Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Mencari Indonesia di Tengah Arus Neo Liberalisme dan Fundamentalisme Agama

Expand Messages
  • priopratomo
    Era globalisasi ekonomi dan politik telah menandai awal abad ke-21 dengan segala perubahan total di seluruh dunia. Bipolaritas yang terjadi antara kekuatan
    Message 1 of 1 , Aug 18, 2006
    • 0 Attachment
      Era globalisasi ekonomi dan politik telah menandai awal abad ke-21
      dengan segala perubahan total di seluruh dunia. Bipolaritas yang
      terjadi antara kekuatan blok negara-negara Barat dengan blok
      negara-negara komunis telah menghilang bersamaan dengan runtuhnya Uni
      Sovyet. Sejalan dengan itu, globalisasi ekonomi dan politik mulai
      berlangsung dengan segala konsekuensinya sebagai sebuah pintu masuk
      dari gagasan neoliberalisme. Faktor pasar (market) menjadi kekuatan
      penentu selain faktor negara (state) dan masyarakat madani (civil
      society) di dalam demokratisasi yang tengah berlangsung dimana-mana.
      Logika globalisasi yang berjalan tersebut pada awalnya dipandang
      sebagai kesetaraan (equality) ternyata kemudian dilihat tidak lebih
      dari sekedar usaha identifikasi secara total dari satu sistem sosial
      politik dan budaya berlangsung di seluruh dunia. Misalnya demokrasi
      sebagai pengambilan keputusan yang merupakan identifikasi secara
      langsung dari sistem yang sudah ada, diterapkan menjadi sebuah
      tatanan. Tatanan tersebut pada kenyataannya berhadapan dengan politik
      lokal yang secara tradisional tidak bersinggungan dengan cara-cara
      demokratis seperti hirarki feodal yang diwariskan secara
      turun-temurun.
      Akibatnya ketika sebuah keterbukaan baru ditawarkan kepada sebuah
      bentuk lama, konflikpun tidak bisa dihindari. Tidak saja dalam
      perspektif budaya politik tersebut, perspektif lainnya pun mengalami
      pergeseran dan benturan. Hal ini terjadi secara massif di seluruh
      dunia sehingga pada akhirnya banyak pihak menyalahkan neoliberalisme
      sebagai gagasan yang menghancurkan budaya dan sistem sosial politik
      lokal dan tata ekonomi lokal. Upaya identifikasi tanpa melihat
      kesetaraan tadi memperlebar jurang antar negara maju dan berkembang,
      dikarenakan kini semua pihak bisa mendapatkan kesempatan yang sama
      secara teknis tetapi modal sosial yang dimiliki sangat berbeda-beda.
      Konsekuensi dari neoliberalisme adalah fundamentalisme pasar dan
      fundamentalisme agama sebagai dua raksasa besar yang menghimpit
      demokrasi. Pada akhirnya demokrasi hanya digunakan sebagai instrumen
      untuk tujuan-tujuan yang tidak demokratis.
      Apakah sebenarnya neoliberalisme itu? Mengapa ia tumbuh dan berkembang
      serta dianggap menjadi ancaman bagi budaya dan sistem politik lokal
      dari negara-negara yang sedang berkembang? Disatu sisi gagasan
      neoliberalisme menawarkan sebagai bentuk universalitas mengenai
      penghargaan terhadap hak azasi manusia, lantas mengapa pula di sisi
      lain malah memungkinkan timbulnya peluang penindasan terhadap hak
      azasi manusia? Bagaimanakah pula sebenarnya neoliberalisme di
      Indonesia?
      Kami melihat Indonesia pun tidak terlepas dari masalah-masalah
      tersebut. Sebagai negara yang masih sangat muda usianya, tantangan
      untuk bisa maju tidak saja didapat dari masalah-masalah dalam negeri
      seperti masalah sosial politik, ekonomi, budaya dan hukum tetapi juga
      kaitannya dengan gelombang demokratisasi dan arus globalisasi dari
      luar yang saling berkaitan satu sama lain. Isu mengenai terorisme,
      fundamentalisme, bahaya kelaparan, pelanggaran HAM, korupsi dan
      lainnya adalah sebagai banyak kejadian. Kemajuan dalam sistem sosial
      politik yang ditandai oleh gelombang demokratisasi dan kemajuan dalam
      tata teknologi di Indonesia ternyata masih belum diimbangi oleh
      penguatan modal sosial dan sumber daya manusia, sehingga dibutuhkan
      analisa kritis untuk bisa memahami tentang gagasan neoliberalisme
      tidak saja sebagai sebuah fenomena, tetapi juga bagaimana orang dapat
      memahani relevansi gagasan neoliberalisme sebagai faktor dalam
      berbagai telaah dan konteks seperti kajian teoritis, sejarah, hukum
      dan HAM, sosial politik dan budaya.
      Kami menyadari bawah diperlukan sebuah rangkaian pembahasan secara
      sistematis terhadap isu-isu tersebut agar publik bisa melihat dan
      mengetahui sebagai penyebarluasan informasi sekaligus memahami secara
      kritis tentang gagasan neoliberalisme terutama dalam kaitannya pada
      momentum 61 tahun Indonesia merdeka. Kemerdekaan yang kita nikmati
      hingga saat ini seyogyanya bukan sekedar kemerdekaan fisik dari
      penjajahan/kolonialisme tetapi juga kemerdekaan pikiran atas kesadaran
      berbangsa dan bernegara.
      Oleh karena itu, kami mengadakan Seminar Sehari RENUNGAN INDONESIA :
      MENCARI INDONESIA DI TENGAH ARUS NEO LIBERALISME dan FUNDAMENTALISME
      AGAMA. Berikut ini susunan acaranya:

      1. Pre Event Seminar Sehari : Renungan Indonesia

      Acara pendahuluan Seminar Sehari : Renungan Indonesia akan diadakan
      pada tanggal 22 Agustus 2006 dengan pemutaran film (Crash ) dan
      diskusi di Ruang Audio Visual Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
      (FISIP) Universitas Katolik Parahyangan pada pukul 14.00 – 17.00 WIB.
      Pembicara : Aulia Fitri P (Presiden Mahasiswa Unpar)
      Nazar Afiyansyah
      Iwan Hendarmawan (pengamat budaya)
      Moderator : Adhito Arinugroho (PUSPIK)
      Acara lainnya adalah kegiatan pameran buku alternatif dan produk
      komunitas kontra kultur dan gerakan anti neoliberalisme yang ada di
      Bandung.

      2. Seminar Sehari : Renungan Indonesia

      Seminar Sehari RENUNGAN INDONESIA : MENCARI INDONESIA DI TENGAH ARUS
      NEO LIBERALISME dan FUNDAMENTALISME AGAMA akan diadakan di Ruang Audio
      Visual Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas
      Katolik Parahyangan Jln. Ciumbuleuit 94 Bandung, Tanggal 23 Agustus
      2006, jam 08.30 hingga 17.00 WIB.


      JAM ACARA
      08.30-08.45 Registrasi Peserta
      08.45-09.00 Pembukaan

      Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Pengembangan Ilmu Kemasyarakatan
      (PUSPIK)
      Fernando R Srivanto, SS, Msi
      Ketua Jurusan Administrasi Publik Unika Parahyangan
      Dr. Pius Sugeng Prasetyo
      Rektor Unika Parahyangan
      Pius Suratman Kartasasmita PhD

      Paduan Suara: Lagu-lagu perjuangan.
      09.00-10.30 Fundamentalise Pasar Versus Fundamentalisme Agama:
      Demokrasi Kita Di Tengah Pertarungan Neoliberalisme dan
      Fundamentalisme Agama
      Pembicara : Dr. Daniel Dhakidae (Litbang Kompas)
      Dr. Dawam Rahardjo
      Moderator : Drs. P.Y. Nur Indro, Msi (FISIP Unpar)
      10.30-11.00 Rehat kopi
      11.00-12.30 Tinjauan Kritis Terhadap Pengaruh Neoliberalisme Di
      Indonesia
      Pembicara : Ignatius Wibowo
      Dr. Bob Sugeng Hadiwinata (FISIP Unpar)
      Moderator : Adrianus Harsawaskita, MA
      12.30–13.30 Makan Siang.
      13.30–15.00 Fundamentalisme Agama dan Masa Depan Pluralisme
      Pembicara : A. Rahman Tolleng*
      Goenawan Mohammad
      Lutfie Assyaukanie
      Moderator : Stephanus Djunatan, MA
      15.00-15.30 Rehat kopi, Performance Art
      15.30-17.00 Panel: Pancasila Sebagai Perekat Segala Perbedaan dalam
      Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
      Pembicara : Todung Mulya Lubis (Ketua P2D)
      P.C Suroso (FE Unpar)
      Ucok (Homicide)
      Aulia Fitri P.
      Moderator : Bey Bambang Subagyo, SH, MH
      17.00 Tutup
      *) Dalam Konfirmasi
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.