Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Undangan Bergabung di maillist Komunikasi_Empati@googlegroups.com

Expand Messages
  • Vincent Liong
    Undangan Bergabung di maillist Komunikasi_Empati@googlegroups.com Netters, Telah dibentuk milis baru dengan nama Komunikasi_Empati@googlegroups.com e-link:
    Message 1 of 1 , Jun 28, 2006
    • 0 Attachment
      Undangan Bergabung di maillist
      Komunikasi_Empati@...


      Netters,

      Telah dibentuk milis baru dengan nama
      Komunikasi_Empati@...
      e-link:
      <http://groups.google.com/group/komunikasi_empati>

      Tujuan pembentukannya ialah sebagai wadah untuk
      berdiskusi segala aspek yang berhubungan dengan
      Komunikasi Empati. Kami yakin bahwa bidang
      spesialisasi baru dalam Ilmu Komunikasi ini akan
      menjadi ‘trend setter’ untuk masa-masa dekade yang
      akan datang karena manusia pada dasarnya ingin
      diperlakukan sebagai manusia dan bukan sebagai
      pesakitan atau nomor belaka. Segala bidang ilmu
      humaniora yang berhubungan dengan manusia akan
      dipengaruhi oleh logika dan komunikasi empati ini.
      Kami yakin benar akan hal itu.

      Milis baru ini adalah milis yang serius dan mengundang
      para pemerhati dan peminat yang serius pula untuk
      bersama-sama mengamati, mempelajari, mencermati,
      mengasuh serta mengembangkan bayi yang namanya
      Komunikasi Empati ini. Walaupun milis ini bersifat
      unmoderated dan terbuka untuk oublik namun hanya
      tulisan-tulisan yang berhubungan dengan bidang
      Komunikasi Empati yang akan ditayangkan. Tulisan yang
      bersifat ‘out of context’ akan diabaikan. Hal ini
      dimaklumkan di muka untuk mencegah salah pengertian
      yang tidak perlu yang mungkin dapat timbul di kemudian
      hari.

      Terima kasih atas perhatian dan tanggapan positif
      kawan-kawan. Selamat datang di rumah kita yang baru.

      ttd,
      Moderator,

      Juswan Setyawan




      Sekilas Sejarah Komunikasi Empati

      Dua bulan yang lalu saya sama sekali tidak tahu menahu
      seluk beluk apapun tentang Komunikasi Empati.
      Segalanya dimulai setelah saya mengikuti Seminar
      dengan Vincent Liong sebagai pembicara tunggal tetapi
      yang dibantu oleh rekan setianya Leonardo Rimba
      berjudul “Logika dan Komunikasi Empati”. Seminar
      setengah hari itu diadakan di ruangan kuliah pasca
      sarjana Universitas Sahid.

      Konsep komunikasi saya tahu, Empati saya juga tahu.
      Tetapi bila kedua kata itu disambung jadi satu maka
      konsep saya mengenai hal baru itu ternyata belum ada.
      Kemudian saya diajak – bahkan sedikit ditantang - oleh
      Vincent Liong untuk menulis sesuatu tentang Komunikasi
      Empati tersebut. Saya bingung juga harus mulai dari
      mana dan membahas soal apa? Memori saya tentang
      Komunikasi Empati masih vacum – kosong blong - dan
      saya harus mulai mengerahkan segenap energi batin saya
      untuk memulai proyek idealis ini.

      Saya berdiskusi dengan Vincent tentang bagaimana harus
      mulai. Saya terpikir akan Kitab Kejadian di mana
      dikatakan “bumi belum berbentuk dan kosong: gelap
      gulita menutupi samudera raya, dan roh Allah
      melayang-layang di atas permukaan air...”
      Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa segala sesuatu
      apapun rupanya dimulai dari “kekosongan” yang tanpa
      bentuk dan tanpa wujud dan yang chaos. “In principium
      erat verbum...” Pada mulanya adalah kata-kata... atau
      logos. Semuanya masih gelap gulita artinya tidak ada
      petunjuk apapun, tidak ada titik terang sedikitpun
      yang dapat dijadikan pedoman. Kegelapan itu sifatnya
      tak terbatas, ibaratnya samudera raya yang entah di
      mana ujung pesisirnya karena tidak tampak dalam
      kegelapan itu. Roh Allah melayang-layang di atas
      permukaan air... yang melayang-layang itu tentunya
      adalah “elemen angin”. Anginlah yang akan membawa
      kata-kata seperti angin pula yang menerbangkan
      daun-daun ke mana-mana. Maka dari itu kami sepakat
      bahwa Komunikasi Empati harus dimulai dengan
      menorehkan kata-kata pada Kitab Angin. Tidak mungkin
      kami mulai dengan Kitab Tanah seperti ilmu-ilmu yang
      sudah mapan - berikut institusi-institusinya yang
      sudah mengkristal dan tidak sedikit yang sudah membatu
      bahkan merapuh seperti bangunan kuno; ilmu yang sudah
      memiliki fundamen yang kokoh bagi sosok bangunannya
      dan bagi perluasan ruangan-ruangannya.

      Secara berkala kami terus berkomunikasi dan
      berdiskusi. Begitu ada ide langsung ditangkap dan
      dituangkan dalam tulisan dan dikirimkan ke milis.
      Kadang-kadang dalam satu hari dapat ditulis lebih dari
      satu artikel sesuai dengan deras lambatnya arus
      inspirasi yang masuk. Maka dari itu tulisan-tulisan
      tersebut tidak menunjukkan adanya sekuens yang pasti.
      Kadang-kadang timbul ide tentang empati dan di lain
      waktu tentang dekonstruksi dan sebagainya. Perhatikan
      saja tanggal yang tertulis di bawah setiap posting
      yang tidak urut dengan sistematika pasal-pasalnya. Ada
      tulisan yang sangat belakangan tetapi “terpaksa”
      diposisikan pada bagian awal buku tersebut. Maka
      terjadilah semacam “growing e-book’ yang setiap saat
      muncul ranting yang baru pada pokoknya entah di
      sebelah sisi yang menghadap ke mana.

      Namun, akhirnya kami merasa apa yang tertulis sudahlah
      cukup. Elaborasinya akan dilanjutkan dalam Kitab Tanah
      yang lebih berbobot, medalam dan dilengkapi
      kepustakaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lain
      halnya dengan Kitab Angin yang berfungsi sebagai semi
      entertaining sehingga ditulis secara naratif dalam
      bahasa pop. Sementara itu Kitab Api juga sedang
      ditulis. Artikel-asrtikelnya bersifat panas membakar.
      Melakukan bermacam-macam dekonstruksi. Baik tentang
      institusi dan fungsi ilmu psikologi, termasuk perilaku
      pakarnya; tentang Oedipus Complex; tentang post-V;
      tentang legenda dan mithos Nabi Musa; terakhir baru
      sampai V-Abject...

      Sesuatu yang terasa sangat ketinggalan ialah Kitab
      Air. Tetapi kita semua sama-sama dapat memakluminya.
      Memang sudah sifat “elemen air” untuk “menunggu dengan
      sabar” sampai saat yang tepat untuk menimbulkan
      “gelombang tsunami” atau “banjir bandang”.

      Jakarta, 28 Juni 2006.
      Mang Iyus


      Silahkan bergaung juga pada beberapa maillist kami
      yang lain diantaranya:
      * vincentliong@yahoogroups.com,
      http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join
      psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
      * psikologi_transformatif@yahoogroups.com,
      http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/join




      Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.