Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [PeaceGeneration] ai jash won tu sei helo egeyn!!!

Expand Messages
  • setiawan budi
    hai it s me again gini loh, VCD yang di wanagama kemaren udah pada selese semua dan sekarang ada ditangan saya, nah bagi temen-temen yang mau memiliki sendiri
    Message 1 of 3 , Oct 17, 2003
    • 0 Attachment
      hai it's me again
      gini loh, VCD yang di wanagama kemaren udah pada
      selese semua dan sekarang ada ditangan saya, nah bagi
      temen-temen yang mau memiliki sendiri maksudnya
      menggandaain VCD-nya silahkan hubungi "budi", tapi ada
      syaratnya loh, gampang kok tinggal nyetor cd kosong...
      ups sorry, aku lupa bilang kalo VCD nya ada 3 keping,
      2 versi, jadi keping 1 dan 2 itu versi yang
      panjaaaaaang dan laaaaama kira-kira yang 2 jam-an deh,
      trus keping yang ketiga versi yang kepotong-potong
      jadi tinggal 1 jam kurang. Nah sekarang terserah
      teman-teman mo milih yang mana???
      Ada biaya ngga???
      Sebenarnya ada sih buat gandaiin n buat beli cd
      kosong, tapi bakal lebih murah kalo temen-temen beli
      cd sendiri(terserah lebih dari satu juga boleh),
      tinggal biayaa gandain nya doank sekitar Rp 1000-2000,
      murah khan. Selanjutnya dari dana itu sebagian akan
      dialihkan kepada kas PG n bakal digunakan untuk
      memutar dana lagi untuk kegiatan selanjutnya (he..he..
      otak bendahara neh...'habiiis ditunjuk jd asisten
      bendahara sich...ngga papa khan) itung-itung buat amal
      juga.... yup nah seperti itu deh kira-kira...
      kalo kepingin SMS aja budi (masih inget yang namanya
      budi khaan) di 08179419949.....trus kita janjian deh
      mo kencan dimana.
      Untuk anak2 SCP keliatannya bakal ada acara baru lagi
      neh, tapi karena baru dalam konsep dan sebagaian masih
      dalam proses pengerjaaan jadi acaranya belon dapet di
      ekspos keluar... yang sabar yah....

      nah gini aja, aku punya kerjaan alternatif buat
      kalian. masih dalam bidang jurnalistik sih....
      gimana kalo temen-temen bikin pesen perdamaian baik
      yang ditujukan untuk diri sendiri maupun untuk orang
      lain. Dan sebisa mungkin mengajak orang lain yang
      bukan mantan SCP untuk menulis juga. Selain dapet
      mengasah cipta, rasa dan karsa kalian, juga melatih
      kepedulian kalian terhadap orang lain. Pesennya dapat
      berupa apa aja, bisa puisi, pantun, cerpen (tp ga bole
      lebih dari 2 halaman), trus kata-kata mutiara dan lain
      sebagainya.... nah kemudian dikirim ke emailnya Peace
      gen ato ke email nya budi
      (buset_ugm2000@...)....
      dan terus untuk masa depan kalo, benar-benar bagus
      bisa deh kita bikin buku (Chicken soup versi anak
      SCP), dan hasil karya kalian ngga sia-sia... Dengan
      proses marketing, dan grafis yang bagus disertai
      dengan pesan moral yang sangat menyentuh, di harapkan
      sih bisa jadi best seller.........

      Nah Gimana, Kalo tertarik langsung aja kirim ke alamat
      i-mel yang diatas tadi (gampang kok seperti kalian
      mendaftar SCP dulu, tapi bedanya sekarang kalian harus
      mengajak temen2 yang laen sebanyak-banyaknya, dan
      jangan lupa untuk setiap karya yang dikirim, identitas
      pengirim nya harus jelas yah).....

      Dari pada kita berpusing ria menunggu acara dari
      kakak-kakak Peace gen yang tak kunjung tiba, mending
      kita bikin acara sendiri, meski ngga ketemu, tapi
      masih tetap contact khan.........

      Ok thank's, itu hanya sedikit alternatif dari ku, ntar
      kalo besok ada ide lagi langsung kukirimkan deh???
      dan partisipasinya duooonk........

      miss u all

      I Nengah Budi Setiawan


      --- phainey phainey <gw_phainey@...> wrote:
      > dear scp 'n peace generation crew...
      > eghhhmmm.... cm pgn isenkkk.... lg suntuk, so ai ke
      > warnet wae. mumpung ada yg nganter. btw.... kangen
      > nehhh.ko ga ada kelanjutannya tho... buat mas2 en
      > mbak2nya, yang di wanagama itu tuh katanya modi vcd
      > in..gimana??? tyus,pgn pinjem klisenya... boleh
      > kan??? ada dimana keberadaannya??? but hari minggu
      > buka ga ya PSKP.... ummm, dah deh sgini ajah. oya
      > buat yg udah ngerasain siaran di swaragama....
      > slamet deh....
      > lam buat semuanya....( kgn lagunya dani!!!ayo ngamen
      > lagi guysss!!! ) keep kompak....
      > love....
      > peace....
      > n' gaul!!!!!!!!
      > bye, she_funny_delayota
      >
      >
      > ---------------------------------
      > Want to chat instantly with your online friends?�Get
      > the FREE Yahoo!Messenger


      =====
      budi punya gaweee

      __________________________________
      Do you Yahoo!?
      The New Yahoo! Shopping - with improved product search
      http://shopping.yahoo.com
    • manisanjambu
      Subject: [demokratisasi] SOSOK DAN DATA KORUPSI TERBARU 10/02/03 04:15 PM LAKSAMANA, MUSUH KAUM PEKERJA! Please respond to demokratisasi INI DIA SOSOK SI
      Message 2 of 3 , Oct 18, 2003
      • 0 Attachment
        Subject: [demokratisasi] SOSOK
        DAN DATA KORUPSI TERBARU
        10/02/03 04:15 PM LAKSAMANA, MUSUH KAUM PEKERJA!

        Please respond to

        demokratisasi









        INI DIA SOSOK SI PENJUAL ASET BANGSA, LAKSAMANA SUKARDI: MUSUH KAUM
        PEKERJA!!!


        Siapakah sesungguhnya Laksamana Sukardi, pria necis dengan gaya hidup
        kelas atas yang selalu bicara tentang good corporate governance, nasib
        bangsa, pemerintahan yang bersih, tapi, diam-diam justru menjadi
        koruptor
        ganas, agen konglomerat orde baru, antek kekuatan asing, dan
        pengkhianat
        bangsa? Informasi berikut memberikan gambaran utuh tentang siapa
        sesunggguhnya si penjual aset bangsa itu.

        Heboh isu penjualan aset bangsa tak bisa dipisahkan dari sebuah
        sosok 'paling berkuasa' di negeri ini: Laksamana Sukardi, Menteri
        Negara
        (Menneg) BUMN. Di tangan pria parlente kelahiran 1 Oktober 1956 itu,
        aset
        negara sekitar Rp 1.600 triliun yang ada di BUMN dan Badan Penyehatan
        Perbankan Nasional (BPPN) dipertaruhkan.

        Maklum, Laksamana tak hanya dipercaya untuk mengelola BUMN, perusahaan
        negara dengan nilai aset sekitar Rp 800 triliun, melainkan juga BPPN,
        sebuah badan yang dibentuk pemerintah untuk menyehatkan perbankan dan
        merestrukturisasi utang perusahaan agar bisa kembali beroperasi,
        menggerakkan roda ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menyerap
        tenaga kerja.

        Namun, di tangan Laksamana, pengelolaan aset negara tak
        memberikan manfaat yang memadai kepada bangsa dan negara. Di tangan
        mantan
        bankir piaraan sejumlah konglomerat itu, Kementerian BUMN menjadi
        instansi legal yang menjarah aset bangsa untuk keperluan kelompok
        tertentu, lokal maupun asing. Di tangan pria ambisius yang pernah
        dipecat
        Presiden Abdurachman Wahid dari jabatan Menneg Investasi dan
        Pemberdayaan
        BUMN dengan alasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) itu,
        privitasasi
        BUMN dimencengkan menjadi penjualan aset bangsa dengan harga murah dan
        sarat KKN.

        Karena tabiat Laksamana seperti itulah masyarakat kini
        mengkhawatirkan nasib Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan
        Gas
        Negara) yang sejak 17 September 2003 berstatus PT (Persero). Apalagi
        bersamaan dengan status baru, Laksamana diangkat menjadi preskom
        (presiden
        komisaris) BUMN dengan aset Rp 65 triliun itu.

        Maka, dengan menjadi preskom Pertamina, Laksamana berperan
        ganda, di samping sebagai regulator, dan wakil pemegang saham, juga
        sebagai
        pelaksana atau pemain. Karena saham Pertamina 100 persen dimiliki
        negara,
        maka Menneg BUMN selaku kuasa pemegang saham berkuasa penuh dalam
        mengangkat direksi dan komisaris. Di sinilah, dengan kasat mata
        terlihat
        bahwa Laksamana mengangkat dirinya sendiri menjadi preskom. Tak
        berlebihan
        pendapat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Laksamana memimpin
        langsung
        operasi Pertamina.

        Masuknya PT Pertamina dalam lingkup wewenang Menneg BUMN kian
        mencemaskan masyarakat. Apalagi ada rencana bahwa Pertamina hendak
        dipriatisasi. Amboi! Diprivatisasi gaya Laksamana? No way! Membiarkan
        Pertamina diprivatisasi Laksamana sama saja dengan membiarkan
        penjarahan
        secara legal atas satu dari sedikit aset negara yang masih bisa
        diandalkan
        dan dibanggakan bangsa ini.

        Lupakah kita akan heboh penjualan 41,9 persen saham PT
        Indonesia Satelite Corporation (Indosat) Tbk kepada Singapore
        Technologies Telemedia (STT) tahun lalu? Divestasi Indosat hanyalah
        konfirmasi atas praktek KKN yang memang mengalami peningkatan tajam
        selama Laksamana menjabat Menneg BUMN. Dengan alasan untuk mengejar
        target
        APBN, Laksamana mempercepat divestasi saham pemerintah di Indosat.
        Akibatnya, kepemilikan saham pemerintah di perusahaan telekomunikasi
        itu
        tinggal 14 persen. PT Indosat, BUMN yang pada semester pertama 2002
        meraih
        laba bersih Rp 540 miliar, lantas berubah status menjadi PMA.

        Bayangkan, BUMN yang dibangun dengan susah payah oleh bangsa
        Indonesia harus diserahkan kepada asing setelah perusahaan itu meraih
        untung. Pada tahun 2001, laba bersih Indosat mencapai Rp 1,5 triliun.
        Dengan asumsi laba bersih setiap tahun yang diraih Indosat sebesar
        itu dan
        dividen yang dibagikan 50 persen, maka setiap tahun, pemegang saham
        akan
        kebagian sedikitnya Rp 750 miliar.

        Itu semua belum termasuk keuntungan lain yang diberikan Indosat
        sebagai penyedia jasa telekomunikasi di Tanah Air. Kata para pakar,
        dengan
        memiliki mayoritas saham Indosat, asing juga memiliki hak atas
        berbagai
        lisensi yang dimiliki Indosat seperti lisensi SLI (sambungan langsung
        internasional), SLJJ (sambungan langsung jarak jauh) lokal, jasa
        seluler,
        internet, dan VOIP.

        Yang juga sangat memprihatinkan Indonesia sebagai bangsa berdaulat
        adalah
        peluang BUMN Singapura mengontrol berbagai informasi strategis yang
        digunakan untuk keperluan bisnis, pertahanan, dan keamanan kita.
        Karena
        dengan menguasai mayoritas saham di Indosat ?setelah sebelumnya
        memiliki
        mayoritas saham di PT Telkomsel, anak perusahaan PT Telkom yang
        bergerak di
        bisang jasa selular--, BUMN Singapura bisa mengakses seluruh sistem
        informasi di Indonesia.

        Di sini, divestasi saham pemerintah di perusahaan telekomunikasi bukan
        hanya aksi penjualan aset bangsa dengan harga murah, tapi juga
        tindakan
        konyol yang menghancurkan kedaulatan dan harga diri kita sebagai
        bangsa
        besar. Penjualan aset strategis milik negara Indonesia ke negara
        Singapura
        tak pelak merupakan penghinaan kepada Indonesia sebagai negara besar.

        Pengalihan kepemilikan BUMN dari pemerintah Indonesia ke pemerintah
        Singapura bukanlah privatisasi dalam arti yang sesungguhnya. Karena
        saham
        pemerintah Indonesia tidak jatuh ke pihak swasta, melainkan ke
        pemerintah
        suatu negara.

        Divestasi saham pemerintah di Indosat layak digugat kembali karena
        prosesnya tidak tranparan. Mulai terkuak bahwa pembelian saham
        perusahaan
        publik itu tak dilakukan STT, melainkan oleh Indonesia Communications
        Limited (ICL), perusahaan milik STT yang bermarkas di Mauritius.
        Kasus ini
        mengingatkan kita akan kisruh divestasi saham pemerintah di PT Bank
        Centra;
        Asia (BCA) Tbk. Pemenang tender bank rekap itu bukanlah Farallon
        Capital
        Management, melainkan PT Farindo, perusahaan yang antara lain
        dimiliki oleh
        Alaerka Invsetama, anak perusahaan PT Djarum

        Privatisasi Indosat memang sangat kontroversial. Manfaat yang
        diperoleh Indonesia tak ada artinya dibandingkan dengan keuntungan
        yang
        diperoleh Singapura. Dengan pemindahtanganan kepemilikan 41,9 persen
        saham
        pemerintah di Indosat ke STT, maka pemerintah Singapura kini menguasai
        pasar telekomunkasi selular di Indonesia. Karena, selain STT, Temasek
        Holdings, induk perusahaan telekomunikasi pemerintah Singapura juga
        memiliki 35 persen saham PT Telkomsel., anak perusahaan PT Telkom yang
        bergerak di bisnis telepon selular. Penguasaan bisnis telekomunkasi
        Indonesia oleh BUMN Singapura berpotensi menghasilkan perusahaan
        monopolistik yang merugikan kepentingan bangsa dan negara.

        Penjelasan pemerintah bahwa privatisasi Indosat akan meningkatkan
        penerimaan pajak, sulit terwujud. Karena pemilik 41,9 persen saham
        pemerintah di Indosat adalah SCL yang bermarkas di Mauritius. Sudah
        menjadi
        pengetahuan umum bahwa Mauritius adalah surga bagi penggelapan pajak.

        Setelah menjual Indosat, Laksamana menepuk dada, karena target APBN
        2002
        dari penerimaan privatisasi sebesar Rp 6,5 triliun terlampaui. Namun,
        masyarakat Indonesia tak mudah dibodohkan begitu saja. Biaya yang
        dikorbankan bangsa dan negara ini untuk sekadar mendapatkan dana
        jangka
        pendek terlalu besar.

        Di samping itu, masyarakat juga tahu, bahwa upaya percepatan
        privatisasi
        BUMN dan divestasi saham pemerintah di BUMN dan di BPPN tak lepas dari
        interest pribadi dan kelompok untuk mendapatkan fee yang lumayan
        besar,
        yaitu mencapai sekitar 10 persen dari total transaksi.

        Berbagai fakta ini menunjukkan bahwa Laksamana adalah pengkhianat
        bangsa
        dan koruptor kakap di Tanah Air. Privatisasi yang dipropagandakannya
        hanyalah kedok untuk menjarah aset bangsa demi kepentingan kelompok
        tertentu dan ambisi politiknya.

        Kita paham bahwa privatisasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja
        BUMN.
        Dengan memperluas kepemilikan saham dan memberikan kesempatan kepada
        swasta untuk ikut memiliki saham BUMN, maka pengelolaan BUMN
        diharapkan
        menjadi lebih transparan, akuntabel, dan efisien. Dengan privatisasi,
        BUMN
        mendapatkan tambahan dana segar untuk memperkuat struktur permodalan
        dan
        mengembangkan usaha.

        Akan tetapi, privatisasi yang dilaksanakan Laksamana adalah divestasi
        atau
        penjualan saham milik pemerintah yang hasilnya tak masuk ke kas
        perusahaan,
        melainkan ke kantung pemerintah untuk menutup defisit APBN. Kuat
        dugaan
        bahwa APBN sengaja dibuat defisit agar ada alasan untuk menjual saham
        pemerintah di BUMN dan aset yang dikuasai BPPN. Padahal, defisit APBN
        terjadi karena utang yang tak dinikmati rakyat.

        Adalah suatu penghinaan kepada seluruh bangsa ini bila Laksamana dan
        para
        pendukungnya menilai bahwa pihak yang menentang privatisasi adalah
        pihak
        yang tak paham konsep privatisasi. Kita justru paham tujuan luhur dari
        privatisasi yang justru di tangan Laksamana diselewengkan dan
        disalahgunakan.

        Dalam bukunya yang berjudul "BUMN, Martabat Bangsa, Korupsi, dan
        Kolusi",
        Laksamana menyatakan bahwa privatisasi adalah cara ampuh dalam
        memberantas
        dan menangkal KKN. Dengan demikian, privatisasi adalah pintu gerbang
        menuju
        sebuah perusahaan yang bebas KKN. Tapi, apa yang terjadi? Di masa
        Laksamana, privatisasi justru menjadi entry point untuk ber-KKN ria.
        Siapakah Laksamana
        Nah, siapakah sesunggguhnya Laksamana Sukardi, pria necis dengan life
        style
        kelas atas yang selalu bicara tentang good corporate governance,
        nasib anak
        bangsa, pemerintahan yang bersih, tapi, diam-diam justru menjadi
        koruptor
        ganas, agen konglomerat orde baru dan antek kekuatan asing? Kata orang
        bijak, untuk mengetahui seseorang, telusurilah masa lalu yang
        bersangkutan
        dan lingkungan di mana dia hidup.

        Setelah menamatkan pendidikan formalnya di Teknil Sipil, ITB tahun
        1979,
        Laksamana berniat menjadi bankir. Oleh sang ayah, Laksamana dikenalkan
        ke sejumlah bankir BUMN. Namun, yang menerimanya adalah Citibank,
        sebuah
        bank asing yang membuka cabang di Jakarta. Di bank asing ini, Laks ?
        begitu
        ia disapa? sempat mendapatkan jabatan sebagai kepala bagian di sebuah
        cabang dengan sebutan vice president. Di Citibank, ada puluhan orang
        yang
        mendapat sebutan vice president.

        Pertemuannya dengan Mochtar Riady membelokkan sejarah Laks.
        Lelaki penggemar olah raga bela diri dan sepak bola itu meninggalkan
        Citibank dan bergabung dengan Mochtar Riady di BCA. Saat Mochtar
        meninggalkan BCA dan menangani Bank Umum Asia, Laks pun memutuskan
        untuk
        tetap bersama pengusaha yang acap dijuluki bankir bertangan dingin
        itu.
        Bank Umum Asia kemudian dimerger dengan Bank Perniagaan Indonesia dan
        berubah nama menjadi PT Lippo Bank.

        Mendapat kepercayaan sebagai Managing Director Lippo Bank, Laks ikut
        mengegolkan go public Lippo Bank dan sejumlah perusahaan Lippo
        lainnya. Apa
        sumbangsih Laks di Lippo? Tugas utama Laks adalah melakukan roadshow
        ke
        sejumlah dana pensiun dan asuransi besar milik pemerintah seperti PT
        Taspen
        dan PT Jamsostek. Dengan bermodalkan kertas, Grup Lippo dengan
        bantuan Laks
        berhasil meraup dana besar dari dana pensiun dan asuransi milik
        pemerintah.

        Setelah dicatatkan di lantai bursa, harga saham perusahaan-perusahaan
        milik
        Lippo turun tajam hingga tinggal seonggok kertas tak bernilai. Nyaris
        semua pemodal menderita rugi besar karena memiliki saham-saham
        perusahaan
        Lippo. Apalagi, Lippo lewat perusahaan sekuritasnya dikenal piawai
        dalam
        aksi goreng-menggoreng saham. Selain Lippo Bank, perusahaan Grup Lippo
        lainnya yang go public, antara lain, Lippo Pacific, Lippo Life yang
        kini
        sudah berubah menjadi AIG Lippo, Multipolar, Lippo Karawaci, Lippo
        Cikarang, Lippo Sekuritas, Lippo e-Net, dan sebagainya.

        Dengan kepiawaiannya membaca perubahan politik, Lippo melepaskan
        Laksamana
        untuk bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), partai
        pimpinan
        Megawati Soekarnoputri yang kemudian berubah nama menjadi PDI-
        Perjuangan
        (PDIP). Adalah Eros Djarot, mantan orang dekat Megawati yang
        memperkenalkan
        Laks kepada orang nomor satu di PDIP. Sesuai latar belakangnya sebagai
        bankir, Laks dipercayakan sebagai bendahara. Orang-orang PDIP tak
        pernah
        menyangka kalau Mochtar Riady memanfaatkan PDIP sebagai kuda troya dan
        sosok harimau berbulu domba dalam kuda troya itu bernama Laksamana
        Sukardi.

        Keputusan Laks meninggalkan jabatan profesional di Lippo untuk
        bergabung
        dengan parpol yang dimarginalkan pemerintahan Soeharto mendapat
        simpati
        luas kalangan profesional dan anak-anak muda. Maka tak sulit bagi Laks
        untuk meraup dana segar dari para profesonal saat itu.

        Pada tahun 1990-an, Laks asdalah idola kaum mudan dan profesonal
        bergaji
        besar di berbagai perusahaan lokal dan asing. "Saya termasuk orang
        yang
        sangat mengidolakan Laks, sehingga saya memutuskan meninggalkan
        Merrill
        Lynch untuk membantu kekuatan politik yang hendak menjatuhkan rezim
        korup,
        Soeharto," kata Dian Wiryawan, mantan dirut PT Danareksa yang akhirnya
        dipecat Laks karena tak bisa diajak berkompromi dalam ber-KKN.

        Semua profesional terkaget-kaget melihat Laks begitu ganas dalam
        melakukan
        KKN. Apalagi Laks tega-teganya membelokkan arah privatisasi menjadi
        aksi
        jual murah aset bangsa. Revrison Baswir, staf pengajar FE UGM
        menyatakan,
        masyarakat Inggris yang dulu mendukung privatisasi, kini mulai kritis.
        Mereka malah membuat sebuah pameo berbunyi, "Privatization is mother
        of
        corrupton". "Nah, itu di negara maju yang sudah cukup bagus penerapan
        good
        corporate governance. Bagaimana dengan masyarakat dan BUMN
        Indonesia?"tanya
        Revrison.

        Di kalangan pengurus PDIP, Laks dikenal sebagai sosok yang terlalu
        elite
        dan figur yang arogan. Ia jarang bergaul dengan kalangan bawah dan
        orang-orang yang tingkat ekonominya pas-pasan serta berkekurangan.
        Laks
        diketahui memiliki kekayaan sangat besar. Memliki rumah di sejumlah
        negara,
        antara lain Singapura dan Australia. Ada yang memperkirakan, kekayaan
        Laks
        sudah melebihi anak-anak Pak Harto.

        Lalu bagaimana kecintaannya terhadap partai? Saat PDIP dalam
        marabahaya,
        Laks meninggalkan teman seperjuangannya. Kasus mencolok terjadi 27
        Juli
        1997. Waktu itu, kantor pusat PDIP dikepung kelompok Suryadi dan
        kelompok
        tak dikenal. Para tokoh PDIP ada di Jakarta dan memberikan dukungan.

        Sedangkan Laks? Oo, ia melarikan diri ke Austrlia dan baru kembali ke
        Indonesia setelah kerusuhan Mei 1998 mereda. Itu sebabnya, oleh
        kalangan
        pengurus PDIP, Laks dinilai sebagai figur yang tak mau berkorban dan
        hanya
        berjuang untuk kepentingan sendiri dan kelompok tertentu yang
        membesarkannya.

        Selama di PDIP, kehidupan Laks tetap dijamin Lippo dan keluarga Sudono
        Salim. Untuk tetap mempertahankan life style-nya yang sudah telanjur
        sangat
        tinggi, Salim memberikannya order sebagai konsultan Salim Group.
        Peluang
        itu dimanfaatkan Laks lewat ReForm Consult. Gaji sopir Laks yang
        dibayar
        Lippo baru dihentikan beberapa bulan setelah Laks diangkat menjadi
        Menneg
        Investasi dan Pemberdayaan BUMN oleh Gus Dur.

        Dengan kondisi seperti itu, bisa dipahami bila Laks diisukan sebagai
        antek
        Lippo dan Salim. Bisa dimengeti pula, bila Laks dengan kewenanganya
        berupaya keras memuluskan divestasi saham pemerintah di BCA dan bank
        rekap
        lainnya seperti Lippo dan BII. Mayoritas saham BCA kini dikuasai PT
        Farindo Investment, perusahaan patungan Farallon Capital Management
        dengan
        PT Alaerka Investama, anak perusahaan PT Djarum. Pada masa lalu, BCA
        menjadi bank yang selalu memberikan kredit besar kepada Djarum. Bisa
        dengan
        mudah dibaca bahwasanya Salim kini sudah kembali menguasai BCA lewat
        anak
        perusahaan Djarum itu.

        Laks juga berjuang mati-matian agar Mochtar Riady bisa kembali
        menguasai saham Lippo Bank. Sekitar 59 persen saham Lippo Bank
        dikuasai
        pemerintah. Kepemilikan keluarga Riady di bank yang direkap dengan
        dana
        pemerintah sebsar Rp 6 triliun ini tinggal 8,11 persen. Meski sekitar
        32,64
        persen lainnya dimiliki publik, kuat dugaan bahwa sebagian besar
        saham Bank
        Lippo milik publik sudah kembali dimiliki keluarga Riady lewat aksi
        goreng-menggoreng saham di lantai bursa. Laks dan keluarga Riady
        bersama
        jaringannya kini mulai membangun opini bahwa pemegang saham lama bank
        rekap boleh kembali membeli sahamnya.

        Laks ternyata tak hanya menjadi antek konglomerat lokal, tapi juga
        antek
        asing. Mantan Ketua BPPN I Putu Gede Ary Suta memberikan kesaksikan
        bahwa
        tatkala BPPN melakukan deal bisnis di Singapura, Laks sebagai pemimpin
        tertinggi BPPN ikut hadir dan menginap di Shangri-La Hotel. Pada saat
        BPPN
        hendak membayar biaya hotel, ternyata, semua akomodasi Laks sudah
        dbayar
        Defence Ministry of Singapore.

        Wah, tokoh yang selalu berapi-api bicara harga diri bangsa ternyata
        menyediakan diri menjadi 'orang bayaran' kekuatan asing. Ulah orang-
        orang
        seperti Laks telah ikut membesarkan Singapura sebagai negara yang
        kuat di
        bidang keuangan, perdagangan, dan sebentar lagi jasa telekomunikasi
        dan
        militer.

        Tak sulit dipahami bila Laks dengan mudahnya meloloskan divestasi
        saham
        Indosat, sehingga Singapura kini menjadi penguasa Indonesia di bidang
        telekomunikasi. Amboy, Indosat yang menjadi kebanggaan perusahaan
        nasional
        kini sudah berstatus menjadi PMA.

        Rakyat Indonesia harus mencermati serius sepak terjang Laksamana.
        Prinsip
        dia bahwa 'Tak perlu memiliki kambing, yang penting bisa memakan
        satenya'
        sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa. Pandangan hidupnya
        bahwa "Tak
        perlu memiliki asal bisa menikmati" cepat atau lambat akan
        menjerumuskan
        bangsa ini ke dalam jurang kehancuran.

        Jika langkah Laks tak segera dihentikan, maka sekali waktu, seluruh
        BUMN
        --yang tidak strategis maupun yang strategis-- dikuasai asing. Semua
        perusahaan bagus yang ada di BPPN akan jatuh ke tangan pemodal asing
        dengan
        harga murah. Dan kita sebagai anak bangsa kelak hanya sebagai
        penonton,
        bahkan kuli di rumah sendiri.

        Bila Anda mencintai bangsa ini dan terpanggil untuk memerangi aksi
        perampokan aset bangsa di bawah komando Laksamana, sebarkan informasi
        ini
        ke teman-teman Anda dan seluruh milis/ jaringan yang anda miliki.
        Selamat
        berjuang!***



        PS :

        Untuk data lebih lanjut, silahkan anda kirim email ke :
        laksamana_watch@y... </group/LAKSAMANA_WATCH/post?postID=TIUq-
        gZkRlJskaPTSbt8tRrU3ErrO8UXpOmSqu7zc6Op0oEH-
        3gox0NgXnX1Wc1A7gtg4t37iJsqCV4Puag7ZcelGg> atau bergabung dengan :
        LAKSAMANA_WATCH@yahoogroups.com </group/LAKSAMANA_WATCH/post?
        postID=nwaKLYdUciaqjSAfArFhq6yGLiyia9wIwgsWKzJH3aJNrCiJoyJsNkpQg-
        rtodHt7d_taWjsrvo8miuFu6Mey4HMbBIYrlY>; untuk berkorespondensi dan
        bertukar
        informasi atau hub kami via HP. +628159924994 (Alexander Azra) karena
        masih
        banyak data lebih lanjut dari sumber yang terpercaya. Mohon maaf atas
        keterbatasan kami saat ini, sehingga kami belum bisa dapat muncul
        secara
        terbuka demi keamanan organisasi dan pribadi kami dari ancaman serta
        teror
        yang sedang dan akan terjadi. Terima kasih.

        ALEXANDER AZRA
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.