Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Planet Mars

Expand Messages
  • Iman Persada
    Planet Mars Posted by: iqbal maulana neo_x_ball@yahoo.com neo_x_ball Thu Jul 20, 2006 3:13 am (PST) Dari milis tetangga: Planet Mars akan menjadi
    Message 1 of 2 , Jul 21, 2006

      Planet Mars

      Posted by: "iqbal maulana" neo_x_ball@...   neo_x_ball

      Thu Jul 20, 2006 3:13 am (PST)

      Dari milis tetangga:

      Planet Mars akan menjadi bintang yang paling terang mulai Agustus. Besarnya akan terlihat sebesar bulan purnama.
      Puncak terangnya planet ini adalah tanggal 27 Agustus ketika Mars mendekat dengan jarak sekitar 34.65M mil dari bumi.

      Pastikan anda memandang ke langit pada 27 Agustus jam 12:30 pagi (Sabtu setelah tengah malam).
      Akan terlihat seolah bumi memiliki 2 bulan.Saat berikutnya Mars akan begitu dekat dengan bumi pada tahun 2287.

      Sebarkan kabar ini kepada kawan-kawan anda karena TAK ADA SEORANGPUN DARI YANG HIDUP SAAT INI akan menyaksikannya lagi.


      Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.
    • lebah buayawati
      Dapet dari milis lain. Smoga agak jelas.Take care all. Maza daily_crcs@yahoogroups.com From: ferry muhammad Add to Address Book Add
      Message 2 of 2 , Aug 4, 2006

        Dapet dari milis lain.
         
        Smoga agak jelas.Take care all.
         
        Maza

        daily_crcs@yahoogroups.com
        From:  "ferry muhammad" <fermesir@...>  Add to Address Book  Add Mobile Alert 
        Date: Fri, 4 Aug 2006 00:09:41 -0700 (PDT)
        Subject: [daily_crcs] Awan 'aneh' sebelum Gempa
           
        Awan Sebelum Gempa
        Meski terbukti kebenarannya, para peneliti tak memakai
        prediksi gempa lewat awan untuk konsumsi publik.
        Sebuah keganjilan yang kasat mata meliputi langit kota
        Bam, Iran, di penghujung 2003. Awan panjang misterius
        berbentuk tornado itulah pemicunya. Menjulur dari kaki
        langit Bam, membelah angkasa sepanjang beberapa
        kilometer, sang awan putih menebar ketidaklaziman
        sekaligus tanya: ini pertanda apa?
        Pada 26 Desember yang naas itulah tanya itu segera
        terjawab. Dari bawah tanah, kulit Bumi berguncang
        sehebat 6,3 Skala Richter menggoyang kota kuno itu,
        meremukkan 60 persen bangunan bersejarah, dan membunuh
        lebih dari 4.000 orang. Awan putih itu ternyata
        pertanda petaka gempa.
        Di Yogyakarta, 12 Juli lalu, awan misterius seperti di
        Bam muncul dari kaki langit Bantul. Di Ibu Kota
        Jakarta, awal pekan ini, warga ribut melihat awan aneh
        berbentuk tornado yang melintang. Betulkah awan
        tornado pertanda gempa?
        Dr Sarmoko Saroso, peneliti senior Lembaga Penerbangan
        dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengatakan studi
        tentang awan gempa terhitung anyar di kalangan
        seismologis. Fenomena menarik itu baru dibedah
        peneliti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sepanjang
        satu dekade terakhir. Dari hasil riset satu
        dasawarasa, mereka sepakat satu hal: prediksi gempa
        lewat awan untuk sementara belum boleh bebas
        dikonsumsi publik.
        Namun, para ilmuwan itu juga sepakat satu hal. ''Betul
        bahwa gempa bisa diprediksi lewat awan. Ada argumen
        ilmiah untuk itu,'' ungkap Sarmoko, yang sudah 30
        tahun menjadi peneliti LAPAN, Kamis (3/8), kepada
        Republika.
        Ia memberi contoh gempa hebat di Bam, Iran pada 2003
        yang didahului kemunculan awan misterius berbentuk
        tornado ke arah barat 4-5 hari menjelang lindu.
        Termasuk kemunculan awan putih seperti puting beliung
        di langit kota Kobe, Jepang, sebelum gempa besar pada
        Januari 1995. Mengapa awan sekonyong-konyong
        memperlihatkan corak aneh?
        Uap air tanah ke angkasa
        Menurut Sarmoko, awan misterius berbentuk tornado itu
        bukanlah awan metereologis yang tercipta akibat
        dorongan angin atau aktivitas iklim biasa. Awan ini
        juga tidak terbentuk akibat perubahan medan
        elektromagnetik di udara akibat pergeseran kerak bumi,
        seperti yang santer diberitakan media massa.
        Namun, ''Awan misterius itu tercipta akibat pergumulan
        uap air panas yang muncul dari rekahan permukaan Bumi
        dengan udara dingin di angkasa,'' jelas Sarwoko. Uap
        air panas itu melesak dari tanah sebagai dampak
        aktivitas seismik tingkat tinggi di perut Bumi. Uap
        air itu juga bertekanan tinggi.
        Ia menjelaskan pergeseran hebat bebatuan di perut Bumi
        sebelum gempa (stress mechanic), mendorong terciptanya
        rekahan-rekahan di lapisan di atasnya hingga ke
        permukaan. Rekahan ini lantas melahirkan tekanan yang
        mendorong air tanah di kulit Bumi melesak ke atas.
        Gesekan raksasa antarbatuan ini, jelas Sarmoko, juga
        mendorong timbulnya temperatur tinggi di area
        tersebut. Akibatnya, air tanah yang menerobos ke atas
        pun ikut memperoleh terpaan panas, mendidih, dan
        berubah menjadi uap air. Uap air lantas menyelusup
        lewat rekahan di permukaan Bumi, terbang ke angkasa.
        Di angkasa ia bertemu dengan udara dingin (cool air),
        mengalami kondensasi, dan --melalui proses
        fisika-kimia-- menciptakan bentukan awan seperti
        tornado yang akrab disebut awan gempa. ''Karena
        itulah, jika dilihat dari satelit, setiap awan gempa
        yang menjulang di angkasa dipastikan memiliki pangkal
        (kaki) yang bersumber tepat di titik episenter gempa
        di tanah,'' jelas dia.
        Secara umum awan gempa ini berbentuk garis lurus
        vertikal di angkasa, seperti tornado, bulu ayam, atau
        lentera. Menurut Sarmoko, fenomena ini membuka peluang
        prediksi gempa yang sebelumnya disinyalir mustahil
        dilakukan. Paling tidak, 50 awan gempa sempat terbit
        di Amerika Serikat dan pemerintah setempat mensinyalir
        sebagai pertanda lindu. Tiga puluh prediksi di
        antaranya terbukti benar.
        Sayangnya, awan gempa ini tak selalu muncul setiap
        kali bakal terjadi gempa. Pasalnya, kata Sarmoko, uap
        air panas yang terbit dari episenter di kulit Bumi tak
        selalu menemukan cool air di angkasa yang memberi
        peluang terjadinya proses kondensasi.
        Harus diklarifikasi satelit
        Sarmoko tak menafikan kenyataan bahwa kerap kali
        terjadi awan-awan mirip awan gempa (berbentuk tornado
        atau berupa garis lurus) di angkasa. Ini berpotensi
        menciptakan ketidakpastian dan keresahan masyarakat
        seperti yang belakangan terjadi. Soal awan tornado di
        Bantul, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG)
        menegaskan bahwa itu awan cirrus yang kerap muncul
        saat musim kemarau.
        Namun, Sarmoko menegaskan awan gempa memiliki sejumlah
        kriteria prinsipil yang harus dipenuhi. Pertama, ia
        harus muncul paling sebentar sehari penuh atau 1x24
        jam. ''Jika cuma satu atau dua jam saja, amat mungkin
        itu bukan awan gempa, meski bentuknya memang mirip,''
        kata dia.
        Meski begitu, tempo penampakan di angkasa bukan
        jaminan bahwa itu benar-benar awan gempa. ''Pembuktian
        final harus melalui satelit,'' papar dia lagi. Cuma
        lewat satelit, kata Sarmoko, dapat diungkap secara
        terang benderang apakah awan berbentuk tornado itu
        memiliki pangkal tepat di titik episenter gempa di
        tanah. Atau ia cuma awan biasa yang mirip tornado.
        Kamis (3/8) kemarin, Sarmoko tengah berada di pusat
        satelit LAPAN di Pekayon, Jakarta Timur. Ia melakukan
        klarifikasi satelit guna memastikan status awan gempa,
        menindaklanjuti informasi dari masyarakat soal
        penampakan awan tornado di Jakarta, Bandung, dan
        Bantul. Jika benar itu awan gempa, kapan gempa bakal
        terjadi?
        Kata Sarmoko, gempa bisa terjadi 4-5 hari setelah
        penampakan awan gempa. ''Bisa juga hingga 130 hari
        kemudian,'' papar dia lagi, menuturkan pengalaman yang
        terjadi di Jepang, AS, dan Cina.
        Sarmoko yakin pemantauan satelit awan gempa merupakan
        terobosan besar untuk mitigasi bencana gempa.
        Sayangnya, Indonesia lumayan ketinggalan di situ. Kata
        dia, satelit LAPAN hanya dapat melakukan pengamatan
        pergerakan awan maksimal tiga kali sehari alias tidak
        bisa kontinyu. Dikhawatirkan, awan yang diduga awan
        gempa tak dapat termonitor maksimal.
        Selain itu, ada kesepakatan di kalangan ilmuwan
        sedunia agar tidak menggunakan awan gempa sebagai
        prediksi gempa untuk konsumsi publik. Hingga saat ini,
        informasi penting itu sebatas digunakan di komunitas
        internal ilmuwan meski sudah dapat dibuktikan
        kebenarannya.
        Fakta Angka
        1 x 24 jam
        Kemunculan awan seperti angin tornado yang menandakan
        akan munculnya gempa bumi.
        Anomali Elektromagnetik di Aceh dan Nias
        Tak keliru jika geliat perut Bumi menggenjot aktivitas
        gelombang elektromagnetik (EM) di udara. Sebagai
        bukti, LAPAN menemukan adanya lonjakan sinyal ultra
        lower frequency (ULF) atau gelombang EM berfrekuensi
        rendah menjelang gempa hebat di Nanggroe Aceh
        Darussalam (NAD) dan Nias.
        Anomali itu terekam oleh magnetometer milik LAPAN di
        Kototabang, Bukit Tinggi, Sumatra Barat, beberapa
        pekan sebelum gempa 8 SR dan 9 SR di pantai barat
        Sumatra. ULF adalah gelombang EM berfrekuensi kecil,
        3-30 Hertz. Lonjakan ULF merupakan indikator soal
        adanya aktivitas perubahan medan elektromagnetik luar
        biasa di udara akibat perubahan medan listrik.
        Perubahan medan listrik, kata Sarmoko, seringkali
        dipicu oleh aktivitas seismik tingkat tinggi di perut
        Bumi akibat gesekan antar lempeng. Magnetometer dapat
        mengukur besaran perubahan ini. Anomali, berupa
        lonjakan, kerap kali menjadi petunjuk bernas soal
        bakal terjadinya gempa.
        Lonjakan gelombang EM ini pula yang diyakini memicu
        kegelisahan hewan-hewan liar, yang membuat mereka
        berhamburan dari gunung dan hutan sesaat menjelang
        gempa hebat. Tingkah aneh para hewan ini sejak lama
        diyakini sebagai pertanda gempa atau gunung meletus.
        Jepang secara serius terjun di riset soal gelombang
        EM. Beberapa gempa besar di Jepang, kata Sarmoko,
        terbukti diiringi anomali gelombang EM. Inilah 'celah'
        yang ditemukan para ahli untuk mampu meramal gempa, di
        tengah angin pesismisme saat ini soal belum
        tersedianya teknologi untuk prediksi.
        Sarmoko termasuk yang menenggelamkan diri pada riset
        ini. Bekerja sama dengan Jepang, tiga institusi;
        LAPAN, LIPI, dan BMG; melakukan joint-research khusus
        soal gelombang EM gempa hingga tahun 2008. Lewat riset
        mendalam, diharapkan anomali gelombang EM benar-benar
        dapat dimanfaatkan untuk keperluan mitigasi, bukan
        sekadar informasi untuk para peneliti.
        Saat ini Indonesia memiliki sejumlah magnetometer
        untuk mengukur anomali gelombang EM, yakni di Bukit
        Tinggi (Sumbar), Medan (Sumut), Pare-Pare (Sulsel),
        Pontianak (Kalbar), dan Kupang (NTT). Sayangnya
        semuanya terpusat di luar Jawa. Satu-satunya
        magnetometer di Jawa, yakni di Mojokerto, Jatim, raib
        dicuri orang.
        (imy )
         


        Peace Generation is da Best
        Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
        Joy oh joy
        Of the life adventure I'll find in the next bend of being
        Since knowledge omnivora have I decided to be  
         
        "Aerodynamically a bee can't fly .
        But since a bee don't know the law of aerodynamics , a bee fly."
        Mary Kay Ash
        Don't know who she is but worthy word she does has.


        Do you Yahoo!?
        Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.