Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Paradigma Hirarkis dalam Pendidikan di Indonesia

Expand Messages
  • Lwe
    Paradigma Hirarkis dalam Pendidikan di Indonesia Oleh: Audifax Penulis buku “Mite Harry Potter (2005, Jalasutra) dan “Imagining Lara Croft (2006,
    Message 1 of 1 , Apr 8, 2007
    • 0 Attachment
      Paradigma Hirarkis dalam Pendidikan di Indonesia
       
      Oleh:
      Audifax
      Penulis buku “Mite Harry Potter (2005, Jalasutra) dan “Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra)
       
       
      We're not laughing at you - we're laughing near you
       
      John Keating
      Dead Poet Society (1989)
       
       
      Kalau anda cermat memperhatikan dunia olahraga di Indonesia , anda akan menemukan sebuah fenomena menarik. Apa itu? Dalam jenis-jenis olahraga yang sifatnya perorangan, contoh: bulutangkis, tenis, angkat besi, tinju, bowling, panahan, atletik, renang, bridge, catur, dan sejenisnya, Indonesia selalu memiliki atlet yang (meski tidak selalu juara dunia) selalu masuk dalam jajaran atlet yang diperhitungkan di papan atas kancah internasional. Sebaliknya dalam jenis olahraga yang sifatnya team (dan membutuhkan kerjasama tim dalam sebuah skema) seperti: sepakbola, volley, basket, polo air, sepaktakraw dan sejenisnya, justru Indonesia terpuruk dalam golongan yang inferior.
       
      Saya pernah membaca sebuah analisis menarik dari (kalau tak salah) seorang sosiolog Jepang, yang kurang lebih mengatakan: “Satu orang Indonesia melawan satu orang Jepang, Indonesia akan menang. Satu orang Indonesia melawan dua orang Jepang, belum tentu orang Indonesia kalah, tapi Dua orang Indonesia melawan dua orang Jepang, Indonesia mulai kalah. Tiga Orang Indonesia melawan tiga orang Jepang, Indonesia tambah kalah”. Nah, intinya yang mau disampaikan adalah, semakin banyak orang Indonesia berada bersama-sama untuk bekerjasama, semakin mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
       
      Lalu, saya sedikit tersentak dengan berulangnya peristiwa meninggalnya siswa IPDN. Kita bisa saja menuding mengenai cara pendidikan berbasis kekerasan yang salah dan tak manusiawi di sekolah tersebut, namun saya pribadi bukan melihat pada sisi kekerasan yang menjadi persoalan. Persoalannya adalah cara pendidikan yang hirarkis (dan karenanya juga linier), dan persoalan ini ada pada hampir semua pendidikan di Indonesia. Apa yang terjadi di IPDN bukan kekerasan intinya, tetapi hirarki. Senior merasa lebih dari yunior sehingga merasa punya hak untuk melakukan apa saja yang dianggapnya benar. Coba renungkan lagi, tidakkah hal semacam ini juga familiar di tempat pendidikan lain di luar IPDN/STPDN? Tidakkah ini dekat dengan keseharian kita?
       
      Pada dasarnya paradigma pendidikan kita mendasarkan dirinya pada sebuah kepatuhan hirarkis yang menciptakan realitas semu akan kapabilitas. Seakan-akan yang memiliki hirarki lebih tinggi selalu lebih baik dari yang di bawahnya. Maka itu, jangan heran kalau dunia pendidikan kita (dan dalam banyak hal berkembang luas menjadi dunia ilmu pengetahuan) menjadi mirip agama. Atas nama sesuatu yang di atas, maka orang bisa melakukan seenaknya pada apa yang di bawah. Maka ketika terjadi perbedaan pendapat akibat pengetahuan yang berbeda, alih-alih menyelesaikan secara ilmiah untuk menguji kedua pendapat itu, penyelesaian justru diletakkan pada hirarki. Seorang mahasiswa yang mendebat pembimbing skripsinya (misalnya) kerapkali akan menemui tembok tebal ketika dihadapkan pada “Saya ini pembimbingmu” , “Saya ini sudah dosen, kamu masih mahasiswa” atau langsung menyebut pangkat misalnya “Saya ini doktor, kamu ini S-1 saja belum selesai”. Sekilas argumen-argumen itu tampak benar, namun sejatinya argumen itu adalah hal tolol yang tak ada korelasinya untuk membenarkan diri lebih tahu akan sesuatu.
       
      Itu kalau kondisinya ada hirarki. Lalu bagaimana suasana pendidikan kita di antara orang yang level hirarkinya sama? Secara esensial tak ada bedanya dengan apa yang saya katakan mirip agama. Dalam pendidikan kita (dan sekali lagi ini menyebar juga dalam sejumlah konteks perkembangan ilmu pengetahuan kita) di ranah level hirarki yang sama berlaku pola “kerukunan antar umat beragama”. Artinya, ilmuku adalah agamaku, dan ilmumu adalah agamamu. Aku tak perlu mempelajari ilmumu karena bukan agamaku, kamu juga tak tahu ilmuku karena bukan agamamu. Lalu, jangan coba-coba mengganggu ilmu yang menjadi agamaku, karena akupun tak akan menggannggu ilmu yang menjadi agamamu. Jadi, jangan pernah berharap akan bertemu suasana yang menghadapkan tesis dengan antitesis. Itu sebabnya banyak hal yang sudah tak dipersoalkan lagi tapi begitu saja diterima sebagai kebenaran, seperti misalnya: ESQ, NLP dan sejumlah hal lain yang diklaim begitu saja memberi efek baik bagi manusia.
       
      Lalu kita memang tak pernah bertemu dalam keberbedaan di ruang yang sama. Kenapa? Karena satu sama lain meletakkan sekat. Di antara yang selevel-hirarki saling menyekat, dengan yang hirarkinya berbeda apalagi. Maka, jelas sudah jawaban mengapa semakin banyak orang Indonesia berada dalam satu tim untuk bekerjasama, semakin mereka tidak tahu apa-apa.
       
      Nah, mumpung masih hangat fenomena kekerasan di pendidikan IPDN, maka saya melemparkan isyu ini. Agar lebih fokus dan dapat saling memperkaya satu sama lain, saya mengundang rekan-rekan untuk membahas isyu ini di milis Psikologi Transformatif. Tentu saja anda boleh melakukan cross posting dari milis Psikologi Transformatif ke milis anda semula, kalau anda rasa itu perlu. Pengkonsentrasian di milis Psikologi Transformatif semata hanya agar semua pendapat, baik yang pro maupun kontra berada di ruang yang sama. Sama-sama dari member Psikologi Transformatif. Walau kita berbeda, kita berada di ruang yang sama tanpa sekat dan hirarki. Mungkin dari sinilah kita bisa belajar lebih jauh apa itu pendidikan dan pluralitas
       
       
       © Audifax – 8 April 2007

      Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.