Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2688Fwd: ITB73 [RenunganPagi] Senyumlah

Expand Messages
  • Ikie_Djokdja
    Oct 28, 2008
    • 0 Attachment
      Renungan pagi ...
      Menyentuh...
       
      Yours sincerely,

      M Solihin Fikri
      Department of Communication Studies
      Gadjah Mada University
      Yogyakarta - INDONESIA

      http://defickry.wordpress.com





      > SENYUMLAH...
      >
      > Kisah
      di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni
      > Jerman,
      atau
      > warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana
      .
      >
      > Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan
      seumur
      > hidup.
      >
      > Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan
      baru saja menyelesaikan kuliah
      > saya.
      > Kelas terakhir yang harus
      saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat
      > inspiratif, dengan
      kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
      >
      > Tugas
      terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama
      >
      "Smiling."
      >
      > Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan
      memberikan senyumnya kepada
      > tiga
      > orang asing yang ditemuinya dan
      mendokumentasikan reaksi mereka.
      >
      > Setelah itu setiap siswa
      diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.
      >
      > Saya adalah
      seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum
      > pada
      >
      setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.
      >
      >
      Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
      >
      bungsu
      > saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke
      restoran
      > McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya
      sangat
      > dingin
      > dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam
      antrian, saya menyela
      > dan
      > meminta agar dia saja yang menemani si
      Bungsu sambil mencari tempat
      > duduk yang
      > masih
      kosong.
      >
      > Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk
      dilayani, mendadak
      > setiap
      > orang di sekitar kami bergerak
      menyingkir, dan bahkan orang yang semula
      > antri di
      > belakang saya
      ikut menyingkir keluar dari antrian.
      >
      > Suatu perasaan panik
      menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
      > mengapa
      > mereka
      semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu
      >
      "bau
      > badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
      saya
      > berdiri
      > dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya
      bingung, dan tidak
      > mampu
      > bergerak sama sekali.
      >
      >
      Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
      >
      lebih
      > pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia
      sedang
      > "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot
      matanya
      > tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah
      saya,
      > seolah ia
      > meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya'
      di tempat itu.
      >
      > Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan
      sembari menghitung
      > beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan
      yang akan dipesan.
      >
      > Secara spontan saya membalas senyumnya, dan
      seketika teringat oleh saya
      > 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya.
      Lelaki kedua sedang memainkan
      > tangannya dengan gerakan aneh berdiri di
      belakang temannya.
      >
      > Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu
      menderita defisiensi
      > mental, dan
      > lelaki dengan mata biru itu
      adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat
      > prihatin setelah mengetahui
      bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya
      > tinggal
      > saya bersama
      mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan
      >
      counter.
      >
      > Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya
      apa yang ingin saya
      > pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk
      memesan duluan. Lelaki
      > bermata
      > biru segera memesan "Kopi saja,
      satu cangkir Nona." Ternyata dari koin
      > yang terkumpul hanya itulah yang
      mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi
      > aturan
      > di restoran
      disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan
      >
      tubuh,
      > maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini
      hanya
      > ingin
      > menghangatkan badan.
      >
      > Tiba2 saja saya
      diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
      > beberapa saat,
      sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
      > duduk
      >
      yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
      >
      mengamati
      > mereka...
      >
      > Pada saat yang bersamaan, saya baru
      menyadari bahwa saat itu semua mata
      > di
      > restoran itu juga sedang
      tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat
      > semua
      > 'tindakan'
      saya.
      >
      > Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa
      saya untuk
      > ketiga
      > kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan.
      Saya tersenyum dan minta
      > diberikan
      > dua paket makan pagi (di luar
      pesanan saya) dalam nampan terpisah.
      >
      > Setelah membayar semua
      pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada
      > di
      > counter itu
      untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
      >
      suami
      > dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
      melingkari
      > sudut
      > ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki
      itu untuk beristirahat.
      > Saya
      > letakkan nampan berisi makanan itu
      di atas mejanya, dan meletakkan
      > tangan saya
      > di atas punggung
      telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil
      > saya
      >
      berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
      >
      >
      Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai
      >
      basah
      > berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak,
      nyonya."
      >
      > Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk
      bahunya saya
      > berkata
      > "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini
      untuk kalian,Tuhan juga
      > berada
      > di sekitar sini dan telah
      membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk
      > menyampaikan
      > makanan
      ini kepada kalian."
      >
      > Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak
      kuasa menahan haru dan memeluk
      > lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat
      itu ingin sekali saya merengkuh
      > kedua
      > lelaki
      itu.
      >
      > Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan
      meninggalkan
      > mereka
      > dan bergabung dengan suami dan anak saya,
      yang tidak jauh dari tempat
      > duduk
      > mereka. Ketika saya duduk
      suami saya mencoba meredakan tangis saya
      > sambil
      > tersenyum dan
      berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
      > dirimu
      >
      menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku
      >
      dan anak2ku!"
      >
      > Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan
      saat itu kami benar2
      > bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena
      'bisikanNYA' lah kami telah
      > mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat
      berbuat sesuatu bagi orang
      > lain yang sedang sangat
      membutuhkan.
      >
      > Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari
      tamu yang akan
      > meninggalkan
      > restoran dan disusul oleh beberapa
      tamu lainnya, mereka satu persatu
      > menghampiri
      > meja kami, untuk
      sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu
      > di antaranya,
      seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
      > "Tanganmu
      > ini
      telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada
      >
      disini,
      > jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
      lakukan
      > seperti yang
      > telah kamu contohkan tadi kepada
      kami."
      >
      > Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum.
      Sebelum
      > beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke
      arah
      > kedua lelaki
      > itu, dan seolah ada 'magnit' yang
      menghubungkan bathin kami, mereka
      > langsung menoleh ke arah kami sambil
      tersenyum, lalu melambai2kan
      > tangannya ke
      > arah kami. Dalam
      perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang
      > telah saya
      >
      lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang
      >
      tidak pernah terpikir oleh saya.
      >
      > Pengalaman hari itu menunjukkan
      kepada saya betapa 'kasih sayang'
      > Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH
      sekali!
      >
      > Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah
      dengan 'cerita' ini
      > di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada
      dosen saya. Dan
      > keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya
      dipanggil dosen saya ke
      > depan
      > kelas, ia melihat kepada saya dan
      berkata, "Bolehkah saya membagikan
      > ceritamu ini kepada yang lain?"
      dengan senang hati saya mengiyakan.
      >
      > Ketika akan memulai
      kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk
      > membacakan paper saya.
      Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan
      > dengan
      > seksama
      cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi.
      >
      > Dengan cara
      dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan
      > ceritanya,
      >
      membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat
      >
      bagaimana
      > sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi
      yang duduk di
      > deretan
      > belakang di dekat saya di antaranya datang
      memeluk saya untuk
      > mengungkapkan
      > perasaan
      harunya.
      >
      > Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja
      menutup ceritanya
      > dengan
      > mengutip salah satu kalimat yang saya
      tulis di akhir paper saya.
      >
      > "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan
      kau akan mengetahui betapa
      > 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh
      senyummu itu."
      >
      > Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan'
      diri saya untuk
      > menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku,
      anakku, guruku,
      > dan
      > setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam
      terakhir saya sebagai
      > mahasiswi.
      > Saya lulus dengan 1 pelajaran
      terbesar yang tidak pernah saya dapatkan
      > di bangku
      > kuliah
      manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
      >
      > Banyak cerita tentang
      kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
      > para
      >
      pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
      >
      cerita ini
      > diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
      SESAMA,
      > DENGAN
      > MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA
      MILIKI, dan bukannya
      > MENCINTAI
      > HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK
      KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
      >
      > Jika anda berpikir bahwa
      cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
      > cerita
      > ini kepada
      orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan
      > menyertai anda,
      agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan
      > tergerak
      >
      hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang
      >
      sedang
      > membutuhkan uluran tangannya!
      >
      > Orang bijak
      mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
      > kehidupanmu,
      >
      tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam
      >
      hatimu.
      >
      > Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu.
      Tetapi untuk
      > berinteraksi
      > dengan orang lain, gunakan HATImu!
      Orang yang kehilangan uang, akan
      > kehilangan
      > banyak, orang yang
      kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi
      > orang
      > yang
      kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan
      >
      memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak
      >
      melemparkan
      > makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus
      BERIKHTIAR
      > untuk bisa
      > mendapatkannya.
      >
      >
      Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi
      >
      orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari
      >
      PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa
      >
      mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
      >
      >
      CHEERS
      >
      >
      >
      ------------ --------- --------- ------
      >
      >
      >
      >
      ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
      >
      >
      The DAI email disclaimer can be found at http://www.dai. com/disclaimer
      >
      <http://www.dai. com/disclaimer> .
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >






      Nama baru untuk Anda!
      Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
      Cepat sebelum diambil orang lain!
    • Show all 2 messages in this topic