Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Memperkenalkan Kompatiologi aliran Kitab Masuk Angin

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Memperkenalkan Kompatiologi aliran Kitab Masuk Angin Penanggungjawab versi/aliran: Adhi Purwono Kami undang anda untuk bergabung di maillist:
    Message 1 of 2 , Sep 6, 2006
    • 0 Attachment
      Memperkenalkan Kompatiologi aliran Kitab Masuk Angin
      Penanggungjawab versi/aliran: Adhi Purwono

      Kami undang anda untuk bergabung di maillist:
      http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/join
      http://groups.google.com/group/Komunikasi_Empati/about
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join




      Serial Tulisan Kitab Masuk Angin (KMA):

      Pandangan diri saya mengenai dekonstruksi-rekonstruksi
      dari Ilmu Kompatiologi
      Ditulis oleh: Adhi Purwono

      Apa yang akan saya tuliskan ini tetap pada kaidah yang
      telah saya pegang yaitu tulisan yang mewakili ekspresi
      diri-sendiri. Jadi walaupun si Vincent telah
      bilang-bilang bahwa saya telah didekons namun saya
      tetap memegang teguh integritas saya dalam menulis
      yaitu tulisan yang bukan dari aliran apapun dan hanya
      berasal dari otoritas diri saya sendiri. Saya tetap
      bukanlah simpatisan manapun. Dan saya bukan penganut
      aliran manapun.

      Dan maaf saja Vincent, saya tetap mengatakan bahwa
      yang mendekons diri saya adalah si Vincent sendiri.
      Entah kenapa Vincent melarang saya untuk memberitahu
      dirinyalah yang mendekons saya. Mungkin dia mempunyai
      agendanya sendiri. Tapi saya tidak begitu peduli
      dengan agendanya (atau apakah ini agenda tersembunyi
      supaya saya akhirnya mengatakan siapakah diri saya
      sebenarnya dan tidak tergantung olehnya, sehingga
      dekons saya bisa dianggap berhasil?). Yang terpenting
      disini adalah saya akan menyingkapkan apa yang terjadi
      pada saya sejak didekons oleh Vincent.

      Bagi saya, Vincent adalah orang yang sangat berbahaya
      bagi penguasaan kejiwaan diri kita. Untuk anda yang
      belum pernah bertemu dengan Vincent, saya sarankan
      jangan sampai membuang waktu dan uang bertemu dengan
      Vincent apalagi membuat janji untuk didekons! Fatal
      akibatnya bagi diri anda seperti yang telah saya alami
      ini. Sebelum saya bertemu dengan Vincent saya mengira
      didekons itu seperti belajar melepas atau belajar
      menyadari mirip dalam metoda meditasi seperti yang
      telah saya kenal. Namun nyata-nyatanya yang dialami
      oleh diri saya adalah sangat berbeda! Saya tidak
      diajak untuk belajar atau berpikir. Saya juga tidak
      diajak untuk saling bertukar-pikiran atau menerima
      sesuatu (misalnya dibuka cakranya, diberikan elmu,
      diguna-guna, dihipnotis, dsb). Saya bahkan tidak
      diajak untuk belajar
      sadar/menyadari/aware/consciousness/eling. Saya hanya
      bertemu dengan dia dan dekons terjadi begitu saja.
      Metode tidaklah penting walaupun tetap akan saya
      ceritakan metode apa yang dipakai oleh si Vincent ini.
      Namun yang paling saya ingat ketika itu adalah Vincent
      seperti kepribadian tanpa pagar pembatas. Biasanya
      orang yang baru ketemu dan baru kenal memulai
      perkenalannya melalui basa-basi dulu. Tapi disini
      basa-basi LEWAT. Orang yang baru kenal biasanya
      memulai dengan topik yang ringan-ringan saja. Tapi
      disini topiknya TANPA TEDENG
      ALING-ALING, LANGSUNG BERATH. Orang yang baru kenal
      biasanya juga memakai dulu topeng kepribadiannya
      tebal-tebal supaya kesan pertama bisa berkesan baik.
      Tapi disini topeng kepribadian yang tipis pun tidak
      dipakai oleh Vincent bahkan DAPAT MEMBONGKAR DENGAN
      BEGITU MUDAHNYA TOPENG YANG SAYA PAKAI. Biasanya pula
      orang yang baru kenal akan melakukan beberapa
      kebohongan putih untuk menjaga citra dirinya. Namun
      disini, HAMPIR MERASA PERCUMA BERBOHONG DI DEPAN
      VINCENT. Dia dapat membaca begitu saja isi batok
      kepala saya. BEGITU SAJA. SECARA SEDERHANA. Sampai
      membuat saya cukup kesal jadinya. Dan lucunya hanya
      dalam tempo 5 menit bertemu dengannya (ketika masih di
      perjalanan di dalam mobil saya) saya sudah melakukan
      curhat jujur yang biasanya hanya saya simpan untuk
      sahabat yang sangat dekat atau kepada adik kandung
      saya. Openess. Keterbukaan. Walaupun saya tentu saja
      tidak membuka diri sampai telanjang secara kejiwaan,
      tetap saja pandangan matanya mengatakan hal yang
      sebenarnya tentang saya. Entah saya telah mengalami
      paranoid atau kecurigaan atau ketakutan menjadi
      terbuka atau apa. Namun saya merasa AKHIRNYA ada yang
      melepas tali ikatan rasa bersalah secara pelan-pelan
      dan malah merasa menganggap Vincent itu sebagai
      kepribadian cermin. Artinya apapun yang berusaha saya
      sembunyikan, terpantul dengan jelas baik melalui
      ucapannya, tatapan matanya, maupun gerak-geriknya. Dan
      baru kali ini pula saya melihat manusia seperti
      Vincent yang BERBICARA TANPA RASA BERSALAH. Tanpa
      penilaian. Tanpa otoritas dari luar selain dari
      dirinya sendiri. Vincent mengaku dia hanya
      mempertimbangkan satu hal dalam setiap pilihannya,
      yaitu apa untung dan ruginya bagi dirinya. Vincent
      juga mengaku dia dapat merasakan energi (istilah dia
      adalah memori), memori secara langsung dari tiap
      kepala yang kebetulan berpaspasan dengan dirinya.
      Membaca secara copy & paste. Merasakan keadaan
      emosional psikologis orang lain yang juga dapat
      dirasakannya melalui tubuhnya sendiri. Itulah sebabnya
      saya melihat keadaan emosional si Vincent begitu cepat
      berubah-ubah. Begitu juga dengan kepribadiannya. Namun
      dia juga mengaku telah menguasai penguasaan emosi dan
      kepribadiannya. Bahkan dapat memanipulasi
      memori-memori yang begitu saja berseliweran lewat
      melalui pikiran dan tubuhnya. Bagi dirinya pembacaan
      memori tidak hanya dari orang lain, namun juga dari
      benda mati. Karena menurut teorinya benda mati seperti
      buku masih menyimpan kesan dari si pemiliknya atau
      penulisnya. Jadi semakin privat sifat kepemilikan
      benda mati tersebut semakin mudah terbaca
      memori-memori yang tertinggal pada benda tersebut.

      Setelah itu, saya sendiri telah menganggap diri saya
      terdekons oleh Vincent. Mengapa? Karena 1) saya telah
      melihat Vincent sebagai cermin kepribadian saya,
      sehingga tidak ada yang dapat saya sembunyikan dari
      diri saya sendiri. 2) Vincent telah menunjukkan
      contoh-contoh kepribadian dan perilaku yang nir nilai
      (bebas nilai bukan berarti memilih nilai-nilai
      negatif, namun hanya menyadari dia bebas untuk
      memilih). Vincent juga telah menunjukkan cara
      melakukan empati tanpa sugesti, tanpa
      kepercayaan/belief, tanpa hipnotis, bahkan tanpa
      keruwetan atau metode yang diistilahkannya sebagai
      yang `wah'. Empati sesederhana ketika kita melakukan
      kegiatan membaca buku. Empati adalah membaca memori.
      Dan membaca memori hanya bisa dilakukan kalau
      konsep/belief/nilai/sugesti/dll tidak memenuhi benak
      diri kita. Saya dulu menganggap memori itu dicari dan
      dibaca dari dalam diri kita. Saya dulu menganggap
      kegiatan menyadari sebagai kegiatan yang pasif dan
      hanya terbatas pada menyadari asal mula pikiran kita
      saja. Namun saya sekarang menyadari bahwa fokus saya
      kepada kegiatan menyadari pikiran saya sendiri malah
      membuat saya menutup diri atas realitas di sekeliling
      saya. Saya masih memisahkan diri saya dengan realitas.
      Bahkan dulu saya sering menganggap remeh teman-teman
      yang bisa baca pikiran, yang melihat hantu, yang
      mendengar suara/pesan, yang meramal/menebak
      keadaan/masa depan seseorang/lingkungan, dsb. Saya
      bisa menyadari perbedaannya sekarang. Dulu ketika saya
      sedang berkontemplasi misalnya melihat sebuah kursi,
      saya telah mengira dapat menyadari suatu realitas
      sesungguhnya. Yang nyatanya yang saya miliki hanyalah
      penyadaran atas konsep gambar kursi di dalam kepala
      saya. Saya sadar itu adalah konsep namun berhenti pada
      penyadaran hal itu saja. Saya tidak bergerak lebih
      lanjut karena yah saya telah menganggap itulah realita
      sesungguhnya. Saya menganggap semua gambar-
      gambar ini adalah ilusif, semua adalah konsep, dan
      tanpa rendah hati lagi menganggap kemampuan manusia
      yah hanya sampai situ saja. Hanya sampai pada
      penyadaran konsep. Namun ketika saya bertemu Vincent
      minggu kemarin, semuanya telah berubah.

      Berkat tulisan-tulisan mang Iyus saya jadi mengetahui
      bahwa MASIH ADA OTAK KANAN yang perlu dielaborasi
      dalam mesin kesadaran dan mesin ilusif dunia
      ruang-waktu ini. Berhenti pada penyadaran konsep
      sama-saja seperti tidak melihat realita sama-sekali.
      Ini seperti yang telah diterangkan dalam tulisannya
      mang Iyus, otak kanan yang mengenal bentuk huruf
      secara geometris, otak kiri yang menerjemahkan arti
      dan maknanya. Jadi, terpaku dengan konsep berarti
      terpaku pada hasil pengolahan otak kiri belaka. Dan
      hal ini bisa menyesatkan! Dalam contoh mengenal
      tulisan tadi, kita bisa saja ngotot bahwa yang kita
      eja adalah huruf A padahal sesungguhnya bentuk
      geometris tulisan tersebut adalah huruf B! Dalam
      empati, kita bisa saja ngotot mengira si Udin sedang
      berbohong, padahal bahasa tubuh dan kimiawinya
      menyatakan bahwa Udin itu sedang mengatakan
      sejujurnya. Mengapa? Karena sebelum bertemu dengan si
      Udin, kita telah memiliki prasangka, praduga dan
      penilaian terhadap Udin. Penilaian kita telah
      menyangkal realitas yang telah kita lihat dan malah
      lebih mempercayai sterotip dan prasangka kita terhadap
      dirinya. Ya! Selama ini baru saya sadari, saya telah
      begitu lama menyangkal apa yang telah saya lihat dan
      rasakan dari realitas murni. Vincent secara harafiah
      hanyalah membantu saya membuka kedua telapak tangan
      saya yang sedang menutup kedua mata yang sesungguhnya
      dalam melihat. Mirip seperti anak kecil yang ketakutan
      melihat film horror lalu menutup kedua matanya dengan
      telapak tangannya dan lebih memilih mengalihkan
      pikirannya pada hal yang menyenangkan dibanding
      daripada merasa ketakutan oleh film tersebut.
      Begitulah dengan saya yang selama ini memilih cara
      melihat realitas dengan menutup kedua mata saya
      seolah-olah realitas dan kehidupan itu begitu
      menakutkan dan mengalihkan pikiran hanya melihat
      hal-hal yang menentramkan hati saya. Padahal itu
      hanyalah penyangkalan dan melarikan diri saja dari
      realitas dan kenyataan sesungguhnya. Ketakutan,
      harapan, obsesi, keterikatan saya telah membutakan
      kemampuan melihat orang lain untuk berkomunikasi
      dengan saya secara APA-ADANYA. Saya mengira telah
      mampu berkomunikasi dengan orang lain padahal
      komunikasi saya hanyalah SATU-ARAH SAJA dan itupun
      HANYA KE DIRI-SENDIRI. Misalnya, penglihatan saya
      buta, sehingga tidak bisa melihat bahasa tubuh orang
      lain yang sudah tidak nyaman dengan diri saya namun
      saya tidak sanggup (atau tidak mau?) melihatnya
      dikarenakan ada kepentingan diri saya yang harus saya
      penuhi melalui orang tersebut. Pendengaran saya tuli
      di saat saya sedang mencoba mendengarkan orang lain
      namun sebenarnya saya sedang sibuk membuat 1001 macam
      penilaian (judgemental) saya, ide saya, konsep saya,
      urusan saya, ekspresi saya, keinginan saya, tujuan
      saya berikutnya tentang dirinya,... daripada
      benar-benar mendengarkan saja secara sederhana.
      Perasaan saya tumpul ketika saya mencoba mengerti apa
      maunya pacar saya, namun sebenarnya saya ketakutan
      kehilangan pacar saya, ketakutan disalahkan, ketakutan
      dibilang tidak jantan, ketakutan putus cinta, bahkan
      ketakutan kalau-kalau sang pacar telah bosan dengan
      saya. Oh makin diingat, makin banyaklah saya menyadari
      bahwasanya saya telah menutup diri begitu rapat
      sehingga yang ada di dalam tubuh saya hanyalah
      memori-memori usang yang terus didaur-ulang,
      permasalahan yang tak pernah terselesaikan karena
      terus didaur-ulang, kegelapan psikologis yang tak
      pernah dibawa ke permukaan realitas karena terlalu
      takut untuk dikonfrontasikan, trauma waktu kecil yang
      dibiarkan mengendap, dsb. Ini semua hanya karena takut
      terkena sinar matahari realitas. Saya secara
      kepribadian telah hidup di dalam kegelapan gudang
      memori yang sedang membusuk. Penyadaran yang selama
      ini saya lakukan melalui meditasi ternyata hanyalah
      seperti video rekorder yang saya pasang dalam gudang
      gelap saya lalu saya menonton seperti apakah realitas
      di luar gudang sana? Lalu menganggap gambar yang
      tampil pada layar adalah `konsep' yang harus disadari.
      Saya tahu itu hanyalah gambar dalam video rekorder
      (yang artinya saya tahu itu hanyalah ilusi), namun
      usaha saya hanyalah sampai pada sadar akan gambar
      ilusi tapi TIDAK MAU KELUAR DAN BERSENTUHAN dengan
      realitas di luar gudang gelap memori saya. Saya tahu
      gambar-gambar di layar video rekorder itu palsu dan
      telah juga saya sadari sebagai konsep namun tetap
      munafik karena terus-menerus saya konsumsi.
      Menghindari dan menyangkal realitas.

      Membaca memori realitas mempunyai 2 aspek yang
      berlangsung sekaligus. Kegiatan membaca dan kegiatan
      mempengaruhi. Vincent secara sederhana telah
      memamerkannya kepada saya hal tersebut melalui
      metoda-metoda yang ditunjukkan kepada saya. Pertama,
      menebak karakteristik rasa masakan dari berbagai macam
      konter makanan di foodcourt mal. Kedua, menebak isi
      buku tanpa melihat buku secara langsung, hanya melihat
      si Vincent yang sedang memegang buku. Ketiga, meracik
      efek rasa dari 4 macam minuman teh hijau dan sebuah
      minuman isotonik. Metode-metode ini bertujuan terutama
      untuk menghilangkan rasa bersalah kita ketika kita
      sedang melakukan kegiatan menebak/membaca memori
      tersebut. Selalu ditekankan oleh Vincent, tidak akan
      disalahkan kalaupun tebakannya akhirnya meleset. Tidak
      ada tujuan, tidak ada maksud,
      tidak ada rasa benar-salah, hanya menebak, sesederhana
      itu. Dan bila kondisi-kondisi itu telah terpenuhi
      biasanya tebakannya tidak meleset. Tentu ada alat
      bantunya. Yaitu variabel-variabel kata bantu untuk
      mendefinisikan memori yang telah kita dapatkan supaya
      bisa dibahasakan dan dikomunikasikan dengan jelas.
      Misalnya dalam menebak
      buku, Vincent membantu saya memberikan kata bantunya
      yaitu, bersifat feminim atau maskulin? Ketika itu saya
      menjawab feminim, dan entah mengapa tebakan
      selanjutnya mengalir saja gambar-gambar dan kata-kata
      yang aku luncurkan begitu saja tanpa pretensi (tentu
      setelah aku melepaskan kepura-puraanku untuk berpikir
      atau menganalisa. Tanpa pretensi berarti aku telah
      siap menerima konsekuensinya apapun itu sampai
      dikatakan pembohong pun aku siap) cuma rasanya lucu
      saja gitu...Saya jadi teringat ada satu ungkapan yang
      paling sering dikatakan oleh Vincent, "lucu?" Keempat,
      saya melihatnya dari sikap, kepribadian dan emosi si
      Vincent yang terus-menerus berubah-ubah. Lalu
      menunjukkan kepada saya bagaimana cara kerjanya. Saat
      itu Vincent menunjukkannya ketika saya sedang
      mengantri untuk membayar minuman-minuman
      `percobaannya' dan saya sedang kesal sekaligus
      berpikir kok bisa ya aku mengeluarkan duit untuk
      hal-hal yang aneh dan mungkin gak ada gunanya seperti
      ini? Lalu si Vincent mengatakan kekesalan yang aku
      alami itu bukanlah semata-mata berasal dari diri saya
      sendiri. Melainkan hasil pengaruh/timpaan dari
      perasaan/memori orang lain. Saya sendiri tidak begitu
      saja menerima perkataan Vincent tersebut karena
      mungkin saja itu cuman excuse-nya Vincent untuk
      pembenarannya sekaligus untuk menyangkal rasa kesal
      saya karena telah mengeluarkan duit. Namun dipikir
      lebih mendalam lagi, saya juga telah diajarkan bahwa
      semua perasaan berasal dari dalam diri saya sendiri,
      jadi jangan selalu mencari kambing hitam. Saya yang
      mau dikerjain oleh anak indigo gila ini, maka saya
      harus rela disuruh-suruh mengeluarkan duit untuk
      barang-barang yang tak jelas. Jadi saya tidak mau
      begitu saja menyalahkan si Vincent, gak baik
      menyalahkan orang lain. Apalagi menyalahkan seorang
      ibu yang tadi mengantri di depan saya yang dikatakan
      oleh Vincent sebagai asal penyebab dari perasaan saya
      itu. Sejurus kemudian, karena saya melihat mudahnya
      perubahan kepribadian pada diri Vincent, saya kemudian
      menjadi sadar bahwa saya masih MEMISAHKAN ANTARA ASAL
      MULA PERASAAN PRIBADI SAYA DENGAN REALITAS. Tidak
      mungkin asal mula perasaan saya terputus dari
      realitas! Di suatu tempat/posisi pasti ada suatu awal
      dimana saya mulai merasa mengklaim perasaan itu
      sebagai milik saya. Dan Vincent melihatnya pada posisi
      perasaan si ibu tadi. Bagi Vincent, saya telah
      melakukan copy & paste tanpa saya sadari sehingga
      perasaan ibu itu
      menjadi perasaan milik saya yang tentu saja telah
      disesuaikan dengan konteks permasalahan saya. Tapi
      tema-nya sama. Yaitu permasalahan uang. Kalau
      dipikir-pikir lebih lanjut lagi, hal ini sebenarnya
      tidaklah aneh. Sudah sering bukan ketika kita memasuki
      suatu ruangan yang penuh dengan orang, kita dapat
      `merasakan' suasana ruangan tersebut. Atau baru saja
      tadi pagi saya melihat acara Ceriwis, dimana saya
      menonton idola saya Dian Sastro. Seketika itu juga
      saya bisa membaca perasaan yang sedang dimiliki oleh
      Dian Sastro, memang saya tidak langsung ketimpa dengan
      perasaan yang sama sih, tapi saya langsung tahu Dian
      Sastro sedang putus cinta dan dia memotong rambutnya
      ketika mengetahui dirinya bakal putus (walaupun dia
      menyangkal alasan memotong rambutnya karena putus
      cinta, ketika ditanya pada acara tersebut). Jika saya
      bertemu fisik dengannya mungkin saja saya langsung
      dapat ketimpa `suasana' perasaan tersebut seperti yang
      telah saya alami bersama ibu yang ngantri di depan
      saya tadi. Mungkin karena perasaan itu sifatnya mudah
      menular. Kata Vincent, lanjutnya, perasaan yang telah
      aku alami tadi itu terjadi karena perasaan ibu
      tersebut cukup kuat, namun sebenarnya bisa aku ubah
      dengan cepat dan tidak tertimpa lagi, tergantung
      seberapa sadar dan besarnya kendali kita terhadap diri
      kita sendiri. Untuk mendapatkan kendali tentu saja
      kita haruslah nir-nilai, tidak sedang terikat oleh
      sistem binari (benar-salah atau rasa bersalah).

      Terakhir baru saja tadi malam Vincent memberi saran
      kepada saya. Dhi, sekarang kamu menganggap terpisah
      kegiatan menebak/membaca memori dengan kegiatan
      mengalami kehidupan sehari-hari. Kamu masih merasa
      `wah', `aneh', `lucu', `hebat' dapat melakukan tebakan
      atau pembacaan memori seperti itu. Tapi ada saatnya
      nanti kamu tidak dapat membedakan lagi apakah kamu
      sedang membaca memori atau hanya mengalami kehidupan
      sehari-harimu yang biasa itu. Pada saat itu membaca
      memori/melakukan kompati sudah begitu alaminya
      sehingga tidak menjadi `wah' lagi. Hanya kegiatan
      sederhana. Mendengar hal ini, terus-terang saya
      menjadi tersentuh.

      Ini barulah sekelumit dari segudang yang pengen saya
      bagikan dan curahkan dari perasaan dan pengalaman saya
      setelah didekons, namun saya rasa tulisan ini cukup
      untuk mewakilkan perasaan saya ketika pertama kali
      bertemu Vincent dan didekons olehnya. Lalu
      rekonstruksinya kok enggak diceritain? Tentu kalau
      para pembaca cukup teliti membaca tulisan ini, pembaca
      telah mengetahui dimana letak rekons pada diri saya.
      Terima-kasih karena telah berbagi `rasa' dengan saya.

      Salam,
      Adhi Purwono
      Ciledug, 30 Agustus 2006






      Kitab Masuk Angin
      Pendahuluan dan Tujuan Penulisan.
      Ditulis oleh: Adhi Purwono

      Tentu di setiap tulisan, ada maksud yang ingin
      disampaikan. Anda mungkin menilai judul kitab yang
      saya bawakan cukup aneh atau mengada-ada. Saya ingin
      menjelaskan latar-belakangnya dulu. Kitab yang saya
      tuliskan ini adalah salah satu perwujudan versi saya
      sendiri dari ilmu kompatiologi. Walaupun Vincent
      sebagai penemu ilmu Kompatiologi tersebut dan Vincent
      juga yang telah memperkenalkan dan mengajarkannya
      kepada diri saya (baik tatap-muka, hubungan telepon
      ataupun melalui milis), namun isi dari kitab ini
      adalah sepenuhnya tanggung-jawab saya dan tidak
      terikat dengan kitab-kitab lain yang
      telah ada juga tidak terikat dengan Ilmu Kompatiologi
      itu sendiri, alias isi kitab ini hanyalah pemahaman
      saya sendiri tentang ilmu tersebut yang bisa saja
      tidak sesuai dengan yang ditemukan/dimaksudkan oleh
      Vincent sendiri.

      Jadi saya sendiri telah merasa ikut memiliki Ilmu
      Kompatiologi (sehingga menjadi ilmu versi pemahaman
      saya) dan ingin ikut serta juga mengembangkannya
      sejauh yang saya sanggupi. Saya juga tidak mengklaim
      bahwa pengembangan Ilmu Kompatiologi versi saya adalah
      yang paling benar karena saya tidak peduli apakah
      pemahaman saya harus sesuai dengan pemahaman Vincent,
      atau pemahaman mang Iyus, mbak Isti, Audivax, atau
      pemahaman teman-teman yang lain. Pemahaman saya adalah
      pemahaman saya sendiri, ekspresi diri saya sendiri.
      Jika ada yang ingin memberikan kritik dan saran, saya
      menerimanya dengan tangan terbuka, dan jika pula ada
      yang dapat memetik manfaat dari tulisan kitab ini,
      saya merasa sangat senang kitab ini telah dapat
      berguna bagi anda sekalian.

      Mengapa saya menulis kitab dengan judul Kitab Masuk
      Angin? Pertama, karena saya terinspirasi dengan sistem
      cell-nya yang digagas oleh Vincent, sehingga untuk
      mewujudkan tiap cell maka diciptakanlah aliran-aliran
      pemahaman atau kitab-kitab. Kedua, saya memilih
      menulis aliran pemahaman Angin (bukan berarti saya
      penganut aliran pemahaman Angin, saya tidak terikat
      dengan aliran pemahaman apapun) karena saya lebih suka
      membawakan Ilmu Kompatiologi yang bersifat tidak
      berhenti lalu kemudian eksklusif menjadi milik
      golongan tertentu. Melainkan yang selalu menciptakan
      pemahaman baru, ide baru, pengembangan baru yang
      sifatnya seperti angin, muncul dari mana-mana dan
      dapat dirasakan manfaatnya dimana-mana dan bagi
      siapapun yang berminat. Ketiga, kenapa Masuk Angin?
      Sederhananya karena mang Iyus sudah menulis Kitab
      Angin (tanpa embel-embel) sehingga saya tentu tidak
      bisa mengambil judul yang sama karena akan menjadi
      ambigu. Dan walaupun sama-sama memakai judul kata
      Angin, tapi pemahaman saya tidak terikat dan tidak
      harus sesuai dengan pemahaman mang Iyus. Alasan
      lainnya, bagi saya, Angin sebagai sumber tenaga alam
      bisa `ditangkap' atau dimanfaatkan seperti pada
      teknologi kincir angin atau teknologi sayap pesawat
      terbang. Dan akan sangat disayangkan bila Angin
      sebagai sumber tenaga alam yang sangat melimpah hanya
      diabaikan/dibiarkan begitu saja tanpa pemanfaatan
      berarti. Artinya, walaupun bisa menciptakan konsep
      pemikiran segudang (karena berasal dari Angin), dan
      seberapapun kreatif-orisinilnya konsep tersebut,
      haruslah pertama-tama disadari dulu Angin manfaatnya,
      dihayati, kalau perlu sampai `masuk-angin' sehingga
      bisa menjadi sumber energi Api, sumber gerakan Air,
      atau sumber kelembaban Tanah. Lagipula orang yang
      sedang `masuk-angin' dia akan terpaksa melakukan
      `retret sejenak' alias beristirahat yang cukup untuk
      memulihkan kondisinya. Sekaligus sebagai penyadaran
      bahwa `kebanyakan-angin' (terlalu berkonsep) atau
      `udara sakit - angin mati - gerah' (mengabaikan
      konsep) bisa mengganggu kestabilan `kesehatan – sistem
      tubuh' dan bisa mengakibatkan orang masuk angin.

      Akhir kata, selamat menikmati tulisan-tulisan pada
      Kitab Masuk Angin ini. Saya bersama tulisan-tulisan
      dalam kitab ini berharap, kita semua semakin
      mensyukuri kehidupan yang sangat-sangat indah ini.
      Jika tidak percaya, coba saja masuk-angin, anda akan
      merindukan kesehatan anda sekaligus kehidupan normal
      anda yang sementara hilang karena anda lagi
      beristirahat di rumah.

      Salam,
      Adhi Purwono.
      Ciledug, 31 Agustus 2006



      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.