Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Fwd: Kakiku Kuat Kepalaku Ada Surainya...

Expand Messages
  • Rumah Pelangi
    Ratih Anwar wrote: From Ratih Anwar Mon Jul 10 03:54:26 2006 X-Apparently-To: rumahpelangi@yahoo.com via 206.190.48.237; Mon, 10
    Message 1 of 1 , Jul 10, 2006
      Ratih Anwar <tribhuanadevi@...> wrote:
      From Ratih Anwar Mon Jul 10 03:54:26 2006
      X-Apparently-To: rumahpelangi@... via 206.190.48.237; Mon, 10 Jul 2006 03:54:26 -0700
      X-Originating-IP: [209.73.178.204]
      Return-Path: <tribhuanadevi@...>
      Authentication-Results: mta238.mail.re2.yahoo.com
      from=yahoo.com; domainkeys=pass (ok)
      Received: from 209.73.178.204 (HELO web60716.mail.yahoo.com) (209.73.178.204)
      by mta238.mail.re2.yahoo.com with SMTP; Mon, 10 Jul 2006 03:54:26 -0700
      Received: (qmail 53120 invoked by uid 60001); 10 Jul 2006 10:54:26 -0000
      DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws;
      s=s1024; d=yahoo.com;
      h=Message-ID:Received:Date:From:Subject:To:MIME-Version:Content-Type:Content-Transfer-Encoding;
      b=dYZAnJH8RZIapt3NF42JLC4hPMyAwNJKtQ++LYSRAQ3Z5xVW4JDoo7y14+KAlS/MbqFHIvLLuYyRc3fM7S8ytzAuqXysY4dMIrNJGSwsjz82bVmLVze16s8CF1dwduy4sk+hJ4/8oBdLjzRE8t6VxeNFgzHpD+K88XUlJFbF0R0= ;
      Message-ID: <20060710105426.53118.qmail@...>
      Received: from [203.91.132.18] by web60716.mail.yahoo.com via HTTP; Mon, 10 Jul 2006 03:54:26 PDT
      Date: Mon, 10 Jul 2006 03:54:26 -0700 (PDT)
      From: Ratih Anwar <tribhuanadevi@...>
      Subject: Kakiku Kuat Kepalaku Ada Surainya...
      To: theperpika@yahoogroups.com, rumahpelangi@..., wisnoeshiwa@...,
      hariyo_agung@...
      MIME-Version: 1.0
      Content-Type: multipart/alternative; boundary="0-2067377348-1152528866=:52826"
      Content-Transfer-Encoding: 8bit
      Content-Length: 12043

      Dear teman-teman PERPIKA,
       
      Apa kabar? Semoga studinya lancar dan juga tetap dapat bergiat di PERPIKA.
      Berikut ini tulisan saya yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman. Hal ini berkaitan dengan apa yang saya dengar dari Mas Andi Fadly Yahya bahwa teman-teman di Korea telah mengumpulkan dana yang dititipkan Mas Fadly untuk disampaikan pada korban gempa di Jogja.
       
      Jika diperkenankan, apakah sebagian dana itu bisa dialokasikan untuk anak-anak korban gempa yang membutuhkan peralatan sekolah.
       
      Tulisan saya ini memberikan sedikit ilustrasi kondisi "tunas-tunas muda harapan bangsa" di Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan Bantul, yang menjadi salah satu lokasi gempa yang parah di DIY.
       
      Terimakasih atas kesediaan teman-teman membaca sampai akhir "reportase langsung dari lokasi bencana gempa" ini.
      Maturnuwun.
       
      Best regards,
       
      Ratih Pratiwi Anwar
      Pusat Studi Korea UGM 
       
       
      KAKIKU KUAT
      KEPALAKU ADA SURAINYA
       
       
       
      “Menjadi relawan ternyata menambah wawasan dan kekayaan batin, apalagi jika uluran tangan yang tidak berarti itu ternyata sangat dibutuhkan….”
       
       
      Oleh: Ratih Anwar
       
       
      Berbagai kesan terbawa pulang setelah hampir satu hari saya berkunjung ke lokasi gempa di  Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta  Piyungan (arah menuju kota Wonosari) termasuk kecamatan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa 5,9 Skala Richter versi BMG pada tanggal 27 Mei 2006 lalu.
       
      Kepergian saya ke Piyungan pada hari ke-40 setelah gempa yang dahsyat ini, ada dua maksud. Pertama, sebagai pihak yang dititipi dana bantuan oleh teman baik saya, Hariyo Agung Nugroho yang tinggal di Jakarta , saya bermaksud menyerahterimakan bantuan tersebut di Desa Srimartani. Setelah itu, saya akan bergabung dengan teman-teman relawan yang dikoordinir oleh “Rumah Pelangi” di Desa Sitimulyo. Keduanya termasuk wilayah Kecamatan Piyungan.
       
      Dalam dua bencana yang menimpa Yogyakarta dan Bantul, yakni meletusnya gunung Merapi dan gempa bumi tektonik beberapa waktu lalu, komunitas Rumah Pelangi  tidak kalah untuk membantu. Ketika aktivitas Merapi meningkat sejak awal Mei 2006, Rumah Pelangi membuat “pos” di salah satu posko pengungsi korban Merapi. Pos ini menjadi pusat kegiatan komunitas Rumah Pelangi untuk menghibur (trauma relief) anak-anak pengungsi dengan pembuatan perpustakaan anak-anak dan berbagai kegiatan yang bermanfaat seperti menggambar dan ketrampilan.
       
      Berkenaan dengan adanya gempa di DIY dan Jateng bekerjasama dengan sebuah organisasi internasional yang memfokuskan dirinya pada anak-anak, Rumah Pelangi membuat program trauma relief untuk anak-anak di 8 dusun yang terkena gempa di Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan. Kali ini Rumah Pelangi mengkoordinir teman-temannya yang mau bergabung menjadi relawan di daerah tersebut. Program yang dirancang adalah “stress/trauma relief” untuk anak-anak yang diadakan seminggu 3 kali (Selasa, Kamis, Sabtu) dari jam 1 sampai jam 5 sore di masing-masing dusun. Kegiatan ini berlangsung sejak awal Juni sampai bulan Agustus 2006 dengan target anak-anak korban gempa sudah berkurang trauma dan stres mereka akibat gempa.
       
      Berkaitan dengan bantuan dana yang diberikan oleh teman baik saya, saya lontarkan ide padanya agar bantuan tersebut ditujukan untuk anak-anak dalam bentuk paket perlengkapan sekolah (alat tulis dan sebagainya). Tentunya hal ini akan sangat bermanfaat karena sebentar lagi anak-anak tingkat SD akan memulai tahun ajaran baru. Apalagi, kondisi rumah mereka masih porak-poranda, dana orang tua mereka yang terbatas dan bantuan-bantuan yang ada tidak selalu ditujukan pada kebutuhan anak. Teman saya setuju untuk ide tersebut. Persoalannya, anak-anak di daerah mana yang “pantas” untuk mendapat bantuan tersebut dan bagaimana cara yang terbaik untuk distribusinya?
       
      Beruntung. Pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan Mas Gunawan  yang sering bercerita aktivitasnya di Piyungan. Bagaikan gayung bersambut, Mas Gunawan membantu memberikan solusi. Kecamatan Piyungan merupakan salah satu sasaran yang layak untuk mendapat bantuan. Dengan data jumlah anak-anak SD yang berhasil dikumpulkan oleh Rumah Pelangi, kami mencoba mereka-reka wujud bantuan.
       
      Akhirnya, dana sebesar Rp 1,25 juta yang diberikan teman saya menjadi 236 paket alat tulis dan sisa uang Rp 135.000,- (sudah termasuk bensin saat distribusi).
       
      Paket tersebut kemudian dibagikan di dua dusun yang ada di Srimartani yang terdiri dari 95 paket (sesuai jumlah anak SD di Dusun Wanujoyo Lor) dan 125 paket (sesuai jumlah anak SD di Dusun Bulusari). Masing-masing anak  mendapatkan satu paket yang dibungkus rapi sampul plastik. Tiap paket berisi 3 buku tulis, 1 buku gambar, 2 pensil, 1 balpoin, 1 karet penghapus, dan satu rautan. Teman-teman dari  Rumah Pelangi lah yang membelikan, membungkus, dan mendistribusikan bantuan. Dengan sepeda motor, kendaraan andalan mereka yang bisa menaklukkan bukit-bukit curam dan jalan berbatu di Kecamatan Piyungan, sebagian bantuan telah diserahterimakan kepada kepala dusun masing-masing.
       
      Hari Sabtu tanggal 8 Juli 2006 lalu, saya ikut dalam penerjunan sisa bantuan yang belum didistribusikan minggu sebelumnya, sekaligus meninjau lokasi penerima bantuan. Sungguh miris hati saya dalam perjalanan menuju Dusun Bulusari, Desa Srimartani. Di kanan-kiri jalan raya yang kami lewati di Kecamatan Piyungan banyak bangunan rumah yang roboh dengan tanah, menyisakan pemandangan serpihan-serpihan rumah berdebu. Ketika menuju tersebut, kami  harus mendaki jalan berbatu dengan sudut kemiringan hampir 60 derajat. Kami juga harus lewat jalan setapak di lereng bukit yang curam. Dari jalan setapak tersebut saya bisa melihat kerangka-kerangka rumah di bawah bukit. Kerangka-kerangka itu hampir semua tak menyisakan tembok yang tegak. Penghuninya tinggal di tenda-tenda dan barang-barang mereka sebagian dikumpulkan di bekas rumah mereka.
       
      Di Dusun Bulusari, rombongan kami (saya dan mas Gunawan)bertemu dengan Bapak Alex, Kepala Dusun. Beberapa warga yang juga diundang telah datang untuk menyaksikan serah terima bantuan 73 paket alat tulis, melengkapi 52 paket alat tulis yang telah diserahterimakan sebelumnya. Serah terima dilakukan di depan tenda Kepala Dusun Bulusari. Sekitar 15 orang anak-anak SD dan beberapa warga sekitar ikut menyaksikan dan berfoto bersama. Anak-anak SD ini cepat sekali berkumpul di tempat Pak Kepala Dusun. Ternyata, ada satu anak kelas 5 SD bernama Joko, yang bertugas sebagai “messenger” kepada teman-teman lainnya. Ia berlari kian kemari turun naik bukit ke rumah teman-temannya mengabari bahwa mereka akan mendapat bingkisan alat tulis. Wajah Joko yang bulat tambun berkeringat dan nafasnya masih ngos-ngosan ketika ia sampai kembali ke tenda Pak Kepala Dusun berkumpul dengan teman-temannya.
       
      Acara serah terima berlangsung cepat karena Pak Kadus juga sudah ditunggu tamu yang akan mengadakan acara hiburan untuk warga korban gempa. Dengan hati yang tidak karuan rasanya, sedih, haru, dan senang melihat wajah gembira  anak-anak SD melihat alat sekolah yang akan dibagikan.
       
      Setelah itu kami  bergabung dengan relawan Rumah Pelangi di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo yang terletak kurang lebih 4 km dari tempat kami menyerahkan bantuan. Di sini ada Mbak Diah  dan Mas Poer pegiat Rumah Pelangi. Aktivitas  dipusatkan di halaman SD Ngablak, yang untunglah masih tegak berdiri walau pun ada sedikit bangunannya yang roboh terkena gempa. SD ini sepertinya menjadi salah satu pusat pengungsian penduduk Dusun Ngablak, terlihat dari adanya 2 tenda besar yang masih berdiri di halaman tapi kini sudah kosong.
       
      Waktu saya datang, Mbak Diah dan Mas Poer yang bertanggungjawab di Dusun Ngablak sedang membagikan buku bacaan dan alat-alat permainan kepada anak-anak. Jumlah anak yang datang pada hari itu ada 23 anak, terdiri dari 6 anak laki-laki dan sisanya anak perempuan. Jumlah anak-anak yang datang banyak berkurang karena pada masa liburan ini ada sebagian anak yang pergi ke rumah saudara mereka.
       
      Setelah buku dibagikan, anak-anak perempuan sebagian sibuk membaca buku dan sebagian membentuk kelompok bermain ular tangga. Mas Poer membawa anak laki-laki ke lapangan di sebelah SD untuk bermain bola. Saya mengamat-amati situasi sebentar. Saya ingat kata-kata Mas Gunawan ketika mengantar saya ke Ngablak. “Bola hanya sebuah medium. Yang penting adalah bagaimana medium itu bisa menyampaikan banyak hal yang berguna bagi anak-anak. Bola sepak bola janganlah hanya dipandang untuk sepakbola. Itu hanyalah akal-akalan bakul (red. pedagang)”. Siapa bilang dia tidak dapat berlaku sebagai bola golf?
       
      Kedatangan saya ke Ngablak diniati sebagai sukarelawan dadakan. Terus terang pengalaman saya menjadi sukarelawan untuk korban bencana sangat minim. Hanya beberapa kali saya ikut teman-teman Rumah Pelangi menjaga pos mereka di Muntilan untuk anak-anak pengungsi Merapi. Pernah sekali saya ikut Rumah Pelangi untuk menghadiri pertemuan koordinasi berbagai kelompok relawan/pemberi bantuan (domestik/asing) khusus untuk anak-anak pengungsi Merapi beberapa hari sebelum bencana gempa terjadi.
       
      Saya melihat anak-anak memerlukan perhatian spesifik dan punya kebutuhan khusus yang sering terabaikan dalam penanganan pengungsi. Selain kebutuhan recovery psikologis, anak-anak korban gempa yang luka-luka memerlukan obat-obatan yang memadai, gizi yang cukup, pakaian yang melindungi karena mereka tidur di tenda dan udara malam akhir-akhir ini sangat dingin Anak-anak juga butuh peralatan sekolah yang cukup, terutama alat tulis dan buku paket karena sebagian besar di sekolah-sekolah yang hancur buku paketnya tidak layak digunakan lagi. Bagi yang sekolahnya hancur, anak-anak butuh tenda yang besar dan kursi sekedarnya untuk menjadi sekolah darurat mereka.
       
      Program yang dilakukan oleh Rumah Pelangi di Kecamatan Piyungan terfokus pada penanganan dampak psikologis dari gempa, sehingga masih banyak diisi permainan dan ketrampilan. Namun permainan  dan ketrampilan yang diberikan sangat variatif, tergantung kreativitas relawan dan karakter anak-anak di masing-masing dusun. Intinya, selain mengurangi stres, anak-anak bisa belajar hal-hal baru yang bermanfaat didampingi oleh Mas dan Mbak Relawan. Misalnya dengan sebuah bola, anak-anak bisa bermain kerja kelompok dengan permainan sepakbola; atau bisa belajar konsentrasi dan kecekatan ketika main lempar bola.
       
      Dengan tanpa membawa “medium” apa pun untuk membantu anak-anak, selama perjalanan ke Ngablak saya memikirkan suatu permainan untuk anak-anak yang jika ada waktu akan saya praktekkan. Selama beberapa waktu saya menemani anak-anak membaca buku yang dibagikan. Mengingat ketrampilan membaca merupakan kepandaian tersendiri untuk anak-anak usia SD, saya minta anak-anak tersebut membaca dengan suara keras dan intonasi yang baik. Mereka membaca bergiliran. Jadi ketika ada satu anak membaca dengan suara keras, temannya belajar menyimak apa yang sedang dibaca. Saya mengoreksi kalau ada intonasi yang salah.
       
      Setelah anak-anak yang ingin membaca sudah membaca semua, saya tawarkan permainan “menebak gerak”. Ide ini saya peroleh dari buku yang tadi dibaca oleh salah satu anak. Semua anak yang ikut permainan “menebak gerak” dikumpulkan. Lalu ada satu anak yang diminta untuk menirukan gerakan-gerakan tertentu di hadapan teman-temannya, lalu teman-temannya menebak gerakan apa yang sedang diperagakan. Masing-masing anak mendapat kesempatan untuk memperagakan gerakan. Ternyata, banyak yang antusias minta diberi kesempatan memberi tebakan teman-temannya. Pertama-tama saya berikan tebakan yang mudah, misalnya “naik sepeda” dan “membuat sambal”. Hal ini mudah ditebak agar anak-anak senang dulu. Setelah itu saya beri tebakan yang agak sukar, yaitu “mendayung perahu”. Gerakan ini sukar karena anak-anak Dusun ini sama sekali belum pernah naik perahu. Jadi si anak ketika memperagakan dia akan berimajinasi dulu gerakan seperti apa yang harus dia lakukan.
       
      Selanjutnya permainan yang saya dapatkan idenya di perjalanan saya tawarkan. Idenya seperti permainan “pesan berantai”, tapi saya beri nama “telepon bersambung”. Anak-anak yang sudah cukup besar saya bagi dalam dua kelompok masing-masing 5 anak. Mereka berdiri berjajar dengan jarak 1 meter. Saya membisikkan sebuah kalimat kepada anak yang berdiri paling ujung. Dia kemudian harus membisikkan pesan itu kepada teman yang berdiri di sebelahnya. Demikian seterusnya sampai pesan itu sampai pada anak yang berdiri paling ujung dalam satu kelompok. Lalu kami mengecek bersama apakah pesan itu dari awal sampai akhir tidak berkurang satu katapun. Intinya permainan ini adalah untuk belajar menyimak, atau mendengar dan menyampaikan pesan dengan benar.
       
      Pada kelompok pertama saya beri pesan “Kaki Kuda Kuat Kepala Kuda Ada Surainya”. Sedangkan pada kelompok kedua saya beri pesan “Beli Buah Belimbing Berhadiah Buah Jambu”.
       
      Kelucuan terjadi ketika kami bersama-sama mendengar pesan yang diterima oleh anak yang menerima pesan paling akhir. Pada kelompok pertama, pesan tersebut bunyinya berubah menjadi “Kakiku kuat kepalaku ada surainya”. Sedangkan pada kelompok kedua, pesan itu juga berubah menjadi  “Beli Belimbing Beli Jambu”.  Lucu sekali kan ?
       
      Anak-anak kemudian diajak merunut di mana pesan tersebut berubah dan mengapa pesan tersebut jadi berubah. Saya sampaikan kepada mereka bahwa permainan ini adalah belajar menyimak yang sangat baik untuk dipraktekkan saat sekolah. Jika menyimak pelajaran dengan baik, pasti bisa lulus ujian, kata saya.
       
      Sepertinya anak-anak paham dengan yang saya maksud. Mereka minta permainan ini dilanjutkan. Saya berikan kalimat “Susu Sapi Sehat Saya Suka” dan “Bila Banyak Belajar Bisa Lulus Ujian”. Kelompok pertama ternyata memperbaiki kesalahan mereka pada permainan yang pertama. Mereka membawa pesan itu utuh sampai pada anak yang paling akhir menerima pesan. Sedangkan pada kelompok kedua, bunyi pesannya menjadi “Susu Sapi Sehat Saya Kuat”. Hahaha…
       
      Siang itu matahari terus bergulir ke ufuk barat, tapi anak-anak tetap bersemangat bermain. Sayangnya, kegiatan lain masih menunggu mereka. Sebagian anak setiap sore mengikuti TPA yang diberikan oleh relawan dari kelompok lain. Sebagian anak yang tidak ikut TPA bermain tangkap bola untuk berlatih kecekatan. Kami masih menunggui mereka beberapa saat lalu pulang ke Kelurahan yang menjadi posko relawan. Setelah semua relawan Rumah Pelangi berkumpul, diadakan sharing mengenai apa yang dilakukan relawan di masing-masing dusun (8 dusun), menyampaikan respon anak-anak, dan membuat rencana program hari berikutnya.
       
      Bagi saya, pengalaman hari ini sangat mengesankan. Walau tidak bisa ikut menjadi full time volunteer, rasanya sangat senang bisa sedikit membantu para relawan menemani anak-anak korban gempa untuk menghilangkan duka derita mereka akibat bencana ini. Dalam perjalanan pulang, saya rasanya masih ingin tertawa mengingat-ingat pesan berantai yang dimainkan anak-anak di Dusun Ngablak tadi.
       
      “Kaki Kuda Kuat Kepala Kuda Ada Surainya” menjadi “Kakiku Kuat Kepalaku Ada Surainya”. Hahaha….
       
      Kalau anak-anak itu bisa memelesetkan pesan, maka saya pun ingin menutup cerita ini dengan pelesetan:
       “BELI BELIMBING DAN BUAH JAMBU, TOLONG DONG ANAK-ANAK SD INI DISUMBANG BUKU”.
       
      Mbak Diana, psikolog yang tergabung dalam relawan Rumah Pelangi  pernah curhat kepada saya “Anak-anak butuh buku paket karena banyak buku paket yang rusak karena gempa. Padahal tahun ajaran baru akan segera dimulai. Buku paket bekas pun tak apa-apa… Asal bukan bekas buku.”
       
      Buku Paket Bekas! Suatu “kemewahan” di tengah gempa. Bagaimana caranya “kemewahan”  itu segera tersedia untuk anak-anak di tenda-tenda darurat dan sekolah-sekolah darurat di Bantul dan sekitarnya??? Selain itu masih tersimpan rapi 16 paket alat tulis di Rumah Pelangi yang menunggu donatur lain untuk melengkapinya sehingga dapat dikirimkan ke dusun-dusun yang lain.
       
      Apakah teman-teman PERPIKA yang saat ini lebih beruntung dibanding mereka, dapat menuntut ilmu S2 dan S3 di Korea dengan fasilitas kuliah yang lengkap dan nyaman, mempunyai ide untuk membantu calon-calon cendekiawan muda yang sedang tertimpa musibah ini?
       
       
      Yogyakarta Minggu 9 Juli 2006,
      dari “Pondok Pengungsian”
       

      Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.



      ---------------------------------------------------------
      RUMAH PELANGI merupakan komunitas nirlaba untuk generasi muda dan mempunyai aktifitas  sosial budaya serta pengelolaan perpustakaan.

      Kontak : Gunawan Julianto
      telp.     : 0293 - 587 992 / 0818 - 0272 3030 

       
      R U M A H   P E L A N G I
      KERAGAMAN MEMPERKAYA NURANI
       
      Apabila imel yang diterima dirasa mengganggu mohon beritahukan kepada kami Rumah Pelangi.


      Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.