban.
      ''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
      ribu.
      Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib
      menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi,
      apakah
      niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
      ''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
      Ini
      memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi
      daging kurban.''
      ''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
      Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta
      diri,
      dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
      Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah
      mendengar,
      mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang
      ditinggalkan
      oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya
      keikhlasan
      demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?
      Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu

      tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah,
      saya
      jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji,
      namun
      kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi
      uangmu
      tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu
      malah
      kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter
      makan
      daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati
      daging
      kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur
      sebelum kamu naik haji.

      Lebih Baik memberi Dari pada menerima

      "SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H"

      Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.


      Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.